konvensi

PERINGATAN HARI ANAK 207

Saya menyukai anak-anak kecil. Selain karna belum diintervensi pihak manapun, anak kecil mampu meredakan ledakan dalam diri saya. Di tahun-tahun silam, ketika saya masih berstatus sebagai anak (h-1 berumur 18 tahun ke bawah) saya tidak tahu bahwa sebagai anak saya memiliki hak-hak yang patut saya terima. Ternyata ada beberapa hak anak yang muncul sebagai hasil Konvensi Anak, seperti hak bermain, mendapatkan pendidikan, mendapat perlindungan, mendapat nama atau identitas, mendapatkan status kebangsaan, hak kesehatan, rekreasi, mendapatkan persamaan, dan hak memilki peran dalam pembangunan.
Dari sekian banyak hak anak yang saya ketahui dan sehabis mengingat-ingat lampau, ada beberapa hak yang buram di tengah realitas kehidupan. Contoh paling sederhana adalah hak anak untuk bermain. Waktu kecil, saya tidak bisa bermain bebas bersama kawan-kawan di sekitar rumah. Entah kenapa. Beberapa kali saya dan abang dimarahi Ibu karena bermain di luar dari area yang sudah disediakan (baca: rumah). Belum lagi jika mengingat hak rekreasi, persamaan, dan berperan dalam pembangunan. Saya seperti tengah jam tangan yang tidak pernah saya beli.
Selamat Hari Anak Nasional 2017!
#terusmenyala #tebarcinta
#selamatharianaknasional #writingproject #kitasumatera

@kitasumatera

Balairung, 29 Maret 2014

Saya dan @alifindra_ datang ke Parpolfest karena ingin melihat seorang tokoh luar biasa: Anies Baswedan.

Saya membawa kamera Canon SX40 dan membidiknya dari jauh. Mengambil sudut pandang terbaik. Pesan yang ingin saya sampaikan: Ada banyak orang berharap wajah Anies Baswedan yang ada di bingkai belakang.

Sekarang sudah dipastikan bahwa Anies Baswedan tidak akan menjadi Presiden untuk Pemilu 2014.

Konvensi Demokrat berakhir dengan kemenangan Dahlan Iskan. Dan pada akhirnya, Demokrat tidak pula mengajukan satu nama pun untuk calon presiden. Tidak pula nama Anies Baswedan.

Bagi saya, Anies Baswedan dengan Gerakan Turun Tangan nya adalah salah satu fenomena politik yang luar biasa. Gerakan ini telah menjaring ribuan orang dari seluruh Indonesia, yang didominasi oleh anak muda, untuk ikut bersuara dalam politik. Ribuan pemuda yang sebelumnya apatis dan hanya sekadar tahu terhadap politik, menjadi lebih vokal dan tersadar untuk mengambil peran dalam menjalankan demokrasi.

Banyak orang mengatakan bahwa Gerakan Turun Tangan telah gagal, karena Anies bukan hanya gagal menjadi calon Presiden. tapi juga gagal memenangkan konvensi. 

Orang yang mengatakan demikian, pasti tak memahami Gerakan Turun Tangan. Dari awal, tujuan utama gerakan ini bukan untuk memenangkan Anies Baswedan.

Turun Tangan adalah gerakan edukasi politik. Gerakan ini ada untuk mengubah peta permainan dan bercita-cita membawa proses demokrasi Indonesia menuju kedewasaan.

Gerakan ini ingin mengajak semua orang untuk memilih pemimpin berdasarkan jejak rekam dan prestasi yang baik, bukan karena segepok uang atau popularitas semata.

Gerakan ini ingin mengajak masyarakat untuk membuka mata, bahwa negeri ini bermasalah bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena orang baik diam dan mendiamkan.

Gerakan ini mengajak semua orang untuk mendorong orang baik membuat perubahan dengan masuk ke dalam pemerintahan, untuk berhenti diam dan ikut turun tangan.

Dan gerakan ini tak pernah berakhir sia-sia.

Lihatlah bagaimana Anies Baswedan menjalankan kampanye yang kreatif dan mencerdaskan. Perhatikan bagaimana beliau menyebarkan virus positif pada ribuan orang yang bergabung menjadi relawan tanpa iming-iming rupiah. Amati bagaimana orang-orang baik bersatu dan ikut berjuang di sampingnya, bergandengan tangan untuk membuat perubahan.

Dan perubahan itu nyata adanya.

Kini, kita memasuki babak baru dalam demokrasi Indonesia. Kita telah dihadapkan pada dua pilihan: Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta.

Pada titik ini, Anies Baswedan sendiri telah menentukan sikap pribadinya. Beliau telah menyatakan sikapnya untuk mendukung pasangan Jokowi-JK.

Saya rasa akan banyak dari relawan Turun Tangan yang menentukan sikap berbeda. Dan hingga saat ini, saya pun berseberangan dengan beliau.

Ada ratusan juta rakyat Indonesia.
Berbeda pendapat itu biasa. Justru itu bagus karena artinya kita punya pilihan, bayangkan sebaliknya dimana kita tidak punya pilihan. Kita jadi tidak mau tahu mana yang baik dan mana yang buruk, karena kita tidak punya pilihan. Tapi sekarang berbeda.
Kita punya pilihan untuk menentukan yang lebih baik bagi bangsa kita.

Karenanya, sikapi perbedaan dengan baik. Jika berbeda, ingat bahwa kita bukan musuh, tapi kita adalah lawan. Musuh akan saling menghabisi. Tapi lawan akan menunjukkan dimana kelemahan kita dan disitu kita jadi berbenah dan saling menguatkan.

“Saya perlu garis bawahi, apapun pilihan kita itu adalah karena kecintaan kita pada Indonesia dan komitmen kita untuk memanjukan bangsa tercinta ini. Dengan begitu pilihan ini tidak boleh menyebabkan permusuhan. Lawan beda dengan musuh. Lawan debat adalah teman berpikir, lawan badminton adalah teman berolah raga. Beda dengan musuh yang akan saling menghabisi, lawan itu akan saling menguatkan.

Berbeda pilihan itu biasa, tidak usah risau apalagi bermusuhan. Jangan kita terlibat untuk saling menghabisi. Mari kita semua turun tangan untuk saling menguatkan, untuk saling mencintai Indonesia dan untuk membuat kita semua bangga bahwa kita jaga kehormatan dalam menjalani proses politik ini”, ujar Anies Baswedan.

Dan pada titik ini, mari kita turun tangan.

Jika harus berbeda, Mari menjadi lawan dan saling menguatkan.

Mari berbeda dan tetap berjabatan tangan.

Mari berjalan beriringan mengawal demokrasi di negeri ini menuju kedewasaan.

Untuk Indonesia yang lebih baik.