klising

Snapchat ilk açıldığında herkes çirkindi resmen instagramdan sonra ortaçağ klise baskısından kurtulamamış bir karanlık dönem bir skolastik felsefe yaşadık sonra bi anda efektler filan geldi bir aydınlanma bir güzelleşme bir reform filan ahahhaa

Berdialog dengan Tuhan.

“ Allah, hari ni aku penat sangat.”

“ Allah, aku ada banyak kerja hari ni”

“ Allah, hati aku sakit sangat”

Bunyi macam klise?

Pejam mata rapat- rapat,
dan mula meluahkan pada Tuhan.

Kau akan rasa,
ketenangan yang teramat.
Tak mampu digantikan dengan apa pun.

Bulu roma berdiri,
saat nama Tuhan aku sebut.

Apa lagi yang hati inginkan kalau bukan ketenangan kurniaan Tuhan?


Pada dikau yang hati bersepai,
untuk engkau yang hati bersarat luka,

Cubalah.

*senyum*

2

This week’s diverse new releases:

The Art of Secrets by James Klise (Algonquin Young Readers)

“In his intriguing second book, Klise (Love Drugged) tells the story of a Pakistani family rebuilding their lives after their apartment is destroyed in a fire set by an arsonist. … Through emails, texts, journal entries, interview transcripts, newspaper clips, and official documents that pull in the perspectives of students, teachers, and others, Klise simultaneously reveals details about what might have transpired while allowing characters’ darker motives—prejudice, envy, greed—to emerge.” — Publishers Weekly

She Is Not Invisible by Marcus Sedgwick (Roaring Brook Press)

“A thriller that challenges readers’ understanding of the universe. Laureth’s best-selling novelist father, Jack Peak, left for Switzerland to research his latest book, so why did his notebook turn up in New York City? … Laureth books a flight to New York. She also takes her younger brother, Benjamin, not just because she’s in charge of him, but because she needs him: Laureth is blind. … In short, taut chapters, her first-person narration allows readers to experience the intrigue through her abilities and shows her tender relationship with Benjamin.” — Kirkus, starred review

Ada yang janggal dari binar matamu, ada yang kutahan dari sesaknya di dadaku.
Sampai kapan kamu mau.?sampai kapan aku mampu.?
—  Jika jawabanny adalah waktu, sini biar kukatakan padamu. Itu hanyalah jawaban klise dari seorang pemberi harapan palsu.
Senyummu, Minuman Hangat, dan Sepak Bola.”

“Hei! Hei! Heeeeeiiiii!!!” 

Tanpa ada perlawanan sedikitpun daun telingaku ditarik untuk mendekat ke arah bibirnya. Sambil masih dengan rona wajah manis yang aku berani bertaruh tak ada pria yang tidak jatuh cinta jika ia sedang manja seperti ini, ia terus menggangguku yang masih saja serius mendongak kepada acara yang sedang di putar di televisi warung ini.

Minuman panas yang sengaja ku pesan di warung yang memang khusus buka pada malam hari ini terus saja diaduknya tanpa diminumnya sama sekali. Aku sengaja membeli satu buah minuman saja, porsinya cukup banyak untuk dihabiskan sendiri. Dan sudah tentu wanita di sampingku ini enggan meminumnya banyak-banyak karena alasan mainstream yang klise, “Takut pipiku makin tembem.”  ujarnya.

Padahal ia tidak tahu, pipinya itu adalah rumah berpulang yang padanya aku tak ingin berpaling. Selain bibir, pipinya adalah alasan kenapa setiap pagi pukul setengah 6 kurang aku selalu mengecupnya lama-lama tanpa ia sadari.

Malam ini ia menginap lagi di rumahku karena beberapa alasan yang sebenarnya aku buat sendiri agar ia mau tinggal di sini lebih lama. Dengan bermodalkan sepeda motor butut yang tak kalah tua ketimbang kucing garong di depan rumah, aku memacu kendaraan ini pelan-pelan menembus angin malam tepat pukul setengah sembilan. 

Cuaca kering disertai angin dingin kota Bandung membuat aku tak ingin memacu motorku lama-lama. Biar ia mendekap erat, menangkupkan bibirnya di pundakku sambil berusaha berbicara menceritakan banyak hal yang aku sendiri sering lupa saking bawelnya dia jika sedang manja.

Aku mampir di warung ini. Tempatnya sederhana, sesederhana dia tersenyum dan aku luluh lantah dibuatnya. Ku pesan satu minuman panas lalu bercengkrama sebentar tentang rencana masa depan kita yang ternyata diam-diam ditertawakan malaikat. Ia terus saja mengoceh, mengatakan betapa dinginnya malam ini hanya agar aku duduk mendekat dan merangkul pinggangnya.

“Sodaraan, mas?” Tanya pedagang minuman dengan dalil basa-basi sambil mengantarkan pesanan yang kupesan barusan.

Kita berdua tertawa. Mungkin ini sudah ke-seratus-kalinya kita menghadapi pertanyaan seperti ini. Orang-orang bilang, muka mirip itu pertanda jodoh, namun keadaan bilang, kita berdua adalah orang bodoh yang percaya tentang jodoh. 

Malam itu aku lupa kalau ternyata club bola kesayangan orang-orang Bandung– termasuk juga aku– sedang bertanding. Sontak sebagai seorang Viking sejati yang masa sekolah menengah pertamanya dihabiskan tawuran dan menaiki lampu stadion Siliwangi demi dapat melihat club kesayangannya bertanding ini, aku tidak ingin ketinggalan pertandingan Persib sama sekali. Naluri laki-lakiku pun keluar. 

Kepalaku mendongak ke atas, menonton dengan serius ke arah setiap gerak-gerik kaki pemain-pemain Persib. Sedangkan di sampingku, kepalanya sedang serius menatapku dengan cemberut. Meminta diperhatikan, meminta diajak bicara, meminta didengarkan.

Aku hanya sesekali memperhatikannya, mengambil sendok dan menyuapinya lalu kembali serius menonton sepak bola. Walaupun sebenarnya aku menatap televisi, diam-diam hatiku sedang menatapnya. Hanya saja ia tidak tahu. Ketika tangannya memainkan jari-jemariku, ia tidak tahu kalau aku tahu. Ketika tanganku ditaruh ke pipinya karena kedinginan, ia tidak tahu kalau aku tahu. Ketika kepalanya bersandar sambil berbicara mencibir sikapku yang mengacuhkannya, ia tidak tahu kalau aku mendengar. Ketika ia merasa malam ini tidak spesial, ia tidak tahu kalau aku mengenangnya hingga sekarang. 

Tak terasa permainan sepakbola telah sampai pada bagian istirahat babak pertama. Karena tidak ingin melewati kelanjutannya, aku cepat-cepat menghabiskan minuman di depanku dan mengajaknya pulang. 

“Aku masih mau di sini! Bosan di rumah!” Rengeknya.

Walaupun aku ingin sekali menonton sepak bola, hatiku tetap tak ingin ketinggalan menonton cemberut manja di wajahnya malam itu. Aku usap kepalanya lembut, membuat rambut hitam yang tergerai sebahu itu bergelombang dan tidak teratur. Poninya jadi berantakan. Aku melihat ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada yang melihat sebelum pada akhirnya aku kecup keningnya lembut sekali.

Wangi tubuhnya masih kuingat sampai sekarang, wangi shampoonya masih menjadi wangi favoriteku hingga saat ini. Senyum manisnya malam itu masih menjadi senyum yang paling menyakitkan hingga detik ini. 

“Kita pulang dulu yuk. Kita lanjut nontonnya di rumah. Setelah pertandingannya selesai, kamu mau apapun aku turuti.”

Kataku yang kemudian disetujuinya sambil masih terlihat cemberut lantaran aku cukup lama tidak memperhatikannya malam itu. Padahal sore harinya aku sempat berjanji akan mengajaknya ke tempat tadi untuk memanjakannya, akan menceritakan segala hal tentang indahnya hari ini, akan memberitahu alasan-alasan apa yang membuatku terus mempertahankannya. Dan yang pasti, aku ingin menunjukkan tempat favoriteku duduk jika malam sudah menjelang.

.

==========================================================

.

“Hei! Hei! Heeeeeiiiii!!!”

Tanpa ada perlawanan sedikitpun daun telingaku ditarik untuk mendekat ke arah bibirnya. Aku yang saat itu sedang melamun mendadak terkejut ketika ada suara manja mendarat di telingaku keras sekali.

Aku menengok ke samping, dan kulihat senyum paling hangat yang pernah aku rasa. Seakan senyumnya malam itu mengubah dinginnya malam menjadi sehangat minuman panas yang baru saja aku pesan.

Sudah selang satu tahun semenjak kejadian itu berlalu, dan sudah selang 11 bulan semenjak kau pergi meninggalkanku. Aku tak menyangka, sosok wanita yang dulu sangat aku cintai itu pada akhirnya pergi meninggalkanku tepat satu bulan setelah aku membawanya pergi ke tempat ini. 

Selama 11 bulan, kejadian itu selalu terngiang-ngiang di kepalaku, tentang betapa bodohnya aku, tentang betapa sialnya hidupku. Andai saja aku tahu kau akan pergi secepat ini, aku bersumpah berani menukarkan seluruh pertandingan Persib selama satu tahun penuh hanya untuk bisa hidup bersamamu satu hari lagi. Jika aku tahu kau akan pergi secepat ini, aku mungkin tidak akan memperhatikan pertandingan sepak bola malam itu.

Aku akan memanjakanmu, menjadikan kau yang utama, menggenggam jari jemarimu erat ketika jarimu memainkan jariku, mengelus pipimu mesra ketika kau merasa kedinginan. Dan tak melepaskan barang sedetikpun ciuman di kening yang kulakukan dengan cepat setahun yang lalu itu.

Jika tahu kau akan pergi secepat ini, aku akan menghabiskan malam itu lebih lama bersamamu. Hanya saja sayang, aku baru merasa menyesal ketika keadaan mengajarkanku arti indahnya kehadiran ketika kehilangan datang dan menggantikan.

“Heh! Ngelamun aja!” 

Tiba-tiba kembali aku dikagetkan dengan suara lembut seseorang di sampingku.

Aku gelagapan dan langsung melihat ke arahnya. Ia tersenyum manis kepadaku. Menatapku seakan aku adalah cinta yang paling utama di matanya. Sama seperti tatapanku kepada wanita yang ada di sampingku setahun yang lalu. 

Hari ini, tepat satu tahun yang lalu, di tempat aku duduk sekarang ini ada aku dan seseorang wanita yang sempat aku cinta setengah mati. Dan hari ini, di tempat ini, di waktu yang sama, di keadaan yang sama, ada aku dan seseorang yang baru yang sekarang tengah aku cintai setulus hati.

Tangannya menunjuk ke arah televisi di atas kepalaku.

“Tuh Persib lagi main. Kamu gak nonton? Nonton gih nanti ketinggalan lagi.” Ucapnya penuh pengertian.

Aku menengok ke arah televisi sebentar, terdiam, lalu menengok kembali ke arahnya. 

“Aku nggak mau nonton Persib. Aku lagi mau nonton kamu.” Ucapku. 

Dia hanya menatapku penuh curiga. Dan aku tertawa. Mungkin aku setahun yang lalu akan memilih untuk menonton pertandingan sepak bola. Tapi aku yang sekarang lebih memilih memperhatikan seseorang yang tengah duduk di sampingku saat ini. Sebelum kehilangan kelak mengajarkanku sekali lagi arti dari sakitnya penyesalan. 

Sebisa mungkin, aku akan menghabiskan seluruh waktuku bersamanya. Aku akan memanjakannya, mendengarkan keluh kesahnya, mendengarkan seluruh cerita-ceritanya yang padahal sudah sering ia ceritakan. Menceritakan rencana-rencana masa depanku dengannya, menceritakan tentang indahnya hari ini, dan memberi tahu alasan-alasan yang membuatku terus mempertahankannya hingga ia bosan.

Aku tak peduli. Aku tak peduli jika malaikat tertawa. Aku tak peduli jika kelak aku dipisahkan. Yang jelas, satu-satunya yang aku pedulikan saat ini adalah menghabiskan waktu bersamanya selama aku masih bisa.

“Aku mencintaimu, lebih dari setahun penuh pertandingan sepak bola.” Kataku serius yang kemudian kau tertawai sambil menyuapiku dengan minuman hangat.

-Kepada yang tak lagi ada. 
Mbeeer 5/1/16

Teruntuk lelaki, yang sedang ada di dalam hidupku.
Maaf, jika nanti kesibukan baruku akan membuatmu merasa terabaikan. Tapi itu bukan mauku. Itu adalah bukti keseriusanku sebagai wanita untukmu, lelakiku.

Tetapi, satu yang perlu kamu tahu. Kita bukanlah remaja kemarin sore yang hanya bisa mengumbar ungkapan kata cinta dan bermain kemana kita suka. Tetapi lebih dari itu, kita sudah memasuki fase yang lebih serius dari itu semua.

Aku tak ingin di tinggalkan nantinya, sebab alasan-alasan klise yang tak masuk akal. Terlebih dari itu, aku mempunyai ambisi untuk meyakinkan ibumu, bahwa aku adalah wanita yang mampu untuk di andalkan dan sanggup untuk mendampingimu kelak.
Itu sebabnya, aku ingin fokus terhadap diriku sendiri dahulu. Bukan bermaksud untuk pergi atau meninggalkanmu, aku melakukan ini demi impian kita.

Jika kamu paham, waktu yang nantinya kuberikan kepadamu dengan terbatas bukan karena aku ingin menjauh darimu. Tetapi semata-mata aku melakukan itu demi masa depan kita. Aku ingin menjadi wanita yang bisa di andalkan. Aku hanya sedang mempersiapkan diri untuk meyakinkan ibumu, sebagai wanita yang pantas mendampingimu kelak.

Selama kita ngga mengambil pelajaran dari apa yang Allah hadapkan kepada kita, kita akan berkutat di situ-situ aja, ngga bisa masuk ke fase selanjutnya. Dan bagaimana bisa kita melihat pelajaran dengan mata hati yang kotor? Kalau kita bingung, galau, itu indikator bahwa sudah waktunya kita membersihkan diri. Setelah itu, Insya Allah kita bisa melihat persoalan dengan cara yang berbeda: lebih dalam, lebih luas, lebih jauh. Dan ingat, semua itu dengan kehendak Allah. Nah, buat situ yang suka lupa menyertakan Allah, ngga usah protes sama Allah soal hidup situ yang membingungkan. Situ sendiri yang berlepas diri dari yang punya petunjuk, yang sebenarnya Dia mau aja ngasih situ petunjuk kalau situ ngga sombong. Apalagi bagi yang menganggap menyertakan Allah adalah sesuatu yang normatif dan klise, yaudah ngga usah sok-sokan berdoa yang alakadarnya itu untuk memohon petunjuk. Karena toh itu berarti sejak awal situ memang ngga percaya bahwa Allah bisa membimbing situ kan? Kalau memang perlu petunjuk dan percaya Allah-lah satu-satunya tempat untuk mengharapkan petunjuk, situ pasti akan bela-belain jadi manusia yang kira-kira Allah mau kasih petunjuk dengan penuh kasih sayang.