kumuh

9

Pasar (Inpres) Senen; Riwayatmu Kini…

Kumuh, becek dan amburadul, begitulah kesan pertama yang kami tangkap begitu memasuki bangunan bercat hijau ini. Pasar Inpres Senen Blok VI ini seolah hanya merupakan ‘sisa’ dari kebakaran yang melalap kompleks ini tahun 2010 lalu. Entahlah bagaimana rupa bangunan ini di masa kejayaannya dulu; yang pasti sekarang pasar ini telah termakan oleh usia dan makin terpinggirkan oleh pasar-pasar modern yang mengepung Jakarta…  

The Memories of Pasar (Inpres) Senen

Dirty, muddy and messy, that’s the first impression when we’re entering the green painted building. Pasar Inpres  Senen Block VI market this as just a 'rest’ of the fire that engulfed the complex in 2010. I do not know how the way this building in its heyday used to be; that surely now the market has been influenced by the age and increasingly marginalized by modern markets that surround Jakarta…

perempuan dan kematian

ada yang kenal orang diatas ?

perkenalkan namanya Mary Jeane, masih belum ingat?. oke saya persempit, dia adalah perempuan asal filipina yang sedang menghadapi detik-detik kematian setelah semalam dibawa dari LP Wirogunan Jogjakarta menuju Nusakambangan Cilacap. kasus narkoba membawanya menghadap kematian.

gambar diatas bisa jadi menjadi senyum terakhir bagi MJ, berlenggok dengan kebaya bagai kartini dengan wajah khas melayu membuat semua orang tak kan mengira jika dia punya kewarganegaraan yang berbeda. jika saja lidahnya tidak terbiasa mengucap tagalog bukan tidak mungkin MJ tak lebih sebagai kebanyakan perempuan indonesia.

sebuah regu tembak tak lama lagi akan menghadapnya di lembah nirbaya nusakambangan, menjadikan dua anaknya yang belum lulus sekolah dasar di filipina sebagai yatim piatu. MJ hanyalah kurir, dia bukan bandar narkoba, rumahnya di filipina tak lebih bagus dari rumah-rumah di pemukiman kumuh jakarta. keputusannya untuk menjadi kurir narkoba semata-mata untuk menjadikan kedua anaknya bisa makan layak, selayak para tetangganya.

wajah kartini dibelakang senyum MJ seolah menjadi ironis, ketika kita akan melihat senyum yang merekah dari perempuan ini tenggelam dalam dekap bibir yang merapat. binar ceria matanya akan segera menutup dan menjadikan orang-orang disekelilingnya mengalirkan air mata.

MJ tak hanya seorang ibu, tapi juga seorang anak dari seorang ibu bernama celia veloso. kematian MJ bagi celia tak sekedar membuatnya kehilangan anak, tapi juga menanggung dua cucu yang harus dia hidupi.

mungkin tak lama lagi, tubuh sinal dan berisi MJ akan berlumur darah oleh penembak akan menghujam kan peluru tepat dijantungnya. MJ bisa saja dicap penjahat, pengedar narkoba, musuh masyarakat bagi orang indonesia. tapi bagi celia veloso MJ adalah seorang anak yang menantang bahaya untuk menyambung hidup keluarga dari jerat kemiskinan, bagi kedua anaknya MJ tetap seorang ibu yang melahirkan, menyusui, merawat, membelai, hingga bertaruh nyawa untuk membuat anak-anaknya hidup lebih baik. 

9

Kampung Pulo: sebuah pertanyaan tentang permukiman kumuh di bantaran sungai.

Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir perkuliahan arsitektur, saya mengunjungi Kampung Pulo, sebuah perkampungan urban di Jakarta Timur. Layaknya kampung urban, Kampung Pulo merupakan area permukiman yang sangat padat (mencapai 1.097 jiwa/ha). Setiap rumah di kampung ini dihuni lebih dari 1 KK. Dalam hunian seluas 6x4, terdapat 3-5 KK yang tinggal di dalamnya. Selain kepadatan penduduk dan bangunan, banjir juga menjadi cerita panjang yang membawa kampung ini masuk ke berbagai media yang memberitakan banjir ibukota ke penjuru Indonesia. Kampung Pulo yang posisinya di dataran rendah dan berbatasan dengan Sungai Ciliwung di sekelilingnya membuat banjir menjadi bagian dari keseharian warganya. Bagi mereka banjir semata kaki atau setinggi lutut yang disebabkan hujan sehari-hari hanya merupakan genangan biasa, banjir yang sebenarnya adalah saat air mencapai ketinggian 2 meter atau lebih.

Banjir yang menjadi agenda rutin ini pun akhirnya membentuk tipologi tersendiri dalam hunian mereka. Hunian-hunian di Kampung Pulo sebagian besar terdiri dari 2-3 lantai, membentuk hunian sempit yang diperluas ke atas. Lantai 2 dan 3 inilah yang akan menjadi tempat mereka ‘mengungsi’ sementara saat banjir melanda. Saat saya memasuki hunian-hunian warga untuk bertamu, di lantai dasar tidak saya temukan adanya perabot-perabot seperti kursi, meja atau lemari. Hanya ada tikar dan kasur lipat, sisanya kosong. Ternyata warga tidak mau lagi repot-repot membeli mebel dan meletakkannya di lantai dasar yang pada umumnya berfungsi sebagai ruang tamu atau ruang keluarga, karena banjir yang selalu kembali menggenangi lantai dasar hunian mereka. Pernah dengar arsitektur tanggap banjir? Saya rasa mereka belum pernah mempelajarinya, tapi mengalaminya dari waktu ke waktu membuat warga Kampung Pulo dapat membentuk hunian tanggap banjir mereka sendiri.

Jujur saja saya datang ke sana berbekal artikel-artikel yang pernah memberitakan banjir di Kampung Pulo, tanah negara yang digunakan warga untuk membangun hunian di bantaran sungai, hunian warga Kampung Pulo yang membuang limbahnya langsung ke Sungai Ciliwung, normalisasi Sungai Ciliwung yang akan merelokasi hunian-hunian di Kampung Pulo, dan peraturan-peraturan pemerintah tentang hunian-hunian di bantaran sungai yang melanggar peraturan. Lalu saat saya tiba, berbincang-bincang dengan bapak-bapak RW dan Wakil RW, beberapa warga lain dan berdiskusi langsung dengan mereka, saya menemukan hal lain yang sebelumnya tidak saya temukan di artikel-artikel yang ingin menyelamatkan Sungai Ciliwung tadi.

Kampung Pulo memiliki studi historis panjang yang membentuk perkampungan tersebut hingga hari ini. Warga-warga yang berdiskusi dengan saya adalah mereka yang tinggal di sana sejak dilahirkan dan rumah-rumah mereka adalah rumah yang ditinggali oleh kakek-nenek mereka turun temurun sejak sekitar 1900-an. Keluarga mereka saling mengenal dari generasi ke generasi. Gotong royong mereka tidak hanya terbentuk dari puluhan tahun hidup bersama, tapi melewati saat-saat mereka harus bertahan hidup saat banjir-banjir parah seperti tahun 2002 dan 2007 melanda kampung mereka. Dari berita-berita yang menyoroti parahnya banjir di Kampung Pulo yang pernah mencapai 3 meter dan tidak surut dalam satu bulan, tidak ada korban jiwa dan tidak ada pertolongan dari luar yang mengevakuasi mereka pada saat kejadian. Mereka menyelamatkan diri mereka dan kampung mereka sendiri. Membangun kembali yang rusak, melakukan kerja bakti secara rutin meskipun banjir kembali datang secara rutin.

Mereka bahkan tidak masalah dengan pemerintah yang mengatakan itu adalah tanah negara dan mereka harus pindah dalam rangka normalisasi Sungai Ciliwung. Untuk masalah ganti rugi, mereka pun tidak bisa berbuat banyak. Satu hal yang saya tangkap dari kegelisahan mereka, kenapa pemerintah tak kunjung mendatangi mereka untuk mensosialisasikan rencana normalisasi sungai dan relokasi warga secara terbuka, jelas dan cepat. Bahkan warga yang bertanya pada Pak Lurah pun akan mendapat jawaban tidak tahu. Lahan yang akan terkena normalisasi sudah diukur dan ditandai, tapi warga ditinggalkan bertanya-tanya dan menebak-nebak sendiri. Sementara itu media berbondong-bondong mendatangi Kampung Pulo, meliput berita banjir dan permasalah sungai di sana, memberikan perspektif bagi kita yang hanya mengikuti lewat membaca.

“Saya sih tidak bisa apa-apa kalau memang direlokasi ya menurut, tapi saya cuma agak berat kalau warga tidak bisa hidup bersama lagi. Kami harus ketemu orang-orang baru yang kami tidak tahu apakah sama-sama sejiwa, warga bantaran ciliwung kan banyak sekali bukan hanya Kampung Pulo… beda cerita kalau warga disini dipindah dan bisa tinggal bersama-sama lagi.”

“Siapa yang bilang kami tidak mau pindah, dari segi kemanusiaan kami juga mau pindah, siapa yang mau tinggal di hunian sempit diisi banyak orang dan selalu banjir. Tapi kami cuma minta jangan diperlakukan seperti binatang..”

“Kalau dipindah ke rusun yang tinggi-tinggi seperti di Rusun Jatinegara Barat yang baru itu, bisa seperti tinggal di apartemen.. tapi kita orang kampung mana bisa dengan harga sewanya? Dan kami mana cocok tinggal di bangunan yang kemana-mana harus naik lift? Kalo kami ngerusakin lift-nya gimana? Bangunan di Indonesia kan kalo murah ngga terawat, kalo rusak trus nggak aman bagaimana? Kami kan mikir juga..”

Media memberitakan warga Kampung Pulo terus menolak relokasi sehingga normalisasi sungai sampai saat ini masih belum tuntas. Tapi benarkah apa yang kita baca? Pemerintah menerbitkan peraturan-peraturan yang menyatakan mereka tinggal di tanah negara, tanah yang seharusnya menjadi bantaran sungai dan menjaga ekosistem sungai. Tapi berapa lama mereka dibiarkan tumbuh dan berakar di sana tanpa sosialisasi yang jelas? Benarkah Kampung Pulo adalah permukiman kumuh yang menambah dampak banjir di Jakarta? Benarkan treatment relokasi adalah cara yang paling tepat? Apakah relokasi bukan berarti mencabut warga dari historisnya, memindahkan ke tempat baru, memberikan ketidak pastian bagi mereka?


dengan segala keterbatasan yang saya miliki sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya mencoba hanya mengamati dan banyak bertanya tanpa memberikan judgement.

*Pemandangan dari lantai 14, Gedung Prof. Dr. Sujudi, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan* 

 Ada fenomena-fenomena yang banyak saya perhatikan setiap berangkat kerja (kalau naik ojek) di balik gedung-gedung mewah bertingkat ini. 

 Oleh babang ojek, saya dibawa melewati jalan-jalan ‘tikus’, demi menghindari kemacetan di jalur jalan yang biasa. saya dibawa melewati gang-gang sempit, antara satu rumah yang satu dengan yang lainnya seperti tidak ada batasnya, sangat berdempetan sekali. Suasana lembab dan pengap bisa kamu rasakan. Tak terbayangkan, jika rumah kecil tersebut harus diisi oleh beberapa orang. Belum lagi, lingkungan yang kumuh, berada di sekitar kali (ciliwung). Bau sungai yang menyengat bercampur dengan bau kotoran kambing dan domba yang dilepas di lapangan kecil yang terdapat di sekitaran kali. Aktivitas pagi ramai di pasar yang terletak nyempil di sisi gang.

 Kemudian saya dibawa melewati komplek perumahan yang rumahnya besar, halamannya luas. Pagarnya tinggi-tinggi. Jalanannya bersih. Dari luar sekilas terlihat seperti tidak ada aktivitas, sepi. Entahlah mungkin karena rumahnya besar-besar atau memang rumah tersebut sedang tak berpenghuni. 

 Hmm. kehidupan memang selalu ada dalam dua sisi yaa. yang satu kesusahan, yang lain dalam kesenangan. yang satu dalam kemelaratan, yang satu dalam kemewahan. Alhamdulillah 'ala kulli haal. Cintai hidup yang kamu miliki sekarang dan bersyukur. Sesungguhnya dunia ini fana. 


 *jatuh cinta sama awan dan langit pagi ini. Love!*

: Kalo kekiniannya BTS & MRT kaya berasa di Tokyo. .nah naik boat di kali butek dengan paduan graffiti dan perkampungan kumuh ini Jakarta banget (aturan mah bikin ya). Murah, cepet & nyiprat ! with @damarakhma at Bangkok, Thailand – Watch on Path.

berhubung lagi momen KAA, jadi pengen flashblack :’)
Februari 2013, detik detik menuju UN. Kita main-main ke Braga, eh nyasar ke Museum Konferensi Asia-Afrika. Disambut sama karyawan museumnya, ramah bangeeet…. beliau cerita-cerita sedikit sejarah KAA. Terus mau fotoin kita di depan diorama yang menceritakan tentang pidato Ir. Soekarno saat KAA dulu. Juga di depan bendera-bendera negara yang sekarang dikibarkan di sekeliling gedung KAA.

Dulu sepi banget. Orang-orang cuma datang melintas, acuh pada bagian sejarah ini. Tidak seperti sekarang. Yang setiap hari selalu ramai dengan foto-foto selfie karena tidak ingin ketinggalan momen. Dulu sempet terkedan kumuh. Tidak seperti sekarang, semuanya berubah jadi lebih rapih dan berestetika. Udah berasa kaya di luar negeri deh pokoknya.

Harapanku, semoga kita mengunjungi museum jangan hanya saat ada momen saja. Mungkin kita bisa jadikan jalan-jalan ke museum menjadi sebuah liburan di akhir pekan. Jangan pernah lupa akan sejarah. Bagaimana museum kita bisa seramai di film Night at the Museum kalau kita sendiri enggan untuk melihat sedikit ke belakang mengagumi perjuangan leluhur kita. Yuk ke museum :D

#exploreBandung #KAA

pengalaman manis ketika melakukan penelitian sosial (tugas kuliah) terhadap warga di pemukiman kali code tengah (kota yogyakarta)
mungkin terlintas akan berpikir bahwa pemukiman kumuh dengan warga yg galak, arogan atau penjahat bla bla.. aku harus berkata itu BOHONG!! timku sangat dihargai untuk melakukan wawancara, sebar kuisioner bahkan sampai dicarikan narasumber selanjutnya.. warganya sangatlah ramah, baik dan peduli bahkan ketika adzan berkumandang.. anak2 pada langsung lari ke masjid untuj sholat dan belajar ngaji :“)

mereka hidup sangat rukun dgn tetangga2nya .. tetapi sgt tidak menyukai dgn org pendatang yg tdk baik terhadap kampung mereka *misal ngekos tapi malah buat narkoba, miras,atau hal yg dilanggar lainnya*, bantuan pemerintah yg tidak merata (salah sasaran) dan hotel2 yg membuang limbahnya ke sungai

terima kasih bapak ibu pemukiman kali code tengah atas ilmu dan pengalamannya yg sangat berharga ini :)
bila dikasih waktu lagi, saya akan berkunjung main sekali lagi tanpa bosan ^^

kota kelahiran nan tercinta, kian hari kian membutuhkan kontribusi yang sangat besar, pasalnya kini kota berjuta sejarah, layaknya pasar lauk pauk dan sayuran yang nampak becek serta kumuh.
Terlebih, ketika saya menikmati malam dengan seteguk coklat hangat di sebuah kafe kota tua, saya pun membuka perbincangan dengan manager kafe, terucaplah bahwa total pedagang “LIAR” di kota tua berjumlah lebih dari 400 pedagang.

Lalu, sudahkah kita memberikan kontribusi meski setetes getah buah Mangga untuk ibukota Jakarta ?

*inilah cara saya merayakan hari buruh dunia, dengan merasa pilu serta gundah😊 at Kota Tua – View on Path.

sejenak kembali

Bunyi bel bergerincing menandakan seseorang memasuki kafe kumuh milikku ini. Kuintip dari lubang kecil di dapur. Terlihat seorang gadis berpenampilan sangat berantakan sedang duduk di sudut ruangan dengan mata yang sembap. Mata sembap itu sungguh tak cocok dengan rambut pendek jabriknya serta seragam yang dipenuhi coretan dimana-mana, dengan headphone terpasang di telinganya. Ku hampiri gadis itu.

“ Ada yang bisa kubantu?” tanyaku.

“ Tolong, vanilla latte satu, tanpa gula,” jawabnya.

“ Baiklah, tunggu sebentar.”

Lima menit kemudian, aku kembali membawa secangkir vanilla latte serta cappuccino. Aku duduk di depannya tanpa ia sadari.

“ Apa yang terjadi padamu?”

“ Ouh, maaf saya tak menyadari Anda memandang saya sedari tadi. Saya hanya  memikirkan betapa sakitnya hati saya,” air mata mulai membasahi pipinya.

“ Tak perlu kamu memanggilku Anda, cukup dengan Opa. Maaf jika saya lancang, apa yang membuatmu sakit hati?”

“ Baiklah, Opa. Nama saya Kiran. Seperti biasa, masalah cinta, Opa,” senyumnya mulai mengembang sedikit demi sedikit.

“ Hahahaha. Sudah kuduga, Opa juga pernah merasakannya. Mau mendengar sedikit ceritanya?”

“Baiklah,” ia mengangguk mantap.

***

Akan kukisahkan sedikit tentang masa laluku. Ini terjadi ketika aku masih berseragam putih abu-abu, seperti gadis yang sedang duduk di hadapanku kini. Hal itu terjadi sekitar 45 tahun yang lalu.

Hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Matahari masih terbit dari timur dan tanpa enggan panasnya membakar seluruh tubuhku. Tentu saja tubuhku terbakar, karena sekarang aku dengan bodohnya berdiri di tengah lapangan tepat tengah hari. Ini semua karena dia yang meminta, dia, ya dia. Sahabat yang sangat kucintai lebih dari sekadar sahabat biasa, dan sayangnya, dia takkan pernah menyadarinya. Dia adalah Rinai, gadis cantik nan tomboi dari kelas XI IPA 2, kelas para bintang kelas.

“ Woi, Bintang!!!! emang enak berdiri di situ?” teriak Rinai begitu renyah. Aku hanya bisa menoleh dengan wajah terlipat.

“  Udah puas belum?!!! Capek nih aku!” balasku teriak. Dia sengaja menyuruhku berdiri di tengah lapangan karena aku terlambat menjemputnya tadi pagi.

“ Aku pikir-pikir dulu deh.” Dengan wajah sok berpikir, dia berjalan di depanku.

“ Aha! Kamu boleh pergi asal traktir aku, oke?!” Dalam sekejap mata dia sudah berlari di depanku. Aku tertawa tanpa suara  dan mulai mengikutinya. Aku selalu menyukai tawa dan tingkah lakunya yang kadang urak-urakan itu.

Kantin begitu sepi, hanya menyisakan kami berdua di pojokan kantin. Tiba-tiba ku melihat air mata menetes melewati pipinya jatuh ke dalam gelas es jeruknya. Cepat-cepat dia hapus air mata itu. Dan mulai bercanda seperti biasa seolah-seolah tak sekalipun dia meneteskan air mata.

“ Ada apa sebenarnya? Ceritain semua ke aku, Rinai. Kamu gak perlu pendam sendiri,” kataku akhirnya.

“ Gak ada apa-apa,” dia masih mencoba tuk mengelak.

“ Jujur aja, Rinai. Aku ini Bintang, temen kamu dari kecil. Masa kamu gak percaya sih?” bujuk Bintang kepada Rinai.

“ A….a…aku putus sama Satriya. Dia selingkuhin aku, Tang!!!!” Dari sesenggukan tiba-tiba saja dia histeris dan mulai menangis sekeras-kerasnya di punggungku. Entah mengapa, rasanya hatiku ikut hancur melihatnya menangis seperti itu. Tak apa meski aku hanya menjadi tempatnya menangis, karena dengan begitu menandakan bahwa aku masih selalu ada di sisinya.

Sorry,” ucapnya setelah sekian jam menangis di punggungku dan membuat kemejaku basah kuyup. Tapi, itu membuatku bahagia, sungguh bahagia bisa membantu mengurangi sedikit bebannya.

It’s okay. Aku bakalan bikin kamu senang sore ini. Aku punya kejutan buat kamu. Pulang sekolah nanti tunggu di tempat biasa, ya?”  dia mengangguk lemah dan berusaha untuk menampakkan senyum indahnya itu.

Rasanya waktu berjalan begitu lama menunggu bel sekolah berdering menandakan jam pelajaran telah usai. Dan saat bel berdering, kontan saja aku langsung melompat dari kursiku dan berlari menuju parkiran sepeda.  Menunggu Rinai di bawah pohon tempat kami biasa saling menunggu adalah hal yang paling tak kusuka. Aku ingin segera bertemu dengannya dan mendengar suara tawa lepasnya. Aku selalu berharap suatu saat Rinai akan menyadari perasaanku dan mulai mempertimbangkannya. Ah, itu bagaikan mimpi di siang bolong bagiku. Baru saja hatiku membatin, ia telah terlihat di pelupuk mata.

“ Bintang, sorry aku telat. Gara-gara Si Kribo ceramah gak jelas bikin telingaku panas aja,” keluhnya saat tiba di hadapanku. Sungguh lucu melihatnya sedikit uring-uringan seperti ini.

“ Ayo berangkat! jangan ngelamun aja.” Tiba-tiba saja dia sudah naik di bagian belakang sepedaku. Aku curiga, jangan-jangan dia bukan manusia biasa. Dengan semangat kukayuh sepedaku. Sore ini aku akan menunjukkan tempat yang sangat indah untuknya. Angin berembus menerbangkan rambut panjangnya yang terurai, menampakkan garis-garis  wajahnya yang begitu sempurna dengan matanya yang tertutup.

“Taraaaa…… Kita sudah sampai,”

           “ Ki…ta dimana?!”

           “ Bintang, kamu gila!!!! Ini… ini… luar biasa….” ucapnya kagum melihat laut yang membentang di hadapannya, serta suara deburan ombak yang menyejukkan hati.

           “ Luar biasa sih, luar biasa, tapi turun dong! Berat nih!” jawabku sewot.

Sambil tertawa, dia segera melepas sepatunya dan berlari menuju pantai. Berteriak-teriak memanggil namaku.

           “ Bintang! Ayo….” Aku berlari mengejarnya menuju pantai. Saling berteriak, bermain, dan menceburkan diri.

           “ Ayo balapan ke dermaga!” ajakku. Dalam sekejap mata, ia berlari dengan sangat cepat sebelum aku sempat menutup rapat mulutku.

           Memandangi senja di dermaga adalah surga dunia yang tak ada tandingnya, apalagi bersama Rinai dengan senyuman indahnya. Lama kami hanya berdiam diri satu sama lain, menikmati keindahan senja yang luar biasa.

           “ Tang…” panggilnya.

           “  Hem?” jawabku  acuh tak acuh.

           “ Makasih ya…”

           “ Buat?” tanyaku seolah tak paham.

           “ Makasih udah hibur aku hari ini, you’re my best.”

           “ I always been here for you.”

“ Tang…”

“ Apalagi sih?”

           “ Mau janji gak?”

           “ Janji apaan?”

           “ Janji bakal ajak aku ke Yunani, dan nikmatin sunset berdua kayak hari ini, oke?”

           “ Iya…”

Sore itu kami akhiri dalam diam yang hangat. Menikmati keindahan matahari terbenam di bibir pantai ditemani deburan ombak yang memecah karang.

to be continued

Menjadi lebih tua tidak lantas membuat yang lebih muda kehilangan hak untuk berbicara denganmu.

Pola pikirku yang merasa ‘semua orang yang kita lewati saat tidak terburu-buru perlu disapa’ membuatku sering menyapa—dan kemudian mengetahui—banyak orang. Ada Ibu berpakaian kumuh yang membuang sampah orang-orang sembari menarasikan kehidupan kelas bawah dalam jalannya, ada kakek pengemis depan gerbang kampus yang selalu menyapaku dengan ceria seperti tidak butuh uang, ada mantan-mantan ibu bapak kosan dengan berbagai karakternya, ada kakek yang sering bersantai di depan rumahnya yang berada di persimpangan gang, ada ibu warung makan hijau yang senang mengajak ngobrol sembari tangannya mengerjakan banyak hal, ada bapak kedai pendiam yang selalu tahu pesananku kalau tidak kemungkinan besar telur dadar tahu ya mie ayam dengan minum jus tomat, dan ada anak-anak, banyak anak-anak.

Menjadi lebih tua tidak lantas membuat anak lima tahun kehilangan hak untuk berbicara denganmu.

Aku tidak tahu apa yang menarik dariku selain aku adalah gadis tomboi berpakaian semi-kusut yang mengendarai sepeda merah, tapi anak-anak terkadang melihatku dengan tatapan menyelidik, kemudian jika berani mereka akan memulai percakapan, dan jika tidak mereka akan melihatku terus hingga aku yang memulai percakapan.

Kau tahu? Yang menarik dari anak-anak itu adalah mereka punya pikiran yang bening meski pemikirannya masih agak kusut. Mereka tidak peduli jika aku terlihat suntuk atau jika apa yang akan mereka katakan terdengar tidak pada tempatnya. Mereka akan tetap penasaran. Ada yang bilang gelangku (yang sebenarnya adalah kuncir rambut berbentuk seperti kabel telepon yang kebetulan sedang aku gelangkan) itu keren, beberapa bilang sepedaku besar dan bagus—kemudian meminta atau tidak meminta izin untuk memutar pedal sepedaku dengan tangan dan 50% kemungkinan sepedaku akan jatuh, ada yang bertanya apakah aku sedang mencuri galon orang (aku sedang membawa galon kosongku untuk diisi ulang), atau apakah aku bisa melihat dengan poni yang menutupi mata, anak pemilik kedai malah pernah bertanya kenapa aku sangat suka makan telur. Dan aku menjawab ini sebenarnya kuncir rambut dan kau bisa mendapatkannya seharga seribu rupiah di mang-mang aksesoris terdekat, itu sepeda dames dengan roda paling besar di toko sepeda bekas, aku sedang membawa galonku sendiri untuk ku isi ulang di depot terdekat, ya aku masih bisa melihatmu karena rambut terdiri dari kumpulan helai yang punya sela dan bukan bongkahan seperti batu, aku suka telur karena telur itu enak.

Aku menjawab dengan jujur dan mengatakannya layaknya aku sedang menjawab seorang manusia. Kau tahu kenapa aku berkata begitu? Karena aku sering mendapati orang dewasa menanggapi anak-anak layaknya alien atau menjawab mereka dengan kebohongan seakan itu lebih mudah. Padahal, anak-anak juga manusia, belum dewasa, tapi akan dewasa. Memorinya saat ini tidak hanya untuk saat ini, tapi juga untuk masa depan dengan pemikiran mereka yang dewasa. Segera mereka akan tahu.

Aku tahu, karena masa lalu lebih menyakitiku saat ini dibandingkan saat aku masih kecil.

Riverspot Cikapundung!
Salah satu ruang terbuka publik paling gres di Kota Bandung. Dulunya ini tempat kumuh, tapi sekarang udah ada air mancur (warna warni klo malem), kolam, tempat duduk dan viewing dock! The best!