kota surabaya

Pengabdian?

Pada suatu hari, di bawah terik Kota Surabaya, aku dan beberapa teman di Departemen Sosdev berkeliling kota untuk mencari kampung binaan baru. Sebelumnya, kami memiliki kampung binaan di daerah Benowo, tepi Kota Surabaya menuju Kabupaten Gresik yang berjarak puluhan kilometer dari kampus. Di Benowo, mas mbak Sosdev terdahulu sudah melakukan pengajaran kepada anak-anak selama tiga tahun dan membuat biogas untuk pemanfaatan kotoran sapi yang hingga saat ini masih dalam perbaikan. Karena dirasa masyarakat di sana sudah cukup berkembang, pada kepengurusan ini kami mencari kampung baru yang lebih memerlukan bantuan, syukur bila letaknya tak sejauh Benowo. Awalnya tidak ada yang menarik dari perjalanan mencari kampung binaan itu, hingga pada sebuah kampung kami bertemu dengan seorang alumni ITS.

Aku lupa namanya. Beliau masih muda, mungkin sekitar 25-28 tahun usianya. Selama ini, beliau dan seorang temannya melakukan pengajaran di sana. Bahkan mereka mendirikan sebuah tempat belajar untuk anak-anak di sana, dilengkapi dengan satu set komputer dan rak berisi buku pelajaran dan buku cerita. Katanya, teman-teman angkatannya dulu juga turut berpartisipasi dalam menyumbang baik uang maupun barang demi kelancaran rumah belajar yang beliau kelola. Ternyata, si mas itu dulunya pengajar di ITS Mengajar, katanya saat itu namanya apa gitu, aku lupa. Selama menjadi mahasiswa di jurusan Teknik Informatika, beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan sosmas. Rasanya diriku seperti dihujani beribu inspirasi melihat apa yang beliau pertahankan dengan maupun tanpa almamater kampus. Inilah idealisme yang sesungguhnya!

Tak lama kemudian, rekannya datang. Mereka sepantaran, sepertinya mereka sejurusan dan mungkin seangkatan juga. Mas yang satunya datang bersama istri dan anaknya. Kemudian beliau mengantar aku dan teman-teman Sosdev menuju sebuah daerah di bantaran Sungai Jagir, sekitar dua kilo dari rumah belajar yang sekarang mereka kelola. Di bantaran sungai, beberapa ibu-ibu menyambut si mas tadi dengan antusias, mereka akrab sekali. Ah, semakin deras saja inspirasi yang menghujani diri ini. Bahkan setelah berkeluarga, beliau masih sempat meneruskan perjuangan sosialnya. Mengajak istri dan anaknya pula. Seketika aku membayangkan beberapa tahun ke depan, akankah aku masih peduli kepada orang-orang ini? Semoga masih yaAllah. Dan semoga siapapun yang menjadi pendampingku kelak turut mendukung perjuangan ini.

Jika ditanya untuk apa? Susah dijelaskan. Intinya, membantu orang lain adalah kebutuhan bagi kita sendiri. Mutlak seperti itu. What goes around comes around. Mungkin yang kita bantu tidak membalas apapun kepada kita, namun Allah Swt selalu melihat kita. Di saat kita merasa beruntung dengan mendapat sesuatu yang lebih dari apa yang kita lakukan, mungkin doa-doa sederhana dari orang-orang yang kita bantulah yang telah mengetuk pintu langit untuk memudahkan langkah kita. Doa-doa itulah yang tak bisa dibeli, sekaya apapun kita. Apabila saat ini aku hobi mondar-mandir ke kampung binaan, aku harap itu bukan sekedar profesionalitas atas nama almamaterku sekarang. Semoga aku di masa depan tetap mempertahankan idealisme ini.

Dear future me, if you read this, please keep walking on the right track ^^

Aku mau

Aku tidak mengerti mengapa begitu banyak sekat yang menjadi batas antara mataku dan matamu untuk saling mengadu.

Ini bukan tentang jarak, namun tentang begitu banyaknya tebing yang seakan sengaja alam ciptakan agar untuk saling bercerita akan hidup kita masing-masing melalui tatapan bukanlah perkara mudah.

Telah lama kita lalui musim hujan dan kemarau bersama dalam sekat yang berbeda namun tetap dalam 1 perasaan yang sama.

Aku jenuh karena setiap apa yang kutulis adalah tentang betapa aku merindukan kamu. Tentang segalamu yang benar-benar kuingat dengan jelas disetiap saat. Mengingatmu yang dengan wajah lesu namun bahagia menjemputku di sudut kota Surabaya. Mengingat binar matamu saat memandang langit penuh bintang. Mengingat suara teduhmu saat meredam segala penatku.

Aku jenuh karena setiap apa yang kutulis adalah tentang betapa aku merindukan kamu. Namun, bila aku tidak menuliskannya, aku bisa lebih menderita. Karena terlalu banyak kata-kata rindu yang membumbung diotakku. Tak sanggup aku tampung. Kemudian aku bisa saja gila bersama dengan kebisuan.

Jadi, bila untuk bersamamu selalu (agar tidak lagi perlu kutulis banyak kata-kata rindu) aku harus melewati banyak sekat yang membuatku jatuh maupun terluka, aku mau.

© Syarifah Aini (2016)

Kita tidak pernah tahu tentang kapan waktu yang tepat kecuali kita menjalaninya
— 

©Kurniawan Gunadi

Di kota Surabaya, dalam sebuah obrolan sore dengan para teman.

Kesal

Malam ini aku sedang merasa begitu kesal, aku ingin marah, aku ingin memaki, aku ingin menghujat diriku sendiri. Namun jujur saja aku tidak tahu bagaimana cara membuncahkan rasa kesal kepada diri sendiri.

Kota Surabaya malam ini sedang panas, begitu panas hingga darahku serasa mendidih di ubun-ubun. Bintang-bintang tak terlihat indah, bulan apalagi. Aku rasa ini puncak kekesalanku pada diriku yang begitu bodoh, yang begitu pemalas, yang begitu pemarah, dan hal buruk lainnya.

Terlebih aku kesal mengapa aku hanya berdiri diam saat aku bisa saja membelamu, membantumu, dan memperjuangkanmu. Ini tidak adil bagimu, dan aku membiarkannya. Ini membuatmu sakit, dan aku membiarkannya. Kau berjuang begitu gigih untuk membuatku selalu bahagia, namun aku seakan melupakannya.

Sumpah demi apapun aku kesal, begitu kesal hingga bagiku segalanya tidak lagi indah, semuanya terasa begitu hampa dan menjengkelkan. Sumpah demi dirimu, aku begitu merindukanmu yang telah kucampakkan di depan Ayah, dan Ibu hari ini. Namun nyatanya di dalam hatiku engkau masih kupeluk erat, begitu erat hingga serasa sesak untuk bernapas. Aku berpura-pura adanya atau tidak adanya dirimu bukanlah sesuatu yang penting bagiku. Aku berpura-pura bahwa mencintaimu adalah omong kosong. Aku tidak pernah menyangka bahwa rasanya begitu sakit, menjengkelkan, dan membuatku begitu marah.

Yang membuatku marah adalah mengapa aku begitu saja kalah dan melepaskan hal terindah yang pernah kumiliki, kamu. Apa memang hal indah itu hanya bisa aku miliki dalam kenangan? Jika memang begitu, maafkan aku yang berusaha mencampakkanmu sekuat tenaga, namun nyatanya selalu menempatkanmu di dasar hatiku.

“Semoga kau baik-baik saja, sebagaimana aku yang selalu begitu merasa baik-baik saja saat memelukmu dalam hatiku. Sungguh, berbahagialah di sana agar aku tidak merasa menyesal melepasmu. Biarlah kunikmati sendiri kebenaran ini hingga nanti.”

© Syarifah Aini (2016)