kupers

7

Back in 1990, Peter Kuper did this story about Donald Trump building a wall to keep out the underclass, which, a quarter century later, seems eerily prescient. I’m only posting the first seven of the twelve pages, sorry. To read how the story ends, go get Kuper’s beautiful hardcover collection Drawn to New York: An Illustrated Chronicle of Three Decades in New York City.

3

With the Republican National Convention and Comic-Con taking place the same week, we pretty much had to: We asked a few of our favorite illustrators to take on the Donald.

Illustrations from top: Jeff Smith; Keith Knight; Matt Kindt.

The thing about that one poster of the spies sharing a domestic life is that it doesn’t even stretch from actual canon because they literally are described as being friends (and “friendly rivals”) in Prohías’s original comics (while Kuper has them more edgy). Plus, MAD has lots of gags of them working together and being very close, and artwork by Prohías of them exists that implies their feud is fake.

This is actually a fairly well done little moralistic allegory from Kuper about a boxer whose opponent is the planet Earth. I really liked this page a lot, especially the last panel with all of the map fragments exploding outwards. Beautifully rendered and a good use of collage.

(Heavy Metal issue #142, January 1993 - Page 56 TKO by Kuper)

@ Anon 

GENOCIDAL MASSACRE.

The term genocidal massacre was introduced by Leo Kuper (1908–1994) to describe incidents with a genocidal component but which are committed on a smaller scale when compared to genocides such as the Rwandan Genocide.[1] Others such as Robert Melson, who also makes a similar differentiation, class genocidal massacres as “partial genocide”.[2]

Even if you don’t want to admit Celene committed an act of genocide, can you at least admit she committed a genocidal massacre?

One of the strange things that Heavy Metal did for this issue was to have the various Strip Tease artists draw each other’s characters. Here we have Peter Kuper illustrating Frank by Jim Woodring. And he did a pretty good job.

(Heavy Metal issue #145, July 1993 - Page 61 Frank’s Fall by Kuper)

Kuper’s short pieces really work better as full pages rather than half-pages (which is how they’ve been published in the past). In a half page, they’re just cramped and difficult to parse. In a full page, they have room to breathe. There’s a lesson there, somewhere.

(Heavy Metal issue #143, March 1993 - Page 63 Modern Age by Kuper)

Line art for a 1-pg Bart Simpson strip, “Big Bad Brother Bart”. 

This was one of the earliest strips I drew as well as wrote for Bongo, and I was still working hard to get the hang of the style. I wasn’t asked to mimic the Simpsons model art – at the time Bongo was hiring cartoonists like Peter Kuper, Gilbert Hernandez and Sergio Aragones, and letting them work in their signature styles – but my OCD kicked in, and I decided I wanted to get my drawing as close as possible to “on model” as I could. I got a copy of “The Simpsons Handbook”, which was really well-done and a lot of help, and we were provided with an extensive character color guide for Sarah’s coloring work. 

I ended up doing a batch of stories for Bongo over ten years or so (iirc), some co-written with Sarah, and some of which I did the art for. It was an extended learning experience as well as a great gig, hard work (trying to get the style down, and overworking the panels, as always) but mostly enjoyable and rewarding. And everyone at Bongo was great to work with, to boot.

This is a beautifully illustrated little story about the disparity between watching bombs dropping from the safety of a television set and the reality of bombs dropping on the place where you live. This is a fairly appropriate, considering that the first Iraq war was going on at the time of creation.

What I liked most about the art was the way it felt like it was made to look like graffiti stencils, to great effect.

(Heavy Metal issue #134, September 1991 - Page 112  Bombs Away by Kuper)

Travblog: Lost in Airplane!

Gue dulu waktu kecil punya cita-cita jadi pilot. Ketika anak-anak yang lain punya cita-cita jadi Dokter, Insinyur, dan presiden. Gue punya cita-cita yang beda sendiri. Ya.. Jadi bolpen.

Cita-cita menjadi pilot ini gue pegang teguh dari TK sampai masuk SMP. Ketika masuk SMP, gue baru sadar kalau ternyata selama ini gue punya phobia ketinggian. Dan ya, semenjak saat itu gue harus mengubur dalam-dalam cita-cita gue untuk jadi pilot lantaran phobia gue yang satu itu. Phobia gue yang lain adalah phobia pakaian. Makanya tiap di depan cewek, rasanya pengen banget gue ngelepasin pakaiannya. Phobia soalnya.

#diselepetTaliBh

Kalian jangan salah, walaupun seperti ini, gue juga pernah jadi orang kuper. Gue pertama kali naik pesawat waktu SMP. Saat itu bokap kebetulan dapat undangan reuni ke surabaya, akhirnya karena biar cepat sampai, kami memilih pesawat untuk perjalanan menuju Surabaya.

Sesampainya di pintu pesawat, gue terdiam. Gue yang saat itu masih jadi anak SMP dengan jakun yang baru tumbuh dan bulu-bulu halus di beberapa tempat itu dengan polosnya langsung memeluk pintu pesawat. Sontak emak gue kaget. Doi mikir anaknya punya kelainan jiwa yang kalau ngeliat pesawat bakal mendadak jadi horny. Tapi ternyata enggak. Gue itu maniak sama yang namanya pesawat dari kecil. Suka banget mengumpulkan mainan berbentuk pesawat. Dan ketika gue bisa menaiki pesawat beneran, gue ingin melepaskan rasa penasaran gue yang tidak lain adalah merasakan gimana rasanya menyentuh kulit pesawat.

Yah namanya juga bocah.

Dan dari semenjak hari itu, gue nggak pernah naik pesawat lagi. Apalagi pesawat tipe Jumbo Jet. Selain karena mahal dan tidak punya uang, gue pun jarang bepergian jauh-jauh.

Oke kembali ke cerita.

Dalam travblog edisi “Tersesatlah!” kali ini, gue akan membahas seluk-beluk, kisi-kisi, hal-hal, dan tata krama apa saja yang sepantasnya dilakukan ketika menaiki pesawat. Gue menulis semua hal di sini tidak serta merta hanya bacotan gue doang. Tapi karena gue pernah mengalami hal-hal tersebutlah makanya gue ingin berbagi. So, lets we begin.

.

                                                    ===

.

Sebagai anak kekinian, gue tahu masalah terbesar umat manusia sekarang itu tidak jauh dan tidak bukan adalah Colokan. Ya, kita tidak bisa jauh-jauh dari benda biadab yang satu itu. Walupun para scientist telah menemukan alat pengganti colokan yang sering kita sebut dengan PowerBank, tapi itu masih belum mampu mengganti peran colokan yang sesungguhnya.

Selain karena Powerbank butuh colokan juga untuk mengisi dayanya, powerBank pun hanya bisa digunakan mengecas HP kalian beberapa kali saja. Dan sangat tidak disarankan untuk sering-sering digunakan. Namanya juga powerBank, digunain untuk keadaan darurat doang.

HP kita itu voltnya sering berbeda dengan output volt powerbank. Apabila kalian sering-sering nyolok powerbank, itu HP lama-lama bisa hamil batrenya. Sama seperti om-om, kebanyakan nyolok, kemungkinan hamilnya lebih besar. Semakin HP dimainin ketika masih dalam keadaan mencolok, kemungkinan besar batre akan cepat rusak. Sama seperti om-om, di saat dia main ketika sedang dalam kondisi mencolok…

Ah sudahlah..

Sampai mana kita?

Oh iya..

Sosok colokan di bandara itu minim alias susah ditemukan. Kenapa? Ya karena pihak bandara nggak mau listriknya dicolok sama ente-ente sekalian sehingga token PLN-nya sekarat. Kasian nanti pas mau lepas-landas tiba-tiba ban pesawat kaga mau masuk gara-gara listirknya abis karena elu kebanyakan ngecas di bandara.

Satu-satunya tempat yang mempunyai banyak colokan di bandara itu hanya ada di tempat menunggu masuk pesawat setelah kalian berhasil melewati bagian Imigrasi.

Terus gimana dong kalau batre HP gue sekarat?
Tenang..

Gue juga saat itu sedang mengalami hal yang sama. Kondisi HP gue kritis, udah kelap-kelip kaya dada Ultramen waktu hampir mati ngelawan Monster Kelabang. Gue kelabakan, gue muterin seluruh daerah Bandara (termasuk restoran di depan terminal 2 itu) hanya sekedar untuk mencari colokan.

1.      Colokan

Tempat colokan itu biasanya tersembunyi. Kisi-kisi pertama yang akan gue kasih tentang colokan adalah sebagai berikut,

Coba kalian cari tukang Wrap Koper yang kebetulan lagi nggak ada penunggunya alias lagi kosong. Di setiap mesin Wrap Koper, kalian akan melihat ada satu buah colokan di sana. Coloklah, maka kalian akan berbahagia (Al-Colokan 2-3)

.

Tempat yang lain adalah, cari counter-counter bank/mading/tempat informasi atau alat-alat elektronik untuk menampilkan informasi yang sudah tidak terawat. Kita ini hidup di Indonesia, sudah pasti tempat tidak terawat seperti itu ada banyak di sekitar kita. Di setiap bekas alat-alat elektronik, pasti di sana ada colokan. Salah satu contohnya seperti gambar di bawah ini.

“Maka Nikmat Tuhan-mu yang mana lagi yang kau dustakan.”

.

Setelah menemukan colokan dan mengisi sampai penuh segala barang-barang elektronik kalian, berarti separuh perjalanan hidup kekinian kalian sudah selamat. Beberapa saran gue yang lain adalah ketika kalian sudah cukup mengecas HP, menunggulah atau diam tepat di depan konter cek-in maskapai kalian masing-masing.

“Kalau gue sih nunggunya di depan konter cek-in yang ada mbak-mbak manisnya aja. Gapapa, gitu juga udah bahagia kok.”

.

Kenapa gue sarankan untuk nunggu tidak jauh dari tempat cek-in? Karena setahu gue, jeda dari waktu cek-in ke keberangkatan itu sebentar banget, cuma 1-2 jam kalau gue nggak salah inget.

Pelajaran dari gue yang lain adalah, selalu sediakan uang sebesar 200-300 ribu di dalam dompet.

Ketika cek-in, ada beberapa maskapai yang meminta tambahan uang pajak sebesar 150ribu atau bahkan lebih. Dan di waktu yang sempit seperti ini, kalian gak mau dong harus lari-lari ke ATM, ambil duit, terus balik lagi sambil ngosh-ngoshan?

Maka dari itu, alangkah baiknya pengalaman gue ini kalian jadikan pelajaran.

Setelah cek-in, buru-burulah pergi ke bagian imgirasi. Ketika paspor dan persyaratan kalian telah disetujui dan diperbolehkan masuk menuju tempat tunggu pesawat, kalian akan cukup terkejut melihat banyak sekali colokan geratis disediakan di sana. Beberapa malah ada yang menyediakan loker berkunci untuk ngecas HP. Silakan bagi umat-umat yang hendak melanjutkan ngecas dan membuka laptop.. Kalian bisa sepuas-puasnya di sini

2.       Wi-Fi

Siapa di sini yang fakir kuota? Yak, kita satu spesies berarti. Beda dengan bandara-bandara di luar negeri, bandara kita itu masih bisa disebut dengan bandara yang pelit wi-fi. Bagaimana tidak? Gue sama sekali tidak menemukan adanya wi-fi geratis untuk bisa laporan keadaan gue sama orang tua– di bandara ini.

Ada sih free wi-fi bandara Soekarno Hatta. Tapi dia mati tiap 5 menit sekali, dan untuk login ulang perlu perjuangan lebih besar ketimbang perjuangan seorang anak kecil yang disuruh mengucapkan kata KANTOR dengan keras tapi bibirnya harus terbuka dan tidak boleh saling bersentuhan.

#jangandipraktekan

Kalau begitu gimana dong caranya untuk bisa mendapatkan wi-fi geratis?

Sebagai seseorang yang sedang berjihad di jalan kuota. Gue sempat bingung mencari di manakah gerangan ada wi-fi geratis? Sebenarnya di setiap outlet toko yang ada di sana juga menyediakan wi-fi sih, tapi syaratnya harus beli barangnya dulu baru dapet password wi-fi. 

Tapi tenang, carilah salah satu minimarket di daerah sana. Karena biasanya minimarket menyediakan wi-fi yang nggak di password. Dulu gue nemu satu, dia cuma butuh login dan masukin alamat email lo doang untuk login. Kalian tidak usah beli apapun. Cukup nongkrong di depannya lalu update deh.

Nah, itu adalah beberapa kisi-kisi yang bisa lo praktekan kalau pergi ke luar negeri seorang diri. Sekarang kita akan mulai masuk ke dalam tata krama dan hal-hal apa saja yang bisa lo lakukan di dalam pesawat.

Capcus cyin~

.

                                                     ===

.

1. Selalu membawa 2 tas untuk di dalam kabin. Satu tas ransel, dan satu tas kecil yang bisa lo bawa kemana-mana.

Buat apa? Apabila perjalanan kalian pergi ke luar negeri, kalian akan cukup terkejut menjumpai banyak sekali warga asing di dalam pesawat ketimbang warga negara Indonesia itu sendiri. Gue contohnya, gue kira karena ini Indonesia, maka pesawat yang gue tumpangi ke Jepang nanti akan banyak orang Indonya. Namun ternyata gue salah, gue cuma 1 dari 10 orang Indo di dalam pesawat. Sisanya? Pemain JAV semua.

Terus apa hubungannya sama Tas?

Ketika di dalam pesawat, tata krama adalah hal yang paling utama yang harus lo perhatikan. Perjalanan kalian bakal memakan waktu lebih dari 5 jam, dan kalian nggak mau kan dicibirin sama orang asing selama itu? Terlepas dari tempat duduk kalian ada di mana (window, middle, alley) kalian harus tetap sebisa mungkin tidak keluar masuk tempat duduk sering-sering.

Beberapa orang biasanya setelah memasukan tas ke dalam laci kabin, dia akan duduk manis, terus ketika pesawat sudah jalan lalu tanda sabuk pengaman boleh di lepas telah menyala, dia biasanya mulai berinisiatif untuk mengambil buku, headset, hp, cassan, dan lain-lain dari dalam tasnya yang ada di laci kabin tadi.

Otomatis jika seperti itu, dia harus berdiri dulu dong dari tempat duduk dan tentu mengganggu orang lain yang duduk di sekitarnya. Terus dia harus membuka laci kabin, tentu orang-orang juga akan terganggu mengingat ada barang mereka juga di sana. Kita tidak tahu barang mereka pecah belah atau tidak, mereka takut ketika kalian mengambil tas kalian, terus tanpa sengaja tas mereka jatuh dan barang-barangnya rusak semua.

So, selepas masuk pesawat, masukin tas ke dalam laci kabin, setelah itu usahakanlah untuk tetap duduk manis.

Terus kalau ada hal penting yang harus diambil dari dalam tas gimana dong, Mbe?

Nah itu gunanya kalian membawa tas kecil, kan?
Beberapa barang yang harus ada di dalam tas kecil kalian adalah sebagai berikut.

  1. Pulpen (penting buat mengisi form kedatangan yang akan diberikan di tengah perjalanan sama mbak-mbak pramugari kimochi.)
  2. Paspor
  3. Kertas kosong/ kertas tiket
  4. HP (DI DALAM HANDPHONE KALIAN, USAHAKAN UNTUK PUNYA SCREENSHOOT DARI ALAMAT TEMPAT TINGGAL KALIAN DI LUAR NEGERI NANTI. PENTING!!!! Di dalam pesawat, kalian gak bisa browsing soalnya. Harus punya offline-nya. Karena alamat tempat menginap kalian wajib ditulis di form yang nanti diberi oleh pramugari.)
  5. Powerbank dan segala kabel-kabelan.

Paling penting 5 itu dulu. Lantas kalau ingin membaca buku bagaimana? Kan tidak cukup dimasukan ke dalam tas kecil?

Yaudah, kalian boleh membuka laci kabin, tapi sebelum itu usahakan kalian menaruh segala hal-hal yang akan kalian pakai di dalam pesawat itu di tempat yang terjangkau.

Contohnya buku. Buku diletakan di tas paling atas, sehingga ketika dibuka, kalian bisa langsung mengambilnya tanpa harus berlama-lama mengeluarkan barang-barang yang lain. Headset juga begitu, kalau bisa sih menggantung di leher. Tapi nanti di pesawat juga kalian bakal dikasih headset kok di tiap kursi, jadi kagak usah repot-repot.

Hal ini tidak hanya di pesawat saja. Di kereta pun sama. Jangan sampai kalian mengganggu waktu istirahat orang lain karena kalian sibuk ngoprek tas di laci penyimpanan di atas sana. 

Pikirkan benda-benda apa saja yang sekiranya bakal kalian butuhkan di dalam pesawat. Maka tarulah benda itu di tempat yang mudah dijangkau tanpa harus berlama-lama ngoprek tas.

Jaket, obat-obatan, syal, bantal leher, pistol, bazoka, atau rocket launcher.

Belajarlah untuk menghormati orang lain.

2.    Tata Krama duduk di kursi pesawat.

Lha jangan kira duduk di pesawat itu bisa seenak jidat lo aja, sist. Ada tata kramanya juga loh.. 

Orang luar negeri itu sangat menjunjung tinggi tata-krama, jadi sebisa mungkin jangan malu-maluin lah. Tapi btw gue waktu pertama kali pergi ke luar negeri juga nggak tau tata krama sih, alhasil jadi dicibirin sinis sama kakek-kakek tentara Heiho yang saat itu di sebelah gue.

Oke, sekarang kita jabarkan satu-satu.
Jadi begini.

Kursi di pesawat itu di bagi ke dalam 3 bagian.

Btw, udah panjang aja nih cerita gue.
Gue lanjut di part berikutnya aja ya..

Bye~