kotake

more gerudo Link au… kotake and koume are twins that were born just before Link was, so they grew up like siblings together, and they’ve always kicked his ass at archery, especially on horseback, so much so they were gifted with gerudo treasures, magical arrows with elemental power, which they will lend to Link on the premise he brings them back undamaged. they also both expect to be his queen.

Favourite Magical Girl pairings

Well, since I’m bored I figured I’d do this.

10. Ichigo X Masaya (Tokyo Mew Mew)

Originally posted by dappio

9. Lucia X Kaito (Mermaid Melody)

Originally posted by ichigo-sundae

8. Doremi X Kotake (Ojamajo Doremi) (Unfortunately, I couldn’t find a gif of them so here a still picture instead)

7. Chibiusa X Helios (Sailor Moon)

Originally posted by galaxiagorgeous

6. Fakir X Ahiru and Rue X Mytho (Princess Tutu)

Originally posted by dashberlins

Originally posted by the-moonlight-witch

5. Utena X Anthy (Revolutionary Girl Utena)

Originally posted by loveandjustice

4. Pudding X Taruto (Tokyo Mew Mew)

3. Haruka X Kanata (Go! Princess Pretty Cure)

Originally posted by gifmourningu

2. Kyoko X Sayaka (Puella Magi Madoka Magica)

1.Haruka/Sailor Uranus X Michiru/Sailor Neptune (Sailor Moon)

flickr

If I could see you again… by Bella Kotak

Sesungguhnya Kita adalah Apel

Kamu tahu, teori Isaac Newton tentang sebuah apel yang terkenal itu?! Tentang daya tarik bumi, sebuah kekuatan bumi untuk menarik sesuatu di atasnya agar tidak melayang-layang di udara? Pernah kamu melihat warna dari gaya yang dimaksud Sir Isaac itu?!

Kira-kira, seperti itulah apa pun yang bernasib menjadi takdirmu. Kamu, punya gaya gravitasi, aku punya apel. Maksudku, kita harus menyederhanakan sesuatu. Apa pun yang diciptakan untukmu, tidak akan menjadi milik yang lain. Jika bumi memiliki gaya gravitasi, kita juga. Masing-masing punya daya tarik yang berbeda.

Mengapa terlalu mempersoalkan kekurangan seseorang, jika ternyata hal itu bisa dilihat sebagai daya tarik oleh seseorang yang lain?! Pola pikir, sudut yang diambil seseorang untuk melihat sesuatu, pengalamannya menghadapi masalah-masalah, membuat setiap orang memiliki daya tarik dan selera ketertarikan yang tidak selalu seragam. Tidak lantas salah ketika ada seseorang memilih sesuatu berdasarkan hal-hal sepele.

Menghakimi, mengatakan sesuatu yang jelek terhadap pilihan orang lain, tidak menghargai keputusan orang lain yang sudah dibuat, kamu seperti kehilangan gaya gravitasimu sendiri: melayang, mencari pijakan untuk sesuatu yang sesuai seleramu.

Jangan khawatir, sayangku. Karena masing-masing kita adalah apel, kita akan jatuh di tempat yang tepat. Ada gaya gravitasi yang akan menarik kita, dan baginya, kita adalah apel yang paling pas untuk dijatuhkan, lalu ditangkap.

Jika ada yg mau mendebat soal tepat atau tidak tepatnya perumpamaan soal gaya gravitasi ini, semoga diurungkan. Karena, hujan gini lebih enak makan indomie telor cengek.

flickr

Twilight in the labyrinth… by Bella Kotak
Via Flickr:

Cerita Aja

Hoaheum.

Hujan loh di sini pagi-pagi. Pengen balik selimutan tapi lapeur. Tahulah, hujan gini bawaannya pengen memamah aja. Memamah biak.. Sapi, say?! Sejenis..

Aku perlu tanya di tempat kamu hujan atau enggak? Kalau dingin sih pasti ya.. Kota kamu kan sana-sini gunung, lembah, sungai mengalir indah ke samudera.. Ya. Jangan lupa aja dipake baju angetnya. Makhluk nokturnal kayak kamu, yang baru masuk rumah di jam-jam menjelang matahari terbit, perlu itu. Kalau baju angetnya semua basah, pake seprei, kreatif dikit biar bisa bertahan hidup. (?)

Setiap orang, pernah atau akan ada di titik terendah hidupnya. Ketika itu terjadi, hatinya pasti berubah jadi kecil. Dia akan menarik diri dari lingkungannya. Dia akan lebih banyak diam, dan semuanya serba terserah. Tapi, saat kamu bisa membuat hatinya tetap besar, sekalipun semua hal rasanya bekerjasama untuk tidak, maka kamu sudah menyelamatkan hidup satu orang. Kamu sudah mengukir nama kamu sendiri di sana, di hatinya, dengan cukup dalam. Makasih ya. (?)

Gak ada lagi yang lain sih. Semoga Allah selalu lindungi ya. Kalau kita gak ketemu lagi, atau aku berhenti nyari-nyari kamu, anggap aja aku gak pernah punya kuota. Anggep aja pulsaku selalu nol rupiah. Jangan mikir yang lain.

Cuma, kalau suatu saat, yang mbuh kapan, kamu pengen cerita, cerita aja, kamu bisa keluar kamar, ke balkon kayak biasanya, liatin tukang jualan lewat sambil cerita aja dalam hati, terus tarik dan buang napasnya, lepaskan. Gak usah khawatir, aku bisa jadi apa aja, termasuk udara.

flickr

Sleeping Beauty by Bella Kotak

flickr

Little bud in Spring… by Bella Kotak

Halo, Hologram!

Halo! Setelah dirasa-rasa, aku memilih menyapamu lewat surat saja. Meski melalui beberapa pilihan kata yang seadanya karena kurang sekali membaca, semoga surat ini bisa berubah jadi suaraku ketika ia kaubaca. Surat ini sampai dibuat sebab ada perasaan yang sulit aku jelaskan. Entah rindu, perasaan kehilangan, atau sekadar penasaran.

Belakangan rasanya kita bagai berada di beda alam. Kamu terasa jauh, dalam arti yang sebenarnya. Biar kutebak, mungkinkah ada berita tentang aku yang baru kamu tahu? Ataukah kamu mulai sadar dari pingsan lalu mendapati aku tidak seistimewa yang kamu pikirkan?! Sehingga, pelan-pelan, kamu berubah seperti hologram yang mulai hilang. Lalu kabarmu, jadi sesuatu yang takmampu aku tebus dengan banyak uang. Aku merasa, perbincangan yang mengalir beberapa waktu lalu jadi hal mahal, ah..padahal semula bisa kita bayar itu dengan uang koinan.

Jika tebakanku benar, kamu sudah melalukan sesuatu yang kelak memudahkanku. Aku tidak lagi perlu mengira-ngira bagaimana penerimaanmu pada keadaanku yang sebenar-benarnya. Untuk yang satu ini, aku harus ucap terima kasih.

Penerimaan terhadap apa pun, memudahkan kamu untuk mengerti. Bagaimana hal itu ternyata membuat kecewa atau biasa saja, jadi sama sekali tidak perlu dipikirkan lagi, melainkan sebagai sesuatu yang membuatmu semakin paham bahwa yang lebih lama dari selamanya adalah tiada. Seperti kamu di dalam cerita ini. Seperti aku dan perasaan ini.


Salam.

Yang rindu dan malu.