kita ku

Kiji, Osaka, Japan

We had an overnight stay in Osaka last week and really didn’t make any plans, because as one of the world’s great food cities, reservations are not really necessary. You can pretty much walk into any restaurant here and have an amazing meal. That said, we did have a few recommendations from friends and family. We knew we wanted okonomiyaki, which is a must when in Osaka, and Mutsumi’s uncle recommended we seek out Kiji, a small shop hidden in the back of the Shin Umeda Shokudogai, the “restaurant row” near Umeda station…

You open the door to find that the Power Rangers are big fans of the place…

And must then make your way up a small staircase to the second floor…

Watch your head as you enter this cramped, second floor “cave” under the Umeda train tracks…

Kiji has only six seats at their counter and four small tables. Coats and bags fit neatly inside your box seat to help conserve space. A two-man team runs the restaurant, where like most okonomiyaki restaurants, all items off their limited menu are cooked right in front of you on their flattop grill…

Each table also has a grill on top to keep your food warm once it’s delivered. (This is not one of those “grill it yourself” establishments.)

We stuck to the basics with our order. Started with “modanyaki”, which is basically a cross between okonomiyaki and yakisoba topped with a thin omelet…

We went with mixed toppings/fillings that included pork, shrimp and squid…

A classic “buta tama” okonomiyaki was up next, simply topped with pork belly, mayo, sauce and seaweed…

I never like when okonomiyaki is referred to as “Japanese pizza” as I think it does the complexity of the dish and its flavors a disservice. However, looking at my “slice” here, I can see how it got its moniker…

Enjoying excellent okonomiyaki accompanied by pints of Asahi Super Dry, surrounded by haggard Japanese salarymen in these cramped quarters, our table shaking as trains rumbled overhead… lunch at Kiji was a true Osaka experience!

KIJI

Shin-Umeda Shokudogai

9-20 Kakudacho

Kita-ku, Osaka

JAPAN

“Andaikan kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hatimu akan meleleh karena cinta kepada-Nya.” Demikian Ibnu Qayyim mengatakan.

Bersyukurlah..
Bersyukurlah ketika hatimu merasa sakit tatkala menyadari jauhnya diri dari Allahu Rabbi, bersyukurlah ketika hatimu merasa perih tatkala menyadari sedikitnya ilmu yang melekat didalam diri. Itu tandanya, Allah memanggilmu lewat denyut-denyut nadi

‘Yaa ibaadi, yaa ibaadi’

Bayangkan, Allah memanggil kita, 'wahai hamba-Ku, wahai hamba-Ku.’ | Masihkah diri ini tak jua kunjung bangkit untuk 'memenuhi’ (?)

Andaikata kita tahu, begitu sempurnanya Allah mengatur setiap urusan hidup yang bahkan sesederhana melindungi kita kala terlelap, menjaga kita dari ratusan cara hewan merayap dan melata mendekat. Apa jadinya diri? Ketika tetiba ular atau bahkan sekecil semut masuk kedalam lubang telinga kita. Apa jadinya diri? Ketika tetiba kelabang muncul dari bawah kasur dan mencubit manis bagian tubuh kita. Yaa Allah, Al Muhaimin, semoga kita senantiasa mampu bersyukur, memecut futur yang kerap membuat kita menjadi kufur.

Maaf aku tidak suka dengan jarak yang kita ciptakan,pikiran ku bekerja terlalu keras untuk hal itu,bagai mana dengan hari mu.? Apa kau baik-baik saja.? Apa tidur mu cukup.?
Tentang kebohonganmu

Aku akan memaafkan segala bentuk kesalahanmu, bahkan jika itu menyakitiku, tetapi tidak untuk hal itu. Sebesar apapun aku mencintaimu, hatiku tak bodoh untuk terus memaklumi kebohonganmu. Satu lagi saja kebohongan kamu lakukan, semua mimpi kita ikut binasa bersamanya.

Kamu tak perlu mengusahakan banyak cara untuk melepaskanku, atau bingung bagaimana menghancurkanku, bohongi saja aku, maka kamu akan dapatkan semua itu, aku akan hancur ditelan kecewa, aku akan lepas bersama hancurnya rasa percaya.

Bagaimana bisa? Seseorang yang mengajari aku arti kepercayaan, mengajari aku bagaimana menjaga rasa percaya, memberitahu aku bagaimana untuk tak meragu untuk tak merusak kepercayaan, justru jadi seseorang yang menghancurkan aku berkali-kali dengan kepercayaan itu, justru meruntuhkan semua yang pernah kita bangun bersama.

“ku maafkan semua ini, walau tak ingin lagi ku melihatmu” – tak mungkin lagi, kerispatih

Mungkin jika semua itu terjadi lagi, aku akan memaafkanmu, tetapi aku pastikan tak ada lagi cara agar kita bersama kembali, hatiku telah kamu hancurkan, dan kamu telah mati diingatanku.

Kamu seharusnya belajar, bagaimanapun caramu membohongiku, dengan cara apapun itu, semesta selalu punya cara untuk memberitahuku. Mungkin semesta ingat, mengapa aku bisa menjatuhkan hati padamu, itu semua karena kejujuranmu.

Aku mencintaimu dan rasanya menakutkan kehilanganmu, namun aku lebih merasa takut ketika aku tak punya lagi alasan untuk mempercayaimu, tak punya lagi kepercayaan untuk dijaga, tak punya lagi kesempatan untuk mencintaimu selama yang aku mampu.

Jadi bisakah kamu tidak berbohong lagi padaku, bisakah kamu biarkan kebebasan yang aku berikan tak menjadi sesuatu yang kamu mainkan, bisakah kamu tidak lagi menyakitiku dengan sebuah kebohongan.

Bisakah kamu melakukan itu, hanya jika kamu masih mencintaiku?

Dan aku memilih untuk memberi sekat di antara kita.
karena ku sadari hatiku sangat menginginkanmu.
tapi tidak dengan dirimu.
aku hanya tidak ingin hatiku merasakan luka kembali.
Sebab Kau ( bukan ) Kekasihku

Berseraklah rindu yang tak sepantasnya bertabur untukmu. Sebab kau bukan kekasihku, Seringkali kumengumpat rasa yang tak sempat terpahat, melihat harap yang tak kuasa berpijak.

Sebab kau bukan kekasihku, kau yang sempat menjadi asumsiku, kerap kumenelan rindu yang tak layak terucap dan melebur dalam satu dekap.

Seringkali aku ingin kembali tanpa rasa, tapi arahku terperangkap, tersesat dilingkaranmu, bahkan mata angin pun menolak ku kembali. Kita ditakdirkan seakan dari kutub yang amat berbeda.

Dosakah aku mengagumimu meski kau bukan kekasihku, bahkan rintik hujan menolak, tak sudi menghantam tubuhku yang tak mampu kau terka.

@badutcerdas

Selasa, 4

Setabah Embun

Ku pikir semesta tak akan lagi menghadirkan temu di antara kita. Ku pikir kau telah hilang dibawa malam. Seperti bintang yang dipeluknya ke mana-mana, hingga pelangipun tak mampu mengintipinya.

Kau, terlalu berlebihan. Sejatinya aku tak pernah menghilang. Aku hanya sedang beper-gian, mencari jalan mana yang harus ku tempuh untuk pulang.

Sungguh kali ini kau berkata benar. Ku pikir aku telah berlebihan terhadapmu. Mengikutimu ke manapun dirimu berteduh. Mencuri detik-detikmu saat tersenyum dari balik awan-awan yang cerah. Hingga kau bersembunyi dari pandanganku. Kali ini aku sadari, sudah seharusnya aku merasa mendung.

Tidak ada mendung saat ini tuan, yang ada hanyalah senja. Lihatlah di sana. Bukankah ia begitu cantik dibalik ombak yang seakan melipat bumi. Ah, aku lupa kau telah bosan melihat senja. Senja dapat kau temui di balik gunung-gunung yang selalu kau elukan indahnya.

Senja tidak akan pernah membosankan untuk dinikmati, walaupun berkali-kali telah ku dapati hangatnya diruang dan waktu yang berbeda. Sama sepertimu. Segala upaya telah kulakukan untuk bersikap biasa-biasa saja, namun yang kudapati adalah kamu yang semakin meratui pikiranku.

Itulah sebab mengapa aku menemuimu saat ini tuan. Berhentilah berkeliaran dalam hidupku, seperti orang yang kesakitan jika tak menemuiku sehari saja. Aku merasa pengap melihat binar matamu yang begitu menaruh harap. Walau telah berkali-kali ku jelaskan padamu bahwa kita hanyalah serupa senja dan embun. Tidak diciptakan untuk berada dalam satu waktu yang sama.

Kau bukan Tuhan nona, yang dengan bijak mengatakan bahwa kita tidak diciptakan untuk bersama. Namun, bila hadirku sebegitu mengganggumu maka akan ku beri ruang yang begitu luas untukmu agar tak dapat kau temui aku lagi yang mengemis senyummu. Pun tak perlu lagi kau berlari ke sana ke mari hanya untuk menghindariku. Aku bukan hantu yang sedang berusaha menakutimu. Aku hanya seseorang yang sedang berusaha memilki perasaanmu.

Perasaan tetaplah perasaan tuan. Tak peduli seberapa besar kau berusaha memiliki-nya, dan aku yang berusaha menujumu. Bila ia ditakdirkan bukan untukmu, maka ia tak akan mampu berpura-pura menjadi milikmu. Maafkan tingkahku yang keliru menyikapi perasaanmu. Aku menghindarimu bukan karena terganggu. Aku hanya bermaksud membantumu melupakan perasaanmu terhadapku. Hingga dapat kau temui perempuan sejatimu yang tatapnya membuatmu gemetar, yang senyumnya membuat jantungmu bergetar, dan kau akan lupa sakitnya patah hati karenaku saat ini.  

Sudahlah nona, pulanglah sekarang. Senja telah hilang, petang telah datang, dan ombakpun tak lagi tenang. Tak perlu kau membantuku melupakan perasaanku terhadapmu. Karena aku lebih mengerti perasaanku. Pun tak perlu kau khawatirkan aku, karena akan ku ajari hatiku menjadi tabah. Setabah embun mengikhlaskan inginnya menikmati langit bersama senja. (Walau sejatinya masih ku harap suatu saat nanti, aku adalah pulangmu).

Ditulis: @langitkuitukamu
Dibacakan: @mangatapurnama & @langitkuitukamu

Untuk yang sahabatan kemudian baperan, selamat menikmati perasaan dan keadaan…

Made with SoundCloud

Kepadamu,
yang belum dijelaskan Allah.

Mungkin kini kita sudah saling mengenal,
atau bahkan belum pernah bertemu sama sekali.
Aku pun tak dapat memastikannya.

Tapi ku yakin,
saat ini kita sedang sibuk dengan pilihan kita masing-masing.
Kita yang saling menyibukkan diri untuk perkara masa depan.
Menyiapkan bekal guna menjadi seorang pasangan yang hebat.

Jika kelak kita bertemu,
ku ingin kita dapat menggenggam dunia dengan apa yang kita miliki.
Menjadi pasangan hebat yang saling mendukung.
Bukan saling menyalahkan dan egois.
Juga saling mengingatkan untuk terus bersyukur atas apa yang Allah beri.
Dan selalu berusaha menjadi bermanfaat untuk siapapun.

Ketika kita bertemu kelak,
ku harap mimpi-mimpimu akan menjadi mimpi kita bersama,
begitu pun aku. Kita akan mewujudkan mimpi besar.
Karena aku dan kamu telah melebur menjadi kita.
Aku akan menghormati segala keputusan yang kau buat.
Namun aku akan mengingatkan jika kau berada di luar jalur-Nya.

Kepadamu yang mungkin membaca ini.

Ku harap kau dapat menjadi imam terbaik dan penggenap agamaku.
Menjadi guru nomor 1 yang paling ku percaya dalam hal apapun.
Sahabat yang paling mengerti dan akan selalu ku cari.
Partner bertukar pikiran terfavoritku.
Mungkin juga akan menjadi atasan bisnis yang akan kita bangun kelak.

Tetapi kau perlu tahu.
Mungkin aku tak akan bisa berada di rumah 24 jam terus menerus,
karena tanggung jawabku nanti adalah sebagai seorang pekerja sosial.
Namun aku tetap akan selalu menyediakan apa yang kau butuhkan.
Tak ada alasan bagiku untuk menolak permintaanmu.

Aku juga ingin menjadi alasanmu tersenyum dan hilangnya lelahmu.
Selepas kau bertarung dengan kejamnya dunia seharian,
mencari rezeki untuk jiwa-jiwa dalam keluarga ini.

Kemudian saat malam menjelang, ku kira kita akan saling banyak bercerita.
Aku dengan kasus-kasus yang ku alami dalam ruang praktek ku,
dan kamu dengan perangkat yang kau kuasai di lapangan.
Membayangkannya saja sangat seru, karena mungkin kita berada di 2 bidang yang berbeda.
Ketahuilah. Aku selalu senang mendengar dan belajar hal baru.

Tetapi yang perlu kau pahami,
mungkin aku akan lebih banyak menangis.
Apalagi ketika aku tak dapat membantu pasienku untuk sembuh.
Atau ketika aku menemukan masalah dalam menangani kasus.
Ku harap kau mengerti bahwa tanggung jawab ini cukup berat bagiku.

Aku ingin kau dapat menghapus tangis yang meleleh.
Mengusap kepalaku dengan penuh kelembutan.
Ku kira, aku hanya perlu ditenangkan.
Bukan disalahkan atau digurui.

Begitu juga ketika kau mendapat ujian dalam pekerjaan.
Aku tak akan menambah bebanmu. Aku akan selalu berusaha mandiri.
Aku berusaha tumbuh menjadi seseorang yang independen.
Tidak bergantung kepadamu atau meminta bermacam-macam hal.

Ingatlah, aku selalu menunggumu pulang.
Aku ingin menjadi yang pertama akan menghapus keringat lelahmu,
dan mendengar semua keluh mu. Aku akan memelukmu dalam kasih sayang.

Tetapi bila nanti kita dipertemukan,
ku harap kau tidak mempermasalahkan masa laluku.
Tidak berusaha menjatuhkanku ketika kau mengetahui masa kelamku.
Aku hidup di saat ini dan untuk masa depan.
Aku telah belajar banyak dari apa yang kulalui selama ini.
Sehingga aku berusaha sebanyak mungkin melakukan hal baik yang dapat menebusnya.

Bersabarlah, aku sedang mengusahakan supaya hidup kita kelak bahagia dan tidak kekurangan.
Percayalah, aku akan menjadi wanita yang dapat kau banggakan.
Yakinlah, bahwa Allah akan mempertemukan kita dalam keadaan yang sangat baik.

Sampai ketemu.

Dari teman hidup yang akan menyempurnakan masa depanmu.

Pada dasar nya aku sulit menerka siapa yang akan ada di sampingku kelak, menemani hari hariku. Duduk di balkon atau serambi teras ku tuangkan teh pada cangkirmu sambil kita menikmati senja. Yang ku tau hari ini kau bersamaku, namun ku tak tau kelak semesta merestui kita atau tidak. Dan yang kita tau apa2 yang kita usahakan dengan baik pasti semesta akan merestuinya. Dan yang paling aku tau tangan ku menggenggam erat tanganmu saat ini
—  Efpe , 2017

Cinta Bukan Perihal Berdua Saja

Ku lihat binar matamu yang begitu teduh di balik debur ombak yang menyapa pasir putih. Kau berkacak pinggang memarahiku yang hanya berdiam diri memandangimu dari balik kayu-kayu rapuh yang hampir sekarat di makan ombak. Dan aku masih tak bergeming dari tempatku kali ini, menikmati riuhnya kamu di hadapanku sungguh begitu menyenangkan. Darimu aku belajar banyak hal. Kamu membuatku menyadari bahwa cinta bukan hanya tentang aku dan kamu, tidak melulu tentang cemburu dan rindu. Namun juga tentang mereka, tentang keluarga kita.

Masih ku ingat betapa tajam tatapan Ayahmu terhadapku saat pertama kali kau dengan muka pucat membawaku kehadapannya. Terlihat kau begitu khawatir aku tak mampu menghadapi-nya. Ku lakukan segala cara untuk membuatnya sedikit baik terhadapku. Menemaninya minum kopi, membaca koran, dan hingga akhirnya pembicaraan mengalir begitu saja. Ayahmu berbicara banyak hal, tentang politik di negeri ini, tentang agama, bahkan tentang bagaimana takutnya ia gagal menjagamu dan membahagiakanmu. Ku lihat wajahnya sendu menyebut namamu di hadapanku, seakan ia sedang mengingat betapa waktu begitu cepat berlalu. Kau yang dulu masih merengek-rengek meminta gendong, kini telah menjadi dewasa. Aku menjadi mengerti, betapa menjadi Ayah itu tidak mudah. Ayah adalah sosok yang begitu dingin, namun hatinya begitu hangat.

Lain halnya dengan ibumu, dia begitu lembut, namun mengenai kamu, ia bisa berubah menjadi orang yang paling menakutkan. Matanya menjadi tanda bahwa tidak satupun orang yang boleh menyakitimu. Di sela-sela aku menemaninya merawat bunga kamboja kesukaannya, ku lihat dia sedikit menghela nafas panjang saat ku tanyakan bagaimana sulitnya mengurus keluarga. Lalu 5 detik kemudian ia bercerita tentang pengalamannya menjadi ibu selama ini. Darinya aku belajar bahwa menjadi ibu perlu memiliki banyak ilmu. Ilmu untuk mendidik anak-anaknya, ilmu untuk menjadi pribadi yang hangat hingga seluruh keluarganya mampu merasakan ketenangan. Ilmu untuk menjadi istri yang selalu dicintai suami. Bahkan ilmu untuk pandai memasak, hingga gizi seluruh keluarga terpenuhi. Betapa menakjubkan tugas yang harus diemban seorang ibu.

Dan mengenai saudara-saudaramu? Ah iya, aku tak mungkin lupa bahwa dibalik keramahan mereka menerimaku, mereka membuatku meringis saat mereka mengancamku untuk tidak menyia-nyiakanmu. Dari sekian banyak pembicaraanku bersama kakakmu mengenai bagaimana sulitnya mencari pekerjaan, dan bagaimana repotnya bekerja. Aku menjadi belajar bahwa bekerja bukanlah sesuatu yang merepotkan bila yang kita kerjakan adalah apa yang kita senangi. Dan darinya pula aku belajar bahwa menjadi kakak memerlukan tanggung jawab yang cukup berat, ia harus mampu menjadi teladan yang baik bagi adik-adiknya.

Dan bagian yang paling ku sukai adalah saat aku bersama adikmu. Menemaninya bermain atau bahkan hanya sekedar menemaninya berbicara. Dia berceloteh dengan begitu jujur dan wajah yang begitu polos, dia berceloteh perihal pelajaran di sekolahnya, gurunya disekolah, bahkan tentang bagaimana ayah, ibu, kakak, dan dirimu di rumah. Darinya aku belajar 1 hal. Bahwa ketika kita mencintai, kita perlu menjadi orang yang jujur. Hingga bukanlah kebohongan yang kita beri, namun kebenaran.

Aku menatapmu sekali lagi, dan kau menatapku dengan wajah bingung. Ah, betapa bersyukurnya aku pada Tuhan menjadikanmu sebagai wanitaku. Bersamamu aku tidak takut akan kegelapan yang berkali-kali semesta berikan padaku, karena kau datang serupa cahaya.

Ditulis: @langitkuitukamu dan @mangatapurnama

Made with SoundCloud
ALLAH MENJAWAB AL-FATIHAH KITA

Banyak sekali orang yang tegesa-gesa ketika membaca Al-Fatihah disaat shalat.. tanpa spasi, dan seakan-akan ingin cepat menyelesaikan shalatnya.

Padahal di saat kita selesai membaca satu ayat dari surah Al-Fatihah, ALLAH menjawab setiap ucapan kita.

Dalam Sebuah Hadits Qudsi Allah SWT ber-Firman:

“Aku membagi al-Fatihah menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk Hamba-Ku.”

■ Artinya, tiga ayat di atas Iyyaka Na'budu Wa iyyaka nasta'in adalah Hak Allah, dan tiga ayat kebawahnya adalah urusan Hamba-Nya.

■ Ketika Kita mengucapkan “AlhamdulillahiRabbil ‘alamin”.

Allah menjawab: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Ar-Rahmanir-Rahim”.

Allah menjawab: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Maliki yaumiddin”.

Allah menjawab: “Hamba-Ku memuja-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Iyyaka na’ budu wa iyyaka nasta’in”.

Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan Hamba-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Ihdinash shiratal mustaqiim, Shiratalladzinaan’amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhooliin.”

Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku. Akan Ku penuhi yang ia minta.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

■ Berhentilah sejenak setelah membaca setiap satu ayat.

Rasakanlah jawaban indah dari Allah karena Allah sedang menjawab ucapan kita.

■ Selanjutnya kita ucapkan “Aamiin” dengan ucapan yang lembut, sebab Malaikat pun sedang mengucapkan hal yang sama dengan kita.

■ Barangsiapa yang ucapan “Aamiin-nya” bersamaan dengan para Malaikat, maka Allah akan memberikan Ampunan kepada-Nya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud)

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam; “Siapa yang menyampaikan satu ilmu dan orang membaca mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun sudah tiada.” (HR. Muslim).


Sebenarnya memang sudah lama aku idamkan bekas adik ipar aku, Zairi. Dari kali pertama aku melihatnya lagi. Tapi waktu itu dia memang sudah bersuami dan beranak dua. Namun tubuhnya tetap menggiurkan. Tapi apa kan daya, waktu itu pula aku juga baru saja berkahwin dengan kakaknya yang sebelum itu sudah beberapa tahun bercerai dengan suami pertamanya. Tapi kerana pada waktu itu aku betul2 menyintai kakaknya, segala nafsu seks yang aku punyai terhadap Zairi kupendamkan saja.

Namun pada suatu hari, perasaan itu datang dengan membuak apabila Zairi menumpang tidur di rumah ku. Kerana memang sudah kebiasaan, kami berada di depan TV. Zairi telah tertidur di atas sofa kerana baru sampai pada petang itu dan mungkin agak keletihan. Tubuhnya yang memang menaikkan nafsu setiap lelaki yang memandangnya, lebih menggiurkan lagi dengan skirt sedikit terselak, menampakkan kegebuan pehanya. Dan sesekali bila aku membongkok mengambil minuman di atas meja dapat ku lihat jauh ke pangkal pehanya hingga seluar dalam putih yang dipakainya jelas kelihatan.

Namun kerana isteri ku berada bersama ketika itu, aku buat2 tak nampak dan menumpukan perhatian ke arah TV saja. Sesekali2 aku mencuri2 pandang juga dan mahu tak mahu batang ku mulai menegang. Kalau isteri ku tiada di situ, memang akan aku akan berlutut di depan Zairi dan pandang sepuas2nya kalaupun aku tidak cuba menidurinya.

Selesai rancangan berita tengah malam, isteri ku mengejutkan Zairi untuk masuk tidur di dalam bilik. Zairi membetulkan skirtnya dan berjalan perlahan masuk ke dalam bilik tetamu yang telah disediakan untuknya. Aku dan isteriku pula ke bilik tidur kami.

Namun aku tidak dapat tidur kerana batang ku tidak juga mahu turun. Aku memeluk isteri ku dari belakang dan tangan ku merayap mencari buah dadanya. Aku ramas perlahan2 sebelum menyeluk tangan ke dalam baju tidurnya. Tangan ku meramas perlahan daging2 kembar itu sehingga puting2 teteknya mulai berkerut2 dan mengeras. Isteri ku bangun duduk dan membuka terus baju tidurnya di dalam gelap. Kemudian dia menindih tubuhku dan mulutnya mencari2 mulut ku. Bibirnya yang lembut tak bergincu terbuka untuk menerima lidah ku. Memang isteri ku ini mahir dalam permainan ranjang, mungkin kerana sudah pernah berkahwin dan mempunyai anak.

Sambil itu tangannya meraba2 di celah kangkang ku mencari batang ku yang telah keras. Apabila ketemu tangannya mengusap perlahan2 membuat aku mendengus. Aku terus saja membuang seluar pendek yang biasanya aku pakai semasa tidur. Tangan ku meraba2 punggungnya yang lebar sebelum ke celah kangkangnya pula. Memang isteri ku sudah basah dan bersedia untuk disetubuhi. Namun jari2 ku tetap bermain2 di celah bibir kemaluannya. Ku belai di alur dan mencari2 kelintitnya yang sudah mengeras. Ku kuis2kan sehingga dia mula menggeliat.

Muka isteri ku pula turun ke leher ku. Dia menggigit dan menghisap2 perlahan. Memang itu merupakan isyarat bahawa dia memang sudah cukup bersedia. Itu merupakan isyarat yang selalu digunakannya sewaktu kami bersetubuh. Aku menarik peha kanannya supaya mengangkang di atas ku. Dia menuruti saja. Malah cepat2 dia melabuhkan punggungnya sambil tangannya memegang batang ku dan menyelitkan di antara bibirnya kemaluannya. Dengan sekali tekan saja batang ku sudah tenggelam sepenuhnya.

Isteri ku menggerakkan punggungnya turun naik melawan gerakan aku sendiri di bawahnya. Walaupun sudah beranak, memang isteri ku pandai menggunakan liangnya dan masih tetap terasa ketat lagi. Pernah dia memberitahu aku dulu bahawa selepas beranak, dia dengan menggunakan jarinya dia membuat senaman liang unntuk mengetatkannya semula. Cara kedua ialah ketika membuang air kecil. Ketika membuang separuh jalan, dia akan menggunakan otot2 dalaman untuk mengentikan air kencing. Dengan cara itu dia berjaya membuat latihan mengemut.

Memang kalau dia dah mulakan kemutan aku tidak akan terdaya bertahan lama di dalamnya. Kemutannya cukup istimewa sekali. Tapi dia tidak akan memulakan kemutan sehingga dia sendiri sudah hampir ke kemuncaknya sendiri. Tapi pada malam itu aku terpaksa bertahan sedaya upaya kerana setiap kali terbayangkan peha Zairi yang terkangkang aku semakin terangsang lagi. Lalu akau percepatkan tolakan batang ku ke dalam kemaluan isteriku.

“Aarrghhh….!” dia mendengus apabila sampai ke kemuncaknya. Aku juga sudah hampir juga sambil aku bayangkan bahawa pada ketika itu bahawa sebenarnya Zairi yang berada di atas ku. Ku bayangkan bahawa kemaluan Zairi tengah mengemut2 batang ku. Tiba2 saja batang ku mengembang dan aku mula memancut di dalam isteri ku. Aku menggigit bibir supaya tidak terlepas keluar nama Zairi secara tidak sengaja dalam keseronokan ku itu. Kalau tak memang besarlah padahnya nanti. Selepas itu kami terus tertidur dalam keadaan bogel.

Keesokannya aku keluar ke pejabat pagi2 lagi selepas bersarapan dengan isteri ku. Bila pulang sebelah petang, Zairi sudah tiada. Kata isteri ku, dia ke Parit Buntar, melawat bekas mertuanya yang ditugaskan untuk menjaga kedua anaknya.

Beberapa tahun kemudian Zairi berpindah semula ke KL. Dia telah bercerai dengan suami keduanya pula. Anak2nya kini duduk bersamanya dan bersekolah di KL. Terlepas peluang lagilah nampaknya aku.

Tidak lama kemudian aku pula bercerai dengan isteri ku kerana tidak tahan dengan gangguan bekas suaminya yang gila talak. Walaupun kedua kami tidak menginginkan perceraian ia terjadi juga. Dengan jawatan dan kedudukan ku sebagai pegawai kanan di sebuah syarikat kewangan besar, aku memang mampu untuk memelihara anak2 tiri ku. Namun aku tidak sanggup memberi makan kepada
bekas suaminya sekali. Oleh itu, perkara yang tidak diingini berlaku juga akhirnya dan aku keluar rumah dengan sehelai sepinggang.

Walaupun waktu itu aku tidak merasainya, namun perceraian itu juga menguntungkan aku. Tak perlu lagi aku melihat muka bekas suami kepada janda ku itu. Tak perlu juga menanggung beban yang selama ini aku tanggung dengan penuh reda. Untung kedua ialah kerana Zairi juga masih belum berkahwin dan sekiranya aku tidur dengannya, tak akan terasa bersalah kepada isteri ku lagi.

Peluang untuk aku meniduri Zairi datang secara mendadak apabila suatu hari dengan tak semena2 aku menerima panggilan telefon darinya. Dia ingin berpindah rumah dan tahu bahawa aku memang suka menyimpan kotak2 dalam stor rumah aku. Aku pelawanya datang mengambil kotak2 itu dari rumah ku.

Pada pagi Sabtu yang bersejarah itu, Zairi tercegat di depan pintu ku. Aku baru mengenakan pakaian harian setelah mandi. Aku pelawanya bersarapan bersama ku. Dia tidak keberatan walaupun dia cuma minum kopi saja.

“Kamu ni nak pindah ke mana pula?” aku bertanya.

“Zairi dipindahkan ke Pulau Pinang,” katanya.

“Berapa lama?”

“Entahlah. Terpulanglah pada majikan,” jawabnya.

“Habis kamu suka kena pindah?”

“Nak kata suka tu tak lah sangat. Tapi since dinaikkan pangkat, terima sajalah.”

“O…dah jadi penguruslah, ya?”

“Begitulah kira2nya,” katanya sambil tersengeh.

Memang manis si Zairi ni, apalagi bila dia tersenyum. Lebih manis daripada kakaknya, yang memang cantik tapi nampak garang sedikit. Hari itu dia memakai skirt jeans dan t-shirt saja.Batang ku mulai mengeras dan aku mula berfikir bukan2. Kalau diajak, mahukah dia? Tapi kalau tidak diajak, memang terus terlepas, fikir ku. Aku pun nekad mencuba nasib.

Selepas sarapan aku menolong memindahkan kotak2 ke keretanya. Selesai memunggah, kami masuk semula ke dalam rumah. Zairi ke bilik air untuk mencuci tangan. Aku mengunci pintu depan rumah dan menunggu. Setelah keluar dari bilik air dia mengambil tempat duduk di sofa panjang depan ku dalam ruang tamu. Untuk mengisi kesunyian kami berbual2 kecil tentang perkara2 yang tak berapa penting sangat.

Aku bertanyakan khabar tentang bekas isteri ku. Zairi menjawab bahawa bekas isteri ku itu telah kawin semula dengan bekas suaminya dulu. Zairi pula bertanyakan tentang aku. Aku menjawab bahawa masih belum ada jodoh barangkali. Zairi sendiri masa itu juga sudah bercerai. Dia berkata mungkin dia juga belum ada jodoh lagi. Peluang aku nampaknya semakin cerah. Memang aku tahu dari dulu lagi yang Zairi sangat tinggi kemahuan seksnya. Jadi mungkin dia tidak keberatan sangat bila ku ajak nanti.

“Habis kamu tak gian ke?” aku mulai gatal.

“Ish…!” dia ketawa. “Abang pula macam mana?”

“Bila gian sangat pakai tangan sendirilah,” aku menjawab.

“Kesiannya…”

“Kamu?”

Dia merenung ku tajam sambil menggigit bibir. Aku bangun dan duduk di sebelahnya.

“Dah berapa lama kamu tak kena?” aku bertanya.

“Alah…abang ni…” dia mencubit peha ku.

Aku semakin berani dan mencapai tangannya.

“Kamu nak?”

“Huh?”

“Aku tanya kamu nak tak? Kalau nak jom kita main,” kata ku bersahaja.

“Tak naklah.”

“Alah, marilah. Aku pun dah lama tak main.”

“Yalah, tapi apa pula dengan I? Kan I ni adik ipar you?”

“Bekas adik ipar,” aku membetulkan kenyataannya. “Lagipun kita sama2 tak terikat dengan sesiapa kan?” Aku meramas2 tangannya. Dia terdiam memandang ku. Barangkali dia dah sedar bahawa aku bukan lagi berseloroh.

“OK, kalau tak mahu main, bagi aku kucup bibir mu boleh?”

Dia mengangguk dan mukanya bergerak ke arah ku. Entah bau minyak wangi ke bau bedak, aku tak pasti. Yang aku tahu memang Zairi waktu itu menggiurkan sekali. Baunya yang semerbak menusuk2 hidungku dan membuat aku semakin terangsang. Bibirnya terbuka sedikit apabila kami berkucupan. Aku merangkul tubuhnya dengan lengan kiri sambil sebelah kanan memaut tengkoknya. Beberapa kali dia cuba mengalihkan mukanya tapi tak ku lepaskan. Bibir ku terlekat pada bibirnya sambil lidah ku masuk ke dalam mulutnya. Dia membalas dengan menghisap2 lidah ku pula.

Apabila muka kami renggang, dia kelihatan sesak nafas sikit. “Sudahlah tu, I nak balik.”

Namun dia tidak bergerak untuk bangun dari sofa.

“Yang aku minta kucup tadi bukan bibir ni,” aku menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk ku. “Tapi bibir yang tu…” aku menunjuk ke celah kangkangnya.

Dia nampak tersentak sikit. “Dasyatlah abang ni. Minta yang bukan2.”

“Apa pula yang bukan2nya? Apa kamu tak suka dikucup di situ?”

Dia nampak tersipu2 dan tidak menjawab pertanyaan ku. Namun dia tidak nampak tersinggung dengan kata2 ku. Melihat dia masih juga tidak menunjukkan tanda2 akan bangun dan pergi meninggalkan aku, aku bertindak lebih berani lagi. Aku buka zip seluar ku dan keluarkan batang ku dari seluar dalam.

“Tengok. Ingat pada bibir kamu saja aku sudah jadi begini”

Matanya terbeliak memandang batang ku yang sudah keras menegak itu. Aku nampak dia berada dalam keadaan serba salah dan dadanya turun naik dengan kencang. Aku terus mengambil tangannya dan meletakkan di atas batang ku. Dia memandang muka ku sambil menelan air liurnya. Namun tangannya masih berada di batang ku. Aku agak dia pun sudah mula terangsang. Kalau tidak menagapa dia tidak sentap saja tangannya dan tidak saja keluar dari rumah aku sejak aku melondehkan seluar ku tadi. Malah tangannya dengan sendirinya mula membelai batang ku.

Aku rangkul pinggangnya dan terus mengucup mulutnya sekali lagi. Kali ini dia membalas dengan lebih hebat lagi. Sebelah lagi tangan ku meraba2 lututnya sebelum perlahan2 aku masukkan di bawah skirtnya. Pehanya yang selama ini menjadi inspirasi khayalan kini ku raba semahu2nya. Bila tangan ku meraba ke atas lagi, dia membuka sedikit pehanya. Akhirnya aku sampai ke tempat yang hanya dibaluti sehelai seluar dalam. Terasa hangat sedikit walaupun bahagian bawahnya sudah agak lembab sedikit. Ku raba tempat yang benjol itu. Disebalik seluar dalam nipis itu aku dapat ku rasa sepasang bibir yang dipagari bulu2 yang pasti sudah dicukur rapi. Tubuhnya menggeliat sambil sebelah lagi tangannya merangkul tengkok ku.

Aku melepaskan Zairi dan mengajaknya ke bilik tidur. Dia hanya mengangguk saja. Aku bangun berdiri dan membetulkan seluar ku. Lepas itu aku menarik tangannya supaya menuruti aku. Dia mengikut saja. Setelah mengunci bilik aku melucutkan pakaian ku. Zairi juga tanpa disuruh menanggalkan pakaiannya dengan sendiri. Dalam sekejap masa saja kami berdua sudah sama2 berbogel. Aku terus memeluknya dan kami berkucupan sekali lagi. Tubuhnya tidak sebesar atau setinggi bekas isteri ku. Namun memang enak dipeluk. Apalagi buah dadanya lebih besar dari kakaknya dan masih tetap tegang.

Ku peluknya dan bawa dia ke katil dan menolaknya supaya berbaring. Kemudian kurebahkan diri di tepinya. Dia berpaling dan memeluk ku. Kelembutan buah dadanya yang membusut itu tertekan rapat pada dada ku. Sekali lagi kami berkucupan sambil tangan kiri ku merayap ke punggungnya. Ku ramas daging pejal itu sampai dia menggeliat. Aku hisap lidahnya yang masuk ke dalam mulut ku.

Ku angkat peha kanannya supaya berada di atas peha ku untuk lebih mudah aku membelai celah kangkangnya dari belakang. Ku dapati celah kangkangnya sudah basah. Aku berhenti seketika dan tidur meniarap. Ku suruh dia naik ke atas ku. Kemudian ku menarik tubuhnya ke arah ku sehingga akhirnya dia duduk bertinggung di depan muka ku. Kemaluannya yang dipagari bulu2 hitam halus terbuka luas seolah2 mempelawa kucupan dari ku.

Peluang itu memang tidak aku lepaskan. Aku rapatkan muka ku ke rekahan itu. Dengan hujung hidung ku kuis kelentitnya. Dia mendengus, kemudian merengek kecil apabila aku menjilat di tengah2 rekahan pukinya. Aku masukkan lidah ku ke dalamnya sambil membuat sedutan kecil. Kemaluannya semakin banyak mengeluarkan lendir dan dia mula menggerang sambil punggungnya bergerak2 kuat menyuakan kemaluannya untuk dikerjakan dengan mulut ku.

“Aaah…I dah nak sampai, bang.”

“Keluarkan dalam mulut abang.”

“Tak nak ah!”

“Please, I want to taste you.”

“Belum cukup taste lagi?”

“I want you. I want all of you,” aku berkata dan kembali menjilatnya lagi.

“Betul, bang. I dah tak tahan ni…” katanya sambil punggungnya cuba dilarikan dari atas muka ku. Namun aku tak benarkan. Aku rangkulnya supaya tidak dapat bergerak dari atas muka ku sambil aku menghisap dan menjilatnya dengan lebuih ganas lagi.

“Aaabbbbanng…!!!” dia berteriak diikuti dengan semburan hangat ke mulut dan hidung ku. Aku terus menghisap sehingga nafasnya reda sedikit. Aku tersenyum padanya.

“Sedap?”

“Mmm…memang abang pandai jilat.”

“Now I wanna fu*k you.”

“Mmm…” dia bergerak ke bawah. Zairi memegang batang ku sambil meletakkan di celah2 bibir pukinya. Dia duduk perlahan2 sehingga batang aku tenggelam sepenuhnya. Kemudian dia mengemut2kan bahagian dalamnya. Rupa2nya kebolehnya setanding dengan kakaknya juga. Giliran aku pula mengerang keenakan.

“Apa macam? Is fucking me as you imagine it would be?”

“Macam mana you tahu abang syok kat you?”

“Alahai…abang nampak peha I sikit saja, bukan main lagi abang bantai sister I malam tu,” dia ketawa kecil.

“Macam mana you tahu? Kakak you cakap, ya?”

“Dia tak payah cakap. I kan tidur bilik sebelah. I dengar semuanya.”

“You nakal, ya? Curi2 dengar orang main pulak.”

“Habis apa nak buat, abang dan kakak cukup bising bila main.”

“Dah tu you tak stim?”

“Apa tak stimnya, I kena pakai tangan, tau tak?”

“Kesiannya. Apa pasal tak datang minta tumpang sama kakak you?”

“Nak nahas! Kakak I tu kan jealous orangnya.”

“Tak pe lah. Kan sekarang you dapat juga.” Aku ketawa sambil keluar masuk perlahan2 di dalamnya.

Dia menggerak2kan punggungnya sampai terasa lagi dalam batang ku terbenam di dalam lubangnya.

“Abang belum jawab. Am I as you imagine I’d be?”

“You’re better than I imagine,” kata ku.

“Amboi, pandainya abang puji.”

“Betul. Memang syok habis main dengan you.”

Aku memeluknya dan memusingkan badannya supaya sekarang dia berada di bawah pula. Ku letakkan kedua kakinya di atas bahu ku sebelum sekali lagi bergerak keluar masuk. Setelah beberapa lama, aku tukar posisi pula. Ku ambil bantal peluk dan letakkkan di bawah punggungnya supaya celah kangkangnya lebih tinggi dari tubuhnya. Setelah memasukkan batang ku, kurapatkan kakinya. Peha ku megepit pehanya dari luar sementara kedua betis ku berada di bawah pehanya. Cara itu kemas sekali dan aku tahu akan membuat lubangnya lebih ketat.

Apabila aku menujah lubangnya dalam posisi itu, Zairi mula mengerang dengan kuat. Dia nampak tidak tahan dimain cara itu. Aku memeluk dan mengucup mulutnya. Dia juga kemas merangkul belakang ku. Aku menujah dengan lebih laju lagi sehingga badan ku sudah berpeluh. Tiba2 dia menggigit tengkok ku.

“Abbbannnggg…uh…arrrgghhh!!” dia berteriak seraya aku merasakan kehangatan di sekeliling batang ku.

Aku juga tidak berupaya menahan lagi dan mula melepaskan pancutan di dalamnya.

Aku kucup bibirnya. “That was nice.”

“Mmm…” katanya. “Patutlah sister I sayang sangat dengan abang dulu.”

“Apa pasal?”

“Abang memang pandai main. Tak pernah I syok macam ni.”

“Ai, tak kan pula you tak pernah kena macam ni?”

“Biasa tu biasalah. Tapi tak sehebat yang abang buat.”

“Nampaknya, kalau macam ni you kenalah datang ambil kotak di rumah I selalu, ya?”

“Malangnya I dah kena transfer ke Penang minggu depan, bang.”

“Well, any time you datang KL, give me a call.”

“Okay, I will.”

“Janji?”

“Janji!”

Zairi ke bilik air untuk membersihkan dirinya. Sepuluh minit kemudian dia keluar dan mula mengenakan pakaiannya.

“Zai, bila kamu akan ke Pulau Pinang?”

“Minggu depan.”

“Dengan anak2 kamu sekali?”

“Mana pulak. Mereka kan sekolah. Terpaksalah mereka duduk di KL dulu.”

“Habis mereka duduk di mana?”

“I akan tinggalkan mereka dengan di rumah bapa merekalah.”

“You nak suruh I hantar you ke Pulau Pinang ke?”

Dia berpaling dan tersengeh.

“Abang ni nak tolong I ke nak cari kesempatan?”

“Kedua2nya,” aku berkata sambil ketawa.

“Habis abang tak payah kerja ke?”

“Ala…cuti aku banyak lagi. Lagi pulak aku pun dah lama tak ke Pulau Pinang.”

“Terserah…kalau abang betul2 mahu.”

Dia membongkok untuk memakai seluar dalamnya. Kemudian di duduk di atas katil membelakangi aku sambil memakai make-up pula. Memang tubuh bekas adik ipar ku ini amat menggairahkan apalagi dalam keadaan separuh bogel. Aku dapat merasakan batang ku mulai keras semula.

“Zai…”

“Mmm…?” jawabnya manja. “Apa dia?”

Dia berpaling apabila aku tidak menjawab. Mukanya nampak kehairanan. “Apa?”

“Nak lagi.”

“Nak apa?”

“Nak kamu lah.”

“Eh, mengada2nya dia. Kan baru sudah?”

“Betul. Tengok,” kata ku, mengalihkan selimut yang menutup celah kangkang aku. Memang batang ku sudah keras.

“Mengarut betul lah abang ni. Kan I dah mandi ni. Nanti berpeluh2 lak.”

“Ala…kita main slow2 supaya tak berpeluh, ok?”

“Abang ni selalu gitu ke?”

“Taklah. Tapi dengan kamu lain pula. Memang aku tengok kamu saja aku dah keras.” Aku tahu pujian itu tentu membuat dia kembang sikit.

“Itu I tahu lah. Tapi tak kanlah pula setiap kali keras, abang nak panjat I saja?”

“Tak lah macam tu. Tapi bila kamu tak ada di sini, aku keras pun nak buat apa? Ini masa kamu ada sini saja yang aku boleh panjat.”

Dia tergelak. Aku bangun dan memeluknya dari belakang. Muka ku menyondol2 lehernya. Dia menggeliat2 kegelian. Kedua tangan ku ke depan dan memegang bahagian bawah teteknya. Aku ramas perlahan2 sebelum mula menggentel putingnya. Dia mendesah. Belum sempat dia memakai gincunya dengan betul, dia berpaling dan mengucup mulutku. Aku pun memang tidak mahu melepaskan peluang. Aku tahu Zairi juga dah gian setelah aku mainkan dia dengan betul2 tadi. Sangkaan aku bahawa dia memang gemarkan seks juga tidak meleset. Apalagi dia juga dah lama tak kena betul2, jadi bila dah diuli dengan cukup oleh aku tadinya dia memang bersedia untuk disetubuhi lagi.

Aku tariknya dan rebahkan dia di atas katil. Bila ku buka seluar dalamnya dia tidak membantah. Sekali lagi muka ku ke celah kangkangnya. Aku mahu menciumnya sepuas2nya. Ku kucup bibir bawahnya yang masih tertutup, satu garisan tebal yang dipagari bulu2 halus. Ku jilat di sepanjang garisan. Dapat ku rasakan lendirnya sudah mula keluar sedikit. Aku ingin melihat tempat itu semakin basah. Jadi terus ku tekankan lidah ku ke dalam.

“Uh..ahhhh!” Zairi mengerang apabila lidah ku tenggelam sepenuhnya di dalam kemaluannya. Punggungnya bergerak2 ke kiri dan kanan menahan kenikmatan yang diberikan lidah ku. Mulut ku membisikkan kata2 mesra di seluruh pelosok kemaluan Zairi dan dalam sedikit masa saja ku rasa mulut kuu dibanjiri air yang tersembur dari celah kangkang bekas adik ipar ku. Setelah nafasnya kembali reda, dia menolak kepala ku dari celah kangkangnya. Dia menyuruh ku berbaring terlentang. Dalam keadaan itu batang ku tegak mencanak.

Zairi menyentuh batang ku sambil ketawa. “Wah bukan main lagi, ye?”

Kini giliran ku pula untuk menikmati kehebatan Zairi di ranjang. Dia menundukkan kepalanya dan mengambil kepala tombol ku di antara bibirnya. Memang sedap cara cara Zairi menghisap btg ku. Lidahnya bermain di sekeliling kepala tombol sambil bibirnya menyoyot. Diikuti pula dengan turun naik kepalanya sambil seluruh batang ku dikeluar-masukkan di dalam mulutnya.

“Cukup, sayang…” kata ku, sambil memegang kepalannya supaya berhenti.

“Kenapa? Tak syok ke cara I give blowjob?”

“Apa tak sedapnya. Aku dah nak pancut tadi.”

“Tak mau pancut dalam mulut I?”

“Not this time. Kali ini aku nak pancut dalam anu kamu.”

Aku manarik tubuh Zairi sehingga dia menindih aku. Kedua pehanya terkangkang luas. Tanpa disuruh tangan Zairi kke belakang mencari2 batang ku. Apabila ketemu, terus dipimpin batang ku ke lubangnya. Bila terasa saja batang ku berada di pintu sasaran aku mengangkat punggung ku dan menenggelamkan batang ku sepenuhnya dalam fefet Zairi.

“Mmmmmnnnnhhhh…!” Zairi mengerang sambil punggungnya bergoyang2 dengan kencang. Aku biarkan dia mengemudi dulu. Cara dia memang cukup hebat. Dia suka sekali menyimpan batang ku sepenuhnya di dalam dan menggoyangkan punggungnya. Cara itu membuat kelentitnya cukup terangsang kerana digesel2 dengan pangkal batang ku. Dengan berbuat begitu dalam sekejap masa saja dia dapat sampai ke kemuncaknya. Aku biarkan dia mendapat kepuasan pertamanya dulu sebelum aku sendiri mencari puncak ku sendiri. Ku tariknya supaya tidur rapat di atas ku. Sambil memeluk pinggangnya aku mula menujah lubangnya dari bawah sampai berdecek2 bunyinya. Cara itu pula membuat aku sendiri amat cepat pancut. Apabila selesai aku memang rendam batang ku lama2 di dalamnya. Tak mahu rasanya aku nak melepaskan dia pergi.

04:31

Kita berdua di pertemukan untuk saling menerima, saling menguatkan satu sama lain.

Jika ujian itu datang dan membuat kita jatuh terpuruk bahkan hampir menyerah, semoga satu di antara kita tetap berusaha untuk kuat dan menguatkan salah satunya. Sebagaimanapun, ku yakin kita saling ada untuk menguatkan bukan untuk dikalahkan bersama sama oleh ujian.

Jika godaan itu datang dan membuat kita rasa rasanya ingin mengikuti bisikan bisikan buruk, semoga satu di antara kita dimampukan untuk mengingatkan bahwa perjalanan kita berdua adalah menuju kebaikan yang butuh berlapis lapis kesabaran. Sebagaimanapun, jika kita mau terus bersabar ku yakin sebentar lagi kita akan sampai pada awal pintu tujuan kita.

Kita di pertemukan bukan tanpa alasan melainkan untuk saling menjadi makna. Untuk lebih saling menguatkan dan mengingatkan, bukan sekedar dipertemukan namun kita tak akan sampai pada ujung perjalanan yang kita mimpikan.

Pada banyak sabar yang kuminta padamu, semoga kamu aku tetap mau bersabar. Sabar bukan hanya sebatas tulisan disini, atau sebatas ucapan di bibir. Tapi sungguh sungguh sabar dengan berserah pada Nya, mengikuti seperti yang Dia minta.

Kurasa, prasangka baik ditemani ikhtiar baik akan mengantarkan kita pada tujuan yang diliputi banyak kebaikan kebaikan. Aku yakin.


Selepas dini hari,
Jakarta 20 Nopember 2016.

Aku rindu, dan itu benar.

Aku tidak punya banyak cara untuk menyampaikan kerinduan. Selain pada sebuah tulisan, dan sebuah pemujaan serta pengharapan kepada Tuhan. Aku tidak punya daya untuk berkata langsung, untuk menemui, untuk bicara. Ya begitulah aku adanya.

Mungkin kamu tidak banyak tahu tentang aku, sebagaimana kamu yang tidak tahu banyak pula soal aku. Entah kita sama-sama tertutup, atau sama-sama enggan membuka. Kita tidak punya rasa percaya akan hal penciptaan sebuah rasa. Yang bisa kita lakukan, hanyalah saling diam kemudian seolah-olah tak pernah saling ada, padahal kita sendiri yang meniadakan.

Pukul enam pagi, aku teringat sesuatu akan ulahmu. Dan sekarang pukul enam petang, hujan turun jatuh didepan mataku. Aku kembali mengingat sesuatu akan kamu. Tak pernah ada cakap, apalagi peluk yang bisa ku kenang. Kita berjalan masing-masing di bumi Tuhan. 

Apa yang aku tulis semalam, adalah perihal kabar. Mungkin kau sibuk dengan duniamu, pun aku yang pura-pura sibuk dengan duniaku. Sama-sama berusaha bercengkerama dengan semesta tentang kata apa, bagaimana, mengapa, dan kapan yang bisa saja aku sudutkan untuk kamu. Tapi itu semua justru yang selalu bertaut pada jengkal demi jengkal langkah kakiku.

Diantara menit yang kita pernah saling bicara, kemudian tertawa. Dan diantara waktu itu, kita yang mungkin pernah saling menunggu. Jarak kita tidak jauh kan? Tak ada beda dunia diantara kita. Namun terkait hati kita, mungkin sungguh jauh bagiku untuk melangkah kesana.

Yang ramai, yang disambut, yang kukira rumah
Sepi, asing, gelap gulita
Tak ada suara nyaring pun bising
Pengap
Kadang yang kukira ini rumah, kita hanya sedang berkemah.
Singgah sementara waktu, bukan menetap untuk saling berkata tetap.
Tak ada kata satu, pun saling menuju.

Jakarta, 19 Oktober 2017