kredits

mészáros gazdagodása kapcsán az jutott eszembe

hogy tényleg fájó hiány lehet a kormány közelében strómanokból, ha szinte mindent kénytelenek ennek a szefósnak és az embereinek adni (ok, ott van még garancsi meg egy kicsit schmidt, de jelenleg kb ennyi). 

szóval lassan indokolt lenne a nemzeti közszolgálati egyetemen meghirdetni az államilag támogatott stróman-mesterszakot, hogy kinőhessen egy megfelelően képzett új generáció. bármilyen alapszakkal lehetne jelentkezni, a feltétlen szükséges skillek megszerzéséhez és a kapcsolati háló kiépüléséhez is bőven elég lenne 1 év. 

lehetséges tantárgylista: 

  • lojalitás szeminárium (20 kredit)

  • hallgatás szeminárium, hogyan nyilatkozzunk a lehető legsemmitmondóbban (15 kredit)

  • jogi alapismeretek különös tekintettel a versenyjog kijátszására és az opciós jogokra (10 kredit) 

  • licitstratégiák állami vagyon megszerzéséhez (10 kredit)

  • strómantörténelem 1990-ig visszamenőleg, ismerkedés a legsikeresebb strómanok szakmai életrajzával (5 kredit)

  • networking gyakorlat: manőverezési technikák a legjobban fekvő oligarchák és politikusok felé (15 kredit)

  • bevezetés az offshore-cégalapítás rejtelmeibe (15 kredit)

Još uvijek imam ljude koji čekaju ponoć da okrenu moj broj, ispišu najljepše romane i požele mi sve što žele sebi.
Od tih posebnosti živim i tom ljubavlju se hranim otkad me ima, otkad ih znam.

Sama sebi svake godine poželim isto.

Deset sati spavanja svaku noć, manje jedi, manje pizdi, manje zarezuj ljudske gluposti i ne projektuj ih na sebe.
Podijeli čokoladu, nemoj je sakriti u kutiju od cipela i jesti je sama u ćošku sobe svakog pmsa.
Al’ svakog.

Ne petljaj se u tuđe veze i brakove, prekini biti savjetnik, psihijatar, dobra vila, majka Tereza, Isus Hrist.
Nemoj, molim te.
Džaba.
Svake godine se zajebem i pišem u leksikon da mi je omiljeni hobi biti budala.
To radim u slobodno vrijeme.

Budi mirna.
Nemoj ludit’ svog predragog dečka.
Nemoj da flipne pa da završiš ko neke slavne zvijezde.

Prekini kupovati!
Idi na odikavanje.
Kupi veći ormar prije nego odeš.

Pusti ljude da te grle.
I one koje bi najradije ganjala vilama. Pusti.

Oprosti teti u pekari što ti uvijek kaže da je burek vruć i slaže, a ti se uvijek vraćaš, jer biti ovca je gadna navika.

Budi mirna, kupi već jednom taj dormeo, opraštaj sitnice i ne spaljuj sve mostove za sobom.

Nemoj ići na kave radi reda.
S ljudima s kojima ne želiš.
Budi pametnija.
Mudrija.
Odspavaj tih sat vremena umjesto da slušaš koliko kome kasni, što se sve udaju ove godine i je l’ tebe neće niko?! Reci neću na kavu i nek’ ti se jebe što će neko dići nos u oblake.

Napiši već jednom tu knjigu.
Ostvari to.
I pljuni u lice svima koji su te s podsmijehom gledali zbog tog.
Neostvarivosti su ostvarive.

Kupi sebi kolačić za svaku godinu, poželi lijepe želje, a lijepe želje su one čizme na sniženju i njegove ruke oko vrata.
Ljudi koje volim.
Dah psa dok me moli da ustanem jer će se popiškit’ u sobu ako ga ne pustim vani.

Imam dvadeset sedam i fantastično mi se jebe što mi je ko fol ostalo još tri patetične godine da se uspijem udat, rodit dijete i dići kredit.
Primitivci broje, ja uživam u kolačima.
Ne čekam tridesete.
I ne brojim plodne dane.
Još uvijek ne znam prećutati.
Ni smotati pitu.

Budi dobra, budi sretna, budi svoja.

I daj odseli se već jednom od mame i tate, bokte!

— 

Pariska dama

t r a n s m u n d a n e d

Kisah Inspiratif

Diambil dr catatan Hudzaifah bin Dr.Taufiq Ridho,

DZAIF-

Aku diperjalanan pulang menuju Berlin selepas mengisi pengajian di kota Köthen, kota kecil di Negara bagian Sachsen Anhalt. 2,5 jam perjalanan dari Berlin menggunakan kereta. Aku rutin 2 minggu sekali mengisi pengajian mahasiswa Indonesia di kota itu. banyak mahasiswa Indonesa yang mengambil Studienkolleg atau penyerataan di kota itu. Di Jerman, orang Luar Negri wajib mengikuti Studienkolleg selama satu tahun sebelum kuliah Bachelor.

Biasanya kota Köthen hanyalah tempat transit sebelum melanjutkan kuliah di Kota besar. Dahulu, akupun menyelesaikan Studienkolleg di kota itu. dan sekarang aku diminta untuk rutin mengisi pengajian di kota itu. walaupun lelah dan mengorbankan banyak hal, tapi aku berharap hal ini menjadi sebuah amal kebaikan untukku.

Bukan hanya aku yang dikirim keluar kota, ada beberapa temanku juga di kirim untuk mengisi pengajian atau membina mahasiswa-mahasiswa baru di kota kota lain, seperti Leipzig, zittau, Wismar dan lainnya. Kami Berharap mahasiswa itu dapat berislam secara lebih baik lagi dengan hadirnya kami disana. Karena agak sedikit miris memang keadaan umat Muslim Indonesia sekarang. Baca Quran yang sebenarnya krbutuhan primer, tapi mereka tidak dapat menguasainya. Atau shalat yang sering dilalaikan, adanya kami disana adalah untuk mengingatkan akan kepentingan berislam dengan baik dan benar, Karena kunci menuju ke kehidupan abadi yang menyenangkan adalah keislaman yang sesungguhnya.

Di kereta, aku duduk di sebelah orang mabuk. Pakaiannya rapi, dia tertidur dengan wajah yang merah. Malam sabtu atau minggu memang budaya orang jerman untuk berpesta sampai pagi buta. Kebetulan aku baru selesai mengisi pengajian pukul 22.00, lalu menggunakan kereta pukul 23.00 untuk pulang ke berlin. Sampai di berlin sudah pagi atau dini hari.

Si penumpang mabuk itu terbangun, dia Nampak terkaget. Sepertinya dia bablas. Dia lalu bergegas turun di stasiun pemberhentian berikutnya, di Ostbahnhof. Sejenak kemudian Dia turun, lalu pintu kereta kembali tertutup. Tempat tinggalku masi beberapa stasiun lagi dari Ostbahnhof.

Aku sesekali melihat sekeliling, kosong, tidak ada siapapun. Aku memejamkan mata, mengucapkan syukur kepada Allah. Aku mebuka mata dan melihat ke kursi si penumpang mabuk tadi, “MasyaAllah” gumamku. Si penumpang mabuk menjatuhkan dompetnya. Aku langsung memungutnya dengan niat untuk memberikan ke pihak berwenang. Kulihat isi dompetnya, ada uang 100 euro dan 50 euro, serta kartu ATM dan kartu Kredit lalu juga ada kartu nama. Tertera disitu nama Philip Gander, juga tertera nomer teleponnya.

“Ada nomer teleponnya, hmm, aku serahkan saja besok langsung kepadanya” pikirku dalam hati, aku berniat mengembalikannya langsung. Tidak menyerahkan ke pihak stasiun. Kebetulan, besok aku akan jalan-jalan bersama adikku yang sedang liburan ke Berlin. Adiku kuliah di Hannover, dan sering berkunjung ke berlin, atau sebaliknya, aku yang berkunjung ke Hannover. Aku segera mengirim pesan kepada adikku

“Shofi, sebelum kita jalan-jalan, tolong belikan makanan Indonesia, nasi goreng atau rendang ya, di restoran Nusantara, di bungkus. Danke shof ” pesan ku kirimkan.

-DZAIF-

“Halo, guten Morgen. Sind Sie herr Philip” tanyaku di telepon

“Halo, Morgen. Ja bin ich Philip, Wer?” suara di telepon menjawab.

“Ich bin Mush’ab, ich habe Ihr Portemonnaie gefunden. An der S-bahn” aku menjelaskan bahwa aku telah menemukan dompetnya di S-Bahn atau semacam Kommuterline di Jakarta.

“Ah jaa, pantas saja, aku mencarinya dimana-mana, tapi tidak ketemu. Terimakasih. Kapan aku bisa mengambilnya?” tanyanya dalam bahasa jerman.

“hari ini anda bisa mengambilnya. Bagaimana jika kita bertemu pukul 12.00 di Hauptbahnhof?” tanyaku

“Okke, kein Problem. Hari ini pukul 12.00 di Hauptbahnhof. Terimakasih banyak ya. Sampai jumpa nanti, tschüss”

“Okke. Sampai nanti. Tschüss” hubungan telepon terputus. Segera kutelepon adikku.

“assalamualaykum shofi, kamu dimana? Sudah beli pesanan abang belum?” tanyaku langsung

“waalaykum salam bang. Sudah nih. Lagi menuju ke Hauptbahnhof” jawab adikku

“okke deh, abang 10 menit lagi sampai di Hauptbahnhof. Sampai ketemu InsyaAllah. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

aku membungkus dompet menjadi kado, ku isi dengan minuman jahe seduh dua bungkus dan kacang garuda yang biasa kubeli di toko Indonesia di Berlin. Semoga herr Philip senang menerimanya. Semoga ini bisa menjadi kebaikan untuk dimasa yang akan datang.

-DZAIF-

aku dan adikku telah sampai di Hauptbahnhof. Bangunan super megah yang dimiliki stasiun utama kota berlin ini menyihirku. Bangunan yang sungguh Modern, bertingkat-tingkat hingga kebawah tanah. Arsitektur yang modern dengan dilapisi kaca transparan. Hauptbahnhof berlin memang di bangun baru-baru ini, ketika Jerman menjadi tuan rumah piala dunia 2006. Oleh karena itu, bangunannya berbeda dengan bangunan stasiun lainnya yang lebih klasik.

Teleponku berbunyi, aku langsung mengangkatnya.

“Halo, wo sind Sie?” Tanya suara di seberang telepon.

“Halo, aku di depan Kaisers herr Philip, memakai mantel abu abu, wajahku asia, aku orang Indosesia” jawabku

“Ah oke, aku melihatmu. Aku menuju kesana”

“baik herr Philip” telepon ditutup.

Dari kejauhan terlihat orang Jerman mengenakan mantel hitam, dengan kaca mata dan sepatu pantopel. Sangat rapi dan Elegan. Dia mendatangi kami. Tapi ada yang janggal, mukanya seperti tidak senang saat dia melihat aku bersama adikku. Adikku memang mengenakan Jilbab yang agak lebar, mungkin itu yang membuat dia tidak senang. Di Eropa sedang muncul isu yang tidak enak tentang Islam. Kejadian pembunuhan wartawan yang sering membuat karikatur nabi Muhammad oleh seorang oknum kembali mencoreng nama Islam. Aku sebenarnya tidak menyalahkan aksi itu sepenuhnya, tapi dampak yang orang Islam di Eropa rasakan sangat terasa. Media mainstream yang menjadi konsumsi sehari-hari warga eropa, beramai-ramai memberitakan hal yang buruk tentang Islam. Padahal, Ulama Eropa termasuk di dalamnya, yang paling vocal Prof.DR.Thariq Ramadhan, cucu dari Hasan Al Banna mengutuk hal tersebut. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Kejadian itu telah terjadi. Islamphobia mungkin akan kembali terangkat di Eropa. Aku berlindung kepada Allah dari segala Ujian.

Muka orang jerman itu semakin masam.

“Mana Dompetku?” dia bertanya agak kasar.

“Ah, herr Philip. Silahkan ambil. Ini dompet anda” aku tersenyum dan langsung memberikannya sebuah kado yang berisi dompetnya. Tanpa basa basi, karena keadaan yang memang tidak memungkinkan untuk itu. terlihat sekali kebencian diwajah herr Philip.

“Apa ini?” Herr Philip menggeretak.

“Silahkan di buka herr Philip, didalam kado itu ada dompet anda.” aku kembali tersenyum. Dia segera membuka kado yang kuberikan, dan mukanya agak sedikit lega ketika dia mendapati dompetnya berada didalam. Dia mengecek isi dompetnya berulang kali.

“Apa ini?” dia bertanya tentang Minuman jahe yang kuselipkan.

“Itu minuman Jahe khas Indonesia herr Philip. Di seduh dengan air hangat. Khasiatnya dapat menghangatkan tubuh di musim dingin. Itu hadiah untukmu, dan juga ada kacang garuda, ini sangat nikmat herr Philip. Aku biasa memakannya sebagai cemilan. Dan satu lagi, ini ada makanan khas Indonesia yang barusan kami beli dari restoran Nusantara, restoran khas Indonesia yang berada di Berlin. Namanya Rendang, di suatu Forum Internet, rendang ini adalah salah satu makanan paling enak di Dunia.” Aku tersenyum menjelaskan. Tapi tiba tiba wajah Herr Philipp berubah.

“NEIIIINNN!!!!” dia berteriak nein berulang ulang. Cukup keras.

“Ada apa herr Philip” aku bertanya kaget, bahkan sangat kaget. Herr Philipp seperti orang gila pada saat itu, dia tiba-tiba berteriak.

“Nein. Nein. Aku tidak percaya ini” Herr Philip terus berteriak nein.

“Tolong jelaskan Herr Philip.” Aku dan adikku panik melihat kelakuan Herr Philip yang berubah.

“kalian Muslim, tidak seperti yang diberitakan oleh media. Kalian bukan terrorist, mana mungkin terrorist sebaik ini. Tidak mungkin. Aku tidak percaya ini. Sungguh tidak percaya. Di dalam pikiranku, semua muslim adalah jahat. Adalah biadab! Mereka radikal dan cinta kekerasan. Tapi setelah melihat kalian, tidak mungkin. Aku tidak percaya. Kalian sungguh baik. Aku yang kehilangan dompet, tapi kalian yang memberi hadiah untukku. Unmöglich.” Terlihat mata herr Philip berkaca kaca. Adikku bahkan sampai menitikan air mata. Hatiku pun haru, gerimis akan luapan perasaan. Hal kecil seperti ini dapat erubah persepsi dia sampai 180 drajat.

“Islam tidak seperti itu herr Philip” aku menjelaskan tentang Islam yang damai, islam yang menentramkan.bahwa Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang tanpa kekerasan. Hari itu kami banyak berbincang tentang keislaman. Panjang lebar kami berbincang pada hari itu. adikkupun menjelaskan tentang jilbab dan gunanya untuk wanita. Alasan-alasan yang cukup logis kami terangkan kepadanya. Cukup banyak pertanyaan yang sulit yang diajukan oleh herr Philipp, tapi Alhamdulillah kami dapat menjawabnya dengan baik.

Setelah kejadian itu, aku sering bertemu dengan Herr Philip. Dia adalah seorang Pengacara yang hebat. Aku menjelaskan tentang Islam yang sesungguhnya. Islam yang Indah dan Anggun, lalu mengenalkannya kepada seorang Ustadz di salah satu Mesjid di Berlin, agar dia lebih dapat mendalami Islam. Hingga Akhirnya, Allahu akbar, dengan kuasa Allah, Hidayah telah sampai kepadanya. Allahu Akbar!!!

-DZAIF-

Aku ingin menjadi Diplomat Islam sejati seperti Mush’ab bin Umair, seperti Said Ramadhan, seperti Youssef Nada, seperti Ustadz Mata, dan juga seperti Ayahku. Cita cita ini tersalurkan dari darah Ayahku, aku beruntung di lahirkan dalam Rahim Tarbiyyah Islam. Inilah aku, si Anak Singa. Anak dari Ayahku, anak dari ibuku yang bergelut dijalan terbaik.

*“JALAN PARA DIPLOMAT ISLAM, JALAN PARA PEJUANG!!”*

Kad je žena kurva?

Jednom mi je jedan od mojih muževa rekao, sve su žene kurve, ti se ovih dana samo dobro kontroliraš. Čisto medicinski gledano, kad je žena kurva? 

Žena je kurva kad dobije prvu menstruaciju, dok je ne dobije, ona je samo buduća kurva? Nije istina, žena je kurva i kad viče, ne, ne, ne, dok joj tata uvaljuje velikoga pišonju u petogodišnju pipicu. Kurva je i u četrnaestoj kad iz kuće izađe u minici, tajicama, dekoltiranoj majici… Sama je kriva ako je netko dograbi u parku u pet popodne i siluje.

Žena je kurva kad kćeri od četrnaest godina ne kaže da su sve curice u minici, tajicama i dekoltiranoj majici kurve.

Žena je kurva kad uvečer sama uđe u bar, kad u dva popodne sama uđe u restoran, kad ujutro sama uđe u kafić. Da nije kurva, ne bi ulazila u muške prostore bez pratnje, njeno samo tijelo jasna je poruka, meni treba kurac.

Žena je kurva napaljuša kad odbije muškarca koji sjedne pokraj nje pa joj kaže, ja imam ono što tebi treba.

Žena je kurva kad ne da pičke ocu svoje najbolje prijateljice. Žena je kurva kad je za sise zgrabi djed njene najbolje prijateljice.

Žena je kurva kad ne želi raditi prekovremeno sa šefom u njegovoj kancelariji, ona na stolu, on među njenim nogama.

Žena je kurva kad ostavi muža zbog drugog muškarca. Žena je kurva kad ostavi muža zbog sebe same.

Žena je kurva kad odlazi frizeru jednom tjedno, kad joj je kosa sijeda, kad odbije kuhati svakodnevno, kad ne vozi djecu u vrtić, kad ne ostane na bolovanju zbog dječjih kozica, kad ne želi peglati sama nego za to unajmljuje kurvu.

Kad je bolesna, žena je bolesna kurva, kad je on bolestan, žena je kurva koja kuha prevruć čaj, preslabu kavu, odvratnu juhu, donosi mlako pivo, uvaljuje toplomjer, traži od njega da se okupa iako je bolestan.

Žena je kurva kad joj zbog raka odrežu sisu. Kurvetina je svaka žena bez sise koja traži lovu za silikonsku sisu.

Žena je kurva kad ne da rastavu bez frke, žena je kurva kad želi rastavu, žena je kurva kad dio svoje plaće potroši na torbicu, čizme i kaput iako već ima torbicu, čizme i kaput.

Žena je kurva kad ne nosi smeće, kad odbije brinuti se o njegovim roditeljima, kad pročita u njegovu mobitelu poruku koju mu je poslala kurva. Samo kurve prčkaju po tuđem mobitelu.

Žena je kurva kad poludi jer on diže kredite da bi se mogao kladiti, a ona to zadnja dozna.

Žena je kurva kad telefonom razgovara sa svojom majkom kurvom. Žena je kurva kad telefonom razgovara.

Žena je kurva kad se njemu ne diže. Žena je kurva kad želi biti sama, a ima njega i s njim djecu.

Žena je kurva kad na njegovom pogrebu glasno plače, žena je kurva kad na njegovom pogrebu tiho plače, žena je kurva kad na njegovom pogrebu ne plače, on je umro zato što mu je žena kurva.

Žena je kurva ako joj je mala plaća, samo kurvetine dobro zarađuju. Sve su pjevačice kurve, i glumice, i TV voditeljice, i novinarke, i političarke, i spisateljice. Da nisu kurve, ne bi se za njih znalo. Ako se žena bavi sportom, kurva je kad ne sruši svjetski rekord. Kad žena sruši svjetski rekord, kurva je željna slave i slikanja.

Žena je kurva kad je on ostavi zbog mlađe kurve, žena je kurva kad ostavljena nađe nekog mlađeg, kad nađe nekog starijeg, kad nađe nekog svojih godina, kad nikoga ne nađe.

Žena je kurva ako je liječnica, a htjela bi biti šefica odjela. Žena je kurva kad je novinarka, a htjela bi biti urednica.

Žena je kurva kad rodi žensko dijete koje je tek rođena kurva.

Žena je kurva kad je mama, a više ne želi biti mama. Žena je kurva kad nije mama i ne želi biti mama. Žena je kurva kad je mama pa opet hoće biti mama. Žena je kurva kad je mama a htjela bi otići u kino, kazalište, na kavu. Najveće kurve ne mogu roditi čak ni kurvu.

Žena je kurva ako na televiziji radije gleda film nego nogomet, žena je kurva kad govori dok Hrvatska na terenu gubi, žena je kurva kad se ne veseli, a mi smo dali gol, žena je kurva kad se smije, a mi nismo dali gol.

Žena je kurva kad mu ne kaže da mora popiti antibiotik, žena je kurva kad mu kaže da previše pije, da ona nije kurva, on ne bi pio.

Žena je kurva kad djeca u školi imaju jedinice i neopravdane satove, žena je kurva kad ne ode na roditeljski sastanak na koji ih je pozvala kurva. Žena je kurva ako se za njega ne dotjeruje, žena koja se dotjeruje nafrakana je kurva. Žene se slikaju gole jer su kurve, žene koje se ne slikaju gole ružne su kurve.

Žena je kurva ako pije pelinkovac s limunom i ledom, žena je kurva ako pije vino, pivo, viski, rakiju. Žena koja nikad ne pije alkohol kurva je koja se preserava.

Sve one iza kase u marketima lijene su kurve, tete u vrtiću lijene su kurve, one u bankama lijene su kurve, medicinske sestre lijeno vade krv iz žile, stara majka već mjesecima umire, nikako da umre, živimo u svijetu kojim vladaju lijene kurve.

Žena je kurva ako ne osjeti da je on umoran nakon posla, žena je kurva kad je umorna nakon posla, žena je kurva kad ne da pičke, prava je kurvetina kad je nudi. Žena je kurva kad ju muškarac uhvati za guzicu, u autobusu, vlaku, na poslu, u tramvaju, na plesu. Samo kurve svijetom hodaju noseći guzicu.

Žena je kurva kad je stara. Svaka je žena stara kurva kad navrši tridesetu. Uvijek treba naglasiti, sve su žene kurve.

Autorica ovoga teksta kurva je nad kurvama, samo takvoj kurvi može pasti na pamet pisati o tome kad je žena kurva. U Hrvatskoj barem jedna kurva mjesečno plati životom zato što je kurva.

 Kad žena prestaje biti kurva?
 Kad umre?
Kad žena umre ne prestaje biti kurva.
Ona postaje mrtva kurva.

Vedrana Rudan

Melihat Sisi Lain Islam di Inggris 2

Teeeeet….

Begitu mengkal, gondok, kesal. Ternyata diklakson itu tidak enak. Bahkan walaupun bukan aku tujuan sang penekan tombol klakson, tetap hatiku rasa kesal. Apa pasal?

Ternyata sudah setahun lebih aku tidak mendengar suara itu (klakson). Suara itu menjadi asing. Di tanah Ratu Elizabeth, seperti tidak pernah aku mendengarnya. Kok bisa?

Semua pengendara di Inggris saling pengertian. Semua tahu aturan soal siapa yang duluan. Ada etika yang dijalankan soal giliran berbelok jalan. Bahkan saling mempersilakan. Di bundaran bercabang empat, lima, bahkan enam, semua tahu di lajur mana kendaraan harus diposisikan. Semua sabar menunggu giliran.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Klakson menjadi suatu alat ‘komunikasi’ andalan. Menegur siapa yang kurang cekatan. Bahkan memaki yang melanggar aturan.

Katanya orang Indonesia ramah-ramah. Kok di jalan kayak kesetanan?

Ah, aku ingat! Untuk membuat SIM di Indonesia, sedikit yang mau pakai jalur yang susah. Banyak yang bayar lebih sehingga semua urusan jadi mudah. Patut saja banyak pelanggar aturan. Banyak yang tidak mengerti etika dan adab di perjalanan.

Belum lagi kehidupan yang keras di dunia ketiga. Kredit kendaraan bermotor dipermudah, pajak kendaraan juga murah, bahan bakar minyak disubsidi negara, alhasil semua orang mau dan harus bersempit-sempit di jalan raya. Sampai lupa bahwa setiap warga berhak menuntut pelayanan transportasi publik yang efektif dan memadai.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita dapat dari keteraturan di jalanan Inggris: 1) Aturan dibuat untuk mengatur dan memanusiakan manusia, 2) semua orang punya urusan yang sama penting, maka setiap orang harus tahu etika, 3) bila etika sudah jadi kebiasaan, maka akan timbul sifat itsar (mendahulukan kepentingan orang lain).

Dan tahukah kamu? Itsar adalah sifat yang dimiliki para shahabat Rasulullah SAW radhiallahu'anhum. Mereka muliakan saudara seimannya karena sudah sepatutnya mukmin itu dimuliakan. Mereka memberi dan menyayangi karena mereka sadar bahwa mereka khalifah (perwakilan) Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Hmmm, para muslimin di Tanah Air perlu sedikit belajar pada orang Inggris.

Bismillah,

(boleh di reshare, jangan di copy, kalau mau copy ke grup WA, mohon selalu mencantumkan nama penulis asli. by Fitra Wilis Masril)

Butuh waktu untuk memutuskan, apakah cerita ini layak kupublikasikan..

Mungkin, akan banyak yg menggumam, “ibadah kok di tulis dan disebar luaskan, nggak ikhlas, riya, pahalanya udah menguap, bak embun di sirnakan oleh cahaya”.

Urusan ikhlas, biarlah menjadi ruang antara aku dan hatiku saja.
Soal pahala, cukuplah selamanya itu menjadi hak Allah saja, aku berserah padaNya.

Semata, ingin memotivasi pembaca, agar bersegera
membebaskan diri dari RIBA.

Rumah kami beli dengan KPR, udah lunas. Motor cicilan ke leasing, udah lunas. Tinggal mobil yang masih nyicil. Aku nggak pernah punya kartu kredit, tak tertarik dengan utang KTA. Tak punya asuransi yg akadnya bermuatan ‘bunga’.

Ringkasnya, mobil kami masih RIBA.

Awal 2017. Secara serius aku mulai mendalami ilmu riba.

“segala utang yg dibayar dengan tambahan nominal, itu RIBA” aku masih santai.

“segala cicilan, KPR, leasing, kartu kredit atau apapun, yg dalam akadnya mengandung kata “bunga” itu RIBA”, aku mulai berpikir.

“melibatkan diri ke riba, berarti berperang dengan Allah dan rasulullah,” aku mulai ketakutan. Mendengar kata perang saja, aku sudah mengkerut. Apalagi berperang dengan Allah, Yang Maha Perkasa.

“Semua orang yg memperbanyak hartanya dengan jalan riba, maka ujung dari kehidupannya hanyalah kemiskinan,” aku makin panic membaca hadist sahih ini.

“dosa terkecil dari riba, setara dengan dosa menzinahi orang tua kandung sendiri,” aku mulai menangis.

“kain kafan kita bisa saja saat ini sedang ditenun, atau sudah ada di toko kain, menunggu keluarga kita membelinya untuk kita. Selesaikan segala utang secepat mungkin, apalagi utang riba,” mendengar ini, aku makin menangis.

“aku mulai dari mana?” aku mebathin. Konsultasi ke ustadzah.

Dia memberikan banyak saran baik.

Kuikuti sepenuh hati.

1. Sholat taubat, berniat sungguh sungguh, mobil ini menjadi riba terakhir. Nggak akan terlibat lagi dalam akad berbunga bunga. Sholat taubat mengiringi sholat wajibku.

2. Baca surat Al Mulk setiap hari.

“maha suci allah yang ditanganNya segala kerajaan, Dia maha kuasa atas segala sesuatu” ayat 1.

“yang menciptakan tujuh langit berlapis lapis, tidak akan kamu lihat sesuatu yg tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang maha pengasih..” ayat 3.

Oke. Menciptakan 7 langit berlapis lapis tanpa penyangga saja Tuhan mampu.

Berarti membantuku untuk melunasi 1 mobil saja, bagi Allah hanyalah urusan sejentik kuku.

Aku optimis.

3. Baca surat Al Waqiah setiap hari

“benih yg kamu tanam di tanah, kamu yg menumbuhkan atau Tuhan yang menumbuhkan?’

“kamu yg menurunkan air dari awan, atau Tuhanmu yang menurunkan?’

Oke. Artinya, semuaaaaaa terjadi hanya karena Allah campur tangan. Aku mengasuh rasa optimis.

Satu satunya cara, agar mobilku lunas segera, adalah dengan bekerja lebih keras, menabung lebih banyak dan memohon agar Allah campur tangan disini, kalau Allah nggak bantu, aku takkan pernah mampu.

4. Tunda kesenangan, sebelum mobil lunas, nggak ada jalan jalan ngabisin uang (kecuali jalan jalan sekalian mendampingi anak yatim), kurangi makan ke restoran (kecuali anak anak udah pengen banget). Nggak belanja kecuali yg pokok pokok saja (pernah beberapa beli gamis dan jilbab, itu karena aku berniat hijrah ke gamis sedari awal tahun, jadi gamis dan jilbab kumasukkan ke kebutuhan pokok).

5. Sholat dhuha 6 rakaat. Memohon Allah ridho pada usaha yg kulakukan dalam mengumpulkan rejekiNya untuk melunasi riba. Memohon kalo rejekiku masih jauh, dekatkanlah. Kalau sudah dekat, mudahkanlah. Kalau sudah mudah, berkahilah. Kalau sudah berkah, bujuk hatiku untuk ingat bersedekah.

6. “perbanyak sedekah agar utang ribanya segera lunas,” pesan ustadzahku.

Aku membantah,” aku butuh uang, harus menabung keras, kalau sedekah ya berkurang uangnya”. Ahhh…ilmu yg cetek ini memang membuatku senang berdebat, suka berbantahan.

“allah menyuburkan sedekah, memusnahkan harta riba, simpan kalkulator manusia, biarkan kalkulator Allah saja yg bekerja,”jawab ustadzah. Dan kalimat ini ada dalam alquran, di surat al baqaRAH. Al quran, tak ada kebohongan di dalamnya. Aku percaya dengan segenap jiwa. Kupatuhi sarannya.

Dalam menyalurkan donasi mukena ke mushola2, kusempatkan menyapu dan membersihkan mushola, merapikan tumpukan mukena. “semata mengharap ridhoMu saja duhai Allah,” bathinku.

“sedekah nggak selalu uang, mengalokasikan waktu dan tenaga untuk sebuah kebaikan, itu juga sedekah,”. Sedemikian indahnya ajaran agama.

Sekarang urusan inti. Gimana cara agar uang puluhan juta segera terkumpul.

1. Kutemui pihak leasing secara baik baik. Aku mau pelunasan di percepat. Aku keberatan dgn beban bunga yg melebihi pokok utang. Kami bernegosiasi. Deadlock. Merek nggak mau.
aku minta diberi kesempatan ketemu pimpinannya, logika saja, aku membayar lunas di awal, kenapa masih harus menanggung bunga 4tahun ke depan?

Aku nggak pernah seharipun ada tunggakan.

Pimpinan setuju. Yess. Bayar pokoknya saja.

Berpuluh juta bunga di hapuskan. Alhamdulillah.

Tapi… pokoknya saja pun itu masih puluhan juta. Jadi cicilan yg kami bayar selama ini hanya membayar bunga? Sementara pokok utang hanya berkurang sedikit saja. Ahh terkutuklah engkau riba.

2. Dari tgl 4 januari sampai pelunasan 24 februari, selama 50 hari, aku dan suami jungkir balik, suami bekerja lebih keras, aku menulis lebih banyak, begadang lebih sering, jualan lebih aktif, dll. Dan berdoa dalam volume lebih banyak, dalam frekuensi lebih sering.

Lalu.. keajaiban terjadi.

Secara simultan, pintu rejeki terbuka dari banyak pintu.

“mba fitra, mau ya gabung di grup kami sbg bintang tamu ngajarin nulis, sharing sharing santai saja mba,” tawarnya.

Tanpa kutetapkan tariff, tak repot repot mengumpulkan peserta.

Dia mentransfer 1 juta. Allah penggerak hatinya.

“mba, aku mau beli bukunya 15, kirim langsung ke perpustakaan keliling purawakarta ya, semua berapa?” Tanya seorang sahabat di jogya.

“700ribu mba,”jawabku.

dia mentransfer lebih dari 700ribu. Sebenarnya, Rumah sahabatku nggak jauh dari gramedia, nggak susah baginya menyuruh asisten membeli 15 buku bagus bagus di gramedia, tapi kenapa memilih bukuku yg sederhana? Allah menggerakkan hatinya.

di hari yg sama. kakak ipar di kampung juga mentrasfer uang.

“hasil panen padi di kampung,” katanya. nominal yg tak kami duga. alhamdulillah.

Lain hari.

“mba, adain kelas menulis mba, tulisan mba fitra kan di share puluhan ribu orang,”pinta beberapa orang. Sebagai penggenap kelas akhirnya memang kuumumkan aku ngadain kelas sharing menulis, dan ada biaya.

Masalahnya, tulisan di share puluhan ribu orang itu kan udah lama. Bahkan si plagiat mendapatkan share sampai ratusan ribu orang. Namun, kenapa baru sekarang ingin request kelas menulis? Dan tak sedikit perserta yg membayar lebih dari tariff 85 ribu yg kutetapkan. Allah yg menggerakkan hatinya.

Aku ke depok untuk sebuah urusan, belum makan, saat mau membelokkan mobil ke restoran, ujan deras, repot harus berpayung payung menggendong anak yg ketiduran. Akhirnya langsung pulang, nggak jadi makan. Sampai dirumah driver grab membawa 6 porsi besar bakmi. Traktiran dari seorang sahabat kesayangan. Pas banget saat aku mau membeli makan. Uangku tersimpan, menambah tabungan pelunas riba. Apa namanya kalo bukan karena Allah sayang.

“ini buat bu fitra, ada acara di rumah, tapi bikinnya dikit, buat yg akrab akrab saja,” kata seorang ibu, kubuka kotak yg dia berikan. Sepotong utuh ayam bakar, cukup buat lauk seharian.

“buat yg akran akrab saja” kuulangi dihati kalimatnya. Akrabkah kami? Tidak, aku bahkan nggak tau namanya siapa, aku hanya kenal anak kami mengaji di tempat yg sama. Kok aku terpilih sebagai yg dikasih? Allah menggerakkan hatinya.

Saat aku mau ke warung beli cemilan, ada gojek datang bawa klappertaart, bawa tekwan, roti Mariam, pempek, dll. Apakah semua ini untuk keprluan endorse? Sama sekali tidak. Pempek itu dari dokter di Palembang, pdhl kami hanya saling bertukar jempol di status fesbuk masing masing. Dari ratusan teman fesbuknya di Jakarta, kenapa aku yg terpilih dikirim pempek? Allah yg menggerakkan hatinya.

Uangku tersimpan nggak jadi beli cemilan, tabungan bertambah buat pelunasan.

Saat ujan, jalanan macet, driver nggak mau narik, mobil nganggur, nggak ada pemasukan dari usaha armada online kami. Tetiba, saudara jauh, booking buat acara keluarga. Kenapa merental mobil kami? Allah yg menggerakkan hatinya.

Mau ke JNE booking gojek, tetangga lewat, menawarkan tebengan, bahkan memaksa mengantarkan sampai tujuan.

Padahal kami berbeda arah. Akrabkah kami? Nggak, aku hanya tau kami sekomplek, berbeda RT, aku bahkan nggak tau namanya, hanya kenal dgn pembantunya karena sering menyuapi bayinya di lapangan depan rumah. Allah yg menggerakkan hatinya.

Sudah cukupkah uang kami? Belum.

Aku memutar otak. sebenarnya ada ikut arisan yg terimanya 15juta, ada juga yg 30juta, dan yg lainnya. tapi namaku belum keluar saat kocokan arisan.

Pinjam saudara? Bisaaa

Pinjam kakak ipar? Bisaaa

Pinjam ke sahabat? Bisaaa

Pinjam ke tetangga? Bisaaa

Bahkan, dengan hubungan yg sedemikian harmonis, aku yakin banyak bahu tempatku bersandar.

TAPI…

Lidahku kelu. Mendadak bisu.

Bahkan mengetik satu kalimatpun, aku nggak mampu.

Aku malu.

Berutang itu menggadaikan harga diri.

Aku nggak sanggup.

Nggak mampu.

Kuseret hati hanya untuk bergayut pada Allah saja.

Kusibukkan diri untuk berlama lama bertasbih memuja Allah saja.

Berlama lama hanyut dalam keindahan sabda Allah dalam kitabku saja. Yang tak ada keraguan didalamnya.

Lalu, seorang sahabat mentransfer. “cicil seperti mencicil mobil saja, kan selama ini juga nggak pernah nunggak, yg penting bebas riba, nggak ada sama sekali bunga,”. Semudah itu dia membungkus rasa percaya.

Kakak ipar melakukan hal yg sama.

Sedemikian mudah. Tak harus memelas.

Kami ke leasing.

BPKB mobil atas namaku, kini tergenggam di kepalanku.

LUNAS sudah utang ribaku.

Alhamdulillah, menangis dalam sujud syukur atas kemurah hatianMu, duhai Allahku.

Pulang dari leasing, mampir ke ATM. Mengecek kekayaan yg tersisa. 159 ribu.

Tak apa. Nggak perlu takut.

Aku punya Allah yang kekayaannya seluas langit dan bumi. Yang selalu memeluk hatiku sehingga tak pernah takut kelaparan. Yang telah menjamin rejekiku bahkan sejak aku masih dalam kandungan ibu.

Aku lega. Sebongkah besar dosa riba rasanya menggelinding dari ujung kepala (aamiin allahumma aamiin)

Aku bahagia.

Usai magrib, mengecek HP. Ada yg mentransfer ratusan ribu, seorang sahabat yg tak kukenal wajahnya, seorang peserta kelas menulis.

Beberapa sms banking masuk, membeli buku.

Seseorang memintaku menggarap website usaha cateringnya, aku tak menetapkan harga, karena tau dirii dgn kualitas karya goresanku yg sederhana, tapi hatiku tau dia orang yg bisa dipercaya, dia menghargai sebuah karya. Kenalkah kami sebelumnya? Tidak sama sekali. Aku bahkan nggak ngeh kalau di fesbuk kami berteman.

Seorang teman beberapa waktu lalu memintaku menulis sesuatu agar karyawan kantornya nggak cemberut saat kerja, tulisanku akan dipajang di website kantornya, dan besok pagi akan mentransfer tanda kasihnya.

Melunasi utang riba, tak membuatku bangkrut.

Rejeki datang dari arah yg tak tersangka oleh logika.

Alhamdulilah.

Semudah itu bagi Allah.

Allah, genggamlah hati kami untuk hanya beriman kepadaMu.

Bebaskan aku dari segala riba. Bebaskan juga seluruh saudara, sahabat, teman fesbuk, dan semua orang yg kukenal agar tak lagi bergelimang dalam kubangan dosa riba.

Mantapkan hati kami untuk tak memiliki ragu akan janjimu.

Tak ada sedikitpun kebohongan dalam firmanMu.

sabdaMu hanyalah kebenaran.

Dan Engkau tak pernah ingkar janji,

ENGKAU TAK PERNAH INGKAR JANJI.

ENGKAU TAK PERNAH INGKAR JANJI.

Dan aku adalah bukti.

Terimakasih duhai Ilahi Robbi.

Terimakasih. Terima kasih. terimakasih.

Sahabat, selamat bersegera bebas dari riba. Teriring doa, agar Allah memudahkan segalanya, aamiin allahumma aamiin.

Cap lunas.

Salam bahagia, salam bebas riba,

Fitra

Držite svoju ljubav čvrsto; rukama, nogama, noktima. Jer ona neće prestati, nego će ojačati, baš kad dođu deca. Baš kad sirotinja uđe na vrata. Baš kad bude trebalo vratiti kredit. Baš kada on bude bolestan. Baš kada ne bude mogao spavati s tobom tri puta dnevno.
Jebeš ti platu od hiljadu evra ako ćeš na kraju dana ući u prazan stan s vrećicama najnovije odeće koju nema ko skinuti.
I sve pare ovog sveta, ako ih nemaš s kime podeliti.
Jer, od ljubavi se živi. Od para se preživljava, i sa parama se iživljava..

Cerita Berahi – Nama Aku Ziza

2010-Dec-14 05:28

Nama aku Ziza. Aku belajar dalam jurusan progammer IT software di Kolej. Aku belajar komputer atas kehendak dan desakan mak bapaku. Aku memang tak minat langsung dengan komputer. Nak sejuk dan senangkan hati kedua orang tua aku, akupun belajarlah.

Usiaku 18 tahun. Suka siri TV3 Jalan-jalan cari makan. Tau kenapa? Sebab wajah dan iras aku macam pengacaranya Maria Tunku Sabri. Saling tak tumpah.., tu lah aku. Chubby, tetek dan punggung besar dan rendah. Wajah aku memanglah cun dan comel.

Belajar di semester satu taklah susah sangat, tapi bila di semester dua aku rasa susah. Untuk memudahkan pembelajaran aku membeli sebuah komputer klon. Hari-hari aku menggunakan komputer, aku semakin cekap.

Oleh kerana aku sudah cekap aku pun tidak tahu hendak buat apa lagi tentang komputer aku tu. Asyik-asyik main games sahaja. So rakan-rakan aku mengajar aku tentang internet. Mula-mula tidak seronokpun tapi interesting bila aku layari beberapa laman web yang tidak sepatutnya aku jengah.

Satu hari aku melayari laman web orang Melayu dan aku sungguh terkejut melihat ramai orang Melayu berbogel di internet samada perempuan ataupun lelaki. Sebahagian gambar yang dipamerkan adalah tipu dan sedikit yang benar. Aku dapat tahu sebab kawanku pakar yang boleh membezakan mana satu yang benar dan mana yang tipu.

Aku rasa ada yang tidak kena pada diriku sebab seluar dalam aku kerap basah dan aku tidak tahu kenapa. Aku gusar. Aku naif. Selama ini aku mengalami perasaan stim. Di samping melihat gambar-gambar lucah aku juga melayari laman web sumbercerita.com. Aku mula tertarik membaca kisah-kisah sex khususnya dari Malaysia. Dan aku terpaku kepada kisah-kisah yang ditulis oleh Wirasaujana.

Terbetik di hati aku hendak berkenalan dengan penulis itu. Akupun memajukan email ke alamatnya bertanya kabar, menyatakan maksud ingin berkenalan dan juga apakah kisah-kisah yang ditulisnya itu benar-benar berlaku atau cerekanya sahaja.

Aku ada juga melancap, DIY (Do It Yourself) kata orang sekarang. Kesedapannya tidak dapat digambar dan diucapkan oleh kata-kata. Selepas tu aku buat kali kedua sambil meramas buah dadaku dan mengentel putingku. Aku merasa sungguh geli lagi menyedapkan. Aku puas. Aku menikmati klimaks tetapi apakah sama dengan adanya jantan dalam wanitaku? Persoalan dan ingin tahu ini bermain di benak dan rasa beinaku.

Aku mau berkenalan sebab aku dapati Wirasaujana mampu memuaskan semua kekasih atau sexual partnernya. Begitu juga dengan ramai penulis lain dari Indonesia. Cuma aku tertarik dengan Wirasaujana sebab kepelbagaian kisah-kisah yang ditulisnya. Sure, lelaki ini dah banyak pengalaman yang dikutipnya.

Ingin tahu aku dijawab oleh Wirasaujana yang membalas email aku. Jawabannya ringkas.. Amat bahagia dan gemar sesangat berkenalan dengan aku. Meminta aku menceritakan tentang diriku, pengalaman sex dan fantasia sex. Mengikut Wirasaujana hampir 50% kisah-kisah yang ditulis adalah pengalaman benar beliau sendiri dan bakinya adalah cereka semata-mata.

Pantas aku menjawab kepada Wirasaujana. Aku penuntut IPTS dari keluarga sederhana. Anak ketiga dari lima beradik. Tinggiku 5’1″, chubby dan figku 36 30 38 dan berkulit sawo matang cerah. Pengalaman sex zero dan fantasia sex mahu difuck dan dipuaskan kewanitaanku. Mahu merasai nikmat difuck. Aku menghantar gambarku buat tatapan Wirasaujana.

Aku buat assignment dengan seorang rakanku di rumahku. Semasa Kami berdua-duaan dan aku merasakan ada yang tidak kena. Ketika aku tengah menaip rakan lelakiku ini duduk di belakangku. Aku dapat mendengar bunyi sesuatu di atas katilku seperti orang meronta-ronta. Aku tidak mempedulikkan. Tiba-tiba rakanku berkata..

“Hey Ziza aku nak baliklah. Nanti aku call kau yek”

Akupun bersetuju. Apabila dia sudah balik, aku mendapati ada kesan tompokan sejenis air di atas cadarku. Akupun membaunya, eerkk!! Aku mengerutkan muka dan menutup hidungku. Kurasa macam nak muntah. Rakan jantanku tadi menjadikan aku model untuk dia melancap. Sial betul mamat tuh. Ee!! Boring aku.

“Jack nape kau tak rogol aku semalam?”
“Isshh kau ni. Aku tak rogol kau pasal aku sukakan kau. Baiklah aku melancap dari merosakkan kehormatan kau” Jawab Jack selamba sambil kekeh kecil.

Terharu aku mendengar jawapan Jack yang gentleman. Aku pun memeluknya.. Dia balas pelukanku. Tiba-tiba aku dapat rasakan ada benda yang tegang di dalam seluar Jack. Kenapalah lelaki hanya mementingkan nafsu mereka sahaja tanpa menghiraukan perasaan orang perempuan? Sebab aku melihat Jack masturbasi depanku dan bila stim dia explode lava putihnya tak sampai beberapa minit. Apakah lelaki memang macam tu cepat sangat stim dan terpancut? Berat rasanya orang perempuan kalau dapat suami atau boy friend yang cepat pancut.

Perhubungan aku dengan Wirasaujana berpanjangan. Aku sering berhubung melalui email dengan beliau. Kini aku sudah memberikan nombor telefon aku dan Wirasaujana telahpun membalas SMS aku. Aku tidak kisah tentang status dan usia Wirasaujana. Dari apa yang diceritakannya dia seorang duda veteran. Tapi suara dia macho dan aku telah melihat gambarnya. Wirasaujana membahasakan dirinya Abang N. Boleh tahan juga orangnya. Aku senyum sendirian.

Kami sering ber-SMS dan Abang N akan topup kan prepaid aku bila aku kehabisan kredit telefon.

[Tul ke U nak difuck Ziza?] Aku senyum membaca sepotong SMS dari Abang N.
{Yes.. Abang N nak fuck I ke?}
[U serius ke nie Ziza? Acah-acah tak main tau.] Aku melihat dan membaca jawaban SMS dari Abang N. Sengih dan terkekeh.
{Tak acahlah. Mau sesangat.:) Nak batang Abang N dalam cipap Ziza.}
[Kalau benar-benar mau when can I see U?]
{Anytime Abang N.my pleasure is yours.}

Aku rasa bahagia berkomunikasi dengan Abang N. Ada waktunya terair dan terstim juga aku membaca SMS lucah dari Abang N. Aku tak kurang juga lucah dan seksinya mengoda Abang N. Aku memaut Abang N yang tinggi orangnya.

*****

Mulut aku dan mulut dia bertaut rapat. Kissing hangat sampai menggigil dan gemetar tubuhku. Kapukan Abang N begitu kemas. Pertama kali aku merasai diriku berada dalam pelukan seorang lelaki. Kuhimpitkan buah dadaku ke perutnya.

“Nicee.. Pejal tetek you love..,” puji Abang N sambil memeluk dan showering kisses kat mukaku.

Aku mengerang kecil. Kepejalan buah dadaku menyentuh perutnya. Aku telentang dengan kakiku terjuntai di tepi katil. Abang N telah menyewa sebuah bilik di De Palma Hotel. Agak lama kami berbalas ciuman sambil aku menggesel-geselkan dadaku ke tubuh Abang N. Nafasku kasar.

Sebenarnya aku tak tau apa yang harus aku buat pada masa tu. Maklumlah aku langsung tak ada pengalaman dalam bab ni. Yang aku tahu tentang hubungan sekspun melalui buku dan mendengar kawan-kawan aku borak pasal video porno yang mereka tengok. Setakat dari buku yang mengajar tentang hubungan kelamin tu memang dah banyak aku baca tentangnya.

Malu juga aku bila ditenung begitu oleh Abang N. Perasaan takut dan berdebar-debar bermain dihatiku. Tangan Abang N meraba kaki kiriku sambil mengusap lembut. Akupun menarik kakiku kegelian sambil senyum malu.

Abang N memegang tanganku semula dan mendekatkan mukanya kear-ahku lalu terus mengucup bibirku. Aku bagaikan dalam mimpi mem-biarkan saja Abang N mencium aku. Tangan Abang N mula merayap-rayap ke arah dadaku. Nafasku mula kencang hebat sebab itulah pertamakali aku dicium oleh lelaki.

Lidah Abang N bermain-main dengan lidahku sambil tangannya merayap-rayap di belakang badanku mencari klip braku. Dadaku mula berdebar-debar dan Abang N lantas menjilat pipi dan leherku sambil dihisap dan digigit lembut. Aku menahan geli dan menggeliat seketika.

Seronok sekali aku diperlakukan begitu. Sesekali aku melepaskan nafasku yang sedang berahi. Abang N terus menjilat-kulit bahagian dadaku. Menjilat dan menyonyot puting buah dadaku yang pinkish sedang keras. Aku bagaikan di awang-awangan dengan nikmat yang meangsang segenap saraf tubuhku. Nafsuku kian meningkat apabila Abang N terus memainkan peranannya menjilat hingga sampai ke pusatku.

Tanganku memegang tangan Abang N erat sambil nafasku keras dan kencang. Abang N melurut slackku kebawah sambil mengucup bibirku lagi. Aku merengek dan mengerang. Abang N sudah pun melucutkan seluar dalamku lalu tangannya terus memegang cipapku yang sedang membengkak dan basah itu. Belum sempat aku berbuat apa-apa tangannya sudah mengusap-usap cipapku. Jarinya menggentel clit dan bermain di lurah pussyku.

“Oohh Abang N.. Syoknyaa.. Sedapp..,” rengek dan desahku kegelian yang amat sangat.

Abang N melebarkan kangkangan kedua-dua kakiku lalu menyembamkan mulutnya ke lurah cipapku. Lidahnya mula menujah ke clit aku. Dijilat kemudian kelentitku dinyonyot sambil tangannya meramas-ramas buah dadaku. Waduhh.. Hmm.. Tuhan saja yang tahu betapa nikmatnya aku ketika itu. Aku bagaikan lemas dan khayal diadun dan dibuai kenikmatan bila cipapku dijilat sebegitu buat pertama kali dalam hidupku.

Setiap kali Abang N menggigit manja kelentitku setiap kali itu juga aku menjerit kesedapan. Cadar katil di bilik indah berhawa dingin kurasakan basah lenjun Dik air meleleh keluar dari pukiku. Abang N terus menjilat kelentitku sambil sesekali memasukkan lidahnya ke dalam lubang cipapku yang berair itu.

“Sayang, sedap tak?” tanya Abang N sambil lidahnya bermain lurah dan lubang cipapku.

Aku hanya mampu merengek dan mengerang kuat. Kakiku terkial-kial dan aku merasakan kegelian yang amat sangat.

“Sedapp.. Abang nn.. Kuarr.. E aa.. E aa..” Desahku sambil memaut kepala Abang N yang sedang meratah pukiku.

Punggungku ke depan dan ke belakang sambil memutar cipapku ke muka Abang N. Aku meraba-raba cuba memegang batang Abang N yang masih dibaluti seluarnya. Pantas Abang N membuka baju dan seluarnya. Kini jelas di mataku batang Abang N mencanak keras. Panjang, besar, berurat dan kepala-nya mengembang bagaikan ular tedung. Tubuhku memang sudah sedia gemetar.

Aku memberanikan diri memegang butuh Abang N. Kukocok, kuusap dan kubelai manja. Abang N sengih lalu bertinggung menyilang atas tubuhku. Kini aku benar-benar disuakan dengan butuhnya. Tepat kat hidung dan mulutku. Aku mengenggam batang itu dengan kedua belah tapak tanganku sambil aku cuba-cuba menjilat dengan hujung lidahku ke kepala kote Abang N. Abang N bersiut dan mengeram sambil menjuakkan kepalanya ke belakang.

Abang N meletakkan butuhnya di antara kedua buah dadaku. Dia mula memegang buah dadaku lalu merapatkan ke batang butuhnya. Dalam pada itu Abang N memaju dan memundurkan butuhnya dan dia mengerang bila geselan batangnya menyagat kulit buah dadaku dan hujung kepala kotenya sekejap mencecah ke mulutku. Dan aku menjilat kepala kotenya yang mengembang besar itu.

Tangan Abang N meramas buah dada dan mengentel putingku dengan jarinya. Dia masih maju mundurkan butuhnya di antara buah dadaku. Kemudian Abang N baring telentang menyuruh aku memberikan cipapku ke mulutnya. Kami dalam posisi 69. Aku mampu meme-gang dan mengocok butuh Abang N sambil mengulum kepala kotenya yang berdenyut-denyut dalam mulutku. Sedang Abang N menjilat, menyonyot, menghisap, menyedut lubang pussyku. Aku terjerit-jerit halus bila kelentitku dinyonyot, digigit dan dijentik.

“Abang nn.. Ziza dah tak tahan.. E aa.. E aa.. Sedapnyerr..” jeritku sambil meronta-ronta di atas tubuh Abang N dengan kepalaku ke kiri ke kanan dan ke depan ke belakang. Abang N memaut buah buntutku dan meneruskan memakan dan menghirup jus madu pussyku.

Posisi kami bertukar. Kami dalam kedudukan tradisional. Aku dibawah dan Abang N di atas. Kakiku dikangkang lebar. Abang n mengetel kelentitku dengan ibu jari kirinya sambil dia memegang butuhnya dan menghalakan ke rongga pussyku. Dia menegetuk cipapku dengan kepala kotenya sambil memberi salam. Dia menurih alur pukiku sambil menujah-nujah clitku dengan kepala kotenya membuatkan aku kegelian dan berdesit-desit suara keluar dari mulutku.

“Ziza.. You ready to be fucked?”
“Hmm.. Yes.. Yes.. U wa.. U wa.. Pliz fuck me Abang N..” Rengek dan rayuku dengan sentuhan listrik ke segenap saraf dan tubuhku bila Abang N mengacah-acahkan kepala kotenya menyepuh rongga lubang pukiku.

Abang N meletakkan kepala kotenya yang besar itu ke rongga pussyku. Dia menekan dan kurasakan benda tumpul tertujah ke keliling lubang pukiku.

“Grruuhh..” Bunyi butuh Abang N menerjah halangan di lubang pukiku.
“Aduhh.. U wa.. U wa.. E aa.. E aa.. Adui pelan-pelan Abang N.. So big.. So nice.. So sedapp.. So sakit.. Perit.. Tersiat.. Abang N”, Rengek dan erangku sambil cuba membetulkan kedudukan punggungku dan mula memberi untuk menerima batang Abang N dalam diriku.

Abang N mengucup bibirku sambil meramas buah dadaku. Dia menekan semula. Aku merasa batangnya masuk perlahan dan dinding vaginaku terasa disagat dan kesat. Aku menjerit-jerit sambil mengoyangkan punggungku untuk menerima batang Abang N yang besar terasa sangat sendat melekat di lubang pussyku. Aku mengerang ubuhku menggelinjang. Mukaku berkerut dan mulutku menggumam dan gigiku mengertap.

Sakit pada mula berangsur sedap. Dinding vaginaku mencengkram batang Abang N. Motion maju mundur dilakukan oleh Abang N perlahan dan cepat. Pedih hilang sedap datang. Air pukiku membantu aku menerima butuh Abang N dalam lubang cipapku. Aku menjerit-jerit dengan mukaku berpaling ke kiri dan ke kanan. Nafasku kencang dan aku mencakar-cakar tubuh Abang N. Aku juga mengigit dada Abang N menahan geli dan ngilu ke seluruh tubuhku.

Sedikit demi sedikit Abang N memasukkan batangnya walaupun aku sesekali menjerit sakit namun aku tahan juga demi nafsu aku yang sedang membara. Akhirnya seluruh batang Abang N masuk juga bermukim dalam cipapku yang ketat. Dia terus menyorong batangnya keluar masuk dalam cipapku dengan perlahan dan kuat.

Nafas kami bergelora. Batang Abang N yang panjang terasa amat keras dan sedapnya batang Abang N memasuki cipapku Tuhan saja yang tahu. Makin lama makin deras dan kuat hentakan serta hayunan Abang N ke pukiku. Cipapku basah sehingga belakang tubuhku lenjun oleh air cipapku.

“Abangg.. Oohh sedappnya bangg! O ah.. O ah.. Kuarr bangg..” jeritku mengigit dada Abang N dan mengejangkan tubuhku terasa dalam pukiku berputar air dan berpusar ngilu di dinding vagina dengan batang Abang N menyendatkan lubang. Abang N terus menghentak butuhnya laju dan kuat ke lubang pukiku.
“Sayangg!! Abang cumm.. Urghh!”

Abang N mengucup bibirku dan memelukku erat. Dia membiarkan batangnya berdenyut dan aku merasakan ledakan air matinya ke dinding g spot cipapku.

“Perghh.. Besttnyerr..” Jeritku lagi dan mengoyangkan punggungku mengayak butuh Abang N yang terpacak keras dalam pukiku.

Peluh kami bergermercikan dan membasahi tubuh kami berdua. Dalam hatiku terasa puas kerana baru aku faham tidak semua lelaki yang self centred. Malah ramai yang mahu memuaskan pasangan mereka dahulu dan aku bahagia dengan Abang N yang telah berjaya memuaskan aku dan memberikan kepuasan yang aku mahukan selama ini. Biarpun mahal dengan hilangnya dara aku, namun aku senang memberikannya kepada Abang N sebab dia menjadikan aku wanita sejati

Ženiš se pre tridesete,
jer tako treba.
Normalan si.
Imaš dvoje dece.
Diplomu. Posao.
Račune za struju.
Račune za telefon.
Letovanje od deset dana.
Možda 15.
Escape weekend u Beč.
Plus zdravstveno osiguranje.
Plus životno osiguranje.
Penzijsko osiguranje.
Račune za grejanje.
Žuriš kući iz kancelarije.
Danas je nedelja.
Vodiš ljubav svake druge nedelje.
Sa ugašenim svetlom.
Mirno.
Misionarski.
Nekada i četvrtkom kada ti otkaže psihijatar.
Budi normalan.
Petak je dan kada ti tvoja jednostavna žena kuva boraniju.
Odustao si od sna da gajiš pčele.
I od toga da se često smeješ.
Ideš u teretanu, jer tako treba.
Voziš se u koloni.
Nikada ne pretičeš.
Nešto ne umeš više da voliš.
Želeo bi.Kasnije i to nestaje.
Lažeš da si dobro.
Lažeš da se smeješ.
Lažeš.
Ne smeta ti prašina na omiljenoj ploči.
Na celom gramofonu.
Pušiš krišom.
Psuješ vozače.
Psuješ pešake.
Psuješ bicikliste.
Psuješ komšije.
Psuješ ženu.
Psuješ decu.
Psuješ Boga.
Psuješ život.
Računi, računi, računi.
Imaš previše bora.
Imaš par godina u inostranstvu.
Neka bežanja od sebe stvarnog.
Opiješ se nekadaNikad sam.
Sa društvom.
Jer tako treba.
Pevaš, jer kažu da su takvi ljudi radosni.
U avgustu otplaćuješ kredit.
Imaš 20 godina više.
Čekaš lift.
Jezivo si miran kad se pokvari.
Čekaš u redu.
Čekaš u banci.
Čekaš da ti žena ponovo kaže „volim te“.
Čekaš da je opet zavoliš.
Čekaš leto.
Čekaš da odškoluješ decu.
Čekaš da udaš ćerku.
Čekaš da oženiš sina.
Čekaš da se penzionišeš.
Čekaš sledeću godinu.
Čekaš sledeću godinu.
Čekaš sledeću godinu.
Čekaš sledeću godinu.
Čekaš sledeću godinu.
Čekaš svetla vremena.
Čekaš bolje sutra Da budeš srećan.
Izuj se.
Hodaj bos.
Tada smeš da hodaš i po travi.
Kupaj se dok sviće.
Pričaj o stvarima koje voliš.
Nikada ne obrći palačinke nožem ili rukom, samo bacanjem u vazduh.
Odlepićeš je sa plafona, ne brini.
Nauči da razbijaš jaje jednom rukom.
Igraj se u supermarketu uslužnom kasom, to je blagodet.
Ljuljaj se u tri ujutru.
Naruči 5 kugli sladoleda.
Nasmej se upozorenju ‚‚samo za decu‚“Prođi ispod prskalica u parku!
Stani ispred vrata sa senzorom, pljesni, pa se pravi da su se otvorila na tvoju komandu.
Baci kap, dve vode na vrelu ringlu i zamisli da si čarobnjak koji baca čini (ako nemaš ‚‚senzor vrata“ blizu kuće)
Šetaj pored reke.
Gurni prst u reku, nećeš ostati bez njega.
Vodi ljubav.
Ujutru.
U podne.
U sumrak.
Uveče.
U dva.
U tri ne možeš, tada ideš da se ljuljašku
Vodi ljubav stalno.
Svuda.
I ne sa svakim.
Nikako ne sa svakim.
Ako imaš priliku da vodiš ljubav na nekom krovu zgrade, po slikarskom platnu uvaljan u boje, umočene kose u temperu URADI to.
Ako nemaš tu mogućnost, prvo kupi platno, stvori je.
Slikaj – sa njom.
Ili njim.
Okačite sliku iznad kamina.
Neka vas svi gosti uvek pitaju čija je slika.
Zagonetno se smešite.
Držite se za ruke ispod stola.
Pomazi je po stomaku gde je remek delo vaše slikarske tehnike.
Ljubi.
Grli.
Golicaj.
Pleši.
Praštaj.
Maštaj.
Putuj.
Ne propusti pravljenje figurica od plastelina
– kako kaže divna Dženita iz Tuzle -
bez prijatelja da ga upotpune ovaj spisak i ne vredi mnogo,
još je bolje kada su prijatelji ovako maštoviti
Ne propusti prvi jorgovan.
Ni poslednje lubenice.
I to da se umažeš jogurtom.
Ili da pričuvaš nečijeg mezimca.
Smej se.
Mnogo se smej.
I ne pokrivaj usta rukama,
jer imaš jedan krivi zub, samo neka je zdrav.
Više bole krivi putevi u životu.
Pravi musaku.
Pravi porodični turnir u kartama.
Čitaj ceo vikend.
Pokisni.
Slušaj muziku rizičnih decibela.
Okreči sobu u žuto.
Pevaj, ako tako osećaš.
Plači, ako tako osećaš.Kupi šator.
Najveći u radnji.
I opremu za kampovanje.
Slaži slagalice.
Zovi redovno roditelje, jer tako želiš.
Javi se iako je prekasno.
Posoli ako nije slano
(osim ako imaš visok pritisak, onda samo prazan slanik tresi iznad jela, videćeš da će postati slano samo od sebe)Mmm…
ipak nemoj cipelama na kauč
NE zaboravljaj prijatelje
.Ne zaboravljaj stvari po ‚‚džepovima“,
tu su neke važne sitnice.
Stavi malo više pene u kupku.
Uuu, i pravi balončiće.
Pričaj „po starinski“.
Nemoj baš UVEK kakiti o tome da zapravo,
kada vidimo dve duge postoji samo jedna duga,
a da je druga njena refleksija i da je to obmana našeg oka i uma.
Nekada se samo obmani
( Uh, kako bi mi ovde, umesto samo legla neka psovka, iako ne treba psovati )
Zato ispravka
– Nekada se samo jebeno obmani i uživaj u dve duge!
Pričaj o stvarima koje voliš.
Pričaj o ljudima koje voliš.
Nije teško naći ljude prema kojima nisi ravnodušan.
Nije teško voleti.
Pričaj i o stvarima koje te muče.
Pričaj.
I slušaj.
Budi brižan i
samilostan.
Pomoli se onda kada iskreno osećaš.
Neguj ljubav.
Govori MI, umesto Ja.
NE beži od sebe.
Ne plaši se.
Lep si i nasmejan i namršten.
Pa šta ako znaš samo dva akorda na gitari.
Izgradi u sebi, ne oko sebe.
Zasadi hektar kalemljenih trešanja.
I praske, ako tako želiš.
Donesi joj seme za nanu i origano sa službenog puta.
Čekaj, pa ti nemaš službeni put.
Postao si ono što želiš.
Onda se odvezi biciklom do pijace i kupi.
Budi kreativan,
NIŠTA NIJE GLUPO
ako je namera prava.
Oboji svoj svet.“
Kivételesen nem rinyálós poszt,

hanem pici önfényezés talán, bár nem, nem egészen az, igazából mindenki döntse el magának, mi ez tulajdonképpen. Zárójelben röviden, hogy miért történik ez a poszt. Felvettem két műfordítás szemináriumot, részben kredit, részben kíváncsiság miatt. Nem mondom, hogy olyan remekül megy, de azt hiszem, fejlődök lassacskán. Zárójel bezár. Szóval kellett egy ezer szavas fordítás, angolról magyarra. Eddig oké. Mi választhattuk ki, mit fordítunk, mindenki egyenként. Ez is jó. Úgy gondoltam, majd jó ötlet lesz drámát fordítani, az biztos könnyebb, mint mondjuk egy regény részlet. Na, ez már kevésbé jó, persze akkor ezt nem sejtettem. Meglepően sokat foglalkoztam vele, tényleg. Aztán be kellett adni. Aztán megbeszéltük tegnap órán, bár szerencsére nem jutott idő az egészre, mert másét is tegnap néztük. Igazából rég akartam ennyire meghalni, az a kín, az az érzés, amikor rád figyel mindenki (az a néhány ember) és félsz, hogy kinevetnek és érzed a veszted.. Persze tudtam, hogy erősen nem tökéletes, meg talán picit túl optimista voltam, hogy jó hát azért annyira nem lett rossz, na mindegy. Lényeg a lényeg, hogy háromnegyedet kaptam, aminek azt hiszem, hogy örülök. A tanulság pedig az, hogy nem könnyű drámát fordítani, főleg akkor nem, ha ez az első ilyesmi az embernek, meg főleg ha az Yeats és a Cathleen Ni Houlihan. Ez a poszt most azért van, hogy elvegyek fél percet minden olvasó életéből és hogy itt legyen, mert ritkán érzem azt ilyen meg akarok halni vagy legalább elsüllyedni pillanatok után, hogy végülis a kritika jó dolog és talán segített is valamennyit.

Das schönste Lied dieser Welt

Liebes Tagebuch, heute kann keiner mir was, nein!
Ich gebe nicht auf, bin was ich bin, nie wieder beuge ich mich.
Augen über den Schultern, lache dem Neubeginn entgegen.
Vergeude nicht eine Sekunde, hole mich raus.
Dreh das Radio so was von laut auf.
Sie sollen sehen, wie gerade eben
die Sonne mich küsst und keiner kann auf die Parade regen.
Es ist als würde ein Drei-Meter-Mann marschieren,
Parkett unter mir jubeln und mich danach verlieren.
Ich schwebe nun, lebe nun
über den Dingen und keiner kann was dagegen tun.
Lebe gut, alte Welt schäme dich nicht,
vergiss das alte, gläserne Ich.

Ich bin unzerbrechlich, unverletzlich.
Mach mich unvergesslich.
Bin unermesslich stark und der Vorhang fällt
und der Vorhang fällt und der Vorhang fällt
und der Vorhang fällt.

Weit über den Dächern der Stadt
und Porzellan-Symphonien gescheiterter Liebe,
wird alles wie meine Briefe des Glücks.
Eine Welt ohne Farben und ich will da nie mehr zurück.
Sieh wie verrückt.
Alle beten im Kriege, Prediger lieben,
immer die Flasche neben der Bibel, er trägt die Kredite.
Die Giebel am Dach, Treppe vorm Haus fehlt,
Hauptsache der Zaun steht.
Sieh die vergessenen Kids, eine betrogene Jugend,
Interesse für nichts.
Wieder 6 in Physik. (Scheiß drauf!)
Lässiger Blick, Messer gezückt,
Legende der Clique, Rebelle für nichts.
Es ist alles wider dem Leben hier,
mach’s gut schöne Welt, ich vergebe dir.

Ich bin unzerbrechlich, unverletzlich.
Mach mich unvergesslich.
Bin unermesslich stark und der Vorhang fällt
und der Vorhang fällt und der Vorhang fällt
und der Vorhang fällt.

Zeit zum Vergeben, jeder von uns ist Kunst.
Gezeichnet vom Leben, doch heute bin ich stark.
Stampf auf. Ein Elefant ab dem heutigen Tag.
Nie mehr der mit der Brille, der die Schläge kassiert,
nie mehr der Schüchterne, mit dem keiner redet ab hier, der verlegen agiert,
nie mehr die Dicke der Klasse,
nie mehr die magersüchtige, stumme Mitte der Masse. (Nein!)
Nie mehr der Freak im Club, wegen Musikgeschmack.
Nie wieder ganz alleine, nie mehr wieder nicht lieb gehabt.
Nie von anderen wie befangen, wird gebannt,
scheiß auf den Rollstuhl: Heute wird getanzt!
Die Sonne scheint für mich, denn ich bin, denn ich bin,
denn ich bin…

Ich bin unzerbrechlich, unverletzlich.
Mach mich unvergesslich.
Bin unermesslich stark und der Vorhang fällt
und der Vorhang fällt und der Vorhang fällt
und der Vorhang fällt.