kopi kopi

22.30

Wangi aroma latte, di sudut kedai  kopi yang tidak terlalu ramai di pinggir kota, dan kenangan yang mendingin di ampasnya. 

Merindumu, cara bertahan agar aku tetap mampu menulis. Dalam doa, dalam bayang.

21.7.2017

Seorang perempuan sedang mendaki ke pikiranmu

Seorang perempuan bersusah payah meraih ujung bukit pikiranmu. Tidak ada pijakan. Yang ada hanya pikiran-pikiran kosong tentang masa depan yang tak pernah terbayangkan. Segala serasa seperti mau mati, tapi sang perempuan bersikeras tak mau mengakhiri. Hingga sampailah pada satu kenyataan: lelaki yang selalu ia usahakan untuk mencapai pikirannya, kini telah pergi. Ke pikiran lain lagi.

Kelak, suatu hari aku akan menetertawakan semua luka ini. Luka perihal kamu yang sempat singgah dan menyakiti, luka tentang kita yang tak bisa saling menjaga hati.

Akan kularutkan luka ini dalam kopi hangat di pagi hari. Bersama mentari, bersama fajar yang berseri.

‘Kan ku kubur dalam-dalam bersama kenangan yang tak pantas direnungkan, ku hancurkan sampai hilang semua beban.

Kelak, luka ini akan berlalu, dan aku bisa kembali mencintaimu.

—  Arief Aumar Purwanto