lagies

Suatu ketika di alam rasa
  • Aku:Alhamdulillah udah siap nikah
  • Jiwa:Yakin? Sholat masih telat mau jadi imam?
  • Aku:kan pelan pelan diperbaiki
  • Jiwa:berarti dateng jodohnya pelan pelan jua dong
  • Aku:pengennya sih cepet
  • Jiwa:mana ada usaha yg sedikit menghasilkan output yg banyak. Itu ajaib. Dan kita bukan nabi yg punya keajaiban. Kalaupun Nabi..semuanya udh punya tantangan berat dalam kehidupannya.
  • Aku:jadi aku belum siap dan belum pantes nikah ya?
  • Jiwa:mungkin. Jodoh datang ketika kita matang. Mau jodoh setengah matang?
  • Tiba tiba ada suara.
  • Waktu:hai. Jodoh itu rahasia Tuhan. Kalian cuma bisa bertanya. Biarkan Tuhan yg menentukan. Kalau kalian tanya padaku. Maka aku akan tanyakan lagi pada kalian, sudahkah menghargaiku sebagai sebuah perjuangan? Hari2 utk berbagi. Menit2 utk menginspirasi. Dan detik2 dalam naungan peduli. Jika sudah. Aku akan minta pada Tuhan utk kirimkan jodoh terbaik utkmu segera tuan..
  • (C)Bogor - Mas Tio

Tidak lama lagi kita bakal menyambut Ramadhan al Mubarak. Bersediakah kita?

Bulan yg besar & penuh keberkatan serta banyak kelebihannya haruslah disambut dgn penuh perasaan ta’zim (membesarkan) & mengalu-alukannya.

 Bulan Ramadhan adalah bulan yg terlalu byk kelebihannya. Di dlmnya terdptnya malam lailatul Qadar iaitu malam kemuliaan yg lebih baik dari 1000 bulan.


Pada bulan tersebut Allah membuka pintu syurga, menutup pintu neraka & mengikat syaitan-syaitan utk memberi peluang kpd manusia membersihkan diri mereka sebersih-bersihnya.

Amal-amal ibadah & kebajikan digandakan Allah di mana yg sunat diberi pahala wajib/fardhu & yg fardhu menyamai 70 fardhu di bulan-bulan yg lain.

Allahumma Ballighna Ramadhan –  merupakan doa & harapan. Menjadi tanda bagi hamba-hamba yg soleh bhw mereka mengidam & tamakkan limpahan Allah dlm bulan ini (Rahmat, Keampunan, Pelepasan dari Neraka).

Kita mesti sentiasa berjaga-jaga agar peluang ini tidak disia-siakan atau berlalu tanpa dimanfaatkan.

Maka bagaimanakah caranya kita menyambut kedatangan bulan Ramadhan yg mulia ini? Persediaan yg rapi & terancang sgt penting dlm menjayakan Ramdhan kali ini.

Janganlah sia-siakan peluang kali ini krn entah-entah inilah Ramadhan terakhir buat kita.  

Para sahabat yg bersama dgn Rasulullah s.a.w dididik menyambut & menanti Ramadhan dgn penuh kerinduan & kecintaan. Ini terbukti dgn doa mereka selama enam bulan sblm Ramadhan menharap agar bertemu dgnnya.

Kemudiannya, enam bulan selepas Ramadhan pula disi dgn tangisan kerana berlalunya Ramadhan.

sahabat yg dikasihi, bagaimanakah kita?

#thedaiegraphy #dakwahmudah #abuhanifah #hakhada #twt_insta #my_genggua #ramadhan #ramadhanqareem #ramadhan2015 #muhasabah #muhasabahdiri #ikutcarakita #ragoclans #youngtalentgraphy #malaysianmuslim #designermuslim

Untuk setiap tawa yang Kau hadirkan dalam keseharian, Tuhanku, terima kasih banyak ya…

Untuk semua teman baik serta menyenangkan yang Kau datangkan dari mana saja, Tuhanku, beribu ucapan terima kasih pun rasanya tidak akan pernah cukup.

Untuk segala doa yang terus menerus merengkuhku dari jauh, untuk semua kebaikan yang selalu berebut datang kepadaku,
juga untuk semesta yang tak pernah alpa menjaga, aku sungguh-sungguh mengucap terima kasih

Untuk segala peluk dan doa darinya yang menemaniku setahun terakhir ini, terima kasih telah mempertemukan kami dipersimpangan jalan sehingga bisa bergenggaman tangan..

“Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang dapat kau dustakan?”
Jawabannya tentu saja tidak ada, Tuhanku.
Tidak akan pernah ada.
Terima kasih banyak karenanya. – View on Path.

Awak, saya nak pesan.

Janganlah mudah menaruh perasaan kepada seseorang dengan hanya melihat post islamiknya, status ilmiah yang dikarangnya, gambar di Fb mahupun sebarang media sosialnya, apatah lagi video yang nampak gerak-gerinya. Kadang kala semua tu adalah tipu daya yang boleh diedit dan dilakonkan. Nak bercinta, biarlah kenal hati budi.

—  irfan al-fateh
For Girls,

Maswerte ka kung may boyfriend kang:

  • Handang ipagtanggol ka sa mga nang-aaway sa’yo.
  • Handang ipaglaban ka sa magulang mo.
  • Handang harapin ang mga tanong ng tatay mo.
  • Nag-eefort para pasayahin ka araw-araw.
  • Nag-iisip kung anong gagawing suprise sa monthsary nyo.
  • Tinatanong lagi kung anong pakiramdam mo.
  • Tinatanong kung kumain ka na.
  • Handang gawin ang inuutos mo.
  • Gumagawa ng suprises kada anniversary nyo.
  • Handang manuod ng romantic movie kasama mo.
  • Inaalagan ka kung masama ang pakiramdam mo.
  • Handang bilihan ka ng napkin kung dinatnan ka ng dalaw.

Kaya girls, maswerte kayo kung makahanap pa kayo ng ganyan (na katulad ko).Konting “I-love-you” nyo lang, pwede ng pamalit sa mga effort namin na ginawa namin para sa inyo.

Tolong jangan bilang anakku “pintar”…. (Fixed Mindset Vs Growth Mindset)

Emangnya kenapa? Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama.

Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed vs. growth mindset.  Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006).

Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak:

satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”)

dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual.

Puzzle di ronde pertama memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle buat ronde kedua: satu puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan pilihan puzzle lainnya adalah puzzle yang mudah, serupa dengan yang di ronde pertama. 

Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang mudah.

Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah??

Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tsb, sehingga nggak perlu ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan: mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya. Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu? Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”

Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka. Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosioekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

Okay. Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Apalagi dia termasuk anak yang introvert dan lebih mudah cemas. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya. Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menanggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, mementingkan hasil akhirnya.

Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya:

a.      Fixed mindset (FM)mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.

b.     Nilai yg bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada FM. Sedangkan GM akan mengatakan “Nilai yg bagus!  Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”

c.      Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan FM. GM akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.”

d.     FM: “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” GM: “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”

e.      FM mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. GM mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).

f.       FM percaya kalau tes mengukur kemampuan. GM percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area untuk pertumbuhan.

g.      Guru dengan FM menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan GM merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.

h.     Guru dengan FM memiliki semua jawaban. Guru dengan GM menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.

i.        Guru dengan FM menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan GM mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya.

Hosh-hosh, mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi menang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”— masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya. Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil. Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.

Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.” Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”. Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan. Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal. Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya. 

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.

Referensi:

1.       Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2.       Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Kids: The Inverse Power of Praise. http://nymag.com/news/features/27840/#

Kamu ngga pernah tahu, kan?
Bagaimana rasanya melihat namamu bertengger di tab notifikasi ponselku.

Kamu ngga pernah tahu, kan?
Bagaimana rasanya sebelum berhasil mengirimkan pesan singkatku padamu.

Kamu ngga pernah tahu, kan?
Aku mengetiknya beberapa kata kemudian menghapusnya, memilih kata yang tepat sampai akhirnya aku menekan tombol kirim.

Kamu ngga pernah tahu, kan?
Bagaimana rasanya menunggu balasan pesan singkat darimu.

Kamu ngga pernah tahu, kan?
Berapa kali aku mengecek ponselku hanya sekadar memastikan ada balasan pesan singkat darimu.

Kamu ngga pernah tahu, kan?
Ketika aku merindukanmu, aku membaca lagi semua pesan singkat darimu.

Kamu ngga pernah tahu, kan?
Kamu menjadi sosok yang paling aku tunggu kehadirannya, meski dalam mimpi hanya sekadar bertegur sapa.

Kamu ngga pernah tahu, kan?
Bagaimana rasanya bersikap biasa padahal ada yang tak biasa di dalam dada.

Kamu ngga pernah tahu, kan?
Bagaimana rasanya menjadi Riani dalam kisah nyata.

“Ngga enak, ya, jadi perempuan. Kalau suka sama orang ngga bisa langsung bilang, bisanya nunggu doang.” –Riani, 5cm.

Kamu ngga pernah tahu, kan?

Aku SECRET ADMIRER-nya gowithepict
Surabaya, 23 Mei 2015 | 21.24 WIB

Sumber gambar : akun twitter seorang teman.

This is yours apinputri
Dari sini nih~

bila badan dah tak sebati dengan diri,
bila otak dah taknak bekerjasama,
bila tangan, kaki–
sudah tidak berdaya lagi.

maka,
apa lagi yg mahu kau bangga diri,
sombong tak mengenang budi.

Kemarin, Aku Bahagia Seutuhnya.

Kemarin, aku bahagia seutuhnya. Bersamamu, aku merasa yang paling sempurna. Denganmu, aku tak lagi mengenal bagaimana rasanya malu dalam menunjukkan pribadiku yang sebenarnya. 

Kepalaku membangun megahnya khayalan dan harapan tinggi yang berhasil didirikan hanya dengan sebuah rasa bahagia. Aku menjadi tokoh utamanya, jelas! Dan memiliki partner se-luarbiasa seperti kamu, adalah keberuntungan bagi seorang yang benar - benar beruntung. 

Kemarin aku membeli novel dari salah satu cerita fiksi yang begitu ku gemari. judulnya Perahu Kertas karya Dewi Lestari. Berbulan - bulan aku menginginkannya, namun ketika kemarin bersamamu baru kutemui lagi novel itu. Hm, keberuntungan yang keberapa ya? 

Malam tadi, aku kembali larut dalam cerita penuh magis yang mampu meningkatkan semangat menulisku. Bersamaan dengan rasa itu, aku hanyut dalam lautan cintamu. 

Segala mimpi yang telah kubangun perlahan, yang begitu terlihat konyol, dengan membaca novel ini aku merasa memiliki satu pendukung bahwa mimpiku bukan hanya sekedar khayal semata. Meski di planet bernama realitas ini, aku harus menjadi sosok yang bukan aku dahulu. Setidaknya itu yang dilakukan Kugy dan Keenan pada awalnya. 

Kemarin, aku bahagia seutuhnya. Bukan hanya karena mendapatkan novel incaranku berbulan - bulan, namun juga karena menghabiskan hariku bersamamu seharian. Masih banyak yang ingin aku lakukan bersamamu. Makan donat, ngopi, menulis ditemanimu, menikmati senja dengan seduhan teh, atau bahkan hanya duduk berdua seharian. Aku pasti menjadi sosok yang paling bahagia di planet ini, saat itu terjadi. 

Berjuta doa yang ku semogakan untuk kita, dan sungguh, tak terhitung lagi berapa harap yang memohon agar semua menjadi nyata. 

Semoga, kita bahagia seutuhnya. 

Nang minsan iniwan akong mag-isa.

Isa itong open letter sa Genesis Bus Liner. I repeat, totoo ito. Peksman!

Dear Genesis Bus Liner,

BWAKANANGSHET NAMAAAAAAN OH. Kumbaga sa kanta ni Taylor Swift, bale “Beh now we got problems~ And I don’t think we can’t solve theeem~” ang tema natin.

Sa araw araw na ginawa ng ating Panginoon ay lagi naman akong sumasakay ng bus niyo na pa-Baguio at bababa ako ng Dau at biglang ngayon sasabihin niyo sa akin na di kayo magbababa ng Dau? At palapit na tayo sa NLEX bandang A. Bonifacio?! Paano!

Okay, fine, chill. May kasalanan din naman ako at inaako ko naman yun na di ko tinanong for the nth time na parang sirang plaka kung dadaan ba ng Dau ang bus dahil:

  • A. Lahat ng bus na sinakyan ko na pa-Baguio sa inyo ay dumadaan ng bus.
  • B. Akala ko applicable yun sa day na ito.
  • C. Tao din ako na napapagod. DIBAAAAAAA’T AKO’Y TAOOO LAAANG!

Pero teka lang muna wait, bakit kasi hindi niyo kami inabisuhan na di kayo dadaan ng Dau bago niyo paalisin ng terminal niyo ang Bus. BOOOM! PANES! SWEEEEET! DELICIOUUUUS! TAAAASTY! DIVIIIIINE! CANDY CRUSSSH!

Kasi sa totoo lang, ginagawa niyo naman yun kapag di kayo dadaan ng Tarlac dahil sa road repairing reasons ganon o baka di niyo lang din feel you know. Sana naman try niyong gawin yon pag feel niyong di dumaan ng Dau, kung feelings nga ng ibang tao di ko magets at maintindihan unless sasabihin niya, kayo pa kaya? Hoy, nakakamatay magassume no!

Okay, ayan kumbaga sa Tinder, swipe to the left, it’s a match tayo! Pareho tayong may mali dahil tao lang tayo but wait there’s more!

Tama bang ibaba ako sa isang maliwanag, hindi creepy at very very safe looking, holdaper free na ilalim ng underpass? #DiAkoSarcastic #HindiTalaga #AyBaka

Sabi niyo ibababa niyo ako sa Camachile na sa pagkakaalam ko ay hindi Camachile ang lugar na ‘yon kundi isang malayo layong part pa ng A. Bonifacio. Waaaaw! Kung di pala ako pinaglihi sa google maps at walain edi mawawala nakong tunay di ba! Aba matinde kayoooo!

Oo, alam kong mukha akong mama na mukhang kayang kaya na ang kanyang sarili pero kung lolang uugod ugod yon o pabebeng ateng kumakain ng mamon sa SM Dasma o ibang very very fragile na tao yun ay papababain niyo kaya? Sige na, ako na ang Johnny Bravo Philippine Edition! 

Okay fine ulit. Sige, I can defend myself naman ayon sa inyo. Meron naman kayong so called bus na magdadala sa akin sa Dau na nakasunod umano. Pero sana naman nang tinanong ko kung san na ba banda ang bus ay tama bang “basta, anjan lang” ang sasabihin niyo with konting pagsusungit pa?! Sana nanghula na lang kayo tipong 5.32 meters para sa maniwala pako diba! Para din kayong magulang ko eh, sasabihin “mamaya” yun pala after 7 hours na pagaantay sa mamaya ay nganga padin ako. WHAAAAT.

Edi sige, antay naman ako sa very very very very safe na lugar na pinagbabaan niyo sakin at waw alis naman kayo agad agad! Grabe ano? Ano ito, diring diri kayo sa akin o excited talaga kayong iwanan ako like WHOOOOPEEEEE! Kung gusto pala naming matutunan kung paano mawalan ng pake, dapat sa inyo kami magpaturo! WOOOOW! Hindi naman sa ititigil ang bus niyo para sa akin, ano ako special? Pero hellooooooo sana naman di niyo pinafeel na wala talaga kayong pake sa mga customers / pasahero niyo.

At ang nakakita ako ng Philippine Rabbit na bus. Agad nakong sumakay, bahala kayong mag-antay o maghanap (Kung maghahanap kayo ha? I doubt.) leche! Buti pa doon, matik studyante ako agad na kala mo ikinabata ko.

LESSON: May mga bagay sa buhay na pakabastos ano? Pero idaan mo na lang sa tawa kasi kapag pinatulan mo wala ka lang mapapala. Parang kapag nagmahal ka lang tas sex lang habol sayo ganon, wala ka pading mapapala, so tawanan mo na lang. WHAAAAT!

Mencintaimu Diam-diam.

Aku tahu, sebetulnya cerita diantara kita sudah selesai.

Namun, entah mengapa bagiku masih saja belum…

Aku masih tetap mencintaimu,

Aku masih tetap merindukanmu,

Aku masih tetap bertanya-tanya kabarmu,

Aku masih tetap ingin mengetahui kondisimu,

Aku masih selalu mengecheck akun sosialmu,

Aku masih selalu ingin menchat-mu,

Dan aku masih membiarkan kamu mengisi hampir sebagian hatiku,

Meskipun kau telah pergi,,

Tentu saja aku sadar, kau dan aku hanya masa lalu.

Maka dari itu, aku tak menginginkan kau tahu tentang semuanya,

Tentang apa yang aku rasakan selama ini,

Tentang rindu yang semakin hari semakin bertambah,

Tentang cintaku yang setiap harinya tak pernah berkurang,

Tentang harapan-harapanku denganmu,

Aku lebih memilih untuk diam dalam mencintaimu sekarang,

Aku meredam ego-ku demi kau tidak pergi lebih jauh lagi..

Maafkan aku, Tuan..

Maafkan aku karena aku masih mencintaimu diam-diam..

Aku SECRET ADMIRER-nya gowithepict

Bandung, 23 Mei 2015 (15:07) WIB

Photo : *klik*

This is yours filagiaaaa
Dari sini nih~

luh nabura ko pala yung goodmorning ko. ulitin ko na lang, ganon naman lagi e pag nagkamali uulit ulitin din hahajks. hi goodmorning folks

“ Ajar diri untuk kuat ” .
“ Bangun sendiri bila jatuh ”.
“ Jangan harapkan orang lain ”
“ Sampai bila kau nak harapkan orang lain? ” .

*comey nya doodle ni.. cita² dari kecik lagi nak jd doktor. TP tak de rezeki.. insyaAllah lecturer to be. Amiin.

Kwento.

Noong elementary ako pag umaalis yung teacher ko saglit syempre ang mag babantay yung president ng klase tapos maghahabilin yung teacher namin na ilista yung maiingay sa blackboard at yung mabait hahahahaha! Ayun yung (GOOD/NOISY) syempre matik na nasa good yung pangalan ko hahahahha! name ko agad nililista ng president namin kasi alam niya na lagi naman ako tulog sa classroom pag walang teacher at bihira lang ako makipagusap sa mga classmate ko hahahahaha!

Dan sempatkanlah waktumu, karena masa kecil anak-anakmu tak pernah kembali lagi. Tumpuanmu ada pada tawa kecil mereka. Dan jangan bebani anak-anakmu dengan mimpi-mimpimu, sebab mereka berhak membangun mimpi mereka sendiri.
1st year HS

Nung first year HS ako nun napaka-girly ko. As in. Ewan di ko kasi alam kong bata pa ba ako o tanders na. Ang dami kong hair bands dati koleksyon ata. HAHA may mga may malalaking plawers pa nga eh naks. Pero di talaga. Isip bata pa din talaga ako.

Nung 1st year HS ako official tambayan ng mga tropa ko ang bahay namin. Eh mama’t papa ko parehong nasa office, ako naiiwan every Saturday so lahat susulong samin. Dun magfofoodtrip, dun maglalaro ng ps2 (ang ending ako lagi maglalaro sila audience lang). Dun magmomovie marathon (langya talaga nung may nagdala ng Scary Movie). Dun na rin nag-go-group study (asa, puro naman kami daldalan).

Nung 1st year HS ako. Ay nako. Every uwian derecho sa soccer field. Kahit anong trip gagawin. Basta nangangaway kami ng elem nun HAHAHA eh sinimulan nila. Ba, pumapatol pa naman ako ng bata. Ano? Ha? Ano? Charot. Tapos di lang bata trip namin nun. Pati 4th year. Yung isa kong tropa ko talaga may problema dun e, support support lang kami. Pero langya talaga nun.

Wala napathrowback lang. Daming nangyari nung 1st year HS pako. First crush ko nun Sergs ang pangalan langya tapos biglang pinsan ko pala. Ay. Pero naging close kami nung kapatid nya. Ewan saya nun. Dami ko pa sanang idadaldal kaso wag na. Daldal ko na baka malista pa ko sa “noisy”.