kompak

The Way I Lose Her: Falling In Love With People We Can’t Have

Terkadang hidup begitu tidak adil. Orang yang kita cintai dan orang yang mencintai kita biasanya adalah orang yang berbeda. Hingga pada akhirnya, kebanyakan dari kita selalu jatuh cinta karena terpaksa.

                                                       ===

.

Akan ada suatu keadaan di mana tanpa perlu ada pembicaraan atau penjelasan pun kau sudah tahu bahwa ini semua sudah berakhir. Dari bagaimana caranya memperlakukanmu, dari bagaimana cara matanya tidak menatapmu. Dekat tapi tidak mendekap. Saling melihat di depan mata tapi terasa tidak berjumpa. Yang dulu dekat sekali, sekarang rasa-rasanya menjadi begitu asing.

Gue sebenernya males banget untuk ikut acara ulang tahun Nurhadi di kelas nanti, tapi apa daya. Masalah gue ini ya masalah antara Ipeh dan gue, nggak baik melibatkan orang lain hanya karena masalah pribadi. Jadi, dengan berat hati gue menurut saja waktu teman-teman ngajak pergi ke dalam kelas.

Gue sengaja memilih jalan paling belakang, dari sini gue bisa melihat tubuh yang sudah tidak melihat gue lagi. Menyedihkan, dia yang pergi, gue yang disakiti, dia yang seharusnya gue benci, tapi kemana pun keadaan menempatkan kami berdua, mata gue tetap terus mencarinya.

Nyet.” Ikhsan tiba-tiba berhenti dan menengok ke belakang.

“Paan?”

Kemudian Ikhsan mendekat, menarik seragam gue agar suaranya tidak terlalu terdengar sama teman-teman yang lain.

“Lo bawa hadiah?” Tanyanya tiba-tiba.

“Hah?” Alis gue naik satu.

“Hadiah begok. Malah hah hoh hah hoh lu kaya orang lagi naik haji terus salah muterin ka’bah.

“…”

“Yang lain pada bawa hadiah tuh buat Nurhadi.”

“Aduh mana kepikiran gue. Tau si Nurhadi bisa ulang tahun aja baru kemarin.”

“Anjir tega amat lo. Jelek-jelek-bau gitu juga temen kita.”

“Gue jadi ngebayangin gimana dulu emaknya ngelahirin dia. Kayaknya seluruh dosa emaknya selama hidup langsung dihapus sama Tuhan deh saat itu juga.”

“Kok bisa?” Ikhsan memasang wajah penasaran.

“Udah disiksa ngeluarin anak segede nangka gendong gitu pasti udah termasuk ujian dunia akherat. Makanya langsung suci lagi tuh emaknya Nurhadi.”

“Emaknya sih suci, tapi anaknya baru lahir langsung penuh dosa. Tuhan waktu bikin Nurhadi lagi ngelamun. Salah nyampurin warna kulit sama tinta spidol.”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA..”

Gue dan Ikhsan ketawa keras bareng-bareng udah kaya paduan suara, sontak anak-anak di depan langsung pada nengok semua termasuk Ipeh juga. Gue langsung menyenggol tangan Ikhsan agar berhenti tertawa, tapi kami berdua nggak bisa. Rasanya nikmat banget kalau lagi galau gini terus ngetawain temen sendiri. Ya Robb maafkan kami.

“Yaudah deh lo, pikirin sekarang buat cari kado.” Celetuk Ikhsan lagi.

“Buset mendadak amat.”

“Mau gimana lagi.” Ikhsan mengangkat pundak.

“Emang lo dah dapet ide mau ngasih kado apa?”

“Sudah dong~”

“Anjir gue curiga, pasti nggak akan bener.”

“Yeeee curigaan mulu lo sama temen. Lo sendiri gimana?”

“Belom, ntar aja sambil jalan deh. Kalau nggak ada juga yaudah gue ambil aja tanaman obat di kebun sekolah.”

“Anjing temen lagi ulang tahun malah dikasih temulawak. Hahahahah goblok lo!”

“Hahahahaha..”

Selama perjalanan menuju kelas yang ada malah kami berdua di belakang sama-sama ngomong makin ngelantur. Dari yang awalnya mau ngomongin kado buat Nurhadi, malah berakhir jadi ngomongin apakah Robocop pernah sholat selama hidupnya atau tidak. Benar-benar diskusi yang Syariah. Calon Khilafah.

Sebelum memasuki lorong kelas, kami semua berkumpul sebentar. Dila kembali membahas rencana apa saja yang akan dijalankan hari ini sekaligus menyalakan lilin-lilin ulang tahun. Tapi emang dasarnya anak-anak kelas itu pada brengsek semua, lilin yang dipakai di atas kue pun bukan lilin ulang tahun. Melainkan lilin putih gede yang dipakai orang kalau tiap mati lampu. Pas orang-orang nanya sama gue kenapa lilinnya pake lilin itu, dengan polosnya gue menjawab,

“Lilin ulang tahun harus identik sama badan orang yang bersangkutan.”

Setelah mendapatkan kode dari salah satu teman di dalam kelas, akhirnya kami semua berjalan perlahan menuju pintu kelas. Sebelum tiba-tiba pintu ditendang keras oleh Bobby disertai nyanyian ulang tahun dengan nada Asma Ul-Husna serentak dari anak-anak kelas.

Nurhadi yang tadi masih asik ngerjain tugas (itu pun nyontek punya Tasya) langsung kaget melihat teman-temannya yang tadi menghilang kini malah datang beramai-ramai membawa kue disertai lilin gede satu biji doang di tengahnya itu. Nurhadi terkejut, ada haru terlihat di rona wajahnya, tapi ketika ia mau nangis sontak ditahan sama teman sebangkunya.

“Di jangan nangis Di. Serem ah. Gue takut puasa tahun ini malah jadi mundur 10 hari kalau lo nangis.”

Ya begitulah temen-temen gue di kelas. Temannya lagi bahagia dan mau nangis terharu aja masih dihina dulu. Nurhadi memang cocok jadi maskot kelas kita.

Teman-teman satu kelas langsung berkumpul mengelilingi Nurhadi yang badannya tetap paling gede sendiri. Abnormal banget.

“Ayo, Di!! Tiup lilinnya!” Terika Dila.

“Tiup, jangan sedot.” Celetuk Ikhsan diselingi tawa gue.

“Acieeee ulang tahun ke 2 bulan!” Bobby menanggapi.

“WOI LU KIRA GUE JANIN APA?!” Nurhadi tidak terima.

“Tiup tiup tiup tiup~” Teman-teman yang lain menyorakki.

“Buka buka buka buka buka..” Gue dan Ikhsan beda sendiri.

“Woi ini serius dong. Masa lilinnya pake lilin babi ngepet gini? Kagak ada lilin yang lebih normal apa sih?” Lagi-lagi Nurhadi protes. Udah untung ulang tahunnya dirayain, sekarang malah banyak maunya. Dikasih hati minta jantung, dikasih temulawak malah minta buyung upik.

Pasti ide si Galing ye? Dimas!” Nurhadi nabok pundak gue sampe tulangnya geser.

“Yaudah, elo mau lilin ultah yang normal?” Tanya gue.

“Yaiyalah!”

“Yowes..” Gue mencabut lilin putih itu, lalu menggantinya dengan lilin berbentuk angka. Lalu menaruhnya tepat di tengah kue tart tersebut.

“…”

“Lah dia malah diem. Udah gue ganti tuh lilinnya.” Tukas gue.

“YA ANJING GANTI LILIN SIH GANTI LILIN, TAPI NGGAK JADI 72 JUGA ANJING ANGKANYA. EMANG MUKA GUE SETUA ITU APA?!”

“HAHAHAHAHAHAHAHA LAHIR DIBETOT PAKE PINSET AJA BANYAK PROTES LU GORILA.”

Teman-teman kelas langsung pada ketawa semua. Akhirnya daripada meniup lilin dengan angka 72 itu, Nurhadi lebih memilih meniup lilin satu biji doang yang besar warna putih itu. Dia takut umurnya cuma sampe 72, makanya dia nggak mau niup lilin angka itu. Padahal kura-kura juga tau, Nurhadi ini nggak akan mati dalam waktu dekat, umurnya kaya keris Mpu Gandring; Awet. Toh dia aja lahir dari semenjak gunung Krakatau meledak dulu sampai sekarang.

Untuk berhasil meniup lilin saja kayaknya sudah menghabiskan banyak waktu banget, Nurhadi memejamkan mata sebelum meniup lilin, berdoa dan berharap agar doanya suatu saat dikabulkan. Padahal gue tau malaikat ngedeketin dia aja nggak mau. Baunya mirip bau kerikil sungai.

Setelah lilin berhasil padam, Nurhadi mulai memotong kuenya. Kue pertama dia berikan kepada Putri, salah satu wanita yang tampaknya sedang ditaksir berat oleh Nurhadi di kelas. Anak-anak yang lain langsung bersorak sorai, sedangkan Putri langsung Istigfar.

Berikhtiar atas ujian yang Tuhan berikan ini.

Kemudian potongan selanjutnya diberikan untuk Dila, primadona sekolah sekaligus ketua acara dalam event mubadzir ini. Gimana nggak mubadzir? Ulang tahun Kingkong kok dirayain. Ipeh selanjutnya yang mendapat kue sebagai balas jasa atas pertolongannya setiap ada ulangan termasuk ulangan fisika, tak lupa juga Tasya. Sedangkan gue dan Ikhsan? Dapet lilin yang dipotong dua.

Keparat!

“Nih buat lu berdua. Makan dah tuh lilin. Biar putih sekalian gigi lu pada.” Katanya ketus.

Bangsat emang Nurhadi ini, pinter banget kalau soal urusan balas dendam. Tapi nggak papa deh, toh gue juga nggak terlalu suka kue, gue paling nggak suka makan makanan manis. Beda dengan Ikhsan yang omnivora alias apa aja masuk. Termasuk batu kecubung.

Acara kembali dilanjut dengan pemberian kado. Seperti yang sudah gue tebak sebelumnya, semua orang mempunyai kado yang bermakna untuk Nurhadi. Namun tidak dengan gue dan Ikhsan. Ketika semua sudah memberikan kado, kini giliran Ikhsan maju ke hadapan Nurhadi. Dengan polosnya Ikhsan langsung mengeluarkan sepotong tanaman yang dia colong langsung dari kebon sekolahan. Sebuah tanaman entah apa itu, masih ada akar, daun, dan juga batangnya. Terlihat masih segar.

“Ya Allah Ikhsan lo kira gue kambing apa apaan sih?!” Nurhadi mulai terlihat bete. Sedangkan Ikhsan cengengesan dibarengi tawa teman yang lain.

“Yeee suduzon lu jadi orang. Ini tanaman suatu saat bakal berbunga. Jadi anggap aja gue ngasih bunga. Romantis kan?”

“Romantis gigi lu salto.”

Sambil masih ketawa, Ikhsan mundur kebelakang dan mempersilakan gue untuk maju memberikan kado. Kali ini gue sama Ikhsan kompak begoknya. Ketika tadi dia bawa tanaman hasil nyolong, gue juga bawa hal yang sama, tapi yang ini jenisnya berbeda.

Gue keluarkan sebuah gelas Aqua yang di dalamnya terdapat kapas basah + calon benih toge yang udah pada muncul tunasnya. Sontak melihat hal itu semua teman-teman gue pada ketawa ngakak.

“Anjir Dimas! Lo ngasih gue bahan praktek pelajaran PLH?! Itu tugas praktek siapa yang elo colong dah?” Kata Nurhadi sambil berusaha menerima kado gue itu dengan Ikhlas.

“Hahahah gue ambil dari kelas sebelah.” Balas gue polos.

“Parah! Nanti kalau jadi masalah gimana anjir?”

“Yaudah, toh udah jadi hak milik elo ini. Jadi kalau ada masalah ya masalah sama elo. Gue rasa anak kelas sebelah juga bakal lebih milih nanem lagi itu toge dari awal ketimbang cari masalah sama elo, Di.”

“Bener juga.” Kata Nurhadi tanpa pikir panjang.

Acara itu kami tutup dengan banyak tawa. Semua orang di dalam kelas tertawa riang seakan tidak ada sedikitpun masalah di dalamnya. Di balik tawa teman-teman ini, sebenarnya gue menyadari ada banyak rasa perih yang mereka tahan masing-masing di dalam hati. Termasuk gue sendiri. Namun, pagi cerah yang menyenangkan seperti ini rasanya terlalu rugi untuk dilewatkan dengan cara menangisi sesuatu yang telah pergi.

Sambil masih suasana merayakan Ulang Tahun, Ipeh yang juga mempunyai turut andil dalam ramainya acara ini langsung mengajak Nurhadi dan teman-teman yang lain untuk main ular tangga di belakang kelas. Nurhadi, Ikhsan, Dila, Mai, dan banyak teman-teman yang lain langsung kompakan pada ikut di sana. Sedangkan gue? Gue lebih memilih duduk di kursi depan sambil menikmati pelan-pelan kue yang sebenarnya nggak begitu gue suka ini.

Bukannya nggak mau ikut rame-rame, tapi di sana ada Ipeh. Gue juga harus tahu diri, jika kehadiran gue hanya akan menyebabkan suasana awkward bersama Ipeh yang kemudian bisa menyebabkan suasana teman-teman yang lain juga jadi ikutan tidak enak, lebih baik gue tidak usah gabung di sana.

Gue merasa hari ini sudah cukup. Bahagia bersama teman-teman kelas hari ini sudah cukup untuk membayar rasa haus gue untuk tertawa bersama mereka. Sudah saatnya gue kembali ke OSIS, pergi meninggalkan kelas ini, meninggalkan orang-orang di dalamnya.

“Dim..”

Tiba-tiba ada yang menghampiri gue yang kala itu tengah duduk di atas meja sambil nyemilin kue yang tinggal seperempat ini sambil menatap ke arah pintu kelas.

“Napa, Bob?” Tanya gue.

Bobby kemudian menepuk pundak gue sekali dan duduk di kursi dekat situ.

“Nggak gabung sama yang lain?” Tanyanya.

Gue geleng-geleng, “Kagak ah.”

“Kenapa?”

“Dih kepo amat dah.”

“Ipeh yak? Hehehe.” Bobby cengengesan sambil nyolokin garpunya ke sisa kue punya gue dan langsung memakannya bulat-bulat tanpa sisa.

“…”

“Masih berantem lu? Belum beres?”

“…”

“Gak usah heran gitu. Cerita lu hujan-hujanan itu udah nyebar di antara anak-anak kelas.”

“Hah?!” Gue kaget.

“Nggak ke semua sih. Cuma ke anak-anak band kita aja.”

“Lah band kita kan Cuma 3 biji. Elu Ikhsan sama gue?”

“Nah iya.”

“YA ITU BERARTI NGGAK NYEBAR NAMANYA, GENDUT!!! ITU SIH ARTINYA CUMA ELO DOANG YANG TAU SELAIN SI IKHSAN!!”

“Hahahahah ya maap~”

“Gabung sono. Suasananya lagi enak tuh.”

“Enak? Lu nggak liat suasana gue sama Ipeh pas di kantin?”

“Gue sadar kok.”

“Nah itu elu tau.”

“Iya gue sadar kok. Tapi elo-lah di sini yang sebenarnya nggak sadar.” Bobby menaruh garpunya di atas tatakan piring kertas kepunyaan gue.

Gue langsung nengok secepat kilat ke arah si beruang air.

“Hah? Gue?”

“Hahaha seperti yang sudah gue tebak. As usual ah elo mah.”

“Emang apa yang nggak gue sadarin?”

Bobby ngeliatin gue sebelum kemudian dia pergi, ngambil potongan kue yang lain dan kembali duduk di tempat yang sama.

“Doi merhatiin elo terus tuh dari tadi. Nyadar nggak?”

“Apaan?! Gue merhatiin dia terus dari semenjak datang di kantin dan dia nggak pernah sedikitpun ngeliat gue ah!”

“Masa?”

“Iya!”

“Yakin?”

“…”

“Tuh kan. Ya terserah elo mau percaya atau enggak. Sana gih gabung sama mereka, siapa tau suasana hati elo jadi enakan lagi. Atau bahkan suasana kalian berdua jadi kaya dulu lagi.”

Gue menaruh piring kertas tempat kue itu ke atas meja, lalu turun dan berjalan ke arah meja guru.

“Nggak deh, Bob. Gue udah nyoba pilihan itu lebih dari dua kali dari dulu, tapi hasilnya lo tahu sendiri gimana kan? Jadi, mending kalau harus selesai ya selesai aja. Lagian, cuma tinggal beberapa bulan lagi sebelum kita semua naik kelas terus pisah. Jadi, gue rasa ini sudah baik kok. For me and her.” Gue berlalu pergi begitu saja meninggalkan Bobby.

.

                                                      ===

.

Sesampainya di meja guru, yang gue lakukan di sana hanyalah melihat ke arah segala kertas perizinan maupun kertas hasil nilai ulangan yang berserakan di atas meja guru. Menjelang Bazzar begini emang biasanya semua guru jarang banget ada yang masuk kelas jadi sudah dapat dipastikan berantakan banget ini meja guru. Gue ambil beberapa kertas nilai yang berserakan di sana dan memembaca isinya, hanya untuk membunuh waktu menunggu temen gue selesai main ular tangga lalu nemenin gue balik lagi ke ke gerbang depan buat jualan tiket Bazzar.

Walaupun sebenarnya gue pengin banget gabung sama anak-anak yang lagi pada ketawa-ketawa di ujung belakang kelas, tapi setidaknya gue juga harus tahu diri. Gue menghela napas panjang, tempat yang dulu sangat akrab buat gue ini entah bagaimana ceritanya hanya karena menjaga perasaan satu orang membuat gue merasa menjadi turis di negara sendiri. Alias asing sekali. Sambil masih membuka-buka tumpukan kertas, tak sengaja mata gue menatap ke arah dua meja di depan meja guru.

Yang mana gue tau bahwa itu adalah meja tempat di mana Ipeh biasanya duduk.

Gue taruh kertas yang sedang gue pegang itu lalu berjalan perlahan ke sebelah meja Ipeh. Mejanya seperti biasa, rapih banget. Di sana ada tas kucel Ipeh yang sudah jadi ciri khasnya, dengan berbagai macam buku cetak ada di laci bawah meja. Di atas meja ada satu botol minum disertai tempat pensil yang isinya banyak bener.

Kalau gue nggak salah inget, tempat ini adalah tempat di mana gue ketemu Ipeh untuk yang pertama kalinya. Dulu gue takut banget sama Ipeh, selain karena tomboy, dia juga anak karate tingkat akut. Ototnya ada di mana-mana. Rasanya cukup kaget juga kalau pertemuan tidak sengaja yang terjadi ketika ulangan matematika dulu itu akan membawa gue ke keadaan yang benar-benar besar di hidup gue sekarang ini.

Gue perlahan membuka tempat pinsil yang ada di atas mejanya, lalu mengeluarkan sebuah mainan robot-robotan yang biasanya ditaruh Ipeh di atas pinsil. Gue nggak tahu apa gunanya ini mainan, ah tapi Ipeh orangnya emang gitu, kalau ada barang unik pasti dibawa-bawa walau nggak penting juga.

Kalau gue tidak lupa, dulu sambil memainkan robot-robotan ini kami berdua berbicara tentang beberapa hal menyenangkan, tentang sebuah janji juga. Tentang sebuah teori kacangan yang dengan seenak dengkulnya gue ucapkan begitu saja. Teori Filosofi Donat. Tentang sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak salah. Kesalahan yang mengarahkan kita pada sesuatu yang besar dan benar. Tapi tanpa disangka, seluruh kejadian itu malah membawa gue ke lubang besar seperti ini. Ke sebuah keterpurukan yang menyedihkan ini.

Tanpa gue sadari, gue yang masih memainkan robot-robotan mini di atas meja itu dikagetkan oleh sosok yang ternyata selama ini sudah berdiri cukup lama dan memperhatikan gue dari arah meja guru. Begitu melihat ada sosok Ipeh yang memperhatikan gue dari tadi, gue langsung dengan buru-buru memasukkan robot-robotan itu ke dalam tempat pensilnya lagi. Tapi bukannya cepat, yang ada justru isi tempat pensil itu jadi buyar semua kaya janin waktu pecah ketuban.

Sontak gue rusuh dong. Suasana yang tadinya hening malah jadi ribut banget gara-gara gue rusuh masukin semua isi tempat pensil yang pada keluar itu. Ipeh yang melihat hal itu langsung mendekat.

“Udah.”

Ipeh menggenggam lengan gue yang masih rusuh masuk-masukin pulpen dan pensil ke dalam tempatnya.

Karena tidak sempat menyadari Ipeh yang berjalan ke arah gue itu, sontak gue jadi kaget lalu menengok ke arahnya. Namun Ipeh tidak melihat ke arah gue. Dia langsung melepaskan genggamannya tadi dan membereskan pulpen beserta pensil yang berserakan di atas meja tanpa sedikitpun berbicara lagi.

“Maaf.” Kata gue pelan sambil mundur perlahan.

Gue ambil salah satu pulpen yang jatuh di lantai lalu menaruhnya di atas meja sebelum kemudian gue berjalan pergi meninggalkan Ipeh pelan-pelan.

“Dim..” Tiba-tiba Ipeh memanggil gue.

Langkah kaki gue terhenti. Gue langsung menengok ke belakang.

“8 Permen Milkita sama dengan segelas susu loh..”

Ah engga, seinget gue Ipeh nggak ngomong gitu.

“Bisa ke sini sebentar?” Pintanya.

Gue terdiam cukup lama di depan permintaannya tersebut. Lalu tanpa sadar langkah kaki gue berjalan ke arahnya. Meskipun gue ingin sekali menolak permintaan itu, entah bagaimana ceritanya kaki gue rasa-rasanya jadi berjalan sendiri memenuhi permintaan Ipeh.

Cinta memang bodoh. Sudah disakiti berkali-kali pun, kehadirannya tetap mampu membuat hati menjadi pemaaf yang paling diri sendiri benci.

.

                                                ===

.

BLETAK!!

“Woi!! Ngelamun aja lu. Kesurupan nanti. Hahaha..”  

Ada sebuah Teh Kotak melayang menghajar kepala gue dari belakang.

“Nih, buat elu. Kapan lagi gue traktir kaya gini. Jangan lupa bilang terima kasih.” Tukasnya lagi sambil menaruh Teh Kotak itu di depan gue.

Gue yang daritadi masih ngelamun ini cuma ngeliatin dia doang lalu kembali melihat ke arah depan. Ikhsan kemudian duduk di sebelah gue sambil menikmati Teh Kotak miliknya sendiri. Sedangkan gue masih diam saja sambil sesekali menghela napas panjang.

“Woi, mana ucapan Terima Kasihnya?!”

Gue melirik sinis, “Gumawooo bebeb.”

“Nah gitu dong.” Kata Ikhsan cengengesan yang kemudian mengeluarkan sepotong kue yang entah dia dapet dari mana.

“Lah kue dapet dari mana lu?”

“Ini?” Ikhsan nunjuk ke potongan kuenya, gue angguk-angguk. “Gue dapet dari kelas kok. Kue ultah si Gorila. Nyisa cukup banyak. Mau lo?”

Gue geleng-geleng, “Nggak ah. Kagak suka manis gue.”

“Yowes~”

“Btw lo kok bahagia banget sih keliatannya?”

“Elo sendiri? Kok kucel banget keliatannya? Ada kejadian apaan di kelas?”

“Ah males cerita ah gue.”

“Yeee yaudah gue juga nggak mau cerita.” Balasnya sambil noyor-noyor kepala gue pake garpu plastik yang udah penuh sama cream kue.

Keadaan menjadi hening cukup lama. Suasana siang yang sudah hampir memasuki waktu Dzuhur itu membuat meja Stand Tiket jadi agak sedikit panas. Tapi walaupun begitu, keadaan sekolah yang dikelilingi oleh pohon besar membuat udaranya tetap terasa sejuk.

“Eh Dim Dim Dim.. Tau nggak..”

“Katanya nggak mau cerita!”

“Hahahaha biarin dong. Gue mau cerita nih. Boleh yak boleh yak?”

“Apaan emang?”

“Tapi sebelum itu gue mau nanya dong sama mas Dimas selaku suhu tentang perwanitaan di kelas kita.”

“Paan sih lo? Mau nanya apaan?” Gue melirik curiga.

Ikhsan lalu menggeser kursinya agar duduk lebih dekat, ia melihat ke arah kiri kanan sebentar memastikan tidak ada orang lain di sekitar situ, lalu ia menarik kuping gue agar lebih mendekat.

“Ajarin gue ciuman dong, Dim..”

Sontak gue langsung loncat dari tempat duduk gue dan pergi menjauh sambil memegangi mulut gue karena ketakutan. Sedangkan Ikhsan langsung sambil memasang wajah bête.

“Anjing kenapa lo pake acara kaget gitu sih, Setan?”

“APAAN SIH LO?! UDAH NGGAK NORMAL YA?!” Gue makin menjauh.

“Yee kuya mau kemana lo?! Sini anjir! Dengerin gue dulu. Jangan main ambil kesimpulan aja kampret!”

Gue geleng-geleng.

“Sini anjir! Tolong ajarin gue! Sahabat macam apaan lo nggak mau bantu temennya kaya gini?!”

“Lah ngapain juga yang begituan pake diajarin segala sih, Anjir?! Latihan sendiri aja sana lo sama duren!” Gue kemudian kembali duduk di kursi yang tadi setelah merasa Ikhsan mulai normal lagi.

“Makanya dengerin dulu penjelasan gue.” Ikhsan menyuruh gue mendekat tapi gue tetap mencoba menjaga jarak.

“Gini, Nyet. Cerita ini diawali ketika gue di kelas lagi mainan Ular Tangga..”

“Langsung intinya aja anjir!”

“Ya Robb, basa basi dulu ngapa sih?! Orang lagi lahiran aja pake pembukaan dulu!”

“…”

“Tapi yaudah deh, intinya gini, ajarin gue cara ciuman yang baik dan benar dong.”

“Ini tuh elu nanya serius?”

“YA MASA GUE BOHONG SIH?!”

“Elo belum pernah ciuman emang?”

“Pernah sih. Sama emak paling dulu waktu bocah.”

“…”

“Belom kalau sama cewek tulen.”

“Astagfirullah, ciuman itu harom, bukan muhrim.”

“Alah Dim ngomong lu sok Ustad. Terus kemarin waktu lo ciuman sama si Hana di UKS juga elo nikmatin kan? Dua kali malah ciumannya.” Sindir Ikhsan.

“Bangsat! Jangan diungkit-ungkit lagi sih!”

“Yaudah, gue juga pengen dong ngerasain kaya lo gitu. Gue pengen masa SMA gue jadi berharga sekali-kali.” Ikhsan memelas.

“Ya terus apa yang harus dipelajari sih?”

“Ajarin gue tata cara dan tekhnik ciuman. Gue takut salah. Kan serem juga kalau misal gue lagi ciuman terus bibirnya kegigit. Atau bulu hidung gue nyangkut di behel-nya.”

“Bah, serem juga kalau gitu.”

“Nah. Maka dari itu. Ajarin gue, Suhu!”

“Terus kalau udah diajarinnya elu mau latihan sama siapa?”

“Ngg.. Sama bantal aja deh gapapa.”

“HAHAHAHAHAHAH TAI!”

“Ayo dong, mumpung stand tiket masih sepi nih. Gimana-gimana, langkah pertama apa yang perlu gue lakukan kalau mau ciuman, Suhu?”

“Hmm.. baca bismillah.”

“Ya mana sempet, Setan. Mau buat dosa kok tobat dulu. Nanti aja di akhir ciuman baru bilang Astagfirullah.”

“Bener juga. Yaudah deh ganti, langkah pertama adalah kita harus membangun kimia dulu.”

“Chemistry maksudnya?”

“Nah iya!”

“ITU KAN JOKE GUE SETAN!”

“Hahahah, setelah dapet kimia, baru deh elo mulai maju perlahan, mendekat hingga elo bisa mendengar suara hembusan napasnya.”

“Beuh, puitis banget kata-kata lo. Oke gue catet.” Ikhsan langsung nyobek kertas dari dalam buku dan mencatat wejangan gue barusan.

“Terus dah gitu nanti lo bakal masuk ke tahap Drum Roll.” Sambung gue lagi.

“Apaan tuh? Nama kue?”

“Itu Egg Roll kampret. Drum Roll. Sejenis aba-aba sebelum ciuman. Biasanya di sini adalah saat yang paling bikin grogi nih.”

“Wuoh! Mantap!” Ikhsan terlihat antusias banget sambil terus mencatat.

“Nah nanti kalau udah ciuman, ati-ati, do not use so much tongue. Jangan pake lidah. Kecup-kecup aja. Kalau kecupnya lama, baru deh pelan-pelan keluarin noh lidah ular.”

“HAHAHAHAHA ANJIR!! GUE KOK GETEK YA DENGER PENJELASAN ELO!!”

“Ah anjing yaudah deh gue masuk ke kantin aja kalau gitu.”

“Hahahahaha maaf Suhu! Maaf! Hamba tidak kuat membayangkan.”

“Lagian emang lo mau ciuman ama sapa sih?”

“Sama pacar gue lah!”

Gue kaget, “Eh? Tasya? Kok? Ada apa nih ada apa?”

Ikhsan menyeruput Teh Kotaknya sambil kemudian bersandar di kursinya. “Makanya tadi waktu gue mau jelasin, elo jangan main potong aja. Jadi nggak ngerti kan.” Lanjutnya.

“Emang ada cerita apa?”

“Jadi, belakangan ini hubungan gue sama doi kan bisa dibilang lagi agak renggang tuh. Rasanya gue sama dia akhir-akhir ini ngeributin hal-hal sepele mulu. Gue takut dia bosen, atau mungkin dia udah capek. Oleh karena itu gue pikir hubungan ini butuh udara segar. Sampai sini ngerti nggak lu gue ngomong apa?”

Gue cuma angguk-angguk doang padahal nggak tau dia lagi ngomong apaan.

“Mungkin hubungan ini perlu ada bumbu-bumbu erotik dikit.” Sambungnya lagi. “Nah, nanti pas acara Bazzar pas mau penutupan, gue pikir itu saat yang tepat untuk ngajak dia ke tempat sepi terus kecup-kecup basah gitu..”

“Najis ah. Getek gue denger lu ngomongin beginian.”

“Ah elu kagak pernah dukung temen ah.” Ikhsan menghabiskan sisa kuenya di atas meja, lalu kemudian menunjuk ke arah Teh Kotak yang belum gue buka sama sekali, “Kagak diminum tuh? Udah gue beliin masa nggak lo minum sih?”

Gue menghela napas panjang. Ikhsan kelihatan bingung.

“Tadi di kelas, waktu kalian masih sibuk main ular tangga di belakang, gue sama Ipeh ngobrol di deket meja guru.”

“EH?!” Ikhsan terlihat kaget. “Bukannya tadi di kantin dia nggak ngegubris elo sama sekali ya, Dim?”

“Nah maka dari itu, gue juga sempat kaget, Nyet. Bener deh gue nggak pernah ngerti apa sih yang cewek pikirin tuh.”

Ikhsan angguk-angguk mantap seakan mengiyakan semua perkataan gue barusan.

“Terus dia ngomong apa?”

“Kamu apa kabar?” Kata gue sambil menirukan ekspresi Ipeh ketika menanyakan hal itu sama gue di kelas pagi tadi.

“Gitu doang?” Dahi Ikhsan mengkerut.

“Enggak. Gue cuma bales, ‘Aku pernah jauh lebih baik. Itu waktu beberapa bulan yang lalu.’, gitu. Dia nggak jawab apa-apa, sebelum kemudian dia nanya lagi sama gue. ‘Kamu bahagia sekarang?’ tanya dia polos.”

“Wuih! Terus lo jawab apa?” Ikhsan makin penasaran.

Gue menggoyang-goyangkan Teh Kotak di depan gue itu. “Gue jawab aja dingin, ‘Kamu pikir aku bahagia?’,  pas gue ngomong gini, dia langsung nengok dan ngelihat ke arah gue gitu.”

“Anjir seru nih kaya FTV! Terus terus?”

“Dia natap gue gitu aja. Seperti ada perasaan marah, nyesel, ingin minta maaf, tapi benci juga. Yaudah daripada tatap-tatapan nggak jelas, gue balik nanya dia aja. ‘Kamu bahagia sekarang?” Gue bercerita sambil terus menatap kosong ke arah jalanan di depan.

“Asem! Elu punya cerita seru gini tapi malah ngebiarin gue cerita tentang tata cara ciuman. Bangke ah, tau gini elu cerita duluan nyet. Kan jadi nggak klimaks gini caranya.” Protes Ikhsan.

“Yeee malah ceramah. Gue lanjut jangan nih?”

“JUTKAN!!” Kata Ikhsan seraya membalikkan kursinya hingga mengarah ke gue.

“Saat itu gue sama dia nggak banyak bicara lagi, Nyet. Seperti tiba-tiba ada hening panjang yang menyelimuti kami berdua. Diamnya dia saat itu entah kenapa membuat gue jadi emosi, segala rasa kesal atas kejadian dua hari yang lalu itu seakan mau meledak di mulut, tapi untungnya gue masih bisa tahan. Gue cuma bilang saat itu, ‘Kalau nggak ada yang mau dibicarain lagi, aku pergi.’.”

“Beuh galak amat lo. Terus dia nahan elo nggak?”

“Enggak, dia cuma ngomong ‘Maaf.’, itu pun tanpa berani menatap ke arah gue. Dan gue yang mendengar hal itu langsung membalas, ‘Maaf? Siapa yang salah? Nggak ada kok.’ gitu.” Gue langsung menengok Ikhsan yang ada di sebelah gue, “Kejam nggak sih gue kalau ngomong gitu, San?”

Ikhsan menatap gue, lalu geleng-geleng, “Enggak kok. She deserve that. Setelah apa yang dia lakukan sama elo kemarin itu, dia pantas terluka kalau menurut gue.”

Gue termenung menatap Teh Kotak di hadapan gue, “Gue juga berpikiran sama kaya yang elo bilang barusan, kata maaf belakangan ini tampaknya hanya sebuah pelarian yang dipakai orang-orang pengecut yang sudah melakukan kesalahan untuk meminta kesempatan yang sama dua kali. Mereka menggunakan maaf hanya sebagai kata pembuka saja. Tidak tulus. Mereka bukannya ingin meminta maaf, melainkan ingin meminta kesempatan sekali lagi. Tapi bukannya membiarkan gue pergi, dia malah kembali mengucapkan kata maaf pas gue mau jalan lagi.”

Ikhsan mendengarkan dengan serius.

“Karena saat itu emosi gue sudah terlanjur tinggi, di kata maaf yang terakhirnya itu gue langsung berbalik, menatapnya sebentar kemudian bilang, ‘Daripada minta maaf, baiknya doakan aku agar bahagia. Minimal, doakan aku punya pendengar dan tempat pulang seperti kamu. Kita sama-sama terluka, tapi bedanya, aku terluka lalu jatuh sendirian, dan kamu terluka lalu pulang ke pelukan orang yang cintanya tak lebih besar dari cintaku.’, lalu setelah ngomong kaya gitu gue langsung pergi deh.”

Ikhsan geleng-geleng dengan rasa tidak percaya, “Gila gila gila, hubungan yang menurut gue simple di antara kalian itu kalau dilihat dari sudut pandang para pemeran aslinya itu ternyata rumit banget ya. Gue kira hubungan lo ini hanya sebatas lo suka sama pacar orang, Dim, tapi ternyata enggak kaya gitu. Sabar ya sob..” Ikhsan menepuk-nepuk pundak gue. Gue kira dia mau prihatin sama gue, tapi ternyata dia cuma mau ngelapin tangannya yang bekas makan kue tart itu ke baju seragam gue.

Brengsek.

“Slogan We falling in love with people we cant have itu ternyata bener ya.” Kata gue.

“Yeee itu mah elo doang, buktinya gue sama Tasya enggak kok.” Sanggah Ikhsan.

“Iya, tapi slogan ini pas buat Tasya maksud gue.”

“Anjir jadi lo pikir gue bukan cintanya Tasya gitu?”

“Hahahah inget sob, 83% kisah cinta di dunia ini itu mengatakan bahwa orang yang kita cintai dan orang yang mencintai kita biasanya adalah orang yang berbeda. Hingga pada akhirnya, kebanyakan dari kita selalu jatuh cinta karena terpaksa.”

“…”

Gue lalu mengambil sedotan plastik yang melekat pada Teh Kotak itu dan kemudian nyolokin ke Teh Kotaknya. Namun baru saja gue mau nyedot itu Teh Kotak, tiba-tiba minuman gue disamber sama seseorang.

Sontak gue terkejut, mulut gue udah monyong gini siap buat nyedot Teh Kotak tapi tiba-tiba sedotannya ilang.

“Siapa yang ngebolehin minum beginian?!”

Gue dan Ikhsan kaget, Cloudy dengan galaknya menyambar Teh Kotak gue lalu marah tanpa sebab di depan kami berdua. Gue sama Ikhsan liat-liatan dalam keadaan masih shock karena kedatangan si nenek sihir ini secara tiba-tiba.

Belum juga gue sempat membalas ucapannya, Teh Kotak gue yang lagi dia pegang itu dia lempar ke dalam tong sampah di depan sekolah. Gue kaget, Ikhsan lebih kaget. Gue merasa sayang banget ngeliat minuman masih utuh gitu dibuang ke tempat sampah, sedangkan Ikhsan merasa menyesal banget uang 3500 dalam bentuk minuman kemasannya dibuang tanpa sempat diminum.

Emang kejam si Cloudy ini.

“Lu ngapain sih ke sini? Di dalam aja sana gih! Ini mah urusan anak kelas satu. Sekretaris mah ngurusin yang lebih penting aja.” Ikhsan ngedumel.

“Heloooo! Gue juga kelas satu kali. Lagian apa hak lo nyuruh-nyuruh gue? Jualan tiket juga tugas gue kan?”

“Siapa?”

“Gue!”

“YANG NANYA~”

“IH!!!” Cloudy menggebrak meja di depan Ikhsan sebelum kemudian mengambil kursi dan duduk agak jauh dari kami berdua.

Ikhsan melirik Cloudy dari jarak jauh dengan tatapan bete. Ia kemudian menyenggol tangan gue.

“Nyet, si Cloudy ngapa sih selalu ada di sekitar kita mulu?” Katanya sambil bisik-bisik.

“Tau dah.”

“Dulu padahal gue sempat kagum loh bisa deket sama orang sekelas doi. Tapi sekarang malah pengen menjauh rasanya.”

“Hahahahaha sama gue juga.”

“Orang-orang yang deket sama elu kayaknya istimewa semua ya. Istimewa dalam hal negatif maksud gue.” Tukas Ikhsan.

“Ah elu juga sama.”

“Gue? Siapa?”

“Tuh Nurhadi. Dia kan temen lo. Istimewa tuh dia.”

“HAHAHAHA ANJING! Abstrak-abstrak gitu juga dia temen lo juga kampret.”

Lagi asik-asiknya kami tertawa begini, dari jauh ada satu mobil berhenti di depan stand tiket. Gue sudah biasa dengan pemandangan seperti ini. Memang biasanya banyak banget anak-anak kuliahan atau anak SMA senior yang bawa mobil dan mampir buat beli tiket Bazzar. Tapi saat itu begoknya gue tidak sadar mobil siapa itu di depan yang mampir ke stand penjualan tiket kita sebelum kemudian dari pintu belakang mobilnya turun seseorang.

Gue dan Ikhsan yang masih cengengesan ini mendadak diam melihat sosok yang turun dari mobil tersebut. Ikhsan memandang gue dengan tatapan kaget. Begitupun gue.

“LOH? KAK AI?!” Teriak kami berdua kompak.

“Loh kalian? Wah wah wah kebetulan banget nih kalian yang jualan tiketnya. Hehehehe, apa kabar hei kalian berdua temen-temennya Ifa?” Balasnya manis seperti biasa.

.

.

.

                                                         Bersambung

Previous Story: Here

Aku kena tipu orang sekian juta, lalu kamu juga kena tipu orang sekian juta. Kita kompak ya? Jangan - jangan kita…
— 

Jangan - jangan kita sama2 bego. >.<

Yah semoga kita semua selalu bisa mengambil kelucuan di setiap kesedihan. Semoga selalu bisa mengambil hikmah di setiap kesusahan. Semoga selalu bisa tetap senyum meski jalan di depan terlihat buntu. Semoga selalu bisa ceria meski stres berkepanjangan. 

Semoga selalu diberi rasa syukur bahwa kita semua masih diberi kesempatan menebus dosa, dengan tebusan yang tidak seberapa.

PKS & Gerindra 2017

Kembali salut untuk PKS dan Gerindra, atas koalisi kompak dan konsisten yang dibangun. Jakarta adalah basis PKS, mungkin itulah kenapa mereka berdua pede maju dan lagi-lagi sengit mampu bertahan dari segala tikungan. Meski voters belum mampu memenangi Pilkada kali ini (lagi?) dengan suara mayoritas, namun lagi-lagi menunjukkan bahwa untuk mengalahkan PKS harus main keroyokan; tidak mungkin satu lawan satu.

Sikap kenegarawanan dari elit kedua partai ini juga patut diacungi dua jempol. Akur, tidak saling tikung, saling menghormati, dan loyal dengan koalisi. Jika ada masalah internal pun tidak membuat gaduh seluruh negeri. Mereka adalah Parpol masa depan selama tidak mencederai kepercayaan konstituen dengan perkara murahan. Kita masih bisa berharap kepada kedua partai ini untuk membangun alam demokrasi yang sejuk dan berwibawa. Semoga mereka terus bertahan dan mesra dengan membentuk poros berbasis kerakyatan. Jangan mudah menjadi partai bunglon yang mudah berubah warna hanya karena adaptif dan cari aman.

Kali ini, salut juga buat nonmuslim dan etnik tertentu yang kompak memilih berdasarkan preferensi agama dan etnisitas. Mungkin umat yang mayoritas perlu belajar bagaimana bisa bersatu dan tak mudah goyah.

3

<b>Sehari Bersama</b>

Setidaknya ini upaya yang bisa saya lakukan, memastikan bahwa sebagai seorang Bapak memiliki waktu bermain khusus dengan anak dan saya tidak bisa diganggu oleh kerjaan, kuliahan atau apapun.

Di fase-fase pertumbuhan anak ini memang butuh sekali kehadiran orang tua senantiasa mendampingi sang anak. Setidaknya itu yang saya dan Istri yakini dan menjadi sebuah kesepakatan.

Namun, tidak bisa dipungkiri, saya dan Istri pun sedang bertumbuh pula, baik itu usaha, sekolah/spesialis, aktivitas organisasi dan hobi serta yang lainnya. Oleh karena itu, menjadi krusial bagi kami untuk saling kompak dan mengisi kekosongan satu yang lainnya. Satu hal yang menjadi pegangan adalah rasa saling percaya bahwa dimanapun aktivitas masing-masing, kita sedang bekerja keras untuk kebaikan dan kesejahteraan keluarga (karena kerja sekeras apapun, selain ibadah, manfaatnya juga didapatkan oleh keluarga kita)


Di Jakarta (dan mayoritas kota besar), struktur kota pun sudah berubah. Dulu waktu saya kecil di kampung tempat main itu banyak, lapangan tumpah ruah sehingga menjadi arena bermain yang sangat bagus melatih sensorik, motorik, dll. Namun, di Jakarta tidak begitu. Setiap weekdays kami selalu browsing tempat tempat bermain anak yang harus kami kunjungi (yang itu kebanyakan di mall), karena tempat bermain di Jakarta sudah sangat kurang

Zaman berubah. Saya tidak bisa menyamakan pertumbuhan saya masa kecil dengan pertumbuhan anak zaman sekarang. Orangtua saya dahulu cukup memodalkan bola dan kain sarung saya bisa bermain. Sekarang, anak-anak kecil saja sudah bicara bahasa Inggris. Tidak sedikit anak berumur 2 tahun sudah bisa membaca dan menulis. Ini menjadi concern saya pula dan Istri, kami ingin anak kami ke depan jauh lebih pintar dan sejahtera daripada kami

Dan kami sedang memperjuangkan hal tersebut. Dengan saling percaya dan kerja keras bersama

Yeah~

Ramon Damora

MASALAHNYA,
GUE BUKAN AHOK

sorry men
gue baca yasin
bukan black campaign

gue cuman zikir
pengen diam
ngapain lo mikir
macam-macam

gue datangin
majelis taklim
lo sinis, ngeklaim
kampanye hitam

kasian lo, bro
bentar-bentar kepo
masjid masjid gue
qur'an qur'an gue
udah, jangan rese

sejak lahir
gue diazanin
islam haqqul yakin
lakum dinukum
waliyadin
stop ngerecokin

imam gue takbir
gue takbir
imam gue ngingetin
bahaya “waladhdhaallin”
semua kompak amin
simple, men
nggak usah cemen

nggak perlu juga kale
cari-cari simpati
bikin pencitraan
korban penzaliman
ayat-ayat suci

baru surat al maidah
satu ayat
lo udah marah-marah

ge-er amat

santai dong
jangan gotong-royong
nodong-nodong

jakarta perlu
orang super
bukan gubernur
bentar-bentar baper

gue pake songkok
pengen sujud rukuk
mencari ridho ilahi
buat nabung pahala

sayang gue bukan ahok
yang berani nyeletuk
kalau dia mati
langsung masuk surga

2016

Serius Nih Mau Bareng Sampai Ke Syurga?

Tulisan ini adalah review dari sharing online ASA Indonesia @asaindonesia bersama kang Ikhsanul Kamil (Kang Canun) dengan judul “Pentingnya Pendidikan Pranikah Sejak Dini”

Hallo, teman-teman! Apa sih yang ada di benak kalian ketika mendengar kata pernikahan? Kalau menurut saya pribadi, pernikahan adalah kolaborasi, yaitu kolaborasi antara suami dan isteri untuk melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk banyak orang. Kalau menurut kalian, apa sih? Pasti jawabannya banyak, ya! Ada berbagi, ibadah, tanggungjawab, perjuangan, pembelajaran, daaaan masih banyak lagi! Bahkan ada juga lho yang menganggap kalau pernikahan sebagai shortcut untuk mencari kebahagiaan.

Di tengah berbagai masalah di usia-usia quarter life ini, tidak sedikit orang-orang muda yang berpikir bahwa menikah adalah untuk menjemput bahagia. Seperti kisah Snow White yang hidup menderita kemudian ia melihat pernikahan sebagai pintu menuju kebahagiaan abadi. Ya, kebahagiaan dianggap sebagai kehidupan putri dan raja yang happily ever after.

Mungkinkah jika setelah menikah tema hidup kita hanyalah tentang bahagia? Hey hey, let’s think about this! Apakah ketika menikah kelak kita akan menikah dengan orang yang memiliki isi kepala yang sama dengan kita? Bagaimana dengan pola pikir, kebiasaan, tingkah laku, dan yang lainnya? Pasti berbeda dan perbedaan itu sedikit banyak pasti menimbulkan konflik. So, pernikahan harmonis itu bukanlah pernikahan yang di dalamnya tidak ada konflik sama sekali, tapi adalah pernikahan yang di dalamnya ada konflik namun suami dan isteri mampu me-manage perbedaan yang ada. Oleh karena itu, yang terpenting bukan menikah muda atau menikah tua, tapi menikah dewasa.

Data dari Kementerian Agama di tahun 2015 menyebutkan bahwa 1 dari 5 pernikahan berakhir dengan perceraian. Tentang ini, Kang Canun bercerita, katanya, “Selama 4 tahun saya berprofesi sebagai konselor pernikahan, saya menemukan, ketika memutuskan menikah untuk bahagia justru banyak pasangan suami isteri yang tidak bahagia. Mengapa? Karena pada faktanya, mereka tidak siap dengan konflik yang timbul. Hatinya hanya berharap tampungan kebahagiaan tapi tidak menyisakan ruang di hatinya untuk kecewa.”

Ternyata, memang ada jodoh yang hanya di dunia saja tapi tidak sampai ke akhirat karena pernikahannya berakhir dengan perceraian. Ada yang masa jodohnya hanya 5 tahun, 3 tahun, 1 tahun, bahkan ada juga yang hanya 1 minggu. Kita sepakat ya kalau jodoh tipe 1 ini, yang hanya di dunia saja, bukanlah jodoh yang kita harapkan. Semoga kita dan pasangan nanti tidak termasuk di dalamnya. Aamiin.

Lalu, ada jodoh tipe kedua, yaitu yang selalu bersama di dunia tapi tidak sampai ke akhirat. Lha, kok bisa sih kayak gitu? Kalau kita lihat data dari Kementerian Agama tadi, memang ada 4 yang tidak bercerai, tapi apakah bisa dipastikan jika pernikahannya harmonis? Banyak juga pernikahan yang diwarnai dengan perselingkuhan, perselisihan atau bahkan saling cuek satu sama lain. Misalnya, suami, isteri dan anak berada dalam satu meja, tapi suami sibuk main games, isteri sibuk dengan sosial media, anak-anaknya sibuk dengan mainan. They live in the same house, but they are homeless.

Apa yang terjadi jika keluarga yang tinggal dalam satu rumah mengalami homeless? Suami akan mencari ‘home’ yang lain di luar sana, bisa dengan berlama-lama di pos ronda, sering lembur terus atau bahkan mencari wanita idaman lain. Isteri juga akan mencari ‘home’ di luar, bentuk paling bahaya adalah jika ia menjalin hubungan juga dengan laki-laki lain di luar. Bagaimana dengan anak-anak? Mereka juga pasti mendapat dampaknya, mereka bisa menjadi anak-anak yang BLAST (bored, lonely, afraid-angry, stress and tired). Padahal …

Pernikahan yang harmonis adalah warisan terindah yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita kelak.

Hmm, jodoh tipe kedua ini juga bukan tipe kita yaa. Tuh kan, mulai terasa kan kalau menikah itu memang perlu ilmu? Yuk lanjut lagi.

Ada juga jodoh tipe 3, yaitu yang di dunianya kompak, harmonis dan dipertemukan di akhirat, tapi sayang berakhirnya di neraka. Eh, kenapa sih? Kisah pernikahan seperti ini sudah ada contohnya di Al-Qur’an, yaitu kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil. Mereka sangat kompak dan harmonis dalam membully Rasulullah dan menentang kebenaran. Dengan ending yang menyeramkan seperti kisah mereka, kita tidak ingin menjadi tipe ketiga ini, kan? Ya iyalaaaaah … Tentu saja!

After all, ada lho jodoh tipe 4, tipe kita bersama, yaitu jodoh di dunia yang begitu harmonis dan kompak lalu dikumpulkan di akhirat dan dimasukkan ke syurga. Tapi, tunggu tunggu, jangan senang dulu! Sebab, jodoh dunia akhirat itu tidak tiba-tiba datang dari langit, perlu dibentuk dan diperjuangkan. Bagaimana caranya?

Pondasi dasarnya adalah tentang niat. Mungkin ini terdengar klise, tapi niat inilah yang mempengaruhi segalanya. Niat itu seperti surat, salah tulis alamat yaudah deh sampainya juga salah. Ada orang yang berucap nikah karena ibadah, tapi dalam hatinya ia ingin menikah karena bosan hidup sendiri, ingin kabur dari rumah dan mencari bahagia. Apa yang riskan dari masalah niat ini? Nih ya coba pikirin deh, ketika menikah karena bosan hidup sendiri, akhirnya iya sih ada yang menemani, tapi akan kecewa ketika mulai ada kondisi LDR karena misalnya dinas di luar kota atau studi di luar negeri. Pada intinya, ketika berbicara tentang niat, ini tentu bukan hal klise dan ‘gitu doang’, tapi memang pondasi dari semuanya yang perlu melibatkan suara hati.

Terus terus, menikah karena ibadah itu memangnya yang kayak gimana, sih?

Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa dalam pernikahan dan kehidupan akan selalu ada dua titik ekstrim, yaitu kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Hidup memang begitu kan ya, ada sedih, senang, tawa, tangis, lapang, sempit, sakit, sehat, dan lain-lain. Apa yang salah dengan siklus-siklus hidup ini? Semuanya alamiah, kan? Ketika menikah, siklus-siklus ini bisa dirasakan dua kali lipat: kebahagiaan bertambah tapi kesedihan juga bertambah, hak bertambah tapi kewajiban juga bertambah. Ini menarik dan menantang, sebab kehidupan memang akan seperti roller coaster. Up and down, syuuuuu!

Menikah untuk ibadah adalah ketika kita mengejar barokah. Apakah itu? Barokah adalah bertambahnya kebaikan di setiap kondisi. Ketika bertengkar dengan pasangan, memang tidak nyaman, tapi bisa jadi barokah ketika kita mampu bijak melihat pembelajarannya. Ketika hal-hal menyenangkan terjadi, justru membuat semakin harmonis. Well, this is barokah. So, menikah untuk ibadah berarti kesiapan hati untuk menerima semua takdir-Nya dan kerelaan hati untuk melakukan yang terbaik dari apapun yang ditakdirkan-Nya.

Serius nih mau bareng sama pasangan sampai ke syurga? Kalau gitu, sebelum menikah, yuk perbaiki dan luruskan niat! Semoga Allah memudahkan kita untuk menundukkan nafsu, menyalakan logika dan menggunakan nurani. Sampai jumpa lagi di review-review selanjutnya! ;)

Masih Ingin

“Sepanjang hidup ibu, tidak akan ibu lupakan detik ini. Detik di mana ibu benar-benar merasa melihat pemandangan yang begitu indah tepat di sampingmu nak”

Tiba-tiba hatiku pilu, ada sesak yang menghempaskan aku dititik terlemahku. Akan aku ceritakan ke pada kalian perihal apa kelemahanku dan kekuatanku. Kelemahan dan kekuatanku adalah Ibu. Manusia yang kuyakini pasti mencintaiku tanpa pamrih sedikitpun. Manusia yang tanpa pernah mengenal menyerah membesarkanku dengan ikhlas.

Kulihat matanya berkaca-kaca melihat burung-burung gereja berbondong-bondong mencari pohon rindang untuk ditidurinya malam nanti. Berputar-putar begitu kompak tepat di depan mata kita yang tengah menatap langit lekat-lekat dari teras rumah. Pertama kalinya kulihat ibu begitu takjub akan indahnya bumi, setelah sekian lamanya aku memeluki tubuhnya yang kian hari kian menua. Katanya belum pernah ia melihat begitu banyak burung seperti ini selama hidupnya.

Sesaat kemudian ia menatapku dengan senyum mengembang dan mata sendu. Dan aku tidak mengerti apa arti senyuman itu. Lalu dengan nada merengek aku memelukinya sekali lagi, dan sekali lagi ia menatapku dengan senyum mengembang dan mata sendu. Kemudian ia bertanya perihal bentuk awan yang ia tunjuk. Katanya itu mirip seekor kucing, namun kataku itu lebih mirip seekor naga. Ia tertawa kecil, kemudian memintaku memperhatikan penjelasannya sambil menunjuk-nunjuk awan di hamparan langit biru. Ia sibuk menjelaskan, dan aku sibuk meminta maaf pada Tuhan.

Aku meminta maaf perihal belum mampunya aku membahagiakan wanita di hadapanku ini. Hatiku menjerit pada Tuhan, kebaikan apa yang pernah aku perbuat hingga Tuhan memberiku seorang Ibu yang begitu indah. Telah banyak kulakukan dosa, namun Tuhan begitu mengasihiku. Jika kalian bertanya apakah aku pernah malu meminta pada Tuhan agar umur ibuku dipanjangkan setelah begitu banyak dosa yang kulakukan? Jawabannya adalah pernah. Namun, aku tak pernah berhenti berdoa. Karena aku sungguh yakin, Tuhan akan tetap mendengarkan.

Masih ingin aku lihat senyum itu, masih ingin kupeluk tubuh itu, masuk ingin kucium pipi dan punggung tangan itu, sungguh demi apapun masih ingin aku temukan ia yang memberi hangat tanpa diminta. Dan sekali lagi, aku menatapnya dengan hati pilu. “Ibu membahagiakanmu aku tidak akan pernah main-main.”

© Syarifah Aini (2016)

“Teman itu sangat berharga. Saya kehilangan kontak teman-teman saya yang dulu, entah dimana mereka sekarang. Saya dan mereka dulunya kompak, lalu ada seseorang masuk dan suka menghasut teman-teman saya. Kerja jauh dari istri, hidup ya sama teman-teman baru saat ini. Saling membantu kalau ada kesulitan, saling traktir minum kopi. Saya menjaga betul perkataan saya, memahami sifat setiap teman saya, kalau ada yang mudah tersinggung berarti tidak boleh mengejek berlebihan. Akhirnya saling mengerti satu sama lain.”

Notulensi Diskusi Online ASA Indonesia “Pentingnya Pendidikan Pra Nikah Sejak dini”

Pemateri (boomber) : Ikhsanun Kamil Pratama

Pernikahan harmonis, sesungguhnya bukan pernikahan yang tidak memiliki konflik sama sekali. Pernikahan harmonis adalah pernikahan yang memiliki konflik, dan ketika pasangan suami-istri memiliki kemampuan memanajemen setiap perbedaan yang ada. Memanajemen perbedaan adalah sebab terpenting dalam sebuah pernikahan, disebut menikah dewasa. 

Banyak orang berharap mendapatkan kebahagiaan dari pernikahan, tetapi fakta di lapangan tidak demikian. Hal tersebut diperparah dengan tidak adanya ilmu yang dimilki untuk memanajemen perbedaan yang ada. Kemenag mendapatkan data tahun 2015 bahwa satu dari lima pernikahan berakhir dengan perceraian. Kejadian tersebut merupakan kejadian yang masuk kategori pertama dalam hal jodoh. 

Jodoh kategori pertama hanya di dunia saja, tidak sampai akhirat karena berakhir dengan perceraian. Jodoh kategori dua, yaitu ketika di dunia selalu bersama, namun tidak sampai akhirat. Hal tersebut, tentu bukanlah hal yang diharapkan sehingga tidak cukup hanya sekedar bertemu jodoh, kemudian menikah. 

Banyak suami, istri, dan anak, hidup di dalam rumah yang sama, but they are homeless. Pernikahan harmonis dalam kasus ini tidak tercapai. Pernikahan harmonis yang kita bangun, kelak akan menjadi warisan terindah bagi anak-anak. Jodoh kategori tiga adalah jodoh di dunia yang harmonis dan dipertemukan di akhirat. Mereka kompak, harmonis, namun berakhir di neraka. Contohnya, yang tertulis di Al-quran, kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil. Mereka pasangan yang sangat kompak dalam menghina dan membully Rasulullah dan menentangnya.    

Dewasa ini, semakin terasa bahwa kita perlu mempunyai ilmu menjadi home untuk orang-orang disekitar kita. Latihan perdana sebelum menikah, adalah menjadi home untuk orang tua kita. Pondasi dasar dari jodoh dunia akhirat tidak datang begitu saja, namun perlu dibentuk dan diperjuangkan. Pondasi paling dasar adalah niat. Mungkin ini terkesan klise, namun ternyata sangat mempengaruhi segalanya. 

Niat itu seperti surat, salah tulis akan salah alamat. Ada orang yang ketika niat dimulutnya berucap karena ibadah, tapi hatinya berniat karena bosasn hidup sendiri. Apa yang riskan dari hal tersebut ? ketika menikah karena bosan hidup sendiri, akhirnya ada yang menemani. Namun, mulai kecewa berat ketika dihadapkan dalam sebuah kondisi yang sulit. 

Ada contoh lain, ketika berucap niat untuk menikah adalah untuk ibadah. Namun, dalam hati ternyata karena sudah lelah dan ingin kabur dari rumah. Ketika kita bicara tentang meluruskan niat, sebetulnya bukan hal yang klise. Tapi hal yang penting karena melibatkan suara hati, untuk menguaknya kita perlu kejujuran dan kerelaan hati.

 Jika menikah karena sudah betul-betul ingin beribadah, ini sungguh luar biasa dan kita perlu mengemudikan hati kita di jalan seperti ini. Lalu, maksud menikah karena ibadah itu seperti apa ? sebelum menjawab hal tersebut. Kita harus terlebih dahulu memahami, bahwa dalam hidup terdapat dua titik, yaitu kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Kedua hal itu, adalah hal yang pasti di dalam hidup. Inilah sebabnya pernikahan sering disebut menyempurnakan separuh agama. Ketika pernikahan terjadi, kebahagiaan bobotnya akan ditambah, kesedihan juga. Hak akan bertambah, kewajiban juga.

 Rezeki semakin bertambah, tentu juga sesekali akan diberikan kesempitan. Maka akan semakin tidak relevan jika menikah hanya sekedar untuk bahagia. Hal tersebut akan cenderung menjauhkan hati kita dari ketidakpastian menerima kekecewaan. Maka menikah untuk ibadah itu adalah ketika kita mengejar yang namanya berkah. Apa artinya berkah ? bertambahnya kebaikan disetiap kondisi. 

So, menikah untuk ibadah berarti kesiapan hati untuk menerima semua takdirNya dan berela hati untuk melakukan yang terbaik dari apapun yang ditakdirkanNya. Jika sudah siap, menikahlah dan kemudikan hati di jalan barokah. Setelah meluruskan niat, kita perlu belajar dan meng-upgrade diri dengan ilmu-ilmu, agar kita bisa membangun home untuk keluarga kita sendiri. Setelah meng-upgrade kita harus menyeleksi. Menikahi pasangan yang kita cintai itu kemungkinan, mencintai pasangan yang kita nikahi itu kewajiban.

 Diantara empat kategori jodoh, tentu kita menginginkan jodoh dunia sampai akhirat dan berkumpul di surga kan. Namun, melakukannya bukannlah hal yang mudah. Hal tersebut sangat BERHARGA. Ia perlu menundukkan nafsu, menyalakan logika, dan mengunakan nurani. Pondasi sederhananya, adalah niat. Bagaimana mengemudikan niat kita di jalan berkah. Berkah sebelum pernikahan dengan menjaga tidak berpacaran, berkah ketika proses menuju pernikahan, dan berkah pula setelah akad nikah teucap. Kita tidak akan bisa menyangka, ketika kita melakukan itu semua, kita bisa berjumpa dengan jodoh dunia akhirat, dan membangun rumah tangga surga. Sebuah rumah tangga yang seindah surga, sebuah rumah sebagai tangga menuju surga.

The Way I Lose Her: Ngamen!

Ada seseorang yang terus kamu jatuh cintai biar bagaimanapun keadaannya. Berkali-kali dilukakan olehnya tak lekas mampu membuatmu membencinya. Dan untukku; seseorang itu adalah kamu.

                                                       ===

.

Tak perlu waktu lama, berita itu pun langsung menyebar begitu cepat dari mulut satu panitia yang membawa HP ke panitia yang lain di sekitarnya. Begitu juga dengan gue dan Cloudy, dia menatap gue sebentar, gue balas menatapnya penuh tanya, tapi Cloudy juga tampak tidak mengerti. Tanpa pikir panjang gue langsung berlari ke dalam sekolahan sambil masih ribet membawa tumpukan banyak kertas disusul dengan Cloudy di belakang.

Ketika melewati lapangan basket, Ikhsan terlihat sedang turun dari genteng mirip kaya monyet baru beres ngegondol nangka lalu kemudian dia ikut berlari di sebelah gue juga.

“Ada apaan nih, Nyet?!” Tanya Ikhsan sambil mencoba memakai seragamnya kembali.

“Tau nih. Kayaknya penting banget.” Tukas gue seraya terus berlari.

Selang lima menit, keadaan menjadi riuh ramai di dalam ruang rapat. Seluruh panitia kelas tiga yang sampai sekarang masih belum hadir membuat para panitia kelas satu dan dua pada bertanya-tanya. Mereka ribut banget di dalam ruang rapat. Cloudy terlihat khawatir dan terus mencoba menghubungi ketua OSIS namun teleponnya tak kunjung diangkat.

Tiba-tiba, pintu ruang OSIS dibuka dengan begitu terburu-buru. Dari luar masuk para panitia kelas tiga dengan wajah yang begitu cemas. Seluruh kelas mendadak hening. Para panitia kelas tiga berdiri di sudut kelas sedangkan kang Ade langsung berdiri di depan kami semua. Cloudy yang tadi ada di sebelah gue langsung berlari dan berdiri juga bersama kakak kelas tiga yang lain.

“Siang.” Kang Ade mulai angkat bicara.

“Siang, kang.” Semua anak menjawab serentak.

Kang Ade menghela napas panjang sebentar.

“Kita mendapatkan berita buruk, teman-teman.”

Seluruh anak-anak semakin hening. Suara detak jam dinding serasa begitu nyaring.

“Dua orang sponsor utama kita menarik diri. Detailnya masih belum bisa saya kasih tahu, tapi secara garis besar mereka dengan terpaksa harus memutuskan kontrak dengan Bazzar kita. Dan berita buruknya adalah semua itu berimbas kepada divisi bendahara. Setelah melakukan kalkulasi ulang, kita benar-benar kekurangan dana yang cukup banyak.”

“…” Kami semua masih mencoba menyimak.

“Acara kita ini sudah tinggal menghitung hari, jadi sudah tidak mungkin mengalami perubahan yang signifikan, mengingat segala hal utama sudah tercetak dan kita sebar juga ke beberapa sekolah. Oleh karena itu, saya mau nanya apa ada yang punya usul dari mana kita bisa mendapatkan dana tambahan?” Tanya kang Ade.

Kelas sempat diam sebentar, sebelum tiba-tiba mereka saling ricuh memberikan pendapat. Ada yang berdiskusi, ada yang langsung mengusulkan usul yang ada di kepala mereka. Segala ide cemerlang dan ide goblok muncul di satu waktu. Ada yang mengusulkan kami untuk menarik sumbangan dari anak-anak kelas, ada yang usul buka kedai Nasi Padang di depan sekolahan (ini sudah dapat dipastikan usul Ikhsan.), ada yang usul jualan Donat ke kelas-kelas, ada yang usul kencleng Jumat dijadikan uang tambahan buat Bazzar (ini usul gue, biar Bazzar kami jadi Bazzar syariah.), ada yang usul ngamen di jalan, bahkan ada juga yang mengusulkan meminta sumbangan dari orang tua murid.

Setelah berdiskusi cukup lama, kang Ade lalu menenangkan para panitia yang masih pada ribut itu.

“Setelah menimbang dan memilah, kami setuju dengan beberapa usul yang kalian berikan. Yang pertama adalah, selama beberapa hari ke depan akan ada giliran tugas untuk masuk ke kelas-kelas dan berjualan jajanan pasar, nanti akan saya buat divisi khusus yang bertanggung jawab atas makanan yang dijual. Kedua, kami ambil usul kalian yang tentang mengamen itu. Dan setelah sempat saya diskusikan dengan teman-teman yang lain, saya menugaskan kalian para panitia, hari sabtu malam minggu ini, kita akan ngamen bareng di perempatan lampu merah Dago, tepatnya di dekat mall Planet Dago (Dago Plaza), Bandung. (Saat ini lebih tepatnya di dekat daerah Dukomsel, dan depan Pizza Hut/Hanamasa Dago, Bandung.)”

Kami semua terdiam. Beberapa ada yang langsung berdiskusi dengan teman di sebelahnya tentang perintah yang baru saja dikeluarkan oleh kang Ade. Sedangkan gue dan Ikhsan malah terlihat exciting banget! Gimana enggak, ini bakal jadi acara yang super duper rame! Teriak-teriak di jalanan terus main gitar sambil nyanyi-nyanyi di malam sabtu di kota Bandung yang pasti sejuk dan enak banget!

Tak perlu waktu lama, pada akhirnya kami semua setuju untuk ngamen bareng sabtu malam nanti.

.

                                                                        ===

.

Sabtu
17.00

Setelah memarkirkan motor gue di parkiran mall Plago (Planet Dago), gue langsung bergegas menuju meeting point anak-anak panitia yang berada tepat di halaman mall Plago ini. Di sana gue lihat sudah ada Ikhsan dan anak-anak panitia yang lain. Ada yang bawa makanan, ada yang jajan, ada juga yang lagi ngerokok asik sambil nongkrong di bawah pohon. Dari jauh rasanya gue melihat sosok yang sudah tidak asing lagi. Di sebelah Ikhsan tengah berdiri seseorang dengan badan yang agak berisi. Rasa-rasanya gue kenal nih.

Ketika gue berjalan semakin mendekat, betapa terkejutnya gue ketika melihat ada sosok Bobby di sana. Doi datang sambil membawa Jimbe kesayangannya. Gue langsung loncat ke arah Bobby dan memeluknya, emang orang gendut tuh paling enak buat dipeluk ya. Empuk banget!

“Wah Bob, lo kan bukan panitia? Kenapa bisa ikut ngamen, Bob?” Tanya gue sambil terus ngusap-ngusap perut Bobby.

“Noh, gue diajak si Ikhsan.” Jawab Bobby.

“Emang boleh, San, bawa orang luar?” Tanya gue lagi.

“Boleh kok, gue udah izin sama kang Ade.”

“Waaah bagus deh, gue makin semangat nih! Lo dateng ke sini naik apa, Bob?”

“Mobil.”

“Sendirian?” Tanya gue lagi.

“Enggak. Berdua kok.”

“Lha, sama sape?”

Belum sempat Bobby menjawab, dari jauh terdengar seseorang memanggil ke arah kami bertiga.

“OOOOIIII!!! Gue cariin ternyata lagi pada di sini!”

Tiba-tiba dari depan gue ada sosok yang membuat gue langsung terperangah luar biasa.

“Bob, Nih kunci mobil lo. Thanks yak.” Ucapnya sambil menyerahkan kunci mobil ke arah Bobby.

“Udah ngambil tas-nya?” Tanya Bobby.

“Udah.” Katanya sambil tersenyum, lalu sebentar kemudian ia melihat ke arah gue. “Mukanya biasa aja kali. Kaya lagi liat siapa aja.” Sindirnya.

“…”

Dalam keadaan yang masih tertegun, diam-diam gue melirik ke arah Ikhsan. Ikhsan juga melirik ke arah gue sambil masih nyetem gitar yang ia bawa dari rumahnya.

“Ini kenapa bisa ada Ipeh di sini?” Tanya gue tanpa bersuara ke arah Ikhsan.

Ikhsan cuma geleng-geleng.

“Mana gue tau?! Gue cuma ngundang si Bobby, eh nih kuntilanak malah main ikut aje!” Jawab Ikhsan tanpa suara juga.

“Nanti kan ada Cloudy juga?! Lha terus ini gimana dong?!”

“Gue nggak tanggung jawab ah..” Jawab Ikhsan sambil berlalu begitu saja.

BHANGKE!! SAHABAT MACAM APA DIA!!
ADUUH!!
BAKAL SECAPEK APA GUE NANTI MALAM YA TUHAAAAN…

Dengan cepat gue langsung menengok ke arah Ipeh. “Kenapa elo bisa ada di sini, Peh?” Tanya gue heran.

“Diajak Bobby.” Jawabnya sambil tersenyum riang.

“Masa sih, Bob?” Gue melirik ke arah Bobby.

“Bohong, nih begundal yang ngerengek pengen ikut.”

“Tuh kan. Tamu nggak di undang berarti elu itu, Peh.” Tiba-tiba Ikhsan datang dari belakang dan langsung ikutan memojokkan Ipeh.

“Ya biarin dong. Bobby aja boleh datang masa gue enggak? Diskriminasi!”

“Ya kan emang gue ngajaknya cuma si Bobby doang, berarti Bobby dah dapet izin. Nah elo? Udah kaya toge dalam tahu aja lo, tiba-tiba muncul di tempat yang nggak tepat. Gimana nih, Dim? Pulangin aja dia ke rumahnya?”

“Hmm…” Gue pura-pura mikir.

“Ayolah, Mbe… Boleh ya? Lagian masa elo tega sih nyuruh gue pulang sore-sore begini.” Rengek Ipeh.

“Nggak bisa Peh, gue sebagai panitia yang dengan jobdesc Kontraktor harus menyeleksi siapa saja yang berhak ikut acara ngamen agar acara ini berjalan kondusif.” Kata gue penuh wibawa.

“Hah? Kontraktor?”

“Iya, Kontraktor. Itu loh ketua yang ngurus-ngurus jalannya acara.”

“ITU KORDINATOR, KUYA!!!” Teriak mereka bertiga kompak di telinga gue.

“…”

Akhirnya karena nggak tega, gue izinin Ipeh untuk ikut meramaikan acara ngamen malam ini, lagian gue rasa kehadiran Ipeh mampu membuat ngamen hari ini berjalan lebih ramai. Ipeh ini paling ahli dalam membangun suasana agar lebih ceria soalnya.

Acara ngamen akan dimulai sekitar selepas Isya nanti, karena mengingat jam-jam segitu biasanya daerah Dago ini bakal penuh dengan mobil dan tak jarang menimbulkan kemacetan. Nah kebetulan banget, jalanan macet adalah sesuatu yang kami tunggu-tunggu untuk kegiatan ngamen malam hari nanti.

Sekarang jam masih menunjukkan pukul lima sore. Beberapa anak panitia masih banyak yang belum datang, tapi ada juga yang sudah asik nongkrong-nongkrong sambil ketawa-ketiwi di berbagai sudut mall Plago. Suasana Bandung sore ini begitu cerah, langitnya begitu biru diselingi awan dan matahari yang bersembunyi di belakangnya. Semua keindahan itu turut andil dalam membuat sore hari ini begitu sejuk dan nyaman. Tipikal udara Bandung yang seperti biasanya.

Bandung yang memang terkenal karena udara sejuknya itu membuat sore hari ini semakin menawan. Beberapa pohon besar yang berdiri di pinggir trotoar membuat polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor tak begitu terasa.

Sekarang gue lagi berdiri di sini, di balkon lantai dua menatap kosong ke arah jalanan. Di bawah gue terlihat banyak sekali anak dari sekolah kami sedang berlalu-lalang. Ada yang jajan, ada yang mulai main musik sendiri, ada yang rokokan, ada juga yang jalan-jalan di dalam Mall.

Dari atas gue bisa melihat Ikhsan dan Bobby sedang asik dengan teman-teman barunya. Ikhsan bermain gitar, Bobby bermain Jimbe, sedangkan teman-teman yang lain pada bernyanyi mengiringi. Kang Acil terlihat sedang duduk mojok di kursi kayu sambil menatap fokus ke arah HP-nya yang gue tahu doi sedang menonton film apa; Film Budidaya Ikan Sidat. Juga gue melihat dari sebrang jalan ada Mai dengan poni khas-nya; Baru turun dari angkot, lalu kini sedang celingak-celinguk berusaha untuk menyebrang jalan.

Gue menghirup dalam-dalam aroma Bandung sore ini. Fuuuh.. begitu segar rasanya. Sedang asik-asiknya memperhatikan keadaan sekitar, tiba-tiba mata gue menangkap satu sosok yang sedang duduk sendirian di teras depan Mall Plago. Anak perempuan berperawakan mungil, rambutnya pendek sebahu, pipinya embem, mengenakan tas ransel berwarna merah, memakai kaos oblong putih dan celana jeans biru usang. Ia duduk sendirian di sana sambil memegang sebuah minuman Ice Tea Bubble yang saat itu sedang ngetren pada masanya.

Gue memperhatikannya sebentar dari atas sana. Gue lihat ia sedang merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel kesayangannya. Ia terlihat sedang mengetik sesuatu sebelum kemudian ada suara SMS masuk ke HP gue.

“Dimanaaaa? Temenin gue :(“ Tulisnya di SMS itu.

Gue tersenyum membacanya. Membaca sebuah SMS dari cewek pemenang kejuaraan karate antar SMA tapi paling takut kalau ditinggal sendirian seperti itu. Setelah memasukan HP ke dalam saku lagi, dengan cepat gue turun ke lantai satu lalu mampir sebentar ke kedai penjual minuman Bubble untuk membeli minuman yang sama seperti yang Ipeh beli tadi.

Setelah pesanan gue datang, gue diam-diam berjalan menghampirinya. Belum sempat menyadari gue ada di belakangnya, gue tempelkan minuman dingin yang sedang gue pegang itu ke pipi kiri Ipeh. Sontak Ipeh terkejut, menatap gue sebentar, lalu langsung memasang wajah cemberut.

“Dih kok cemberut.” Tanya gue yang lalu duduk di sebelahnya.

“Dingin tau! Lagian itu berair, bedak gue nanti luntur ih!” Jawabnya ketus.

“Duileee, sejak kapan lo jadi centil begini pake bedak segala? Lagian Nona ini mau ke mana sih pake bedak segala? Ada angin apa hayooo?” Tanya gue lagi sambil menyeruput minuman itu.

“Gapapa dong. Protes aja lu.”

Gue hanya terkekeh mendengarnya marah-marah. Setelah percakapan sebentar tadi, kini kami berdua terdiam menatap ke arah jalanan yang sama. Tak ada sepatah kata pun terucap di antara bibir kami berdua. Ipeh menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang tengah selonjoran itu.

“Tumben, Peh lo bisa keluar jam segini?” Tiba-tiba gue memutuskan untuk membuka percakapan.

Ipeh menengok ke arah gue, “Iya, tadi udah izin kok. Lagian gue bosen, Mbe, di rumah mulu.”

“Loh? Emang sekarang udah jarang keluar?”

Ipeh mengangguk-angguk.

“Hoo.. Emang kegiatan lo belakangan ini apa sih?” Tanya gue lagi.

Namun belum sempat Ipeh menjawab, gue kembali melontarkan pernyataan.

“Belakangan ini, rasa-rasanya gue jadi nggak tahu kegiatan lo apa. Apa yang lo lakuin hari ini, ke mana lo pergi, hari ini sudah melakukan apa saja, gue nggak tahu lagi.” Gue menyeruput minuman gue dalam-dalam.

“Kak Ai apa kabar?” Gue kembali melihat ke arahnya.

“Alhamdulillah baik kok.”

“Mbak Afi?”

“Baik juga.”

“Kalau Hanifa?” Gue mendekatkan muka gue ke arahnya.

Ipeh melirik sebentar lalu tertawa kecil, “Buruk nih!” Jawabnya keras sambil menaikkan kedua tangannya guna melakukan peregangan sambil duduk.

“Yaaah rasanya buruk mulu deh keadaan lo. Bahagia dong lo sekali-kali!” Ledek gue.

“Ya habis mau gimana lagi? Bahagia gue lagi pergi entah ke mana sih.”

“Ke mana emang?”

“Hinggap di hati orang lain..”

“Beuuuh… Terus kal..”

“Hayo! Mau mancing-mancing apa lagi lo?!” Belum sempat merampungkan pertanyaan, Ipeh langsung memotong sambil noyor-noyor jidat gue pake jari telunjuknya.

“Hahahahahahahahahaha sialan. Strategi gue ketebak.”

“Fuuuh, basi! Udah kagak mempan!”

“Hehehe, oh iya btw Peh, lo udah izin sama kak Ai atau mbak Afi? Hari ini lo mau pulang jam berapa? Ini bisa sampai malem loh. Bayangin aja acaranya juga dimulai jam tujuh. Kan lo nggak boleh keluar malem setahu gue.”

“Tenang..” Ipeh menepuk-nepuk pundak gue. “Gue udah dapet izin kok..” Lanjutnya bangga.

“…” Gue menatapnya curiga. “Lo izin apaan?” Tanya gue lagi.

“Gue izin keluarnya sama lo. Bhahahahak… Gue bilang kalau ada apa-apa, yang tanggung jawab Dimas.” Ipeh tertawa puas sekali.

“BAH!! Seenaknya aja lu main atur hidup orang!”

“Hahahah ya abis mau gimana lagi, Mbe, orang mereka percayanya cuma sama elo doang.”

“Ah elo, bagian kagak enaknya selalu aja dikasih ke gue.”

“Pahala, Mbe.. Pahala.. Lo udah banyak dosanya, bantu orang sekali-sekali kek biar ringanan dikit itu catatan malaikat di kiri. ”

“Pahala pahala gundulmu! Gue ini anaknya sholeh, Nyet! Gue lahiran bukan lewat Rahim, tapi lewat jembatan Shirotol Mustaqim!”

“Bhahahahahahak begok!” Ipeh tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan gue barusan.

Kami berdua tertawa sore hari itu. Setelah percakapan barusan, suasana kami berdua semakin hangat. Ipeh mulai menceritakan kegiatan sehari-harinya yang sempat tidak gue tahu itu, dan gue juga mulai asik curhat panjang lebar mengenai lelahnya mengurusi Bazzar selama beberapa minggu ke belakang ini.

Lambat laun matahari semakin tenggelam di ufuk barat, anak-anak mulai berhenti melakukan aktifitasnya dan pada memilih untuk duduk bersama di satu tempat, beberapa ada juga yang melaksanakan sholat Magrhib terlebih dahulu. Ketika kang Ade sudah datang, kini semua terfokus pada satu tujuan yang sama, ngamen dan ngumpulin uang sebanyak-banyaknya untuk menunjang jalannya Bazzar kami nanti.

Kami duduk di sebuah kursi kayu panjang yang telah disediakan oleh pihak pengelola Mall. Kang Ade seperti biasa berdiri di depan didampingi oleh kang Acil yang kini celanannya sudah tidak berbentuk lagi lantaran film yang ia tonton di HP-nya barusan.

“Oke saya rasa sudah banyak sekali anak-anak panitia maupun non panitia yang datang sore hari ini. Jadi kita mulai saja ya. Jadi begini, sebelum kita pada ngamen berjamaah nanti malam, ada baiknya kita bagi jadi beberapa tim terlebih dahulu. Tiap tim terdiri dari 6 sampai 7 orang. Silakan kalian tentukan sendiri siapa-siapa anggota tim kalian.” Tukas kang Ade.

Tak perlu waktu lama untuk membuat tempat rapat dadakan yang tadinya sempat hening menjadi riuh tak terkendali. Gue sih sudah pasti ikut geng Keledai gue. Si Ikhsan, Bobby, Ipeh, dan beberapa teman Ikhsan dari kelas lain juga.

Setelah merasa kelompok kecil ini telah terbentuk, kami mulai berdiskusi bersama. Dari yang namanya ingin menyanyikan lagu apa, tempat ngamen di posisi mana, cara ngamennya seperti apa, dan masih banyak lagi. Kini kami semua hanya tinggal menunggu jam 7 datang lalu setelah itu saling berpencar untuk ngamen di tempat pilihannya masing-masing.

.

                                                                ===

.

Ketika gue lagi asik latihan nyanyi-nyanyi bareng sama Ikhsan dan teman-teman yang lain, kang Acil mendatangi gue dan mengajak gue untuk berbicara sebentar di belakang. Tanpa pikir panjang gue langsung mengiyakan dan mengikuti kang Acil menjauh dari teman-teman yang lain.

“Ada apa, Kang?” Tanya gue.

Kang Acil mendekat ke arah gue. “Dim, lo liat Cloudy?” Tanyanya

Eh? Cloudy? Iya juga ya, sedari tadi kok gue nggak lihat batang hidungnya? Biasanya Cloudy paling cepat datang di sebuah rapat atau acara seperti ini. Tapi jarang-jarang dia bisa terlambat seperti ini. Gue coba lihat ke dalam inbox sms gue, tapi di sana tidak ada sama sekali sms dari dia.

Gue menjawab sambil geleng-geleng, “Nggak liat, Kang. Dia nggak nge-sms saya juga soalnya.”

“Waduh, kemana ya tuh anak. Padahal gue rasa tuh anak kalau ikut acara ini pasti ngehasilin duitnya banyak.” Kata kang Acil menggaruk kepala.

Mendengar hal itu, gue langsung ketawa. “Iya juga ya, Kang. Pasti pada pengin ngasih uang kalau dia yang minta mah.”

“Hahahah nah maka dari itu. Yaudah tolong lo sms-in dia atau telepon atau apa kek, tanyain dia ada di mana. Kalau udah ada kabar, lo langsung bilang ke gue yak.” Sambung kang Acil lagi.

Gue terdiam menatap ke arah sisi jalan yang lain tanpa menjawab pertanyaan kang Acil barusan.

“Heh, jawab oi!” Kata kang Acil.

“Kayaknya nggak usah dicariin deh, Kang. Noh panjang umur noh orangnya. Doi baru dateng tuh.” Kata gue sambil menunjuk ke sisi jalan.

Sontak kang Acil langsung menengok ke arah yang gue maksudkan.

“Ah panjang umur tuh anak. Yaudah gue samperin dia dulu ya.” Kata kang Acil semangat.

“Okee..” Jawab gue lalu kembali ngumpul lagi sama temen-temen yang lain.

Tak perlu menunggu cukup lama, kini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Semua anak-anak sudah pada bersiap-siap di halaman mall Plago buat briefing yang terakhir kalinya. Gue dan Ikhsan terlihat begitu exciting, termasuk juga Ipeh. Dari tadi tidak henti-hentinya Ipeh terlihat begitu ceria di samping gue. Nempel terus kaya nasi sama centongnya.

“Mbe, taruhan deh. Hari ini kita dapet berapa?” Tanya Ipeh bisik-bisik.

“Tujuh puluh ribu sih dapet.” Kata gue.

“Oke, gue pegang 100 ribu kalau gitu.”

“Oke deal ya. Yang menang dapet apa nih?” Tanya gue.

“Hmm.. Teh Kotak?”

“Ah bosen ah. Gimana kalau yang menang boleh nginep di kamar yang kalah?”

“Ah itu sih enak di elu, kuya!” Kepala gue dikeprak pake botol aqua kosong yang sudah Ipeh isi sama kerikil.

Gue dan Ipeh lanjut ketawa-ketawa, begitu juga Ikhsan yang sekarang ikut nimbrung. Kang Ade sudah mempersilakan kami semua untuk mulai ngamen. Tidak ada aturan yang kang Ade berikan, alias kami dibiarkan bekreasi sebebas mungkin.

Namun, baru saja gue sedang siap-siap untuk melangkah menembus arah kemacetan, tiba-tiba langkah tim gue terhenti. Di depan gue sekarang sedang ada seseorang yang mendadak datang dan diam begitu saja.

“Dimas.” Panggilnya dingin.

Melihat kehadirannya, Ipeh yang tadi masih ketawa-tawa kini langsung memasang wajah bete.

“Mau apa lu di sini?” Tanya Ipeh ketus.

.

.

.

                                                     Bersambung
                                          (besok di jam yang sama)

Previous Story: Here

cahari

“Tolerance is giving to every other human being every right that you claim for yourself"

Taun lalu, kelas perkuliahan yang saya asuh kedatangan tamu spesial. Beliau adalah seorang pengusaha paruh baya yang telah menggeluti bisnis teknik lebih dari satu dasawarsa. Kisah-kisah kegagalan di masa lalu disampaikannya untuk membuka sharing session di depan puluhan mahasiswa kewirausahaan tingkat akhir.

Beliau membandingkan hidup seorang wirausahawan dan karyawan dari sudut pandangnya. Ucapnya sembari tertawa kecil, “Kalau jadi wirausahawan, mau liburan santai bisa kapan aja. Enggak harus nunggu akhir minggu. Lain dengan karyawan, liburnya cuma akhir minggu atau tanggal merah. Tempat wisatanya udah penuh pula”. Sebagai sesama wirausahawan, saya cukup kaget dengan penyampaiannya. 

Kalau keleluasaan yang diperolehnya memang menyenangkan, semestinya beliau enggak perlu mengunggulkan profesi pribadi dengan merendahkan profesi lain. Lanjutnya lagi, “Kalau jadi wirausahawan, ngatur waktu sama keluarga lebih leluasa juga. Enggak harus nunggu jam lima sore. Lain dengan karyawan, baru santai jam lima lewat. Alhasil, tenaga, waktu dan pikiran untuk keluarga tinggal yang sisa aja”. Rasanya, merana sekali jalan hidup para karyawan dari gambaran beliau. Sambil menyimak, saya cuma membatin di baris belakang. Khawatir ada sebagian mahasiswa yang mengamini pemikiran sempit itu.

Nyatanya, merendahkan orang lain enggak pernah membuatmu betul-betul jadi lebih tinggi. Kalau iya, harusnya mereka yang congkak jadi figur paling dihormati. Saat seseorang menghina pilihan lain untuk mengunggulkan pilihannya, keyakinannya malah terlihat rapuh. Kita enggak perlu membandingkan jalan hidup satu sama lain karena pada setiap kenikmatan yang dikaruniakan-Nya ada beban tanggung jawabnya tersendiri.

Urusan pekerjaan enggak seharusnya membuat kita meninggi karena pekerjaan juga merupakan titipan-Nya untuk dipergunakan sebagai sarana menjemput rejeki. Mereka yang menyombongkan pekerjaannya, amat rentan mengecilkan ikhtiar orang lain. Enggak heran kalau masih banyak oknum yang meremehkan keberadaan asisten rumah tangga, petugas kebersihan, supir atau juru parkir. Dengan medan yang berbeda-beda, setiap orang berjuang setengah mati untuk menafkahi keluarganya.

Tersebutlah cerita yang masuk lewat sebuah grup percakapan. Ada seorang murid SD bernama Ceria yang dari awal sekolah selalu meraih peringkat ke-23 dari 25 siswa. Cita-citanya untuk menjadi jadi guru TK dan ibu rumah tangga dipandang rendah oleh keluarganya. Kedua orang tuanya yang gagal paham dengan cita-cita yang terlalu sederhana itu, mendorong sang anak untuk terus belajar tanpa henti.

Karenanya, Ceria pun jatuh sakit dan kedua orang tuanya tersadar bahwa ambisi keras mereka berujung petaka. Setelah kepayahan yang hebat itu, peringkat Ceria di akhir semester berikutnya pun enggak bergeming. Di luar dugaan, wali kelas Ceria mengungkap hasil jajak pendapat murid sekelas dengan judul, “Siapa Teman Sekelas yang Paling Kamu Kagumi & Apa Alasannya?”. 24 siswa di kelas kompak menulis, “Ceria”. Mereka bilang, Ceria senang membantu teman, memberi semangat, menghibur dan enak diajak berkawan. 

Puji wali kelasnya, “Anak ibu-bapak kalau bertingkah laku benar-benar nomor satu”. Tersentuhlah hati orang tuanya. Ternyata selama ini Ceria menyimpan kebaikan yang luput dari pandangan mereka. Sang ibu pun menyemangati anaknya, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan, Nak”. Ceria hanya menjawab, “Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah: ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan. Aku tidak mau jadi pahlawan, aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan, Bu”.

Lewat mata pencaharian, kita bernyala dengan pijar masing-masing. Sebagian jadi api yang mengunggun bangga, sebagian lain jadi pendar di tengah gulita. Sebagian jadi pemimpin yang gemilang, sebagian lagi jadi pengikut yang cemerlang. Ada peran yang dibagi, ada kebermanfaatan yang terdistribusi.

Selama ikhtiarnya halal, enggak ada alasan untuk mengaitkan mata pencaharian seseorang dengan kehormatannya. Toh masih banyak mereka yang menyandang posisi terhormat tapi abai menyandang martabat. Karena martabat enggak pernah ditentukan oleh tinggi-rendahnya posisi di mata sesama, melainkan berapa lama kebaikan bisa menetap atas hal-hal yang telah diperbuat dengan mengharap rida-Nya.

anonymous asked:

Assalamualaikum mba jagung Menurut mba , seberapa penting rasa ketertarikan d awal waktu ada yg melamar ? Kalau seandainya mba d lamar dgn org yg mba sendiri ga ada rasa tertarik, mba akan lanjut atau langsung berhenti? Terima kasih sebelumnya

Waalaikumsalam.

Buat saya pribadi, penting tapi tidak sepenting itu untuk menjadi yang utama. Justru lebih baik kalau belum tertarik, niatnya bisa lebih bersih. Yah ini hanya idealnya, kalau ga bisa se ideal itu ya gapapa, manusia kan imannya fluktuatif.

Selama visi misi sesuai, fisiknya meski ga ganteng tapi cukup (buat mata saya), value memandang agama sejalan, cita2 berkeluarganya bisa sejalan, value nya memandang ‘harta dan uang’ itu kompak, dan bertanggung jawab sebagai lelaki, saya no problemo. Saya akan lanjut selama saat itu tidak ada komitmen dengan orang lain. Perempuan itu setahu saya lebih gampang kok, bisa jatuh cinta belakangan. Ya kalo liat lakik tanggung jawab, sayang keluarga, berani nanggung perwalian perempuannya, duuhh klepek klepeknya gampang.

Dia berani melamar saja, buat saya itu udah poin plus banget. Ga semua lelaki dibekali keberanian gitu. Tapi sebelum nerima, cek dulu deh visi misi, value, dan kriteria2 urgent yang harus terpenuhi. 

Ciee, Anon dilamar ya? Undang2 yakk

Walaupun nggak islam islam banget, apa yang tergambar di foto ini, luar biasa parah. Dalam beda, se-umat-umat bisa segitunya kompak. Gue nggak mempermasalahkan, bahkan amaze, kok bisa. Kagum parah. Mereka jalan kaki dari tempat yang bisa bikin lutut jadi tremor. Lebih milih bangun pagi, pegel, keujanan lalala nanana, daripada lenjeh lenjeh dan gelehean. Whoa!

Kalo gue diajak, gue jelas gak mau. Bukan gak cinta islam. Gue sangat berpegang teguh aja sama “permudah jangan dipersulit”. Jadi kalaupun emang harus ikut, gue akan milih naik grab, gojek, atau becak, yang penting gak jalan ~~~/o/

Mengenai betapa keren bangetnya acara ini, udah banyak dibahas. Dari ceramah ulama, komentar celetukan netizen, berita di tv tv, dimana mana. Tapi ada satu yang terlupa, -tanpa menjadi pengkhianat islam-, adakah yang inget kalo Ahok bakal lagi bener bener ngerasa sendirian? 

I ever ngerasa se-sendirian itu, dipojokkan kehidupan, gak ada pegangan, memeluk lutut dalam gigil roman roman kehilangan, I ever. Jadi, Om Basuki. Semangat. Badai gak mungkin sama sekali gak berhenti ‘-’)/

The Way I Lose Her: Mrs. Curiosity

Tak ada sesal bertemu denganmu. Kisahku tak akan semanis ini jika dulu kau pergi. Kelak perkenalkanlah aku pada duniamu, sebagai seseorang yg berterimakasih karena telah kau sakiti.

                                                    ===

.

Matahari siang semakin gagah mengepakan sayapnya di angkasa. Saup-saup Adzan Dzuhur mulai terdengar dikumandangkan oleh Masjid besar yg tak jauh dari sekolah. Anak-anak baru pun diberikan waktu untuk menunaikan ibadah sholat atau untuk sekedar makan siang di kantin sekolah.

Sambil terus memandang dengan pandangan hampa, badan gue berjalan sendiri keluar kelas menuju mushola kecil kebanggan SMA ini. Siang ini mata tampaknya sudah tidak lagi mencari benih-benih bibit cabe yg bisa di-pdkt-in selama perjalanan menuju mushola.

Padahal jam-jam segini adalah jam-jamnnya chiki-chiki SMA dengan rok mini pada keluar dari kelas untuk sekedar nongkrong-nongkrong di depan kelas atau di pendopo. 

Gak banyak lama, sesampainya di depan mushola, gue copot sepatu converse lecek gue dan langsung mengambil air wudhu. Mushola SMA gue emang kecil, bekas sebuah kelas yg kayaknya dijadikan sebuah mushola secara sepihak oleh pihak sekolah. Maka dari itu untuk wudhu pun hanya ada 5 pancuran keran. Alhasil gue harus ngantri dulu.

Di depan gue ada kakak kelas badannya mirip kaya toren aer warna oren dengan gambar lumba-lumba yg suka ada di atap rumah itu. Dan kampretnya lagi, doi lagi keringetan. Lo tau kan kalau orang gemuk terus keringetan itu baunya kaya apa? beuuuh… mirip kaya cilok gak dimakan 2 hari. Empuk, beraer, dan bau anyir.

Gak berakhir begitu saja, di belakang dan samping gue isinya penuh sama anak-anak dengan baju SMP. Mereka yg sudah nyeker dan pada mau wudhu ini menyebabkan polusi pernafasan. Kaki-kaki hitam penuh daki tampak mengeluarkan bau mayat.

Mungkin mayat juga bakal terhina kalau dia dibilang mirip sama bau kaki anak-anak saat itu. Sumpah, mau sholat aja gue harus merasakan seperti lagi Naik Haji. Penuh dengan cobaan yg berat..

Gue berasa lagi SA'I dari bukit Shafa ke bukit Marwah.

.

                                                       ===

.

Untuk sholat pun gue harus menunggu giliran. Udah kaya antri di bank BCA. Tapi ntah langit lagi seneng sama gue atau gimana, waktu gue sholat gue bersebelahan dengan cowok.

YA IYALAH!!

Kebetulan cowok di sebelah gue itu ternyata anak yg bawa buku Pribahasa sebagai jawaban dari clue makanan tadi siang.

Ya..
Ikhsan.

Dia khusu banget kalau lagi sholat. Ciri khas doi kalau sholat adalah waktu bagian ruku, doi pasti nunduk banget sampe bawah. Mirip kaya sikap lilin tapi dibalik 90 drajat.

Setelah menyentuh attahiyatul akhir dan Imam menyerukan salam, gue mengikuti dengan khidmat, tapi tidak dengan Ikhsan. Ketika yg lain udah salam dan selesai attahiyat, doi masih aja melakukan attahiyat. Ntah ayat apa yg dia baca, pengen rasanya gue negor doi, “Bro, panjang amat ayatnya. Ketiduran lu?” Tapi gue batalkan niat tersebut.

Kekhusuan Ikhsan dalam membaca ayat-ayat kadang sering menimbulkan kisah awkward di antara kita berdua. Salah satunya adalah ketika dia lagi ada di sebelah kiri gue. Waktu gue lagi salam kedua dan nengok kearah kiri, Ikhsan baru selesai attahiyat dan melakukan salam sambil menengok kearah kanan.

Alhasil tanpa sengaja kita saling berpandangan. 
Mata kita saling menatap.
Merpati putih terbang di belakang kita berdua.
Sakura berguguran.
Gue menatap Ikhsan.
Ikhsan Menatap Gue
Mulut kita tidak berkata apa-apa. 
Ada perasaan tak tergambarkan ketika matanya menatap mata gue penuh makna. Baru juga selesai sholat, mata gue udah berdosa lagi gara-gara ngeliat dia. 

.

                                                              ===

.

“Bro, nyadar gak sih lu?" 

Tiba-tiba ada seseorang yg membuat gue sedikit terkejut ketika sedang serius memakai sepatu di pendopo sekolah yg terletak tidak jauh dari mushola.

"Eh elo, nyadar paan?”

“Lo diliatin noh..” Ujar ikhsan sembari menunjuk dengan dagunya kearah seeorang cewek yg lagi mau wudhu.

Gue yg penasaran pun secara otomatis langsung melihat kearah cewek tersebut.

“Rasa-rasanya gue pernah liat deh. Dimana yak" tanya gue.

"Sama gue juga. Yg duduk di barisan kedua setelah kita itu bukan sih?”

“Bentar-bentar gue inget-inget dulu”

“Ah elo, elo kan sering maju ke depan kelas. Masa gak inget wajah anak-anak kelompok sendiri.”

“Asem lo. Nyindir gue? pfft”

“Hahahaha sebagai geng duo goblok, kita harus kompak.” Ujar Ikhsan menepuk pundak gue sambil berlalu menuju kelas.

Ntah kenapa, walaupun belum terlalu kenal, rasa-rasanya gue ada chemistry tiap ngomong sama tuh anak. Gue lihat kearah jam tangan, waktu sudah menunjukkan pukul Satu siang. Tanpa pikir panjang gue langsung capcus menuju kelas.

Dan kali ini berbeda, selama perjalanan, gue cukup menelaah keadaan sekitar. Setidaknya ini adalah penyegar mata setelah sempat tidak sengaja tatapan mata sama si Ikhsan di mushola. 

Nggak lama, gue lebih memilih duduk dan diam saja seperti biasa. Nggak berbicara sama yg lain, atau pun mainan HP. Ikhsan juga kayaknya lagi asik sama teman-teman barunya. Mata gue terpaku ke arah pintu, melihat siapa saja yg lalu lalang di depan kelas.

Hal ini tanpa sengaja membuat gue bertemu pandangan sama seorang cewek yg gue jumpai tadi ketika dia sedang wudhu di Mushola. Anaknya nggak terlalu putih, tapi agak coklat, badannya nggak gemuk tapi nggak kurus-kurus amat, dia memakai kacamata layaknya anak yg memang hebat pada bidang akademis. Beda sama gue.

Pada dasarnya setiap orang yg masuk kelas pasti nggak akan melihat kearah orang lain, mereka lebih memilih untuk langsung menuju tempat duduk mereka masing-masing. Tapi sesuai kata Ikhsan, gue ngerasa ada yg beda sama cewek ini. 

Sesaat setelah melalui pintu, dia langsung melihat kearah gue yg tanpa dia sadari gue sudah lebih dahulu melihat kearahnya. Sontak ia terkejut. Ia langsung melepaskan pandangannya dan duduk bersama teman-temannya.

.

                                                           ===

.

Latihan yel-yel terakhir hari ini akhirnya dilakukan juga. Gue disuruh mengisi barisan ke 2 dari 3 barisan yg ada. Pembimbing mentor gue mengatakan bahwa lebih baik setiap satu cewek diselingi satu cowok, biar imbang.

Gue memilih di paling ujung, karena gue males diapit sama orang. Selagi menunggu mentor gue yg rempong abis itu ngatur barisan, mata gue tertuju pada anak cewek tadi. 

Sesekali kita berpandangan, lalu lepas. Berpandangan lagi, lalu lepas lagi. Hingga kemudian, ketika ia mendapat giliran untuk mengisi barisan, ia langsung berdiri dan berjalan kearah gue.

Dia berjalan cepat sambil menunduk dan mengisi satu tempat kosong tepat di depan gue. Wuih kaget juga. Tapi gue perhatiin anak ini lucu loh, rambutnya panjang terurai dan agak keriting.

“WAH!!” mendadak gue terkejut di dalam hati..

“Tali BH-nya warna pink!!" 

Astagfirullah.. kenapa gue malah ngeliat kearah sana. Asem nih cewek, bikin pikiran gue yg udah suci menjadi kembali kotor. 

.

"Hei..” gue menyentuh pundaknya yg tepat ada di depan gue.

“e-eh i-iya kenapa?” Dia terkejut. Pipinya gempalnya bergetar.

“Sebelah aku masih kosong, kamu pindah ke sebelah aku aja mau ya?" Rayu gue.

"eh emang kenapa?”

“Kalau kamu di depan, kayaknya kita bakal semakin sering gak sengaja saling tatap kaya tadi deh" gue mencoba menutupi alasan yg sebenarnya.

Mendadak wajahnya memerah. Dia langsung menunduk menyembunyikan wajahnya. Gue yg saat itu nggak tau apa-apa cuma bisa diem aja. Gue nggak peka terhadap pertanyaan yg gue lontarkan sendiri.

"Kok diem? sini.” Dengan seenak perut sendiri gue tarik dia untuk berdiri di sebelah gue. 

Setelah kejadian tersebut, kita nggak terlalu banyak bicara. Kita hanya menyanyikan yel-yel hasil arasemen dari lagu “Dokter Cinta” karya Dewi-dewi pada tahun itu.

.

                                                           ===

.

Bel tanda berakhirnya jam sekolah akhirnya berbunyi. Gue dengan sigap langsung membereskan tas dan beranjak keluar. Niatnya sih pengen langsung ke warnet, tapi gue malah duduk-duduk dulu kenalan sama bibi pedagang katsu yg ada di kantin.

Kebetulan bibi ini kenal kakak gue, Alhasil kita banyak berbicara tentang SMA ini dan tentang kakak gue, menghabiskan waktu hingga saat itu jam menunjukkan pukul 4 sore.

Sekolah sudah mulai sepi, beberapa anak laki-laki ada yg bermain futsal di lapang basket sekolah. Dan beberapa cewek gahol ada yg duduk-duduk di bawah pohon rindang sekolah dekat gerbang keluar.

Karena duit gue saat itu sudah tidak bersisa sama sekali karena dipalak tukang ojek tadi pagi. Gue cuma bisa mencari kenalan seseorang yg bisa gue pinjemin duit. Siapapun, soalnya rumah gue berjarak 6 kilo dari sekolah.

.

“Dimas?”

Mendadak ada suara dari balik kaca mobil yg baru terbuka setengah. Setelah gue tunggu sebentar, gue baru sadar ternyata dia anak cewek yg tadi.

“Loh kamu, udah pulang?”

ASTAGA!! 
Pertanyaan basa basi yg gak bermutu banget! Yaiyalah udah pulang, toh kita juga sekelas. Dongo amat.

“Hehehe udah, kamu gak pulang? nunggu jemputan?”

“Engga, nunggu temen. Mau cari bahan buat ospek besok” gue berdalih supaya tidak merepotkan.

“Ih rajin amat. Mau nyari di mana?”

“Di daerah taman sari. Lagian besok disuruh bikin topeng kan yah? Mau cari bahan-bahan di situ aja deh.”

“Ih aku boleh ikut ga? aku anak pindahan soalnya, jadi belum terlalu kenal Bandung.”

hooo.. anak pindahan toh.. pantes badge SMP-nya serasa asing. Tapi gue yg saat itu lagi nggak bawa kendaraan dan nggak ada duit buat naik angkot cuma bisa garuk-garuk kepala mencari alasan yg tepat. Lagian gue mau beli bahan ospek pake apaan coba?

Belum sempat membalas, anak cewek ini mendadak keluar dari mobilnya.

“Ayo, bareng aku aja. Nanti aku anterin pulang." Ucapnya sembari menarik tangan gue masuk ke dalam mobil.

ALHAMDULILLAH!!
GUE GAK JADI NGUTANG ONGKOS KE ORANG!!
DOA ORANG TERDZOLIMI ITU TERNYATA AMPUH GAES!!

"eh tapi aku gak bawa uang, gimana dong" Gue mendadak terhenti sebelum masuk ke dalam mobil.

"Yaudah pake uang aku dulu. Pak Ajit tau jalan ke taman sari gak?” Ucapnya kepada bapak-bapak berumur 40an di kursi depan.

“Tau neng, mau kesana?”

“Iya, nanti kalau ditanya papah bilang aja neng Wulan cari bahan-bahan ospek dulu ya pak”

Hooo namanya wulan toh.

“Iya neng siap” Jawab sang sopir sembari memacu kendaraanya.

.

                                                                   ===

.

Kita berdua terdiam selama beberapa saat. Hingga pada akhirnya gue bergumam.

“Wulan”

“ngg?”

“Eh engga.. aku baru tau ternyata namanya Wulan. Hehehe aku dim..”

“Dimas kan? si tukang pembuat onar hahahaha” Wulan memotong perkatan gue. Mendengar tersebut senyum gue mendadak pudar.

“Hahaha jangan bete ih kamu. Canda kok" 

"Btw, Wulan bukan orang Bandung?" 

"Iya, aku asli Garut.Tapi waktu SMP kelas 3 aku pindah ke Bandung Masuk ke SMA ini juga lewat jalur prestasi.”

“Wuih prestasi apa? dagang dodol?”

“Ih kamu mah :(” mendadak wulan jadi bete. Bibirnya turun kebawah. Membuat pipi itu semakin menjembul keluar.

“Kamu jangan bete gitu dong. Pipinya jadi makin turun itu..” dengan polosnya gue sentuh-sentuh pipinya pake telunjuk

“IH!!" Tangan gue dikeplak pake kanebo mobil.

.

                                                                      ===

.

Selama perjalanan, kita semakin akrab. Wulan ternyata orangnya bukan tipe cewek yg jual mahal. Ketika gue nggak sengaja melakukan tindakan yg membuatnya tertawa, ia tak segan-segang menggandeng tangan gue atau sekedar cubit-cibut pundak gue.

Gue suka cewek yg seperti ini. Mencairkan suasana. Sehingga gue pun nyaman untuk berbicara apa adanya. Selama mencari bahan-bahan ospek, Wulan tampak sangat antusias menanyakan banyak pertanyaan. Menanyakan tempat-tempat bagus di Bandung. Tempat makanan enak di Bandung. Dan segala macamnya. Sang nona yg penuh rasa ingin tahu. Gue menyebutnya seperti itu.

"Wulan, makasih udah dianter yaa.. Aku turun di sini aja, biar pak Ajit bisa langsung muterin mobil” Ucap gue dari luar mobil.

“Dimas makasih ya.. Oh iya minta nomer hp Dimas ya.. Nanti kalau ada tugas ospek yg gak ngerti mending tanya aku, ketimbang maju lagi kaya tadi. Hahahah” Tawanya manis sekali malam itu.

“Asem! hahaha iya, ini nomernya.” Gue memberikan nomer gue.

“Makasih Dimas. Jarang loh aku nemu cowok yg enak diajak ngobrol kaya gini :)" 

"Ohya? wah jadi malu nih. Yaudah gih udah malem tuh. Makasih sekali lagi ya…”

Akhirnya mobil Wulan pun menghilang dari pandangan meninggalkan gue sendirian di bawah lampu jalanan. 
Gue saat itu tidak tau apa arti dari ucapan dan juga arti senyumnya sesaat setelah gue mengucapkan terimakasih tadi.

“Apa Wulan ada rasa sama gue ya?" 

Gue bertanya kepada diri sendiri.

"Ah kayaknya kaga deh. Gr amat..”

Gue menepis pemikiran itu dan berjalan dengan ringan menuju rumah.

.

Tanpa gue tau..
Setahun kemudian setelah kejadian ini, gue mencoba menyempatkan diri bertanya kepada Wulan perihal ucapan dan juga senyumannya malam itu..
Dan ya, Wulan mengatakan bahwa saat itu ia memang tengah menaruh rasa.  

Tapi itulah menariknya takdir. Ketika kita hanya mencoba menerka-nerka atau juga tidak, Takdir selalu mempunyai aturan mainnya sendiri. Yg mana, ini semua akan membawa gue kepada sakit hati pertama gue semasa SMA.

.

.

.

.

                                                   Bersambung

The Way I Lose Her: Please, Don’t Tell Her.

Please don’t dare tell her what I’ve become.
Please don’t mention all the attention I have drawn.
Please don’t bother cause she’ll feel guilty when I’m gone.

.

                                                  ===

.

Mata gue masih kosong menatap ke arah kota Bandung malam-malam seperti ini. Gemerlapan lampu seakan tidak mengusik pemikiran gue yang dari tadi masih berkutat perihal hal yang sama. Gue nggak habis pikir dengan apa yang dilakukan Ipeh beberapa jam yang lalu di supermarket. Dengan mudahnya dia mencium pipi gue begitu saja sambil mengajukan pertayaanya yang luar biasa menyebalkan seperti itu.

Setelah insiden tadi, gue dan Ipeh tidak terlalu banyak bicara. Mungkin Ipeh juga sedikit terkejut mendengar apa reaksi gue ketika menjawab pertanyaan yang ia lontarkan di depan rak minuman malam tadi.

“Jadi, kalau jadi gue, lo mau pilih yang mana, Mbe?” Tanyanya polos dengan nada khasnya ketika memanggil nama panggilan untuk gue yang dia ciptakan seenak jidatnya sendiri itu.

Gue terdiam menatapnya sambil masih setia menggenggam dua teh kotak di tangan kiri dan kanan gue. Apa maksudnya nih anak nanya begituan sih? Apa ini mengartikan gue bisa menjadi seseorang yang lebih dari sekedar teman buat Ipeh lagi? Lha tapi kan sekarang dia punya pacar, lantas kalau semisal Ipeh memilih gue, terus pacarnya itu mau dia kemanain? Bah, gue jadi pelarian lagi dong? Lagi?! Sekali lagi?! Lama-lama gue muak kalau seperti ini terus.

Gue menghela napas lalu menaruh dua teh kotak yang sedang gue genggam itu ke atas kedua tangan Ipeh yang masih menyodorkan dua teh kotak ke depan gue dengan dalil menyuruh gue untuk memilih salah satunya.

“Apa untungnya buat gue kalau gue memilih Teh Kotak yang kecil? Terus apa untungnya buat gue kalau gue memilih Teh Kotak yang besar?” Tanya gue dingin.

“Loh kok elo malah bales nanya sih?!”

Gue raih semua Teh Kotak yang sedang Ipeh genggam itu lalu kembali menaruhnya di dalam rak minuman.

“Kalau gue jadi elo, Peh. Gue bakal milih yang kecil.”

Ipeh menyeritkan dahi, “Kenapa?” Tanyanya penasaran.

Gue membalikkan badan, mengambil satu buah Teh Kotak kecil yang lebih dingin lalu menempelkan Teh Kotak itu di pipinya. Sambil sedikit menunduk, gue berbisik.

“Soalnya, itu yang bakal gue lakukan ketika suatu saat ada orang yang cinta sama gue datang namun saat itu di sebelah gue ada elo, Peh. Gue pasti tetap memilih elo.”

Ipeh terdiam. Kemudian gue menarik diri lalu pergi menyusul kak Ai yang sudah lebih dulu berbaris di antrian kasir. Selama perjalanan pulang, gue dan Ipeh tidak lagi banyak bicara, kak Ai yang menyadari hal ini juga terdiam dan tak banyak tanya. Suasana di dalam mobil benar-benar sunyi. Beberapa kali dering HP Ipeh terdengar berbunyi namun tidak dihiraukannya sama sekali.

.

                                                    ====

.

Gue bukan tipe orang yang seperti itu, gue lebih menghargai kehadiran orang yang telah lama ada ketimbang orang baru yang datang begitu saja. Walaupun gue akui orang baru yang datang lebih menarik, tapi apa yang telah gue bangun selama ini dengan seseorang yang sudah dekat lama dengan gue juga bisa dibilang terlalu mahal untuk dilepaskan begitu saja.

Karena besok hari libur, gue memilih untuk terjaga lebih lama di balkon atas sambil sesekali memainkan gitar. Tak ada satu SMS pun masuk ke dalam HP gue malam ini. Ingin rasanya kalau lagi kaya gini tuh nge-sms si Matematika Buku Cetak, tapi karena sekarang gue sudah tahu siapa dia sebenarnya, gue jadi agak sungkan untuk meminta bantuannya mengingat setiap gue membayangkan Matematika Buku Cetak, yang terbayang-bayang di kepala hanyalah sosok Mai saja.

Hari-hari gue lalui seperti biasa, masih belum ada pergerakan signifikan yang gue lakukan untuk dekat dengan Mai lantaran pikiran gue mendadak terombang-ambing lagi gara-gara pertanyaan Ipeh kemarin malam. Pagi hari gue lebih sering menghabiskan diri nongkrong di warnet ketemu teman-teman lama. Mirza si wakil ketua warnet, Dodo si orang batak kelas 3 SMA dengan badan cukup besar, Gerald ‘Gigi’ yang jago banget main Dotanya, semuanya masih ada dan setia nongkrong di sana. Kayaknya setelah berpuluh-puluh cerita sakit hati yang gue lalui di masa SMA, hidup mereka di warnet ini nggak pernah berubah sama sekali. Gitu-gitu aja.

Tapi kalau boleh jujur, dibanding nongkrong sama temen SMA, gue sampai sekarang masih sreg nongkrong sama temen-temen warnet. Karena mereka tuh nggak pernah update masalah dunia luar, nggak pernah peduli masalah percintaan. Nggak akan jauh topik obrolan yang diomongin adalah perihal Boys Talk semua. Gue tahu di luar warnet, mereka pasti punya kehidupan juga, tapi entah kenapa mereka maupun gue ketika sudah masuk ke warnet dan ngobrol bersama, nggak pernah terbesit sedikitpun di benak kita untuk berbicara hal-hal yang rumit selain Bokep, Makanan, Game Online, dan Berantem dengan anak warnet RW sebelah.

Hari senin telah tiba. Seperti biasa dengan sigap gue langsung bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi. Sesampainya di sekolah, parkiran motor sudah cukup ramai dan terlihat lebih kacau dari biasanya. Ini udah sarapan sehari-hari kalau memasuki senin pagi, anak-anak bakal rusuh banget pergi ke kelas buat persiapan upacara. Ada yang sibuk beli topi, dasi, nempelin badge nama di seragam mereka, dan lain-lain.

Setelah menaruh tas dan mengambil topi dari laci meja, gue sedikit terkejut melihat bentuk topi gue setelah ditinggal lebih dari satu minggu di kolong meja ini. Bentuknya sudah nggak karuan, mirip muka Ikhsan. Ketika gue hentakkan topi itu ke atas meja, mendadak ada serpihan Mie Lidi jatuh dari dalam topi gue. Anjir bener-bener kurang ajar ini anak kelas yang menjadikan topi gue landasan Mie Lidi. Benar-benar tidak berpri-topi-upcara-an! Semoga yang mendzolimi topi gue seperti ini nanti di Neraka bakal dihukum dipecut tali puser doyok!

Anak-anak kelas tampak sudah banyak yang berbaris lebih dulu di lapangan basket. Ketika gue menghampiri mereka, gue melihat ada sosok Ipeh di sana, dia sempat melihat ke arah gue lalu kembali melihat lurus ke arah depan. Ah tai, kayaknya gue bakal dicuekin lagi hari ini. Yaudah sih, dengan begini gue bisa lebih fokus deketin Mai. Itulah yang ada di benak gue pagi ini.

Hari senin berjalan seperti biasa. Ada yang ketawa-ketawa di dalam kelas, ada juga yang asik gitar-gitaran di ujung kelas, ada juga yang asik main ayam-ayaman sambil ditontonin orang banyak. Siapa lagi kalau bukan gue dan Ikhsan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, beberapa anak ada yang pergi ke mushola untuk sholat, sedangkan gue dan Ikhsan masih tetep asik aja main ayam-ayaman di kelas. Ketika diajak temen untuk sholat pun kita berdua malah kompak berlasan yang sama.

“Gue lagi mens.”

Siang itu gue tidak melihat ada Ipeh di kelas, begitu juga dengan Mai dan geng cewek yang lainnya. Tumben-tumbenan banget kelas bisa sesepi ini ketika jam 12 siang. Karena bosan main ayam-ayaman, gue sekarang memilih untuk tidur-tiduran di atas meja beralaskan perut Bobby seperti biasa, sedangkan Ikhsan asik gitar-gitaran sambil duduk di jendela kelas berdua dengan Nurhadi. Udah mirip kaya Tukang Kupat sama grobaknya.

Lagi asik-asiknya mendengarkan kolaborasi musik antara Nurhadi dan Ikhsan, mendadak alunan gitar mereka terhenti. Mereka terdengar lagi bisik-bisik, gue nggak tahu apa yang mereka bicarakan soalnya gue sekarang lagi tiduran sambil ditutupi jaket.

“Oi Mai, rusuh amat. Kenapa? Bocor ya?” Tanya Ikhsan polos yang langsung dikeplak kepalanya sama Nurhadi.

Mendengar nama Mai disebut, gue langsung bangun. Guenya yang bangun! Bukan yang lain yang bangun! Hih..

“Eh kalian. Kalian nggak ke kantin?” Tanya Mai yang lalu menghampiri tempat duduk kita berempat.

“Nggak. Kenapa?” Nurhadi dan Ikhsan serentak menjawab.

“Ada kejadian loh tadi di kantin.” Balas Mai antusias.

Mendengar Mai berbicara antusias seperti itu, sontak kita berempat langsung duduk menghadap ke arah Mai sambil memasang wajah penasaran. Emang pada dasarnya cowok tukang gosip semua.

“Ada apaan tadi, Mai?” Tanya gue menggebu-gebu.

“Ngg..” Mai tampak memelankan suaranya, “Tentang Ipeh.” Tukasnya bisik-bisik.

Mendengar nama Ipeh disebut, sontak seluruh mata anak-anak langsung melihat ke arah gue.

“Ipeh?” Tanya gue heran mencoba menyembunyikan rasa penasaran.

“Iya. Masalah yang kemarin di Museum kayaknya belum beres deh, Dim.” Jawab Mai.

“Kenapa lagi tuh Rambo?” Tanya Ikhsan memotong.

“Aku nggak tahu garis besarnya kaya apa sih, tapi yang jelas Ipeh kayaknya dilabrak gitu sama cewek yang kemarin. Kebetulan saat itu aku sama Dilla and the geng lagi makan di kantin. Awalnya ya adu cek-cok lah antara sesama cewe. Kalau di antara cewek begitu, kalian pasti udah tahu siapa yang bakal menang kan?”

“Ipeh..” Jawab kita berempat serentak kompak sambil mengangguk-angguk dan mengelus janggut.

“Nah, tapi yang bikin runyam tuh ternyata di sana ada pacar si cewek yang lagi berantem sama Ipeh ini. Eh dia malah ikut-ikutan coba…”

Belum selesai Mai menjelaskan, gue, Ikhsan, Bobby, dan Nurhadi saling berpadang-pandangan dengan tatapan yang serius.

“Ipeh didorong gitu. Nggak terima karena dia main fisik, Ipeh tanpa pikir panjang langsung nampar tuh cowok. Wuih bunyinya keras banget. Semua orang di kantin langsung pada hening coba. Eh setelah ditampar bukannya si cowok tobat eh malah makin songong aja. Daripada makin runyam, Dila and the geng langsung misahin Ipeh dari sana dan Ipeh dibawa menjauh dari kantin ke lapangan basket.” Mai menjelaskan.

Kita semua terdiam.

“Lha terus elo sendiri ngapain ke sini?” Tanya Ikhsan kepada Mai.

“Ah iya lupa, tadinya aku ke sini cuma mau ngambil tempat minumnya Ipeh doang tapi kenapa malah jadi cerita panjang lebar ke kalian. Yaudah aku duluan yaaa. Nggak enak ditungguin Ipeh.” Jawab Mai yang langsung bergegas pergi lagi keluar kelas.

Keadaan kelas kini menjadi lebih hening setelah Mai tidak ada. Mata para anak monyet yang dari tadi duduk di atas meja dan jendela itu sekarang sedang melihat ke arah gue dengan tatapan kaya Mahasiswi semester 8 yang udah kebelet nikah, penuh teka-teki. Sedangkan gue sendiri setelah mendengar perkataan Mai menjadi lebih pendiam, tatapan gue kosong menghadap ke arah lantai tanpa memperhatikan ke arah sekitar lagi.

Ikhsan menyenggol tangan Nurhadi tanda menanyakan keadaan gue tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Nurhadi menggeleng-geleng tanda tidak mengerti. Kemudian Nurhadi melemparkan garpu popmie lemes yang diambilnya dari kolong meja lalu melemparkannya ke arah Bobby. Bobby langsung menengok ke arah mereka, Nurhadi memberikan kode menanyakan keadaan gue kepada Bobby, tapi Bobby juga malah menaikan pundak tanda tidak mengerti. Siang itu tidak ada yang berani menanyakan keadaan gue.

Bel sekolah telah berbunyi. Beberapa anak-anak kini masuk kembali ke dalam kelas. Gue menatap serius ke arah setiap anak-anak yang masuk mencari keberadaan Ipeh. Selang 5 menit, ada sosok Mai terlihat masuk ke dalam kelas, dia melirik ke arah gue sebentar lalu menggerakan kepalanya ke belakang seperti memberi tahu bahwa ada Ipeh di belakangnya. Mai benar-benar mengerti gue tampaknya.

Dan ternyata benar, Ipeh masuk ke dalam kelas dengan keadaan masih dipeluk oleh Dila and the geng. Melihat hal itu jantung gue berdetak cepat, tangan gue mengepal, pikiran gue kacau balau. Ada perang antara logika dan perasaan ketika melihat seorang yang gue sayang kini tengah lesu seperti itu tanpa gue bisa melakukan apa-apa untuk membantunya. Gue nggak tahu harus memilih pihak siapa? Logika gue yang mengatakan agar gue tetap diam di tempat, atau hati gue yang mengatakan untuk mendatangi Ipeh dan duduk di sampingnya? Saat ini gue begitu membenci diri sendiri lantaran tidak bisa menjadi seorang pria yang berani mengambil keputusan.

Ikhsan yang duduk di sebelah gue pelan-pelan menepuk pundak gue dan menyarankan agar gue lebih tenang sedikit melihat hal ini.  Hati gue seakan pecah dua kali. Yang pertama adalah karena tidak bisa ada di saat dia butuh seperti itu. Dan yang kedua adalah karena membiarkannya dalam keadaan seperti ini.

Secara pelan-pelan, Ipeh diantarkan duduk ke bangku kelasnya lagi oleh Dila. Setelah duduk, mereka tampak masih setia menenangkan Ipeh, sedangkan teman-teman cowok malah pada duduk di sekitar gue dan menenangkan gue.

Apaan nih?! Dikira gue lagi kesurupan apa pake acara ditenangin segala?!

“Lo mau ngapain habis ini?” Tiba-tiba Ikhsan yang duduk di sebelah gue membuyarkan segala lamunan gue ketika anak-anak yang lain masih sibuk ngerjain tugas Bahasa Indonesia.

Gue menatapnya sebentar, lalu geleng-geleng tanda tidak tahu.

“Seriusan? Gue jadi curiga.” Tukasnya lagi yang kini nyolok pipi gue pake pinsil yang baru diserut.

Gue masih geleng-geleng.

“Geleng-geleng mulu lo kaya orang dugem. Yaudah serah lo deh, tapi awas aja kalau lo sampe ngedatengin cowok yang tadi diceritain Mai tanpa bilang-bilang ke gue. Awas aja. Persahabatan kita putus kalau lo berantem sendirian. ”

“…”

“Kalau lo berantem sendirian tanpa bilang-bilang ke gue, gue sumpahin nanti kalau lo kawin terus punya anak, anak lo paracetamol.” Kata Ikhsan yang kini kembali serius mencontek tugas Bahasa Indonesia kepunyaan Bobby yang entah darimana datangnya dan tiba-tiba ada di meja kita itu.

Makin ke sini, gue makin ngerasa persahabatan gue sama Ikhsan ini kaga ada romantis-romantisnya sama sekali. Hampa. Kosong. Kaya pantat bolong. Isinya kalau nggak tentang berantem ya tentang disakitin cewek. Benar-benar pejuang cinta yang luar biasa.

.

                                                       ===

.

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Dari ujung sudut kelas, gue bisa melihat Ipeh dengan buru-buru merapihkan segala barang bawaanya dan pulang begitu saja tanpa melihat sedikitpun ke arah gue. Gue diam sebentar, berpikir, lalu secara perlahan bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendatangi Mai. Gue tidak sadar kalau saat itu mata Ikhsan dan Nurhadi masih terpaku ke arah gue.

“Mai.. Gue mau tanya.” Tanya gue mencoba menahan Mai  yang hendak bangkit dari duduknya.

“Kenapa, Dim?”

“Ngg.. tentang Ipeh tadi.”

“Ipeh? Kenapa?”

“Gue boleh tahu cowok yang ada urusan tadi sama Ipeh tuh anak kelas mana? Ciri-cirinya apa dan namanya siapa?” Tanya gue pelan mencoba agar tidak ada yang mendengar apapun yang gue bicarakan dengan Mai.

“Kamu mau apa?” Tanya Mai sedikit curiga.

Nggak kok, Mai. Setidaknya gue mau tahu aja.”

Akhirnya setelah gue yakinkan berkali-kali, Mai mau memberitahukan ciri-ciri cowok tersebut. Ketika cukup mengingat segala ciri-cirinya dengan baik, gue langsung berjalan menghampiri Nurhadi. Dan seperti yang telah gue duga sebelumnya, Nurhadi dan Ikhsan ternyata sedari tadi masih melihat ke arah gue.

“Di..” Kata gue.

“Oi?”

“Gue mau nanya.”

“Sorry, gue udah punya pacar.”

“…”

“Mau nanya apaan? Muka lo lecek amat kaya Tisu Basah.”

“Di, lo kenal sama yang namanya Bagas?”

“Bagas? Cowok? Ah elo bagian nanya ke gue aja kenapa mesti cowok coba.”

“Iya Bagas, denger-denger sih doi anak basket.”

“Oh si Anak guru? Kenal gue, dia anak basket juga. Se-tim sama gue. Kenapa?” Jawab Nurhadi.

“Mau nanya aja, dia sekarang biasanya latihan basket? Atau langsung pulang?” Tanya gue lagi.

Mendengar pertanyaan gue tadi, Nurhadi sedikit memicingkan mata, mencoba berpikir lalu melirik ke arah Ikhsan. Mereka tampak mencium sesuatu yang tidak beres.

“Itu anak hari ini latihan, tapi biasanya dateng terlambat. Nongkrong dulu di kantin. Maklum lah anak Guru, suka seenaknya aja. Mentang-mentang nyokapnya guru di sini dia jadi belagu. Di ekskul basket juga belagunya minta ampun. Padahal main basketnya aja jelek masa. Dibanding elo sih bagusan elo, Dim. Apalagi waktu dia jadi pow…”

“Oke cukup, kenapa ini elo malah jadi curhat?!” Gue memotong.

“Aelah curhat dikit aja pake lo potong segala. Pelit amat. Nggak balik lo, Dim?” Tanya Nurhadi dengan nada curiga.

“Enggak ah, mau di kelas dulu, nongkrong.”

“Oooh..” Ucap Nurhadi sambil melirik ke arah Ikhsan.

“San, cabut yuk ah basket.” Tiba-tiba Nurhadi berdiri dan berjalan ke arah Ikhsan.

“Yuk deh. Dim, kita duluan ya.” Balas Ikhsan.

“Oke-oke..”

Mereka berdua pun pada akhirnya pergi meninggalkan kelas. Sekarang di kelas hanya tinggal beberapa orang. Selain anak-anak yang dapat tugas piket, beberapa anak-anak yang lagi nunggu Les juga masih setia nongkrong di kelas.

Setelah sempat diam sejenak dan duduk melamun ke arah jendela. Gue menghela napas panjang. Mengepal-ngepalkan tangan mencoba agar sedikit lebih rileks. Mengeluarkan baju seragam dari dalam celana, dan sedikit mengendorkan sabuk. Gue lihat jam tangan gue sebentar, lalu kemudian gue berdiri dan pergi meninggalkan kelas.

Tapi ketika gue sedang berjalan di lorong kelas, tiba-tiba dari pintu WC Pria, muncul Ikhsan dan Nurhadi sambil melihat ke arah gue. Gue cukup terkejut, lah ngapa nih anak berdua keluar dari WC cowok berduaan gitu. Gue jadi curiga. Jangan-jangan… Astagfirullah…

“Mau kemana lo?” Tanya Ikhsan ketus.

Gue hanya diam saja menatap ke arah mereka.

“Wah parah, Di. Nih anak nggak ngajak-ngajak kita.”

“Iya, San. Egois banget jadi orang. Senang-senang kok nggak ngajakin temen.”

Tampaknya Nurhadi dan Ikhsan sudah tahu apa yang bakal gue lakukan sebentar lagi.

“Jadi, sendirian aja nih? Nggak mau ngajak gue nih? Yakin?” Tukas Ikhsan bete.

Gue menatap mereka lalu mendadak tertawa, “Hahahaha emang anjing yah kalian tuh. Yaudah, percuma juga sih gue larang, ujung-ujungnya kalian juga pada ngintilin gue di belakang. Ayo deh. Udah siap?” Tanya gue.

“Nggak usah lo tanya kita udah siap atau enggak deh. Dari pertama masuk basket sampai sekarang gue bener-bener benci tuh anak. Dari dulu kek elo punya rencana kaya gini. Udah lama gue nggak makan anak orang.” Jawab Nurhadi yang langsung membuka seluruh kancing seragamnya.

“Mau dibuat rame aja nih, Dim?” Tanya Ikhsan.

“Hahahaha gimana entar.”

Ikhsan menatap ke arah gue. “Yaudah gini deh, karena kita juga sahabat Ipeh, dan di antara kita bertiga itu elo yang paling deket sama Ipeh, maka kita ngalah deh. Kita nurut aja di belakang lo. Gimana, Di? Setuju?”

“Yaaaah, kok gitu sih?! Masa nggak jadi rusuh?!” Nurhadi terlihat protes.

“Ya tergantung si Dimas aja sih. Kalau dia rusuh, kita rusuh juga.”

“Dim.. Rusuh please…” Ucap Nurhadi memohon.

“Hahahahahah bangke, emak lo dulu waktu lahiran ngidam apa sih, Di? Ngidam gear motor ya? Yaudah ayo deh.” Kata gue yang lalu berjalan meninggalkan mereka dan kini mereka mengikuti gue dari belakang.

Satu yang nggak akan pernah gue biarkan terjadi di hidup gue, nggak boleh ada yang nyakitin perasaan temen-temen gue apalagi orang yang gue sayang tanpa sepersetujuan dari kedua-belah pihak. Dalam hal ini, cuma cowok pengecut yang berani nyakitin cewek dari segi fisik. Kalau siang tadi Ipeh tidak bertindak karena kalah jumlah, maka cowok Anjing itu bakal gue kasih pelajaran mengenai apa itu perkelahian kalah jumlah.

.

                                                         ===

.

Sepanjang perjalanan menuju kantin, terdengar dari belakang Ikhsan dan Nurhadi lagi pemanasan ala-ala preman mau berantem. Kancing bajunya dibuka, lengan digulung, peregangan jari dan leher, pokoknya udah mirip kaya tukang jagal. Setelah tidak lama berjalan dan pada akhirnya kita sampai di mulut kantin, ternyata benar kata Nurhadi. Cowok yang namanya Bagas itu sekarang lagi duduk-duduk di kantin sambil menaikkan kaki ke atas kursi, berlagak layaknya dia cowok yang disegani padahal anak-anak hanya menghormati Ibunya yang notabenenya guru kelas 10.

Saat itu Bagas tidak sendirian, di samping Bagas ada pacarnya, seorang cewek yang jadi alasan kenapa semua hal siang tadi terjadi. Beberapa anak buah Bagas—Sebut saja anak buah, sejenis kroco-kroco yang suka ngikutin orang yang dianggapnya hebat kemana-mana—juga ada di sana, beberapa dari mereka ada yang anak basket dan beberapa ada yang nggak Nurhadi kenal.

Posisi Bagas saat itu sedang membelakangi jalanan kantin sehingga tidak melihat adanya gue, Ikhsan, dan Nurhadi yang datang dengan tampang bajingan semua.  Gue berjalan perlahan diikuti kedua buah jenglot di belakang gue itu lalu pergi menghampiri Bagas. Bagas masih tidak menyadari kedatangan kita bertiga, yang menyadari ada hal yang janggal lebih dulu adalah anak buahnya Bagas. Mereka menatap ke arah gue dengan tatapan penuh tanya, sedangkan gue menatap ke arah mereka dengan tatapan andalan gue.

Sejak gue SMP, gue selalu menjadi biang masalah dengan senior di sekolah atau orang-orang di sekitar gue. Alasannya satu, yak benar! Tampang gue menyebalkan setengah mati, atau mungkin, sangat menyebalkan. Itu sebabnya setiap ospek, gue selalu jadi incaran kakak kelas, dan ketika gue kebagian ngospek, gue selalu ditunjuk menjadi panitia keamanan dan mendapatkan banyak sekali surat benci. Beberapa orang yang baru pertama mengenal gue pasti langsung ngejudge gue dengan berbagai macam statement. Dari sebutan yang namanya brengsek, bajingan, tukang berantem, urakan, preman, emosian, suka ngeremehin orang, tukang jagal, Leonardo DiCaprio, Adam Levine, John Mayer, semuanya pernah gue dapat.

Maka tak ayal ketika gue mengeluarkan tampang  seperti ini, para anak buah Bagas langsung terlihat agak sedikit gentar.

“Minggir. Gue mau duduk.” Kata gue dingin. Dengan sigap, semua anak-anak di sana langsung minggir tanpa protes sama sekali.

Gue tarik satu buah kursi plastik, lalu gue duduk di depan Bagas. Kita sekarang hanya dipisahkan oleh meja panjang dari kayu doang tempat bibi kantin biasanya menaruh jajanan. Ikhsan juga mengikuti jejak gue, dia ambil kursi plastik lalu duduk di samping gue. Sedangkan Nurhadi memilih berdiri di belakang gue dengan memamerkan badannya yang luar biasa besar sekaligus hitam pekat kaya spidol abon.

“Ada apaan nih?!” Tiba-tiba Bagas membentak ke arah kita bertiga ketika mulai menyadari ada hal yang tidak beres. Kita bertiga tak menjawab, hanya terus menatap ke arahnya sinis.

Melihat akan terjadi sesuatu hal yang buruk, pacar Bagas yang sedari tadi duduk di sampingnya itu kini mencoba berdiri dan pergi. Namun belum sempat dia melangkah, gue langsung ambil tindakan.

“DUDUK!” Bentak gue kasar sambil menunjuk ke arahnya.

Tidak terima pacarnya dibentak, Bagas langsung membentak balik.

“Woi!! Apan-apaan lo ngebentak pacar gue! Mau jadi jag..”

BYUR!!
Belum sempat merampungkan kalimatnya, gue langsung mengambil gelas berisi air yang ada di atas meja tadi dan membanjurkannya tepat ke arah muka bagas. Bagas terkejut, otomatis tuh anak kampret langsung emosi. Bagas langsung berdiri mau menghajar gue sebelum tiba-tiba.

“DUDUK LO ANJING!! MAU GUE BIKIN NGGAK BISA MAIN BASKET SEUMUR HIDUP LAGI LO HAH?!” Mendadak Nurhadi membentak keras sambil menggebrak meja sehingga kini seluruh anak-anak di kantin matanya menatap ke arah kita bertiga.

Nurhadi ini emang pada dasarnya sangat menyeramkan. Lahirnya bukan dari rahim, tapi dari turbin aer. Itu sebabnya kalau dia udah ngebentak kaya gitu, secara spontan Bagas yang tadi telah naik pitam mendadak ciut dan menuruti semua perintah Nurhadi. Gue juga kalau dibentak Nurhadi pasti langsung diem sih. Gue masih belum mau mati.

Keadaan makin panas, namun berkat kehadiran Nurhadi, semua musuh yang ada di sana tidak ada yang berani bertindak gegabah. Setelah keadaan sedikit cukup tenang, kini giliran gue yang buka suara. Dan btw, seharusnya adegan ini semuanya pake bahasa sunda kasar sih. Kasar banget malah. Tapi gue terjemahin pake bahasa lokal aja deh ya. Saat itu gue masih menatap ke arah Bagas dengan wajah menyebalkan.

“Heh, anak anjing. Lo masih belum sadar kedatangan gue ke sini untuk apa?! Emang dasar anak Anjing ya lo.” Ucap gue datar, tapi mematikan.

“Apaan lo anjing main banjur gue pake aer aja?! Nyari mati lo?! ” Bagas terlihat tidak terima.

Melihat hal itu, gue hanya tersenyum sinis. “Anak Anjing emang banyak bacot. Tadi siang, gue denger pacar lo ini ada masalah sama Ipeh, anak kelas 10-A. Terus tadi siang, kuping gue ini juga denger kabar kalau ternyata elo ini ikut campur masalah mereka? Ini lo mau bilang kuping gue yang budek, atau emang berita yang gue denger itu bener?”

“…” Bagas terdiam.

“Oh jadi bener.. Ternyata kuping gue nggak budek. Jadi berita yang gue denger tadi siang itu bener kan, ANJING?!” Nada gue mulai meninggi.

“…” Bagas masih terdiam.

“BANGSAT LO ANJING!!”

BRAK!!
Tiba-tiba Ikhsan yang sedari tadi duduk tenang di sebelah gue mendadak teriak keras sambil memukul meja. Otomatis semua orang yang ada di sana terkejut, termasuk gue dan juga Nurhadi. Apa-apaan nih anak tiba-tiba marah kaya orang kesurupan. Goblok emang, gue malah jadi pengin ketawa gara-gara gue sendiri kaget pas dia gebrak meja. Tai ayam, hampir aja gue ngakak. Gue spontan langsung menatap Ikhsan dengan tatapan anjing-jangan-ngelawak-dulu-goblok. Tapi Ikhsan melihat ke arah gue dengan muka menyebalkan. Bener-bener komedi nih orang.

Gue kembali menatap ke arah Bagas dengan tatapan serius sekali lagi. Mencoba menahan rasa kesal karena si monyet yang tiba-tiba kaya orang kesurupan tadi.

“Gue nggak masalah kalau pacar lo ini ada masalah sama Ipeh. Tapi yang jadi masalah buat gue adalah, kenapa anak Anjing kaya lo ikut campur urusan cewek? Kalau saat itu lo ikut campur masalah cewek lo, itu berarti sekarang gue juga berhak ikut campur masalah cewek gue. Jangan beraninya main fisik Setan! Sini lawan gue kalau lo berani, ANJING!” Gue mulai menaikkan nada bicara gue lebih tinggi.

Keadaan semakin mencekam. Nurhadi kini mengambil 2 kursi plastik, satu buat dia duduki di sebelah gue karena mungkin dia capek berdiri terus kaya lagi naik Kopaja, satu lagi dia angkat di belakang punggungnya tanda siap untuk ngehajar orang-orang di sana pakai kursi.

Terserah gue dong, Anjing. Gue belain pacar gue. Lha elo siapanya Ipeh tai?!” Tanya Bagas membalas perkataan gue.

Mendengar itu gue tertawa pelan.

“Lo liat di samping kanan gue? Dia ini sepupu jauhnya Ipeh. Dia asli orang Bangka Belitung. Dan gue kasih tahu sama lo yang otaknya kecil kaya bengkoang itu, orang-orang Bangka kalau sudah main fisik bisa bikin nyawa orang melayang tau nggak lo!” Jelas gue.

“Org kaya ni, kek adeku yang kelas due sd ge bise dibuet minta ampun.. Bajingan kayak ka jak bise dipatah leher e skrg ge..” Ucap Ikhsan yang tiba-tiba berbicara dengan logat Bangkanya sambil menaikan kaki di atas kursi.

Anjir!!
Gue dan Nurhadi mendadak jadi pengin ketawa ngakak luar biasa mendengar tuh anak yang tiba-tiba berbicara pake logat bahasa Bangka. Suaranya mirip kaya boneka Susan. Kaga ada serem-seremnya. Kaya tukang angkot lagi nyari muatan. Bangsat!! Gue langsung mencubit kaki gue sendiri agar tidak tertawa terbahak-bahak ketika sedang dalam suasana serius seperti ini.

Dan lo pasti tahu, orang di sebelah kiri gue ini siapa?! Bokapnya Nurhadi itu temen bokapnya Ipeh. Jadi otomatis Nurhadi masih dianggap keluarga sama Ipeh. Gue rasa, Nurhadi sendirian bisa ngabisin semua orang di sini tanpa ngeluarin keringat sama sekali.”

Setelah gue berbicara seperti itu, Nurhadi langsung berdiri sambil masih membawa kursi plastik di tangan kirinya. Sontak semua orang yang ada di samping Bagas langsung pada mundur ketakutan.

“Oi, Gas! Jangan mentang-mentang elo anak Guru jadi bisa seenaknya di sini. Elo nggak tahu? Hampir semua anak basket nggak ada yang suka sama lo. Dan kayaknya kalau gue ngehajar lo sekarang juga semua anak basket bakal ngedukung gue. Kalau udah kaya gitu, Ibu lo yang guru itu juga nggak akan bisa ngapa-ngapain. Ngerti lo!” Nurhadi menggebrak meja sekali, lalu kemudian duduk lagi.

“Dan gue sendiri. Gue pacarnya Ipeh. Kalau lo nyakitin Ipeh, itu berarti lo nyakitin gue sekaligus dua orang di samping gue ini.”

Bagas menatap ke arah kita bertiga.

“Hahahah pengecut lo anjing beraninya keroyokan. Sama pengecutnya kayak cewek tomboy murahan tadi siang!”

DEG!!
Mendengar ucapannya barusan, sontak emosi gue tersulut hingga ke akar-akarnya, gue naik pitam, emosi gue meledak langsung. Saat itu entah apa yang sedang merasuki gue, secara spontan gue menendang meja yang jadi penghalang antara gue dan Bagas ini dengan keras sehingga meja tersebut membentur tubuh Bagas sekaligus pacarnya yang duduk di sebelah Bagas sambil ketakutan. Bagas yang tidak siap akan serangan dadakan ini langsung terjungkir jatuh dari kursinya ke belakang. Begitu juga dengan pacarnya.  

Melihat tindakan gue tersebut, Nurhadi langsung berdiri dan melemparkan kursi plastiknya ke arah anak Buah bagas sambil terus berteriak menantang mereka semua untuk maju. Sedangkan Ikhsan langsung loncat dari kursi dan menendang jatuh orang yang hampir menghajar gue dengan balok kayu ketika melihat gue menjatuhkan Bagas tadi. Ikhsan merebut balok kayu tersebut lalu mengacungkannya ke arah semua orang yang mau ikut campur masalah kita di kantin sore ini.

Mengetahui Bagas telah tersungkur jatuh, gue langsung meloncati meja yang tergeletak berantakan di depan gue dan menghajar mukanya sekali tepat di bagian hidung. Bagas berteriak kesakitan. Nurhadi tanpa pikir panjang langsung mengambil tindakan untuk melindungi gue dari serangan anak buah Bagas yang lain. Sedangkan Ikhsan malah sok gentleman dengan cara membantu pacarnya Bagas yang masih terjatuh dan memapahnya untuk berdiri.

“Kamu nggak papa kan?” Ucapnya sok keren tanpa peduli saat itu gue lagi ngapain.

Gue mencengkram erat kerah seragam Bagas dan menariknya sehingga kini mukanya mendekat ke arah muka gue.

“HEH ANJING!! PUNYA MULUT DISEKOLAHIN ANJING! LO BOLEH NGEHINA GUE, ATAU NGEHINA TEMEN GUE YANG ORANG BANGKA ITU! TAPI SEKALI LAGI LO NGEHINA IPEH, GUE BIKIN LO NGGAK BISA BACA TULIS LAGI ANJING!!” Bentak gue dibarengi dengan pukulan telak di pipi kirinya.

Ikhsan yang mendengar ucapan gue barusan langsung melihat ke arah gue dengan tatapan bete.

“Kenapa gue lagi yang dibawa-bawa. Tai.” Ucapnya pelan, tapi gue tetap dengar.

“Lo harus minta maaf, anjing! Awas aja, kalau sampe besok atau lusa gue masih belum denger ada permintaan maaf dari lo. Gue kirim Nurhadi buat bikin muka lo remedial total!”

Sebagai penutupan, gue hajar muka Bagas sekali lagi hingga bibirnya sobek, lalu kemudian berdiri menatap anak-anak buahnya Bagas.

“Gue nggak mau bikin masalah ini lebih panjang. Tapi kalau lo lo pada mau ngebuat masalah ini lebih panjang. Kita bertiga siap.” Ucap gue tegas lalu kemudian pergi berjalan meninggalkan kantin diiringi dengan Nurhadi dan Ikhsan yang juga jalan mengikuti gue dari belakang.

Selama perjalanan menuju kelas, kita bertiga masih terdiam. Emosi gue masih terlihat menggebu-gebu, begitu juga dengan Ikhsan yang masih membawa balok kayu rampasannya dari kantin. Sedangkan Nurhadi terlihat biasa saja.

Dan tiba-tiba, Nurhadi yang berjalan di sebelah gue menengok ke arah Ikhsan yang ada di belakang.

“San, besok-besok kalau ada lomba baca puisi, lo ikut gih, tapi bacanya pake logat bahasa Bangka kaya tadi. Pasti langsung menang.”

Mendengar ledekan Nurhadi tadi, Ikhsan yang masih terlihat serius mendadak jadi kesal luar biasa.

“BANGSAT LO GORILA!!”

Nurhadi langsung tertawa ngakak, begitu juga dengan gue yang langsung ikut tertawa mengingat bagaimana logat Ikhsan yang dia keluarkan tadi sewaktu adegan marah-marah di kantin.

“Lagian ini juga salah lo oi Dimas anak Setan! Ngapain juga tadi lo harus ngejelasin kalau gue ini orang Bangka?! Rasis anjing! Gue jadi spontan ngomong pake logat bahasa Bangka pas lo ngomong kaya gitu!” Ikhsan memukul kepala gue pake botol Aqua.

“Hahahah gue juga tadinya bingung mau jelasin apa, njing. Yaudah itu aja. Lagian akting lu tadi juara. Suara lo kalau pake logat Bangka jernih kaya suara rerumputan pagi.”

“HAHAHAHAHAHAHA.” Nurhadi tertawa terpingkal-pingkal di sebelah gue.

“Bangsat lo pada.” Ikhsan terlihat Bete.

Kita semua masih tertawa-tawa sepanjang jalan menuju kelas.

Lagi asik-asik Ikhsan dan Nurhadi tertawa, gue menepuk pundak mereka satu persatu.“Btw bro. Makasih ya.” Tukas gue.

Mendengar ucapan gue barusan, Nurhadi yang masih terkekeh mendadak langsung diam. Begitu juga dengan Ikhsan.

“Anytime bro, lagian gue juga udah lama pengin ngehajar si Bagas sih. Tapi sayang tadi nggak kesampaian. Gue kira bakal ada adegan berantem, tapi ternyata anak buahnya cemen semua nggak ada yang berani maju.” Tukas Nurhadi.

“Wah, Ipeh seharusnya berterima kasih sama lo, Dim.” Tiba-tiba Ikhsan angkat bicara.

Gue terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran gue ketika mendengar apa yang Ikhsan ucapkan barusan.

“San, Di. Untuk yang satu ini, please janji sama gue, sebisa mungkin Ipeh jangan sampai tahu.” Kata gue pelan.

“Loh kok gitu?! Padahal ini juga bisa jadi pembuktian bahwa lo itu satu-satunya orang yang pantas buat mendampingi Ipeh ketimbang pacarnya kan?! ” Ikhsan terlihat protes.

Gue menatap kosong ke arah lorong-lorong kelas yang mulai tidak berpenghuni lagi di sore menjelang Maghrib ini.

“Ya nggak papa sih, tapi  please, anggap aja apa yang baru kita lakukan tadi itu dalam rangka kita bantu temen sekelas. Bukan buat bantu Ipeh doang. Jadi nggak usah dipamer-pamerin.” Jawab gue pelan.

Ikhsan kini menatap bingung ke arah Nurhadi.

Gue juga sebenarnya setuju sama si Dimas, San.” Jawab Nurhadi. “Cowok mah urusan berantem jangan dibicarain. Nggak etis. Cuma cowok cari sensasi doang yang kalau berantem terus diceritain ke orang-orang.” Tambah Nurhadi lagi.

Ikhsan menghela napas panjang seperti ada rasa tidak Ikhlas mendengar ucapan Nurhadi barusan.

“Yaudah deh, gue ngikut lo lo pada aja.” Jawab Ikhsan.

“Thanks, Bro. Lo emang sobat-sobat baik gue.” Gue menepuk pundak Ikhsan dan Nurhadi.

Sebelum balik ke kelas, Nurhadi izin pergi ke WC dulu untuk mencuci muka lantaran mukanya sudah penuh keringat kayak wajan. Lagi nunggu di luar WC, tiba-tiba Ikhsan menyenggol lengan gue.

“Kenapa lo nggak mau ngasih tahu Ipeh?” Tanya Ikhsan yang masih penasaran.

Gue menatapnya sebentar, lalu menunduk sambil bersandar di tembok WC pria.

“Gue nggak mau Ipeh tahu seberapa berartinya dia buat gue sekarang. Gue takut kalau Ipeh tahu hal ini, hubungan Ipeh sama pacarnya malah jadi runyam gara-gara Ipeh makin bimbang untuk memilih siapa di antara kita berdua yang lebih pantas buat dia. Kan elo juga tahu apa yang dia tanyain sama gue waktu di supermarket kemarin itu.” Jelas gue.

“Hmm, Ipeh emang begok nggak milih lo dan malah memilih orang lain, Dim.” Ikhsan terlihat kesal.

“Hahaha, please don’t tell her, San?” Gue melirik ke arah Ikhsan.

“Iya iya oke oke, gue janji.” Jawabnya dengan nada yang masih tidak rela.

“Thanks, sob.” Gue menepuk pundaknya sekali lagi.

Kini kita sama-sama terdiam. Gue masih berdiri bersandar menunggu Nurhadi keluar dari WC sedangkan Ikhsan masih berdiri di depan gue dengan tampang seperti orang yang memikirkan sesuatu.

“Btw, Dim. Emang nyokap si Bagas tuh Guru di SMA kita ya? Kok gue baru tahu sih?”

“Si anying..”

.

.

.

                                                    Bersambung

Previous Story: Here

The Way I Lose Her: 1 Day Before Disaster

Setiap orang berhak mendapatkan seseorang yang mampu membuatnya lupa kalau dulu ia pernah begitu terluka. Tak peduli betapa kelam masa lalunya.

                                                          ===

.

Pikiran gue semakin carut marut di dalam bioskop. Di depan gue sekarang sedang ada dua orang pasangan yang sang pihak wanitanya pernah melepas gue mentah-mentah tapi hadirnya selalu saja bisa membodohi penjaga pintu hati untuk membukakannya kembali. Sedangkan di sebelahnya ada satu orang pria yang dulu pernah mentah-mentah kalah, tapi tetap menjadi pemenang dan gue keluar hanya sebagai pesaing yang payah. Berjuang keras, berusaha selalu ada, tapi tetap tidak dipilih di akhir cerita.

Di sebelah kanan gue lagi duduk sahabat terbaik yang pernah gue miliki, selalu kompak kemanapun gue pergi, selalu ada di tiap gue lagi berantem, selalu sedia di kala gue membutuhkan bantuan, tapi sekarang doi lagi asik nonton dan lupa kalau sekarang kita sedang berada dalam misi suci yaitu menguntit kakak kelas kita sendiri.

Dan di otak gue sekarang lagi muncul dua nama yang saling beradu keras, dua-duanya sempat gue sayang sebegitu sangat, tapi dua-duanya pernah mendorong gue untuk menjauh dengan cara yang paling keji, menggantikan posisi gue dengan posisi orang lain.

Hanifa; cewek tomboy rambut pendek berbadan mungil tapi tenaganya luar biasa yang telah mengalungkan sabuk karate berwarna biru di pinggangnya. Dan Hanadwika; Seorang kakak kelas yang dulu sempat nge-ospek gue sebagai kakak keamanan paling galak, berubah menjadi kakak keamanan paling gue sayang, dan berakhir sebagai kakak kelas yang nggak gue kenal lagi kehidupannya.

Sedangkan gue? Gue sendiri adalah seorang anak kelas satu SMA yang sudah mengalami fase patah hati sebanyak lebih dari empat kali berturut-turut, wajah nggak tampan-tampan amat tapi Alhamdulillah ada aja yang nyantol. Dan sekarang dirinya sedang  berada di posisi gelandang bertahan. Sebagai pemain yang mempertahankan hati orang lain namun babak belur dan lupa untuk mempertahankan hatinya sendiri. Kondisi pertemanannya kini sedang dalam fase kalah telak karena sahabat terbaiknya yang wajahnya mirip tutup odol itu telah lebih dulu punya pacar sedangkan dia tidak.

Bangsat!

Di kepala gue lagi ada dua nama yang begitu menggelora. Ipeh yang lagi otw menuju BIP sore ini, dan kak Hana yang lagi asik indehoi-an di depan gue detik ini. Berulang kali gue mencoba menyusun siasat seapik mungkin agar perasaan Ipeh nanti tidak perlu merasa terluka lagi dengan apa yang sedang gue lakukan sekarang.

Tapi, kenapa saat ini gue malah mikirin perasaan Ipeh ya? Bukankah Ipeh sudah punya pacar? Terus kenapa gue harus takut kalau dia tidak nyaman dengan keadaan gue yang lagi membuntuti seseorang yang dulu pernah menjadi sosok penting di hidup gue itu?

Lagi-lagi kebiasaan buruk gue yang mencoba untuk membuat hati orang lain nyaman dan membiarkan hati gue sendiri terluka kini muncul kembali ke permukaan. Memang betul, ada baiknya kita harus egois pada diri sendiri; pada hati sendiri. Buat apa menyenangkan hati orang lain kalau orang tersebut juga tidak berusaha menyenangkan hati kita sendiri? Percayalah, egois karena mementingkan diri sendiri itu tak selamanya buruk.

Harusnya pemikiran itu yang muncul di benak gue saat ini, tapi karena saat itu gue masih sebatas anak SMA dengan pemikiran sepele yang mungkin bisa dianalogikan sesimple‘gue bisa bahagia hanya karena tengki bensin di motornya penuh karena diisiin sama emak sendiri’, maka pemikiran sedewasa itu tidak jadi muncul di kepala. Gue hanya terus berpikir bagaimana caranya agar Ipeh tidak merasa terluka oleh tindak tanduk gue lagi.

.

                                                           ===

.

Film yang sedang kami tonton tampak sudah hampir selesai sekitaran 15 menit lagi. Adegan tembak-tembakan klimaks di scene terakhir membuat gue jadi malah ikut-ikutan fokus nonton lalu lupa kalau sekarang gue lagi dalam misi membuntuti kak Hana.

Trrtt.. trrt..

Ada satu SMS masuk, gue lihat dari kolom notifikasi ada nama Ipeh di sana. Dengan cepat gue langsung buka,

“Aku udah di depan BIP, aku ke atas sekarang.”

Duh!
Gue mendadak panik, Ikhsan yang menyadari kepanikan gue ini langsung bertanya keheranan.

“Nape lu? Kesurupan setan Bioskop?” Tanyanya sambil menaikan satu alis.

“Ipeh dah di bawah. Ish cepet banget tuh anak nyampe ke sini.”

“Oh yaudah santai aja kagak usah rusuh, gue nanti bantu lo buat nge-cover alibi lo. Bilang aja kita ke sini karena mau ngeliatin cewek yang sempat gue taksir dulu. Kalau itu tentang hidup gue kayaknya Ipeh kaga bakal berminat buat menaruh rasa curiga deh.” Tukas Ikhsan enteng.

“Wah bener juga! Yaudah keluar sekarang yuk, keburu Ipeh nyegat kita keluar dari pintu bioskop terus dia malah nyuruh kita diem buat ngeliatin satu-persatu orang yang bakal keluar dari bioskop ini nanti.”

“Bentar ini tanggung filmnya mau abis. Jangan main keluar-keluar aja lu, sayang duitnye udah dipake beli tiket tadi.”

“Ayo keluar sekarang!”

“Bentar!”

“Keluar sekarang!”

“Keluarin aja di dalem!”

“Jangan! Keluar di dalem rentan jadi anak!”

“…” Ikhsan melihat sinis ke arah gue, “Yaudah ayo deh.”

Setelah debat nggak penting sambil bisik-bisik yang membuat banyak orang di sekitar kami jadi curiga karena dua orang anak cowok duduk sebelahan, nonton bioskop bareng, terus ngomongin tentang sesuatu yang harus dikeluarkan di dalam, kami berdua akhirnya bergegas pergi dengan terburu-buru. Karena film belum habis, jadi dengan terpaksa kami harus ekstra hati-hati ketika turun melewati baris di mana kak Hana sedang duduk.

Sambil menutupi muka dengan hoodie jaket, gue berjalan perlahan melewati tempat duduk kak Hana dengan degup jantung yang berdebar-debar karena takut ketawan. Sedangkan Ikhsan enteng aja di belakang gue jalan sambil garuk-garuk pantat di depan muka orang-orang yang dia lewatin.

Setelah berhasil keluar dari pintu keluar, tiba-tiba kita berdua dikejutkan oleh sesosok anak perempuan mungil dengan tas kecil dan rambut yang diikat sedang melihat ke arah kita berdua dengan tatapan menyeramkan. Gue kaget, begitu juga Ikhsan yang langsung teriak.

“Nyet! Katanya dia masih di bawah! Gimana sih lo?! Lha terus ini kenapa dia udah ada di sini lagi aja anjir?!” Kata Ikhsan seraya bisik-bisik sambil menarik lengan baju gue.

“Ya mana gue tau! Nih anak ngebut banget udah bisa di sini lagi. Udah macam Lightning McQueen aja.”

Belum sempat merampungkan pembicaraan singkat tersebut, Ipeh dengan sigap langsung berjalan menghampiri kami berdua. Dia menatap ke arah kami dari ujung kepala sampai ujung kaki mencoba mencari tahu ada hal apa yang disembunyikan oleh kami berdua tapi tidak diketahui olehnya.

“Kok lo dah di sini lagi sih, Peh?” Tanya gue heran.

“Emang kenapa?” Jawabnya sinis.

“Bukannya tadi lo bilang lo masih di bawah ya?”

“Engga kok, gue sms pas gue udah di bioskop.”

“…”

“Kalian berdua ngapain sih di sini? Lagi nguntitin siapa?” Tanyanya lagi.

“Ngg.. Anu..” Gue mulai terlihat gelagapan.

“Eh, Peh, jangan di sini ngobrolnya, pindah aja yok di luar. Kagak enak ngobrol bisik-bisik di lorong sempit begini. Entar disangka lagi transaksi barang ilegal lagi ah.” Kata Ikhsan yang berusaha membawa Ipeh menjauh sebelum kak Hana keluar dari bioskop.

“Nah, gue setuju tuh sama si Monyet. Yuk Peh nanti gue traktir jajan deh.” Balas gue.

“Hmm..” Ipeh melihat curiga ke arah kami berdua.

“Ayo, Peh. Laper nih gue. Belum makan. Dah lama juga gue nggak makan McD di BIP, temenin yok, Peh.” Balas Ikhsan lagi.

“Tak bisa ku pungkiri. Lagi-lagi aku setuju dengan pendapat laksamana Ikhsan.” Balas gue sambil menepuk-nepuk pundak Ikhsan.

“Nggak biasanya kalian berdua akur gini. Jadi curiga gue lama-lama. Nggak ah, lagi males makan gue. Gue mau nunggu di sini aja, ceritain gih kalian lagi pada ngapain di sini.” Jawab Ipeh yang lalu bersender di tembok sebelah gue.

“…”

Gue dan Ikhsan cuma bisa saling tatap-tatapan dengan isyarat agar bisa secepatnya membawa Ipeh pergi sebelum pintu keluar bioskop dibuka. Tapi yang namanya bangke, biar ditutupin segimana juga lama-kelamaan bakal bau juga. Baru saja mau mencari alasan lain untuk membawa Ipeh pergi dari tempat ini, tiba-tiba ada pengumuman yang mengumumkan pintu bioskop tempat gue, Ikhsan, dan kak Hana nonton barusan kini telah dibuka. Tak perlu waktu lama untuk kemudian seluruh lorong ini dipenuhi oleh para penonton yang berhamburan dari pintu keluar.

Gue menatap ke arah Ikhsan. Ikhsan menatap ke arah gue. Lalu kita berdua pelan-pelan melirik ke arah Ipeh. Dan ternyata benar, Ipeh terlihat serius sekali melihat ke seluruh penonton yang baru keluar dari pintu bioskop tersebut. Emang namanya perempuan, instingnya kalau ada yang nggak bener pasti kuat banget.

Dan tiba-tiba,

“Loh, Mbe! Itu kan…” Ipeh menarik lengan gue dan menunjuk ke arah seseorang yang tampaknya begitu dia kenal.

.

                                                         ===

.

Gue hanya bisa diam dengan lengan seragam yang sudah nggak jelas lagi bentuknya kaya apa, kerah leher seragam gue sampai melar ke kiri lantaran ditarik-tarik mulu sama Ipeh. Kita bertiga terdiam tak bersuara dan melihat ke arah yang sama– kak Hana dan pacarnya yang sedang keluar dari bioskop sambil bergandengan tangan.

Mungkin karena saat itu kita bertiga berdiri menghadap ke arah pintu keluar bioskop langsung, maka hal yang paling nggak gue inginkan untuk terjadi terpsaka harus terjadi tanpa bisa gue hindarkan sama sekali. Kak Hana tanpa sengaja melihat ke arah gue dan terlihat ada rona terkejut di wajahnya. Sambil masih pelan-pelan berjalan dengan menggandeng lengan pacarnya, mata kak Hana terus terpaku kepada gue yang lambat laun semakin jauh di belakangnya. Untungnya saat itu pacar kak Hana tidak menyadari bahwa kak Hana sedang melihat ke arah gue. Yang gue takutkan adalah bukan kalau gue berantem sama tuh orang, tapi gue takut kalau-kalau kak Hana sampai dipukul atau ditampar oleh pacarnya. Karena setahu gue pacarnya itu termasuk orang yang ringan tangan, bahkan sama perempuan.

Setelah cukup lama berdiri tanpa bersuara sama sekali, lorong ini kembali sepi dan hanya menyisakan tiga orang saja. Gue, Ipeh, dan Ikhsan yang masih juga garuk-garuk pantat. Kayaknya nih anak lupa cebok tadi pagi, berkerak jadinya.

Gue pasrah dengan apa yang bakal terjadi selanjutnya. Setelah sosok kak Hana tidak terlihat lagi, akhirnya Ipeh mulai memalingkan pandangannya kepada gue secara perlahan.

Ada rona wajah bete gue lihat di sana, bibirnya naik, alis matanya ditekuk, pipinya ditembem-tembemkan. Astaga Ipeh lucu banget kalau lagi bete kaya anak kecil begini. Pingin meluk rasanya.

“Tau gini gue nggak dateng deh.” Ucapnya sinis lalu berjalan cepat meninggalkan gue dan Ikhsan begitu saja.

Karena gue merasa tidak enak dengan keadaan seperti ini, gue langsung bergegas mengejar Ipeh yang sudah terlanjur berjalan keluar dari Bioskop. Bandung Indah Plaza atau yang sering disingkat sebagai BIP ini mempunyai 4 lantai, dan di tengah-tengah tiap lantai itu ada lingkaran besar yang membuat para pengunjung dapat melihat ke lantai satu atau lantai lainnya secara langsung.

Gue kejar Ipeh yang sudah hampir menaiki eskalator turun menuju lantai tiga, gue genggam tangannya dan mengajaknya menjauh dari eskalator.

“Peh, kok bete sih?” Tanya gue sambil masih menggenggam tangannya.

“Ya pikir aja ndiri. Baru juga baikan!” Ipeh membuang muka.

“Bukan gitu, Peh. Tadi tuh..”

“Gini gini gini, kalian pasangan terong sama timun lebih baik tenangkan diri dulu. Elo, Dimas. Elo diam aja, elo itu nggak becus kalau disuruh menjelaskan suatu kejadian. Dan elo, rambo berotot, coba sekarang diem dan dengerin gue dulu.”

“…”

“Jadi begini, kita berdua tadi ke sini dalam rangka mencari inspirasi untuk bahan kita jualan nanti di Bazzar, nah kebetulan tadi ada SPG nawarin ke kita tiket nonton bioskop geratis. Ya sebagai anak SMA dengan dompet mirip kaya kanebo kering alias lepek begini kita sih mau-mau aja kalau disuruh nonton geratis. Tul, nggak Dim?”

“…”

“Aelah elo ditanya malah diem aja kaya ABG ketawan maling sendal mushola. Nah gue lanjut nih, Peh. Setelah dapat tiket geratis itu, ternyata tanpa disangka-sangka kita ketemu sama kak Hana. Setelah itu…”

“Nyet nyet udah deh nyet, udah. Nggak usah ngarang cerita lagi deh lu. Lagian cerita lu kaga ada masuk akalnya sama sekali. Sejak kapan bioskop punya SPG yang bagi-bagiin tiket gratis. Nenek gue yang kagak pernah nonton tipi aja pasti tahu. Nggak mungkin Ipeh bakal percaya sama cerita lo.” Sanggah gue.

“Eh?! Jadi cerita Ikhsan tadi tuh bohong?! Aku kira beneran dong!! Aku udah percaya padahal!”

“….”

“BHAHAHAHAHAHAK SALAH KAPRAH LO KUYA! Otak kecengan kesayangan lo ini kaga ada bedanya sama biji kenari. Cetek!” Kata Ikhsan yang ketawa ngakak di sebelah gue.

“Jadi ini tuh cerita sebenarnya gimana sih?! Mbe! Jelasin!”

Gue menghela napas, “Yaudah gue ceritain semua, lagian percuma boongin elo juga, yang ada malah nanti makin bete.”

Kemudian gue menceritakan semua kejadiannya. Dari awal bagaimana gue bisa bertemu dengan kak Hana, sampai bagaimana Ipeh menemukan kenyataan bahwa tadi gue lagi membuntuti kak Hana tepat sebelum dia bete tanpa sebab.

Tak luput juga gue menjelaskan bahwa dulu gue pernah dekat dengan kak Hana, bagaimana kita bertemu dan apa saja yang sudah kita lalui secara garis besarnya saja. Gue menceritakan itu untuk membuat Ipeh mengerti kenapa gue penasaran banget hingga pada akhirnya tadi memutuskan untuk membuntuti kak Hana. Gue juga ceritain tentang kejadian di warnet yang gue sama pacarnya kak Hana hampir berantem beberapa bulan yang lalu.

Ipeh mendengarkan gue dengan seksama, awalnya Ipeh terlihat bete ketika mendengar gue menjelaskan pernah seberapa dekat gue dengan kak Hana, namun kemudian Ipeh jadi terlihat sedikit lebih serius di saat gue menceritakan kejadian pacar kak Hana yang suka semena-mena dengan kak Hana itu.

Gila! Lo kenapa nggak pernah cerita ini ke gue dari dulu sih, Mbe?! Kenapa lo nggak curhat sama gue sih?” Tanya Ipeh sambil kemudian menepuk-nepuk pundak gue tanda prihatin.

“Enggak usah, lagian itu masa lalu kok, ngapain juga gue ungkit-ungkit. Nah semoga dengan itu lo jadi mengerti kenapa gue melakukan hal ini, Peh. Gue masih penasaran atas jawaban kenapa kak Hana balik lagi sama orang yang jelas-jelas udah nyakitin dia.”

“Hmm gitu ya?”

“Iya. Yaudah pulang yuk, lagian sekarang gue udah nggak penasaran lagi.” Kata gue.

“Eh, Mbe! Tunggu dulu. Mending kita cari kak Hana bareng. Gue juga jadi penasaran, Mbe. Gue mau ngeliat cowok yang kaya gimana sih yang sampe bisa ngebuat kak Hana ngelepas elo dulu.”

“Lha kenapa elo yang malah jadi semangat gini?!” Tanya gue heran.

“Ya biarin dong! Yuk cari yuk. Ayo kita lanjutin detektif-detektifnya. Sekarang coba kita pikirin bareng, kalau habis dari nonton bioskop biasanya kita ke mana? Nah kita cari ke tempat itu, siapa tahu kak Hana ada di sana.” Kata Ipeh yang lalu menarik tangan gue.

“San! Ikut nggak lo?!”

“Kemana?” Tanya Ikhsan polos.

“Nyari kak Hana lah begok!”

Ngapain dicari, noh orangnya dateng.” Kata Ikhsan sambil mengarahkan pandangannya ke sisi kiri.

Sontak mendengar perkataan Ikhsan barusan, Ipeh dan gue terkejut lalu buru-buru melihat ke arah yang Ikhsan maksud. Dan ternyata benar saja, di sana ada kak Hana yang tampak lagi berjalan cepat ke arah kami bertiga; sendirian tanpa pacarnya.

“Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kalau emang jodoh mah kaga kemana ya, Dim~” Kata Ikhsan ngeledek yang kemudian meringis kesakitan lantaran dipukul sama Ipeh gara-gara nggak terima sama perkataannya barusan.

Aduh, kenapa bisa jadi kaya gini sih?! Kenapa kak Hana malah nyamperin gue coba? Dan terus gimana ini si Ipeh nanti? Semoga kak Hana nggak melakukan hal yang aneh-aneh lagi kaya dulu waktu sesaat sebelum band sekolah kami tampil deh. Hal-hal yang membuat Ipeh cemburu setengah mati hingga pada akhirnya dia memilih pergi meninggalkan gue dengan orang lain.

Sambil dengan napas yang masih terengah-engah, kak Hana menghampiri kami bertiga. Kak Hana cukup terkejut ketika mendapati ada Ipeh di sana. Sebagai bahan pengingat, Ipeh dan kak Hana ini adalah Senior Junior dengan jabatan yang sama di ekskul Vocal Group. Kak Hana adalah Manager utama, sedangkan Ipeh adalah calon pengganti kak Hana. Sudah tentu mereka ini akrab sekali. Kak Hana sampe detik ini masih belum tahu kalau Ipeh juga menaruh rasa sama gue. Oleh karena alasan tersebut, maka tanpa disadari kak Hana melakukan beberapa tindakan yang membuat Ipeh merasa tidak nyaman.

“Loh, ada Ipeh juga toh?” Tanya kak Hana kaget.

“Halo, kak.” Jawab Ipeh dengan senyum yang dipaksakan.

“Ipeh kemana aja ih? Semenjak makan-makan di cafe pas pembagian piala dulu kamu tiba-tiba jadi jarang ngumpul VG lagi. Aku kangeeeen.” Tiba-tiba kak Hana memeluk Ipeh dengan manis sekali layaknya kakak perempuan yang bertemu adiknya kembali di sinetron Putri Yang Tertukar.

“Hehe aku sibuk karate, kak. Mau ada pertandingan soalnya.” Kata Ipeh bohong.

“Ipeh Ipeh, aku mau curhat banyak sama kamu. Kapan-kapan kita main yuk!” Ajaknya.

“Ngg… anu..” Ipeh terlihat risih sekali dengan kehadiran kak Hana. Gue tahu sebenarnya Ipeh tidak membenci kak Hana, tetapi mungkin karena mengetahui kak Hana sempat memiliki masa lalu dengan gue, akhirnya Ipeh sedikit risih dengan kehadirannya.

Mungkin hal yang sama juga bakal terjadi dengan kak Hana kalau sampai tahu Ipeh menaruh rasa sama gue. Dan semoga saja hal itu tidak pernah diketahui kak Hana sampai kapanpun. Gue nggak ingin kak Hana sampai membenci Ipeh.

“Eh ada Ikhsan juga. Ikhsan kemana aja?” Tanya kak Hana yang langsung menjabat tangan Ikhsan.

“Ada kak, hehehe aku udah punya pacar sekarang jadi jarang ikut latian band sama VG lagi.” Kata Ikhsan horny gara-gara pegangan tangan sama cewek cakep.

“Wuih hebat! Terus, kalau Dimas? Sekarang pacaran sama siapa?” Tiba-tiba kak Hana melihat ke arah gue.

“…”

Kami bertiga langsung terdiam awkward. Ikhsan awkward karena mengetahui semua kisah gue atas kak Hana dan Ipeh. Ipeh awkward karena merasa punya salah sama gue lantaran dia pacaran sama orang lain. Dan gue awkward karena orang yang seharusnya jadi pacar gue menanyakan pertanyaan yang jawabannya bisa jadi nama kak Hana atau nama Ipeh itu sendiri.

“Ngg.. Bel..”

“Udah kak!” Belum sempat gue menjawab, tiba-tiba Ikhsan memotong.

“Eh?!” Gue langsung menengok ke arah Ikhsan.

“Udah punya pacar, kak. Namanya Cloudy.” Kata Ikhsan asal tanpa persetujuan gue sama sekali.

“Hah? Cloudy? Cloudy yang itu?” Tanya kak Hana heran.

“Iya, coba aja deh tanya ke anak-anak yang lain, si Dimas ini kalau di sekolah deket banget sama Cloudy, ke mana-mana sering bareng.”

“Wah hebat! Tapi aku nggak heran sih kalau sampai Cloudy suka sama Dimas. Wajar.” Kata kak Hana manis.

Gue sempat melirik ke arah Ikhsan dengan lirikan penuh tanya. Namun Ikhsan membalas lirikan gue yang seakan berkata tenang-bro-gue-cover-lo-biar-kak-Hana-nyesel-pernah-ngelepas-lo-dulu. 

Kadang sahabat gue ini baik, tapi kadang bikin kesel juga. Walaupun niatnya baik tapi kok kesannya gue merana banget ditinggal kak Hana dulu. Ish!

“Oh iya, Dimas.” Tiba-tiba kak Hana memecah lamunan gue.

“Ya, Kak?”

“Ngg.. Ada yang mau aku bicarain sama kamu.” Tambahnya lagi.

“Boleh kak, mau bicara apa?” Tanya gue.

“Ngg…” Kak Hana tampak merasa tidak nyaman untuk memulai pembicaraan.

Ikhsan yang sedari tadi berdiri di sebelah gue sepertinya mengerti dengan sikap tidak nyaman yang kak Hana tunjukkan. Tanpa pikir panjang Ikhsan langsung menyusun rencana agar membuat gue bisa bicara empat mata doang dengan kak Hana.

“Eh, kak. Aku pergi dulu ya. Kebetulan aku lagi laper mau makan dulu di McD bawah. Oh iya, Peh. Temenin gue yuk.” Ajak Ikhsan sambil mendorong Ipeh untuk menjauh.

Enggak ah, gue di sini aja.” Jawab Ipeh polos tampak tidak mengerti dengan maksud Ikhsan barusan.

“Ish nih anak, udah lu ikut gue!” Kata Ikhsan galak sambil menarik tangan Ipeh agar pergi menjauh.

“Eh tapi, San, tapi…”

“Udah bawel lu!”

Setelah Ikhsan dengan susah payah berhasil menggiring Ipeh agar pergi menjauh, akhirnya kini di depan gue hanya tinggal ada sosok kak Hana doang. Sesosok wanita manis, berkulit putih, bergigi gingsul di bagian kiri yang pernah benar-benar membuat gue jatuh cinta dulu itu, kini ada di depan gue lagi setelah sempat sekian lama menghilang.

“Hay, Dim.”

Tiba-tiba kak Hana memecah keheningan.

.

.

.

                                                               Bersambung

Wah ternyata kepanjangan :|
Gue bagi ke 2 part aja yak. 
Next part jam 11 malem deh.

Previous Story: Here

Seorang Istri Bisa Memasak, Harus Atau Perlu?

Beberapa hari ini saya rajin sekali mengunjungi salah satu web tutorial memasak. Yang dimasak macam-macam, dari mulai kudapan hingga makanan utama. Melihatnya seperti sesuatu yang mudah untuk dikerjakan. Namun jika detik ini, setelah saya melihat beberapa video tutorial itu disuruh ke dapur lalu memraktekkan apa yang sudah saya lihat, saya jamin tak akan pernah semudah yang koki itu lakukan. Memasukkan bumbu-bumbu tanpa ketakutan akan keasinan atau terlalu manis. Memanggang, menggoreng atau menumis masakan tanpa resah akan gosong atau belum matang. Dan lagi, kalau saya memasak pastinya tidak akan sesantai itu, dapur berantakan atau bahkan muka penuh cemong.

Alinea kedua ini saya mengaku belum terlalu mahir dalam memasak. Terakhir kali memasak sekitar dua atau tiga hari yang lalu. Itu pun hanya air panas dan mie instan. Kalau itu tidak masuk ke dalam kategori memasak, berarti sekitar minggu lalu terakhir saya memasak, ya hanya memasak nasi goreng. Itu pun terlalu asin dan terlalu berminyak. 

Berbeda dengan jaman kuliah yang hampir setiap minggu ada praktek memasak. Mau itu praktek memasak kuliner dasar (mata kuliah yang mempelajari masakan sederhana, tidak terlalu rumit dan lebih banyak makanan dalam negeri), kuliner lanjut (mata kuliah yang mempelajari masakan sedikit rumit, mungkin karena tidak terbiasa dengan bahan makanan yang digunakan dan cara pengolahannya, lebih banyak mempelajari masakan luar negeri), gizi daur (memasak masakan yang sudah ditentukan nilai gizi dan menunya untuk orang sehat) sampai dengan dietetik (memasak masakan untuk orang sakit yang gula dan garam saja diperhatikan, pemilihan bahan makanan harus jeli, kalau tidak dicerca Bu Nelly dan Bu Emi – dosen saya yang jika menilai dan mencerca masakan mahasiswa nyerinya bisa sampai ulu hati). Selepas lulus saya jarang sekali ke dapur. Membantu Ibu memasak pun hanya sekedar menyiangi sayur dan bawang selebihnya mencuci dan memotong-motong daging atau sayuran. Dasar anak durjana. Pft.

Pagi ini setelah menghabiskan dua entah tiga video tutorial memasak, saya sampai pada pertanyaan seperti judul di atas. Dua orang teman kantor, bapak-bapak muda yang sudah memiliki satu sampai dua orang anak saya tanya-tanyai. Seperti diwawancara perusahaan, kata mereka. Saya menyanggahnya, anggap saya sedang mencari ilmu. Saya tanya, dulu awal menikah istri mereka bisa memasak tidak? Ada yang istrinya memang sudah jago memasak dari jaman masih gadis, ada yang istrinya tidak begitu pandai memasak namun bisa dan berkembang waktu ke waktu. Lalu saya tanya kembali, jika masakan istri tidak enak reaksinya bagaimana? Semua kompak menjawab akan terus memakan masakan istri, ‘Sesekali saya mengkritik kurang apa atau terlalu apa, hanya agar ke depannya bisa istri saya koreksi di mana letak salahnya. Ga apa masakan ia ga enak di lidah saya. Tapi kalau sampai teman saya ke rumah dan masakan istri saya kurang enak, jangan sampai.’ tutur om-om anak dua. ‘Kalau saya bukan tipikal yang harus masakan istri selalu enak di lidah, saya berusaha untuk menghargai. Oke saya bilang ini masakan agak asin, tapi setelahnya saya hargai dengan tetap memakannya hingga habis, karena saya tahu istri saya berusaha untuk menyenangkan lidah saya.’ jawaban bijak dari bapak muda lainnya.

Mengakhiri perbincangan, saya tanya juga ‘Saat menikahi gadis pilihan om-om, ada syarat istri harus pintar masak ga?’ dan jawaban mereka terpecah menjadi dua, namun satu arah. Yang pertama, ‘Haruslah, saya orangnya gampang ilfeel. Mau cewek secantik apa, kemudian saya tahu dia tidak bisa memasak, saya ilfeel. Sama halnya saya melihat cewek cantik dan seksi, tahunya dia merokok.’ Yang kedua menjawab, ‘Untuk pintar mungkin saya tidak akan menuntut sejago chef-chef ternama. Tapi untuk bisa masak itu perlu. Masa iya nanti beli makanan di luar terus, susu bayi apa kabar?’ Saya mengangguk-ngangguk tanda saya paham apa yang tersirat.

Kemudian, untuk menjawab pertanyaan dari judul tulisan ini sebenarnya hanya tinggal membaca ulang judul. (Saya penulis yang memusingkan, terkadang. Maafkan.) Pertanyaan dan jawaban ada di sana. Ya, seorang istri harus bisa memasak. Setidaknya masakan sederhana rumahan. Kalau memiliki kepintar mengolah masakan menjadi makanan yang bercita rasa restoran, anggap bonus untuk suami. Namun bisa, tetap harus. Kalau kata seseorang, ‘Mending mana? Suami makan di rumah atau ‘jajan di luar?’ 

Nah sehubungan saya masih gadis dan bukan janda karena menikah saja belum, tulisan ini semacam motivasi untuk diri sendiri. Harus lebih banyak berlatih, membantu Ibu, bertandang ke dapur. Tidak hanya tahu makan saja.  

Menulis kreatif adalah hasil kerja sama antara otak kanan dengan otak kiri yang kompak. (Sekedar) menulis kata-kata adalah kerja otak kiri, dan berimajinasi serta berkreasi dengan kata-kata adalah kerja otak kanan.
—  Bukankah menulis adalah pekerjaan yang mengagumkan? :)