klising

Ramadhan #6 - #12 : Jangan Dulu Menyerah

Saat kita berjuang untuk sesuatu yang sama dengan orang lain, memperjuangkan hal yang sama. Kemudian kita menyadari bahwa segalanya terasa sudah sampai batasnya, jangan dulu menyerah!

Sebab orang lain masih berjuang, mereka belum menyerah. Mereka masih melihat kemungkinan yang mungkin tidak kita lihat. Mereka masih memiliki cara yang mungkin tidak kita tahu. Jangan dulu menyerah.

Tulisan ini adalah rangkuman pelajaran dalam beberapa hari terakhir. Saya menghilang sejenak dari dunia maya karena ada hak tubuh saya yang harus saya tunaikan (baca: istirahat karena sakit). Di waktu itu, saya banyak menghabiskan waktu untuk mengamati juga memutar ulang segala hal yang terjadi dalam hidup saya dan orang-orang yang hadir silih berganti.

Dan saya dapati, setiap individu adalah pejuang. Ia sedang memperjuangkan banyak hal dalam hidupnya. Dari yang banyak itu, banyak hal yang sama antara satu dengan yang lainnya. Yang membedakan satu orang dengan yang lain hanya satu, daya juangnya.

Beberapa waktu yang lalu saya juga membuka bukunya Azhar yang terakhir; Pertanyaan tentang Kedatangan. Saya membukanya secara acak. Intinya, buku itu seperti bercerita tentang perjuangannya menanti buah hati sejak hari pernikahannya, dengan segala cara yang mungkin mereka lakukan.

Beberapa orang yang saya kenal atau sekedar tahu, tapi tentu saja saya tidak tahu bagaimana perasaan dan perjuangannya. Mungkin tengah menghadapi hal yang serupa, berjuang untuk hal yang sama, yaitu berjuang untuk memiliki buah hati dari pernikahan. Tidak hanya bulan, tapi hitungan tahun. Menanti dan tak kunjung ada tanda-tanda kehadiran buah hati.

Dan diam-diam, pasti ada upaya-upaya, ada doa-doa, ada hal-hal yang saya tidak tahu pastinya. Mereka sedang berjuang dan tidak menyerah. Saya amat menghormati orang-orang seperti mereka, ujian yang mungkin saya tidak sanggup untuk menghadapinya. Allah mengujinya, tentu saja saya tidak sanggup menuangkan empati saya dalam bentuk kata-kata. Hanya doa yang tiada henti, semoga dikuatkan, semoga sabar, dan yang lain. Meski terasa sangat klise, karena saya tidak mengalaminya sendiri.

Di tempat yang lain, saat kita tengah berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Mungkin kita terjegal oleh gengsi dan ketinggian hati sendiri. Dengan latar belakang sarjana dan nama kampus kita, kita berharap untuk mendapatkan hal-hal yang terasa langsung manis. Mungkin kita perlu sedikit melihat lebih luas, ada begitu banyak orang yang sedang memperjuangkan hal yang sama. Berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Dari yang tidak pernah sekolah sampai yang sekolah sangat tinggi. Dan mereka belum menyerah. Tentu ada upaya yang saya tidak tahu, ada doa diam-diam yang juga saya tidak tahu. Saya hanya menyaksikan dan mengamati bagaimana satu per satu teman yang saya kenal, mulai memetik buah perjuangannya. Mulai menemukan pekerjaan yang membahagiakannya. Dan saya menjadi saksi bagaimana dulu mereka berjuang, melintasi kota demi kota untuk ikutan jobfair. Memasukan lamaran di sana sini. Dan bagaimana dulu mereka diawal bekerja.

Di ramadhan ini pun. Ada begitu banyak orang yang berjuang untuk hal yang sama. Bagaimana meraih pahala yang maksimal. Bagaimana memanfaatkan momen ramadhan dengan ibadah yang total. Berjuang untuk khatam Al Quran sekali dua kali bahkan beberapa kali sepanjang ramadhan ini. Berjuang untuk, macam-macam. Beberapa diantara mereka mungkin sedang memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Kalau ujian kita baru sebatas sakit, sebatas rutinitas, belum sepantasnya kita menyerah. Ada yang lebih keras ujiannya dari itu.

Hal yang selalu bisa kita temukan disaat perjalanan di kereta komuter, orang membaca Al Quran untuk memperjuangkannya selesai dalam sebulan. Teman-teman kita yang mungkin sedang berada di luar negeri, berjuang untuk ke masjid terdekat yang jaraknya berjam-jam. Ada yang sedang berjuang, memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Lihatlah, mereka tidak menyerah dan mengeluh. Jangan dulu menyerah dengan apa yang kita hadapi.

Sudah kusampaikan sejak awal, yang membedakan perjuangan kita dengan orang lain hanya satu. Daya juangnya :)

1-7 Juni 2017 / Yogyakarta / ©kurniawangunadi

Bersabarlah, Sebentar Lagi Kamu Keren!

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata ‘orang keren’? Bagiku, orang keren adalah mereka yang luas hatinya dan ringan tangannya untuk melakukan kebaikan, mereka yang mampu berprestasi dalam kerja dan karyanya, juga mereka yang mampu mengejar akhirat dengan kesehariannya yang luar biasa. Ketika melihat orang-orang seperti itu, aku selalu penasaran tentang apa yang terjadi di balik hidup mereka sebab aku percaya kalau orang keren itu bukan hasil bentukan sehari semalam, mereka tentu telah melakukan perjalanan panjang, menempuh banyak pengalaman, dan bersusah payah berdamai dengan luka dan rasa sakit yang mungkin bukan dalam skala kita pada umumnya.

Namanya juga orang-orang keren, mereka bukan orang-orang dengan pola berpikir yang biasa, pengalaman yang biasa, dan kualitas diri yang biasa. Mereka pasti lulus tempa dan naik kelas karena ujian-ujian. Mereka terbentur untuk terbentuk, terluka untuk mendewasa, lalu sakit untuk bangkit. Bagaimana denganmu? Terbentur membuat semangat dalam jiwamu lentur, terluka membuat hatimu porak-poranda, dan kamu lemah tak berdaya hanya karena sakit yang sedikit. Apa? Kamu? Tidak tidak, aku maksudnya! Padahal, mungkin ini klise, tapi besi memang hanya bisa menjadi kuat setelah dibakar dalam suhu yang tinggi dan waktu yang lama, bukan?

Seseorag pernah menasehatiku, katanya, kalau mau jadi orang keren (dalam artian seperti definisi di atas) berarti harus sanggup membayar hidup dengan harga yang mahal. Bayar mahal? Ya, bayar dengan perjuangan, kebergantungan kepada Allah, kesabaran, dan juga keluasan hati untuk bisa memaafkan dan menerima ketetapan. Dipandang dari sudut manapun, rasanya kita akan sepakat kalau semua itu memang tidak mudah untuk dilakukan. Tentu saja, sebab hadiahnya tidak setara dengan kipas angin atau TV berwarna. Bagaimanapun, semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk bisa membayar harga yang mahal itu, ya!

Jika hari ini waktumu terasa sempit, hatimu terasa sakit, dan hidup bagai meninggalkanmu di tepi pilihan-pilihan yang tak mudah untuk dipilih, maka bersabarlah dan kuatkan kesabaran itu! Semua Allah hadirkan agar kamu mempelajari banyak hal, sesuatu yang maknanya mungkin hanya akan menjadi milikmu karena orang lain tidak mengalaminya. Kamu tahu, Allah sedang mempersiapkanmu untuk bisa menjadi orang keren! Dari mana kita bisa belajar sabar jika tidak melalui ujian? Dari mana kita bisa belajar kuat kalau tidak pernah ditempa?

Bersabarlah, sebentar lagi kamu keren! ;)

Dilupakan

Bagiku, ada hal yang lebih menyedihkan dari merindukan tapi tak dirindukan. Ialah dilupakan.

Originally posted by serious


Tahukah kau teman? Kita dulu begitu dekat. Seperti 2 orang dengan 1 hati. 1 suara. 1 pandangan. 1 senyuman. Namun kini kita seakan menjadi 2 orang yang asing, tak saling mengenal, dan tak saling peduli.

Mungkin ada atau tidak adanya aku adalah perkara yang sama. Sebab (mungkin) memang begitulah sejak awal kau menempatkanku dalam hidupmu. Jujur saja, aku sedang sangat sedih. Sedih bahwa nyatanya aku terlalu melibatkan perasaanku atas semua tentang kita. Sedih bahwa nyatanya aku tak cukup dewasa untuk melihat bahwa kau telah tumbuh berbeda denganku. Aku tak lagi senyawa denganmu. Tak cukup peka menyesuaikan segalanya denganmu.

Tapi teman, bagiku ada dan tidak adanya kamu amatlah terasa bedanya. Tanpamu aku seperti seseorang yang timpang. Sebab sejak awal aku telah menjadikanmu sesuatu yang penting dalam hatiku. Aku mengingat dengan jelas segala tentang kita. Tentang betapa kau menyukai segala jenis ice cream, tentang betapa kau begitu menyukai hujan walau tubuhmu rentan padanya, tentang betapa kau begitu menyukai pria dengan senyum manis itu, atau tentang betapa kau adalah wanita yang hebat. Dan masih kuingat betapa menyenangkannya berteduh dari hujan kala itu bersamamu, walau aku tak suka berteduh.

Ini klise, aku merindukanmu, tapi kau melupakanku. Hingga perlu bagiku kali ini bercerita padamu lewat tulisan ini. Sebab menemuimu atau mendapat balasan pesan darimu adalah perkara yang sulit.

Originally posted by stupidteletubbie

Nona, bisakah kau sedikit mengingatku yang dulu pernah dengan mudah kau peluk setiap saat?

 by: Syarifah Aini (2017)

Meski terdengar klise, harus jujur kuakui, aku lebih menyukaimu yang berbahagia, dengan atau tanpa aku. Dibandingkan kamu yang sibuk berpura-pura menjadi yang bukan kamu, demi terlihat bahagia di sisiku. Bahagia tidak pernah hakiki, selama ia tidak asli.
—  Tia Setiawati
Layaknya sinar mentari, hangatnya sikapmu kala itu begitu kurindui. Klise memang, tapi terbukti. Terlampau bingung aku mencari definisi apa yang menjelaskan maunya diri. Ya sudahlah, begitu saja, sepertinya hatiku telah kau curi.
Bisa Kapan Saja

Jalan cerita ini, tidak pernah kuminta sebelumnya. Apakah bahagia, apakah kecewa, apakah biasa saja, maka tiada jalan lain iwal (kecuali) harus aku terima. Apakah bertemu dengannya lebih dulu, apakah bertemu denganmu lebih dulu, hakikatnya sama saja: tugasku hanya menjalaninya.

Bila mau sebentar saja merasakannya lebih lama, membiarkan hatimu dingin dari segala macam ingin, kamu akan berada pada satu area pikir, bahwa ini semua benar-benar hanya sementara. Klise yang rasanya tetap menyedihkan sekalipun sudah sering didengar.

Apa yang ingin kamu sampaikan atau kamu tunjukkan dengan kekecewaan yang mendalam?! Atau apa yang ingin kamu buktikan dengan cinta yang dijanjikan sekuat baja?! Setelah masanya lewat, mereka akan sama saja dengan apa-apa yang biasa belaka.

Nafsu sepertinya memang tidak perlu sampai begitu, kebencian apalagi, ia tidak perlu dididihkan sampai tumpah dan melukai, rasa cintamu biarkan lahir, tumbuh dan mati sesuai perintah Rabbmu. Cukupkan dirimu dengan jalani, hidupi dan syukuri.

Maka kekasihku, kita bisa sama-sama melepaskan kegelisahan ini lebih awal. Sebab semua bisa kapan saja selesai, ceritanya tamat ketika kita mangkat.

Jangan lupa, buat kamu yang pesan dan curhatannya numpuk di kotak masuk saya dan telat saya balas, meskipun itu curhatan alay anak ababil ga penting dengan kisah cinta yang klise dan ketebak ujungnya gimana, Insyaallah tetap akan saya balas satu-persatu juga tidak lupa solusinya, hanya saja waktunya mungkin sedikit mundur karena ada urusan yang harus disegerakan.

Jangan lupa, buat kamu yang nge-DM saya tiap hari menanyakan dan khawatir kenapa saya nggak nulis lagi, saya nggak sakit kok, tenang aja, btw makasih udah khawatir loh, Insyaallah akan segera menulis lagi, doakan saja, supaya saya cepet seminar hasil.

Jangan lupa, buat kamu yang abis ngajakin ngumpul sama dia via L*NE, semoga nggak menyesal aja sih. Semoga bahagia. Kalo bahagia sih, kalo nggak ya sukurin. Jangan menyesal kalo nyatanya aku lebih tampan dari dia, bulu mata dia ga selentik punyaku, badannya ga atletis, perutnya buncit kaya sapi wajib bunting, udah gitu ga bisa desain pula. Jangan nyesel. Kita buktikan, siapa yang lebih hebat.

#apaansih
#abaikan

1..2..3..Bye!

Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Seperti diberi kesempatan untuk hidup lagi, seperti bangun dari tidur yang lama. Seperti lega dari haus berkepanjangan, atau seperti teduh dari badai yang bertubi-tubi. Kita dibuat senyum-senyum sendiri. Yang biasanya malas bangun pagi pun, bisa jadi morning person seketika. Bahagia karena akan bertemu, atau sekedar menikmati bagaimana rasanya ada seseorang yang mengucapkan selamat pagi. Kegiatan biasa bisa naik tingkat menjadi luar biasa, tergantung dengan siapa kamu melakukannya. Duduk di teras memandang hujan, misalnya. Atau berbincang hal tak penting di telepon sebagai kegiatan menutup hari. Mimpi-mimpi pun tumbuh tanpa disadari, terbang menari-nari di atas kepala. Semakin hari semakin membesar seiring harapan-harapan yang ditiupkan ke dalamnya. Seperti menulis nasib sendiri di buku takdir. Sejenak kamu lupa, bahwa semestalah sutradaranya, bukan kamu. Hingga akhirnya utusan semesta menepuk pundakmu, dihilangkannya mimpimu dalam sekali tiup. Kamu, mau tak mau meredup.

Gairah hidup melemah, bosan merajalela. Belum lagi harus menahan nyeri di dada sebelah kiri. Rasanya kebiasaan bersamanya terlalu melekat. Jatuh cinta berubah menjadi seperti sebuah jebakan. Di mana pelakunya bisa saja terperangkap di dalam lingkaran kenangan yang diagung-agungkan sendiri. Tak mau pergi. Tak ingin pindah. Lalu, mau sampai kapan? Sedang si dia sudah bisa haha-hihi dengan entah pengganti keberapa setelah kamu? Nah, ini sedikit tips untuk kamu-kamu yang terlanjur nyaman di istana kenangan agar segera beranjak. 

1. Tutup Semua Akses

Jika kamu merasa termasuk tipe yang gampang terbawa suasana, ada baiknya menutup semua akses yang memungkingkan kamu melihat dia, atau aktifitasnya. Bisa dari unfollow semua sosmed, juga hapus kontak. Bukan, ini bukan drama. Karena masing-masing dari kita berbeda. Ada yang cukup kuat, tak terpengaruh walaupun foto atau berita dia bersenang-senang wira-wiri di depan hidung. Nah, beberapa sisanya, itu menyiksa. Melihatnya, hanya akan mengajakmu menyelam lagi ke masa-masa kelam. Oiya, kalau sudah, ya dengan segenap kekuatan jagalah jarimu agar tidak mengetik namanya di kolom cari manapun, ya. Tahan.

2. Sibuk

Klise, ya? Klise tidaknya, sibuk adalah salah satu cara ampuh membunuh waktu. Kamu bisa cari hobi baru, yang sebelumnya lewat di kepalamu saja tidak. Atau malah sekarang waktunya mencoba hal-hal yang kamu takutkan. Sibuk dengan hobi baru biasanya akan menuntun kamu ke lingkaran pertemanan yang baru. Di sini, peluang kamu membaik besar sekali. Jangan menutup hati. Perbanyak teman, percantik diri. Kamu harus belajar nyaman dengan diri sendiri, walaupun tanpa pasangan. Yakinkan diri, bahagiamu letaknya di depan. Waktu hanya akan berjalan maju.

3. Cintai Diri Lebih Baik

Sebelumnya, cinta yang kamu punya harus kamu bagi dua dengan pasangan. Kebanyakan yang terjadi, kamu kehabisan cinta buat diri sendiri, karena sepenuhnya kamu tumpahkan buat dia. Alhasil, kalau akhirnya berpisah, tak ada yang tersisa. Sekarang waktunya kamu membayar itu. Senangkan diri. Egoislah. Habiskan waktumu untuk kesenanganmu. Yang sebelumnya tak bisa menikmati makanan favorit karena si dia alergi, misalnya. Nikmati sekarang. Belanja-belanja barang dambaan, atau travelling sendirian bisa dicoba. Apapun, untuk menyenangkan diri. Cinta, perhatian, waktu, bahkan materi, sepenuhnya untukmu. Nikmati.

1..2..3..Bye! Congratulation, you’re officially moved on. Kuncinya satu; bahagia itu terpancar. Jika wajahmu masih digenangi kenangan masa lalu, tak akan sedap dipandang. Jika di kepalamu masih cerita itu-itu saja yang diputar, berbincang denganmu tak akan menyenangkan. Berbahagialah, baru tularkan itu untuk sekitar. Smile! :)

Ramadhan #4 : Hubungan saudara jarak jauh

Aku akan menyebut kami adalah saudara yang menjalin hubungan jarak jauh. LDR kalau kata anak zaman sekarang. Layaknya orang yang berpacaran jarak jauh, akan ada komunikasi di dunia maya yang akan menghiasi hari-hari. Zaman itu komunikasi hubungan jarak jauh kita hanya sebatas telfon atau sms. Waktu itu kita belum mengenal aplikasi chatting seperti yang tersedia sekarang. Aplikasi video call pun belum semudah saat ini untuk mengaksesnya.

Tidak dengan kami. Tidak ada komunikasi dunia maya yang menghiasi hari-hari. Kata anak zaman sekarang, hubungan kami bukanlah contoh hubungan jarak jauh yang berjalan dengan baik. Bagaimana mungkin hubungan kami baik-baik saja tanpa ada kabar satu sama lain. Tak ada teror “kamu kenapa gak ngabarin aku? Kamu sibuk dengan orang lain? Kamu sudah tidak peduli dengan keadaanku?”. Tak ada pertanyaan-pertanyaan klise itu dalam hubungan kami. Hubungan kami berjalan baik-baik saja dengan komunikasi yang boleh dibilang jarang bahkan tak ada sama sekali dalam kurun waktu berbulan-bulan misalnya.

Hingga suatu hari, aku membaca buku Habiburrahman El Shirazy yang berjudul “Ketika Cinta Bertasbih”. Aku menyadari suatu hal, hubungan kami sedang tidak baik-baik saja. Aku yang sewaktu itu, tak peduli kisah itu nyata atau tidak. Bagiku, bagaimana mungkin mereka yang bersaudara (Husna dan Azzam) itu tetap menjalin komunikasi, tak terhalang oleh jarak antar benua yang memisahkan mereka. Sementara kami, hanya pulau yang memisahkan dan kita masih di negara yang sama. Bagaimana mungkin kita yang memiliki teknologi handphone (sebatas telfon dan sms), kita belum mengenal smartphone semasa itu, bisa tak menjalin komunikasi berbulan-bulan lamanya?

Ada yang salah diantara kami. Adalah aku, adikmu yang lugu, yang merindu hadirnya sosok seorang kakak laki-laki yang perempuan lain rindukan dan aku memilikinya. Adikmu yang masih labil ketika itu, memulai aksi protes dengan mengirim surat kepadamu. Meniru isi surat dalam novel itu. Kemudian mulai mempertanyakan “mengapa tak pernah ada kabar dari kakak? Aku tahu, anak kuliahan itu sibuk, tapi apa ndak bisa kasih kabar. Kalau gak bisa setiap hari, ya sekali seminggu. Jika tak bisa setiap minggu, apakah sekali sebulan juga masih terlalu berat?”. Surat itu tak berwujud fisik, ia aku kirim ke fitur pesan f*c*book semasa itu. Tahukah kalian? Surel itu memperbaiki hubungan kami. Aksi protes berhasil. Sosok kakak yang sudah lama dirindu itu kembali hadir.

Kini, aku tak hanya memiliki seorang kakak. Aku juga memiliki peran itu, jadilah aku seorang kakak sejak hadir adik saat 9 tahun usiaku. Kini ia mulai beranjak remaja, cepat sekali dirimu bertumbuh dik. Aku yang kini berada di posisi sang kakak dulu. Aku kembali terlibat hubungan saudara jarak jauh dengan adikku. Adalah aku yang tak ingin mengulang kisah lama, menjadikan adik merasakan apa yang aku rasakan.
Adalah aku, seorang kakak yang sedang belajar hadir untuk adiknya meski jarak memisahkan, jauh. Barangkali aku adalah kakak kebanggaanmu yang kau ceritakan kepada teman-temanmu. Seorang kakak perempuan yang kau jadikan inspirasi, salah satu panutanmu. Persis, seperti aku dulu yang begitu kagum dengan sosok seorang kakak.

Adikku, maafkan uni bila belum bisa hadir dalam keterpurukanmu. Maafkan uni yang masih jauh dari sosok yang bisa kau banggakan, uni masih penuh kekurangan. Adikku, maafkan uni yang masih belajar untuk menjadi sosok teladan bagimu.

Barangkali teman-teman sedang berada jauh dari rumah. Jauh dari saudara-saudaramu. Sesibuk apapun itu, sempatkanlah untuk sekedar menanyakan kabar mereka. Sekedar mendengarkan cerita dari mereka misalnya. Atau berbagi cerita yang barangkali bisa diselipkan dakwah untuknya. Dulu aku sempat mempertanyakan hal itu, maka biarkanlah ini jadi pengingat bagiku bahwa aku pernah protes akan hal itu, jangan sampai adikku juga protes hal yang sama kepadaku.

Jika kita sibuk berbuat di tempat yang jauh ini, sibuk berbagi manfaat untuk orang banyak, semoga kita tak lupa ada saudara (yang dekat) meski jarak terpisah jauh yang barangkali kita lupa untuk berbagi kebaikan kepada mereka. Yang barangkali kita lupa untuk berbagi manfaat untuk mereka. Yang barangkali kita sibuk berdakwah di keluasan negeri ini, sementara kita lupa ada adik yang sedang menunggu kakak untuk tempat ia bertanya akan gelisah yang mulai bergejolak dalam dirinya. Seperti kata teh @prawitamutia tempo hari dalam tulisannya http://prawitamutia.tumblr.com/post/161108057787/1-kebaikan-yang-dekat.
Semoga benih-benih kebaikan itu tidak hanya kita tebar jauh tapi juga dekat, dekat sawah di belakang rumah misalnya.


Tulisan ini adalah bagian dari challenge #30daysramadhanwriting yang saya ikuti. Terinspirasi dari teh @novieocktavia. Semoga bisa istiqomah menulis selama ramadhan ini dan tulisan tanpa tema alias random setiap harinya akan saya upload di rentang waktu 16.30-17.00. Masih belajar. Semoga bermanfaat

Kabupaten hujan, 30 Mei 2017

Alasan Klise

Kalau ada yang tanya “Kenapa pake jilbab?”
Sebagian perempuan akan menjawab “agar tidak digoda”

Seiring bertambahnya waktu, kenalan juga luasnya pergaulan.
Alasan Klise itu Hilang.
Biasanya di usia 20tahunan keatas, banyak yang bertanya tanya tentang agama juga kewajiban yang haruskah dilakukan (?)


Untuk yang hidup dilingkungan agama yang baik, mungkin tidak ada yang sulit.
Saya tinggal di negara minoritas Islam.
Lebih sering mengedepankan logika manusia dibanding kewajiban seorang manusia untuk agamanya.

Tidak perlu menutup aurat, disini negara nya bahkan sangat aman, perempuan tidak berhijab tak dilakukan semena mena.

Karena nyatanya benar,
Bahwa tidak semua yang berhijab aman dari perilaku kekerasan, Dan tidak selamanya lelaki bernafsu kepada yang tidak menutup aurat.


Sering terjadi keributan hati juga logika yang sering berpikir demikian.
Lantas alasan Klise menutup aurat hanyalah alasan yang tidak berkelas sama sekali.

Sampai waktu yang terus di lalui menemukan titik, bahwa Iman adalah tentang logika Allaah bukan lagi tentang logika manusia.

Orang orang yang memiliki pemikiran liberal akan selalu menang dengan argument nya jika kita tidak lebih pandai.

Jadi, Intinya.
Iman itu tentang kepatuhan.
Berhijab karena taat bukan karena tidak akan mendapat musibah.
Toh Setiap orang akan bertemu musibah entah besar atau kecil.

Makanya, banyak yang kehilangan iman karena mengedepankan logikanya.

Seperti, Iman itu tentang sedekah 5rb meski uang didompet tinggal 5rb.
Dia lebih berpikir tentang keimanan nya kepada Allaah daripada sekedar sayang Rejeki yang takut tak datang lagi :)


Terinspirasi tulisannya jagungrebus kemarin soal logika dan Iman. (lupa judulnya)

21 Ramadan 1438 H

Cari Kerja atau Cari Duit?

Suatu kali teman saya berkeluh kesah tentang gajinya yang tidak seberapa. Apa yang dilakukannya dianggap tidak sebanding dengan rupiah yang didapatkan. Bukan satu dua kali dia menceritakannya kepadaku. Tapi telah berkali-kali bahkan saya sampai menghapal ujung kesahnya yang sering menyalahkan atasan dan sistem dilingkungan tempat kerjanya. Tak lupa, dia juga sadar diri dan pasti menyalahkan dirinya sendiri karena selalu mengeluh dengan keadaannya.

Mengeluh sepertinya lekat dengan dirinya. Saking seringnya mengeluh sampai ibunya sendiri menegurnya: Jangan mengeluh melulu tapi harus bersyukur selalu, ungkapnya padaku.

“Syukuri saja kerjamu. Kamu tahu, diluar sana ada banyak pengangguran. Tidak punya kerja. Sementara kamu terus mengeluh dengan pekerjaanmu” saya selalu menimpali seperti itu.

Tadi pagi sambil ngetik saya menyelinginya dengan memutar video. Sambil didengarkan saja. Setelah utak-atik terputarlah videonya Mario Teguh. Kalau tidak salah pembahasannya tentang bagaimana mengelolah stress. Menarik apa yang beliau katakan untuk menjawab pertanyaan tentang gaji.

“… sebenarnya kamu itu cari kerja atau cari uang?” Beliau bertanya balik.

Sepertinya pertanyaan ini akan memperlihatkan niat kita ketika mencari lowongan atau melamar kerja. Kita ini beneran cari kerja atau cari duit, sih? Ada yang jawab, “ nyari kerja, nyari pengalaman”. Eh, klise sekali jawaban itu. Lihat saja, berapa lama kita akan bertahan. Dizaman kapitalistik sekarang ini mana ada yang gak butuh uang. Atau ada yang jawab, saya nyari duit, makanya saya kerja. Dengan memandang bahwa kalau kerja pasti dapat duit. Sayang, kasusnya bisa jadi seperti diatas. Duit dapat tapi mengeluhnya sana-sini. Nominalnya gak “wah”. Makanya, perjelas dulu dan jujur sama diri sendiri: cari kerja atau cari duit(?)

Saya tidak akan menyinggung banyak tentang konsep rejeki. Atau sok bijak apatahlagi sok tau dalam menyikapi jawabanan yang diutarakan. Saya hanya mencoba berkaca pada fenomena keluh mengeluh yang sering didengarkan.

Dalam melakukan berbagai aktivitas, startnya adalah niat. Kerja misalnya, apapun yang dilakukan kita menyadari bahwa itu adalah wasilah. Terkait rejekinya -berupa duit- itu urusan lain.

Salah satu pembahasan penting dalam 7 Keajaiban Rejekinya Ippho Santosa menyinggung tentang hal ini. Saya diilustrasikan begini, misalkan gaji untuk pekerjaan kita adalah 5jt tetapi akumulasi value dari kerja kita ternyata bernilai lebih, taruhlah 10jt. Maka 5jt akan kita dapatkan dari gaji. Sementara 5jt sisanya didapatkan dari berbagai arah yang tak terduga. Bisaja jadi, hanya duduk-duduk saja tetiba dibawakan duit. Inilah keajaiban rejeki. Tak dapat ditebak atau dikalkulasi menggunakan alat hitung tercanggih didunia. Takarannya adalah kalkulator Allah swt. Bukan hitung-hitungan teknologi manusia.

Ketika kita menyempitkan besarnya penerimaan hanya dari nominal kontrak kerja, perlu kembali menengok pemberian nikmat Allah swt. yang tak kunjung putus.

“Kenapa manusia harus bekerja? Karena kita hidup bukan untuk menganggur” demikian Buya HAMKA mengingatkan.

Damlara bakan penceresinden
Liman görünürdü
Ve klise çanları
Durmadan çalardı, bütün gün.
Tren sesi duyulurdu yatağından
Arada bir
Ve geceleri.
Bir de kız sevmeye başlamıştı
Karşı apartımanda.
Böyle olduğu halde
Bu şehri bırakıp
Başka şehre gitti.
—  Orhan Veli Kanık

Her insan nefsiyle savaş halindedir savaşı kazananlar nefslerini yenenlerdir.
Nefsini öldürmeyen kimse cami klise sinangogka gitsede Rabbini bilmez.NEFSİNİ BİLEN RABBİNİ BİLİR..!

Iqra, guys.

Nganu, mau tjurhat. Maaf ya tumb, saya tjurhat mulu. Ehe.

Barusan ada satu hal yang membuat saya agak kzl. Barusan ada seorang kawan lama yang mengirimi saya link sebuah artikel. Saya buka link itu , saya baca artikelnya.

Sejurus kemudian, saya bertanya pada kawan saya perihal persepsinya atas artikel itu. Kawan saya dengan entengnya bilang, “mbuh.”

Usut punya usut, kawan saya yang ngirim link artikel ke saya itu tidak membaca dulu isi artikel yang dia kirim itu. Saat saya tanyain, dia terang-terangan bilang, “aku ga baca.”

Duh Gusti~

Bagaimana bisa seseorang mengirim sesuatu yang tidak dia pahami betul isinya kepada orang lain? Hal macam ini tuh sebenernya bahaya loh, pemirsa. Jangan disepelekan. Kalau kita mau membagikan sesuatu, kita perlu memahami dulu apa yang akan kita bagikan itu.

Misal kamu dapat roti dari si A. Terus kamu mau membagikan roti itu ke si B. Tapi, tanpa mencicipi dulu rasa rotinya, kamu langsung membagikan roti itu pada si B. Kalau misalnya ternyata itu adalah roti basi gimana? Kan kasian si B, bisa keracunan dia. Tau hoax kan? Kalau ternyata apa yang kita bagikan itu memuat hoax gimana? Kan kasian orang lain yang jadi tersesatkan.

Kita bertanggung jawab penuh atas apa yang kita bagikan. Itu harus kita sadari betul. Kalau anda mengirim link artikel pada saya, saya akan bertanya bagaimana pandangan anda atas konten artikel itu. Pandangan anda atas konten artikel itu bagi saya adalah wujud tanggung jawab anda atas apa yang anda bagikan.

Untuk itu, makanya kita kudu membaca dulu artikel yang mau kita bagikan ke orang. Baca dulu, pahami dulu. Kalau sudah paham, pastilah kita bisa bertanggung jawabatas apa yang kita bagikan itu. Iqra, bacalah.

Jangan asal sebar :(

Terkait link artikel yang saya dapet dari kiriman kawan saya itu tadi, artikel di dalamnya itu masih membahas hal yang panas belakangan ini. Masih menyangkut perihal agama dan remaja Afi yang baru saja menjadi viral. Di negara kita belakangan ini, segala hal di internet yang berkaitan dengan agama telah menjadi hal yang kian beresiko memicu ketubiran. Ini juga hal yang membuat saya agak kzl. Hal yang riskan begini justru dengan sembarangan dibagikan oleh kawan saya. Membagikan hal bertopik agama yang riskan itu tidak sebercanda ini.

Saat saya tegur, kawan saya bilang, “kirain kamu temenku.” Ya memang saya temennya, temen baik sejak jaman sebelum indonesia merdeka, tapi apa hubungannya ini sama pertemanan? Kawan saya beralasan, “aku kalo sama temen itu ngasal.” Terus kawan saya bilang, kalau sama orang lain dia nggak ngasal begitu, sedangkan kalau sama temen sendiri dia ngasal.

Duh Gustiii paringono patjar~

Kenapa bisa ada standar ganda yang begitu absurd seperti ini.

Nganu, plis deh ya jangan mentang-mentang karena hubungan pertemanan yang ada derajat kedekatannya secara khusus, lantas kita bisa merasa bebas dan asal membagikan sesuatu tanpa kita baca dulu dan pahami isinya. Kasian temen kita. Kalau ternyata apa yang kita bagikan itu sesat gimana? Tidak ada jaminan temen kita itu bisa benar-benar menyaring mana yang sesat dan mana yang benar. Kalau kita mau membagikan sesuatu, tetap saja kita perlu mambacanya dulu dan memahaminya, terlepas dari kepada siapa kita akan membagikan sesuatu itu.

Iqra, pemirsa. Bacalah dulu. Coba pahami dulu sebelum memutuskan untuk benar-benar menyebarkan sesuatu yang ada di internet. Mencerdaskan sesama tidak sebercanda ini. Disini pun saya tidak menggurui siapapun. Saya mengingatkan sesama, mengingatkan kita semua, termasuk mengingatkan diri saya sendiri.

Mari jadi netizen yang bertanggung jawab.

Huft. Btw saya agak jijik menulis kalimat klise di atas.

Yasudala~

Sekian dan terima nikahnya.

Snapchat ilk açıldığında herkes çirkindi resmen instagramdan sonra ortaçağ klise baskısından kurtulamamış bir karanlık dönem bir skolastik felsefe yaşadık sonra bi anda efektler filan geldi bir aydınlanma bir güzelleşme bir reform filan ahahhaa
Tidak bisa dipungkiri.
Aku tidak hanya merindukan potongan cerita tersebut, sialnya aku juga teramat merindukan seseorang yang ada didalam potongan cerita tersebut.
—  mulai menulis kembali ketika hati teriris haha klise
Serius Nih Mau Bareng Sampai Ke Syurga?

Tulisan ini adalah review dari sharing online ASA Indonesia @asaindonesia bersama kang Ikhsanul Kamil (Kang Canun) dengan judul “Pentingnya Pendidikan Pranikah Sejak Dini”

Hallo, teman-teman! Apa sih yang ada di benak kalian ketika mendengar kata pernikahan? Kalau menurut saya pribadi, pernikahan adalah kolaborasi, yaitu kolaborasi antara suami dan isteri untuk melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk banyak orang. Kalau menurut kalian, apa sih? Pasti jawabannya banyak, ya! Ada berbagi, ibadah, tanggungjawab, perjuangan, pembelajaran, daaaan masih banyak lagi! Bahkan ada juga lho yang menganggap kalau pernikahan sebagai shortcut untuk mencari kebahagiaan.

Di tengah berbagai masalah di usia-usia quarter life ini, tidak sedikit orang-orang muda yang berpikir bahwa menikah adalah untuk menjemput bahagia. Seperti kisah Snow White yang hidup menderita kemudian ia melihat pernikahan sebagai pintu menuju kebahagiaan abadi. Ya, kebahagiaan dianggap sebagai kehidupan putri dan raja yang happily ever after.

Mungkinkah jika setelah menikah tema hidup kita hanyalah tentang bahagia? Hey hey, let’s think about this! Apakah ketika menikah kelak kita akan menikah dengan orang yang memiliki isi kepala yang sama dengan kita? Bagaimana dengan pola pikir, kebiasaan, tingkah laku, dan yang lainnya? Pasti berbeda dan perbedaan itu sedikit banyak pasti menimbulkan konflik. So, pernikahan harmonis itu bukanlah pernikahan yang di dalamnya tidak ada konflik sama sekali, tapi adalah pernikahan yang di dalamnya ada konflik namun suami dan isteri mampu me-manage perbedaan yang ada. Oleh karena itu, yang terpenting bukan menikah muda atau menikah tua, tapi menikah dewasa.

Data dari Kementerian Agama di tahun 2015 menyebutkan bahwa 1 dari 5 pernikahan berakhir dengan perceraian. Tentang ini, Kang Canun bercerita, katanya, “Selama 4 tahun saya berprofesi sebagai konselor pernikahan, saya menemukan, ketika memutuskan menikah untuk bahagia justru banyak pasangan suami isteri yang tidak bahagia. Mengapa? Karena pada faktanya, mereka tidak siap dengan konflik yang timbul. Hatinya hanya berharap tampungan kebahagiaan tapi tidak menyisakan ruang di hatinya untuk kecewa.”

Ternyata, memang ada jodoh yang hanya di dunia saja tapi tidak sampai ke akhirat karena pernikahannya berakhir dengan perceraian. Ada yang masa jodohnya hanya 5 tahun, 3 tahun, 1 tahun, bahkan ada juga yang hanya 1 minggu. Kita sepakat ya kalau jodoh tipe 1 ini, yang hanya di dunia saja, bukanlah jodoh yang kita harapkan. Semoga kita dan pasangan nanti tidak termasuk di dalamnya. Aamiin.

Lalu, ada jodoh tipe kedua, yaitu yang selalu bersama di dunia tapi tidak sampai ke akhirat. Lha, kok bisa sih kayak gitu? Kalau kita lihat data dari Kementerian Agama tadi, memang ada 4 yang tidak bercerai, tapi apakah bisa dipastikan jika pernikahannya harmonis? Banyak juga pernikahan yang diwarnai dengan perselingkuhan, perselisihan atau bahkan saling cuek satu sama lain. Misalnya, suami, isteri dan anak berada dalam satu meja, tapi suami sibuk main games, isteri sibuk dengan sosial media, anak-anaknya sibuk dengan mainan. They live in the same house, but they are homeless.

Apa yang terjadi jika keluarga yang tinggal dalam satu rumah mengalami homeless? Suami akan mencari ‘home’ yang lain di luar sana, bisa dengan berlama-lama di pos ronda, sering lembur terus atau bahkan mencari wanita idaman lain. Isteri juga akan mencari ‘home’ di luar, bentuk paling bahaya adalah jika ia menjalin hubungan juga dengan laki-laki lain di luar. Bagaimana dengan anak-anak? Mereka juga pasti mendapat dampaknya, mereka bisa menjadi anak-anak yang BLAST (bored, lonely, afraid-angry, stress and tired). Padahal …

Pernikahan yang harmonis adalah warisan terindah yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita kelak.

Hmm, jodoh tipe kedua ini juga bukan tipe kita yaa. Tuh kan, mulai terasa kan kalau menikah itu memang perlu ilmu? Yuk lanjut lagi.

Ada juga jodoh tipe 3, yaitu yang di dunianya kompak, harmonis dan dipertemukan di akhirat, tapi sayang berakhirnya di neraka. Eh, kenapa sih? Kisah pernikahan seperti ini sudah ada contohnya di Al-Qur’an, yaitu kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil. Mereka sangat kompak dan harmonis dalam membully Rasulullah dan menentang kebenaran. Dengan ending yang menyeramkan seperti kisah mereka, kita tidak ingin menjadi tipe ketiga ini, kan? Ya iyalaaaaah … Tentu saja!

After all, ada lho jodoh tipe 4, tipe kita bersama, yaitu jodoh di dunia yang begitu harmonis dan kompak lalu dikumpulkan di akhirat dan dimasukkan ke syurga. Tapi, tunggu tunggu, jangan senang dulu! Sebab, jodoh dunia akhirat itu tidak tiba-tiba datang dari langit, perlu dibentuk dan diperjuangkan. Bagaimana caranya?

Pondasi dasarnya adalah tentang niat. Mungkin ini terdengar klise, tapi niat inilah yang mempengaruhi segalanya. Niat itu seperti surat, salah tulis alamat yaudah deh sampainya juga salah. Ada orang yang berucap nikah karena ibadah, tapi dalam hatinya ia ingin menikah karena bosan hidup sendiri, ingin kabur dari rumah dan mencari bahagia. Apa yang riskan dari masalah niat ini? Nih ya coba pikirin deh, ketika menikah karena bosan hidup sendiri, akhirnya iya sih ada yang menemani, tapi akan kecewa ketika mulai ada kondisi LDR karena misalnya dinas di luar kota atau studi di luar negeri. Pada intinya, ketika berbicara tentang niat, ini tentu bukan hal klise dan ‘gitu doang’, tapi memang pondasi dari semuanya yang perlu melibatkan suara hati.

Terus terus, menikah karena ibadah itu memangnya yang kayak gimana, sih?

Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa dalam pernikahan dan kehidupan akan selalu ada dua titik ekstrim, yaitu kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Hidup memang begitu kan ya, ada sedih, senang, tawa, tangis, lapang, sempit, sakit, sehat, dan lain-lain. Apa yang salah dengan siklus-siklus hidup ini? Semuanya alamiah, kan? Ketika menikah, siklus-siklus ini bisa dirasakan dua kali lipat: kebahagiaan bertambah tapi kesedihan juga bertambah, hak bertambah tapi kewajiban juga bertambah. Ini menarik dan menantang, sebab kehidupan memang akan seperti roller coaster. Up and down, syuuuuu!

Menikah untuk ibadah adalah ketika kita mengejar barokah. Apakah itu? Barokah adalah bertambahnya kebaikan di setiap kondisi. Ketika bertengkar dengan pasangan, memang tidak nyaman, tapi bisa jadi barokah ketika kita mampu bijak melihat pembelajarannya. Ketika hal-hal menyenangkan terjadi, justru membuat semakin harmonis. Well, this is barokah. So, menikah untuk ibadah berarti kesiapan hati untuk menerima semua takdir-Nya dan kerelaan hati untuk melakukan yang terbaik dari apapun yang ditakdirkan-Nya.

Serius nih mau bareng sama pasangan sampai ke syurga? Kalau gitu, sebelum menikah, yuk perbaiki dan luruskan niat! Semoga Allah memudahkan kita untuk menundukkan nafsu, menyalakan logika dan menggunakan nurani. Sampai jumpa lagi di review-review selanjutnya! ;)

Basah dan kembali lagi basah.
Air Tuhan yang kembali menari-nari di atas permukaan tanah.

Jejak-jejak perindu yang abadi hanya menjadi sisa-sisa kenangan yang membasahi daun-daun kecoklatan.

Suara-suara merdu badai menjadi klise bagi mereka yang merasa kuat mencintai sendirian.
Setiap derasnya tak juga mengobati yang sudah telah lama hilang dan seharusnya juga sudah dilupakan.

Dingin.. Dingin..
Aku merasa sangat dingin dan cemburu.
Melihat akar dan ranting masih dalam satu pohon yang sama. Tak mengeluh akan cacian panas matahari dan selalu berusaha saling menguatkan bila hujan melanda.
Meski nantinya mereka tumbang bahkan patah begitu saja.

Lembab,
sisa-sisa ratapan di pelupuk mata, membekas sembab.
Satupersatu butir-butir hujan kupunguti, kusimpan tanpa sebab.

Ludah bercampur kata, kutelan tanpa sisa. Kata cinta tak perlu mendesak keluar, sebab yang dituju tak ingin dengar.

Maka kutulis saja dengan tajamnya sikapmu, di batang pohon yang tengah menunggu. Hingga kelak, lumut tumbuh menutupi kejujuranku.

Dan setelahnya, biarlah kata tetap menjadi kata, tak perlu menjadi tanya yang berharap jawaban. Tak perlu menjadi do'a yang menjelma harapan. Sampai akhirnya, pinta tak perlu menjadi paksa, yang memisah keduanya.


(Daunn Keringg & @a-hap, 2016)

Surat Terakhir dari Perempuan yang Pernah Mencintaimu Terlalu Dalam

Kepada Tuan yang saat ini sudah pergi
Aku tak tahu lagi, bagaimana kabarmu saat ini
Sungguh, menahan diri dari bertegur sapa denganmu, tak kukira akan seberat ini
Namun demi diriku sendiri
Aku harus kuat menahan ingin apapun
Yang berhubungan denganmu
Mungkin kau tak pernah merasanya
Aku tak peduli
Bukan waktuku lagi untuk berpikir sejauh itu, saat ini

Tapi dalam tulisan kali ini
Biarlah aku singkirkan semua pertahananku untuk tak menulis selain tentangmu
Karena kali ini, semoga benar yang terakhir kali
Aku ingin merasa lega
Karena berhasil menulis apa yang hatiku rasa

Tuan, bagaimana kabarmu?
Dengan atau tanpa aku, aku yakin kau akan baik-baik saja
Karena di sana, mungkin telah ada dia

Tuan, bagaimana dengan kebiasaan-kebiasaan burukmu?
Aku mungkin begitu bodoh, karena sampai detik ini aku masih mengkhawatirkanmu
Hal yang seharusnya tak perlu lagi kulakukan
Ya, semuanya sudah berganti dengan doa saja, pada Tuhan

Tuan, aku mungkin bukan yang terbaik untukmu
Kau pun mungkin bukan yang terbaik untukku
Dan kita, sudah pasti bukan yang dijodohkanNya
Betapa sakit menulis sebuah kalimat di atas
Karena dalam mimpi pun, masih selalu kau yang kuharap menjadi pendampingku
Juga menjadi ayah dari anak-anakku

Ah, Tuan
Mungkin ini benar akan menjadi surat terakhir untukmu
Karena hatiku butuh jeda
Untuk sembuh dan hidup lagi seperti sedia kala
Sedihku, sedihmu
Biarlah disembuhkan waktu
Karena sebelum ini, kita pernah sama-sama bahagia
Sebelum Tuhan mempertemukan kita

Aku tahu, sebuah kalimat “aku akan bahagia, bila kau bahagia” adalah klise
Karena nyatanya, mungkin bahagiaku adalah bahagia yang berbalur sedikit nyeri dalam hati
Saat kutahu kau sudah bersama yang lain nanti
Namun percayalah, aku tetap ingin kau bahagia
Namun kali ini, menghilanglah sejenak dari hidupku
Sejenak saja

Lalu, berbahagialah, nanti, dengan caramu
Dan tolong ingatlah aku
Sebagai perempuan yang pernah begitu dalam mencintaimu
: walau saat ini, aku sudah tak ada dalam pelukmu.

Medan, 20 Agustus 2015

- Tia Setiawati