kotake

Jatuh cinta, lantas membuatmu bodoh adalah pilihan. Tapi, jodoh, bagaimanapun adalah sebuah keniscayaan yang telah Tuhan janjikan.

Nang, bisakah kita sederhanakan ini menjadi dua mangkuk mie rebus, lalu kita santap di antara hujan sore hari?! Nantinya, meski kau tak berbagi pelukan, aku bisa hangat dengan menyantapnya pelan-pelan.

Atau, kita sederhanakan dengan analogi kertas buram dan pena hitam saja ya? Sepasang yang berjalan sesuai kehendak Tuannya, tetapi melahirkan banyak suka, banyak duka.

Terserah kau saja.

Aku menawarkan kemudahan, karena saat ini, berbicara denganmu adalah salah satu kesulitan yang lumayan.

Kau, di mejamu pastilah adalah selembar kertas dan sebuah pena. Pernahkah terpikir bahwa jodoh adalah seperti mereka?! Sejauh apa pun berpisah, keduanya tetap dipertemukan dalam satu meja. Seramai apa pun isi tas, tak pernah dompet berpasangan dengan kertas, tak pernah pena dipasangkan dengan ikat rambut berwarna nila.

Mereka berbagi peran dengan Tuan yang menggerakkan, ada tangan, baik kiri atau kanan yang memasangkan, keduanya disatukan, entah untuk menuliskan sesuatu yang fatal dan patut dikenang atau coretan pengisi waktu lenggang.

Jika kita sepasang mereka, kurasa kita adalah yang kedua. Kita adalah jeda, sebelum masing-masing menjadi hamba untuk menjalankan tugas yang lebih genting.

Tapi, kau tahu, pada coretan pengisi waktu lenggang itu, kadang-kadang kita menemukan kejujuran, kekonyolan, kebiasan antara yang ingin kau lakukan dan yang harus kau lakukan. Lalu, membacanya ulang adalah sebuah keasyikkan; kemudian kau terkenang-kenang.

Kekasih, jodoh ternyata sesederhana saling membahagiakan. Kita berjodoh untuk dipertemukan, tapi nanti dulu jika berbicara soal dipersatukan.

Lalu, mengertikah kau jika aku berkata bahwa kita adalah sepasang kertas dan pena yang disandingkan di atas meja saat waktu luang?!

Semoga jodoh di gowithepict.

Purwakarta, 28 Maret 2015 03:29

*gambarnya dari anotherteenloser.tumblr.*


This is yours kotak-nasi

http://kotak-nasi.tumblr.com/post/114780097168/jatuh-cinta-lantas-membuatmu-bodoh-adalah

''cafe kompas''

Aku muak dengan orang-orang yang bermuka dua. Aku muak dengan trik mereka di depan atasan. Aku muak dengan atasan yang membeda-bedakan karyawannya, membuka setiap bagian terkotak-kotak, menghancurkan kerjasama antara karyawan. Dan aku bagian dari ini.

Siang itu aku keluar dari kantor tanpa peduli orang-orang di sekitarku, tanpa peduli apa yang mereka pikirkan, tanpa peduli perubahan sikap atasanku, tanpa peduli pekerjaanku yang semakin menumpuk. Kutinggalkan semua dan pergi membawa api amarah yang sudah tak bisa dipadamkan. Berjalan di seputaran cafe, mencari tempat yang membuatku sedikit lebih tenang dan berfikir langkah apa yang harus ku ambil.

Akhirnya kaki ku berhenti di depan sebuah pintu antik aneh. Entah terbuat dari kayu atau kuningan. Sulit dibedakan. Ku pandang papan nama cafe itu ”CAFE KOMPAS”. Ya, nama yang sesuai dengan pintu penyambut tamu ini, pintu berbentuk kompas.

Entah apa yang menyuruh kaki ku melangkah ke cafe aneh yang baru pertama kali ku kunjungi. Cafe yang sunyi. Tidak ada satu pun pelanggan. Hanya aku. Mungkin aku lah orang pertama mengunjungi siang ini. Dekorasi yang unik, wallpaper hutan, meja dan kursi kayu, lampu kompas, lantai pualam dan kaca bulat di sepanjang dinding. Aku memilih duduk tepat di bawah lampu kompas. Seorang pelayan bergaya gipsi menghampiriku, ”selamat datang di cafe kami. Silahkan memilih menu dan jika sudah menemukan pilihan mu, panggil aku kembali hanya dengan memencet tombol di kompas ini”, pelayan tersebut menyerahkan menu dan bel kompas bersamaan. Kemudian meninggalkanku sendiri di sudut ruang.

”menu yang aneh. Ini sejenis makanan atau karakter manusia?”, aku membaca ulang lagi. ”capucino dua wajah, nasi goreng amarah, ice blended kotak-kotak, teh suka iri???”. Ini aneh, mengapa namanya sama seperti karakter orang-orang yang aku benci?. Aku ingin menanyakan lebih detail ke pelayan. Ku ambil kompas bell dan memencet tombol kecil di tengah-tengahnya. Tiba-tiba aura cafe berubah, semua berputar, angin bertiup kecang, ruangan bergetar seperti gempa bumi. Aku berpegangan erat pada meja bundar di depan ku dan memejamkan mata, berharap tak terjadi apa-apa.

Hening…..

semua berhenti. Stabil seperti semula. Aku mulai membuka mata. Kantor??? Ini kantor editor sebuah majalah. Bukannya aku ada di cafe? Mengapa tiba-tiba aku berada disini???. Aku begitu bingung.

”jangan bingung aurel. Ini adalah pesananmu. Bukankah kamu kabur dari kantor karna muak dengan lingkunganmu. Mari, ikut aku berkeliling tempat ini”, seorang wanita menepuk pundak ku. Tunggu, sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi dimana? Aku sungguh lupa. Aku terus berfikir dan mengikuti wanita itu.

”kamu lihat mereka?”, menunjuk ke ruangan kerja para pembuat berita. Aku melihat melihat mereka semua satu per satu. Mereka bekerja sendiri-sendiri, bersaing, berbagai niat. ”apa? Aku bisa mendengar kata hati mereka? Ini aneh, tapi luar biasa”, kata ku pada wanita itu.

”coba perhatikan satu per satu”, wanita itu tersenyum. Aku melihat mereka satu per satu, terutama isi hati mereka.

Wanita berkaca mata : ”enak saja, baru dipindahkan sudah berani menyuruh-nyuruh ku. Lihat, dalam hitungan hari kau pasti ku buat berhenti”

Wanita tinggi berambut pendek : ”ya, aku memang setuju membantu mu. Tapi aku tidak akan menyelesaikan tepat waktu”.

Wanita modis : ”aku akan menjatuhkan mu”

Lelaki maskulin : ”aku akan menutupi jadwal deadline ini dengan tempelan kertas. Jadi tidak ada yang sadar kapan batas terakhir terbit”.

Wanita berambut panjang : ”hanya aku yang berhak di tempat itu, bukan dia”.

”Semua punya misi buruk sendiri-sendiri. Hanya satu yang tulus. Dia wanita bermata sipit itu”, tunjuk ku.
”benar sekali”, kembali tersenyum padaku.

”taukah kau? Dia mengetahui niat buruk teman-temannya. Walaupun semua bermulut manis padanya, dia tetap memperlakukan semua dengan baik. Dia berusaha merangkul teman-temanya dengan pemikirannya. Baginya bekerja adalah bekerja. Bekerja untuk hidup, seakan-akan ia akan mati besok. Bekerja untuk hobi yang bisa membuatnya bahagia. Bukan untuk jabatan atau lainnya”, wanita itu memegang pundak ku dengan lembut.

Aku tertegun menatap lantai kantor editor, ”aku mengerti”.

tiba-tiba semua kembali berputar dan bergoncang hebat. Tetapi aku tidak merasakan ketakutan apapun. Aku sudah berada di depan kantor ku. Dengan kompas bell di tangan yang bertulis ”TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI CAFE KOMPAS”.

Aku tersenyum. Sekarang aku sudah siap bergabung dengan lingkunganku yang keras. Aku tidak lagi memikirkan orang-orang yang dengan niatan buruk padaku. Yang aku ingin lakukan adalah bekerja dengan tulus seakan-akan inilah hidup ku.

29 maret 2015

Apa yang tak hidup terkadang saling menghidupkan. Seperti secangkir kopi pagi yang asapnya menari-nari karena terisi paduan gula, air panas dan bubuk kopi itu sendiri. Seperti ikan asin dengan pedasnya sambal yang menghidupkan nikmat. Seperti stiletto dengan kaki-kaki jenjang yang melangkah dengan indahnya. Semuanya tidak serba kebetulan, karena musabab itu memiliki alasan; berjodoh.

Jodoh adalah sebuah bentuk dari kekurangan yang saling melebihkan. Jika berjodoh, apapun yang kurang akan segera disempurnakan. Dalam berjodoh, siapapun boleh belajar bahwa keindahan surga tak mampu hapuskan kesepian Adam. Maka biarlah aku di sini menerima dia dengan kurang pada apapun, asal dia tidak lepas dari hari dan hatiku. Sebab, tanpa kurangnya, aku merasa tidak hidup. Tanpa tawanya, aku lupa cara tertawa. Tanpa keluh kesahnya aku lupa cara berkasih. Bersama, kami adalah kepingan kesederhanaan yang menyuguhkan kemewahan.

Yakinku akan dialah jodohku tidak hanya dari caranya membuatku tertawa, tapi juga keinginanku untuk ditertawakan olehnya. Aku tidak mahir melucu, tapi dengannya, aku adalah kotak tertawa. Sebab, apapun yang kulakukan adalah cara agar simpul senyum itu melintasi bibirnya. Pun aku tidak keberatan jika berbagi tangis dengannya. Karena dalam berjodoh, air mata yang jatuh adalah tetes-tetes dari gelas kehidupan yang terisi dari kisah kami berdua; mimpi, harapan, cinta, kasih, tawa dan sedih.  Sebegitu dalam perasaan ini. Hingga kelak, saat aku harus melepaskan dunia, aku tak merasa sia-sia karena aku pernah mencintainya tanpa syarat.

Oh Tuhan. Dia adalah penyebab ketidaktahuanku akan alasan mengapa aku mencinta. Dia adalah bagian dari misteri Illahi terbesar yang aku syukuri keberadaannya.

Semoga JODOH di gowithepict
Kudus, 28 Maret 2015 pukul 07:30

This is yours farafriani

http://farafriani.tumblr.com/post/114798393750/apa-yang-tak-hidup-terkadang-saling-menghidupkan