lahire

Entah Aku

Suatu waktu, kau pernah bilang bahwa kau mendambakan lelaki yang selalu ada di sisimu saat kau butuh. Kau bilang, bahwa tak mau lagi rasanya punya rasa yang sama dengan yang Ibumu alami. 

Ayahmu, sering pergi karena tugas yang diembannya demi kedaulatan bangsa. Ibumu bilang, memilih menikah dengan Ayahmu berarti sama saja dengan memilih untuk menikahi negara. Prioritas utama, ya negara, baru Ibumu. Dari rahim yang tegar itulah, kau dan adik-adikmu lahir, namun disana tak ada Ayahmu karena negara membutuhkannya. Getir memang, tapi itulah cerita lain dibalik kebahagiaan keluargamu.

Aku hanya bilang, Ayahmu hebat. Dan memang bagimu, Ayahmu hebat. Tapi kau bilang, kau tak mau suamimu nanti adalah orang yang sama berpangkat. Katamu, kau tak sanggup seperti Ibumu, dapat ditinggalkan sewaktu-waktu. Maumu, suamimu nanti dapat menemani dan didekatmu sepanjang waktu, pulang bekerja ketika sore dan bersama-sama menghabiskan malam. Yang kau inginkan, ternyata tampak tak hebat seperti Ayahmu.

Aku tertegun.

Lalu aku memberikan pengandaian, bila jodoh pilihan untukmu ada mungkin ada dua,

Pertama, dia yang biasa saja tapi selalu ada. Seperti orang kantoran biasa. Atau,

Kedua, dia yang hebat tapi tak selalu ada. Seperti para pengemban tugas negara.

Kau pilih yang mana, kataku. Kau jawab dengan lantang dan yakin,

“Aku pilih yang hebat dan selalu ada!”

Kau yakin sekali, lebih yakin daripada aku yang tak yakin bahwa pilihan sempurna itu ada. Apakah memang ada?

Selebihnya, aku hanya tertegun. Entah aku ini hebat atau tidak, entah aku bisa selalu bersamamu atau tidak. 


@Noshimori

[Bersabarlah Sedikit Lagi]
-
-
Hari-hari kemarin (ramadhan) adalah tentang melepaskan. Melepaskan ego, melepaskan ambisi, melepaskan kekhawatiran, juga melepaskan kesedihan. Untuk bisa merasakan bagaimana lapangnya hati sendiri. Merasakan betapa kesabaran itu benar-benar manis buahnya.
-
-
Betapa mengosongkan hati dari segala hal itu memang perlu. Kemudian menyiapkannya untuk diisi kembali dengan hal-hal baru.
-
-
Begitu banyak orang yang kehilangan sabar, kemudian kehilangan lebih banyak lagi. Orang yang dicintainya, pekerjaan yang ditunggu-tunggu, kesempatan yang hanya datang sekali, semuanya ikut hilang beserta hilangnya sabar.
-
-
Bukankah kebaikan-kebaikan itu hidup karena kesabaran? Bagaimana mungkin kebaikan bisa bertahan lama bila kesabaran itu hilang di tengah masa perjuangan? Kesabaran menyempurnakan kebaikan itu, sebab kesabaran adalah nafasnya.
-
-
Betapa banyak niat baik berhenti ditengah jalan karena hilangnya sabar. Betapa banyak orang yang sudah lelah menunggu kemudian menjadi kehilangan karena hilangnya sabar. Betapa banyak penyesalan yang lahir karena ketidaksabaran.
-
-
Waktu dan kesabaran adalah sepasang ujian. Kesabaran itu pasti memerlukan waktu. Dan aku memahami bahwa kesabaran itulah yang membuatku bisa merasakan bahwa Allah benar-benar menyertai orang-orang yang bersabar.
Bersabarlah, sedikit lagi. Atau kita akan kehilangan.
-
-
©Kurniawan Gunadi
| 📷 @annisarobbanie

Made with Instagram
Lelaki yang Kamu Cari


Kalau di tengah perjalanan, kamu bertemu dengan lelaki yang kerjanya malas-malasan, banyak mengeluh dan alasan, juga banyak berbicara tentang “akan dan nanti”, lupakan saja. Ditengah sifatnya yang merasa superior, laki-laki adalah jenis manusia yang mudah dipatahkan harga dirinya. Dipatahkan oleh kemalasannya sendiri.

Pernah satu hari, teman saya mengatakan kalau perempuan itu matre. Bagi saya, perempuan “harus” matre biar laki-laki pemalas seperti dia ini mau bekerja keras. Tidak hanya mencari yang mau hidup susah. Padahal sejatinya, laki-laki yang bertanggungjawab tidak akan pernah membiarkan perempuan yang dicintainya hidup susah!

Kalau kamu lihat laki-laki lebih banyak nongkrongnya daripada aksi nyatanya, lupakan. Sebab kamu tidak sedang mencari teman yang sekedar teman, kamu sedang mencari ayah yang baik untuk anak-anak yang akan lahir dari rahim sucimu. Dan itu bukanlah sesuatu yang sederhana dan hanya sekedar cinta, butuh lebih dari itu, yaitu pengorbanan.

Coba dengarkan kata-kata yang lahir dari bicaranya, dengarkan baik-baik. Maka itulah isi kepalanya. Tempat dimana nantinya kamu tinggal, cari tempat tinggal yang baik. Sebuah pikiran yang jernih, penuh ilmu pengetahuan, penuh kosakata yang baik, dan lurus.

Coba lihat bagaimana dia membelanjakan uangnya. Laki-laki yang bertanggungjawab benar tahu siapa saja yang berhak atas harta yang dia dapatkan. Habiskah hanya untuk kesenangan atau sesuatu yang lebih bermakna dari itu. Karena nantinya, harta itu akan berada dalam kendalimu. Sesuatu yang banyak melenakan keluarga adalah harta.

Coba lihat baik-baik, di antara begitu banyak laki-laki yang kamu kenal. Mungkin hanya sedikit yang layak menjadi ayah suatu hari nanti. Dari yang sedikit itu, coba cari tahu bagaimana perjalanan hidupnya. Karena belajar tentang proses hidup seseorang akan mengantarkan kita pada sebuah pemahaman bahwa laki-laki yang bertanggungjawab tidak serta merta demikian. Karena pada dasarnya laki-laki itu liar. Sebab itu, yang terbaik dari mereka adalah yang memiliki kemampuan mengendalikan dirinya sendiri.

Selamat mencari tahu.

©kurniawangunadi

Becoming aware of the hisotircal character of sociological conecpts […] makes it possible for us to orient our relationship to competing theoreis of the social differently, by historicizing the theoretical debates that have generally taken polemical forms. Thus, rather than joinining theoretically the ‘theoretical’ debate on relationships between individual and society, the primacy of one or the other in analysis, etc., Norbert Elias historicized these notions by bringing the terms of the debate back to their socio-historical conditions of possiblity. These categories, no matter how braod they might be are always valid only within such socio-historical lmits. Elias thus sketched the origin of the notion and experience of a subjectivity distinct from an (objective) external social reality by placing this problem in the framework of a (long-term) history of the transformations of the mental economy (structures of the personality) bound up with the processes of civilization. In this way he defined the historical field of relevance of a conceptual opposition that is still sometimes deployed with complete theoretical unawareness.
—  Bernard Lahire - The Plural Actor
Berlawan Arah

Suatu ketika saat kamu sedang memiliki perasaan kepada seseorang, tiba-tiba muncul orang lain yang memiliki niat terbaik dalam hidupnya untukmu. Apakah kamu berani melawan arah perasaanmu?

Suatu ketika, impianmu runtuh satu persatu bukan karena kamu tidak berjuang mewujudkan. Tapi orang tuamu tidak setuju dengan segala hal yang kamu utarakan, mereka berharap besar terhadapmu. Apakah kamu berani melawan arah impianmu?

Di tengah jalan, kita akan dihadapkan pada hal-hal yang semenggelisahkan itu. Karena rumusnya adalah, perasaan tidak selalu sama dengan kenyataan. Dan Tuhan itu menghadirkan kenyataan-kenyataan untuk membuat kita mengerti bahwa menjalani hidup itu tidak sama dengan angan-angan.

Kita belajar berkali-kali tentang yang terbaik itu selalu Allah yang Maha Mengetahui. Hanya saja, ilmu kita tentang itu tidak pernah sampai dalam setiap langkah kita. Kita semacam merasa paling tahu yang terbaik untuk diri kita sendiri padahal sebenarnya kita tidak tahu apa-apa.

Kekecewaan itu lahir dari ketidakmengertian kita tentang keikhlasan.

©Kurniawan Gunadi

Maaf, saya ndak bisa ngerti kamu. Saya sudah mencoba mengerti, dengan sisa-sisa nyinyirnya hati saya sekalipun. Saya kenal kamu sudah lama. Tapi semakin kesini saya merasa asing sendiri. Mungkin pola pikir saya yang salah. Atau mungkin lapisan dirimu terlalu tebal untuk saya masuki. Maaf, saya memang payah.

Saya sudah berusaha, meski kamu tak melihatnya. Sebab saya tidak lebih hebat dari cara kamu mencintai, tolong jangan pandang rendah perasaan saya. Saya memang sulit terus terang urusan hati, namun perasaan ini lahir apa adanya untuk kamu. Ndak saya lebih-lebihkan. Sama seperti kamu, saya tulus mencintai.

Saya lelah, sudah sangat lama. Tapi saya mencintai kamu. Saya benci mengatakan ini. Saya merasa paling naif, paling egois. Saya mudah terluka dengan hal-hal remeh yang kamu perbuat. Hati saya bukan karang seperti milikmu. Saya lebih mengedepankan perasaan, bahkan jika kamu minta dimengerti, saya akan minta jauh lebih dimengerti.

Benar saya egois. Urusan apapun minta didahulukan, tidak peduli jika kamu juga butuh perhatian. Wanita memang terlahir “ganjil”. Sampai-sampai katanya wanita tidak pernah salah. Jika ada yang salah dari wanita, berarti lelaki itu yang salah. Sebab ia tak tahu bagaimana cara menghadapi wanita. Keparat sekali, bukan?

Saya ndak bisa ngerti kamu. Memahami kamu butuh seumur hidup, Lelaki. Maka biarkan saya terus belajar memahami kamu. Bahkan jika saya tak paham-paham, biarkan. Jangan ditinggalkan.

Made with Instagram
Kalah

Mentari telah ranum, ketika peluh masih mengulum bait-bait kata yang masih takut bercantum.

Di wajahku senyum berkelukur, lantaran penghuni kepala semakin tak akur–mendebatkan rasa yang taazur.

Aku mencintaimu, seperti burung kenari yang mencintai pagi–kicaunya merayakan kepergian malam.

Tapi hanya saja, caraku mencintai yang sedikit berbeda; Tanpa kicauan. Tanpa ungkapan. Tanpa perayaan. Hanya diam, bersembunyi di balik dinding umpatan.

Terlebih, ketika bahumu dirangkul lengan yang menjanjikan kenyamanan, yang kubisa hanya menghujat diri, dan menelan kebodohan yang kusajikan, di waktu penyesalan.

Hingga selalu saja lahir, satu demi satu kata yang kubenci. Sampai saat ini, aku telah kehabisan kata dan dibuat bisu oleh rasa.

Meski raga tak habis upaya, namun durma berelegi di telinga–merampas keperawanan cara-caraku yang selalu sederhana.

Aku kalah.

Bicarakan, Tuliskan.

Mengenal diksi dan aksara tanah sendiri memenangkan banyak hal untuk saya.

Yang asing bisa jadi memang memudahkan penjelasan dan membuka pintu-pintu serta jalan, tapi yang terbicara oleh ibu sejak lahir lah yang menawarkan makna.

Ini saya yang harus banyak meminta maaf, Bahasa Indonesia.

Syukur Alhamdulillah, 1pm, 21 Julai 2016, hadiah hari lahir buat angah, baby sama tarikh lahir dengan walidnya.

Biha dan baby sihat Alhamdulillah. Baby keluaq tak nangis. Tak sabaq nak bau syurga. Secara automatiknya aku dah jadi paklong 😁

Selamat hari lahir buat Muhammad ibnu ‘Atho'illah bin Muhammad Hazwan bin Muhammad Fauzei. Semoga menjadi penyambung dakwah buat ummah. InshaAllah ta'ala.

Alhamdulillah ummi dan walid untuk cucu pertamanya.

#thedaiegraphy #newborn #kelahiranbaru #abuhanifah #Muhammadibnu'Atho'illah #harinidahingatmati #dakwahituseni #dakwahmudah #pahalaproject #cahayaislam #islamisfirstclass #love

(at Hospital Kerajaan Seksyen 7 Shah Alam)

Made with Instagram

Lebih tepat ini hasil tanya ke beberapa sahabat dan teman kampus ana yang minta kita buat bahas tentang nikah muda…

Siapapun coba yang gak mau jodohnya disegerakan…? 😇 Bayangin saja dulu kalau tau itu manfaatnya pernikahan pasti gak akan tunda-tunda. Jabat tangan dosa berguguran, pandang memandang jadi pahala, dan ikatannya jadi ladang pahala sesurga 😍. Tapi balik lagi namanya juga jodoh Allah yang atur, mau kapan kita juga harus bisa terima kalau kata orang jawa the legowo person.. heheee

Begini ya orang nikah gak bisa cuma omong saja karena kita tau nikah itu bukan pidato.. nikah itu butuh mental lahir dan batin siapkan semua, bukan berarti harus mapan, karena persepsi kebanyakan orang mapan itu punya mobil, rumah pribadi diusia yang begitu dini. Padahal kalau nikah diawal-awal itu pasti penuh lika-liku, berjuangnya itu lo masyaAllah… 😤

Antum tahu tu yang katanya sahabat hijrah sesurga bagaimana semangatnya saat berjuang jadi lebih baik sama sahabat yang kita punya bukan. Benerlah ya. . La ini berjuangnya sama pendamping hidup ibu dan ayah dari calon anak-anaknya buat bangun rumah tangga yang berkelas…

Ini lebih melatih ke mental kita ni sebagai calon orang tua yang semoga bisa menular keanak-anaknya kelak biar anaknya tidak jadi orang manja. Biar meraka tau hidup itu tidak ada kata santai, perlu perjuangan buat inginkan sesuatu dan biarkan anak-anak kita kelak kenyang dengan namanya kerja keras. Bukannya seperti anak-anak manja yang tinggal minta ini itu dikasih… 😪

Nikah itu ibadah bukan gaya hidup saja, jadi masa mau ditunda-tunda terus kalau memang sudah ada calonnya. Buruan minta dihalalkan dan buruan menghalalkan sebab dia yang mencintai tidak akan membiarkan yang dicintai menunggu terlalu lama. Niatkan semua karena Allah, bismillah bakalan barokah yakin sama Allah kalau niat baik pasti akan dipermudah…

Pastinya ingat cari calon itu yang baik agamanya karena kebanyakaan lelaki khawatir apakah yang dia punya sudah cukup (gak enakan sama perempuan) materi. Wanita shalihah dia tau agama pasti akan mempermudah maharnya sedangkan lelaki yang mengerti agama akan menyiapkan mahar terbaiknya…
.

Kontribusi oleh @pejuangakhirat

Made with Instagram

Day 202 : Harta yang paling berharga adalah sabar, teman yg paling setia adalah amal, ibadah yang paling indah adalah ikhlas, identitas yg paling tinggi adalah iman, pekerjaan yang paling berat adalah memaafkan. Mohon maaf lahir dan batin RSHM SQUAD 🙏🏻🏥

ps : terima kasih atas kerja baiknya. Setiap kami adalah yang semangat untuk melayani pasien dengan profesional. *doagerimisdikabupatenbekasi* 😇🙏🏻 (20 July 2016) #finaslife #dokterfina at RS Harapan Mulia – View on Path.