lagies

Aku mengerti bahwa hidup adalah perkara menikmati perjalanan. Seperti beberapa temanku yang akhirnya sampai di jalur masing-masing. Beberapa orang memilih menikah lebih awal –mungkin memang sudah waktunya– kemudian punya anak dan hidup dalam sebuah keluarga baru. Beberapa lagi memilih bekerja dengan rajin, menaiki tangga karir, dan terlihat bahagia dengan pilihan itu. Ada pula yang melanjutkan pendidikan, memburu beasiswa hingga ke luar negeri –mereka menemukan tualang yang baru dan bertemu hal-hal yang dulu mungkin asing– yang mungkin tidak ditemukan oleh yang lain. Aku memilih fokus berkarya –menulis buku, bagiku inilah petulanganku, inilah perjalananku saat ini. Petualangan yang membawaku pada banyak hal yang mungkin tidak didapatkan orang lain. Seperti halnya aku juga tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Pada titik ini aku mengerti, semua hanya perlu disyukuri agar kita bisa tetap merasa kita punya waktunya sendiri-sendiri.

–boycandra

Requiem

Aku tahu mata coklatmu tak banyak gunanya, selain untuk memikatku tentu. Disamping itu, terlalu banyak bualan dan omong kosong lahir dari bibir—yang walaupun dengan warna merah muda dan terasa manis—sebenarnya tetap saja tidak menjanjikan apa-apa.

Kau bilang aku cantik, tapi bola matamu lebih liar ketimbang anak anjing hutan. Siapapun yang kau tatap, pasti bukan aku lagi. Kau juga suka pura-pura tersenyum legit atau tertawa seperti hendak menghabiskan jatah oksigen milik umat, seakan aku sudah mendatangkan kebahagiaan melebihi yang bisa ditanggung semesta. Padahal dibalik itu, ada kebohongan tentang pertemuan diam-diam.

Kalau saja kau sadar, dibalik punggung pun aku bisa menyaksikan kenakalanmu. Entah tidur dengan siapa, hingga kau perlu berdalih kerja rodi di kantor sendiri lantas jadilah alasan untuk tidak pulang. Tidak mengapa. Aku jadi bisa menghemat pengeluaran untuk beli alat kontrasepsi. Mungkin lebih baik kau punya keturunan dari rahim perempuan jalang.

Tapi, kadang aku tidak tega. Aku lebih suka melihatmu tidur panjang di dalam kotak kayu, dalam balutan jas hitam dengan alas kain beludru. Aku juga lebih senang mata coklatmu itu dikeluarkan dari rongganya supaya tidak jelalatan kemana-mana. Jadi maaf ya, obeng ini harus menancap, menembus kelopak. Tolong, kau jangan teriak, karena itu bisa mengganggu proses pengeluaran isi perutmu. Aku perlu berkonsentrasi. Jadi, tetaplah tenang selagi gerendanya bekerja.

Nah, selesai juga akhirnya.

Sekarang tak ada yang bisa mengganggumu, tidak pula perempuan yang kau beri kecupan dari pesan singkat rahasia yang lupa terhapus. Tidak perlu ada misa arwah, karena matipun tak akan membawamu dalam damai, sebab terlalu banyak luka yang kau semai.

Cerpen : Cantik, Hanya Untuk Dilihat.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman lama terlibat dalam sebuah diskusi. Mungkin karena tidak lama ngobrol ngalor ngidul. Diskusi kami membahas banyak hal. Salah satu hal yang kami ingat adalah tentang fenomena orang-orang yang begitu ingin menampilkan sisi-sisi pribadi dari hidupnya.

Rela menjadikan privasinya sebagai sesuatu yang umum. Rela memperlihatkan detail-detail dirinya secara total dan menjadi sesuatu yang umum. Pembahasan ini sebenarnya tentang kasus krisisnya tentang pasangan hidup ditengah-tengah kariernya yang menurutku sudah cukup. Juga usianya yang menurutku lebih dari cukup untuk masuk ke jenjang tanggungjawab yang berbeda. Dan saya sudah menikah, mungkin sebabnya pembahasan itu menjadi lebih realistis. Tidak seperti dulu, beberapa tahun yang lalu.

Salah satu katanya itu menarik, “Kalau melihat perempuan-perempuan yang hilir mudik di instagram itu, cantik-cantik sih emang, captionnya pun luar biasa bijak. Tapi buatku, mereka itu hanya untuk dilihat, tidak sampai membuatku ingin menikah dengannya.”ujarnya

Tentu jawaban ini bisa didebat, tapi aku tidak ingin mendebatnya. Apalagi itu hanya timbul dari asumsinya, tidak mengenal dengan baik dan personal siapa perempuan-perempuan yang hilir mudik di media sosialnya itu. Tapi aku lebih tertarik, sebab mengapa hal itu muncul di pikirannya.

“Entahlah. Mungkin karena gue anak ekonomi kali ya, tapi mungkin ini enggak ada hubungannya. Kalau kita berpikir secara ekonomi, ketika kita mau menjual sesuatu, katakanlah promosi. Kita akan menampilkan yang terbaik yang bisa kita jual kepada calon pembeli. Kalau kita tidak punya ini, kita punya itu. Kalau semua itu ditarik ke sisi manusia. Kita bisa melihat secara langsung, kalau kita tidak memiliki kecerdasan yang cukup, kita akan menawarkan tenaga atau kekuatan kita. Kalau kita tidak punya kekuatan juga kecerdasan, kita mungkin bisa menawarkan hal yang lain. Sampai ada yang paling ekstrem seperti menawarkan tubuhnya, organnya, bahkan bayinya untuk dijual.”

Aku berusaha menyimak, cara berpikirnya memang sedikit menarik.

“Di media sosial itu, orang tidak punya berusaha menampilkan agar menjadi punya. Manipulatif. Berusaha tampil secara fisik menarik. Entah dari tubuh, gaya hidup, makanan yang dimakan, tempat bepergiannya, dan sebagainya.”

Saya manggut-manggut.

“Dan terakhir, ketika ia tidak memiliki hal lain seperti kecerdasan atau kemampuan-kemampuan lainnya, ia akan menampilkan kecantikannya. Sebagai nilai jualnya.”

“Kesimpulannya apa?” tanyaku.

“Gue nyari yang cerdas, yang rendah hati, yang tahu adab dan menjaga diri. Dan yang seperti itu, gue tahu mereka nggak akan menawarkan dirinya melalui kecantikan diri. Dengan make up, pakaian paling anggun, sambil makan cantik di tempat hits. Karena mereka tahu dimana nilai jual mereka. Bukan di kecantikan.”

Saya manggut-manggut lagi. Dulu saya menemukan istri saya di organisasi, bukan di instagram sih.

“Dan yang seperti itu, mainannya tidak di dunia maya.” ujarnya mantab, sambil menyeruput es teh terakhirnya.


Yogyakarta, 19 September 2017 | ©kurniawangunadi

Jalan

Ada yang setelah sekian lama menunggu, akhirnya berujung temu. Ada pula yang sebaliknya, menunggu seseorang sekian tahun, ternyata digantikan dengan seseorang yang lebih baik. Yang lebih siap. Meski tak terduga sebelumnya. 

 Ada yang diam-diam mendoakan, menyodorkan proposal di tiap sujud panjangnya pada Allah, ternyata entah bagaimana cara Tuhan mempertemukan, doa-doa itu dikabulkan. Ada yang sudah demikian gigihnya mencintai dalam diam, mendoakan di sepanjang malam, tapi Allah punya suratan lain. Meski takseindah milik Fatimah yang dalam senyap mengagumi Ali, tapi menurutNya–garis ini sudah yang terbaik. 

 Ada yang sedang menggugu, hatinya baru saja patah. Tapi tetiba, Allah kirim obat merah. Yang perlahan menyembuhkan, yang mau dengan sabar membangun lagi kepercayaan. 

 Ada yang butuh bertahun-tahun untuk kembali menata serpihan, tak apa, pada akhirnya dia menemukan jalannya. Mungkin romansa bukan genrenya. Tapi tak pernah ada prasangka buruk padaNya. Barangkali, nanti di akhirat Allah simpankan satu yang paling baik untuknya. Biar kali ini ia hidup dengan cinta yang lain; cinta pada ilmu pengetahuan, cinta pada pengabdian, cinta pada kebermanfaatan, cinta pada keluarga dan sahabat-sahabatnya. 

 Ada yang sedang menata diri. Biarkanlah, jangan dipanas-panasi. 

 Ada banyak jalan, ada banyak kisah. Ada banyak yang bisa diambil pelajaran, ada banyak pula yang bisa kita petik hikmah. Setiap kisah, punya air matanya masing-masing, punya tawanya masing-masing. 

Selamat menata prasangka baik, selamat menjalani jalanmu dengan sebaik-baiknya! Perdengarkanlah kisahmu nanti, untukku. Agar aku bisa belajar juga dari situ.

Setelah kau mengenalnya, perlahan aku mulai tidak mengenalimu lagi. Jarak antara kita semakin terasa. Juga masalah-masalah kecil anehnya selalu kita perdebatkan layaknya masalah yang besar.
ideal

“An ideal wife is any woman who has an ideal husband”

Hampir dua minggu lalu, ratusan ribu pasang mata menjadi bagian dari viralnya kabar pernikahan Raisa & Hamish Daud. Terbukti, Raisa sudah tak lagi terjebak di ruang nostalgia dan resmi menemukan pemeran utama hatinya. Bahkan beberapa minggu sebelumnya, banyak warganet yang merayakan pekan patah hati nasional saat mengetahui Raisa & Hamish telah melalui tahapan-tahapan menuju pernikahan lewat prosesi lamaran ataupun siraman.

Sebetulnya, apa yang menyebabkan kabar tentang hubungan asmara para figur publik terasa menyita perhatian untuk diperbincangkan hingga menjadi viral di dunia maya? Apakah karena fitrah kita sebagai manusia yang senang mengandaikan hal-hal seindah itu terjadi pada diri sendiri? Atau mungkin karena mereka merupakan sosok-sosok yang terbilang rupawan dan diidolakan oleh banyak orang?

Tapi kalau penyebab yang terakhir disebut hanya mendorong Raisa-Hamish kemarin untuk menjalin hubungan sebatas pacaran, tentu warganet tidak perlu bersungguh-sungguh merayakan pekan patah hati nasional karena siapapun tahu bahwa hubungan serupa pacaran bisa dibilang amatlah temporer. Nyatanya, saat para idola resmi melepas masa lajangnya, fantasi orang-orang awam tentang pernikahan ideal seolah menjelma jadi kenyataan. Mempelai prianya tampan, mempelai wanitanya cantik dan pernikahannya pasti terlihat bak pernikahan di negeri dongeng. 

Kabar pernikahan para figur publik menyiratkan pesan bahwa semanis-manisnya gambaran yang dibangun oleh hubungan asmara manapun takkan bisa menyamai pencapaian #relationshipgoals lewat pernikahan. Dapat dipahami kemudian kenapa banyak warganet merasa perlu menyemarakkan tanda pagar #terpoteque kemarin karena siapapun tahu bahwa pernikahan merupakan puncak tertinggi dari keromantisan dua insan sekaligus menjadi kerangka hubungan terbaik untuk melanggengkan keberkahan. 

Viralnya tanda pagar itu membuat saya dibercandai oleh istri dengan pertanyaan, “Kamu patah hati enggak Raisa nikah?”. Saya cuma tertawa sambil menggelengkan kepala. Bukan karena yang bertanya adalah istri, tapi karena memang kabar hubungan semanis apapun di linimasa akan terasa biasa saja saat kita sudah berumahtangga. Terlebih lagi saat mereka yang sudah menikah tahu bahwa cerita cinta yang terasa ideal bukan sebatas datang dari kecocokan rupa atau hebohnya pemberitaan media, melainkan berasal dari pertumbuhan yang dilalui bersama-sama. 

Maka tentu kabar bahagia dari Raisa-Hamish ataupun Bella-Emran tidak akan sedikitpun menyita perasaan apalagi pikiran laki-laki atau perempuan yang telah menikah karena nyatanya mereka pun tengah sibuk menikmati cerita cinta paling ideal. Disebut ideal karena mereka yang sudah melepas masa lajang senantiasa terdidik oleh proses untuk bersyukur dan berpikir bahwa laki-laki atau perempuan yang sudah dipilihkan-Nya sebagai pasangan hidup merupakan sosok terbaik bagi mereka.

Seorang bijak pernah berujar, “Many people spend more time in planning the wedding than they do in planning the marriage". Pernikahan para idola menjadi pengingat bagi para lajang untuk tidak terlena dengan kemegahan resepsi pernikahan yang beredar viral. Jauh lebih bijak saat para lajang sibuk dalam mematangkan diri ketimbang sibuk mematangkan resepsi idaman semata. Toh resepsi hanya berlangsung selama 3 jam sementara rumah tangga berlangsung seumur hidup. 

Di sisi lain, pernikahan para idola juga mengingatkan para lajang untuk lebih realistis dan tidak menaruh harapan terlalu tinggi ketika membayangkan sosok calon pendamping hidup. Toh harapan itu takkan serta merta menggiring para lajang pada umumnya untuk dipertemukan dengan jodoh serupa Raisa, Bella, Hamish atau Emran. Percayalah, cerita cinta seumur hidup yang dijalani sendiri akan terasa jauh lebih ideal dibandingkan hubungan asmara idaman yang dinobatkan sebagai #relationshipgoals di linimasa media sosial terkini sekalipun. 

Belum ada judul (Prolog)

Bagaimana jika seseorang yang telah lama ingin kau hilangkan dari pikiran dan dada datang kepadamu? seseorang yang pernah menempati relung hatimu bertahun-tahun, lalu bertahun-tahun kemudian juga kau berusaha keras untuk membiasakan perasaanmu tanpanya, tanpa mengingatnya, tanpa mencari tahu tentangnya. Kau telah berusaha keras menghilangkan perasaan tak biasa tersebut dengan berbagai cara seperti melakukan hobimu, mendaki gunung, menonton drama, memperbanyak pekerjaanmu, kau menyibukkan diri untuk tak mengingatnya, dan disaat kau telah berhasil tak mengingatnya bahkan rasamu padanya memudar, hingga semakin pudar, semakin pudar, dan semakin pudar. Tetapi disaat semakin pudar itu, entah sengaja atau tidak, semesta memertemukanmu kembali dengannya?

Dia sama sekali tak salah, dia tak pernah menyakitimu, dia bahkan tak tahu kau menyimpan rasa padanya, dia tidak tahu bahwa selama apa kau pernah menunggunya, dia tak pernah tahu semenyesakkan apa kau pernah merindukannya, dia tidak tahu sekeras apa kau berusaha menghilangkannya, dia tak pernah tahu karena kau tak pernah memberitahunya. Tetapi suatu hari semesta mengejutkanmu. Kau tak tahu kata-kata apa yang dapat melukiskan perasaanmu, senang atau sedih atau marah atau yang lainnya yang kau sendiri tak mengerti. Mungkin otakmu mengatakan kau sudah tak memiliki apapun untuknya, kau bahkan telah menemukan sesorang yang menyayangimu dan kau menyayanginya. Kau bahagia bersamanya, kau merasakan indahnya cinta yang berbalas. Tetapi sejak hari kau bertemu dengannya kembali, hatimu masih jelas mengingatnya, hatimu terus membawamu menelusuri kenangan.

Kau pernah berharap dipertemukan kembali dengannya, namun kau juga lebih sering berharap untuk tidak kembali dipertemukan dengannya karena kau tak ingin goyah dan melukai seseorang yang ada untukmu saat ini. Memikirkan dia yang telah kau pudarkan saja membuatmu merasa bersalah, tetapi hatimu tak bisa diatur, ia terus saja membuatmu mengingatnya kembali. Hatimu berkata ada yang harus kau selesaikan dengannya, entah itu rasa penasaran atau kembalinya memang takdir dari semesta. Kau terus memikirkannya dan tak sadar kau telah kehujanan atau terlalu banyak menuangkan air minum ke gelas.

Tring. Satu pesan masuk ke ponselmu.

Hai, sibuk gak?

Tiga kata tersebut membuatmu kehilangan logika. Kau hanya menantap layar ponsel. Bukan, bukan dari kekasihmu, melainkan dari sesorang yang sejak bebrapa waktu kembali menghantui pikiran dan hatimu.

Aku harus jawab apa?………

Jika engkau telah memilih menempuh jalan pulang bersama Allah, maka teguhkanlah hatimu! kuatkanlah imanmu dengan ilmu.
 
Jangan lagi menengok kebiasaan lamamu yang membuatmu sedikit sekali mengingat Allah, jangan lagi terbawa arus yang menjauhkanmu dari Allah.
—  Sudah saatnya beranjak, untukmu hati yang baik :)

Menyapa Mentari
Sadar Diri

Suatu hari, saya bertemu dengan teman-teman di Jakarta. Waktu itu sedang ada acara di kota tsb. Istri saya tidak ikut karena hanya sehari dua malam di Jakarta.

Saya dijemput dari Bandara Halim PK oleh teman saya, beramai-ramai. Kira-kira ada sekitar 4 orang lainnya dalam mobil tsb. Sepanjang perjalanan di Jakarta yang macet, kami ngobrol kemana-mana. Topik apapun kami bahas. Tertawa lepas. Bahkan sampai-sampai saya lupa kalau saya sudah menikah, bahkan sudah mau menjadi ayah.

“Ngomong-ngomong, kalau lagi begini. Gue merasa kayak gagal jadi kepala keluarga, apalagi mau jadi bapak. Kelakuannya masih minus banget gini.”

Yang lain menimpali dengan tawa.

“Gue harus behave nih. Udah mau jadi bapak juga, nanti malah nyontohin ga bener ke anak.” ujarku.

Kemudian topik berubah ke pembahasan pasca rumah tangga.

* * * * *

Pernah tidak, kita menganalisis diri kita sendiri. Apa yang berbeda dari diri kita antara hari ini dan beberapa tahun yang lalu? Tentu saja selain perubahan fisik.

Pernah tidak, merasa bahwa kayaknya kita masih anak-anak. Saat misal kita berkunjung ke sekolah kita zaman SMA dulu. Kita merasa seperti baru kemarin dan kita masih seperti anak-anak SMA itu. Tapi kenyataannya tidak, kita sudah dipandang dewasa oleh anak-anak SMA yang melihat kita di sana. Kita sudah tua.

Ya, kita tua.

Seringkali kita lupa untuk bertanya, mungkin ke teman-teman terdekat kita sendiri. Bagaimana mereka melihat kita? Apa yang berubah dari kita? Hal baik apa yang perlu dipertahankan, hal buruk apa yang perlu ditinggalkan?

Sebab kita enggak bisa melihat diri kita sendiri secara objektif. Kita merasa diri kita, ya tetap seperti ini. Kadang bingung juga membedakan antara diri kita dengan sewaktu kuliah tiga tahun yang lalu. Rasa-rasanya masih seperti kemarin, dan kita masih belum berbuat banyak, belum cukup bertanggungjawab, dsb. Tapi, orang lain melihat hal yang berbeda. Kita dirasa mampu untuk bertanggungjawab, dirasa cukup usianya untuk mengambil peran-peran tertentu.

Yogyakarta, 19 September 2017 | ©kurniawangunadi

Aku mungkin akan bersedia sakit berkali-kali.
Belajar, belajar, belajar.
Jatuh, bangun, jatuh, bangun.
Demikian sakit untuk paham apa itu mencintai dan dicintai.

Namun akan ada satu semoga yang kuucap berulang-ulang
padaNya.

: Asal jangan kamu lagi.


- Tia Setiawati

Seharusnya memang, aku tak membiarkan kamu datang, seharusnya aku memang tak menyambutmu dengan hati lapang, seharusnya aku tak menerimamu membiarkan ku hanyut pada ucap kata baikmu. Seharusnya kita tak usah saja bertemu, tapi apa dayaku yang tak kan bisa mengelak takdir yang sudah Allah ciptakan untukku? Sekarang aku sadar bahwa aku terlalu lemah menguatkan benteng perlindungan untuk hatiku. Tapi semoga saja mulai hari ini bentengku bisa lebih kuat lagi.

MonochromeTale-6

Aku pernah berkali-kali melabuhkan hatiku,
pada seseorang yang kukira dialah satu.

Aku pernah berulang-ulang menjatuhkan hatiku,
pada seseorang yang kukira dialah yang terbaik.

Namun ternyata aku salah,
berulang-ulang dan berkali-kali,
aku hanya melukai hatiku sendiri.

Tapi tak apa,
mungkin memang seharusnya demikian.

Agar aku mengerti dan percaya,
bahwa yang paling tepat tak pernah datang tergesa-gesa.

Di sini, di tempat inilah aku sekarang.
Kembali aku mengasingkan diri setelah luka yang baru saja tertoreh kemarin.
Meratapi kepergian yang tak kunjung usai,
menangisi kehilangan yang tiada bertepi.

Entah rasa seperti apa lagi yang akan kujumpai esok.
Entah getir seperti apa lagi yang akan aku nikmati lusa.
Namun yang aku selalu percaya,
sebuah rasa tak pernah salah dalam berkunjung.

Aku mungkin hanya perlu melihatnya dari kacamata yang lain saja,
seperti melihat air laut yang tak pernah bosan berkunjung,
meski pasang dan surut terus datang berganti.

Hujan Mimpi