kita ku

04:31

Kita berdua di pertemukan untuk saling menerima, saling menguatkan satu sama lain.

Jika ujian itu datang dan membuat kita jatuh terpuruk bahkan hampir menyerah, semoga satu di antara kita tetap berusaha untuk kuat dan menguatkan salah satunya. Sebagaimanapun, ku yakin kita saling ada untuk menguatkan bukan untuk dikalahkan bersama sama oleh ujian.

Jika godaan itu datang dan membuat kita rasa rasanya ingin mengikuti bisikan bisikan buruk, semoga satu di antara kita dimampukan untuk mengingatkan bahwa perjalanan kita berdua adalah menuju kebaikan yang butuh berlapis lapis kesabaran. Sebagaimanapun, jika kita mau terus bersabar ku yakin sebentar lagi kita akan sampai pada awal pintu tujuan kita.

Kita di pertemukan bukan tanpa alasan melainkan untuk saling menjadi makna. Untuk lebih saling menguatkan dan mengingatkan, bukan sekedar dipertemukan namun kita tak akan sampai pada ujung perjalanan yang kita mimpikan.

Pada banyak sabar yang kuminta padamu, semoga kamu aku tetap mau bersabar. Sabar bukan hanya sebatas tulisan disini, atau sebatas ucapan di bibir. Tapi sungguh sungguh sabar dengan berserah pada Nya, mengikuti seperti yang Dia minta.

Kurasa, prasangka baik ditemani ikhtiar baik akan mengantarkan kita pada tujuan yang diliputi banyak kebaikan kebaikan. Aku yakin.


Selepas dini hari,
Jakarta 20 Nopember 2016.

Cinta Bukan Perihal Berdua Saja

Ku lihat binar matamu yang begitu teduh di balik debur ombak yang menyapa pasir putih. Kau berkacak pinggang memarahiku yang hanya berdiam diri memandangimu dari balik kayu-kayu rapuh yang hampir sekarat di makan ombak. Dan aku masih tak bergeming dari tempatku kali ini, menikmati riuhnya kamu di hadapanku sungguh begitu menyenangkan. Darimu aku belajar banyak hal. Kamu membuatku menyadari bahwa cinta bukan hanya tentang aku dan kamu, tidak melulu tentang cemburu dan rindu. Namun juga tentang mereka, tentang keluarga kita.

Masih ku ingat betapa tajam tatapan Ayahmu terhadapku saat pertama kali kau dengan muka pucat membawaku kehadapannya. Terlihat kau begitu khawatir aku tak mampu menghadapi-nya. Ku lakukan segala cara untuk membuatnya sedikit baik terhadapku. Menemaninya minum kopi, membaca koran, dan hingga akhirnya pembicaraan mengalir begitu saja. Ayahmu berbicara banyak hal, tentang politik di negeri ini, tentang agama, bahkan tentang bagaimana takutnya ia gagal menjagamu dan membahagiakanmu. Ku lihat wajahnya sendu menyebut namamu di hadapanku, seakan ia sedang mengingat betapa waktu begitu cepat berlalu. Kau yang dulu masih merengek-rengek meminta gendong, kini telah menjadi dewasa. Aku menjadi mengerti, betapa menjadi Ayah itu tidak mudah. Ayah adalah sosok yang begitu dingin, namun hatinya begitu hangat.

Lain halnya dengan ibumu, dia begitu lembut, namun mengenai kamu, ia bisa berubah menjadi orang yang paling menakutkan. Matanya menjadi tanda bahwa tidak satupun orang yang boleh menyakitimu. Di sela-sela aku menemaninya merawat bunga kamboja kesukaannya, ku lihat dia sedikit menghela nafas panjang saat ku tanyakan bagaimana sulitnya mengurus keluarga. Lalu 5 detik kemudian ia bercerita tentang pengalamannya menjadi ibu selama ini. Darinya aku belajar bahwa menjadi ibu perlu memiliki banyak ilmu. Ilmu untuk mendidik anak-anaknya, ilmu untuk menjadi pribadi yang hangat hingga seluruh keluarganya mampu merasakan ketenangan. Ilmu untuk menjadi istri yang selalu dicintai suami. Bahkan ilmu untuk pandai memasak, hingga gizi seluruh keluarga terpenuhi. Betapa menakjubkan tugas yang harus diemban seorang ibu.

Dan mengenai saudara-saudaramu? Ah iya, aku tak mungkin lupa bahwa dibalik keramahan mereka menerimaku, mereka membuatku meringis saat mereka mengancamku untuk tidak menyia-nyiakanmu. Dari sekian banyak pembicaraanku bersama kakakmu mengenai bagaimana sulitnya mencari pekerjaan, dan bagaimana repotnya bekerja. Aku menjadi belajar bahwa bekerja bukanlah sesuatu yang merepotkan bila yang kita kerjakan adalah apa yang kita senangi. Dan darinya pula aku belajar bahwa menjadi kakak memerlukan tanggung jawab yang cukup berat, ia harus mampu menjadi teladan yang baik bagi adik-adiknya.

Dan bagian yang paling ku sukai adalah saat aku bersama adikmu. Menemaninya bermain atau bahkan hanya sekedar menemaninya berbicara. Dia berceloteh dengan begitu jujur dan wajah yang begitu polos, dia berceloteh perihal pelajaran di sekolahnya, gurunya disekolah, bahkan tentang bagaimana ayah, ibu, kakak, dan dirimu di rumah. Darinya aku belajar 1 hal. Bahwa ketika kita mencintai, kita perlu menjadi orang yang jujur. Hingga bukanlah kebohongan yang kita beri, namun kebenaran.

Aku menatapmu sekali lagi, dan kau menatapku dengan wajah bingung. Ah, betapa bersyukurnya aku pada Tuhan menjadikanmu sebagai wanitaku. Bersamamu aku tidak takut akan kegelapan yang berkali-kali semesta berikan padaku, karena kau datang serupa cahaya.

Ditulis: @langitkuitukamu dan @mangatapurnama

Made with SoundCloud
Pada dasar nya aku sulit menerka siapa yang akan ada di sampingku kelak, menemani hari hariku. Duduk di balkon atau serambi teras ku tuangkan teh pada cangkirmu sambil kita menikmati senja. Yang ku tau hari ini kau bersamaku, namun ku tak tau kelak semesta merestui kita atau tidak. Dan yang kita tau apa2 yang kita usahakan dengan baik pasti semesta akan merestuinya. Dan yang paling aku tau tangan ku menggenggam erat tanganmu saat ini
—  Efpe , 2017
Pesan Singkat

Ketika malam membuat dingin
Ketika hujan menciptakan rindu
Ketika angan terbawa angin
Ketika resah mengharuskan kita rebah

Ketika ku masih mendapat kabar
Masih begitu behagia berdebar
Ketika kawanmu memberi kabar
Bahagia seperti bunga mekar

Tertidur pulas seperti putri tidur
Hingga tak mendengar kabar
Kabar kabur
Pagi ku terbangun

Menerima pesan singkat mengakhiri sebuah hubungan
Hubungan yang nyaman
Tak ada tangisan
Ini tanda keikhlasan




Oleh: @milamaula

Tiga atau empat tahun mendatang ku harap kita bertemu lagi. Kau akan melihat aku yang lebih dewasa, yang lebih bahagia, yang lebih dari segala imajinasimu tentang pendamping yang sempurna. Lalu kemudian kau akan merasa menyesal karena telah melepas aku. Dan aku akan berterima kasih karena telah dilepasmu.
—  Someday it will.
Cerpen : Terima Kasih Telah Menjaga Diri

Terima kasih telah menjaga diri, terima kasih juga telah bersedia bersabar. Bersabar terhadap perasaan yang sedang tumbuh, ingin sekali mekar, ingin sekali segera ranum. Akan tetapi, kita masih percaya bahwa untuk menjadi mekar, kita perlu waktu.

Terima kasih karena aku rasa, Allah tetap menjadi yang pertama. Bila kelalaian kita menjaga diri, membuat orang lain berasumsi sedemikian rupa. Semoga kita segera diselamatkan dan ku rasa, Dia pasti segera menyelamatkan.

Terima kasih telah bersedia bersabar. Karena aku pun sedang bersabar menunggu waktumu yang lebih luang. Karena sekarang, begitu banyak kesibukan yang bila kita tidak bersabar dan gegabah. Justru bisa jadi membuat kita salah mengambil keputusan.

Terima kasih telah menjaga diri. Karena aku akan menjagamu dari perasaanku yang sedemikian rupa. Entah bagaimana caranya. Entah harus berdoa seperti apa. Karena kita tahu pasti, salah satu dari kita akan memulai. Dan itu aku. Diwaktu yang nanti akan aku cari tahu entah bagaimana caranya. Karena aku tidak akan membiarkanmu terlalu lama berasumsi. Karena aku tahu, kita benar-benar sedang diuji dengan kehadiran masing-masing. Kita sama-sama menjadi ujian satu sama lain. Mari menangkan! 

Yogyakarta, 20 Mei 2015 | 2.37 a.m | ©kurniawangunadi

…Maukah kamu bersabar?; dan Tuhanmu Maha Melihat. (QS.25:20)

SURAT UNTUK IBU

Oleh: Wulan Darmanto

Kemarin aku lewat depan rumah kita, bu
Maaf ku tak bisa mampir menjengukmu
Kesibukanku menggunung, ibu
Anak-anakku merengek menantiku
Tak mengapa bila aku sekadar lewat kan bu?

Pastilah kau maafkan aku, anakmu
Karena kutahu betapa luas hatimu
Kau tangisi aku, saat ku dipersunting pria itu
“Jangan sakiti hati anak ibu”
Pesanmu di hari itu
Di hari aku masih merasa jadi anakmu

Kini aku sudah jadi istri, ibu..
Tinggal sendiri, jauh darimu
Aku tidak becus memasak, bu
Tak tahu cara bahagiakan suamiku
Dan aku pun menelfonmu
Tertunduk-tunduk dengar suaramu
Baru kusadari, luasnya ilmumu..

Ibu, aku sudah bisa memasak sekarang
Tapi kami masih mengontrak di rumah orang
Ku telefon kau lagi, ibuku sayang
Mana tahu kau bisa beri kami barang-barang

Oh iya, kehamilanku terus membesar, bu..
Tak lama lagi kau akan terima cucu
Kau senang kan, bu?
Nanti tinggallah dengan kami, anakmu
Bantu aku mengasuh anakku
Aku harus cari uang bu, untuk beli susu
Dan biaya sekolah cucu kesayanganmu

Tinggallah di rumahku, sekalian urus halamanku
Sirami bunga-bunga itu
Hidangkan masakan untuk anak dan menantu
Masa tua yang membahagiakan kan, bu?

Ibu..waktu terus saja berlalu
Anak-anakku tak lagi butuh buaianku
Kau boleh pulang, ibu
Boleh isi waktu dengan mengaji di mesjid itu
Tapi tetap siaga ya bu
Barangkali ada telefon dariku
Minta nasihat ini itu..

Adakah aku lupa mengabarkan padamu, bu?
Soal cucumu yang ayu
Sudah berani minta jadi pengantin baru
Andai kau tahu pilunya hatiku, bu
Ku asuh dia si gadis ayu
Tapi belum genap baktinya padaku
Ada yang lancang merebutnya dariku

Aku menangis di hari pernikahannya
Pesan berderet kepada suaminya
Agar anakku benar-benar ia jaga
Jangan sekali-sekali lukai hatinya

Cucumu itu..tak pandai jadi istri rupanya, bu
Saban hari ia ganggu aku dengan telefon menggerutu
Keluhkan susahnya jadi calon ibu
Lalu merengek agar aku sedia momong cucu
Dikiranya aku ini pembantu..

Bu..lihatlah diri kita
Sudah sama-sama tua
Tapi mengapa anak tak henti repotkan kita?
Padahal kita tak lagi muda..

Besok kalau aku lewat depan rumah kita lagi..
Kupastikan aku akan mampir menemani
Biar ibu dengar ceritaku tentang rindunya hati
Pada anak perempuanku, yang teganya lupakan diri
Dia kunanti-nanti
Tapi lewat rumahku pun, mampir tak sudi…

Datang akan pergi
Lewat kan berlalu
Ada kan tiada
Bertemu akan berpisah

Awal kan berakhir
Terbit kan tenggelam
Pasang akan surut
Bertemu akan berpisah

Heii Sampai jumpa di lain hari
Untuk kita Bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi

Meskipun Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap Tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu

Selamat jalan kapten, semoga engkau tenang di alam sana
                                         
                                                      Minggu, 19 Maret 2017 pukul 8.30
                                                                          Salam kami


                                                                    anak FRATERNITE

Aku adalah ganjil yang kau genapkan, Kau adalah teka-teki yang ku lengkapi. Kita adalah 2 masa lalu yang berbeda dengan satu masa depan yang sama
—  Pagimu

Setabah Embun

Ku pikir semesta tak akan lagi menghadirkan temu di antara kita. Ku pikir kau telah hilang dibawa malam. Seperti bintang yang dipeluknya ke mana-mana, hingga pelangipun tak mampu mengintipinya.

Kau, terlalu berlebihan. Sejatinya aku tak pernah menghilang. Aku hanya sedang beper-gian, mencari jalan mana yang harus ku tempuh untuk pulang.

Sungguh kali ini kau berkata benar. Ku pikir aku telah berlebihan terhadapmu. Mengikutimu ke manapun dirimu berteduh. Mencuri detik-detikmu saat tersenyum dari balik awan-awan yang cerah. Hingga kau bersembunyi dari pandanganku. Kali ini aku sadari, sudah seharusnya aku merasa mendung.

Tidak ada mendung saat ini tuan, yang ada hanyalah senja. Lihatlah di sana. Bukankah ia begitu cantik dibalik ombak yang seakan melipat bumi. Ah, aku lupa kau telah bosan melihat senja. Senja dapat kau temui di balik gunung-gunung yang selalu kau elukan indahnya.

Senja tidak akan pernah membosankan untuk dinikmati, walaupun berkali-kali telah ku dapati hangatnya diruang dan waktu yang berbeda. Sama sepertimu. Segala upaya telah kulakukan untuk bersikap biasa-biasa saja, namun yang kudapati adalah kamu yang semakin meratui pikiranku.

Itulah sebab mengapa aku menemuimu saat ini tuan. Berhentilah berkeliaran dalam hidupku, seperti orang yang kesakitan jika tak menemuiku sehari saja. Aku merasa pengap melihat binar matamu yang begitu menaruh harap. Walau telah berkali-kali ku jelaskan padamu bahwa kita hanyalah serupa senja dan embun. Tidak diciptakan untuk berada dalam satu waktu yang sama.

Kau bukan Tuhan nona, yang dengan bijak mengatakan bahwa kita tidak diciptakan untuk bersama. Namun, bila hadirku sebegitu mengganggumu maka akan ku beri ruang yang begitu luas untukmu agar tak dapat kau temui aku lagi yang mengemis senyummu. Pun tak perlu lagi kau berlari ke sana ke mari hanya untuk menghindariku. Aku bukan hantu yang sedang berusaha menakutimu. Aku hanya seseorang yang sedang berusaha memilki perasaanmu.

Perasaan tetaplah perasaan tuan. Tak peduli seberapa besar kau berusaha memiliki-nya, dan aku yang berusaha menujumu. Bila ia ditakdirkan bukan untukmu, maka ia tak akan mampu berpura-pura menjadi milikmu. Maafkan tingkahku yang keliru menyikapi perasaanmu. Aku menghindarimu bukan karena terganggu. Aku hanya bermaksud membantumu melupakan perasaanmu terhadapku. Hingga dapat kau temui perempuan sejatimu yang tatapnya membuatmu gemetar, yang senyumnya membuat jantungmu bergetar, dan kau akan lupa sakitnya patah hati karenaku saat ini.  

Sudahlah nona, pulanglah sekarang. Senja telah hilang, petang telah datang, dan ombakpun tak lagi tenang. Tak perlu kau membantuku melupakan perasaanku terhadapmu. Karena aku lebih mengerti perasaanku. Pun tak perlu kau khawatirkan aku, karena akan ku ajari hatiku menjadi tabah. Setabah embun mengikhlaskan inginnya menikmati langit bersama senja. (Walau sejatinya masih ku harap suatu saat nanti, aku adalah pulangmu).

Ditulis: @langitkuitukamu
Dibacakan: @mangatapurnama & @langitkuitukamu

Untuk yang sahabatan kemudian baperan, selamat menikmati perasaan dan keadaan…

Made with SoundCloud
Saat seorang murid gagal dalam ujian, maka seorang guru memberinya remedial.
— 

Begitu biasanya, sampai si murid paham apa yang diajarkan.

Aku adalah “murid” dengan catatan remedial yang cukup banyak dari Tuhanku.

Berkali-kali aku salah jatuh hati. Bukan karena orang yang ku suka tidak baik, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki sisi baik dan buruk masing-masing.

Aku salah jatuh hati, karena caraku menyukai yang selalu tidak tepat. Setidaknya di mata Penciptaku, menurut persepsiku.

Kira-kira seperti itu yang ku simpulkan.

Kita akan mendapatkan kegagalan serupa jika kita tidak belajar darinya, itu ucap quote yang cukup familiar.

Berkali-kali aku mendapatkan “remedial”, tidak lolos, gagal.

Aku jatuh hati, lalu gagal dan mendapatkan pelajaran, kembali jatuh hati, lalu gagal dan kembali mendapatkan pelajaran.

Gagal melewati remedial, bukan karena aku menyukai orang yang salah, tapi karena kebodohanku sendiri lah, aku kalah.

Aku pura-pura tidak paham apa yang Tuhanku perintahkan dari setiap ujian.

Dan di patah hatiku yang terakhir, ku utarakan pada Tuhanku bahwa aku merasa semua remedial ini cukup.

Cukup bisa mendorongku untuk mengakui, bahwa,

Ini salahku, aku tau apa yang benar, tapi mengacuhkannya karena nafsuku, aku tau apa yang baik, tapi melalaikannya karena egoku.

Aku, hambaNya, yang sangat ngeyel dengan kehendaknya sendiri, mungkin memang harus menjalani begitu banyak remedial dan kegagalan agar paham betul apa yang hendak Dia ajarkan.

Sampai akhirnya aku tiba di suatu pendirian, jika Dia memberi lagi ujian pada hatiku, akan ku buktikan bahwa aku sudah cukup banyak belajar, dan aku tidak akan memancing murkaNya dengan kembali menjadi pecundang.

Kelak

Kelak, setelah kita menikah (Entah, kita berarti aku dan kamu atau aku dan orang lain). Ada banyak hal yang kuharapkan dan kuinginkan. Biarkan kusebutkan disini, kuharap kamu bisa mewujudkannya untukku, bersamaku.

Setelah kita menikah nanti, aku akan menjaga jarak dari wanita manapun, selain ibuku dan ibumu. Aku tak ingin membuat kamu cemburu, maka ku yakin kamu juga akan dengan senang hati menjagaku agar tidak tersulut cemburu.

Setelah kita menikah nanti, aku ingin menceritakan semua rahasiaku padamu. Aku tak ingin ada rahasia antara kita, maka ku yakin kamu juga akan dengan senang hati menceritakan semua masalah dan rahasiamu padaku. Oh ya, seberat apapun masalahmu aku akan berusaha selalu ada menyokongmu. Jika kamu ingin menangis, menangislah sepuasmu di pelukanku. Tapi setelah itu, jangan perlihatkan tangismu pada siapapun. Aku memang tak pandai menenangkan dan memberi solusi, tapi aku janji akan selalu ada menemani.

Setelah kita menikah nanti, aku ingin kita saling mengingatkan akan kebaikan juga keburukan. Jika aku berbuat buruk, sekecil apapun, ingatkan aku. Jika aku lupa melakukan kebaikan, sekecil apapun, ingatkan aku. Sebaliknya, aku juga akan mengingatkanmu. Jangan dengan kemarahan, tapi dengan sayang dan keramahan.

Setelah kita menikah nanti, aku ingin membuang semua waktu senggangku bersamamu, mungkin juga bersama buah hati kita. Entah hanya dengan duduk berdua tanpa cerita, berdebat hal-hal kecil tak berguna, nonton tivi bersama sembari mengomentari isi acara, ataupun mencoba menu masakan baru hingga mengotori dapur kita, apapun. Aku ingin menghabiskan semua waktu senggangku bersamamu, aku yakin dengan senang hati kamu akan membantuku menghabiskan semua waktu senggang itu.

Setelah kita menikah nanti, aku akan lebih sering makan di rumah bersamamu. Masaklah masakan apapun untukku, akan kuhabiskan semuanya bagaimanapun rasanya. Namun ada kalanya jika kamu ingin, aku akan mengajakmu pergi makan di luar. Aku tak akan makan di luar rumah, kecuali jika itu bersamamu. Kalaupun aku terpaksa makan di luar tanpamu, aku akan membawakan menu yang kupesan di tempat itu untukmu. 

Setelah kita menikah nanti, aku akan mencoba menekan keinginan-keinginanku dibawah keinginan-keinginanmu. Jadi sebutkanlah apa keinginanmu, aku akan memenuhinya semampuku. Aku juga ingin menahan egoku. Jadi jika semua keinginanku dalam tulisan ini tidak sesuai inginmu, aku akan coba memaklumi. 

Setelah kita menikah nanti, kumohon. Jangan mendiamkanku tapi sebutkanlah apa salahku. Jangan memarahiku (apalagi di depan buah hati kita) tapi nasehatilah aku. Jangan memaksaku tapi berilah saran padaku. Jangan tinggalkan aku tapi tetaplah bersamaku.

Setelah kita menikah nanti, aku akan mencintaimu, selalu dan setiap waktu. Cintailah aku, hanya aku.

Tulisan ini dibuat untuk menjadi pertimbanganmu saat memutuskan ingin bersamaku, juga untuk berbagi dengan sahabat @kitajateng

Suara : @dokterfina
Cerita : @kurniawangunadi
Backsound : Taylor Davis - Ost. Naruto

©Medan, 6 Juni 2015

Terima Kasih Telah Menjaga Diri

Terima kasih telah menjaga diri, terima kasih juga telah bersedia bersabar. Bersabar terhadap perasaan yang sedang tumbuh, ingin sekali mekar, ingin sekali segera ranum. Akan tetapi, kita masih percaya bahwa untuk menjadi mekar, kita perlu waktu.

Terima kasih karena aku rasa, Allah tetap menjadi yang pertama. Bila kelalaian kita menjaga diri, membuat orang lain berasumsi sedemikian rupa. Semoga kita segera diselamatkan dan ku rasa, Dia pasti segera menyelamatkan.

Terima kasih telah bersedia bersabar. Karena aku pun sedang bersabar menunggu waktumu yang lebih luang. Karena sekarang, begitu banyak kesibukan yang bila kita tidak bersabar dan gegabah. Justru bisa jadi membuat kita salah mengambil keputusan.

Terima kasih telah menjaga diri. Karena aku akan menjagamu dari perasaanku yang sedemikian rupa. Entah bagaimana caranya. Entah harus berdoa seperti apa. Karena kita tahu pasti, salah satu dari kita akan memulai. Dan itu aku. Diwaktu yang nanti akan aku cari tahu entah bagaimana caranya. Karena aku tidak akan membiarkanmu terlalu lama berasumsi. Karena aku tahu, kita benar-benar sedang diuji dengan kehadiran masing-masing. Kita sama-sama menjadi ujian satu sama lain. Mari menangkan!

Made with SoundCloud
Purnama: (air) Mata Air Langit

Aku taringat percakapan singkat suatu sore denganmu, membicarakan tentang hujan. Kala itu hujan deras. Entah tak sengaja atau memang ku sengaja, kita duduk di bangku yang sama dan sama-sama menatap ke arah yang sama; langit, hujan.

“Kapan terakhir kamu hujan-hujan? Sengaja buat hujan-hujan?”

Kamu menatapku sejenak kemudian kamu memalingkan wajahmu untuk menatap hujan lagi. “Kapan ya? SMA deh kayaknya. Apa SD ya?” Kamu tertawa, menjawab tidak yakin seiring dengan bola matamu melirik ke arah kanan atas mencoba untuk mengingat-ingat.

“Kalau mas Purnama kapan?” Kamu bertanya balas sambil masih menatap hujan.

“Deras sore lusa kemarin”

Kamu langsung menatapku heran. “Serius mas?”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk tanpa balas menatapmu. Aku tahu kamu sedang menatapku. Aku hanya tidak mau mengganggu kestabilan perasaanku hanya tersebab membalas tatapanmu.

“Ngapain mas? Kayak anak kecil aja” Kamu tertawa kecil meledek. Aku tertawa. Aku juga tersadar betapa konyol apa yang ku perbuat saat itu. Di saat semua orang bergegas mencari tempat berteduh, aku dengan santainya keluar dari kamar dan menyambut hujan dengan guyurannya.

Belum sempat ku menjelaskan banyak adzan asar telah berkumandang. Rupanya Allah tidak mengizinkan kita untuk duduk berdua menatap hujan dan langit yang sama. Untuk saat ini. Aku pun segera pamit dan bergegas memenuhi panggilan-Nya.

Aku mempunyai teori bahwa bukanlah hujan yang menyebabkan kita sakit, tetapi daya tahan tubuh kita yang sedang tidak fit lah yang menyebabkan apabila kita terkena hujan kita menjadi sakit. Aku berusaha untuk tidak mengkambinghitamkan hujan yang selalu turun di setiap harinya. Yang menyebabkan orang-orang berkeluh dan kesal karena hujan menyebabkan banyak hal yang tidak mereka inginkan terjadi. Jemuran yang tak kunjung kering, mendinginkan udara sekitar, tertunda untuk pulang atau pergi. Aku meyakini bahwa hujan adalah sebuah keberkahan. Sama seperti Rasulullah yang memerintahkan kita untuk banyak berdoa di kala turunnya hujan.

Hujan merupakan representasi perulangan siluet kenangan yang dimunculkan. Hujan lebih akrab dengan kesenduan. Memang. Tapi aku lebih suka menyebutnya dengan ketenangan. Walau memang suara gemerciknya bagaikan percakapan masa lalu, rintiknya seperti ingatan yang terlintas silih berganti. Tetapi dari situ aku menyadari begitu banyak dari kenangan itu yang patut aku syukuri untuk saat ini.

Bagiku hujan bukanlah air mata dari langit. Hujan adalah mata air langit. Dari hujan Allah menurunkan keberkahan. Hujan adalah waktu yang tepat untuk mendoakan. Saat ini juga sedang hujan. Aku berdoa semoga Allah kuatkan niat baikmu. Niatmu menjadi baik jangan kamu tunda lagi. Mata air akan selalu kembali jernih sekotor apapun ia. Begitu juga dirimu. Jangan khawatir untuk menjadi baik.

anonymous asked:

Kak, aku sahabatan sama temenku (cowo) udah 6 tahun lebih. Kita bener bener pure sahabatan tanpa baper baperan. Aku ga pernah baper ke dia sama sekali. Dan selama kita sahabatan, dia juga udh pacaran beberapa kali. Aku salah ga sih, kalo lg quality time sama shbt ku itu? Kita kadang jalan berdua untk lebih dekat lagi membahas apapun itu. Apa cewenya akan marah kak?

Halo anon, ga salah menurutku, selama pacarnya dia tau. Ya dia bilang ke pacarnya kalau mau jalan sama kamu, kenalkan kamu ke pacarnya juga. Setidaknya, ada hati lain yang harus dijaga. Sahabat itu seharusnya memang gak baper-baperan, dan kalau salah satunya sudah punya pasangan, harus bijak dalam bersikap. Jangan sembunyi-sembunyi ya, kasihan pacarnya kalau diajak main petak umpet juga. Semoga menjawab 😊

Ku biarkan kau tetap menjadi bintang

Pernah aku begitu iri ke pada langit perihal betapa beruntungnya ia memilikimu. Dia memelukmu dengan erat hingga membuat siapapun tak mampu menjangkaumu.

Pernah aku begitu benci ke pada langit. Dia sungguh arogan, dia memiliki segalanya namun mengapa ia tak mau melepaskanmu untukku saja. Sedang ia tahu, aku tak punya apa-apa selain mimpi untuk memilikimu.

Pernah aku begitu cemburu ke pada bulan. Dia temanmu bukan? dia leluasa menemuimu. Hingga orang-orang bilang kalian memang ditakdirkan untuk saling melengkapi. Mengapa tak aku saja yang menjadi temanmu?

Pernah aku begitu murka ke pada malam. Bisa-bisanya ia membuatmu begitu bersinar saat sunyi benar-benar mengencaniku. Lalu membawamu pergi saat matahari datang dari ufuk timur. Malam benar-benar membuatku kalang kabut karenamu.

Pernah aku tak tahu malu, meminta pada Tuhan menjadikanmu sebagai orang biasa sepertiku. Agar tak ada lagi perbedaan diantara kita. Akan ku buat kau menjadi raja di rumah kita, dan aku menjadi ratunya. Akan ku bawa kau mengelilingi bumi walau nyatanya kau telah tahu seperti apa rupa bumi, karena aku tak sanggup membawamu mengelilingi alam semesta.

Sungguh akan ku buat kau selalu bahagia meski nyatanya aku tak mengerti definisi bahagia dalam hidupmu itu bagaimana.

Hingga di titik ini aku menyadari, bahwa aku terlalu angkuh. Niatku menggebu-gebu memilikimu, dan membahagiakanmu, sedang telah ku ketahui bahwa Tuhan tidak menggariskanmu untuk ku rengkuh. Dia mempertemukan kita mungkin agar aku belajar bagaimana menyikapi perasaan dengan baik.

Ku biarkan kau tetap menjadi bintang. 

Agar ku sadari bahwa ada sesuatu yang harus ku ikhlaskan menjadi kebahagiaan orang lain. Dan agar masih dapat ku lihat senyummu saat sunyi merengkuhku di tengah dinginnya malam. Biarkanlah aku tetap menggilaimu seperti ini, sampai nanti ku temui dia yang mampu membuat detak jantungku mengencang dan memalingkan perasaanku darimu.

© Syarifah Aini (2015)

flickr

Sakura,Toshima 2-chome,Kita-ku(桜吹雪,豊島2丁目,北区) by Ou Kinhaku
Via Flickr:
Leica M7+ELMARIT-M 28mm f2.8 ASPH,Kodak E100VS

Tulisan : Menjaga Batas
Suara : Mascat ft. @ariniaris
Backsound : The Reason by Jurrivh

Ada batas yang membuat kita berjarak. Tak bisa bergerak meski ingin sekali mendekat.

Ada batas yang membuat kita terpisah. Tak mau lagi menyerahkan hati dengan mudah karena ia pernah berkali-kali patah.

Patah oleh harapan yang pernah ditanamkan pada manusia. Patah karena rasa yang pernah muncul padahal tak seharusnya.

Itulah mengapa, hari ini dan esok hari, aku akan tetap menjaga batas itu agar tetap di sana. Menjaga jarak itu agar tetap terbentang seluas samudera.

Biarlah nanti Tuhan yang menghapuskan batas itu untuk rasa yang saat ini kita jaga. Biarlah nanti Tuhan yang mendekatkan kita lewat takdir-Nya.

Yang penting, tugasku saat ini hanya menjaga batas itu agar tetap memisahkan kita. Itu saja.

“Ku menjaga batas, tuk memisahkan kita…”

Made with SoundCloud