klising

Snapchat ilk açıldığında herkes çirkindi resmen instagramdan sonra ortaçağ klise baskısından kurtulamamış bir karanlık dönem bir skolastik felsefe yaşadık sonra bi anda efektler filan geldi bir aydınlanma bir güzelleşme bir reform filan ahahhaa

Basah dan kembali lagi basah.
Air Tuhan yang kembali menari-nari di atas permukaan tanah.

Jejak-jejak perindu yang abadi hanya menjadi sisa-sisa kenangan yang membasahi daun-daun kecoklatan.

Suara-suara merdu badai menjadi klise bagi mereka yang merasa kuat mencintai sendirian.
Setiap derasnya tak juga mengobati yang sudah telah lama hilang dan seharusnya juga sudah dilupakan.

Dingin.. Dingin..
Aku merasa sangat dingin dan cemburu.
Melihat akar dan ranting masih dalam satu pohon yang sama. Tak mengeluh akan cacian panas matahari dan selalu berusaha saling menguatkan bila hujan melanda.
Meski nantinya mereka tumbang bahkan patah begitu saja.

Lembab,
sisa-sisa ratapan di pelupuk mata, membekas sembab.
Satupersatu butir-butir hujan kupunguti, kusimpan tanpa sebab.

Ludah bercampur kata, kutelan tanpa sisa. Kata cinta tak perlu mendesak keluar, sebab yang dituju tak ingin dengar.

Maka kutulis saja dengan tajamnya sikapmu, di batang pohon yang tengah menunggu. Hingga kelak, lumut tumbuh menutupi kejujuranku.

Dan setelahnya, biarlah kata tetap menjadi kata, tak perlu menjadi tanya yang berharap jawaban. Tak perlu menjadi do'a yang menjelma harapan. Sampai akhirnya, pinta tak perlu menjadi paksa, yang memisah keduanya.


(Daunn Keringg & @a-hap, 2016)

Layaknya sinar mentari, hangatnya sikapmu kala itu begitu kurindui. Klise memang, tapi terbukti. Terlampau bingung aku mencari definisi apa yang menjelaskan maunya diri. Ya sudahlah, begitu saja, sepertinya hatiku telah kau curi.
Ending 2016: A Review and Contemplation

Agaknya sudah terdengar klise: menyambut tahun baru, dengan mimpi baru. But eventually, saya sendiri merasakan, dengan melakukan evaluasi pribadi akhir tahun dan mempersiapkan mimpi di tahun depannya, membuat saya merasa…hmm, mungkin kata yang paling tepat adalah: terkalibrasi.

Mengakhiri tahun dan mengawali tahun yang baru buat saya adalah kembali ke titik nol, the starting zero. Titik dimana kita tidak merasa tertinggal atau terlampau percaya diri. Titik dimana kita tidak punya alasan untuk menyerah. Titik dimana kita percaya bahwa mimpi yang kita ingin capai tidak terlalu jauh dan bukan hal yang mustahil untuk digapai. Titik dimana kegagalan-kegagalan di masa lalu, secara resmi kita kubur dan kita tandai dengan mark: 2016.

So, walaupun saya sedari kecil tidak dibiasakan orangtua untuk merayakan tahun baru, I realizeIt’s a good thing to do, though

A life-changing journey

Sungguh, saat menuliskan bagian ini, saya harus sampai membuka akun instagram saya mundur dari 2016 berawal, saking banyaknya hal-hal yang life-changing terjadi di tahun 2016. Satu per satu saya kenang, rupanya saya sampai harus berkali-kali menghela nafas panjang. Saya menyadari betapa banyak aspek dalam hidup saya berubah hanya dalam waktu 1 tahun. Dan moreover, betapa banyak mimpi-mimpi yang saya resolusikan di tahun 2015, rupanya semua tercapai. Alhamdulillah. 

Di tahun 2016, saya beberapa kali berganti peran di Rumah Perubahan. Dari Business Development Staff, menjadi Marketing Communication, kemudian menjadi Production. Dari pertama kali menjadi Course Leader di level paling junior, hingga akhirnya menjadi Course Leader terbaik sepanjang tahun. I did.

Di tahun 2016 juga, saya akhirnya meminang seseorang yang selama ini hanya saya simpan di dalam hati. Seseorang yang selama bertahun-tahun ke belakang hanya bisa saya intip dari jauh dan hanya bisa saya temui di dalam mimpi.

Di tahun 2016, saya juga mengajukan resignation dari Rumah Perubahan, sebuah keputusan nekat yang saya ambil waktu itu karena hasrat untuk doing something meaningful sudah tak tertahankan.

Di tahun 2016, saya akhirnya bisa mengangkat trofi kemenangan dari kompetisi bergengsi di bidang IT, terlebih di bidang startup (Socio Digi Leader & The NextDev 2016), persis di depan media, dan orangtua saya. Sebuah mimpi yang saya tuliskan di 100 mimpi saya semenjak semester pertama kuliah, yang dulu saya hanya bisa iri melihat kawan-kawan yang lain menang kompetisi sana-sini. Pada akhirnya, hari ini tercapai juga. More importantly, Vestifarm lahir. 

Di tahun 2016, saya secara official akhirnya mengakhiri masa quarter-life crisis yang saya alami sepanjang tahun 2015 hingga pertengahan tahun ini. Malam-malam yang saya habiskan sendirian di kantor untuk mencari solusi baru, hari ini telah lahir sebagai long-term project di dalam hidup saya: Vestifarm.

Di tahun 2016 ini, Allah pun menggapaikan saya mimpi untuk kembali ke luar negeri setiap satu tahun sekali. Tahun 2015 ke Norway-Belanda-Prancis, Tahun 2016 ke Hongkong. 

Di tahun 2016, saya memperjuangkan mimpi seseorang menjadi kenyataan. Membuat hidupnya menjadi lebih hidup. Dengan segala dinamika dalam pengambilan keputusannya.

Di tahun 2016, saya banyak bertemu orang-orang hebat. Anak-anak muda di Socio-Digi Leader, Next Dev 2016, Kibar, Telkom, Telkomsel yang membuat saya merasa berada di tempat yang tepat. 

Di tahun 2016, saya officialy resigned dari Rumah Perubahan, dan instead diberikan kesempatan untuk membangun startup sendiri dengan berbagai bantuan dan kemudahan.

A 2016: Year of decisions

Sungguh, kalau mengingat-ingat bagaimana semua hal itu bisa terjadi, setiap prosesnya memang sampai harus mengorbankan banyak hal. Namun satu kata yang menentukan dan bisa mewakili semuanya adalah: Decisions.

Hidup penuh dengan pilihan: Terus bertahan, atau maju ke depan. Tetap begini, atau berubah menjadi lebih baik. Cari aman, atau ambil risiko.

Keputusanlah yang pada akhirnya akan menentukan dimana kita akan berakhir. Berani dalam mengambil keputusanlah yang akan membawa perubahan sebenarnya dalam hidup kita, sekalipun penuh dengan tantangan dan risiko. Tak terbayangkan, apabila kita lambat dan sering menunda keputusan dalam hidup, padahal hidup itu sendiri terus bergerak no matter what. Sekalinya kita lamban dalam memutuskan, kita tak akan pergi kemana-mana.

Year 2017: Game ON!

Besok, tahun sudah berganti. Tahun 2017 akan jadi arena yang lebih menantang. Dengan aturan main berbeda, pemain yang berbeda, tujuan yang berbeda. Maybe I would later call it “The Year of Responsibility”. Still, Allah Yang Maha Baik, pasti punya rencana-Nya yang terbaik. I promise, I will do my best. Menyertai dengan do’a, semoga kita termasuk orang-orang yang tidak melampaui batas.

GAME ON!

00.00
1 Januari 2017
Kranggan, Bekasi
Dharma Anjarrahman

Setiap orang pernah alay di masanya
— 

Bukan quoteku tapi lupa punya siapa


Alay: ternyata aku dulu pernah seperti itu juga. Hahahaha….

Mari menertawakan masalalu yang terlalu klise dan dipenuhi harapan tinggi. Padahal kenyataan selalu menyuguhkan pedang yang siap menikam.

Random idea:

A blog for storytelling, but it’s sort of like those Regarding the ____ books where it’s a collection of newspapers, letters, transcripts, etc. etc. that tell the story  and the story unfolds that way.

Would anyone be interested in following a blog like that?

İsrail Parlamentosundaki (Knesset) yasama komisyonunun, Knesset'te oylamaya sunmak üzere ezanın hoparlörlerden okunmasının yasaklanmasına ilişkin yasa tasarısını onayladığı bildirildi.

Avrupa Adalet Divanı; iş verenlerin, çalışanların “gözle görülebilir dini sembol niteliğindeki kıyafetleri” giymelerine yasak getirebileceğine hükmetti.

İki yasağa da Ülkemiz sokaklara döküldü. Tebrikler. Hele İsrail yasaklarından sonra İsrail ile boykot çağrıları gözlerimi doldurdu. İsrail ile anlaşmalar askıya alındı. İslam Liderimiz hemen olaya müdehale etti ve her miting konuşmasında bu konuyu anlatmaya devam ediyor. 

Halk olarak da sürekli bu tepkinin arkasında duruyoruz. Mavi Marmara olayında olduğu gibi ezan da bizim namusumuzdur. 

Tepkileri görmek isterdim ama maalesef hiç tepki göstermedik.  

“ Bu ezanlar ki dinimizin temeli “ dizeleri sadece duvarı asılı bir kağıt parçası olarak kaldı. Öyle cılız geçti ki medya da sanırsın klise çanı çalınması yasaklandı ( ki ona dahi tepki göstermeliyiz ki insanlar dinini dilediği gibi yaşayabilimeli özgürce ) 

Ama ezan yasaklanmadı kiiiii , hoparlörden yasaklanmış gibi polyanacılık oynamanın da lüzumu yok. 

Baya adamlar sesi kesti ! ( Gürültüymüş ) 

Teruntuk lelaki, yang sedang ada di dalam hidupku.
Maaf, jika nanti kesibukan baruku akan membuatmu merasa terabaikan. Tapi itu bukan mauku. Itu adalah bukti keseriusanku sebagai wanita untukmu, lelakiku.

Tetapi, satu yang perlu kamu tahu. Kita bukanlah remaja kemarin sore yang hanya bisa mengumbar ungkapan kata cinta dan bermain kemana kita suka. Tetapi lebih dari itu, kita sudah memasuki fase yang lebih serius dari itu semua.

Aku tak ingin di tinggalkan nantinya, sebab alasan-alasan klise yang tak masuk akal. Terlebih dari itu, aku mempunyai ambisi untuk meyakinkan ibumu, bahwa aku adalah wanita yang mampu untuk di andalkan dan sanggup untuk mendampingimu kelak.
Itu sebabnya, aku ingin fokus terhadap diriku sendiri dahulu. Bukan bermaksud untuk pergi atau meninggalkanmu, aku melakukan ini demi impian kita.

Jika kamu paham, waktu yang nantinya kuberikan kepadamu dengan terbatas bukan karena aku ingin menjauh darimu. Tetapi semata-mata aku melakukan itu demi masa depan kita. Aku ingin menjadi wanita yang bisa di andalkan. Aku hanya sedang mempersiapkan diri untuk meyakinkan ibumu, sebagai wanita yang pantas mendampingimu kelak.

Butuh Lebih Dari Sekadar "Apa Kabar?"

Beberapa kali aku hendak menghubungimu
Sekadar bertanya “apa kabar?”
Sesuatu yang kurasa klise untuk kau dengar

Bertahun-tahun takkudengar kabarmu
Aku bahkan taktahu lagi
Kau ada di mana
Apakah kau sudah memaafkanku
Dan apakah kau sejenak saja pernah bertanya-tanya bagaimana kabarku

Aku tahu
Percakapan terakhir kita begitu asing dan canggung
Aku bersusah payah mencari cara agar kutemui kau yang dulu

Kau yang suka bicara semua hal, sampai aku tak mengerti mengapa jutaan tema bisa kau bicarakan setiap hari
Kau yang suka tertawa renyah pada hal-hal sederhana dan bahkan tak penting, yang kau temui di jalan
Kau yang selalu tak pernah bosan mengingatkanku untuk makan
Padahal, apa kau tak tahu bahwa aku ini tidak tahan kelaparan?
Kau yang begitu peduli. Padahal aku seringkali begitu menyebalkan

Aku tahu, butuh lebih dari sekadar “Hai” untuk kembali pada kita yang dulu
Aku tahu, butuh lebih dari sekadar “Apa kabar?” Untuk kita mampu sehangat dulu
Sayangnya, kurasa kita sama-sama tak mampu

Bukan. Ini bukan perihal ego dan gengsi kita yang barangkali membesar seiring waktu
Ini perihal: ada hati yang lain yang harus kita jaga sejak awal.

Medan, 4 April 2016

- Tia Setiawati

Akar

               Pagi, kopi, dan elegi. Pagi ini hujan tidak akan turun, tidak tercium bau gurih tanah tanda ia akan turun, padahal kemarin ia begitu angkuh merendahkan tanah. Tapi hari ini, kopi akan tetap menjadi kawan pengekang sepi, satu-satunya aroma yang tercium di seantero lantai enam ruang perpustakaan kampus yang bahkan sudah terlihat lebih renta dari setiap bunyi dahan pohon beringin yang bergerak di depan sana. Namun balkoni perpustakaan ini masih menjadi tempat favorit untuk mengundang beberapa ide untuk datang di pagi hari. Sepertinya, tertidur di meja perpustakaan menjadi hobi baruku semenjak sembilan hari terakhir. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di tempat ini, hanya satu-dua orang yang sibuk dengan beberapa contoh tesis mahasiswa terdahulu dan beberapa lainnya hanya duduk di lantai peninggalan menir Belanda sambil kadang-kadang membenarkan posisi kacamata. Tidak ada tawa renyah yang terdengar. Semua sedang sibuk dengan dunianya. Ah, pemandangan klise mahasiswa tingkat akhir. Di malam hari mereka meniduri revisi, sedang di pagi hari mereka bermandikan elegi.

               “Kau pernah mendengar cerita tentang seseorang yang bernama Pohon?” tepat ditegukan kopiku yang terakhir, seseorang berani memecah keheningan pagi. Suaranya lembut, rasanya seperti menggigit kue manju saat baru matang.

               “Apa dia juga berbuah?” terdengar suara berat yang membuat telinga terasa ngilu seperti mendengar teriakan engsel tua pintu perpustakaan.

               Aku berbalik dan menemukan pemilik suara-suara itu. Perempuan berlesung pipi di kiri dengan rambut seperti ekor kuda ditambah kaca mata bulat besar yang membuatnya terlihat pantas dijadikan pusat perhatian semua lelaki, ia adalah pemilik suara selembut kue manju. Sedang disampingnya duduk lelaki berambut setengah tahun tidak dikeramas dengan sebatang rokok yang tak ia bakar di mulutnya, ia adalah pemilik suara seperti  engsel tua pintu perpustakaan.

               “Ah, kau memang tak pernah serius. Aku selalu membaca setiap tulisannya di mading, meskipun tidak ada satupun tulisannya yang aku pahami.”

               “Hah. Lalu kenapa kau masih membacanya?”

               “Entahlah, tapi aku tidak bisa berhenti membaca tulisannya sampai benar-benar habis.”

               “Alien.”

               “Dasar lelaki tidak berperasaan. Emut aja rokokmu sampai habis. Makan tuh rokok.”

               “Tuhan, dunia ini semakin menakutkan. Ada orang yang menamai dirinya Pohon, ada pula orang yang begitu suka membaca tulisannya meski ia tidak pernah mengerti artinya.”

               “Itu namanya harmoni.”

               “Bukan harmoni, tapi hambar.”

               “Bodo.”

               Perempuan manis itu membuang rokok dari mulut lelaki disampingnya. Dan lelaki itu hanya bisa diam sambil mengecap sisa manis nikotin seraya menatap iba sebatang rokok yang begitu dicintainya terjatuh dari lantai enam perpustakaan. Mati! Rokok itu pasti mati karena terjatuh dari tempat yang teramat tinggi. Aku menyaksikan bagaimana rokok itu tak lagi bisa bergerak saat menghantam lantai keras, lalu menoleh prihatin pada lelaki malang disampingku yang baru saja menyaksikan salah satu sahabat terbaiknya mati.

               “RIISSAAAAAA..”

               Ternyata, perempuan itu sudah lebih dulu berlari sesaat setelah membunuh sebatang rokok tapi lelaki ini langsung memburunya. Rissa, namanya Rissa. Pagi ini kalian telah menarik perhatianku. Ini adalah pelangi pertama di pagi hari sejak sembilan pagi yang sudah kulalui di tempat ini. Aku telah menemukan apa yang hilang dari tempat ini. Dan aku pun tersenyum pada ampas kopi dalam gelas yang masih aku pegang erat. Sebelum beranjak pergi, aku melihat lelaki itu telah berhasil meraihnya. Meskipun ia terlihat sangat kesal, tapi mereka berdua sama-sama tertawa seperti anak kecil yang baru saja diberi balon.

Ada rindu yang harus dibelenggu.

Dalam harap yang masih terlelap.

Lihat, aku masih bersandar walau kau suruh menghindar.

Dalam sajak aku bijak.

Dan belajar pada kehilangan tentang semua yang kutemukan.

Hingga di ujung jalan kau berbisik pelan;

Akan ada lenyap dan senyap yang memberimu sayap.

                                                                                               Pohon IV

               Lelaki yang belum kuketahui namanya ini masih mengatur nafas saat mendatangi mading tempat tulisan yang baru saja selesai ku baca. Tidak terlihat Rissa bersamanya, entah kemana perempuan berambut ekor kuda tadi. Saat aku penasaran mencari sosok Rissa, lelaki ini dengan wajah sedikit pucat dan nafas yang memburu menunjuk ke arahku.

               “K-kamu..” Dan sambil tersenyum aku menempelkan jari telunjuk tangan kananku di bibir.

               Sebelum lelaki ini meneruskan kalimatnya, terdengar suara keras namun lembut milik Rissa yang membuatnya menoleh, “RUDIIII, disini rupanya, aku mencarimu kemana-mana. Hei wajahmu kenapa?”

               “Hei Ris, cepat kesini, sepertinya aku menemukan orang yang kau cari. Dia disa..”

               “Maksudmu orang bernama pohon? Dia dimana?”

               “Baru saja ada seseorang disini membaca tulisan yang kau maksud.”

               “Darimana kau tahu kalau ia adalah Pohon? Lagipula, tidak ada orang disana.”

               “Eng-anu. Karena.. ah, aku hanya menebak. Mungkin aku salah lihat. Sudahlah, kita ke kantin saja.”

               “Alien.”

               Setelah suara mereka menjauh, aku keluar dari ruang sempit belakang mading yang aku gunakan sebagai tempat bersembunyi. Untunglah mereka tidak menemukanku. Tapi aku telah menemukanmu dan semua pesanmu. Setelah membaca tulisan ini sekali lagi, aku mengambil handphone di saku celanaku dan mengirim pesan singkat pada nomor yang sudah aku hafal sedari sembilan hari yang lalu.

Aku menemukanmu. Tunggulah sampai aku membuatmu berbunga, Pohon IV.

Salam, Akar.

Satu, dua, tiga, dan Ssepuluh detik kemudian. Delivered to Rudi Satria.


PR Fun Writingnya mbak @prawitamutia

Resensi Pilihan: Hujan — Tere Liye

Ditulis oleh Rizki Saputri di https://www.goodreads.com/review/show/1547866360 untuk program #ResensiPilihan di Twitter @Gramedia

“Apa yang hendak kamu lupakan, Lail?”
“Aku ingin melupakan hujan.”

—(hal 9).

Jika sekadar membaca sinopsisnya yang hanya sepuluh kata, kita mungkin akan mengira bahwa novel Hujan karya Tere Liye ini adalah karya fiksi dengan latar kehidupan sehari-hari. Saya pun awalnya mengira bahwa novel ini akan klise-klise saja dengan mengangkat kisah yang sudah jamak diceritakan: persahabatan dua orang lelaki-perempuan yang merumit akibat keterlibatan perasaan-perasaan. Saya juga secara spontan mengasosiasikan Hujan dengan novel pendahulunya, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

Tetapi tidak. Novel Hujan secara mengejutkan mengambil latar dunia di tahun 2050-an, dengan segala kemajuan teknologi dan gentingnya isu-isu mengenai lingkungan.

Cerita dimulai dari pertemuan Lail dan Elijah di sebuah ruangan terapi—ruang operasi saraf otak, lebih tepatnya—yang dideskripsikan memiliki atmosfer nan futuristik. Lail, dengan sesak dan tangis yang tertahan, menemui Elijah sang fasiltator terapi untuk satu tujuan: ingin menghapus ingatannya tentang hujan.

Mengapa?

Karena hujan selalu turun di masa-masa tergelap Lail dalam beberapa tahun terakhir—sampai ia sendiri tidak tahan. Padahal sebelumnya, hujan jamak turun pada saat-saat tercerahnya.

Bagaimana bisa?

Dan kita dibawa mundur kepada kejadian delapan tahun silam, tepatnya ke tanggal 21 Mei 2042, saat bayi kesepuluh miliar baru lahir ke dunia. Saat itu, ketika dunia dihadapkan pada isu pertambahan penduduk yang semakin mengeksponensial dan seakan tak bisa dibendung, ketika dunia sedang mencari jalan keluar atas luar biasa banyaknya orang-orang di bumi dan krisis yang menyertainya, tiba-tiba alam menyediakan solusi tersendiri.

Siklus itu datang, sebuah gunung purba meletus dahsyat dengan suara letusan terdengar hingga 10.000 kilometer. Menyemburkan material vulkanik setinggi 80 kilometer dan menghancurkan apa saja dalam radius ribuan kilometer.

Letusan yang lebih hebat dibandingkan letusan Gunung Tambora dan Gunung Toba puluhan ribu tahun silam itu secara efektif dan signifikan berhasil mengurangi jumlah penduduk dunia hanya dalam hitungan menit.

Lail yang saat itu berusia tiga belas tahun, dalam hari yang tak terlupakan oleh dunia, mendadak sebatang kara dan kehilangan orang tuanya. Tetapi, takdir membawanya kepada Esok, bocah lelaki berusia lima belas tahun yang menyelamatkannya dari reruntuhan tangga kereta api bawah tanah. Bocah laki-laki spesial yang kelak akan menjadi sangat penting dalam hidupnya.

Waktu berjalan cepat. Di bawah stratosfer yang rusak, di antara semrawutnya KTT Perubahan Iklim Dunia, Lail tumbuh dewasa sambil menerka-nerka kemana ujung kisahnya bermuara.

Sejak saat itulah, memori Lail tentang hujan, tentang kebahagiaan, tentang perpisahan, dan juga segala unsur tentang kesedihan, berkelindan menjadi benang kusut yang membingungkan dan membuat sesak. Sampai-sampai, Lail dengan nekatnya datang ke Pusat Terapi Saraf. Berharap paramedis dapat menghapus ingatannya tentang hujan—tentang Esok.

Ya, terutama ingatannya tentang Esok.

***

Novel setebal 320 halaman ini cukup ringan dengan alur bercerita yang sangat mengalir sehingga dapat diselesaikan dalam beberapa jam saja. Penceritaan interaksi Lail dan Esok, serta beberapa tokoh sentral lain seperti Maryam sang sahabat, Ibu Suri pengurus panti sosial, maupun Bapak dan Ibu Walikota, terasa sangat alami sehingga saya betah untuk terus mengikuti. Beberapa adegan yang terasa sinematik memang mengingatkan saya kepada beberapa judul film Hollywood yang mengambil tema akhir dunia. Tetapi toh saya tetap menikmatinya.

Kisah romansa Esok-Lail yang sangat bersimpulan dengan isu-isu penting dunia berhasil dibawakan dengan apik, terkupas satu per satu dengan ritme yang tepat. Membuat saya ikut berdegup, untuk kemudian lega, untuk kemudian kembali menjadi semakin khawatir. Khawatir jika kondisi bumi dalam cerita tersebut menjadi lebih buruk lagi. Khawatir jika Esok dan Lail akan seperti arti namanya: pagi dan malam. Tak pernah bersama.

Membaca novel ini di penghujung pekan yang memasuki musim penghujan adalah hal yang menyenangkan. Jika pun ada yang harus dikritik, kritik saya hanyalah karena Hujan kurang mengelaborasi karakter Esok lebih dalam.

Selamat tenggelam dalam Hujan!

Urusan perasaan ini, sejak zaman prasejarah hingga bumi hampir punah, tetap saja demikian polanya.
—(hal 172)



Judul Buku : Hujan
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Januari 2016
Harga : Rp68,000
Tebal : 320 halaman
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-2478-4

#44

Kalau kau mencintainya, mengapa tidak memperjuangkannya?

Aku lelah menjawab ini. Barangkali kelak, jika aku sudah tidak lagi bosan aku akan menjawabmu. Tapi aku tahu aku waktu itu tidak akan pernah terjadi. Maka biar kujelaskan sekali lagi padamu. Mengapa aku tak pernah dan mungkin tak akan lagi memperjuangkanmu. 

Kukira kamu tahu bahwa aku bukan orang baik, aku bukan orang yang bisa kamu andalkan, bukan seseorang dengan laku hidup teladan. Aku perwujudan sempurna kerak karat yang menmpel pada roda sepeda tua yang perlahan aus. Nyaris tanpa nilai guna, kerap kali mengganggu, dan perlu segera dihilangkan. Kamu tahu? Semacam benalu yang menempel pada segala yang kamu cintai.

Bayangkan seorang lelaki yang tak mampu bersetia, tunduk pada birahinya, kerap menipu dan berbohong, lantas suka menyalahkan orang lain. Kalikan kebencianmu itu dua derajat lebih tinggi dari antrian panjang makan siang. Maka kamu akan temui hitungan kebencian yang akan kau rasakan jika kau bersamaku.

Ini tentu klise, tapi ia kebenaran. Kamu adalah hal yang terlalu baik bagiku. Barangkali ini juga sepele, memuakkan, menyebalkan, dan kerap kali tak perlu kamu dengar. Aku lelaki brengsek yang barangkali lebih menyebalkan dari ban motor gembos di tengah malam, sementara kamu perempuan yang lebih menyenangkan dari tidur sambil bermalas-malasan sepanjang pagi di hari minggu.

Aku juga mungkin mengidap penyakit kelamin, meski aku berharap tidak. Sementara kamu perempuan baik yang bahkan tak pernah lupa cuci tangan sebelum makan. Aku tatapan bengis ibu tiri di sinetron-sinetron Indonesia, memuakkan dan menjijikan. Sementara kau adalah garis horizon dalam film film Nolan yang melahirkan imaji tentang yang tanda tanya. 

Aku mencintaimu, mungkin dengan meninggalkanmu, menyerah dan tak memperjuangkanmu aku berharap agar kamu bisa bahagia.

Semua ada masanya. Kebahagiaan dan kesedihan, punya waktu tersendiri dalam setiap kehidupan. Tertawa dan menangis, punya porsi masing-masing. Termasuk orang-orang yang berperan dalam mencipta tiap bagian; bahagia, sedih, membuat tertawa pun air mata.

Tak ada kesedihan yang abadi begitu pula kebahagiaan. Semua berputar pada porosnya. Tak ada yang melewati batas. Jika mungkin seseorang terlihat begitu bahagia, barangkali sebelumnya, ia telah membuang berliter-liter air mata, atau suatu saat nanti, kebahagiaannya itu akan terenggut, terganti dengan kesedihan yang seperti tak berujung. Tapi sekali lagi, tak ada yang akan melewati batas. Semua berbalas, tapi bukan seperti halnya karma. Sudah hukum alam. Kita menanam, kita menuai. Berbuat buruk hari ini, esok lusa mungkin kita akan malu dan menyesali diri. Berbuat baik hari ini, esok lusa mungkin kita akan menangis haru oleh uluran tangan orang lain.

Menjadi lebih baik lagi, adalah kalimat klise yang serupa mantra dalam kepala tiap manusia. Tapi, bukankah memang hidup selalu menuntut hal-hal klise seperti itu?

Menangislah seperlunya, tertawalah secukupnya. Jadilah diri sendiri, jadilah lebih baik lagi. Walau dalam hidup, “lebih” masih saja terasa kurang, karena manusia yang sangat berkekurangan seperti kita, tak akan pernah mengenal kata puas.

—  –“

- Beszélhetnénk! Személyesen.

- Mikor?

Azthiszem jól esett, hogy valakit mégis érdekel mi a szart is csinálok. Kiskoromban, amikor élsportoló voltam, akkor még volt, hogy foglalkoztak ezzel.

Mivel nem vagyok se húsz éves kerekseggű csaj, az elmúlt években a kutya meg nem kérdezte mi lesz velem, mit fogok csinálni, úgy egyáltalán mi jár a fejemben. Erre mondjuk a nem mindig könnyű személyiségem rátett vagy három lapáttal.

Nevetek, mert egyszerre rendeződnek a dolgok. Egyszerre kerül bennem a helyére egy csomó dolog. Kezdek egészen emberi hangon beszélni másokkal, meglátni egy nő szemében a csillogást. A szépséget abban, ahogy beszűrődik a kora reggeli napsugár. Klise omlengos szarsag meg minden, de sokkal jobban megbecsulom az elettol kapott dolgokat, mint korabban. Kevesbe genyozok, viszont sokkal jobban figyelek arra, hogyha valaki konnyelmuen banik azzal, amit tolem kap.

Van, hogy akinek adok nyeregben erzi magat es mindjart megkongatom azokat a harangokat, amiket mar masok is. Ilyenkor elkezd tavolodni. Elkezdi azt erezni, hogy tul konnyu, hogy nincs kihivas. Nem errol szol az egesz. A feny, a fenykepek. A dolgok megtortennek es en nem akarom oket elrejteni.

Regen ezeken az erzeseken nem tudtam uralkodni. Sokszor tobbet lattam dolgokba, mint amik voltak. Sokszor olyan scenariokat kepzeltem el es ultettem a valosagba, amik nem tortenhettek meg.

Most mar csak atelem a dolgok szepseget, es ezek mellett latom azt is, aminel be szeretnenk hunyni a szemunket. Ezek sem taszitanak vagy bizonytalanitanak el. Ugy erzem azok a dolgok, amik nem esztetikusak vagy legalabbis nem idiliek ugyanugy az elet reszei. Nincs semmi baj azzal, hogy vannak. Hogy egy nonek szoros a karja vagy nem olyan szep az arca, mint egy vichy reklamban.  Nem ezen mulik.

Azon mulik, hogy ejszaka meg ugy kapaszkodtunk egymasba, mintha masunk nem lenne ezen a vilagon es rettegnenk a reggeli halaltol. 

Most mar az sem erdekel mi lesz reggel. Neha meg meg-megsuhint a jovorol valo toprenges. Elkepzelek scenariokat, de nem ragaszkodom hozzajuk.

Ha valamit el kell veszteni, hat vesszen el a picsaba. Ha valami csak jovo heten kell megtortenjen, tortenjen jovo heten. Vagy ket het mulva. Vagy jovore. Erdekel is engem.