kira tai

The Way I Lose Her: Half Semester, Half Heart

Aku sudah cukup benci pada diriku sendiri karena membuatmu dalam keadaan seperti ini. Tak ingin ditambah lagi kebencian karena mengetahui kau sebegitu bencinya kepadaku.

                                                             ===

.

“Kita ini siapa sih, Mbe?”

DEG!!
Mendadak jantung gue berdetak cepat. Jatung gue berdegup kencang seakan saat itu gue sedang berhadapan dengan sesosok penampakan setan yang paling menyeramkan. Gue gelagapan, nggak tahu harus menjawab apa. Meskipun gue tahu apa yang Ipeh maksudkan, gue hanya bisa pura-pura tidak mengerti.

“Eh.. ngg.. ma..maksud kamu ap..apa sih, Peh? Gue nggak ngerti.” Jawab gue bisik-bisik juga.

“Nggak usah belaga nggak tau deh, apa yang kita lakukan di teras lantai dua tadi? emang kita ini siapa sih, Mbe?” Tanya Ipeh.

“Hmm..” Gue berpikir keras mencoba mencari alasan yang tepat agar bisa keluar dari situasi awkward ini. “Memangnya kamu menganggap gue itu siapa?” Gue balik bertanya.

Ipeh tampak bingung mendengar perkataan yang baru saja gue tanyakan kepadanya.

“Loh kok kamu malah balik nanya sih, Mbe? Kan aku yang nanya duluan.”

“Aku.. ngg.. kita..” Gue berpikir keras.

“Apa? Siapa?” Ipeh semakin mendesak.

Belum sempat gue menjawab lagi, ternyata tanpa kita sadari kita semua telah berada di luar kebun rimba itu. Dan anak-anak yang tadinya masih terlihat serius akhirnya kini bisa bernapas lega, namun tidak dengan gue dan Ipeh yang masih dalam keadaan mencekam karena dihantui oleh perasaan kita masing-masing.

“Wah Peh udah sampai di luar nih, gue jawab lain kali aja deh ya..” Akhirnya gue punya alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Ipeh kali ini.

“Ih curang ah! Bete! Tinggal jawab aja kenapa repot sih.” Ipeh terlihat kesal.

“Iya, iya, suatu saat gue bakal menjawab kok, Peh. Janji.”

“Janji ya, Mbe? Hutang loh itu artinya sama aku!” 

“Hooh” Gue menjawab sambil meangguk-anggukkan kepala, lalu Ipeh mulai melepaskan pelukannya dari lengan gue dan kembali berjalan seperti biasa.

Sesampainya di rumah Ipeh, kita langsung bergegas beres-beres karena waktu sudah terlanjur larut. Kita meminta izin untuk pulang langsung soalnya besok ada ulangan remedial bagi kita bertiga. Ya beginilah anak SMA, walaupun besok tetap masuk pagi, malamnya kita malah terus bermain hingga larut.

Kita semua izin untuk pergi lebih cepat. Ikhsan yang menumpang mobil Bobby pergi duluan lalu kemudian disusul oleh Nurhadi yang pada akhirnya meninggalkan gue sendirian dengan Ipeh seorang. Sambil memasangkan helm dan mengenakan jaket, gue sempatkan diri untuk pamit kepada kakak Ai yang masih terjaga di ruang keluarga. Sebelum gue pergi, Ipeh menarik tangan gue sebentar.

“Mbe.” Ucap Ipeh manja.

Gue mengerti apa yang ada di benak Ipeh malam ini. Begitupun tampaknya Ipeh mengerti apa yang ada di benak gue saat itu. Kita sama-sama dibuat bingung oleh perasaan yang kita tahan sendiri. Kita dibuat mati oleh perasaan yang belum tumbuh sama sekali. Kita jatuh cinta pada cinta yang diam-diam, diam-diam cinta, diam-diam terluka. Gue lepaskan helm gue sebentar lalu menaruhnya di kaca spion motor.

“Kenapa, Peh?” Gue mendekat.

“Hutang penjelasan ya.” Jawab Ipeh menunduk.

Gue saat itu masih belum mengerti apa yang sebenarnya wanita pikirkan jika dalam keadaan sepert ini. Namun seharusnya gue sadar, kejelasan status mungkin bukanlah sebuah hal yang penting bagi seorang pria. Karena selama mereka merasa kamu selalu ada untuknya, maka saat itu mereka akan mencintaimu tanpa harus melibatkan embel-embel status apapun. Namun tidak dengan wanita, ada kejelasan-kejelasan yang harus jelas mereka dengar, bukan mereka rasa seperti yang pria rasakan. Mereka harus jelas kemana mereka harus melabuhkan hati, mereka harus tahu seberapa dalam mereka boleh menjatuhkan hati.

Mereka berhati-hati untuk tidak sakit hati, mereka berspekulasi. Berbeda dengan pria yang dengan mudahnya berpikir ‘kalau cinta, ya cinta’. Sedangkan wanita selalu berpikir ‘Kalau cinta, aku harus tahu siapa kita.’. Mereka tak ingin mencintai sendiri, dianggap murah karena jatuh cinta pada pria yang padahal pria itu tidak mencintainya. Hatinya dipertaruhkan, harga diri wanitanya digadaikan. Maka wajar apabila wanita meminta sebuah kepastian, kepastian untuk siapa mereka boleh terluka. Kepastian untuk siapa mereka boleh benar-benar jatuh cinta dan melupakan segala cinta yang lainnya.

Namun saat itu gue hanya seonggok bocah SMA semester pertama, dan gue masih terlalu bocah untuk menyadari hal ini. Melihat Ipeh yang tertunduk lesu, gue hanya bisa mengangkat kepalanya agar gue bisa jelas melihat ke arah matanya.

“Iya, janji. Secepatnya gue bakal datang.” 

CUP!

Secara pelan-pelan, gue mencium pipi Ipeh tepat seperti apa yang ia lakukan kepada gue di beranda rumah beberapa hari yang lalu itu. Ipeh terkejut, ada rona kaget di wajahnya. 

“Aku pulang duluan ya.” Ucap gue yang kemudian memakai helm dan memacu kendaraan motor ini meninggalkan Ipeh sendirian yang masih memegangi pipinya dengan wajah polos itu.

.

                                                             ===

.

08.00
Di Ruangan Kelas.

Gue, Ikhsan, dan duo gempal alias Nurhadi dan Bobby kini sedang giat-giatnya mengerjakan soal-soal tambahan yang diberikan Bobby di meja belajar gue. Niatnya pagi ini kita mau membahas beberapa soal lagi biar otak kita sudah pemanasan untuk menghadapi soal Fisika nanti. 

Ketika kita masih asik serius, tiba-tiba dari pintu dateng sosok Ipeh yang terlihat tergesa-gesa, kita semua melihat ke arahnya karena keheranan. Melihat kita berempat lagi pada ngumpul, Ipeh langsung mendatangi kita tanpa menyempatkan diri untuk menaruh tas ranselnya terlebih dahulu.

“Ada apaan kayaknya buru-buru amat lo.” Tanya Ikhsan.

“Parah!! Ada cerita tentang kejadian kemarin!!” Jawab Ipeh sembari terengah-engah.

“Kemarin?”

“Iya, tentang Uji Nyali kita kemarin..” Ipeh mulai terkekeh tertawa dan kita pun semakin bingung dibuatnya.

“Gue kaga ngerti, ada apaan sih Peh?” Tanya Ikhsan lagi.

“Pagi tadi sebelum pergi ke sekolah, Pak Yana, tukang kebon gue kan lagi asik noh motongin rumput di halaman. Pas gue iseng ceritain kejadian kemarin, Pak Yana malah ketawa. Dan dia langsung menceritakan semuanya.”

“Ada cerita apaan emang?”

“Yang pertama, kebun itu memang angker sih, kebanyakan orang pada bisa kesurupan kalau lagi jalan-jalan di deket pohon beringin yang ternyata di situlah tempat bos setannya alias sesepuh penunggunya berada.” Tukas Ipeh.

“Anjir serius? untung kemarin kita nggak ada yang kesurupan ya! Takut sama wajah Nurhadi kali yak.” Ujar gue.

“Iya Mbe, jadi kayaknya itu semak-semak yang gerak kemarin itu memang murni mistis sih. Terus gue juga nanya tentang pundak Nurhadi yang katanya berat. Kata pak Yana, itu sih biasanya sering dinaikin setan. Setan paling suka sama orang yang auranya lemah atau lagi takut.” 

“Bhahahahahahak badan kaya babon pantat merah tapi penakut. Dulu aja berani dikeroyok 5 orang, sekarang dinaikin 1 setan aja langsung ciut.” Ikhsan ketawa ngakak mendengarkan penjelasan Ipeh.

“Ya lu pikir aja anjir. Kalau lagi lawan orang sih bisa ditabok, lha kalau lawan setan gimana cara naboknya?! Gue ayat kursi aja kagak apal.” Nurhadi tampak kesal.

“Nah terus, kejadian waktu leher aku kesangkut itu kalian masih ingat?” Tanya Ipeh.

“Masih-masih, nah kalau itu kenapa?”

“Jadi itu tuh sebenarnya bukan setan, emang di daerah yang banyak sulurnya tersebut sering dipake maen layangan sama anak-anak desa belakang, jadi kalau siang kalian ke sana lagi, kalian bakal ngeliat banyak kenur sama gelasan gelayutan di daerah situ. Mungkin yang kemarin ngejerat leher gue tuh kenur, tapi karena kenurnya rapuh udah sering kehujanan atau kepanasan, makanya langsung putus.” Jelas Ipeh lagi.

“Hoo pantes gue cariin tuh benang kaga ketemu ya. Tai, gue kira itu hal mistis juga.” Tukas Ikhsan.

“Nah 2 kejadian terakhir ini yang paling konyol.” Sambung Ipeh lagi.

“Konyol gimana?”

“Ternyata tempat kita berhenti terus memutuskan balik lagi kemarin tuh itu emang sudah dekat dengan jalan keluar. Karena di ujung sana ada desa, maka banyak orang yang bikin saung buat naruh kambingnya peliharaanya di dalem kebun biar nggak mengganggu aktifitas warga desa yang lain.”

“Jadi suara aneh yang kita denger itu…”

“Iya, itu suara kambing. Suara kambing lagi kawin palingan juga.”

“Bhahahahahak bangke!!” Gue ketawa keras. “Terus kalau bau-bau nggak enak itu apa dong? jangan bilang…”

“Iya Mbe, itu bau kotoran kambing.” Jawab Ipeh yang langsung tertawa keras.

Mendengar penjelasan Ipeh barusan, kita semua langsung tertawa bersama-sama. Bukannya melanjutkan untuk belajar Fisika, kita malah asik ngobrol berlima tentang hal-hal konyol yang kita lakukan kemarin. Seberapa begoknya kita waktu itu, dan seberapa parnonya kita malam itu.

Lima belas menit telah berlalu, anak-anak yang harus menjalani remedial Fisika dipanggil untuk pergi ke ruang guru. Sembari mengucapkan Bismillah, kita bertiga berjalan bergandengan tangan menuju ruang guru. Semoga jerih payah yang kita lalui kemarin malem berbuah hasil yang memuaskan. 

Sesampainya di ruang guru, ternyata pagi itu bukan cuma gue doang yang dongo dalam pelajaran Fisika alias harus mengikuti ulangan remedial. Ada banyak anak-anak cowok yang senasib sepenanggungan dengan kita. Banyaknya sih anak-anak cowok kelas gue. 

Gue duduk di sebelah Ikhsan, dan Ikhsan duduk di sebelah Nurhadi. Diawali dengan rasa percaya diri yang begitu besar, kita semua terlihat serius untuk mengerjakan soal-soal yang ada di depan mata. Setelah gue teliti tampaknya soal-soal ini mirip seperti soal-soal yang Ipeh dan Bobby ajarkan kemarin malam, itu tandanya, gue hanya perlu mengingat jalan dan rumus pengerjaanya. 

1 Menit, gue masih serius.
2 Menit, gue mulai hapus jawaban sekali-sekali.
3 Menit, gue mulai gigit-gigit ujung pensil.
5 Menit, gue mulai garuk-garuk kepala. 
10 Menit, gue mencoba nengok ke arah Ikhsan, dan dia lagi terkapar tak bernapas.

Ternyata soal Fisika ini nggak semudah yang gue pikirkan, semakin gue mengerti, semakin melebar jawaban yang diminta. Semakin gue mengerjakan dengan satu rumus, semakin banyak juga rumus lain yang diperlukan untuk menunjang segala variabel di rumus pertama.

Gue bingung, gue pasarah. Namun karena pada hakikatnya gue manusia yang beradab, maka insting bertahan hidup gue keluar. Gue sentuh kaki Ikhsan agar dia menoleh ke arah gue. Dan Ikhsan langsung menoleh. Mantap.

“Ssst.. nyet.. Nomer 1 apa?” Gue bisik-bisik.

“Belon gue..”

“Ah begok, nomer 5 udah?” Gue tanya lagi.

“Belon juga, baru setengah cuy.”

“Yaudah nomer 10 deh.”

“SETAN!! SOALNYA KAN CUMA SAMPAI 8!!” Ikhsan menendang kaki gue keras.

“Oh iya lupa.”

Kita pun kembali terdiam mengerjakan soal-soal tersebut. Nyesel gue duduk di sebelah si Ikhsan, otaknya nggak bisa diharapkan. Ah gue berharap ada Ipeh di sini kalau gini terus caranya. Gue menghela nafas, mencoba menghitung lagi namun sekarang gue mencoba menghitung lebih teliti.

Dan ternyata setelah gue mengerjakan lebih teliti, nomer dua pun bisa gue selesaikan dengan mudah. Yes! Gue menampilkan ekspresi kebahagiaan. Ikhsan yang menyadari hal ini pun langsung menyentuh kaki gue. Gue menengok ke arahnya. Ikhsan melemparkan secarik kertas kepada gue. 

“Lo udah selesai nomer 2? Bagi dong! Nomer 2 apaan?” Tulisnya

Karena gue teman yang baik, gue langsung membalas contekan Ikhsan tersebut lalu melemparkannya kembali ke arah Ikhsan. Ikhsan menangkapnya dengan cepat lalu membacanya.

“Nomer 2? Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.” Balas gue.

Membaca hal ini, Ikhsan malah ketawa cekikikan. Sontak guru Fisika yang lagi mengajar menjadi menengok ke arah Ikhsan. 

“Ikhsan, kenapa kamu ketawa-ketawa gitu?” Tanya ibu Guru galak.

“Nggak bu, nggak tau kenapa kok saya malah jadi kepikiran sama butir-butir Pancasila ya.” Jawab Ikhsan sambil masih ketawa-ketawa kecil.

“Hah? ini kan pelajaran Fisika. Kenapa kamu mikirin Pancasila? Udah lanjutin remedialnya yang serius sana!” Tukas guru itu lagi.

Goblok si Ikhsan Malah ngejawab kaya gitu! Gue jadi ikut-ikutan ketawa ketika mendengar Ikhsan dengan polosnya menjawab pertanyaan guru Fisika. 

Dengan penuh perjuangan, gue kembali berjuang untuk bisa mendapatkan nilai ulangan remedial di atas 65. Ulangan yang telah dikerjakan akan langsung diperiksa saat itu juga, jadi kita langsung tahu apakah kita bisa mengikuti UTS apa tidak.

Gue, Ikhsan, dan Nurhadi setuju untuk mengumpulkan kertas ulangan bersama-sama. Setelah menunggu sebentar, akhirnya nilai kita muncul juga di papan pengumuman.

Nurhadi, 66,3
Ikhsan, 72,4
Dimas, 67,8

GILA!! TIPIS COY!!
Tapi Alhamdulillah akhirnya gue lulus. Nggak peduli nilai Ikhsan lebih besar atau tidak, yang jelas kita bertiga saat itu langsung bersorak-sorak bahagia karena pada akhirnya kita selamat dari ancaman tidak naik kelas hanya karena nilai Fisika doang.

Saking girangnya, kita bertiga berlari menuju kelas sambil bernyanyi-nyanyi lagu “Sorak-Sorak Bergembira.”, sesampainya di kelas, kita bertiga langsung memeluk Bobby, Ipeh yang melihat hal ini langsung ikut loncat-loncat bahagia. Karena merasa berhasil memberikan ilmu yang bermanfaat, Ipeh dan Bobby sepakat untuk merayakan berita gembira kita ini dengan menraktir kita makan sepuasnya di kantin.

Wuih ini sih kayak pribahasa, “Sudah nanam cilok, yang numbuh malah cakwe.”, sudah susah payah berjuang, hasilnya malah diluar dugaan. Tanpa pikir panjang lagi kita berlima langsung cabut ke kantin padahal saat itu di dalam kelas sedang berlangsung pelajaran Bahasa Indonesia. 

Ah nggak peduli, yang penting makan-makan!

.

                                                                     ===

.

Kita sempat kalap karena bingung harus jajan apa. Karena hari ini yang menraktir makan kita itu Ipeh dan Bobby alias dua orang yang stabilitas dompetnya selalu terjamin, maka kita jadi bingung pengin makan apa aja, karena semuanya boleh kita ambil. Bahkan makanan yang mahal sekalipun.

Kita banyak menghabiskan waktu ngobrol-ngobrol ngalor ngidul sambil ketawa-ketawa di ruangan kantin yang masih sepi. Hingga pada suatu ketika, Ipeh bertanya ke arah Bobby, gue, dan Ikhsan.

“Hei, Band kelas kalian itu masih jalan kan?” Tanyanya.

“Iya masih. Kenapa emang?” Jawab gue.

“Jadi gini, gue kan ikut Vocal Grup tuh, kebetulan bentar lagi Vocal Grup kita bakal mengikuti lomba. Nah tapi kita belum nemu pengiring bandnya, kalian bisa nggak ngiringin kita?” Tanya Ipeh.

“…” Kita semua terdiam tak sadarkan diri.

“Loh kok pada diem?”

“Peh, lu serius ikut Vocal Grup? Ini bercanda apa gimana sih?” Tanya Ikhsan.

“IH SIALAN YA LO MENGHINA GUE!! GUE NGGAK NYANYI!! GUE JADI MANAGERNYA BEGOK!!” Kata Ipeh kesal sembari nyolok tangan Ikhsan pake garpu Popmie.

“Oooh, gitu toh ahahaha, gue sih mau-mau aja, tau tuh kalau Bobby sama Ikhsan.”

“Gue setuju aja sih.”

“Gue juga.”

“Nah gitu dong, pulang sekolah ngumpul dulu ya di kelas X-H. Kelas yang paling pojok itu.” Ajak Ipeh.

Entah saat itu gue lagi begok atau emang lemah dalam hal mengingat. Yang jelas detik itu gue melupakan satu hal penting yang benar-benar penting. Gue merasa ada yang janggal, tapi apa?! Gue sama sekali tidak bisa ingat. Rasa-rasanya ada yang salah deh. Gue kalau semisal punya suatu masalah, gue pasti menghindari sumber masalah tersebut. Namun kali ini gue ragu, apa yang jadi sumber masalah ketika pembicaraan ini berlangsung sehingga hati gue merasa ada yang tidak beres ya?

Ah sudahlah. Mungkin cuma perasaan gue aja.

.

                                                               ===

.

Sepulang sekolah kita bertiga langsung berjalan menuju kelas X-H seperti yang Ipeh ucapkan tadi siang. Kita cukup bersemangat karena pada akhirnya bakat kita bisa tersalurkan juga. Walaupun sekarang kita hanya menjadi band pengiring saja, yang jelas ini adalah acara tampil perdana kita bersama di sebuah ajang perlombaan.

Gue mengetuk pintu kelas, dan Ipeh langsung membukakan dari dalam. Ipeh memperkenalkan kita kepada para anggota Vocal Grup. Gue tersenyum mencoba ramah sebelum pada akhirnya senyum gue hilang mendapati sosok yang gue kenal sedang ada di depan gue.

Wulan.

Kita saling terdiam. Ikhsan yang melihat hal ini juga terdiam. Nggak disangka gue bisa menemukan Wulan di sini. Lha memangnya Wulan anak Vocal Grup juga? Anjir kenapa harus ada Ipeh dan Wulan dalam satu tempat yang sama sih? Gue benar-benar terdiam tak bersuara apa-apa.

“Hei Mbe.. kok diam?” tanya Ipeh.

“Eh.. apa Peh?” Kata gue yang baru sadar dari lamunan gue.

“Kenalin, ini Wulan, dia temen SMP gue Mbe, dia masuk ke sekolah ini lewat jalur prestasi. Dia juara nyanyi loh dari jaman SMP.” Tukas Ipeh.

ASTAGA!!
Ternyata jalur prestasi yang Wulan ambil itu adalah Vocal Grup toh? Kenapa nggak dari dulu gue tanya aja sama Wulan sih?! Tau gini gue tolak ajakan Ipeh waktu di kantin tadi aja deh! Wulan yang melihat ke arah gue juga canggung. Entah kenapa Wulan terlihat canggung, namun yang jelas saat itu kita berkenalan layaknya kita belum pernah kenal antara satu sama lain. Begitu juga dengan Ikhsan, namun Ikhsan lebih terlihat ramah kepada Wulan.

Karena pada dasarnya Ipeh orang yang menyenangkan untuk diajak ngobrol, Ipeh saat itu menggandeng lengan gue dan menceritakan segala kejadian yang pernah dia lalui bersama gue kepada sahabat SMP-nya; Wulan. 

Anjing! Mati gue! Mati semati-matinya! Wulan sesekali melirik ke arah gue dengan tatapan aneh sambil terus mendengarkan Ipeh cerita.

OH GOD!! 
Gue pengen pulang aja rasanya. 

“Ngg.. kita mau setting alat-alat musiknya dulu boleh gak?” Ucap gue berusaha pergi dari situasi yang tidak mengenakan ini. Wulan diam saja, dan Ipeh mengizinkan.

Kita bertiga duduk di pojok sambil mempersiapkan alat musik. Bobby saat itu kebagian pegang Drum, namun karena ini hanya kelas biasa, maka yang ada di sana saat itu hanya Symbal dan Snare Drum doang. Gue pegang bass, dan Ikhsan pegang gitar.

“Bad lucky day, Dim?” Tanya Ikhsan pelan.

“Gue pengin pulang, San. Sumpah. Suasananya nggak enak.” Jawab gue.

“Tahan dulu lah, toh Wulan juga udah punya pacar kan?”

“Bukan itu San, bukan itu yang menjadi masalahnya. Ipeh.. Ipeh San, apa jadinya kalau Ipeh tahu semuanya?” Gue mulai terlihat khawatir.

“Ah iya, gue baru ingat. Wah bahaya juga kalau gini caranya. Tapi tenang aja, gue lihat dari tadi Wulan juga cuma diam aja kok dengerin Ipeh ngoceh. Wulan gue rasa nggak seberbahaya itu yang rela membocorkan hubungan lo sama dia dulu waktu ospek sama Ipeh. Wulan lebih memilih persahabatannya nyet, sama kaya gue dan elo lah.”

“Hope so deh. Tapi kenapa perasaan gue nggak enak ya?”

“Masalah Wulan?”

“Bukan. Nggak tau kenapa jantung gue nggak bisa berhenti berdegup kecang gini.” Gue terlihat cemas.

“Iya nyet, lo jadi keringetan nggak jelas gini. Kenapa sih?” Ikhsan melihat aneh ke arah gue.

“Nggak tau San. Perasaan gue nggak enak.”

“Yaudah-yaudah, kita relaxation dulu aja. Jamming dulu yuk sekali.” Ajak Ikhsan.

“Oke deh. Gue nurut aja. Gue mau diem aja ah hari ini.” Jawab gue lesu.

Ikhsan mulai memetik gitar sebentar mencari nada yang tepat. Bobby mulai menabuh pelan-pelan Drumnya. Sedangkan gue masih pucat menunduk ke bawah.

“Oi Peh, masih lama kaga latihannya?” Tanya Ikhsan.

“Bentar, San. Tinggal nunggu kakak Managernya.” Jawab Ipeh.

“Loh, bukannya elo managernya?”

“Gue kan kelas satu, nah gue masih jadi calon manager pengganti manager yang udah kelas 2 sekarang.” Jawab Ipeh lagi.

“Oh kalau gitu gue numpang berisik bentar ya. Latihan dulu lemesin jari.” Tukas Ikhsan.

“Okeee.” Jawab Ipeh.

Tanpa pikir panjang kita pun mulai bermain lagu yang biasa kita mainkan. Semuanya berjalan mulus seperti biasa, hanya saja beberapa kali gue salah nada, beberapa kali juga gue lupa tempo permainan. Gue kacau sekali sore ini

“Ah lo kenapa sih nyet, kok jadi ciut gini.” Ikhsan memberhentikan permainannya.

“…” Gue cuma bisa diam menghela napas.

“Latihan sekali lagi deh. Ayo dong jangan jadi lesu gini. Bob, ketukan ke 3 ya.”

“Oke.” Jawab Bobby.

1..
2..

“Nah tuh dateng managernya.” Tiba-tiba Ipeh membuyarkan konsentrasi kita bertiga.

Kita semua memberhentikan permainan kita dan melihat ke arah pintu kelas. Secara pelan-pelan pintu itu terbuka, seorang sosok wanita manis masuk ke dalam. 

“Maaf telat, aku ada ulangan susulan dulu.” Ucapnya sambil menyapa ke semuanya.

Gue terdiam. 
Ikhsan terdiam. 
Ikhsan melihat ke arah gue dengan wajah penuh keringat dingin. 
Nyawa gue hilang.
Seluruf saraf di tubuh gue mendadak berhenti seketika itu juga.

Suara yang gue kenal. Suara yang familiar. Sosok tubuh yang pernah gue peluk ada di hadapan gue. Gigi gingsulnya yang terlihat ketika ia berbicara membuat napas gue sesak. Mata lucunya yang ramah kepada para anggota Vocal Grup membuat jantung gue berhenti berdetak. 

Lengkaplah sudah semua kesialan gue hari ini. Tiga orang yang paling berpengaruh dalam hidup gue, tiga orang yang mempunyai porsinya sendiri-sendiri di hati gue itu, sekarang tengah berkumpul semua dalam satu ruangan.

Wulandari Putri Asmarani.
Hanifah Tafara Atmojo.

Dan yang terakhir,

Hanadwika Arsyita.

.

                                                              ===

.

Ini adalah kali kedua di mana gue merasakan getir dan rasa ketakutan yang begitu luar biasa setelah dulu gue pernah membuat Ibu gue menangis. Jantung gue seakan berhenti berdetak, otak gue rasanya mau pecah, hati gue sakit dan nyeri dalam waktu yang bersamaan. Kelenjar keringat gue mengeluarkan banyak sekali keringat. Jantung gue rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh senjata yang gue ciptakan sendiri.

Napas gue nggak beraturan melihat tiga sosok yang ada di depan gue tengah berbicara bersama. Ikhsan menggoyangkan tubuh gue namun gue masih belum bisa sadar dari lamunan gue sendiri. Ternyata inilah yang dari tadi hati gue takutkan. Inilah perasaan ganjil yang sedari siang gue tahan-tahan.

Kepala gue yang sempat tidak bekerja itu akhirnya baru menyadari satu hal. Bahwa dulu waktu sehabis gue tanding basket dengan kakak senior semasa acara ospek, gue sempat berbicara empat mata dengan kak Hana di dalam kelas. Kak Hana sempat menanyakan ekskul apa yang akan gue pilih, dan saat itu kak Hana terus saja menyarankan gue untuk ikut Vocal Grup. Gue baru ingat dulu juga ia pernah berkata bahwa ia anggota Vocal Grup.

Bego!
Dimas Bego! 
Kenapa baru ingat sekarang?!

Jantung gue serasa dipompa begitu keras, dipaksa berdetak seperti dikejutkan oleh jutaan volt listrik. Gue melihat ke arah Ipeh, dan tiba-tiba, Ipeh menunjuk ke arah gue di depan kak Hana.

“Nih kak, Band yang aku bicarain kemarin sama kakak. Aku rekomendasiin mereka. Mereka mainnya bagus loh.” Jawab Ipeh yang masih belum tahu ada cerita apa di balik semua ini.

Kak Hana berbalik dan melihat ke arah kita bertiga. Awalnya kak Hana terlihat biasa saja, sebelum pada akhirnya matanya tertuju ke arah gue. Dia terdiam sempat merasa tidak percaya menemukan sosok gue ada di depannya.

“Loh, Dimas?!” Ucap kak Hana keras

DEG!!
BANGSAT!! KENAPA LO HARUS INGET NAMA GUE SIH?!
KENAPA LO NGGAK AMNESIA AJA!!

“Loh, kak Hana kenal Dimas?” Tanya Ipeh.

Kak Hana tersenyum melihat ke arah gue tanpa menggubris pertanyaan Ipeh. Tampaknya ada raut senang sekali muncul di wajah kak Hana karena dia tahu bahwa dalam beberapa waktu ke depan, dia akan terus berhubungan dengan gue karena mau tidak mau sekarang gue ada di bawah komando Manager Vocal Grup.

“Kak Hana? Kenal Dimas?” Tanya Ipeh sekali lagi.

“Eh Ipeh, iya Peh, kenal banget. Kita pernah deket banget ya kan Dim.” Ucap kak Hana sambil melirik ke arah gue.

“Deket banget?” Ipeh mulai terlihat serius.

“Iya Peh. Jadi dulu aku kan Tatib waktu ospek, nah aku tuh sering marahin dia karena mirip pacar aku. Hahaha konyol sih, tapi yang bikin lucunya lagi, rumah kita itu ternyata deketan, dan Dimas pernah mergokkin aku lagi sama pacar aku.”

“…” Ipeh terdiam tak percaya.

“Kita pernah deket banget. Bahkan dulu aku sering banget main ke rumahnya..” Jelas kak Hana.

‘Anjir sejak kapan lo main ke rumah gue?! Nggak usah ngarang cerita yang nggak-nggak deh woi!’ ucap gue dalam hati.

Gue melihat tidak hanya Ipeh saja yang serius memperhatikan apa yang kak Hana bicarakan, namun juga Wulan. Ada rasa tak percaya di benak Wulan kalau ternyata gue punya hubungan khusus dengan kak Hana selama ini.

“Kemarin juga tuh anak berantem di GOR Padjajaran. Untung aja ada aku sama temen-temen aku. Kalau nggak udah makin banyak darahnya yang bocor tuh anak.” Jelas kak Hana lagi dengan penjelasan yang jauh dari kenyataan.

Ipeh masih diam tidak bicara. Ipeh mulai terlihat menggigit bibir tanda menahan rasa yang meluap-luap di dalam dada.

“Kak Hana siapanya Dimas?” Tanya Ipeh pelan.

“Ini..” Kak Hana mengacungkan jari kelingkingnya.

“Pa.. pacar?” Jawab Ipeh dengan mata yang mulai terlihat berair.

“Hahaha bukan kok, kan kalian tahu kalau aku sudah punya pacar. Kita cuma dekat kok, dekat banget tapi. Satu-satunya orang yang selalu ada waktu dulu aku sakit hati sama cowokku ya dia itu.” Jawab kak Hana yang kemudian berjalan menghampiri kita bertiga dan meninggalkan Ipeh sendirian di depan kelas.

“Hai kalian, kenalan dulu sini siapa aja namanya?” Tanya kak Hana kepada kita.

“Ikhsan..” Jawab Ikhsan sambil menjabat tangan kak Hana.

“Bobby, kak.” Jawab Bobby sambil menjabat tangan kak Hana juga.

Lalu kemudian kak Hana menjulurkan tangannya ke arah gue.

“Hei cowok kelas satu. Kenalan dulu. Siapa namanya?” Ucapnya manis.

Gue masih terdiam, gue benar-benar terdiam tak mengucapkan sepatah kata apapun. Namun kak Hana bersikukuh untuk menjabat tangan gue, tangan kak Hana menarik tangan gue lalu menjabatnya lama.

Dari jauh, gue lihat ada setetes air mata jatuh. Jatuh menghantam hati gue sendiri. Tidak pernah gue melihat ada air mata yang semenyakitkan ini jika menatapnya. Ini adalah kali pertama di mana gue melihat air mata wanita terasa begitu menyesakkan di dalam dada. Seakan air mata itu jatuh dan menghantam keras pondasi hati gue sendiri.

Setetes air mata Ipeh turun pelan. Gue melihat ke arahnya, dan Ipeh melihat ke arah gue. Tatapan mata Ipeh tidak pernah terlihat seperti ini sebelumnya, tatapan matanya seakan benar-benar membunuh sosok gue yang sedari dulu sering ada di sana. Tampak ada rasa tak percaya dan benci sekali muncul di kedua bola matanya. 

Dalam tatapanya, gue tidak melihat sosok Ipeh  yang ceria lagi. Dalam tatapanya, gue bisa merasakan sakit yang ia rasakan. Kecewa yang menyambar nyata-nyata terlihat jelas di matanya. Belum pernah gue melihat tatapan Ipeh sedingin ini, seakan baginya sekarang gue bukanlah Dimas yang biasanya lagi. Seakan baginya gue bukanlah siapa-siapa. 

Tak ada lagi kenangan tentang seberapa konyolnya kita waktu pertama bertemu di depan Mushola. 
Tak ada lagi kenangan tentang seberapa cerewetnya kita ketika berjalan bersama di atas kendaraan roda dua. 
Genggaman tangan yang kita lakukan kemarin seakan sirna dalam bola matanya. 
Sosok Dimas yang ia pilih sebagai sosok pria untuk diperkenalkan kepada orang tuanya kini seperti luruh bersamaan dengan tetesan air mata yang menghujani pipinya.

“Kita itu siapa sih Dim?”

Gue teringat kembali apa yang kemarin malam Ipeh tanyakan kepada gue dengan hati yang penuh tanya. Dan sekarang sebelum gue menjelaskan siapa kita sebenarnya, Ipeh sudah lebih dahulu membunuh semua rasa dihatinya. Hari ini, Ipeh benar-benar melihat gue dengan tatapan yang berbeda. Air matanya menetes sesekali lalu ia usap berharap tidak ada satu pun orang yang menyadarinya, namun sayangnya, gue sadar.

Goblok lo Dim!
Lo goblok banget!
Kenapa lo harus menunda untuk mengatakan rasa lo yang sebenarnya kepada Ipeh selagi lo punya kesempatan sih?!

‘Peh, gue sayang sama lo.’

Ada jawaban itu muncul berulang-ulang kali di hati gue. Berharap Ipeh bisa mendengarkannya tanpa gue harus berbicara. Namun entah kenapa Ipeh tampak bungkam. Tak ada lagi sosok ceria yang gue temukan pada Ipeh, tingkah lakunya yang suka ngobrol dan bercengkrama itu sekarang mendadak hilang. Hidungnya merah menahan tangis. 

Ipeh!
Maafin gue, Peh!

Ada jutaan kalimat maaf muncul di otak gue. Tak peduli siapa yang sedang berbicara di depan gue sekarang, mata gue hanya mampu menatap mata Ipeh yang pelan-pelan mulai melepaskan pandangannya kepada mata gue. Gue ingin sekali meminta maaf dan menjelaskan semuanya, namun Ipeh tampak tak ingin mendengar sekali apa yg hendak gue jelaskan. Dia seakan menutup telinga. 

Gue ingin menjelaskan seberapa banyaknya salah paham yang ada di benak Ipeh. Gue ingin menjelaskan seberapa tidak maunya gue kehilangan Ipeh. Gue sayang Ipeh, dialah satu-satunya sosok yang sekarang gue doakan untuk selalu ada. Menemani keseharian, bercengkrama tanpa bosan, dan menjalani tahun pertama kita di SMA ini dengan bahagia. Gue ingin menjelaskan betapa berartinya dia sekarang, betapa matanya adalah mata yang ingin gue temui di tiap pagi, betapa suaranya adalah suara yang ingin gue dengarkan ketika butuh dukungan, betapa tubuhnya adalah seindah-indahnya peluk ketika raga sudah terlalu jengah dimakan keadaan. Gue benar-benar jatuh cinta, gue sangat jatuh cinta ketika gue mulai meraskaan takut untuk kehilangannya.

Ada miliaran sengat yang menyambar di kepala, ada takut yang begitu gahar menjalar di sekitar dada, rasa-rasanya membayangkan Ipeh tidak ada dalam hidup gue, gue belum sanggup. Rasa-rasanya kehilangan Ipeh dalam keseharian gue, gue belum bisa. Dan sekarang entah kenapa rasa-rasanya gue melihat Ipeh begitu jauh untuk diraih, seakan setiap langkah yang gue ambil sekarang adalah langkah yang semakin menjauhkannya dari jangkauan tangan untuk mendekap erat dan tak mau melepaskan sosoknya lagi. Semakin gue kejar, semakin gue mundur kebelakang. Semakin gue menatap matanya, semakin hilang sosok Dimas di dalamnya.

Kalau sekarang gue bisa tertunduk untuk memohon maaf, gue akan lakukan itu di depan Ipeh sekarang juga. Gue nggak mau ini adalah cara bagaimana gue harus kehilangan dia, seseorang yang sekarang benar-benar gue yakini bahwa dia adalah satu-satunya yang hati gue inginkan. Bukan Hana, bukan Wulan, tapi Ipeh.

Jika pun suatu saat kita tidak akan hidup bersama nanti, Peh, gue nggak mau jika berpisah dengan orang yang pernah gue sayang sebegitu besar itu harus dengan cara yang menyakitkan seperti ini.

Please, God..
I won’t this is the way i lose her…

.

.

.

.

Sejujurnya, aku tak pernah ingin membuatmu menangis.
Satu-satunya air mata yg ingin kulihat menetes pada matamu adalah air mata ketika kau bahagia dipeluk aku. Satu titik air matamu, sejuta penyesalan dalam hatiku. Maafkan aku kemarin. Jika ada seribu maaf yg harus kuucap agar kau mau kembali, aku akan.

                                                                Bersambung

Previous Story: Here

Still not back to full time blogging sorry! my computer is broken, aaaand Im broke as well :P But this was my halloween costume this weekend :) I was a leafeon! 
I have several of you waiting for fansigns, Im so sorry I wish I could get to them sooner <3 thanks for the messages :) they are very sweet, I didnt fall off the earth, just tumblr lol  

taylorswift i have been a fan of you since i was six years old. i remember listening to “taylor swift” with my two cousins, singing along at the top of our lungs, i remember receiving the “fearless” cd for christmas and being overwhelmed with excitement, i remember immediately learning every lyric on “speak now”, i remember staying up until midnight to download and listen to “red”, and most recently, i remember screaming the lyrics to “1989” alone in my room while getting ready for things like homecoming and such.
now, i understand that i’m probably considered young to be having “relationship problems”, but i believe that you can be hurt at any age. i remember being 11 or 12, and lying on my bed crying songs like “should’ve said no”, “cold as you”, “come in with the rain”, etc. because the boy i liked in sixth grade did not like me back (mind you, he was two years older than me. hey, i was a dreamer.) but, i guess you could say the first time you truly helped me was the next year, when i was seventh grade.
“red” had just come out. i had my first, plausible crush. a boy a year older than me. i was ecstatic to say the least. i actually looked forward to going to school everyday to see him. everyday- on the way to school, coming home from school, after school, when i supposed to be sleeping- i listened to “everything has changed”. i related every lyric to something that had happened between this boy and me. when he held the door for me (“all i know is you held the door”), the first time he said hi to me (“all i know is we said hello”), having my friends tell me he called me pretty (“all i knew this morning when i woke, was i know something now, know something i, i didn’t before…”), when he said he wanted to get to “know me better” (“i just wanna know you better”), etc. i would squeal and smile. i created a whole playlist of your songs based around what i was feeling. i was truly happy. sadly, this relationship did not work out. nothing ever happened. but your songs taught me a lot about love, how it felt to feel it the first time.
now, around this time, i also was listening to “i’m only me when i’m with you” because i had finally found the best guy friend i thought i would ever have. little did i know, i was falling in an even deeper love. one for him.
this is where you truly helped me. december 7th, 2013, i got into fight. a fight that changed my entire life, sent me into a spiral of depression and second guessing, and broke my heart for the first time. now, it wasn’t a fist fight. it was a fight between me and my guy best friend. we both said things we didn’t mean. it was horrible. for four months, we ignored each other. we didn’t speak one word to each other. you might not see this as bad as it was, but it was terrible. we weren’t just friends, but we weren’t boyfriend and girlfriend. it was so hard to describe us. he was the first boy i trusted. i laid down and died in his arms. this fight ripped me apart. this is where you came in.
i was a mess. i barely talked to anyone. i had a new group of best friends (who are still my best friends to this day), but at that point in time, i refused to tell my story to anyone. i blamed myself, i found this to be less painful for some odd reason. my only escape, my only happiness was music.
i listened to lots of new bands, all of whom i still love to this day (fall out boy, 5sos, panic! at the disco, all time low, pierce the veil), and they all helped a ton. but you, you were my rock. on the nights i couldn’t sleep because of anxiety- and there were many- i listened to your albums on shuffle. your voice calmed me down. i remember crying until i couldn’t cry any longer to “dear john”, “last kiss”, and “back to december”. and yes, crying to your songs was a big part of this time. but an even bigger part was you teaching me to pick myself back up off the ground. you teaching me to not give up on people. you teaching me to be a strong woman.
i made up with this boy for a month. but then, i realized. i was so much better off without him. he had become toxic, using my anxiety and insecurities as a way to tear me down and an attempt to keep me by his side. he wanted me to need him. but i no longer did. i learned to live independently, and it was all thanks to you. this may sound cheesy and immature, but i guess you made me “fearless” enough to tell him, “you’re not sorry”. and i walked away from a toxic relationship with my head held high.
taylorswift, in no way to i expect you to read all this. but if you did, that would make my entire life. i have little to no hope that i will meet you, so for me, this is my only way to tell you my story and say what i have to say to you. thank you, taylor alison swift, for being there for me and being my best friend and relationship advisor, in situations where no one else could. thank you from the bottom of my heart that you mended with your touching lyrics. you are my inspiration, you have showed me that life goes on after heart break. you have left an amazing impression on a young girl that she will carry on forever and tell to her daughters. i love you, and i truly hope and pray you read this.
love always,
kira ( whateverkira )