kopi kopi

Kelak, suatu hari aku akan menetertawakan semua luka ini. Luka perihal kamu yang sempat singgah dan menyakiti, luka tentang kita yang tak bisa saling menjaga hati.

Akan kularutkan luka ini dalam kopi hangat di pagi hari. Bersama mentari, bersama fajar yang berseri.

‘Kan ku kubur dalam-dalam bersama kenangan yang tak pantas direnungkan, ku hancurkan sampai hilang semua beban.

Kelak, luka ini akan berlalu, dan aku bisa kembali mencintaimu.

—  Arief Aumar Purwanto
Monolog : Di kedai kopi, dengan Ampas Kenang yang Masih Tergenang.

Pukul 09.00 Malam. Aku memarkirkan sepeda motor ku di sebuah halaman kafe. Kafe ini terlihat sepi. Hanya ada 2 sepeda motor yang parkir di depan. Padahal ini hari minggu, tapi aku malah senang bila tempat yang kudatangi ini sepi, aku bisa leluasa untuk menikmati makanan dan minuman.

Kafe ini terletak di Jalan Pesantren Kota  Cimahi. Sengaja aku jauh-jauh datang dari Bandung ke Cimahi dengan mengendarai motor yang aku pinjam dari kakak kosan karena aku sedang rindu dengan kota itu. Kota yang pernah mendinginkan dan menghangatkan hati ku. Kafe ini tak terlalu besar, namun bangunannya cukup unik. Ada perpaduan Jawa Belanda tempo doeloe. Pintunya terbuat dari kayu jati dan berjejer yang  dibiarkan terbuka. Ada juga foto-foto Bandung (atau Cimahi?) monochorome zaman dulu.   Kursinya juga terbuat dari kayu dan memanjang. Ada 1 orang lelaki yang menempati kursi paling ujung. Ia menikmati minuman dan roti bakar sambil mengetik di notebook. Aku lalu memilih kursi depan Barista, sengaja agar aku bisa bertanya ini itu tentang kopi yang ditawarkan di sini. Sebenarnya aku kurang nyaman menyebutnya kafe, terkesan sangat hedonis. Baiklah, aku menyebutnya kedai kopi saja. Setuju?

“ada yang bisa dibantu Teh? Mau pesan apa?” Tanya Barista dengan dialek sunda yang dipaksakan.

“Boleh lihat menu nya Mas?” Aku lalu diberikan menu. Ada beberapa minuman kopi yang belum pernah aku coba.  Nama menunya ternyata berdasarkan sejarah pembuatan dan asal kopinya. Misalnya kopi yang aku tanyakan ini

“kebanyakan Kopi Robusta ya Mas?”

“iya, Teh…”

“panggil Mbak aja Mas. Saya orang Jawa juga kok. Hehe”

“ooh siap Mbak. Kebanyakan emang kopi robusta. Karena kebanyakan anak zaman sekarang minum kopi bukan buat hobi, tapi gengsi haha”

Aku menngerti. Kopi belakangan ini memang sedang trend di kalangan masyarakat. Namun banyak yang lupa bahwa kopi sebenarnya bukan hanya tentang gaya, namun selera. Tak bisa dipaksa. Jika memang kau tak tahan dengan kopi dan kafein, bersiaplah untuk tidak tidur semalaman. Namun bagi yang sudah terbiasa bahkan pecandu kopi racikan seperti ku, menikmati kopi adalah menikmati seni. Bukan tentang bentuknya yang bisa dibuat berbagai rupa lalu di upload di sosial media. Namun tentang bagaimana kita menikmatinya dan berbagi rasanya dengan teman semeja. Sambil bercerita atau berdebat cantik.

“Mba orang baru di sini?” Mas Barista menuangkan beberapa ons kopi gayo yang aku pesan. Sebenarnya aku tak suka kopi pahit, maka di semua kopi yang aku pesan, harus ditambah cokelat panas atau susu manis pengganti gula.

“Cuma mampir kok, Mas. Saya aslinya dari Bandung”

“waduh, jauh juga ya Mba. Malem-malem ke sini ketemu pacar ya? Hehe”

“hehe… gak juga Mas. Tapi emang lagi kangen sama daerah sini”

“oh… Mba nya orang mana? Tadi katanya orang Jawa? Jawa  ne ndi? Iso boso Jowo toh?”

“haha… sebenarnya Bapak dan Ibu saya yang orang Jawa. Bapak Jawa Timur, Ibu Jogja. Kalau saya, tergantung suami nanti siapa. Hahaha…”

“oalah… iso ae Mba iki. Tapi iso boso Jowo?”

“iso, titik ae. Haha”

Setelah digiling di mesin, lalu kopi diseduh dan ditambahkan cokelat sesuai pesananku.

“iki Mba, kopi ne.”

“matur suwon, Mas”

Aku melihat ke sekeliling. Pria yang tadi kulihat di sudut masih ada di sana, namun kali ini dia berbincang dengan temannya berdua. Aku malas berpindah tempat. Maka kupiutuskan untuk tetap duduk di depan meja Barista.

“kalo duduk di sini ganggu gak, Mas?”

“ya enggak Mba. Malah seneng ada yang nemenin. Haha…”

“iya, saya pengen tanya-tanya tentang kopi nya”

“tanya tentang saya juga boleh kok, Mba. Hehe” Mas Barista berusaha bercanda namun yang aku lihat malah pipinya berubah menjadi merah.

“gak ah, ntar ada yang marah kalo Mas aku tanya-tanya. Haha”

“ya jangan tanya nomer rekening, Mba. Ibuku marah nanti. Kalo Nomer telfon boleh lah”

“hahahah” tawa ku pecah. Renyah seperti kacang goreng yang baru matang.

“Mba sering ke sini?” Mas Barista memberikan 3 potong pangsit telur yang kupesan. Kopi dan gorengan, mungkin memang berjodoh sebelum adam dan Hawa diciptakan. Pikirku, asal.

“nggak sih, Mas. Tahun ini malah baru ini. Tahun lalu Cuma sekali ke taman Pemkot.”

“oohh.. sendirian? Dari Bandung? Ra wedi po?”

“iya, Mas. Sendiri. Kalo takut gak juga sih. Kan ada Mas nya. Ahahah”

“waduh… Mba bisa aja. Gantian aku dibales nih.”

Aku lalu menceritakan alasan aku ke sini. Aku merindukan seseorang yang mengenalkan aku pada kota kecil ini, bahkan sebelum aku mengenal kota Bandung. Walau hanya sebulan aku pernah tinggal di sini, namun bersamanya adalah saat yang paling bahagia sepanjang sejarah hidupku.

Aku pernah  tinggal di daerah yang tak jauh dari Kantor Pemerintah Kota Cimahi. Di tempat ini aku merasakan atmosfer yang berbeda. Berjalan dan menyusuri setiap sudutnya adalah hal yang paling aku sukai. Sepanjang jalan yang kulalui, aku hanya mengenang punggung dan senyummu, dengan jaket kesayangan sekaligus kebanggaanmu. Terkadang aku di depan berjalan lebih dulu, terkadang aku di belakang mengikuti langkahmu. Ada banyak toko yang berjejer dengan harga yang lebih murah daripada di Bandung. Penduduknya yang ramah, makanannya yang enak, dan cuacanya yang menyenangkan. Sebelum aku ke kedai kopi ini, aku lebih dulu mampir di warung mie ayam dan memesan mie ayam bakso. Penjualnya sedikit ingat padaku. Aku hanya tersenyum ketika ia bertanya kenapa aku sudah lama tidak mampir ke warungnya, kubilag aku telah pindah kosan.

Restoran kecil ayam goreng yang beberapa kali kau belikan untukku ketika aku (sengaja) ngambek, tukang martabak, dan swalayan tempat kita berteduh dari hujan dan mencuri beberapa lembar brosur belanjaan untuk alas duduk.  Aku membelinya persis sama dengan yang kau belikan untukku. Satu paket hemat ayam goreng, 1 bungkus martabak telur, 1 mangkok mie ayam bakso. Aku juga membeli jajanan yang kau belikan untukku, beberapa bungkus roti tawar, bahkan obat penghilang nyeri haid ketika aku melewati apotek.

Aku tak peduli pada orang bila tahu aku melakukan semua ini karena ku rindu padamu. Aku hanya ingin mengenang semuanya, walaupun kini kita telah menjalani hidup masing-masing. Aku hanya ingin tetap mencintaimu. Dirimu saja, dengan cinta yang baru.

Cinta tanpa api dan duri. Perasaan yang berusaha aku jaga dan menutup diri dari semua pria. Aku ingin mencintaimu lebih baik lagi. Bukan hanya perasaan ingin memiliki dengan ego yang tinggi. Mencintaimu dan mendoakan yang baik untukmu. Belajar mencintaimu tanpa pernah menganggumu. Jika aku rindu, beribu pesan akan ku tuliskan pada hujan, yang kuharap akan disinggahkan Tuhan di kota mu. Atau mengenang mu dengan kebaikan dan senyuman. Sesekali aku memang akan menangis aku pejamkan mata dan mendoakanmu di sepengala purnama.

Aku ingin mencintaimu dengan hati ku yang baru. Hati yang tak lagi akan mendustai, menyakiti, dan menghianati seseorang yang aku cintai. Hati yang selalu berdetak dengan namamu sebagai detiknya. Mungkin dirimu kini sudah merencanakan hidup dengan perempuan yang kau cintai, atau sudah berbahagia dengan nya. Namun izinkan aku mencintaimu kembali. Sungguh sudah kupasrahkan segala takdir dalam genggamannya. Bersamamu atau tidak, cintaku memang untukmu. Dan untuk yang bersamaku nanti, aku lebihkan rasa hormat dan baktiku padanya.

Tenang saja, aku menjalani hidupku dengan cukup baik sekarang. Aku banyak bertemu orang baik dan berusaha untuk menjadi perempuan yang baik.

Barista yang mendengarkan cerita ku mencari – cari tisu untukku. Padahal aku tak hendak menangis, atau aku berusaha untuk tidak menangis di depan orang.

“jadi sekarang dia di mana Mba?”

“di solo Mas. Hehe… lagi kuliah S2. Doakan semoga kuliah dan karirnya lancar dan berkah ya Mas”

“aamiin Mba. Mba juga semoga… apa ya? Semoga yang baik – baik aja deh. Bingung e aku. Haha”

“aamiin… makasih Mas”

Pukul 01.00 dinihari. Aku menuliskan ini sembari menunggu pesanan kopi ketiga. Aku masih marindukanmu. Semoga Allah selalu menjagamu. 


Diantara hujan. 

Bandung, 2017.

2

March 4, 2017 - My favorite author is Haruki Murakami. I just started Norwegian Wood and it’s so so beautiful. His writing style, even though it’s translated, is so meticulous and magical. It’s like being transported to another world - it’s a surreal feeling, I don’t know how to express it into words. My favorite is Kafka on the Shore!

Do you know how happy I am to find an Indonesian cafe in New York City? It’s really difficult to find good Indonesian food (other than my mom’s) here! This cafe, called Kopi Kopi, is so inspirational to me. I’ve always wanted to open an Indonesian cafe in Manhattan - I actually want to study business to develop it!