konture

watsap ve skypde görüntülü show almak isteyen skypde adresim hatunundibi06 ilk sırada çıkan watsap 0 543 373 67 62 sadece ücretli show alacak olan yazsın 15 dk 30 tl 20 dk 40 tl 30 dk 50 tl ödeme havale ve kontur alıyorum teyit var real için yazmayın 

Jeta eshte shume e shkurter per te shpresuar se vetullat harkuar bukur apo buzet me kontur hijeshuar do te maskojne nje zemer te shemtuar.

watsap ve skypde görüntülü show almak isteyen skypde adresim hatunundibi06 ilk sırada çıkan watsap 0 543 373 67 62 sadece ücretli show alacak olan yazsın 15 dk 30 tl 20 dk 40 tl 30 dk 50 tl ödeme havale ve kontur alıyorum teyit var

Akhirnya, Merbabu yang Pertama

Akhirnya salah satu wish list saya kecoret juga, naik gunung! Sebelumnya paling pol cuma ke Bromo, tapi itu juga gak dihitung ‘gunung’ kan? Dan di hari jumat (18/08) kemarin, akhirnya saya dikasih kesempatan buat naik ke gunung Merbabu bareng dua teman SMA saya. Sebenernya rencana naik gunung ini gak dipersiapkan bener-bener sih, spontan aja gitu rencananya. Kadang kan emang gitu, yang spontan malah justru kejadian daripada yang cuma wacana. Tapi, sepertinya rencana spontan buat naik gunung itu sangatlah gak dianjurkan, apalagi buat pendaki pemula seperti saya kan.

Jadi ceritanya gini, berawal dari liburan SP yang saya pake buat pulang ke Malang awal Agustus kemarin. Niat awalnya emang sekedar pulang aja, gak bawa apapun yang berhubungan sama naik gunung. Sampai akhirnya ada notif di grup wasap SMA yang intinya ngajak ke Jogja buat naik gunung, itung-itung sekalian liburan karena emang lama juga gak pernah main bareng. Juga mumpung teman saya, Herdi, sekarang lagi tinggal di jogja. Jadi ya, saya okein aja. Sekalian ke Museum Sonobudoyo buat nyari bahan penelitian dan setelahnya bisa langsung cus ke Bandung, gitu pertimbangan saya.

Akhirnya saya berangkat hanya berbekal tas ransel (bukan tas gunung), sandal gunung (yang akhirnya terpaksa harus beli dulu, daripada harus pake sneakers), tas kamera, jaket parka + sleeping bag + head lamp (dipinjemin mbak adin), dan semua barang-barang yang harus saya bawa sekalian ke Bandung setelahnya. Sungguh, bukan starter pack anak gunung. Malah mirip anak-anak endorsan kekinian yang mau cari tempat bagus cuma buat foto, kata Bagus, teman SMA saya yang satunya lagi. Pret.

*Starter pack yang salah, kan?

Kamis (17/08) malam saya sama Bagus berangkat dari Malang menuju Jogja. Sesampainya di Jogja sekitar pukul 3.30 pagi, kami langsung cus ke kosnya Herdi. Nah, disini terjadi perubahan tujuan. Tiba-tiba Herdi malah ngajakin ke Merbabu, bukannya Merapi. Merapi tracknya curam tapi sebentar, Merbabu tracknya lebih panjang tapi lebih tinggi daripada Merapi, gitu kata Herdi. Bagus setuju, ya karena emang dia udah sering naik gunung jadinya gak ada masalah mau lebih tinggi atau lebih susah tracknya. Saya sendiri? Ya ikutan setuju lah. Pengalaman cuma sekali naik Gunung Bromo gak cukup buat adu argument sama mereka. Tapi di dalam hati tetep sih, “duh, semoga kuat, semoga iso”.

So, setelah browsing tentang Merbabu serta rute perjalanannya gimana, akhirnya sekitar jam 10 pagi kami bertiga berangkat ke daerah Selo, Boyolali, sebagai titik pertama menuju Merbabu. Perjalanan dari pusat kota Jogja menuju Selo memakan waktu sekitar 3 jam, itu udah kepotong kami berhenti dulu buat Jum’atan. Berbekal tanya sana-sini, akhirnya kami sampe juga di Gancik, buat pendaftaran untuk naik ke Merbabu.

Disini kami bertiga sama masnya dikasih info kalo ternyata ada 2 jalur buat mendaki Merbabu. Yang pertama via Selo, tracknya memutar dan memakan waktu sekitar 4-5 jam. Yang kedua, via Gancik, tracknya lebih cepat 2 jam daripada Selo tapi lebih terjal sedikit dan lebih landai. Rutenya, basecamp-Pos 1-Pos 2-Pos 3-Sabana 1-Sabana 2-Puncak Merbabu. Karena kami sampenya udah siang dan juga harus menghemat waktu, akhirnya kami pilih jalur Gancik. Semua motor bisa di parkir di basecamp terakhir, biayanya Rp. 5000. Di Gancik juga ada mas-mas ojek yang bisa nganterin kita sampai batas cor-coran/tanah plesteran (apa se bahasa Indonesianya?), biayanya Rp. 10.000. Atau bisa juga sampe di bawah pos 1, biayanya sekitar 30-40rb tergantung keahlian kita nawar aja. Track awal buat naik ke pos 1 emang beneran berat sih menurut saya. Tanah cor-coran yang harus dilewati itu kemiringannya ada kali sekitar 600 dan emang curam banget. Herdi aja sampe menyerah dan akhirnya ngojek sampe bawah pos 1. Sedangkan saya sama Bagus memutuskan untuk jalan kaki dari awal. Masak gini aja ngojek, pikir kami berdua.

Kenyataanya, saya lebih banyak minta waktu buat istirahat daripada Bagus. Maklum, pemula. :P

Setelah ketemu sama Herdi di Pos 1, kami bertiga akhirnya melanjutkan perjalanan sampe Pos 3. Butuh waktu sekitar 3,5 jam hingga akhirnya kami bertiga sampe di Pos 3. Itu udah ditambah tragedi kakinya Herdi yang kram kiri-kanan, yang akhirnya memutuskan kami untuk mendirikan tenda di Pos 3. Karena kakinya si Herdi lagi gak tenang butuh istirahat, dia memutuskan untuk di tenda aja dan gak ikut naik ke puncak. Soalnya track sabana 1-sabana 2-Puncak emang terjal dan menanjak sih. Bisa butuh waktu sampe puncak 2 hari kalo Herdi ikut, kan. :P

*ekspresi nahan kram. Sakit banget kayak e ya.

*Tolong menolong adalah koentji.

Saya sendiri, Cuma bisa sampe sabana 2 aja, gak kuat lagi buat naik ke puncak buat ngejar sunrise. Maklum, pemula (alesanmu, mid!). Jadi ya saya biarkan Bagus dengan hasrat petualangnya buat  lanjut ke puncak, saya titip absen aja sama dia. Ohya, di perjalanan ke sabana 2, saya ketemu 2 orang dari Surabaya yang juga lagi summit ke puncak, Pak Anang dan Pak satunya-yang-gak-sempet-saya­-tanyakan-namanya. Bagus lanjut summit ke puncak bareng Pak satunya-yang-gak-sempet-saya­-tanyakan-namanya, sedangkan saya sama Pak Anang (55th) berhenti di sabana 2 dan memutuskan untuk duluan balik ke Pos 3.

Yah, walaupun saya gak bisa dapet sunrise di puncak Merbabu, karena kebetulan pagi itu agak mendung, saya masih bisa menikmati keindahan gunung Merbabu. Jadi ini, yang bikin orang-orang ketagihan naik gunung. Ya emang pemandangan dari ketinggian itu waksi banget sih. Apalagi kontur tanah serta perbukitannya, perpaduan antara puncak-puncak gunun dan awan, serta kabut yang perlahan-perlahan masuk itu emang waksi pol! Meskipun saya dapet jekpot ngglundung 2x waktu perjalanan turun ke pos 3, itu gak mengurangi kebahagiaan saya. Alhamdulillah akhirnya saya bisa merasakan momen seperti ini.

*Konco SMA, @bagus_akbarr & @herditami

*savanna Pos 3

*Pos 3 dengan view gunung Merapi

*mencari semak-semak buat beraksi


Rutam nuwus, Merbabu, belum 3142 Mdpl. Sampai jumpa lagi. Gak tau juga kapan saya akan melunasi PR mu untuk sampai puncak. 

Bukan tentang seberapa jauh dan seberapa berat medan yang ditempuh.
Tapi tentang seberapa kuat tekadmu untuk melalui itu semua.
Itu yang lebih penting. – dimazfakhr

 

Jogjakarta, 210817
@dimazfakhr​ 

Na Waszą prośbę dodaje kolejne zdjęcie z kiedyś i dziś. 

Na pierwszym (sprzed 6 miesięcy) narysowałam wtedy mój ‘’wymarzony kontur’’ (wiem, to głupie) i myślę, że się na sobie nie zawiodłam, choć wiadomo, trochę kryteria mi się zmieniły przez te pół roku i chcę być jeszcze lepszą wersją siebie. 

(wybaczcie słabe zdjęcie)

watsap ve skypde görüntülü show almak isteyen skypde adresim hatunundibi06 ilk sırada çıkan watsap 0 543 373 67 62 sadece ücretli show alacak olan yazsın 15 dk 30 tl 20 dk 40 tl 30 dk 50 tl ödeme havale ve kontur alıyorum teyit var

Unknown, unlabeled, untitled - rozdział 17

Tytuł: Unknown, unlabeled, untitled

Pairing: Larry Stylinson

Opis: „Okryty złą sławą członek boy bandu opuścił klub z nieznajomym.” Louis przeczytał nagłówek. Pod spodem było zdjęcie chłopaka z ciemnymi loczkami, zielonymi oczami i bardzo ciasnymi spodniami. Oboje przez chwilę uważnie studiowali artykuł, przelotnie go czytając.
- Czy to…? – Louis zmarszczył brwi. Ten koleś wyglądał prawie dokładnie jak…
Niall przechylił głowę na bok.
- Jak do…?
- Czy on nie wygląda jak…? – powiedział Louis.
- Te włosy… - przytaknął mu Niall.
- Usta… - dodał Louis. Dokładnie znał te usta.
Byli cicho przez chwilę, a potem…
- CHOLERA JASNA! – wykrzyknęli jednocześnie.
- Louis…?
- Tak? – szepnął bez tchu.
- Właśnie pieprzyłeś się z najbardziej pożądanym facetem na tej ziemi. Pieprzyłeś się z Harry’m Styles’em z One Direction.

Od tłumaczki: Rozdział siedemnasty przed wami! Dziwnie wyszło, że ten rozdział wypadł akurat w piątek 13-stego, ale może jak przeczytacie to zrozumiecie xd Komentarze jak zawsze mile widziane :D No i… enjoy!

Keep reading

Prompt 4. | Your lips hang heavy underneath me

Anonim:

Louis17 harry29. Harry jest tatusiem Louisa i pieprzy go przebranego za księżniczkę:) wiem ze podołasz! Xx

No cóż, co tu dużo mówić. Krótki smucik! Mam nadzieję, że będziecie zadowoleni! x dziękuję za podesłaną propozycję x

Inspiracja: Halsey - Is there somewhere

Gatunek: Smut

______

Parkuje samochodem pod swoją wielką willą. Jest lekko zmęczony papierkową robotą, którą zgotowała mu dzisiaj jego firma.
Harry wysiada z ferrari, wygładzając pomiętą marynarkę. Rzuca jeszcze okiem na basen i ogród, który miał zostać dzisiaj wypielęgnowany przez najlepszych specjalistów. Mierzy badawczym wzrokiem całość i stwierdza zadowolony, że wszystko gra.
Harry Styles był udziałowcem w największej korporacji zajmującej się high-tech i nie ukrywał tego, że ma pieniądze. Dorobił się sukcesu poprzez swój bystry umysł i może lekką pomoc ojca. To nieważne. Wzdycha cicho, gdy ściąga okulary słoneczne i otwiera drzwi wejściowe.
Widzi w korytarzu porozstawiane papierowe torby z różnych sklepów odzieżowych i obuwniczych. Przewraca oczami. Tylko jedna osoba mogła kupować aż tyle.

Keep reading

Oh Christmas lights, keep shining on {one shot}

Przeczytaj na AO3 

~

            Mikołaj zawsze ostrzegał elfy, żeby się nie wychylały poza sanie. Pojazd pędził przez świat z zawrotną prędkością, więc nie trudno było o wypadek. I tak nikt nie miał ochoty tego robić – wiatr we włosach zrywający czapeczki z głów i wywołujący łzy w oczach nie zachęcał to podziwiania widoków.

            Oczywiście, Louis był tym, który jako jedyny się do tego nie zastosował.

Keep reading

Things Have Gotten Closer To The Sun - Część XII

Tytuł i link do oryginału: Things Have Gotten Closer To The Sun

Autor: Dominique 

Zgoda: jest i to bardzo entuzjastyczna!

Pairing: Harry Styles/Louis Tomlinson, Zayn Malik/Liam Payne

Rating: NC-17

Ostrzeżenia: potężny angst, przekleństwa, seks

Opis: Podejmowanie decyzji o zmierzeniu się z przeszłością jest dziwne - to prawie tak, jakby kierował się prosto w stronę słońca, jakby krzyczał „chodź i mnie spal, zasługuję na to”.

Po ogłoszeniu, że za dwanaście dni w wyniku rozbłysku słonecznego nastanie koniec świata, Harry ponownie spotyka się z ludźmi, których znał kiedyś lepiej, niż własną kieszeń.

~ Za wykonanie tego prześlicznego bannera dziękuję wspaniałej i utalentowanej huharreh ♥

***

Część 12/12

Niebo jest ciemne, kiedy ludzie zaczynają się schodzić.

Powoli sączą się do środka domu, wypełniając nagle kuchnię, salon oraz foyer, ściśnięci razem jak ryby w zbyt małej sadzawce. Harry nie widzi nikogo znajomego i myśli, że wiele osób zwietrzyło imprezę i zwyczajnie postanowiło się pokazać - bo świat się kończy i nie ma nic innego do roboty.

Keep reading

Harga BBM Naik, Hanya Soal Mindset

BBM sudah menjadi kebutuhan primer mayoritas orang Indonesia. Walaupun tidak setiap orang mengendarai kendaraan bermotor, kita bisa lihat sendiri dalam satu rumah beranggotakan 4 orang, bisa ada 1-4 kendaraan bermotor, baik mobil atau sepeda motor. Kemudahan memiliki kendaraan bermotor dengan menyicil membuat kepemilikan sebuah kendaraan menjadi seperti membeli mainan yang agak mahal.

Saya berasumsi bahwa yang memiliki mobil adalah orang yang sudah siap secara finansial dengan segala pengeluaran dan kemungkinannya seperti servis reguler, risiko lecet/kecelakaan, dan tentu saja BBM. Mereka adalah yang akan kena dampak nominal yang paling besar. Tapi saya berasumsi mereka sudah siap dengan “kerentanan” yang mereka beli. Oleh karena itu, akan lebih asyik jika yang dibincangkan adalah pengeluaran BBM untuk sepeda motor. Terlebih hitung-hitungan ini sangat dekat nominalnya dengan belanja harian dan mingguan mahasiswa dan buruh.

Besar pengeluaran BBM sepeda motor bisa bervariasi dari kegunaannya. Ada yang cuma buat muteri-muterin kampus dan bolak balik kampus-kos, ada yang harus melintasi jalan-jalan yang macet dari kontrakan terjangkau buat satu anak dan satu istri di pinggir kota menuju kantor, ada yang dipakai buat mencari setoran berita atau delivery. Kontur tanah dan kepadatan traffic juga mempengaruhi besarnya pemakaian BBM. Jalan yang menanjak dan yang datar-datar saja tentu beda. Jika macet sehingga terpaksa gas-gas pendek dan jika kita bisa melaju kecepatannya stabil tentu beda. Jadi, kita coba ambil rata-ratanya. Asumsi motor bebek, dua kali mengisi dalam seminggu full tank (3 liter bensin). Total kebutuhan hanya 6 liter per meinggu.

Harga lama: 3 x 2 x 6500 = 39000

Harga baru: 3 x 2 x 8500 = 51000

Selisih: 51000 - 39000 = 12000

Banyak yang mengeluh BBM naik tanpa merefleksi bagaimana mengakali kenaikan ini. Saya tidak sebal dengan keluhan tersebut, wajar toh. Harga roti sobek Sari Roki naik 1500-2500, saya gondok. Menarik duit di ATM lain kena charge 5000 saya kurang iklas. Sekarang, mari kita lihat beberapa kenyataan yang sering kita lupakan. 

Pertama, mari kita jalan-jalan ke Indomater/Alfamatr,

Pernah membandingkan harga sebuah Magnyum dengan seliter bensin? Magnum sekarang ~13000. Bisa dapat 1,5 liter bensin (harga baru)

Pernah membandingkan harga sebatang rokok dengan seliter bensin? Jangan sebatang deh, 4 batang (dua batang siang, dua batang malam). Sekarang rokok eceran 1000-1500. Anggap saja pakai harga tengah, 1250. 4 x 1250 = 6000 = 0,7 liter bensin.

Sekotak atau sebotol kopi/teh kemasan harganya mulai dari 5000-8000. Kalau sehari beli dua ya bisa dapat dua liter.

Apalagi? Cemilan semacam Chitato? Silakan hitung sendiri.

Kedua, yuk ke toko buku dan news stand.

Koran sekarang 3000-5000 per eksamplar. Setengah liter bensin. Buku… 40000-79000 = 8 liter bensin. Koran dan buku tidak habis dimakan toh, jadi bisa minjem :)

Lanjut ke kantin kampus… dimana kita beli gorengan, Bengebeng, minuman dingin, dan sebagainya yang terkadang refleks tanpa pikir panjang/hitung-hitungan. Belum lagi kita suka tidak peduli selisih harga makanan di kantin sama di foodcourt mall/fastfood. Selisihnya bisa satu-tiga liter bensin sekali makan. Segelas cappucino di kafe berwifi bisa 3 sampai 8 kali lipat dari harganya dibandingkan jika bikin sendiri.

Well, saya bukan ingin mengajari teman-teman matematika. Tapi mengingatkan, gaya hidup kita yang digerogoti oleh yang namanya jajan dan “social cost” membuat kita lupa bahwa kita bisa jauh lebih hemat. Seringnya kita tidak arif menilai pengeluaran-pengeluaran kecil ini. Terus kenapa kita memberikan perlakuan berbeda untuk BBM?

Oh ya, social cost maksudnya bayaran lebih untuk tempat yang cozy, ber-wifi, yang asyik buat kongkow, dan tentu saja yang instan (dibikin mbak-mbak kafe, tidak repot bikin sendiri).

Kita tidak bisa mengubah kebijakan (ini sesegera mungkin). Yang bisa kita ubah adalah sikap, attitude, kita soal pengeluaran. Kita sering jengkel ketika harga particular item naik, tanpa memikirkan betapa kecilnya kenaikan itu dibandingkan jumlah pengeluargan kita per harinya atau dalam seminggu itu, dan tanpa menyadari betapa mudahnya kita mengakali selisih itu asal mau lebih cakap hitung-hitungan sama duit.

Dan yang lebih penting adalah bagaimana kita melihat penggunaan kendaraan itu sendiri. Sudahkah kita efisien dalam menggunakannya? Satu mobil bisa muat 4-7 orang, misalnya. Sepeda motor didesain buat dua orang.

Kenaikan harga BBM ini akan segera berimbas pada harga-harga lainnya. Ini dinamika yang harus dilalui. Tentu kebijakan tidak populer ini ada positifnya. Sebagian orang akan lebih sehat karena mempertimbangkan untuk menggunakan sepeda atau jalan kaki. Sebagian orang akan lebih “pintar” untuk mengakali bagaimana cara ke kampus dengan biaya yang sama atau lebih kecil, seperti naik angkot yang muter dulu atau nebeng sama teman.

Yang jelas, dengan mengembalikan uang negara yang seharusnya kita terima berdasarkan kebijakan rezim sebelumnya, kita sedang terlibat dalam sebuah upaya besar dan massif untuk mewujudkan pembangunan. Pengurangan subsidi BBM ini bisa dilihat sebagai urunan rame-rame untuk pembangunan.

 

Semoga kita bisa yang sudah “paham” bagaimana cara arif menanggapi pengurangan subsidi BBM ini bisa menceritakannya kepada yang lain. Akhir kata, yuk berprasangka baik bahwa selisih yang hampir 100 T akan segera digunakan untuk kemanfaatan majemuk di masa mendatang.

Karena tidak ada perubahan yang nyaman.

MIETTES DE POCHE par Mattt Konture
Format 14x21 cm - 16 pages - édité par LABO, 1990 ?

Publié sous le label “LABO” de la future L'Association, en des temps ou des mots comme “label” avait encore du sens, Miettes de Poche regroupe quelques histoires courtes de Mattt Konture, tant oniriques, philosophiques que violentes. L'occasion, en quelques pages, de découvrir le potentiel graphique d'un auteur tellement original.
(6P)

Won’t be home for Christmas - Ziall One Shot - Tłumaczenie

Tytuł: Won’t be home for Christmas

Ilość słów: 1 704

Pairing: Ziall

Link do oryginału: http://bonjourziall.tumblr.com/post/38725712635/wont-be-home-for-christmas-ziall-oneshot

Opis: Cztery razy, kiedy Niall zostaje aresztowany w Wigilię i jeden raz, kiedy Zayn jest tam także.

Od tłumaczki: Tym akcentem chcę Wam wszystkim życzyć wesołych Świąt, aby spełniły się Wasze najskrytsze marzenia, abyście osiągnęli wszystko, co sobie postanowicie, żeby 2014 rok przyniósł same wspaniałe chwile i abyście się nigdy nie smucili, a łzy na waszych twarzach były tylko łzami szczęścia. <3

Keep reading