korsi

The Way I Loose Her: School At First Sight

Ada beberapa hal buruk yang akan kamu ketahui perihal dirinya. Jauh dari apa yang kamu perkirakan ketika kamu mulai diizinkan masuk ke dalam hatinya.

Dan caramu menerima setiap kekurangannya, adalah caramu berterimakasih.

.

Hari ini gue dateng ditemani oleh 2 orang keluarga gue. Yang pertama-tama adalah ibu gue, dan yang kedua adalah kakak kandung gue sendiri. Alasan kenapa ibu gue masih setia menemani kemanapun gue pergi adalah karena pada saat itu gue masih bisa dibilang sebagai seorang bocah lugu. Jadi yang mengurus segala keperluan pendaftaran, penyerahan ijazah, dan segala macam hal gak penting lainnya itu adalah Ibu.

Sedangkan yang satu lagi adalah kakak gue sendiri. Dan kebetulan, dia ini juga mantan jebolan dari SMA yang bersangkutan. Oleh karena itu, selagi anak-anak alay dengan baju biru lainnya masih duduk manis menemani orang tuanya masing-masing melakukan pendaftaran di pendopo sekolahan, gue dan kakak gue malah jalan-jalan muterin sekolah.

Gila, gimana gak makin petantang-petenteng nih gue. Dari jauh gue liat semua mata anak-anak tertuju kearah gue yang bertingkah selayaknya seorang senior di sini.

Pada jaman pertama gue masuk sekolah dulu, sekolah ini bisa dibilang adalah sekolah yang masih bertema OLD SCHOOL banget. Dari meja kayu yang masih pada penuh dengan coretan tip-x. Ntah itu coretan cinta-cintaan seperti “Buya ♥ Hani”, atau bahkan hingga coret-coretan alat kelamin pria yang digambar dengan seenaknya.

Nah ini nih yang sering ngebuat gue suka heran sendiri. Nggak mungkin banget kalau ada cewek yang suka corat-coret gambar beginian, ini pasti kerjaan cowok. Lha tapi apa kalian mikir? ngapain juga cowok corat-coret gambar “pisang loyo” begini? apa mereka saking cintanya sama benda begituan sampe iseng gambar-gambar beginian ya?

Gue gak habis pikir…
Apa indahnya juga ada gambar Terong Balado di meja sekolahan. Yang ada juga malah jadi nggak akan konsen kalau mau nulis. Bhahahahak dongo abis..

Dan hal itu masih belum seberapa. Pintu kelasnya pun masih seperti pintu-pintu jaman Belanda. Dindingnya masih penuh dengan bekas bercak hitam karena terlalu sering terkena air.

WC sekolah baunya masih seperti bau neraka jahanam. Dan gue gak harus jelasin bentuknya seperti apa kan? Pokoknya 11-12 sama WC yang ada di pom bensin deh.

Sekolah gue ini juga banyak bangsalnya, karena konon katanya sekolah gue ini adalah bekas dari salah satu Rumah Sakit waktu jaman penjajahan Belanda dulu. Oleh karena itu ada beberapa kelas yang jalan di depannya hanya sebatas 3 petak lantai saja.

Rumor bilang sih itu dulu dipakai sebagai kamar mayat.
Cocok deh buat shooting sinetron Mr. Tukul Jalan-Jalan.

.

                                                           ===

.

“Dim, inilah calon sekolah kamu nanti..” Kata kakak gue sembari menunjukkan isi sekolah.

“Astaga, kalau dibandingin SMP gue dulu, ini sekolahan jelek amat. Kena angin topan aja runtuh kayaknya”

“Hahahaha emang begitu. Tapi jangan salah, biarpun jelek-jelek begini, Masa SMA adalah masa yang paling indah. Nggak akan pernah kamu lupakan sampai kapanpun. Bahkan masa SMP dan Kuliah nanti itu ngga akan seberapa jika dibandingkan masa-masa indah jaman SMA”

“Hoo” Gue mendengarkan penjelasaan kakak gue ini dengan kagum.

“Nanti setelah kamu masuk ke sekolah ini, kamu akan makin sering menemukan hal-hal aneh di sekolahan ini. Ntah itu suasananya yang agak serem lah, atau bahkan jeleknya bangunan sekolah ini.

Tapi, seiring dengan kamu mengetahui kekurangan sekolah ini, selama itu pula kamu akan mulai perlahan-lahan mencintainya. Mencintai orang-orangnya, guru-gurunya, OSIS-nya, Ekskul-nya, Staf Koprasinya, Atau bahkan bibi-bibi penjaga kantin. Nah, ayo deh sekarang kita ke kantinnya” ajak kakak gue seraya berjalan menuju kantin.

“Okee!!” jawab gue dengan penuh semangat.

“Kantinnya juga gak begitu bagus sih, yuk kesana..”

“Eh bentar-bentar, terus kalau musholanya di sebelah mana, mba?” Gue bertanya

“Tuh”

.

Kakak gue menunjukkan sebuah tempat dengan alas karpet sajadah berwarna hijau. Dan usut punya usut, Mushola sekolah ini ternyata bersebelahan dengan pendopo tempat ibu gue nongkrong-nongkrong cantik buat melakukan pedaftaran.

Pantas saja gue gak menyadari kalau itu mushola, lha itu sih emang bekas sebuah kelas yang dijadikan sebuah Mushola gara-gara gak ada lagi lahan untuk membuat bangunan baru.

Astaga, sekolah favorite gue kok gini-gini amat yak. Tapi ntah kenapa semakin gue mengenal sekolah ini, semakin yakin gue untuk bisa masuk dan bersekolah di sini.

Dan tanpa gue sadari, tempat ini lah yang nantinya akan menempa gue menjadi seseorang yang berdiri gagah sekarang ini. Sekolah bobrok yang gue hina-hina dulu ini, sekarang menjadi tempat yang akan dengan bangga gue ceritakan kepada anak-anak gue kelak, sebagai tempat di mana ayahnya mengenal cinta, dan sakit hati tiada tara.

Oke. Lupakan.
itu sama sekali gak keren.

.

Sembari mengunyah permen karet yang lagi ngetrend pada jamannya itu, gue berjalan petantang-petenteng menuju kantin. Selama perjalanan, gue berusaha mengingat seluruh tempat yang sudah gue lewati. Karena siapa tau gue bener-bener masuk sini, dan ketika  ospek nanti gue gak akan terlalu kaku.

Dan mendadak, jalan yang gue laluin sama kakak gue ini semakin kecil.. Semakin kecil.. dan semakin kecil..

Buset, jalan menuju kantin sekolah ini ternyata sempit amat. Bisa dibilang jalan menuju kantin sekolah ini mirip sama celana Legging Cewek Hijab Sosialita. Alias sempit dan membentuk.

.

Menurut penjelasan kakak gue, setiap menjelang istirahat dan waktu istirahat selesai, jalan yang gue laluin ini adalah jalan paling macet di sekolahan. Itu sebabnya kakak gue paling males kalau ke kantin, alhasil dia selalu membawa bekal makanan tiap dia bersekolah dulu.

Dan yang bikin gue makin terpana adalah tempat warung-warung jualannya. Di sana benar-benar old school abis. Letak warung-warungnya ada di kiri dan kanan, sedangkan untuk tempat anak-anak nongkrong dan makan, posisinya ada di tengah. Di posisi tengah itu disediakan 8 buah meja panjang beserta korsi-korsinya.

“Kamu kalau mau nongkrong-nongkrong gaul ya di sini tempatnya. Waktu nongkrong paling tepat tuh waktu pas mau bubaran sekolah dan waktu pas mau masuk sekolah. Karena ini adalah gerbang satu-satunya untuk bisa keluar masuk dari sekolahan ini.”

“Loh, bukannya lewat pintu tengah itu bisa?” tanya gue.

“Itu sih khusus guru. Kamu bakal dimarahin kalau lewat sana”

“Terus? gerbang besi yang di ujung sekolah itu?”

“Oh itu, bisa juga lewat situ, tapi jarang dibuka, soalnya itu langsung menuju ke parkiran motor, jadi biasanya banyak anak-anak mabal kalau lewat sana..”

“Luar biasa!! Strategis abis tuh gerbang” Gue semakin berdecak kagum.

“Belon masuk sekolah udah mikir mau mabal aja kamu” ucap kakak gue ketus.

“Hehehe”

.

Dan dari kantin ini, ada satu jalan menuju arah lapang basket. Jadi secara tidak langsung, kantin ini menjadi penghubung antara lapangan basket, dan badan utama sekolahaan.

Karena hari ini hari libur, jadi hanya ada satu warung kantin saja yang sedang terlihat buka siang itu. Menurut penjelasan kakak gue, warung tersebut katanya milik penjaga sekolah, makanya hari libur kaya gini pun itu kantin masih saja tetap buka.

Sebelum melanjutkan aktivitas tour guide keliling sekolah, kakak gue izin sebentar buat jajan dan silahturahmi ke kantin tersebut. Meninggalkan gue sendirian buat liat-liat lapangan basket.

Gue kagum banget sama sekolah ini, dari bentuk bangunan belandanya pun masih terlihat pekat banget. Ditambah di kiri dan kanan banyak pepohonan rindang. Membuat sekolah ini tampak sejuk, sekaligus menakutkan.

Sedang asik-asiknya melihat bangunan sekolah, mendadak gue dikejutkan oleh seseorang anak dengan pakaian Putih Biru membawa beberapa berkas.

.

“Permisi..” Tanya anak itu kearah gue

“Ya?”

“Daftar di sini juga ya?”

“Iya, kamu juga?”

“Iya. Ngomong-ngomong ini berkas harus diserahkan ke mana ya?” tanyanya lagi sembari menunjukkan amplop map berwarna biru.

Loh gak sama ibu/bapak?”

“Engga, saya di sini sama Tante, orang tua ada di bangka semua”

“Hoooo anak Bangka toh”

“Heheh iya, ngomong-ngomong saya harus ke mana ya?” tanyanya lagi.

“Oh masuk aja ke kantin itu, terus ke kiri, nah udah deh tinggal ikutin aja jalannya, ntar pas udah masuk ke sekolahnya, kamu bisa ngeliat ada pendopo yang banyak ibu-ibu ngumpul. Nah disitu..” jawab gue dengan penjelasan mendetail selayaknya gue udah lama bersekolah di sini.

“Oh oke, terimakasih ya”

“yoyoy”

.

Akhirnya tuh anak bergegas menuju pendopo. Gue yang dari tadi emang gak ada kerjaan ini cuma bisa memeperhatikan anak itu dari belakang.

“Buset, rambutnya klimis amat, habis berapa banyak Gel Rambut tuh sampe bisa mengkilat gitu rambutnya. Bhahahak mana keritingnya lucu lagi. Astaga, ada aja mahluk-mahluk aneh yang mau sekolah di sini.” Gue ngomong sendiri di dalam hati.

Seorang anak laki-laki aneh dengan logat khas orang bangka, rambut belah pinggir, sedikit keriting, dan sering memakai Gel Rambut saat itu. Tapi gue cukup kaget waktu gak sengaja melihat kearah Badge sekolahan SMP yang ada di lengan kirinya itu.

Itu adalah salah satu lambang SMP Cluster 1 di kota Bandung. Dulu gue juga pengen daftar ke SMP tersebut, tapi ukuran otak gue saat itu bisa dibilang mirip sama ukuran otak ayam. Beratnya gak lebih dari 2 ons. Jadi intinya gue nggak akan mampu untuk masuk ke sekolah sehebat itu.

“Wow, nih anak pinter juga bisa masuk sekolah begituan.
Emang ya, tampang emang gak bisa menjadi acuan sebuah prestasi.
Lha anak dengan tampang kisut kaya buah kurma begitu eh ternyata SMPnya cluster 1. Hahahaha salut deh.” Gue tertawa puas di dalam hati.

.

Tanpa gue tau dan tanpa gue sadari, gue yang hari itu tengah menghina tampang anak yang baru gue temuin tadi, kelak akan menjadikannya seorang sahabat hingga mati.

Anak laki-laki aneh yang gue temuin itu, kelak menjadi seorang pria yang selalu ada ketika gue butuh, pria yang mengerti gue tanpa harus bertanya terlebih dahulu. Pria yang akan hadir di belakang ketika gue sedang maju, dan ada di depan, ketika gue sedang terjatuh.

Seorang pria, yang akan selalu menemani kemana pun gue pergi..

Dari pertama bertemu..
Hingga hari ini..

.

.

.

                                                          Bersambung

Yalda Night- Shab-e Yalda celebrated on 21 December, has great significance in the Persian culture. It is the eve of the birth of Mithra, the Sun God, who symbolized light, goodness and strength on earth. Shab-e Yalda is a time of joy. Because Shab-e Yalda is the longest and darkest night, it has come to symbolize many things in Persian poetry; separation from a loved one, loneliness and waiting. After Shab-e Yalda a transformation takes place - the waiting is over, light shines and goodness prevails.
On Yalda Night people usually gather around bonfires or set up sandali (korsi), read Hafiz’s poetry, tell stories, play music and do not let the fire extinguish as a symbol of light fighting darkness.
— 
7

Shab-e-Yalda - Persian Winter Solstice Celebration

Korsi - various shades of red to symbolize a crimson dawn - the light of life. Candles, watermelon, pomegranates, dried fruits and nuts, halva, poetry with friends and family. A magical night, after all.