kuizs

Nilai

“Aku traktir, ig”

Begitulah permintaan Sang Duta Buku Gratis sekaligus pembaca kuiz sirah nabawi di bundaran depan tv kosan tercinta. Di mana pertanyaannya membuat para peserta tersadarkan diri tentang betapa miskin ilmunya diri ini tentang sejarah junjungan, panutan, dan yang diaku-aku sebagai teladan bagi setiap langkah bagi diri di setiap pembukaan pidato sampah dari mulut ke mulut ini. Mulai dari kendaraan Nabi Sulaiman, siapa nama seseorang yang disentil Nabi Musa hingga tergeletak meregang nyawa, hingga jawaban sontak tapi salah sebab tidak ingin diserobot terlebih dahulu tentang apa yang disembah bani Israil sepeninggalan Nabi Musa yang hanya sebentar. Kesempurnaan, kerapihan, dan kelengkapan sejarah menjadi titik berbunganya sejarah dalam diri manusia yang tak pandai membuat sejarah dengan akhlak sebagai utama.

Kini, dunia digital dipenuhi insta-stories anak-anak kekinian yang bangga dengan tingkah lakunya sebagai bentuk aktualisasi diri sebagai pengguna dunia maya. Berbentuk keikutsertaan diri dalam seminar nasional/internasional dan dibagikan ke laman pribadinya agar dunia tahu bahwa ikut seminar bukan hanya ingin menggapai sertifikat, tetapi ingin ilmu yang nanti akan didapat. Seperti kata dosen tercinta di universitas yang dapat dikatakan biasa-biasa saja, “Mungkin ilmunya tidak bermanfaat untuk sekarang, barangkali nanti dapat diberi ke anak-anak kalian nanti”. Sungguh dewasa pembicaraan ini sehingga menyangkut anak, padahal untuk membayangkan seperti apa wajah beibeh kita di masa depan saja masih malu-malu kucing. Setelah itu, siang ini makan apa dan sore nanti akan pergi bersama siapa sudah beredar keras dengan layanan yang mudah diakses siapa saja. Sejarah tentang diri kita mudah terhubung dengan orang banyak, namun di sisi lain cepat hilang dan basi.

Kembali ke Duta Buku Gratis, kehadiran nilai yang mendiami tubuh sesuatu menjadikannya berharga untuk diraih dan dapatkan. Mengapa kita rela bangun pagi, mandi, dan buru-buru berangkat sekolah? Karena ilmu sangat bernilai dalam hidupmu. Mengapa kamu rela setelah lelah sekolah dari pagi hingga siang, les dari siang hingga sore, ngaji dari sore hingga malam, dan malam hingga lebih malam yang dihabiskan untuk belajar lagi? Karena ilmu sangat bernilai untuk hidupmu. Begitulah ujar dosen pendidikan pancasila dan antikorupsi di suatu pagi yang berseri.

Sama dengan rela minta traktiran buku agar punya buku, bukan karena menganggap buku sedemikian hal remeh sehingga tak perlu keluar uang untuk mendapatkannya, tetapi ada cara lain untuk membuatnya bernilai sehingga berharga untuk hidupmu. Ketika mengikuti seminar atau talkshow yang dilalui dengan kantuk menggema menggantung di mata, masih sempat tangan mengangkat untuk bertanya sebab nantinya door prize berupa buku akan diperoleh di penghujung acara. Bukan karena menganggap ilmu sebagai sesuatu yang murah, melainkan karena tak selamanya uang menguasai. Ada yang lebih tinggi nilainya daripada materi, yaitu harga diri, katanya.

Menenggelamkan diri pada lautan kata demi kata kurasa lebih aman daripada tercelup pada basah narkoba walau setetesnya saja.

Selamat membaca bagi Anda yang membaca. Entah buku, manusia, alam, kehidupan, atau kematian. Jika tak punya receh demi receh yang terkumpul menjadi ribuan dan ratusan untuk dipamerkan kepada kasir di toko buku, berlarilah ke perpustakaan. Silakan membaca, pinjamlah, kalau perlu keluarkan uang recehmu itu untuk persiapan membayar denda sebab telat balikinnya.

Hadiah

Skang ni dah takde contest yang bagi hadiah rumah kat pemenang. Aku ingat lagi masa aku kecik2 dulu, aku suka tengok rancangan kuiz, salah satu grand prize dia adalah rumah. Rumah banglo, rumah teres, semi-D… Best gila. Skang ni hadiah sume nak bagi henfon. Bosan kot. Henfon semua orang da mampu nak beli. Bagi la hadiah rumah plak. Baru berkobar-kobar nak join. Huhuh 😣😣