kh sama

Selamat Bermuktamar Muhammadiyah dan Nahdlatul 'Ulama

Oleh: Mochammad Naruseito

Semoga keduanya mendapatkan pemimpin yang terbaik dan amanah bagi Indonesia.

Sebagai dua dari organisasi Islam terbesar di Indonesia, harapannya bisa mengayomi dan mempererat hubungan persaudaraan Indonesia yang majemuk, bhineka tunggal ika.

Perlu kita ketahui, pendiri dari Muhammadiyah, yakni KH. Ahmad Dahlan (semoga Allah merahmatinya) dan NU, KH. Hasyim Asy'ari (semoga Allah merahmatinya) berasal dari keturunan/nasab yang sama. Jika ditarik terus ke atas, akan bertemu pada satu nasab dari Maulana Ishaq, yakni seorang mubaligh dari timur tengah yang menyebarkan ajaran Islam di Indonesia di awal-awal masa penyebarannya dan juga merupakan seorang ayah dari Raden Muhammad ‘Ainul Yaqin yang lebih dikenal dengan nama Sunan Giri.

Tidak hanya berasal dari satu keturunan yang sama, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy'ari juga menimba ilmu di tempat yang sama dengan guru yang sama pula, yakni Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Beliau merupakan ulama 'alim di Mekkah dan juga imam Masjidil Haram yang berasal dari Minangkabau, Indonesia (luar biasa kan Indonesia?). Selama belajar di Mekkah, terjadi ketertarikan yang berbeda antara KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy'ari. KH. Ahmad Dahlan lebih senang kepada hal-hal praktek atau implementasi langsung dari nilai-nilai Islam, maka dari itu sepulangnya ke Indonesia, beliau mendirikan organisasi Muhammadiyah yang cenderung lebih kepada implementasi langsung nilai Islam. Konsentrasi yang cenderung pada praktek membuat Muhammadiyah banyak membangun rumah sakit, universitas, sekolah dan lembaga-lembaga lain yang didirikan dengan nama Muhammadiyah. Berbeda dengan saudaranya, KH. Hasyim Asy'ari lebih tertarik kepada kajian teori-teori dalam Islam. Bahkan beliau telah menghasilkan 19 kitab dari hasil belajarnya. Maka sepulangnya beliau ke tanah air, beliau bersama kakek dari Cak Nun, yakni HM Ikhsan, merubah kawasan rampok dan penuh maksiat di Jombang yang bernama Tebuireng. Di situ pula lah salah satu pesantren yang terkemuka hingga saat ini didirikan, pesantren Tebuireng. Konsentrasi KH. Hasyim Asy'ari yang cenderung kepada kajian teori Islam, membuat pergerakan NU lebih banyak menyentuh aspek pendidikan dan kajian kitab dalam bentuk pondok pesantren (ponpes). Tak heran, khususnya di Jawa sangat banyak di temui ponpes yang berbasis NU. Perlu dicatat, KH. Hasyim Asy'ari juga salah satu 'ulama yang membawa kitab Shahih Al-Bukhari dan diajarkan ke ponpes Tebuireng. Sebelum kedatangan KH. Hasyim Asy'ari, umumnya ponpes hanya mengajarkan tentang ajaran tarekat.

Dari penjelasan di atas, bukan berarti keduanya menjalankan Islam secara setengah-setengah. Akan tetapi ada titik fokus tertentu dalam pergerakan dakwah mereka dengan tidak membuang aspek-aspek yang lain. Ibarat dokter, ada dokter spesialis yang berbeda-beda namun pemahaman dasar mereka semua sama.

Lihat dari keduanya (Muhammadiyah dan NU), Islamnya sama (Ahlussunnah wal Jama'ah/Sunni), tempat menimba ilmunya sama, bahkan dengan guru yang sama. Dari nasab atau keturunannya pun sama. Namun berbeda. Berbeda? Iya, yang satu fokus kepada praktek yang satu fokus kepada teori. Maka saling melengkapilah keduanya.

Perbedaan di antaranya hanya perbedaan sepele. Yang satu tidak qunut ketika sholat subuh yang satu qunut. Sholatnya sama-sama sah bukan? Yang satu bacaan Basmalah nya dilirihkan yang satu dikeraskan. Sama-sama baca Basmalah. Yang satu niatnya tidak dilafadzhkan yang satu dilafadzhkan. Toh niatnya sama-sama Lillahi ta'ala.

Lantas apa yang membedakan?

Muncul pertanyaan besar. Golongan-golongan muslim di Indonesia saat ini banyak yang begitu toleransi dan mampu bergandengan tangan terhadap warga non-muslim lainnya di Indonesia. Tapi, kenapa hanya karena perbedaan yang sedikit antara golongan muslim kita jadi sulit akur dan saling sinis bahkan hanya untuk bergandengan tangan? Bukankah tujuannya secara garis besar sama?

Berbeda agama, gampang untuk toleransi. Tapi sesama muslim, sulit bertoleransi?

Mari kita tengok kaum Muhajirin dan kaum Anshor di masa Rasulullah SAW ketika hijrah di Madinah. Mereka menisbatkan dirinya sebagai kaum Muhajirin dan kaum Anshor, berbeda golongan namun disatukan oleh Islam. Iya, mereka berbeda golongan, namun mereka tetaplah muslim yang rukun, bersatu dan bersaudara. Ingatkah ketika Rasulullah Muhammad SAW marah saat kaum Muhajirin dan kaum Anshor hampir berperang hanya gara-gara masalah sepele? Betapa bencinya Rasulullah terhadap perpecahan umat Islam.

Tidak ada yang berbeda, semua golongan/organisasi/pergerakan yang melandaskan diri pada Al-Qur'an dan Sunnah/Hadits adalah sama, sama-sama Ahlussunnah wal Jama'ah (Sunni). Kenapa masih ribut? Namun akhir-akhir ini umat Islam khususnya di Indonesia semakin membangun yang namanya persaudaraan antar sesama muslim yang berbeda golongan/organisasi/pergerakan. Saat ini pula, dua dari organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul 'Ulama sedang melaksanakan Muktamar secara bersamaan dengan lokasi yang berbeda.

Mari kita do'akan agar keduanya mendapatkan pemimpin yang terbaik, bijaksana dalam menyikapi persoalan dan amanah dalam menghimpun kemajuan dan persaudaraan Islam di tanah air.

Dimanapun adzan berkumandang, di situlah tanah air seorang muslim.

Malang, Senin 18 Syawwal 1436 H / 3 Agustus 2015 M

(Referensi: Diambil dari berbagai sumber)