koleksi

Ah, aku menyukai matamu. Menatapnya membuatku mampu melihat bayangan diriku, seolah aku adalah satusatunya orang yang bertahta disitu.
Ah, aku suka. Bolehkan aku menjadikannya sebagai koleksi gantungan kunciku.?
Tips mengatasi Writer's Block:

1. Coba dengar musik, dengan musik kita bisa mengubah pikiran buntu jadi segar lagi. Musik yang bagus buat penulis adalah musik jazz tanpa lirik atau dengar musik instrumen, terus kita coba isi dengan lirik yang menurut kita pas, misal instrumen piano Yiruma dengan lirik yang kita mau.

2. Coba Point of View yang berbeda. Bukan cuma cerpen, nulis puisi juga bisa pake POV yang berbeda-beda. Kita bisa jadi si dia atau jadi benda mati. Dari situ kita bisa mengatasi.

3. Koleksi kata-kata baru, unik, tulis di note. Misal kata “katarsis”, atau kata apa aja di kamus yang jarang kita gunakan. Coba pake itu. Bisa jadi tulisan kita lebih bagus.

4. Fokus. Jauhkan diri dari yang mengganggu. Misal dengan pake headset. Atau nulis malam-malam menunggu sepi. Atau menulis puisi waktu subuh. Pokoknya menjauh dari kegiatan yang ramai

5. Free-write. Nulis bebas. Coba tulis apa pun yg terlintas di kepala. Di satu lembar kertas. Tulis saja jangan sampai berhenti sebelum penuh. Setelah itu baca. Pasti ada hal menarik bisa dimasukan ke tulisan kita atau puisi kita

6. Banyak baca buku, apa pun. Kalo bisa yg bukan bidang kita. Sesekali baca berita sains, atau psikologi, atau mitos-mitos.

5

Grab now!!!murah2 je ni nak jual koleksi jantan straight melancap smpai pncut 😇😇😇. Yg pasti mmg best!! Meleleh beb. Hensem2 belaka.
Inbox ur wassap number now!!! 💵💵💵💵💵

youtube

budak sekolah cantik koleksi hot .. khas untuk penggemar budak sekolah hahaha ….trep untuk lancap ok ni kan kan kan 

source  : www.youtube.com/c/ainlion

Beberapa hari lalu, gue sempat dipertemukan dengan salah satu kenalan yang sedang menjalani terapi hormon untuk menjadi seorang transgender. Dia, yang sebelumnya gue ketahui sempat melakukan beberapa kali percobaan bunuh diri saking tidak kuatnya menahan perundungan dari sekitar, kini dengan penuh percaya diri mengaku kepada gue bahwa dia lelah dengan standar bahagia orang lain. Dia mau melaksanakan standar bahagianya sendiri.

Gue tidak bisa menahan diri untuk ikut berbahagia.

Waktu SD, salah satu guru gue pernah bilang; ‘temen itu harus pilih-pilih, kalo kita temenan sama tukang minyak wangi kita bisa ketularan wangi, tapi kalo kita temenan sama tukang bengkel kita bakal ketularan kotor belepotan oli’.

Ah, masa sih.

Setelah masuk ke dunia nyata sebagai individu yang beberapa tahun lebih tua, gue kemudian mendengar ada orang-orang yang menyebut orang-orang lain yang berbeda dengannya dengan; ‘ah, lo mainnya kurang jauh’.

Gue mulai paham makna ‘mainnya kurang jauh’ ini setelah gue mulai merantau.

'Jauh’ nih bukan perkara lokasi, bukan soal jarak. Tapi soal keberagaman, variasi orang-orang yang bersinggungan dengan hidup lo, either as a stranger who just accidentally passed by, or as a close bestie.

Pada akhirnya gue dikasih lihat bahwa berteman dengan orang-orang yang beragam membuat gue belajar untuk tidak menghakimi. Gue diberi kesempatan untuk mengenali perbedaan sebagai bentuk kekayaan, sesuatu yang bukan seharusnya diseragamkan.

Gue setuju kalau sebagai teman sangat dekat, tanpa sadarpun kita akan memilih. Kenyamanan tidak bisa jatuh sembarang tempat. Tapi untuk sekedar kenalan, rekan seperjalanan, kawan sepekerjaan, entah kenapa rasanya rugi sekali kalo harus dipilih-pilih.

Kesempatan mengenali manusia yang super unik dan beragam itu luar biasa menyenangkannya, fyi.

Lo tau ngga, kalo ada manusia yang dia heteroseksual, tapi aromantic? Jadi dia tertarik secara seksual dengan lawan jenis, tapi tidak tertarik sama sekali untuk menjalin hubungam romantic.

Lo tau ngga, kalo ada manusia yang dari lahir dia memiliki penis dan jakun, tapi di dalam hatinya dia merasa perempuan seutuhnya, sehingga dia berekspresi sebagai perempuan. Tapi untuk urusan seksual, dia tetap suka perempuan. Hayoloh.

Lo tau ngga, kalo ada perempuan yang ngga mau punya anak selama hidupnya, bukan karena takut melahirkan atau trauma apapun itu, cuma ngga pengen punya anak aja?

Lo tau ngga, kalo ada laki-laki yang suka main boneka Barbie, bahkan sampe rajin banget beli koleksi baju Barbie terbaru?

Lo tau ngga, kalo ada orang yang kalo tidur harus banget tengkurep, karena kalo telentang dia ngga akan pernah bisa tidur?

Lo tau ngga, kalo ada orang yang seumur hidupnya ngga suka makan cokelat, keju, dan durian?

Ada. Orang-orang yang gue sebutkan di atas ada. Nyata. Bukan cuma ada satu, pun. I’ve met some.

Rugi banget ga sih, kalo kita taunya orientasi seksual sama orientasi romansa itu linier, ekspresi gender dan orientasi seksual itu sama, semua perempuan itu pengen punya anak, semua laki-laki itu tidak suka boneka, semua orang tidurnya telentang, atau semua orang suka cokelat keju dan durian?

Manusia tidak terlahir dan terdewasakan dengan wujud dan cara yang sama. Tidak bisa dilabeli dengan standar-standar yang sama. Seunik dan seistimewa itu. Semakin 'jauh’ lo main, semakin banyak bentuk-bentuk manusia yang membuat lo ternganga tidak percaya, apalagi kalau bentukan itu jauh berbeda dari kebiasaan dan standar 'normal’ menurut lo.

Gue belum lagi bicara soal disabilitas mental atau kelainan kejiwaan yang super beragam itu. Belum lagi soal adat istiadat, suku, agama, ras, kepercayaan.

We live among differences, anyway.

Makanya kapan-kapan kalo gue berkesempatan ketemu lagi sama guru SD gue tadi, gue mau tanya;

Apa iya, kalo temenan sama tukang minyak wangi pasti wangi? Kalo dia belum mandi dan lagi libur jualan gimana? Atau abis ngulek sambel bawang di dapur?
Apa iya, kalo temenan sama tukang bengkel pasti belepotan oli?
Kalo dia cuci tangan dan mandi dulu sebelum main gimana? Atau ketemuannya pas dia lagi ngga kerja?

Gue pernah tuh karena keliatan akrab sama salah seorang janda, ada orang yang nyeletuk; 'awas ntar ketularan janda’. Wow, lambe turah sekali. Dikira janda itu panu, bisa nular?
Rugi banget ngga temenan sama janda, lo ngga tau life hacks menghadapi rumah tangga. Pelajaran dari yang gagal seringkali lebih penting daripada yang berhasil, you know.

Oh, dan satu hal lagi.

Beberapa perbedaan antar manusia terjadi di luar kendali, entah karena masalah genetis, atau warisan dari leluhur. Untuk hal-hal di luar kendali ini sepertinya bukan seharusnya jadi perdebatan, sih. Bukan juga seharusnya jadi diseragamkan. Buat apa juga.

Intinya, kenal-lah sama beraneka jenis manusia, seabsurd dan seaneh apapun mereka bagi standar lo. Tidak ada ruginya, selama lo bisa menempatkan diri.

Mau itu profesor, penjaja seks, atheis, odha, duda, biksu, tukang gali kubur, tukang rias jenazah, kernet terminal, transgender, aktifis, nihilis, atau bahkan abang-abang penjual ikan cupang aduan di acara senam tiap jumat di lapangan.

They’re all an open book for you to learn the world. For goddamn free.

Selamat hari buku nasional!

ps: gue pengen nulis rekomendasi buku2 bacaan yang gue baca deh. Pada mau baca ngga sih? *sok nanya* *kek bakal ada yg jawab aje*

Aku & Bapa Mertuaku

Ini Blog Cerita Bogel - Koleksi cerita lucah melayu malaysia / indonesia Lucah Berahi Panas dewasa

Koleksi cerita lucah melayu malaysia / indonesia Cerita Lucah Berahi Cerita Panas Cerita dewasa Aksi lucah ghairah Aksi lucah budak sekolah Berahi lucah Video Lucah Cerita lucah melayu Blog lucah Seri lucah Kisah lucah Cerita kisah lucah cikgu

Ini Blog Cerita Lucah|
Ini Blog Cerita Lucah 2
Ini Blog Cerita Nafsu|
Ini Blog Cerita Stim|
Ini Blog Cerita Bogel 
Ini Blog Cerita Awek 2016|
Ini Blog Cerita Stim 2016|
Ini Blog Cerita Sangap|
Ini Blog Cerita Sex|
Ini Blog Cerita Panas|
Ini Blog Cerita Sundal |
Ini Blog Cerita Awek|
Ini Blog My Cerita Stim|
Ini Blog Cerita Bogel 2016|
Ini Blog Cerita Hijab|

Aku Dan Bapa Mertuaku

“Untung you Kiah. Minggu lepas kakak perhatikan tiga hari Aznam tak ada di rumah, bapa mertua you sanggup tinggalkan rumahnya untuk datang temankan you di sini. I nampak you ceria betul bila Pak Man tu ada di sini,” Kak Rahmah menegur aku ketika sama-sama menyiram pokok bunga di perkarangan rumah masing-masing.Jam masa itu 6.30 petang. Sebagai jiran sebelah rumah, jalinan hubungan tetangga aku dan Kak Rahmah amat baik sekali. Aznam, suamiku. Dan Abang Rosli, suami Kak Rahmah, juga berkawan rapat, selalu mereka keluar memancing bersama. Sekali-sekala pergi berjemaah di masjid bersama. Kak Rahmah dan Abang Rosli mempunyai dua orang anak perempuan. Kedua-duanya masih menuntut di sekolah berasrama penuh, seorang Tingkatan 3 di utara manakala seorang lagi Tingkatan 1 di selatan Semenanjung Malaysia. Mereka kepinginkan anak lelaki tetapi tiada rezeki setakat ini.Aku tahu Kak Rahmah, seperti aku juga, selalu tinggal keseorangan kerana suaminya kerap tiada di rumah, mungkin kena bertugas outstation macam suamiku juga agaknya. Aku tak tahu apa sebenarnya kerja suaminya. Aku segan nak tanya mereka, takut-takut mereka bilang aku ini busy body. Yang aku dengar dia bekerja di sebuah syarikat swasta ‘import-export’. Aku tak tahu berapa umur Kak Rahmah, tetapi rasanya tidak melebihi 35 tahun.

Dia seorang yang pandai jaga badan. Walaupun sudah berumur dan badannya sudah agak berisi, dia selalu kelihatan bergaya, cantik, kemas dan masih seksi. Rendah sedikit daripada aku.Warna kulitnya hampir-hampir sama denganku. Saiz ponggong dan buah dadanya.. Agak besar juga, tetapi tak boleh lawan aku punya daa! “Tak tahulah Kak. Sebenarnya, I tak ajak bapak tu datang temankan I bila Aznam tiada di rumah. Dia saja suka nak datang temankan I,” jawabku dengan tenang dan selamba saja.”Agaknya dia rasa bosan dan kesunyian duduk seorang diri di rumahnya sejak emak Aznam meninggal.””Tentulah dia kesunyian tinggal seorang di rumah. Kakak nampak Pak Man tu masih kuat, sihat dan cergas, elok kalau dia kahwin lagi agar ada orang boleh menemani dan menjaga keperluannya,” kata Kak Rahmah sambil ketawa melebar.”Betul kata kakak tu. Esok mungkin bapak I tu datang lagi ke sini. Jam 6.00 petang esok Aznam akan bertolak ke Kota Baru. Empat hari dia kat sana nanti.””Tak apalah Kiah… you dah ada tukang teman yang boleh diharapkan.. Aznam pergi outstation lama pun you tak perlu risau, Kiah.”Melalui ketawa dan nada suaranya aku nampak Kak Rahmah seolah-olah macam mengusik-ngusik aku.”Alah… dia tak datang temankan I pun tak apa Kak, I tak risau. Kalau ada apa-apa hal pun, kakak kan ada sebelah rumah..

Saya boleh minta tolong kakak, ya tak?”Aku menyampuk dengan tujuan menunjukkan betapa pentingnya dia kepada aku sebagai jiran yang baik, terdekat dan boleh diharapkan. Kak Rahmah tersenyum lebar mendapat kata-kata pujian daripada aku. Suka benar dia mengetahui yang dia mampu menjadi orang yang boleh diharapkan oleh jirannya.”I teringin benar hendak join you all duduk-duduk makan, minum, tengok TV dan berborak-borak dengan you dan bapa mertua you tu bila dia berada di rumah you, tapi I seganlah.. Dia tu baik dan peramah orangnya, selalu menegur sapa bila nampak I kat halaman rumah ni.”Tergamam juga aku sebentar mendengar keluhan dan rayuan Kak Rahmah.”Dia ni minat nak bersembang dengan aku ke atau bapa mertua ku?” Terbit satu persoalan dalam hati kecilku.”Apa nak disegankan Kak… datanglah.. Kakak duduk seorang kat rumah pun bukan buat apa-apa…” tanpa was-was dan syak wasangka aku mempersilakannya berbuat seperti yang dihajatkannya. Tidak berdaya aku cuba menyekat keinginannya.”Terima kasihlah Kiah, tengoklah nanti.. Oh ya, kalau bapa mertua you sudilah, esok malam apa kata kita bertiga pergi dinner somewhere, ambil angin dan tukar-tukar selera..” balas Kak Rahmah dengan suatu senyuman yang manis dan rasa keseronokan.”Takkanlah dia tak mahu kalau kita ajak. Dia pun nampaknya suka pada kakak,” semacam giliran aku pula mengusiknya.”Tapi, esok malam Abang Rosli tak balik lagi ke?” aku minta kepastian daripadanya.”Tiga hari lagi baru dia balik, itu pun belum tentu,” jelas Kak Rahmah sambil menyudahkan siraman pokok bunganya.”Kalau gitu, no problem lah Kak,” balas ku sambil menyudahkan juga siraman ke atas pokok bungaku.Selepas itu kami dengan girangnya melangkah masuk ke dalam rumah masing-masing.

Sebelum tidur malam itu, fikiranku mengacau-ngacau. Aku langsung tidak teringatkan Aznam yang tidak berada di sisiku. Aku sudah teringat-ingatkan bapa mertuaku yang akan datang esok petang. Aku terbayang-bayangkan segala babak dan peristiwa aku dengan bapa mertuaku pada minggu lalu. Aduh.. Seronoknya! Dalam sedikit waktu saja, nafsuku sudah naik teransang, lantas aku mulalah ‘bermain-main’ dengan nonok dan buah dadaku. Aku mengenang-ngenangkan kembali betapa enaknya aku mengangkang dan menonggengkan pukiku agar nonokku yang tembam dan gatal dapat dibedal oleh butuh bapa mertuaku yang besar, keras dan panjang itu. Aku membayangkan semula betapa seronoknya aku menonggeng dan mengangkang agar nonok ku dapat dijilat sempurna oleh bapa mertuaku semahu-mahu dan sepuas-puasnya.Aku terpandang-pandang bagaimana kemasnya bapa mertuaku meramas-ramas dan menghisap-hisap tetekku yang besar. Sekonyong-konyong, tidak semena-mena aku sempat terbayangkan bapa mertuaku sedang mengepam nonok Kak Rahmah dengan hebat sekali. Aku terbayangkan Kak Rahmah sedang mengelitik, melenguh kesedapan, mengangkat dan mengangkangkan puki dan nonoknya selebar-lebarnya untuk dipam oleh bapa mertuaku. Aku terbayangkan betapa enaknya bapa mertuaku meramas-ramas dan menyonyot-nyonyot buah dada Kak Rahmah yang besar juga itu. Oh… a dirty imagination! A dirty mind! Bagaimana aku tiba-tiba boleh ada ‘instinct’ membayangkan ‘perilaku’ Kak Rahmah dengan bapa mertuaku aku tidak tahu.

Aku terlelap tidur dalam keadaan nonokku sudah lekit berair..”Bapak, lepas Maghrib nanti Kak Rahmah kat sebelah rumah tu ajak kita pergi dinner kat luar, bapak nak pergi tak?”Aku bertanya bapa mertuaku sambil meletakkan secawan teh halia, dua keping roti bakar dan dua biji pisang ambun di hadapannya. Aku tahu jawapan daripada bapa mertuaku tentu positif kerana dia pernah memuji kecantikan dan keseksian Kak Rahmah pada ku. Dia pernah memberitahu aku yang dia simpati kepada Kak Rahmah yang selalu ditinggal keseorangan. Kemungkinan besar dia juga ada menaruh hati kepada Kak Rahmah tu. Kemungkinan besar dia juga dah lama geramkan buah dada dan nonok Kak Rahmah tu.. Jantan biang! Jantan gatal! Bapa mertuaku baru saja sampai ke rumahku kira-kira setengah jam. Dia tak sempat menemui anaknya, Aznam, yang telah bertolak ke Kota Baru lebih awal daripada yang dijangkakan.Bagaimanapun, Aznam telah tahu yang bapanya akan datang untuk menemani aku lagi. Dia tidak risaukan keselamatan aku. Dia langsung tidak mengesyakki sesuatu telah berlaku ke atas diriku. Dia tidak tahu nonok bininya telah dikerjakan sepuas-puasnya oleh ‘monster’ bapanya.

Dia tidak sedar tetek besar bininya telah diramas dan dihisap semahu-mahunya oleh bapanya yang terror. Kasihan… dia tidak tahu pagar yang diharapkan telah memakan padinya. Dia tidak tahu nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak sedar yang nonok dan seluruh jasad bininya bukan lagi milik syarikat peseorangan (sole-proprietorship) nya. Dia tak tahu saham syarikat bininya telah jadi milik perkongsian (partnership). Tak betul-betul jaga, akan jadi milik syarikat sendirian berhad atau lebih maju lagi jadi syarikat berhad.Sekembalinya dari Penang minggu lalu, aku telah beri Aznam ‘makan’ secukup-cukupnya.. Cukup pada dialah! Walaupun aku telah penat ‘kerja keras’ bersama bapa mertuaku, bahkan lima jam sebelum dia tiba ke rumah masih lagi bertungkus lumus mengharungi samudera yang bergelombang dalam bilik tidur tetamu, aku cepat-cepat hidangkan ‘jamuan’ sewajarnya kepadanya. Aku tunjukkan pada dia yang aku sungguh-sungguh kelaparan dan kehausan semasa dia tiada di rumah. Aku nak buktikan kepadanya yang aku amat ternanti-nantikan dia punya. Lakonanku sungguh sepontan dan berkesan sekali. Ibarat kata, setidak-tidaknya mampu mendapat ‘nomination’ untuk menjadi pelakon utama wanita terbaik.Namun layanan dan response yang aku perolehi daripadanya seperti biasa juga. Beromen sekejap, cium sini sikit sana sikit, ramas sana sikit sini sikit, pam nonokku lebih kurang 5-6 kali air maninya sudah terpancut. Nasib baik meletup kat dalam rahimku. Dia letih dan penat katanya. Betullah tu! Baru balik dari jauhlah katakan..

Dia tak tahu aku juga penat, baru balik daripada berlayar, lebih jauh daripadanya..! Dia tak tahu. Aku harap dia selama-lamanya tidak akan tahu.”Boleh juga,” bapa mertuaku dengan senyuman melebar menyatakan kesanggupannya.”Pergi dinner kat mana?” Dia bertanya dengan nada yang beria-ia benar mahu pergi.Bukan main girang gelagatnya. Sebenarnya aku telah dapat menyangka reaksi dan jawapan daripada bapa mertuaku. Tidak akan ada jawapan lain. Bak kata orang, sekilas ikan di air aku dah tahu jantan betinanya. Bukankah jauhari yang mengenal manikam?”Kiah tak tahu ke mana dia nak ajak kita pergi, kita ikut sajalah nanti, Pak. Kalau restoran tu kat tengah lautan bergelora pun Kiah tahu bapak nak pergi… ya tak?”Secara terus terang aku mengusiknya. Percayalah, aku tidak bertujuan mempersendakannya. Aku kan sayang padanya.. Bergurau senda kan baik.. Hidup lebih harmoni dan ceria.”Ha, ha, ha..” Dia ketawa meleret dan mengilai-ngilai menampakkan kegirangan yang amat sangat.Sukanya seolah-olah macam orang kena loteri nombor satu lagi. Bagimanapun, aku tidak menaruh syak wasangka yang bukan-bukan terhadapnya dengan Kak Rahmah.”Takkanlah bapa mertuaku mahukan Kak Rahmah. Aku kan ada. Dah lebih daripada cukup…” bisik hati kecilku.

Tanpa membuang masa, aku menelefon Kak Rahmah untuk memberitahunya yang bapa mertuaku mahu ikut pergi dinner kat luar lepas Maghrib nanti.”Baguslah.. Jam 8.00 nanti kita bertolak. Pakai kereta bapak mertua you ya Kiah.. Kalau dia memandu lebih selamat..”Kak Rahmah ketawa mengilai dalam telefon. Nampak benar dia cukup gembira menerima berita baik daripada aku. Sebaik saja aku meletakkan gagang telefon..”Diner kemudianlah Kiah, bapak dah lapar ni. Bapak nak makan sekarang..”Bapa mertuaku lantas bangun meninggalkan kerusinya dan berjalan menghampiri aku yang masih tercegat berdiri di sudut telefon.”Tunggulah Pak, lepas Maghrib nanti kita pergilah keluar makan.. Bukannya lama lagi..””Bapak bukan nak makan nasi, bapak nak makan.. Kiah… Kiah punya…”Bapa mertuaku merengek umpama kanak-kanak yang kehausan menagih susu daripada ibunya. Namun mesejnya sudah cukup jelas kepada ku membuat interpretasi sewajarnya. Yang bagusnya, dia sudah berterus-terang, dia bilang apa dia mahu, tanpa berselindung. Aku lebih daripada faham apa yang diingininya.Kucing jantan sudah biang! Dia sudah kehausan dan ketagih untuk memerah dan menghisap ‘susu’ ku. Aku tahu dia bukan sahaja haus bahkan lapar untuk memakan kuih apam ku yang tembam. Aku tahu. Aku tahu, lebih daripada tahu.

Sebenarnya aku juga sudah ‘haus’ dan ‘lapar’.Kucing betina ni pun sudah miang juga! Cuma kucing betina bila biang tidak buat bising seperti kucing jantan. Mulut ku yang kat bawah itu sudah lima hari tidak dapat makanan. Tetapi, bagimana gatal sekali pun aku, takkanlah aku yang nak meminta-minta daripadanya. Perasaan malu tetap bersemarak di sanubari. Perempuanlah katakan.. Lagi pun aku tidak mahu jadi lebih sudu daripada kuah. Aku tidak sempat membalas kata-kata rengekan bapa mertuaku. Dia dengan rakusnya memeluk aku dan terus ‘French-Kiss’ aku dengan begitu ghairah dan geram sekali.Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Mulut dan lidahku tanpa dipaksa memberikan immediate response kepada mulut dan lidahnya. Mulut dan lidah kami berjuang hebat. Umpama dua ekor ‘Naga Di Tasik Chini’ (Sebuah filem Melayu lama) sedang beradu kekuatan. Kami berpeluk-pelukan dengan erat, macam dah lama benar tidak bertemu, pada hal baru seminggu lebih berpisah. Aku terasa benar dadanya menghenyak-henyak gunung berapiku yang sudah mula menegang.

Aku terasa benar butuhnya sudah naik mencanak dalam seluarnya, menghenyak-henyak dan menggesel-gesel paha dan kelengkangku. Dengan tidak melepaskan mulutnya yang bertaut rapat dengan mulutku, tangan kiri bapa mertuaku memaut bahu kananku manakala tangan kanannya mula meraba-raba dan meramas-ramas tetek kananku.Aku melenguh dan bersiut keenakan. Sesak nafasku dibuatnya. Kedua-dua kakiku tergigil-gigil dan terangkat-angkat menikmati kelazatan yang dihadiahkan kepadaku. Sebagaimana yang pernah aku bilang dulu, nafsuku cepat terangsang bila tetekku kena raba dan ramas, meskipun masih terletak kemas dalam sampulnya. Nonokku sudah mula terasa gatal mengenyam. Tangan kananku juga mula bekerja. Mula menjalar-jalar dan menyusur-nyusur mencari.. Apa lagi kalau tidak butuhnya.. Aku raba dan urut butuhnya dengan ‘slow motion’ saja. Huuh, uuh..

Walaupun masih dalam seluar, sudah terasa besar, panjang dan tegangnya. Kalau tak sabar dan ikutkan geram, aku rasa macam nak tanggalkan seluarnya di situ juga. Berlaku adil, bapa mertuaku menukar kerja tangannya. Kini tangan kanannya memahut bahu kiriku manakala tangan kirinya meraba-raba dan meramas-ramas tetek kananku. Eer, eer, sedapnya.. Tetek kena ramas! Aku turut menukar tangan membelai kepala butuhnya. melenguh dan mengerang kesedapan. Tangan kanan bapa mertuaku menjelajah ke belakangku untuk mencari kancing coli ku. Aku pasti dia hendak membuka coli ku untuk melondehkan tetekku keluar daripada sampulnya agar dapat dilumat dengan lebih sempurna. Ketika itulah aku tersedar dan lantas memisahkan mulutku daripada cengkaman mulutnya.”Not now, not here, bapak… we haven’t got much time to do it now…” aku bersuara perlahan ke cuping telinganya.”Balik dinner nanti, kita ada banyak masa.. Semalam-malaman kita boleh buat.””Okay, okay.. Kiah. Sorry, sorry, I’m sorry.. I just couldn’t…”Bapa mertuaku memohon maaf dengan suara terketar-ketar sambil melepaskan aku daripada pelukannya. Kecewa benar dia nampaknya, tetapi dia bisa mengalah bukan kalah. Dia mudah menurut kata-kata dan kemahuan ku.

Dia juga sayang padaku. Bukankah aku demikian juga? Tidak dihabiskan kata-katanya, aku tidak berapa pandai untuk mengagak apa yang nak diperkatakannya lagi. Mungkin pembaca yang lebih bijaksana dapat menekanya dengan lebih tepat. Aku melangkah meninggalkannya untuk pergi ke bilik ku.”Bapak masuk bilik bapak ya… jam 8 nanti kita keluar…”Aku menyuruhnya umpama ‘Cleopatra’ mengeluarkan arahan kepada ‘Mark Anthony’. Kalau anda sekalian ingat, sekuat-kuat dan segarang-garang Mark Anthony tu, kena penangan Cleopatra, dia mati kuman dan menyerah. Negara dan bangsanya pun sanggup dipinggirkannya.

Kamu
— 

Telah kucari segala keburukanmu, telah ku koleksi segala bukti bahwa kau pantas ku biarkan pergi.

Namun, lagi-lagi aku kalah dengan butanya hati. Ia sudah tak bisa diracuni. Sebaliknya, hanya dengan lengkung bibirmu aku terjungkal sangat dalam.

Tuan, kau membuatku kesal!
Opini: Berburu "Suka" Pada Kata

Beberapa kali saya dihadapkan dengan pertanyaan “kak, gimana sih biar tulisan kita banyak yang suka?”

Sejujurnya saya bingung, karena tolak ukur “suka” seseorang pasti berbeda-beda. Tapi sedikit berbagi apa yang saya pelajari, mungkin tidak ada salahnya.

Saya punya tiga kunci utama, yang selalu saya amalkan di dalam tulisan.

Pertama: Kejujuran
Siapa yang suka dibodohi? Saya rasa tidak ada, jika ada, silahkan mengaku pada kolom komentar di postingan ini. Dengan kata lain, semua orang suka kejujuran. Tapi kejujuran seperti apa yang dimaksud? Fakta! Fakta selalu melekat dengan data. Maka itu rajin-rajinlah membaca. Saya bukan tipikal orang yang gemar membaca buku, tapi saya lebih membenci lagi jika saya tidak punya data/bahan untuk sebuah tulisan. Maka itu saya terpaksa membaca.

Kedua: Solusi
Saya setuju dengan pernyataan Raditya Dika, yaitu: tulisan yang baik, adalah yang berasal dari keresahan. Siapa di dunia ini yang tidak punya keresahan/masalah? Jika ada, silahkan mengaku pada kolom komentar di postingan ini. Jika semua punya masalah, seharusnya itu jadi kabar baik bagi kalian yang ingin menulis.
Tapi apa yang kita suka dari masalah? Solusi! Semua orang mencintai solusi. Sebab itu yang akan membuat kita lebih berani menyelesaikan masalah.

“Aku nulis karena aku punya masalah, dan gak tau solusinya kak, gimana caranya ngasih solusi ke dalam tulisan?”
Matikan handphone-mu, lalu temui kerabatmu! Keluar dari dunia maya, yang membuat isi kepalamu dipenuhi masalah orang lain atau tundukan kepalamu, dan berkacalah atau pelajari cara orang lain menyelesaikan permasalahannya.

Saya tipikal kedua, yang lebih senang menyediri untuk menemukan solusi. Maka itu saya akan lebih banyak diam, ketika ingin menulis, memikirkan masalah yang ada untuk menemukan solusinya.

Ketiga: Diksi
Ibarat makanan, diksi adalah bumbunya. Dan makanan yang enak akan memiliki penikmat. Maka pintar-pintar lah dalam memilih kata.
“Gimana caranya biar tahu kata itu tepat atau tidak, kak?”
Coba kamu perhatikan apa yang dilakukan seseorang ketika memasak. Dia akan menyicipi masakannya, dengan begitu dia akan tahu apa yang kurang dari masakannya. Maka bacalah kembali apa yang sudah kamu tulis berkali-kali, sampai kamu merasa cukup. Atau bila itu tidak berhasil, bacalah kembali koleksi bukumu, dan kalau perlu kamu tandai setiap kata yang menurutmu menarik, lalu pelajari bagaimana cara dia menempatkan kata per kata.

“Tapi bagaimana dengan majas, dan teori-teori lainnya?”
Buat saya tulisan itu layaknya makanan. Ketiga elemen tersebut adalah bahannya. Lalu majas adalah garnis yang mempercantiknya. Jadi meski tanpa garnis, selama makanan itu enak, pasti akan memiliki penikmatnya sendiri.

Dan jangan berhenti menulis, sebab makanan yang enak tidak selalu terbuat dari kebetulan, tapi pengalaman.

Mungkin ini salah satu ke-soktahuan saya, tapi tidak ada salahnya mencari tahu kebenerannya.
Selamat menulis