klising

Ramadhan #6 - #12 : Jangan Dulu Menyerah

Saat kita berjuang untuk sesuatu yang sama dengan orang lain, memperjuangkan hal yang sama. Kemudian kita menyadari bahwa segalanya terasa sudah sampai batasnya, jangan dulu menyerah!

Sebab orang lain masih berjuang, mereka belum menyerah. Mereka masih melihat kemungkinan yang mungkin tidak kita lihat. Mereka masih memiliki cara yang mungkin tidak kita tahu. Jangan dulu menyerah.

Tulisan ini adalah rangkuman pelajaran dalam beberapa hari terakhir. Saya menghilang sejenak dari dunia maya karena ada hak tubuh saya yang harus saya tunaikan (baca: istirahat karena sakit). Di waktu itu, saya banyak menghabiskan waktu untuk mengamati juga memutar ulang segala hal yang terjadi dalam hidup saya dan orang-orang yang hadir silih berganti.

Dan saya dapati, setiap individu adalah pejuang. Ia sedang memperjuangkan banyak hal dalam hidupnya. Dari yang banyak itu, banyak hal yang sama antara satu dengan yang lainnya. Yang membedakan satu orang dengan yang lain hanya satu, daya juangnya.

Beberapa waktu yang lalu saya juga membuka bukunya Azhar yang terakhir; Pertanyaan tentang Kedatangan. Saya membukanya secara acak. Intinya, buku itu seperti bercerita tentang perjuangannya menanti buah hati sejak hari pernikahannya, dengan segala cara yang mungkin mereka lakukan.

Beberapa orang yang saya kenal atau sekedar tahu, tapi tentu saja saya tidak tahu bagaimana perasaan dan perjuangannya. Mungkin tengah menghadapi hal yang serupa, berjuang untuk hal yang sama, yaitu berjuang untuk memiliki buah hati dari pernikahan. Tidak hanya bulan, tapi hitungan tahun. Menanti dan tak kunjung ada tanda-tanda kehadiran buah hati.

Dan diam-diam, pasti ada upaya-upaya, ada doa-doa, ada hal-hal yang saya tidak tahu pastinya. Mereka sedang berjuang dan tidak menyerah. Saya amat menghormati orang-orang seperti mereka, ujian yang mungkin saya tidak sanggup untuk menghadapinya. Allah mengujinya, tentu saja saya tidak sanggup menuangkan empati saya dalam bentuk kata-kata. Hanya doa yang tiada henti, semoga dikuatkan, semoga sabar, dan yang lain. Meski terasa sangat klise, karena saya tidak mengalaminya sendiri.

Di tempat yang lain, saat kita tengah berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Mungkin kita terjegal oleh gengsi dan ketinggian hati sendiri. Dengan latar belakang sarjana dan nama kampus kita, kita berharap untuk mendapatkan hal-hal yang terasa langsung manis. Mungkin kita perlu sedikit melihat lebih luas, ada begitu banyak orang yang sedang memperjuangkan hal yang sama. Berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Dari yang tidak pernah sekolah sampai yang sekolah sangat tinggi. Dan mereka belum menyerah. Tentu ada upaya yang saya tidak tahu, ada doa diam-diam yang juga saya tidak tahu. Saya hanya menyaksikan dan mengamati bagaimana satu per satu teman yang saya kenal, mulai memetik buah perjuangannya. Mulai menemukan pekerjaan yang membahagiakannya. Dan saya menjadi saksi bagaimana dulu mereka berjuang, melintasi kota demi kota untuk ikutan jobfair. Memasukan lamaran di sana sini. Dan bagaimana dulu mereka diawal bekerja.

Di ramadhan ini pun. Ada begitu banyak orang yang berjuang untuk hal yang sama. Bagaimana meraih pahala yang maksimal. Bagaimana memanfaatkan momen ramadhan dengan ibadah yang total. Berjuang untuk khatam Al Quran sekali dua kali bahkan beberapa kali sepanjang ramadhan ini. Berjuang untuk, macam-macam. Beberapa diantara mereka mungkin sedang memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Kalau ujian kita baru sebatas sakit, sebatas rutinitas, belum sepantasnya kita menyerah. Ada yang lebih keras ujiannya dari itu.

Hal yang selalu bisa kita temukan disaat perjalanan di kereta komuter, orang membaca Al Quran untuk memperjuangkannya selesai dalam sebulan. Teman-teman kita yang mungkin sedang berada di luar negeri, berjuang untuk ke masjid terdekat yang jaraknya berjam-jam. Ada yang sedang berjuang, memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Lihatlah, mereka tidak menyerah dan mengeluh. Jangan dulu menyerah dengan apa yang kita hadapi.

Sudah kusampaikan sejak awal, yang membedakan perjuangan kita dengan orang lain hanya satu. Daya juangnya :)

1-7 Juni 2017 / Yogyakarta / ©kurniawangunadi

The Way I Lose Her: Worth To Fighting For

Kau pikir aku berlebihan. Kau menuduh aku tak masuk akal. Kau pikir aku tidak tau? Jika selama ini pelukmu tak hanya berpulang pada tubuhku? Kata sayangmu kau ucapkan juga pada yang selain aku.

.

Saat ini gue masih tergeletak di ruang UKS. Sebenarnya udah nggak terlalu sakit lagi sih, tapi tetep aja rasanya kalau gerak di saat-saat seperti ini malah ngebuat perut gue mules lagi.

Alhasil sekarang gue naroh bantal UKS di pantat buat nahan lubang pantat daripada bocor terus kena sprei UKS kan bahaya. Ntar ada kuning-kuning di sprei dikira bendera golkar lagi. Biarin deh pake bantal UKS. Cuma kasian aja yang tidur di UKS setelah nanti gue keluar. Udah sakit, terus tiduran di bantal bekas pantat gue, makin deket sama Tuhan aja hidupnya.

Sambil sesekali mengelus perut, gue kembali mencoba mengatur jalannya napas agar stabil. Karena sekali saja napas gue tersendat, knalpot gue ngeluarin ampas nih pasti. 

Keadaan UKS yang hening cukup membuat gue nyaman dari hingar bingar bazzar sebelumnya. Sebelum tiba-tiba,

DUAK!!!

Mendadak pintu uks ditendang kencang dari luar.

“ASSALAMUALAIKUM WAHAI AHLI KUBUR!!!!!” 

Pret..
Pantat gue langsung ngeluarin sedikit gas gara-gara kaget.

“APA APAAN SIH ANJING?! BISA NGGAK SIH PAKE ADAT SEDIKIT KALAU MASUK UKS!!!” Gue ngamuk sembari megangin pantat gue yang mulai kembang kempis lagi.

Sedangkan Ikhsan yang baru saja menendang pintu UKS cuma bisa ketawa sambil kemudian menutup pintu yang udah reyot itu. Dia berjalan ke arah gue sambil membawa sebuah bungkusan kresek hitam dan putih di kedua tangannya.

“Jangan marah-marah dong, sayang. Nih gue bawain bubur.” Kata Ikhsan yang kemudian mengambil salah satu mangkok di rak piring UKS lalu menuang bubur yang baru ia bawa ke dalam situ.

“Gimana keadaan lo? Udah enakan?” Tanya Ikhsan yang kemudian menggeser kursi dan duduk di sebelah kasur gue.

“Jauh lebih tenang sebelum lo masuk!” Balas gue kesel.

“Yeeee udah sekarat aja masih ngomel-ngomel. Lagi mens hari pertama ya lo?”

“…”

“Gue serius nih, gimana keadaan lo? Baikan?” Tanyanya lagi diselingi meniup-niup bubur di sendok.

“Lumayan lah. Nggak separah tadi.”

“Masa sih? Coba sini gue periksa.” Ikhsan nempelin punggung tangannya ke kepala gue.

“LO NGAPAIN PEGANG-PEGANG KEPALA GUE, SETAN?! GUE KAN SAKIT PERUT!! KENAPA MALAH KEPALA GUE YANG LO BENYEK-BENYEK!”

“Hahahaha ya mana gue tau anjir lo sakit di sebelah mana. Tapi lagian kepala lo keras amat sih, Dim. Isinya koin ding-dong ye?”

“Hahahaha bangsat! Aduh aduh… aduh pantat gue aduuuh.. Aduh keluar aduh..” Gue langsung tegang sambil menahan erat-erat pantat gue pake bantal.

Ikhsan mundur 10 langkah menjauh.

“Jorok anjir!! Gue lagi makan bubur woi!”

“BRENGSEK!! JADI LO BELI BUBUR BUAT LO SENDIRI?!”

“Ngapa juga gue beliin buat elo. Noh punya lo ada di kresek yang satu lagi.” Ikhsan menunjuk ke kresek hitam di atas meja UKS.

“Suapin gue dong.”

“Boleh, pake sekop ya?”

“Kok lo jahat sih sama gue, Nyet?”

“Hahaha, eh gue mau ngomong serius nih. Bercanda mulu ah kalau sama elo. Kali-kali serius kek.” Ikhsan mendekat lagi sambil asik makanin buburnya sendiri.

Setelah pantat gue mulai rilex, akhirnya gue kembali tiduran dengan posisi yang sama seperti sebelumnya, “Apaan?” Gue melirik Ikhsan.

Dia lalu membawa kursinya kembali ke sebelah kasur gue. Sebelum berbicara, Ikhsan menunjuk ke arah kresek hitam di atas meja UKS.

“Itu.” Tukasnya.

“Dubur?”

“BUBUR, KUYA!”

“Hahaha kenapa?”

“Ini..” Ikhsan menunjuk ke arah mangkok buburnya.

“Maksud lo apaan sih anjir? Tinggal ngomong aja pake acara sok misterius lo kaya uya kuya lagi mau hipnotis orang.”

“Ini bukan gue yang beli loh.” Tiba-tiba Ikhsan nyeletuk.

Gue menyeritkan dahi, berpikir sejenak.

“Gue juga udah curiga sih. Lo nggak mungkin mau ngeluarin duit buat gue.”

“Nah, bener. Lo emang paling mengerti gue.”

“Terus itu dari siapa dong?” Gue penasaran.

“Tadi orangnya diem di depan pintu UKS. Mondar-mandir mulu tapi nggak mau masuk.”

“Hah? Siapa? Cowok?”

Ikhsan geleng-geleng.

“Cewek?” Tanya gue lagi.

Ikhsan geleng-geleng lagi.

“LAH ANJIR KALAU BUKAN COWOK SAMA CEWEK YA TERUS SIAPA ANJIR MASA KECAMBAH?!” Gue snewen sambil mukul kepala Ikhsan pake bantal bekas landasan pantat gue.

Pret..
Pantat gue kebuka, ada angin keluar sedikit.

“…”

“…”

“Bunyinya gak enak banget, nyet.” Kata Ikhsan yang kemudian meletakkan mangkok buburnya di bawah meja karena udah nggak nafsu makan lagi.

“Hahahahahaha sorry-sorry, lagi susah dihandle nih. Pintunya otomatis buka tutup sendiri kaya pintu mol.”

“Yaudah gue lanjut cerita nih.” Ikhsan kemudian bersandar di sisi kasur UKS.

“Sip.”

“Ipeh.” Kata Ikhsan pelan.

Mendengar nama Ipeh keluar dari mulut Ikhsan, gue langsung terdiam sebentar. Tatapan gue sesekali menatap ke arah bungkusan kresek hitam di atas meja UKS. Ada helaan napas panjang keluar dari mulut dan pantat gue berbarengan. Pembicaraan pagi tadi di depan gerbang sekolah ketika gue menjual tiket kembali terulang di ingatan gue lagi. Rasanya tak adil, kenapa gue harus cinta pada cinta yang nggak bisa gue miliki?

Dan kenapa gue bodoh untuk terus-terusan menyerah untuk menjauh lalu jatuh untuk dekat lagi? Seperti dibohongi oleh hati sendiri. Seharusnya gue benci, iya, seharusnya gue benci melihat sosoknya berada di sekitar, tapi brengseknya hati gue malah terasa senang ketika mendengar suara itu ada. Mendengar tawa yang sama. Tawa yang melegakan. Hadirnya seakan dahaga dari kehausan panjang.

Ah Tuhan, semenyakitkan inikah mencintai cinta yang dimiliki orang lain?

Lalu ketika gue sedang berusaha menjauh, berusaha untuk terbiasa lagi, berusaha untuk tidak sakit hati sendirian lagi; sialnya ia tetap peduli, seakan gue adalah miliknya. Milik yang tak ia miliki sepenuhnya. Dan bodohnya gue senang ia pedulikan.

Seperti yang sudah gue bilang sebelumnya, terkadang cinta itu membuat hati mengkhianati diri sendiri.

“Mau gue suruh masuk orangnya?” Tiba-tiba Ikhsan membuyarkan lamunan gue.

Gue geleng-geleng pelan, “Nggak usah ah. Buat apa juga. Lo seharusnya ada di pihak gue, nyet. Di sini kan gue pihak yang tersakiti.”

“Iya, gue tetap di pihak lo kok.Tapi bukan berarti gue bisa menolak permintaan Ipeh juga. Biar bagaimanapun kalian berdua sahabat gue.” Ikhsan melepas sendal jepitnya lalu melipat kakinya di atas kursi.

Gue melirik ke bawah kasur, “Lu dari mana pake sendal jepit segala? Abis nyari botol kosong?”

JEBRET!!
Perut gue ditempeleng sama Ikhsan.

“Ini anak udah hampir mati masih aja ngomentarin orang seenaknya.” Omel Ikhsan.

Gue cuma bisa kesakitan menahan perut gue dan mencoba konsentrasi biar lubang pantat nggak terlalu membuka daripada ada kolak pisang keluar dari sana nantinya.

Kita berdua diam beberapa menit, perut gue sudah nggak konstraksi lagi.

“Nyet.” Gue nyenggol punggung Ikhsan yang sedang bersandar di pinggiran kasur dengan kaki.

“Hmm?”

“Apa yang salah ya?”

“Hah? Gimana-gimana?” Ikhsan berbalik menatap gue.

“Apakah salah kalau gue pernah bilang bahwa gue sayang sama dia?”

Ikhsan mendengus kesal, kemudian ia membuang muka. Sebentar kemudian ia bangkit dari kursi dan pergi ke arah meja UKS. Membuka bubur yang tadi ada di dalam kresek dan menuangkannya di mangkok yang lain. Kemudian ia memberikannya kepada gue, tidak lupa dia makan dulu setengahnya sambil berjalan menuju kasur UKS barusan.

“Nggak salah kok.” Ikhsan memberikan mangkok itu, dan gue mengambilnya. “Yang salah adalah, lo bilang lo sayang dia tapi lo nggak mengejarnya pas dia pergi.” Sambungnya lagi.

Gue tertegun. Baru saja mau nyendok satu suap bubur, gue langsung melihat ke arahnya dengan mulut yang menganga.

“Maksudnya?”

“Lo ngerti lah maksud gue barusan.”

“Tapi kan dia punya orang lain, San? Toh dia juga dulu milih orang lain daripada milih gue.” Gue berkelit.

“Bukannya dulu juga kak Hana itu punya orang lain? Tapi lo tetap ngejar dia kan? Sampai kejadian terkahir di bioskop BIP beberapa bulan yang lalu itu.” Dengan santainya Ikhsan menjawab pertanyaan gue barusan.

Dan perkataannya tepat membuat gue diam tak berkutik. Setiap gue mau menjawab dan menyanggah rasa-rasanya mulut gue tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Semua berhenti di tenggorokan.

“Klise memang, tapi gue setuju sih sama istilah bahwa cinta itu perlu diperjuangkan.” Tukasnya lugas.

“Tapi, bukankah buruk jika mengawali sebuah hubungan dari cara mengakhiri hubungan orang lain?” Gue menimpali.

Ikhsan geleng-geleng kaya anak baru pulang ngaji mau nyebrang, “Nggak juga. Kalau ternyata dia nggak bahagia sama pacarnya gimana? Itu berarti lo lagi menyelamatkan dia dari jalan yang salah, Nyet.”

Gue terdiam.

“Rasanya dulu lo nggak secemen ini dah.” Ikhsan kembali memukul perut gue, pantat gue kontraksi langsung.

Ikhsan berdiri dari duduknya, kembali memakai sendalnya lagi lalu menggeser kursi yang baru saja ia duduki kembali ke tempatnya. Sebelum pergi menuju pintu, Ikhsan ngelirik gue yang masih mikirin perkataan dia barusan.

“Btw, tadinya si Cloudy mau ke sini, tapi malah ketemu Ipeh di depan UKS.” Katanya sambil kemudian berjalan menuju pintu.

“Lah terus?! Berantem?” Gue langsung bangun dari tidur gue.

“Hahaha lo tunggu aja, paling bentar lagi doi masuk terus marah-marah. Siap-siap aja konstraksi tuh perut. Hahahahaha, dah ah cuss yak! Gue masih banyak kerjaan.”

“WOI CERITAIN DULU WOI LENGKAPNYA!!”

Ikhsan berhenti lalu nengok sebentar, sebelum kemudian dia melengos pergi begitu aja.

“ANJIR TAI DAH SO KEREN LU SETAN!! MUKA KAYA UJUNG PECUT AJA SOMBONG LO WOI!!!”

Pret..
Pantat gue kontraksi sekali lagi.

.

.

.

.

                                         Bersambung

p.s: gak usah bingung, ini cuma sepotong scene di draft cerita TWILH, tapi masih di tema Bazzar kok. Cerita ini lebih cepat beberapa part dari yang terakhir gue update dulu. Anggap aja pemasan sebelum ngelanjut cerita sebelumnya. Doain yak.

feels good to be back. Feels good to bring this comedic conversations back.

“Kuat ya, sabar, bergantung terus sama Allah, terus punya prasangka baik sama Allah. Setiap orang pasti punya cerita masing-masing, setiap orang pasti merasa paling menderita saat menemukan ujian, merasa paling melelahkan. Tapi percayalah pasti Allah punya maksud, walaupun kita mungkin belum tau apa maksudnya, pasti Allah menginginkan kebaikan untuk kita.

“Setelah banyak kesedihan, kekhawatiran, ketakutan yang karena-Nya bisa kita lewatin dengan sabar, semoga ini adalah momen dimana kita sedang Allah siapkan untuk kebahagiaan di sana, di syurganya Allah.

“Sabar. Sabar. Sabar lagi. Sabar terus.

“Aku pernah menemukan diriku di mana nasihat untuk bersabar adalah nasihat yang paling klise. Merasa lasut dan lasut lagi. Jatuh bangun dan jatuh lagi. Tapi percayalah, dengan itu pahala tanpa batas bisa kita dapatkan.

“Pokonya kita harus sama-sama yakin, sama-sama saling ngingetin kalau kita mencari keridhaan Allah pasti Allah tunjukkin jalannya, pasti Allah kasih.”

_____

Meski tanpa kedatangan, terima kasih telah hadir sepenuh utuh @sntykn :”)

anonymous asked:

Kak, alasan kakak gak nikah-nikah apa kak? Nyarinya cem mana sih kak?

Alasannya klise, belum nemu jodohnya.
Tenang, bukan karena ga pingin nikah kok, tapi emang gagal beberapa kali. Juga bukan karena minta yang sempurna kok, tapi emang kadang yang sononya belum berani.

Carinya yang sama2 mau memperbaiki diri, yang pemikirannya bisa meluruskan pemikiran sy yg keliru, yang tegas dan berani marahin sy kalo sy salah, yang sayang dan melindungi perempuan2 di sekitarnya, yang bertanggung jawab, yang bisa meredam ambisi saya, yang suka sedekah, yang suka bantu orang lain, yang cara memandang value of money nya baik, yang punya mimpi tinggi dan untuk kebaikan, yang tekun dan istiqomah.

Gak susah ternyata cari yang kayak gitu. Masalahnya, yang kayak gitu belum tentu mau/siap ngelamar saya. Hahaha. Kasih tau kalo ada yang lucu gitu yak.

Dilupakan

Bagiku, ada hal yang lebih menyedihkan dari merindukan tapi tak dirindukan. Ialah dilupakan.

Originally posted by serious


Tahukah kau teman? Kita dulu begitu dekat. Seperti 2 orang dengan 1 hati. 1 suara. 1 pandangan. 1 senyuman. Namun kini kita seakan menjadi 2 orang yang asing, tak saling mengenal, dan tak saling peduli.

Mungkin ada atau tidak adanya aku adalah perkara yang sama. Sebab (mungkin) memang begitulah sejak awal kau menempatkanku dalam hidupmu. Jujur saja, aku sedang sangat sedih. Sedih bahwa nyatanya aku terlalu melibatkan perasaanku atas semua tentang kita. Sedih bahwa nyatanya aku tak cukup dewasa untuk melihat bahwa kau telah tumbuh berbeda denganku. Aku tak lagi senyawa denganmu. Tak cukup peka menyesuaikan segalanya denganmu.

Tapi teman, bagiku ada dan tidak adanya kamu amatlah terasa bedanya. Tanpamu aku seperti seseorang yang timpang. Sebab sejak awal aku telah menjadikanmu sesuatu yang penting dalam hatiku. Aku mengingat dengan jelas segala tentang kita. Tentang betapa kau menyukai segala jenis ice cream, tentang betapa kau begitu menyukai hujan walau tubuhmu rentan padanya, tentang betapa kau begitu menyukai pria dengan senyum manis itu, atau tentang betapa kau adalah wanita yang hebat. Dan masih kuingat betapa menyenangkannya berteduh dari hujan kala itu bersamamu, walau aku tak suka berteduh.

Ini klise, aku merindukanmu, tapi kau melupakanku. Hingga perlu bagiku kali ini bercerita padamu lewat tulisan ini. Sebab menemuimu atau mendapat balasan pesan darimu adalah perkara yang sulit.

Originally posted by stupidteletubbie

Nona, bisakah kau sedikit mengingatku yang dulu pernah dengan mudah kau peluk setiap saat?

 by: Syarifah Aini (2017)

Keresahan Penulis

Saya sempat kepikiran untuk mengganti username kunamaibintangitunamamu dengan username yang tidak begitu menye-menye kalau dibaca. Semua itu dikarenakan seseorang pernah membuat saya berkecil hati. Begitu banyak hal yang dia komentari tentang tumblr saya, dari gaya menulis, hingga dia melabeli saya tidak logis karena saya senang menulis.

Kadang, saya benci stigma yang mengatakan kalau penulis itu tidak realistis karena punya dunianya sendiri. Oh, come on! Apa yang salah dari menulis hal-hal berbau roman? Barangkali benar, beberapa terbaca sangat klise, tapi bukan berarti sah-sah saja untuk dipandang sebelah mata.

Saya tidak tahu kenapa saat itu saya sangat terluka. Kata orang, sudah seperti kena tohok telak. Dan saya menangis sepanjang perjalanan pulang setelah bertemu dia. Saya bahkan tertidur dengan mata sembab. Iya, saya memang kadang secengeng itu.

Esoknya, saya lalu mengamati tumblr saya baik-baik. Saya berpikir, apakah dengan memusnahkan username atau bahkan tumblr saya, akan membuat saya diterima sebagai orang yang logis? Ya, belum tentu. Jalan pikiran orang toh beda-beda. Hari ini bilang A, besok bisa bilang Z.

Fyi, there is a personal history attached to this username. Berkesan sekali. Dari tahun 2012, saya menggonta-ganti username tumblr, sampai akhirnya saya mantap menggunakan nama ini. Lantas, kenapa saya mesti menukarkan apa yang saya bangun sendiri dengan penilaian normal dari orang lain?

Pelajaran yang saya dapatkan adalah do not let the words consume you, consume your confidence, and the worst is consume your happiness. Mereka tidak tahu apa yang kamu hadapi sampai kamu bisa jadi dirimu sekarang. Hey, terima saja kritikannya, tapi membodoamatkan kata-kata yang bertujuan untuk menyerang kepercayaan dirimu sama sekali tidak dilarang, kok.

Setiap kali saya bersedih, saya selalu ingat; masalah itu hanya sementara, jangan pernah melakukan tindakan yang pada akhirnya akan disesali kelak. Lalui saja, semua bad day pasti akan berlalu. Ah, saya menulis ini tidak bermaksud menggurui. Nyatanya, saya hanya sedang mengingatkan diri saya sendiri jika suatu hari nanti saya khilaf (lagi).

Tapi jika kamu pernah mengalami hal yang serupa, saya cuma ingin bilang, bahwa kamu tidak sendirian, kok. So, keep your chin up!

Protect Your Hijab!!!

Beberapa hari yang lalu kita mendengar sebuah berita “viral” mengenai seorang tokoh publik yang memutuskan untuk melepas hijabnya. Serbuan komentar warganet membanjiri fan page tokoh publik tersebut. Ada yang kecewa terhadap keputusannya, namun tidak sedikit pula yang menyemangati bahkan mendukung apa yang dilakukan tokoh publik itu. Kemudian hati kecil saya terdorong untuk menulis suatu tulisan yang berkaitan dengan hal ini, karena menurut saya fenomena melepas hijab bisa saja dialami oleh setiap muslimah di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Saya tidak akan menulis kritikan terhadap para muslimah yang memutuskan untuk melepas hijabnya, sebab saya yakin mereka punya alasan sendiri dan paham dengan konsekuensi apa yang mereka lakukan. Tujuan tulisan kali ini hanya untuk kembali mengingatkan kepada para muslimah tentang perintah untuk menutup auratnya. Dengan begitu diharapkan melalui tulisan ini, bagi yang sudah berhijab secara syar’i bisa menguatkan keimanannya, bagi yang sudah berhijab tetapi masih belum sempurna bisa menyempurnakannya dan bagi yang belum berhijab tergerak hatinya untuk menggunakan hijab.

Jujur saja, saya tidak tidak terlalu paham mengenai apa itu Jilbab, hijab, niqab, al-amira, burqa, shayla, khimar serta cadar. Mungkin nanti ada yang bisa membantu saya menjelaskan mengenai hal ini. Namun satu hal yang pahami, wanita memang diperintahkan untuk menutup auratnya. Bukan hanya wanita, lelakipun diwajibkan sebagaimana wanita dalam hal menutup aurat.

Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

[Q.S. An-Nûr ayat 31]

Perintah Allah ini jelas, bagi setiap lelaki maupun wanita. Terutama bagi wanita, sebab Rasullulah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Wanita itu aurat, jika ia keluar dari rumahnya maka setan mengikutinya. Dan tidaklah ia lebih dekat kepada Allâh (ketika shalat) melainkan di dalam rumahnya.”

Oleh karena itu memang suatu keharusan bagi seorang wanita untuk menutup auratnya kecuali yang biasa nampak atas dirinya seperti wajah dan telapak tangan.

Terkadang memang lucu, saat kita menemukan seorang muslimah yang belum berhijab karena belum siap. Padahal, kematianpun tidak mengenal kata siap. Apabila kelak ternyata ajal yang lebih dahulu menemui diri ketimbang kesiapan untuk berhijab, apa diri tidak akan merugi? Sebab kita telah membangkang dan tidak mengindahkan perintah Allah? Menggunakan alasan klise menghijabkan hati dan sikap terlebih dahulu padahal menutup aurat merupakan kewajiban yang telah tertulis dari Allah. Jangan ragu untuk berhijab meski akhlak, ibadah, sikap serta hatimu masih belum sempurna “baiknya”. Mengapa? Simple, karena itu perintah Allah!!!

Mungkin ada ketakutan akan dipandang munafik oleh manusia jika berhijab namun masih belum bersikap selayaknya wanita sholehah, tetapi apa itu lebih baik daripada tidak mematuhi aturan Allah? Saya percaya, semakin mantap keinginan untuk berhijab dan menyempurnakan hijab bagi seorang wanita maka lambat laun akhlakpun akan menyesuaikan dengan dirinya, InsyaAllah.

Lagipula menggunakan hijab sebenarnya demi keamanan diri wanita itu sendiri. sebagaimana Firman Allah :

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[Q.S. Al-Ahzâb ayat 59]

Begitu Allah menjaga harga diri seorang wanita dengan memperintahkannya untuk berhijab dan menutup auratnya. Namun lucunya masih banyak yang enggan untuk mematuhi perintah-Nya.


Well, jika memang anda ingin bersikeras untuk tidak berhijab maka ada beberapa syarat yang harus terpenuhi agar anda tidak diwajibkan menggunakan hijab, antara lain:

1. Anak – anak perempuan muslim yang belum baligh.
Lihatlah diri anda, apabila anda masih merasa sebagai anak kecil yang belum baligh dan belum mendapatkan haid maka tidak ada kewajiban bagi anda menggunakan hijab. 

2.Seorang wanita yang kehilangan akal.
Silahkan nilai diri anda sendiri, apakah anda termasuk dalam kategori ini.

3. Wanita Non Muslim
Jelas sekali bahwa hukum dan syariat Islam hanya berlaku untuk mereka yang beragama Islam, sehingga bagi mereka yang tidak beragama Islam tidak terkenai kewajiban apapun secara syariat.

4. Wanita yang disebutkan dalam Surah An-Nur ayat 60

“Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (maksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana”

[Q.S. An Nur ayat 60]

Ibnu Abbas berkata bahwa maksudnya menanggalkan pakaian luar ini adalah menanggalkan hijabnya.

Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwasanya wanita yang telah menopause dan kehilangan syahwat tidak berdosa jika menanggalkan pakaian luar yakni hijabnya. Namun yang lebih baik tetap memakainya.

Dari ayat diatas juga dapat disimpulkan bagi wanita yang belum mengalami menopause berdosa jika menanggalkan pakaian luar yakni hijabnya. Sedangkan dosa terjadi apabila kita meninggalkan kewajiban atau mengerjakan larangan-Nya. Kesimpulannya jelas, memakai hijab dan menutup aurat adalah kewajiban.

Jadi, jika anda ingin melepas hijab yang anda kenakan, silahkan menopause terlebih dahulu.

5.     Laki – Laki.
Saya tidak perlu menjelaskan hal ini.


Jika diantara lima persyaratan diatas, anda termasuk salah satunya, maka tidak dijatuhi kewajiban berhijab bagi anda. Selamat!!!
jika tidak, maka kewajiban mutlak bagi anda untuk menggunakan hijab dan menutup aurat.

Semoga melalui tulisan ini semangat “protect your hijab” anda semakin mantap. Jangan biarkan bisik-bisik setan serta keraguan memakan habis keimanan yang ada di dalam diri.  Semoga bermanfaat.


Nb : Alhamdulillah, sampai saat ini saya tidak berhijab.
@xyouthgen

Bersabarlah, Sebentar Lagi Kamu Keren!

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata ‘orang keren’? Bagiku, orang keren adalah mereka yang luas hatinya dan ringan tangannya untuk melakukan kebaikan, mereka yang mampu berprestasi dalam kerja dan karyanya, juga mereka yang mampu mengejar akhirat dengan kesehariannya yang luar biasa. Ketika melihat orang-orang seperti itu, aku selalu penasaran tentang apa yang terjadi di balik hidup mereka sebab aku percaya kalau orang keren itu bukan hasil bentukan sehari semalam, mereka tentu telah melakukan perjalanan panjang, menempuh banyak pengalaman, dan bersusah payah berdamai dengan luka dan rasa sakit yang mungkin bukan dalam skala kita pada umumnya.

Namanya juga orang-orang keren, mereka bukan orang-orang dengan pola berpikir yang biasa, pengalaman yang biasa, dan kualitas diri yang biasa. Mereka pasti lulus tempa dan naik kelas karena ujian-ujian. Mereka terbentur untuk terbentuk, terluka untuk mendewasa, lalu sakit untuk bangkit. Bagaimana denganmu? Terbentur membuat semangat dalam jiwamu lentur, terluka membuat hatimu porak-poranda, dan kamu lemah tak berdaya hanya karena sakit yang sedikit. Apa? Kamu? Tidak tidak, aku maksudnya! Padahal, mungkin ini klise, tapi besi memang hanya bisa menjadi kuat setelah dibakar dalam suhu yang tinggi dan waktu yang lama, bukan?

Seseorag pernah menasehatiku, katanya, kalau mau jadi orang keren (dalam artian seperti definisi di atas) berarti harus sanggup membayar hidup dengan harga yang mahal. Bayar mahal? Ya, bayar dengan perjuangan, kebergantungan kepada Allah, kesabaran, dan juga keluasan hati untuk bisa memaafkan dan menerima ketetapan. Dipandang dari sudut manapun, rasanya kita akan sepakat kalau semua itu memang tidak mudah untuk dilakukan. Tentu saja, sebab hadiahnya tidak setara dengan kipas angin atau TV berwarna. Bagaimanapun, semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk bisa membayar harga yang mahal itu, ya!

Jika hari ini waktumu terasa sempit, hatimu terasa sakit, dan hidup bagai meninggalkanmu di tepi pilihan-pilihan yang tak mudah untuk dipilih, maka bersabarlah dan kuatkan kesabaran itu! Semua Allah hadirkan agar kamu mempelajari banyak hal, sesuatu yang maknanya mungkin hanya akan menjadi milikmu karena orang lain tidak mengalaminya. Kamu tahu, Allah sedang mempersiapkanmu untuk bisa menjadi orang keren! Dari mana kita bisa belajar sabar jika tidak melalui ujian? Dari mana kita bisa belajar kuat kalau tidak pernah ditempa?

Bersabarlah, sebentar lagi kamu keren! ;)

PASIEN

Saya cukup berpengalaman dalam hal sakit, sedangkan ibu saya cukup berpengalaman dalam merawat orang sakit.

Dari sakit yang pernah saya alami, melihat anggota keluarga menjaga saya atau anggota keluarga lain yang sakit, saya belajar sesuatu. Bahwa yang perlu perhatian dalam ujian penyakit bukan hanya si pasien, tapi juga orang - orang yang dengan intens menjaga pasien.

Belajar dari apa yang saya lihat dan saya alami, orang - orang yang menjaga keluarganya yang sakit seringkali juga butuh diperhatikan. Kalau kita punya orang yang kita kenal tengah berjuang menjaga anggota keluarganya (atau siapapun) yang sakit parah, tolong lakukan beberapa hal sederhana di bawah ini.

1. Jangan anggap tugas mereka remeh. Tidak semua orang bisa telaten mengantar orang sakit ke toilet beberapa kali sehari, menuntun mereka agar tidak jatuh, membersihkan kotoran mereka dengan resiko tertular penyakit, bersabar menghadapi tingkah menyebalkan si sakit, menunggui mereka dan terjebak di kursi tunggu. Lelah you know, lelah.

2. Jangan kira yang merasa sakit hanya si sakit. Si penunggu barangkali lebih merasa terluka melihat kerabatnya menderita. Percayalah, paling tidak bagi saya sendiri, melihat ibu menangisi saya sakit jauh lebih menyakitkan dari pada sakit itu sendiri. Sakit mah ya udah weh, sudah lupa saya bagaimana rasanya ketika sudah sembuh, tapi luka melihat ibu menangisi saya hampir mati tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup.

3. Sesekali, apresiasilah mereka dengan kata - kata sederhana yang tulus :”kamu hebat ya, alhamdulillah tetap sehat meski menjaga orang sakit itu sungguh berat.” Atau jika sempat belikanlah makanan kesukaan mereka jika memungkinkan.

4. Bantu mereka menjaga kesehatan, agar mereka tetap sehat walaupun sibuk menjaga si sakit. Sesederhana membelikan vitamin.

5. Let them know kalau kita menghargai apa yang telah mereka lakukan. It’s not easy, jadi ketika mereka mengeluh lelah sesekali, dengarkan saja.

6. Ga perlu menasihati bahwa menjaga orang sakit itu pahala blablabla. Klise ah, dan nyebelin menurut saya. Instead of that, doakan saja, katakan, “semoga ikhtiarmu menjaga keluargamu ini jadi jalan berkah dan jalan pahala ya say.” Dengan kata - kata doa ini mereka akan lebih merasa didoakan dan dihargai, bukan digurui. At least di keluarga saya sih begitu.

7. Dukung mereka berbuat baik.

Itu saja. It’s really nice if you can treat those people nice. Eh apasih.

Meski terdengar klise, harus jujur kuakui, aku lebih menyukaimu yang berbahagia, dengan atau tanpa aku. Dibandingkan kamu yang sibuk berpura-pura menjadi yang bukan kamu, demi terlihat bahagia di sisiku. Bahagia tidak pernah hakiki, selama ia tidak asli.
—  Tia Setiawati
Terbuka

Dear Boi,

Bapak dulu adalah orang yang sangat tertutup. Everything inside will always be inside. Bapak jarang cerita-cerita ke orang-orang terdekat bapak, entah itu keluarga atau teman. Buat bapak, agak memalukan kalau orang lain tahu bapak punya masalah.

Bukan karena bapak ga mau merepotkan orang lain atau alasan klise lainnya. Bapak gengsi. Bapak terlalu tinggi hati. And it is not good trait of me. Bapak harap kamu ga ngikutin bapak dalam hal satu ini.

Kabar buruknya, bapak jadi punya kebiasaan menumpuk sampah emosi. Boi, ketika bapak punya masalah, hal-hal yang seharusnya bisa dikeluarkan oleh bapak sama sekali tidak keluar. Ditumpuk, ditutup rapat. Dalam jangka pendek, semua tampak baik-baik saja, tapi jika dilihat dalam jangka panjang jelas yang bapak lakukan bukanlah investasi yang baik.

I tend to leave things unfinished,..

Dimaafkan tidak, dilupakan tidak, bapak hanya berpura-pura segala yang membuat bapak kesal tidak pernah ada. Bapak terlalu pengecut untuk menghadapi masalah secara langsung dan tidak cukup legowo untuk berbagi dengan orang lain soal masalah bapak.

Ironisnya, meski bapak cenderung tertutup, orang-orang di sekitar bapak malah terlihat sangat terbuka kepada bapak. Meskipun mereka baru kenal bapak, mereka merasa mudah untuk bercerita apa saja pada bapak, bahkan untuk hal-hal yang masuk wilayah personal. Mereka sendiri heran kenapa bisa percaya begitu saja kepada bapak, bisa nyaman bercerita dan betah berbincang dengan bapak.

ketika orang-orang memuji betapa mudahnya mereka terbuka kepada bapak, betapa leganya mereka setelah berhasil membuang sebagian sampah emosi mereka, bapak malah mengutuk diri sendiri yang tidak bisa terbuka seperti mereka.

Setelah menikah dengan ibu, bapak baru paham. Mungkin, salah satu penyebab bapak sulit terbuka adalah karena di keluarga bapak jarang sekali ada obrolan ringan yang bersifat personal. Mungkin karena kebanyakan laki-laki, jadi jarang sekali ada sesi curhat. Bapak tidak pernah menyadari sebelumnya bahwa bercerita kepada orang tua itu penting.

Mungkin orang tua bapak tidak sengaja atau memang tidak bisa mengungkapkan emosi dengan baik. Tidak, masa kecil bapak baik-baik saja. tidak ada kekerasan atau kata-kata kotor dalam kehidupan keluarga bapak. Hanya saja, we never chit chat, almost no small talk. Bapak tumbuh besar dengan terbiasa tidak bercerita apa pun kepada orang tua.

Bapak baru belajar banyak hal setelah menikah dengan ibu. Ibumu sama seperti perempuan pada umumnya. Kaum hawa punya kebutuhan lebih dalam hal berbicara. They talk a lot.

A lot



Tapi justru hal ini yang mungkin membuat mereka tetap waras. Mereka butuh didengar, dan ternyata bapak pun butuh didengar meski mungkin dalam kuantitas yang berbeda. Bapak mulai merasakan manfaat berbicara, mengobrol ringan sebagai terapi. It is good to be heard.

Bapak jadi lebih sering mengobrol dan menulis.

Boi, bapak mulai menulis ketika masuk kuliah. Ketika bapak punya banyak uneg-uneg, bapak menulis. Ketika itu bapak belum punya teman yang cukup nyaman untuk bercerita, tentu bapak juga enggan untuk bercerita kepada keluarga. Menulis adalah kegiatan yang membuat bapak tetap waras ketika masa-masa kuliah.

Bapak belajar banyak hal dari ibu, dari keluarga besar ibu. Bapak kagum melihat baiknya komunikasi di keluarga ibu. Mungkin karena karena ibu mayoritas perempuan, berbeda dengan bapak.

Sekarang mungkin kamu mulai paham, mengapa ibumu selalu tanya ini itu. Bagaimana sekolah? Seru atau tidak? Makan apa saja tadi sebelum pulang? Dll.. itu cara ibu untuk keep in touch dengan kamu, boi. Begitu pula ibu yang selalu tanya ini itu dan cerita macam-macam kepada bapak.

Bapak dan ibu ingin dekat dengan kamu, boi. Jangan seperti bapak yang sulit bercerita macam-macam kepada orang tua. Jadikan bapak dan ibumu sandaran, karena kamu tidak lahir sendirian.

kami ingin mendengar bagaimana kisah hidupmu. Sering-seringlah bercerita biar kami tahu apa yang harus dilakukan untuk membantumu. Kami tidak ingin kamu tumbuh sendirian.


Bapak dan ibu ingin menemanimu men-dewasa.

anonymous asked:

Kak mau nanya dong temen tapi sering chat kita itu gimana? Tapi ga ngasi kepastian kalo 'kami ini sebenarnya apa' dan udah terlanjur baper. Aku harus gimana help😂

Aku pernah dibilang begini sama seseorang, “jangan menumbuhkan rasa dan menambahkan harap terlalu banyak sampai kamu sendiri kesusahan untuk menanganinya”.

Ya, jawaban yang paling mungkin sekaligus klise adalah mengurangi kebaperan itu. Aku tahu itu mustahil untuk dilakukan Tapi, percaya deh, aku pernah berada di posisi itu–posisi yang sangat down karena terlalu baper sama dia.

Dan yang kulakukan hanyalah legawa–menerima, menuangkan segala euforia, keingintahuan, dan rasa penasaranku terhadapnya yang dulunya terlalu berlebihan dengan porsi yang pas.

Aku mungkin tidak bisa memberikan saran apa-apa terkait kegelisahanmu itu, tapi aku bisa bantu untuk menggali kesadaranmu dengan pertanyaan; sebelum baper itu ada, semuanya pernah baik-baik saja kan?

Ingatan pertamamu tentang kecewa mungkin tertumbuk pada sebuah sepeda roda dua. Saat itu, usiamu masih berbilang satuan, lalu kamu melihat sepeda-sepeda lucu tengah terparkir di setiap halaman rumah milik teman-temanmu. Seketika, tak ada apapun di pikiranmu selain ingin memilikinya juga. Kamu pun pulang ke rumah, berlari menggebu-gebu untuk bertemu dengan ayah dan ibumu, lalu meminta untuk dibelikan sebuah sepeda, agar sama seperti teman-temanmu.

Tanpa diduga, ayah dan ibumu hanya tersenyum. Kamu yang saat itu masih kecil mungkin memang belum paham arti menunggu dan menunda sesuatu. Lalu kamu pun menangis di pangkuan ibu. Ayahmu diam saja, tapi lama-kelamaan beliau menawarkan sebuah cara, “Bagaimana jika kamu ayah belikan sebuah celengan saja dulu agar bisa menabung untuk membeli sepeda nanti di awal tahun depan?” Sebagai anak kecil, kamu begitu kecewa sebab merasa tertolak dan ah entah apa. Ibumu diam saja, meski ia ingin segera menyisihkan banyak uang belanja agar sepedamu segera didapat, tapi kepatuhannya pada ayah membuatnya tidak cukup berani untuk melanggar sebuah kesepakatan.

Tak ada pilihan lain, kamu pun menurut saja: menabung setiap hari meski tak tahu kapan tabungan itu akan cukup. Hingga suatu hari, tibalah pada hari yang dijanjikan untuk membeli sepeda. Kamu kaget, karena ketika celenganmu dipecahkan, isinya tak cukup, jauh sekali dari cukup. Tapi ternyata, ayah tersenyum bangga kepadamu lalu mengajakmu untuk berjalan ke sebuah sudut persembunyian. Tanpa diduga, beliau jauh-jauh hari telah membeli sepeda itu. Kamu pun bahagia, bahkan jauh lebih bahagia karena sepedamu, meski datangnya seolah terlambat, ternyata tak kalah cantik dengan milik teman-temanmu.

Tanpa terbayangkan sebelumnya, ternyata tak mudah untuk mengayuh sepeda. Tapi ayah dan ibumu jauh lebih bersemangat daripada dirimu sendiri untuk mengajarimu mengemudikan kendaraan kecil itu: dipeganginya kamu dari belakang, didorong sesekali, dan diawasinya agar kamu tidak sampai jatuh ke kubangan. Tak mudah, berkali-kali kamu terjatuh, sepeda itu pun mulai lecet di banyak sisi, lalu kakimu biru-biru tersebab pedal sepeda yang keras membenturmu. Menangis? Tentu saja, tapi ternyata kegigihanmu untuk terus mengayuh sepeda mengalahkan segalanya.

“Sakit sedikit engga apa-apa, ya, Nak? Ibu obati, ya. Ini akan perih, tapi obatnya baik karena akan membuat lukamu cepat kering. Kamu boleh menangis sebentar sambil peluk Ibu kalau memang kesakitan, ya!” dengan lembutnya tanpa berbohong Ibu pun mengobatimu: membersihkan lukamu dan menyiramnya dengan alkohol. Saat itu, kamu menangis hebat. Ah tentu saja, anak kecil mana yang akan tahan jika lukanya disiram alkohol. Kalau saja saat itu kamu sudah besar, mungkin kamu akan berpikir, “Mengapa obat menyakitkan dan bukan menyembuhkan sejak pertama?” Tapi ternyata Ibu benar, keesokan harinya luka itu sudah tidak terasa, hingga kamu pun bermain sepeda lagi, seperti biasa.

***

Bertahun-tahun kemudian, tepat ketika kamu beranjak dewasa, kamu mulai paham mengapa tak mudah bagi ayahmu dulu untuk membelikan sepeda. Ternyata, saat itu ayahmu sedang ingin mengajarkanmu tentang makna berjuang, menunda kepuasan, dan bersabar terhadap apa-apa yang diinginkan. Ah, kalau saja kamu dulu mengetahuinya, pasti hatimu tidak akan memilih untuk marah, bersedih, apalagi kecewa.

Lalu, ketika hari ini ingatan itu menyapamu kembali, tidakkah itu menggerakkanmu untuk kembali berjuang, menunda kepuasan, dan bersabar terhadap apa yang kamu inginkan?

Bertahun-tahun kemudian, ketika sesuatu terjadi pada hatimu, kamu mulai paham mengapa dulu kamu kecil bisa begitu bersemangat mengayuh sepeda. Ternyata, semua itu adalah karena tak ada rasa soal batas-batas ketidakmungkinan, hingga terus belajar dengan gembira membuat hatimu lapang untuk terus mencoba: mengayuh sepedamu hingga jauh ke tepian. 

Lalu, ketika hari ini ingatan itu menyapamu kembali, tidakkah itu menggerakkan jiwamu untuk tahan banting terhadap kegagalan-kegagalan lantas kembali bergerak untuk mengayuh pedal agar roda hidupmu kembali berputar?

Bertahun-tahun kemudian, ketika lukamu menganga dan berdarah, kamu mulai paham mengapa dulu rasanya sesakit itu ketika ibu mengobati luka-lukamu. Ternyata, semua itu adalah karena ibu ingin lukamu selesai. Sama seperti nasehat-nasehat baik yang kamu terima ketika hidup membenturkanmu pada banyak kejadian yang menyisakan luka, mungkin nasehat-nasehat itu membosankan, klise, dan seolah tidak berpihak pada apa yang kamu rasakan. Tapi nyatanya semua benar

Lalu, ketika hari ini ingatan itu menyapamu kembali, tidakkah itu menjadi obat bagi luka-lukamu hingga kamu mengerti bahwa setiap ketetapan adalah baik dan menumbuhkan?

Selamat kembali ‘mengayuh sepeda’ dan menyelesaikan setiap lengkung perjalanan. Jangan berhenti, kumohon jangan, sebab di depan sana ada kejutan. Sebentar lagi, atas seizin-Nya, insyaAllah kamu akan segera sampai. Ya, sebentar lagi sampai :”)

_____

Picture: Pinterest

anonymous asked:

Din, menurutmu tujuan menikah itu apa?

Mau jawab buat ibadah, nanti klise. Mau jawab biar ena ena yang halal, nanti mesum.

Tergantung mau dilihat dari sisi mana? Agama, sosial? Obyektif, pribadi? Masa kini, masa kuno?

Kalau agama sudah jelas, bisa lah dipelajari di buku - buku tentang pernikahan.

Kalau menurut saya pribadi, menikah itu tujuannya selain memberikan rasa tenang (karena sudah diberi jalan untuk menuntaskan kebutuhan baik lahir maupun batin yang membuat gelisah semasa jofisa - jomblo fisabilillah), juga sebagai bahtera untuk menuju tujuan hidup (kalau sudah punya).

Kalau tujuan hidupnya tidak berlandaskan agama (Islam misalnya), itulah mengapa ada yang ngeyel menikah dengan non-muslim (yang seperti ini silahkan dicek bagaimana aturannya).

Kalau tujuanmu menikah agar dapat punya organisasi kecil yang mendukung kegiatan sosialmu, maka kamu tanpa sadar juga akan mencari pasangan yang suka kegiatan sosial atau minimal mendukung.

Di zaman dulu, menikah juga untuk merekatkan silaturahim dalam rangka perjuangan, seperti yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya. Di zaman kerajaan, pernikahan bertujuan untuk menghindari permusuhan dan merekatkan hubungan politik antar kedua negara, seperti yang sering dilakukan Majapahit dulu.

Yang jelas, menikah seharusnya memiliki tujuan lebih besar daripada menuntaskan kegalauan dan kegelisahan, atau karena cinta semata. Pernikahan itu kan ibadah, banyak kebaikan di dalamnya. Jadi sayang banget kalo cuma dipake buat ena ena sendiri, kudu dijadikan sarana untuk membagi kebaikan buat orang lain.

Layaknya sinar mentari, hangatnya sikapmu kala itu begitu kurindui. Klise memang, tapi terbukti. Terlampau bingung aku mencari definisi apa yang menjelaskan maunya diri. Ya sudahlah, begitu saja, sepertinya hatiku telah kau curi.
Mylog: Planning

Dari quote-quote yang berseliweran di jagad maya, semua orang sudah tahu kalau

“Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan”

atau

“Manusia diberi kertas dan pensil, namun Tuhan yang Maha Kuasa atas penghapusnya”

Quote standar kayak gitu semua orang bisa hafal sekali dengar. Namun, memaknainya hingga berbekas di hati itu lain persoalan. Itu quote yang simple tapi sangat berat untuk menerimanya.

Deet, tapi ngepret,..Do you speak sundanese, btw?

terkadang lifeplanning aink diacak-acak Tuhan yang Maha Kuasa. Ampe kadang aink pengen nanya,

“wai Gaaad!, waaaaaai!?”

tapi Tuhan Maha Bijaksana, aink aja yang suka sok tahu. Berarti banyak hal yang aink rencanakan mungkin bisa ngasi dampak buruk bagi hidup aink. Aink nya aja yang ga tau.

Sometimes, berasa jadi  mahasiswa abadi yang skripsinya ga beres-beres karena terlalu doyan revisi. Ini salah, itu salah, teruuuus aja….. ampe firaun dibangkitkan lagi buat jualan pop ice di mesir. Satu-satunya yang bertindak sebagai ‘rem’ di pikiran aink adalah ketika aink merasa ga puas dengan revisi-Nya, berarti aink berada selangkah lebih dekat pada setan dan kawan-kawannya.

Tuhan adalah sebaik-baik pembuat rencana, i know. Tapi, kadang kalo lagi down, tetep aja suka ada perasaan pengen ngeluh, trus bertanya pada rumput yang bergoyang. “waiiiiiiiiiiiiii??”

aink jadi seolah lupa dalam hidup aink uda sebanyak apa kejutan indah yang Tuhan siapkan buat aink tanpa aink harus repot-repot merencanakan dan mengusahakannya. Seolah beberapa kejadian buruk yang menimpa aink uda sebanding sama trilyunan nikmat hidup yang Tuhan kasih. Aink memang hamba yang masih belum totalitas.

Semakin banyak revisi, aink jadi seolah dipaksa untuk berpikir lebih keras. Planning seperti apa sih yang harus aink bikin supaya di-acc? Kadang aink bikin planning all out sampai detail mesti begini-begitu, tapi malah hancur berantakan. Tapi kadang ada juga aink bikin planning nekat tapi malah dilancarkan dengan berbagai keajaiban yang sama sekali aink ga pernah kepikiran. Everything just fall into the right place at the right time without me doing anything.

Sampai aink berpikir, mungkin usaha kita bikin planning tidak selalu berkorelasi dengan hasil. Tuhan cuma pengen lihat usaha kita dalam membuat life planning plus respon kita atas hak prerogatif Tuhan mengatur hasil akhir dari yang kita usahakan.

Ketika aink mikir kayak gitu, tabiat aink yang mempertanyakan keputusan Tuhan atas planning yang aink buat jadi ga relevan. Tuhan ga minta hasil, aink cuma diminta berusaha sebaik mungkin dan ikhlas atas setiap hasil akhir Tuhan takdirkan,. Terdengar klise, tapi setidaknya itu yang aink percayai.

Karena kalo ga gitu, aink pasti stress ketika life planning aink berantakan seolah dipermainkan takdir.

IIP #6: PR, Pekerjaan Rumah (Tangga)

Ada sebuah pertanyaan klise yang sering dibicarakan oleh perempuan dengan sesama perempuan lainnya, Kamu masalah engga kalau ternyata nanti suamimu meminta kamu untuk jadi ibu rumah tangga dan meninggalkan semua pekerjaanmu di kantor padahal udah capek-capek sekolah? Saya juga sering ditanya pertanyaan serupa dalam obrolan-obrolan ringan dengan sesama perempuan. Nyatanya, banyak perempuan masa kini yang memilih ibu rumah tangga sebagai cita-cita masa depannya dan sangat tidak masalah jika kelak harus meninggalkan pekerjaan meski mungkin saat ini masih bekerja di ranah publik di masa-masa sebelum menikahnya. Kalau kamu, bagaimana?

Sayangnya, cita-cita menjadi ibu rumah tangga adalah cita-cita yang tidak umum di masyarakat kita dan malah seringkali dianggap sebelah mata, “Aduh sayang banget, udah sekolah tinggi-tinggi ujungnya cuma jadi ibu rumah tangga?” Karena itu, rasa-rasanya profesi ibu rumah tangga jadi kalah keren dan kalah istimewa dibanding profesi lainnya. Padahal,

ibu bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Sedangkan, ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Maka, melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib profesional dalam menjalankan aktivitasnya. 

IIP membuka mata saya bahwa ternyata ibu rumah tangga adalah juga profesi profesional yang tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan. Kalau begitu, apa yang bisa dilakukan dalam fase pra-nikah untuk menuju profesi mulia sebagai ibu rumah tangga profesional kelak? Utamanya, kita harus selesai dengan manajemen rumah tangga kita. Bagaimana maksudnya?

Sebagai perempuan, baik yang tinggal di rumah bersama orangtua atau tinggal sendiri karena kost, kita mau tidak mau memang akrab dengan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, bukan? Baik itu mencuci, membereskan rumah, memasak, dan lain-lainnya. Tapi, seringnya kita salah dasar motivasi, sehingga pekerjaan-pekerjaan itu hanya berakhir menjadi shallow work, yaitu repeatable action atau kegiatan berulang yang minim esensi; hanya dikerjakan dan asal selesai. Huaaaa, waktu bahas materi ini, saya merasa ditampar-tampar, “Iya ya, perasaan kerjaan rumah tangga ini kok shallow work banget?” terutama waktu fasilitator bertanya, “Apakah pekerjaan rumah tangga masih asal dikerjakan untuk menggugurkan kewajiban saja atau sebaliknya? Apakah karena panggilan hati sehingga merasa ini bagian dari peranmu sebagai khalifah atau sebaliknya?” Belajar di IIP itu memang begitu, seringnya reflektif, kontemplatif.

“Kalau masih “asal kerja” maka yang terjadi adalah tingkat kejenuhan yang tinggi: pekerjaan rumah tangga dianggap sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan. Tapi, kalau bekerja karena “panggilan hati”, maka akan ada perasaan sangat bergairah dalam menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa mengeluh.” - Institut Ibu Profesional

Bagaimana caranya membangun profesionalisme dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga? 

Kerjakan dengan sama profesionalnya seperti pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas lainnya, hargai diri sebagai manager keluarga (berpakaianlah yang layak saat di rumah, jangan lusuh-lusuh), rencanakan segala aktivitas yang akan dikerjakan (misalnya dengan membuat to do list), buatlah skala priorits, dan yang terpenting adalah bangun komitmen dan konsistensi dalam menjalankannya.

Berkaitan dengan hal ini, seorang sahabat pernah bercerita kepada saya tentang nasehat yang diterimanya dari senior di asrama, katanya, “Jangan sampai kita jadi anak muda yang dikenal dimana-mana, tapi kamarnya berantakan, aktif dimana-mana tapi rak bukunya berceceran, kegiatan dan karyanya banyak, tapi di rumah malas-malasan.” Hmm, nasehat keren yang rasanya jarang kita dengar, ya! 

Jadi, sudah seprofesional apa kita mengerjakan tugas-tugas di rumah tangga? 

Selamat belajar mengakselerasi diri untuk tugas-tugas harian di rumah, ya! Sekarang memang akhir pekan, tapi, sebelum agenda berkarya, meeting, mengurusi orang lain, berkomunitas, atau apapun yang akan kamu kerjakan di luar rumah, usahakan pekerjaan rumah tanggamu beres dulu, ya. Ayo berubah, atau kita akan kalah :”)

Referensi: Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional

_____

Tulisan ini adalah resume materi perkuliahan di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional yang saya ikuti pada bulan Mei - Juli 2017. Semua informasi di dalamnya saya dapatkan dari kelas tersebut dan saya hanya menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri agar lebih mudah dipahami oleh pembaca.

_____

Untuk membaca tulisan saya yang lain tentang Institut Ibu Profesional, silahkan klik disini. Untuk membaca tulisan lain terkait pranikah dan parenting, silahkan klik disini. Semoga Allah memampukan kita semua untuk memahaminya dengan benar dan menyampaikan kita pada kesempatan untuk mengaplikasikannya. Baarakallahu fiikum!

Salah Saya

Ah, saya yang salah. Seharusnya hubungan kami baik-baik saja tanpa di bumbui oleh perasaan cinta.

Saya yang salah. Seharunya saya bisa bersikap dewasa, bisa menjadi pengayom, bukan penghancur hari-harinya.

Saya yang bersalah. Terlalu cepat mentafsirkan itu cinta. Padahal semesta baru saja mempertemukan kami. Tak mungkin bahwa itu dikatakan cinta.

Saya bersalah. Sangat bersalah. Bodoh, terlalu mudah untuk jatuh cinta. Bahkan semesta mungkin juga ikut mengutuk saya karena kebodohan ini.

Saya yang sangat bersalah. Terlalu malu untuk mengakui kesalahan, terlalu angkuh dengan alasan-alasan klise yang ada di dalam otak saya.

Yogyakarta, 15 September 2017