kita ku

Kiji, Osaka, Japan

We had an overnight stay in Osaka last week and really didn’t make any plans, because as one of the world’s great food cities, reservations are not really necessary. You can pretty much walk into any restaurant here and have an amazing meal. That said, we did have a few recommendations from friends and family. We knew we wanted okonomiyaki, which is a must when in Osaka, and Mutsumi’s uncle recommended we seek out Kiji, a small shop hidden in the back of the Shin Umeda Shokudogai, the “restaurant row” near Umeda station…

You open the door to find that the Power Rangers are big fans of the place…

And must then make your way up a small staircase to the second floor…

Watch your head as you enter this cramped, second floor “cave” under the Umeda train tracks…

Kiji has only six seats at their counter and four small tables. Coats and bags fit neatly inside your box seat to help conserve space. A two-man team runs the restaurant, where like most okonomiyaki restaurants, all items off their limited menu are cooked right in front of you on their flattop grill…

Each table also has a grill on top to keep your food warm once it’s delivered. (This is not one of those “grill it yourself” establishments.)

We stuck to the basics with our order. Started with “modanyaki”, which is basically a cross between okonomiyaki and yakisoba topped with a thin omelet…

We went with mixed toppings/fillings that included pork, shrimp and squid…

A classic “buta tama” okonomiyaki was up next, simply topped with pork belly, mayo, sauce and seaweed…

I never like when okonomiyaki is referred to as “Japanese pizza” as I think it does the complexity of the dish and its flavors a disservice. However, looking at my “slice” here, I can see how it got its moniker…

Enjoying excellent okonomiyaki accompanied by pints of Asahi Super Dry, surrounded by haggard Japanese salarymen in these cramped quarters, our table shaking as trains rumbled overhead… lunch at Kiji was a true Osaka experience!

KIJI

Shin-Umeda Shokudogai

9-20 Kakudacho

Kita-ku, Osaka

JAPAN

Maaf aku tidak suka dengan jarak yang kita ciptakan,pikiran ku bekerja terlalu keras untuk hal itu,bagai mana dengan hari mu.? Apa kau baik-baik saja.? Apa tidur mu cukup.?

Kepadamu,
yang belum dijelaskan Allah.

Mungkin kini kita sudah saling mengenal,
atau bahkan belum pernah bertemu sama sekali.
Aku pun tak dapat memastikannya.

Tapi ku yakin,
saat ini kita sedang sibuk dengan pilihan kita masing-masing.
Kita yang saling menyibukkan diri untuk perkara masa depan.
Menyiapkan bekal guna menjadi seorang pasangan yang hebat.

Jika kelak kita bertemu,
ku ingin kita dapat menggenggam dunia dengan apa yang kita miliki.
Menjadi pasangan hebat yang saling mendukung.
Bukan saling menyalahkan dan egois.
Juga saling mengingatkan untuk terus bersyukur atas apa yang Allah beri.
Dan selalu berusaha menjadi bermanfaat untuk siapapun.

Ketika kita bertemu kelak,
ku harap mimpi-mimpimu akan menjadi mimpi kita bersama,
begitu pun aku. Kita akan mewujudkan mimpi besar.
Karena aku dan kamu telah melebur menjadi kita.
Aku akan menghormati segala keputusan yang kau buat.
Namun aku akan mengingatkan jika kau berada di luar jalur-Nya.

Kepadamu yang mungkin membaca ini.

Ku harap kau dapat menjadi imam terbaik dan penggenap agamaku.
Menjadi guru nomor 1 yang paling ku percaya dalam hal apapun.
Sahabat yang paling mengerti dan akan selalu ku cari.
Partner bertukar pikiran terfavoritku.
Mungkin juga akan menjadi atasan bisnis yang akan kita bangun kelak.

Tetapi kau perlu tahu.
Mungkin aku tak akan bisa berada di rumah 24 jam terus menerus,
karena tanggung jawabku nanti adalah sebagai seorang pekerja sosial.
Namun aku tetap akan selalu menyediakan apa yang kau butuhkan.
Tak ada alasan bagiku untuk menolak permintaanmu.

Aku juga ingin menjadi alasanmu tersenyum dan hilangnya lelahmu.
Selepas kau bertarung dengan kejamnya dunia seharian,
mencari rezeki untuk jiwa-jiwa dalam keluarga ini.

Kemudian saat malam menjelang, ku kira kita akan saling banyak bercerita.
Aku dengan kasus-kasus yang ku alami dalam ruang praktek ku,
dan kamu dengan perangkat yang kau kuasai di lapangan.
Membayangkannya saja sangat seru, karena mungkin kita berada di 2 bidang yang berbeda.
Ketahuilah. Aku selalu senang mendengar dan belajar hal baru.

Tetapi yang perlu kau pahami,
mungkin aku akan lebih banyak menangis.
Apalagi ketika aku tak dapat membantu pasienku untuk sembuh.
Atau ketika aku menemukan masalah dalam menangani kasus.
Ku harap kau mengerti bahwa tanggung jawab ini cukup berat bagiku.

Aku ingin kau dapat menghapus tangis yang meleleh.
Mengusap kepalaku dengan penuh kelembutan.
Ku kira, aku hanya perlu ditenangkan.
Bukan disalahkan atau digurui.

Begitu juga ketika kau mendapat ujian dalam pekerjaan.
Aku tak akan menambah bebanmu. Aku akan selalu berusaha mandiri.
Aku berusaha tumbuh menjadi seseorang yang independen.
Tidak bergantung kepadamu atau meminta bermacam-macam hal.

Ingatlah, aku selalu menunggumu pulang.
Aku ingin menjadi yang pertama akan menghapus keringat lelahmu,
dan mendengar semua keluh mu. Aku akan memelukmu dalam kasih sayang.

Tetapi bila nanti kita dipertemukan,
ku harap kau tidak mempermasalahkan masa laluku.
Tidak berusaha menjatuhkanku ketika kau mengetahui masa kelamku.
Aku hidup di saat ini dan untuk masa depan.
Aku telah belajar banyak dari apa yang kulalui selama ini.
Sehingga aku berusaha sebanyak mungkin melakukan hal baik yang dapat menebusnya.

Bersabarlah, aku sedang mengusahakan supaya hidup kita kelak bahagia dan tidak kekurangan.
Percayalah, aku akan menjadi wanita yang dapat kau banggakan.
Yakinlah, bahwa Allah akan mempertemukan kita dalam keadaan yang sangat baik.

Sampai ketemu.

Dari teman hidup yang akan menyempurnakan masa depanmu.

Setabah Embun

Ku pikir semesta tak akan lagi menghadirkan temu di antara kita. Ku pikir kau telah hilang dibawa malam. Seperti bintang yang dipeluknya ke mana-mana, hingga pelangipun tak mampu mengintipinya.

Kau, terlalu berlebihan. Sejatinya aku tak pernah menghilang. Aku hanya sedang beper-gian, mencari jalan mana yang harus ku tempuh untuk pulang.

Sungguh kali ini kau berkata benar. Ku pikir aku telah berlebihan terhadapmu. Mengikutimu ke manapun dirimu berteduh. Mencuri detik-detikmu saat tersenyum dari balik awan-awan yang cerah. Hingga kau bersembunyi dari pandanganku. Kali ini aku sadari, sudah seharusnya aku merasa mendung.

Tidak ada mendung saat ini tuan, yang ada hanyalah senja. Lihatlah di sana. Bukankah ia begitu cantik dibalik ombak yang seakan melipat bumi. Ah, aku lupa kau telah bosan melihat senja. Senja dapat kau temui di balik gunung-gunung yang selalu kau elukan indahnya.

Senja tidak akan pernah membosankan untuk dinikmati, walaupun berkali-kali telah ku dapati hangatnya diruang dan waktu yang berbeda. Sama sepertimu. Segala upaya telah kulakukan untuk bersikap biasa-biasa saja, namun yang kudapati adalah kamu yang semakin meratui pikiranku.

Itulah sebab mengapa aku menemuimu saat ini tuan. Berhentilah berkeliaran dalam hidupku, seperti orang yang kesakitan jika tak menemuiku sehari saja. Aku merasa pengap melihat binar matamu yang begitu menaruh harap. Walau telah berkali-kali ku jelaskan padamu bahwa kita hanyalah serupa senja dan embun. Tidak diciptakan untuk berada dalam satu waktu yang sama.

Kau bukan Tuhan nona, yang dengan bijak mengatakan bahwa kita tidak diciptakan untuk bersama. Namun, bila hadirku sebegitu mengganggumu maka akan ku beri ruang yang begitu luas untukmu agar tak dapat kau temui aku lagi yang mengemis senyummu. Pun tak perlu lagi kau berlari ke sana ke mari hanya untuk menghindariku. Aku bukan hantu yang sedang berusaha menakutimu. Aku hanya seseorang yang sedang berusaha memilki perasaanmu.

Perasaan tetaplah perasaan tuan. Tak peduli seberapa besar kau berusaha memiliki-nya, dan aku yang berusaha menujumu. Bila ia ditakdirkan bukan untukmu, maka ia tak akan mampu berpura-pura menjadi milikmu. Maafkan tingkahku yang keliru menyikapi perasaanmu. Aku menghindarimu bukan karena terganggu. Aku hanya bermaksud membantumu melupakan perasaanmu terhadapku. Hingga dapat kau temui perempuan sejatimu yang tatapnya membuatmu gemetar, yang senyumnya membuat jantungmu bergetar, dan kau akan lupa sakitnya patah hati karenaku saat ini.  

Sudahlah nona, pulanglah sekarang. Senja telah hilang, petang telah datang, dan ombakpun tak lagi tenang. Tak perlu kau membantuku melupakan perasaanku terhadapmu. Karena aku lebih mengerti perasaanku. Pun tak perlu kau khawatirkan aku, karena akan ku ajari hatiku menjadi tabah. Setabah embun mengikhlaskan inginnya menikmati langit bersama senja. (Walau sejatinya masih ku harap suatu saat nanti, aku adalah pulangmu).

Ditulis: @langitkuitukamu
Dibacakan: @mangatapurnama & @langitkuitukamu

Untuk yang sahabatan kemudian baperan, selamat menikmati perasaan dan keadaan…

Made with SoundCloud
Pada dasar nya aku sulit menerka siapa yang akan ada di sampingku kelak, menemani hari hariku. Duduk di balkon atau serambi teras ku tuangkan teh pada cangkirmu sambil kita menikmati senja. Yang ku tau hari ini kau bersamaku, namun ku tak tau kelak semesta merestui kita atau tidak. Dan yang kita tau apa2 yang kita usahakan dengan baik pasti semesta akan merestuinya. Dan yang paling aku tau tangan ku menggenggam erat tanganmu saat ini
—  Efpe , 2017
04:31

Kita berdua di pertemukan untuk saling menerima, saling menguatkan satu sama lain.

Jika ujian itu datang dan membuat kita jatuh terpuruk bahkan hampir menyerah, semoga satu di antara kita tetap berusaha untuk kuat dan menguatkan salah satunya. Sebagaimanapun, ku yakin kita saling ada untuk menguatkan bukan untuk dikalahkan bersama sama oleh ujian.

Jika godaan itu datang dan membuat kita rasa rasanya ingin mengikuti bisikan bisikan buruk, semoga satu di antara kita dimampukan untuk mengingatkan bahwa perjalanan kita berdua adalah menuju kebaikan yang butuh berlapis lapis kesabaran. Sebagaimanapun, jika kita mau terus bersabar ku yakin sebentar lagi kita akan sampai pada awal pintu tujuan kita.

Kita di pertemukan bukan tanpa alasan melainkan untuk saling menjadi makna. Untuk lebih saling menguatkan dan mengingatkan, bukan sekedar dipertemukan namun kita tak akan sampai pada ujung perjalanan yang kita mimpikan.

Pada banyak sabar yang kuminta padamu, semoga kamu aku tetap mau bersabar. Sabar bukan hanya sebatas tulisan disini, atau sebatas ucapan di bibir. Tapi sungguh sungguh sabar dengan berserah pada Nya, mengikuti seperti yang Dia minta.

Kurasa, prasangka baik ditemani ikhtiar baik akan mengantarkan kita pada tujuan yang diliputi banyak kebaikan kebaikan. Aku yakin.


Selepas dini hari,
Jakarta 20 Nopember 2016.

Ratap Duda Anak Satu

Jika kemustahilan yang ku harapkan dapat dikabulkan. Aku ingin kembali ke awal masa kita bersama dulu, lalu membawamu ke saat sekarang ini. Dan ingin ku katakan “ Lihatlah ! kau akan meninggalkan diriku seperti ini, sebaiknya jangan berjanji " 

Atau 

Aku ingin membawamu ke masa awal kita bersama dan mengingatkanmu semua janji yang pernah kita perjuangkan. Dan ingin ku katakan ” Ingatkah kau dengan semua itu ?“

flickr

Imamiya-jinja in Spring 春の今宮神社 por Patrick Vierthaler
Por Flickr:
A Shinto shrine located in Kita-ku, Kyoto (near Senbon Kita Oji and Daitoku-ji temple).

Ada waktunya,
ketika kita merasa perlu untuk berjalan sendiri. Tanpa memikirkan siapa-siapa. Dan tak memiliki tanggung jawab kepada siapapun.

Bukankah kita masih ingin menggapai mimpi kita masing-masing?

Ku rasa,
lebih baik aku melangkah, menciptakan jarak untuk meredam rasa khawatir.
Aku tak ingin berharap, ataupun memberi harapan.
Karena harapan itu tak pernah memberikan kepastian.

Aku benci menciptakan khayal. Aku juga lelah dengan semua permainan kata. Bagiku, semua nampak fana.

Biarkanlah waktu yang menunjukkan jawabannya. Jika pada akhirnya Allah memberikan kepercayaan padaku untuk melengkapimu atau malah memberikan keikhlasan untuk menerimamu menulis cerita berbeda dengan yang lain.

Aku tidak apa-apa.

Tak perlu saling menunggu atau memaksa saat ini.

Karena tak ada persimpangan yang tak memiliki pertemuan jalan, walaupun terkadang tak pasti bertemu.

Mungkin hanya salipan, atau kau hanya sekedar numpang lewat, maksudku.

Sabar, ini ujian.

Kolaborasi tentang Patah Hati

Mentari perlahan pulang ke peraduan. Langit kemerahan berubah kian menggelap.
Angkutan kota yang membawaku pulang dari kantor dipusat kota tersendat, macet oleh panjang nya padat kendaran.
Suasana didalam nya penuh oleh orang-orang yang sedang sibuk dengan telepon genggam mereka.
Begitupun dengan ku, wajah kecil ku terfokus pada telepon genggam milik ku, membaca pesan pesan lama ku dengan diri nya.
Seseorang yang pertama kali membuat ku terjatuh.


Aku seakan terjebak dalam tulisan dari pesan pesan lama ku dan seseorang itu,
Dia seolah bangkit lagi dalam ingatan ku, kembali membentuk bayang diri nya didalam kepala ku dan menciptakan sebait embun dikedua bola mata ku.


Sebuah lagu mengalun merdu. Memenuhi seluruh koridor angkutan bus kota.
Seketika mata ku pun terpejam, terbawa dengan kisah yang disampaikan oleh si penyanyi itu.
Hingga tiga menit berjalan nya waktu, terdengar suara yang begitu familiar di telingaku.


Seseorang itu, suara nya merasuk dalam telinga ku. “permisi’ ucapan lelaki itu.
Yang tiba tiba saja dia pun mengambil alih penuh seluruh pandangan ku.
dia menaiki bus kota yang sama dengan ku? Tanya ku, dengan hati yang bingung.
Aku tak menyangka, dia duduk berhadapan dengan ku. Menatap ku,
Raut wajah datar yang ia ciptakan, aura dingin yang ku rasakan dikala ku menatap kembali lelaki itu .


Sungguh, ku merasa kita seperti dua orang asing yang tak saling mengenal satu demi satu.
Ingin ku menyapa terlebih daluhu.
namun, hati ku bergetar ragu saat ku ingin menyapa seseorang dihadapan ku itu.


Aku dan dia hanya saling pandang, jangan kan menyapa. Senyum pun tak ku peroleh darinya.
Apakah seseorang yang sudah tak saling memiliki, selalu berakhir seperti ini?
Mata ku tak kuasa membendung hujan. Hingga rintik air hujan pun jatuh mengalir dipipi ku.
Punggung tanganku, yang kemudian langsung menghapus linangan air mata ku itu. Kemudian ku beranjak mengangkat tubuh ku untuk segera bergegas pergi, berjalan mendekati pintu bus kota itu.
Entah, ku turun dihalte mana. Halte yang tak pernah ku kenali sebelum nya.

Bus kota yang masih ada seseorang itu, kembali melaju meninggal kan ku sendirian di duduk di bangku halte itu.
Aku seketika merasa kaku, memikirkan seseorang yang dulu pernah membuatu ku jatuh.
Hati ku layu, pikiran ku pun di buat kacau oleh ingatan seseorang yang ku kenali dulu.
Seperti lupa pernah cinta, seperti lupa pernah mengagumi sosok nya.
Lelaki itu, sungguh membuat kesediahan ku memuncak hari itu.
Malam pun, datang menyambut kesepian ku di bangku halte tempat ku menunggu bus kota berikut nya untuk menjemput ku pulang.
Aku tahu, semua hati ku pernah dibuat jatuh oleh seseorang itu. Tetapi patah hati ku lebih tega meremukkan seluruh organ didalam tubuh ku.
Akan kah aku dapat melupakan seseorang itu? Ataukah aku siap melanjutkan hidup ku.
dengan luka yang membiru didalam hati ku? entah, aku seperti jatuh kembali dalam ingatan masa lalu ku bersama seseorang itu.

Wajah ku semakin basah oleh hujan dari air mata ini.
Aku tak peduli lagi dengan tatapan orong-orang yang memandang disekitarku.
Termasuk salah satu tatapan dari seseorang disamping ku.
Mata nya yang menatapku dalam. Seperti ada rasa iba pada ku. kemudian ia mendekati ku, memberi sekotak tisu berwarna merah jambu padaku.
Aku menerima uluran tisu itu, kemudian mengambil uluran tisu sebanyak-banyak nya untuk mengusap sisa-sisa hujan diwajah ku.
Kemudian ia bersuara, menggumamkan pertanyaan. Bagai orang yang telah mengenalku sebelum nya.
Apakah aku sedang patah hati? Itu pertanyaan orang itu kepada ku.

Aku pun menatap lelaki yang duduk disamping ku.
Mengatakan, bahwa ini hanya soal temu oleh separuh hati yang dulu dan telah memberi luka kepada ku.
Air mata ku terhenti, ketika dia memberi senyum penuh kepadaku, seolah aku terhipnotis dengan tatapan dari seseorang itu.
Mungkin kah, dia datang memberi senyum untuk mendinginkan luka di hati ku.? ah, mungkin dia hanya sekedar ingin tahu saja tentang ku.
Apakah patah hati, bagi mu sesedih seperti ini.?
Pertanyaan lelaki itu, membuat hati ku makin perih.
Aku pun, dengan isak nada suara yang tertatih mengatakan: mungkin, kau bisa melihat sendiri.
Aku patah hati karena seseorang yang dulu pernah membuat ku jatuh, kini seolah menghantam kan sebongkah batu didalam hati ku. hingga membuat seluruh tubuh ku remuk tak menemukan arti hidup.
hei, bangunlah dengan logika mu.
Jangan kau terlalu mengisi hati mu dengan luka yang menyesak kan diri hingga membuat mu sedih sendiri.
Mungkin kau butuh sesuatu, untuk menghilangkan penat dalam hati mu. Seperti menghabiskan waktu mu untuk ha-hal yang baru.

Cc: @matasamudra

birthday cakes for Osomatsusan (2017 May 24 - June 7)

six birthday cakes made by the sextuplets will be displayed at Namco amusement arcade in major cities.

【Hokkaido - Namco Sapporo Esta】
Sapporo Esta 9F, 2-1-1, Kita 5jyou-Nishi, Cyuo-ku, Sapporo City, Hokkaido

【Tokyo - Namco Nakano】
Nakano Broadway Annex, 5-52-15, Nakano, Nakano-ku, Tokyo

【Aichi - Namco Nagoya Ekimae】
Big Camera Nagoya Station West 6F, 6-6, Tsubakicyou, Nakamura-ku, Nagoya City, Aichi

【Osaka - Namco Osaka Nihonbashi】
Cosmo Building 1-3F, 2-1-17, Nanbanaka, Naniwa-ku, Osaka City, Osaka

【Fukuoka - Namco Hakata Bus Terminal】
Hakata Bus Terminal 7F, 2-1, Hakataeki Cyuougai, Hakata Station, Hakata-ku, Fukuoka City, Fukuoka

“Masih ingatkah. Semua, tentang kita — yang meraja diantara Bintang dan Bulan.”

COFFEE & THE STORY
MENARILAH
| ♪

Menarilah di depanku.
Seperti kemarin,
Diatas bulan.

Lagu ini untukmu,
Yang tertanam —
Di masa lalu.

Menarilah, dan
Jangan cepat beranjak meninggalkanku.
Ku disini akan menikmatinya
Dalam bentuk bayangan.

Bayangan?
Yah, bayangan yang selalu
membuatku tetap ingat

Aku menangis
Berlinangan air mata.
Melihat matamu;
Terpejam —
Berlalu meninggalkanku.

Usai
Menari,
Kau ayunkan tangan ini,
Berputar dengan indah
Dan berteriak
“Aku bahagia bersamamu…!“

Ruangan kecil ini.
Yang menyaksikan
Semua tentang kita
Disana

Ku berjalan
Menyusuri malam.
Tergambar semua
Tentang kita disana.

Aku menangis
Berlinangan air mata.
Melihat matamu;
Terpejam —
Berlalu meninggalkanku.

Usai
Menari,
Kau ayunkan tangan ini,
Berputar dengan indah
Dan berteriak
“Aku bahagia bersamamu…!”

Masih ingatkah? Semua,
Tentang kita —
Yang meraja diantara
Bintang dan Bulan.

|

° R. A. SANTOSOWIDJOJO

Ini hanya soal waktu kak.
Mungkin bukan hari ini, besok, atau beberapa hari ke depan.
Tapi suatu saat nanti.
Akan ada waktu dimana kamu sudah tidak ada artinya lagi bagiku.
Ku harap jika waktu itu nanti tiba kita sudah sama-sama menemukan bahagia.
Agar tidak ada salah satu dari kita. Kamu tepatnya. Meminta ku kembali mengulang kisah. Yang dimana sudah banyak waktu aku habiskan hanya untuk berusaha menepikan dan menyimpan rapat2 kisah itu.

Dear Future, apa kabarmu? Semoga harimu baik dan bahagia. Semoga harimu selalu dipenuhi rasa syukur.

Dear Future, tenang saja. Aku disini baik-baik saja. Masih tenang menunggumu, masih tabah menantimu. Kusibukkan diriku untuk meningkatkan kualitas diri; belajar banyak hal, menjadi yang terbaik, menyenangkan, dan menenangkan bagimu. Kusibukkan diriku untuk mengejar target dan mimpi-mimpiku, agar menunggumu tak lagi menjadi hal yang menjemukan.

Dear Future, kali ini aku berpasrah. Aku, tak akan mempersulit jalanmu untuk datang menujuku. Karena aku tahu, betapa diluar sana banyak yang kehilangan hanya karena sulitnya jalan. Kamu, akan ku permudah. Karena kutahu, kau pasti sudah melawan banyak hal untuk menujuku. Ketakutanmu, kekhawatiranmu, ketakberdayaanmu. Aku tak ingin membebani dengan mempersulitmu. Dan jangan kau kira dia yang mudah didapatkan belum tentu tak berharga. Dia, hanya tak ingin mempersulit jalan lelaki shaleh sepertimu.

Dear Future, terimakasih. Terimakasih karena telah mengajariku banyak hal. Tentang merindu dalam diam, tentang penantian, tentang menjaga rasa sabar, syukur dan ikhlas, tentang menjadi bermanfaat dalam masa penantian, tentang melapangkan hati tuk menerima segala tentangmu nanti.

Dear Future, semoga ketika kita dipertemukan nanti, ku harap kita dipertemukan dalam keadaan yang benar-benar diridhaiNya. Meluruskan segala niat baik kita untuk saling menggenapi; hanya untuk meraih ridhaNya.

Dear Future, semoga nantinya kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Semoga aku bisa menjadi tempatmu pulang. Semoga kamu bisa menjadi tempatku untuk bersandar. Dan yang pasti, semoga kita nantinya tak pernah lelah dan menyerah dengan keadaan ya!

Dear Future, sehat-sehatlah. Berbahagialah. Bersibuklah dalam kebaikan. Bermanfaatlah.

Sampai jumpa di waktu yang tepat (…..dan juga cepat, haha!).


18 April 2017. 06:12
Yang tak mempersulitmu,
Andhira A. Mudzalifa

Tiga atau empat tahun mendatang ku harap kita bertemu lagi. Kau akan melihat aku yang lebih dewasa, yang lebih bahagia, yang lebih dari segala imajinasimu tentang pendamping yang sempurna. Lalu kemudian kau akan merasa menyesal karena telah melepas aku. Dan aku akan berterima kasih karena telah dilepasmu.
—  Someday it will.
Yakitori Nonchan, Kobe, Japan

Friend of ours are traveling to Kobe for Thanksgiving and commented how they couldn’t find many posts about my adopted hometown here on Eataku! At first I didn’t believe them, till I checked, and discovered they were right; I’ve spent a large part of the last 25 years of my life in Kobe but there have been a minimal mentions on this blog. Time to fix that, starting with a post about my favorite yakitori joint, Nonchan…

More of a “locals only” eatery located up a small alley near Sannomiya Station, Yakitori Nonchan specializes in grilled chicken and regional sakes, mostly from the nearby Nada region of Hyogo. However, they do from time to time serve raw chicken as well, sashimi style…

For those who prefer their meat grilled, I suggest starting simpler with the “tsukune”, or chicken meatball…

“Kawa”, or skin, with salt not sauce, and “nankotsu”, or chicken cartilage…

I prefer my tsukune with “shichimi”, or hot pepper, on the left in red, and the rest with “sansho”, Japanese mountain pepper, on the right…

Gizzards (zuri)…

Liver (kimo)…

Heart (hatsu)…

Ice cold mugs of Asahi always help…

Some pork belly to break up the chicken parade as we get into some funkier cuts…

Like the chicken’s digestive tract…

Or its reproductive parts (hina)…

Local sake and housemade pickles as we move on…

Japanese “karaage”, or fried chicken…

Grilled thighs (momo yaki)…

And my favorite part of poultry, the “bonjiri”, or chicken butt…

…where here at Nonchan, they leave it still attached to the rest of the tail!

Some “ginnan”, or gingko nuts, to help some cut of the fat at the end of your meal…

And I highly recommend closing out your meal with Nonchan’s “tori zosui” or chicken & rice porridge…

Kobe is one of the most international cities in all Japan with a vastly underrated dining scene, except when it comes to beef. I definitely recommend you spend a few days in town sampling more than just yakiniku and steak, and would start at Nonchan, where they treat their chicken with the same respect!

Reservations recommended.

YAKITORI NONCHAN

1-8-2 Kita-Nagasadori

Chuo-ku, Kobe

Hyogo         

Japan

+81-78-331-7465