kesalahan fatal

Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?

@edgarhamas

“Tugas utama umat manusia disempurnakan oleh kaum Muslimin. Filsuf terbesar, Al-Farabi, seorang Muslim; Ahli Matematika terbesar, Abu Kamil dan Ibrahim Sinan, kaum muslimin; Ahli Ilmu Bumi dan ensiklopedis terbesar, Al-Mas’udi, seorang Muslim; Ahli Sejarah terbesar, Ath-Thabari, masih juga seorang Muslim!” -George Sarton (1884–1896 M)

“Seorang pria hitam di Afrika Selatan”, ungkap Munawer Suleyman seorang sejarawan, “duduk di ujung kursi. Ia tak diperkenankan duduk di kursi sepenuhnya, sebab kursi itu bertulis ‘dahulukan orang putih daripada orang hitam.” Politik Apartheid diciptakan oleh bangsa Eropa ketika mereka menjajah Afrika. Mereka pendatang, namun seenaknya membagi-bagi hak kemanusiaan, menciderai yang lain dan memuliakan kaumnya sendiri.

Beberapa puluh tahun kemudian, seorang guru di Amerika bertanya kepada muridnya, “anak-anak, siapakah bangsa yang pertama kali memperkenalkan dunia tentang persamaan?”, semuanya berebut menjawab, sebab mereka telah membaca buku sejarah semalam tadi, “tentu Amerika bu, Abraham Lincoln melakukannya!”

Padahal, beribu tahun sebelum Lincoln membebaskan budak-budak dan menghilangkan sekat hitam dan putih, telah ada satu pemerintahan yang melakukannya. Menjembatani hitamnya Ethiopia dan langsatnya kulit orang-orang Romawi. Mempertemukan mata coklat arab dengan mata biru Barbar. Menenun persaudaraan antara petarung-petarung sahara dan pemukim negeri Persia. Islam, dengan paripurna telah melakukannya.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Dulu, di Eropa, mandi merupakan suatu hal yang diharamkan oleh penguasa”, tulis Mark Graham dalam buku ‘How Islam Created World, “Pengharaman ini berakhir ketika Umat Islam memasuki Andalusia dan memimpin mereka.”

Sepulang dari Perang Salib, para bangsawan dan Pasukan Salib memasuki Gerbang-Gerbang Kota Eropa dengan bau harum. Mereka membawa “Sabun, Minyak Wangi, Kamfer, Balsem, Permadani mewah Islam , sedangkan yang terbawa tak sengaja adalah Pengaruh Akhlaq Islam. Sebelum itu Bangsawa Eropa tak kenal sabun dan minyak wangi. Mereka hanya mengolesi badannya dengan semacam tanaman liar”, tulis Profesor Poeradisastra.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Pada kaum muslimin, mau tidak mau kita harus mengakui”, kata Will Durrant dalam The Story of Civilization hal. 187, “bahwa merekalah pencetus pertama Ilmu Kimia sebagai salah satu cabang keilmuan”

Pada saat yang sama, “ketika umat Islam memulai penemuan-penemuan penting dalam ilmu Fisika dan Kimia”, dilansir dalam laman sejarah ‘Katibah At Tarikh’, “orang Eropa ramai-ramai menganggap bahwa warna-warni tabung kimia itu sebagai sihir, mereka menjauhinya dan menuduh umat Islam telah bersekongkol dengan iblis, sebuah kesalahan yang fatal.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Rumah Sakit hewan pertama di dunia”, dilansir dari laman Ottoman Archives, “dibangun pada Abad 18 di Bursa, Turki hari ini. Penggagasnya adalah Kekhalifahan Utsmani. Kekhalifahan sangat mengaskan rakyatnya untuk menyayangi binatang, hingga mengadakan program santunan binatang setiap musim dingin, membentuk pasukan khusus untuk menelusuri bukit curam dan gunung-gunung, menebarkan makanan bagi hewan liar yang kelaparan.”

Sementara di saat yang sama, dunia mengenal hewan sebagai makhluk yang disia-siakan. Keledai dipaksa mengangkat beban melebihi kapasitasnya. Banteng-banteng dipertarungkan dalam adat matador. Singa-singa dipertontonkan di Colosseum, bertarung sampai ada yang mati. Dan Islam datang, menebar cita dan cinta, hingga sampai-sampai, terkenang salah satu Undang-undang Umar bin Khattab yang berjudul, “Aturan Muatan yang boleh dibawa Keledai”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Di waktu ketika perpustakaan terbesar di Eropa adalah Library of Saint Gallen dengan jumlh 600 buku”, dilansir dari laman Tarikhuna Al Adzim, “di saat yang sama, Cordoba di bawah naungan Islam telah memiliki perpustakaan di banyak tempat dengan masing-masingnya memiliki 400 ribu buku.”

“Ketika Kerajaan Castilia pimpinan Ferdinand dan Isabella menghancurkan peradaban Islam di Spanyol”, tulis Raghib As Sirjani dalam bukunya ‘Qisshatu Al Andalus’, “mereka membakar lebih dari satu juta buku. Jumlah yang sangat besar yang tidak dimiliki oleh dunia saat itu.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Islam itu agama perang”, orang-orang berseloroh begitu. Yakin? Jika memang yang mereka katakan begitu, lalu mengapa sampai jatuh korban 60 juta jiwa setelah perang dunia II oleh bangsa Eropa? Sedangkan tak pernah ada korban perang sebanyak itu dalam peperangan yang dilakukan Umat Islam. Jika memang Islam agama teror, mengapa sejarah malah mengenang kebengisan pasukan Salib yang membantai 70.000 warga kota selama 4 hari 4 malam?

Justru Islam malah datang dengan aturan pertempuran yang ‘maha lembut’. Kok bisa? Bayangkan, dalam aturan pertempuran saja, tidak dperbolehkan pasukan muslimin menebang pohon, merusak taman, membakar tanaman. Tak boleh menyerang wanita, anak-anak dan orangtua. Tak boleh menyerang tempat ibadah. Tak diperkenankan menyerang orang yang sudah menyerah. Hebatnya.

(Notulensi Pribadi Ketika Mengisi Kajian Online Gamasis UNPAD)

Obat Penawar Bernama Doa

Waktu berdetak diselimuti gigil dalam doa-doa yang melangit di sepertiga malam. Aku terbangun, mendengar suara langkah kakinya menjauh dari ranjang. Tiap malam tiada putus, ia meletakkan sujud di atas sajadah putih itu. Lalu, diam-diam aku mengamatinya yang penuh khusyuk, menghidupkan doa - doa utuh.

Entah doa apa saja yang sedang ia himpun. Di balik wajah teduhnya tersimpan banyak kegelisahan dan kesedihan yang tak pernah habis. Padahal ketika berhadapan denganku begitu tabah hatinya mengibur tanpa batas.

Aku dalam segala kekurangan selalu menyatakan penyesalan - merasa Tuhan tak bersikap adil dan banyak memberi kesusahan. Sekian kalinya aku menangis mengutuk diri sendiri. Namun, aku sadar sikapku yang seolah membenci Tuhan adalah kesalahan paling fatal. Jika ternyata, itu semua merupakan ujian kesabaran.

Satu-satunya yang membuat hatiku tak menuduh Tuhan bersalah adalah ibu. Aku tak perlu penawar apapun agar kondisiku kembali seperti semula. Aku takut jika nanti melupakan rasa syukur. Sebulan lalu, dokter menyatakan kemungkinan kecil kondisiku normal. Kecelakaan itu membuatku lumpuh permanen. Kedua kakiku sudah mati rasa. Kini kemanapun duduk di atas kursi roda.

Setelah kusadari, doa-doa ibuku sudah cukup menjadi penawar. Pun ketenangan abadi diantara banyak penawar mujarab di dunia yang fana ini. 

Menjadi percaya kepada apa saja yang kamu rencanakan, kepada apa saja yang sudah kamu pilih, adalah perjalanan meyakinkan diri sendiri yang cukup panjang. Jangan kira itu terjadi begitu saja. Aku bernegosiasi dengan segala pikiran buruk yang selalu berhasil masuk. Bukan mengkhawatirkanmu, tapi mengkhawatirkan hal jelek yang sama-sama tidak kita tahu bagaimana dan kapan ia akan terjadi pada setiap manusia.

Hanya, kekhawatiran ini tidak aku kabarkan terang-terangan. Sebab jika kuberitahukan, kamu bisa menertawakanku satu harian. Rasanya malas jika kekhawatiranku dianggap barang lucu. Atau salah-salah, kamu akan anggap ini sebagai beban: satu kesalahan artinya fatal. Maka, aku pilih percaya saja dan, apalagi selain, mendo'akan.

Kamu sudah melalui banyak hal. Hingga sampai pada sesuatu yang kamu putuskan, sebaiknya kuanggap, kamu pasti sudah sangat paham dengan risiko dan keuntungannya, kamu siap menyelesaikan apa pun yang sudah kamu mulai. Yang paling penting, ada Tuhan yang tidak kamu biarkan jauh-jauh dari setiap tindakan. Jadi, memang tidak ada yang perlu aku khawatirkan secara lebih. Yang harusnya terjadi pasti terjadi, yang tidak, maka tidak.

Begitu, kan?! Iya. Apalagi?!
Pada akhirnya aku sadar, kau lebih kucintai daripada aksara dan menulis itu sendiri. Tak heran setelah kau benar-benar hilang dari rongga dada, kata-kata seolah balas dendam dan tak mau mampir di benak. Dan itu kesalahan fatal yang harus kutebus begitu mahal. Kurasa, aku harus meminta maaf dan memperbaiki apa yang salah sejak awal; belajar mencintai kata sebelum menjadikan manusia atau benda sebagai sumbernya.
MERAWAT UKHUWAH
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Berikan udzur terbaik bagi saudaramu. Jangan tergesa-gesa memvonis, jangan pula serampangan mengikuti persangkaan.

Betapa banyak persahabatan terputus dan ukhuwah terkoyak disebabkan sikap tergesa-gesa dalam menilai serta gegabah dalam menyimpulkan. Hanya karena berita sepotong atau bahkan desas-desus yang tak jelas, penilaian dijatuhkan dan sikap diputuskan. Bukankah ini yang dulu menyebabkan Imam Adz-Dzuhli berbalik memusuhi murid terbaiknya yang kelak masyhur dengan sebutan Imam Bukhari?

Sejarah telah berlalu dan darinya kita mengambil pelajaran. Inilah jalan terbaik agar kita tidak terjerumus ke dalam kesalahan fatal yang sama. Bukankah hukum sejarah itu tetap? Tak pernah berubah. Hanya bentuk-bentuknya saja yang berbeda. Tetapi prinsip pokoknya sama.

Sejarah yang jujur adalah pelajaran terbaik agar kita tak harus mengalami musibah-musibah besar. Terlalu mahal harga yang harus kita bayar jika belajar hanya dari pengalaman diri sendiri. Boleh jadi bahkan hingga kematian tiba, kita belum dapat mengambil pelajaran dari pengalaman kita; dari serangkaian kesalahan fatal kita.
—  Mohammad Fauzil Adhim

[EPISODE MANUSIA YANG DIHILANGKAN]

Pernah nggak, kamu nonton serial anime yang berepisode, lalu ada satu dua episode yang ternyata lupa terdownload? Rasanya ada yang kurang, jengkel dan kesal. Sebab kadang, episode yang hilang itu ternyata adalah momentum inti dari serial animenya. Di situ, kadang kita merasa sedih, hehe.

Keadaan itu ternyata diadaptasi juga oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab untuk mengisahkan pada umat manusia tentang sejarah peradabannya. Dalam salah satu video sejarah peradaban manusia buatan orang Barat, muncul tahun-tahun dan rangkaian peristiwa yang menjadi momentum sejarah tak terlupakan. Berdirinya Piramid, ditemukannya bidang miring, ditemukannya kertas dan alat tulis; itu semua rata-rata terjadi tahun 600an kebelakang.

Dan secara ajaib, dari tahun 600 tiba-tiba timeline meloncat sampai tahun 1500. Orang awam akan berpikir mungkin tidak ada hal besar yang terjadi antara tentang 600 M sampai 1500 M. Padahal, sejatinya saat-saat itulah dasar ilmu pengetahuan dan pencapaian peradaban manusia memasuki gerbang kemajuan yang sangat-sangat pesat.

Apakah episode yang telah dihilangkan itu? Secara jahat dan serampangan, banyak pihak yang menghilangkan peran kaum Muslimin dalam mengembangkan peradaban manusia. Rentang 600-1500 adalah Golden Ages milik muslimin, yang sederhananya, saat itulah umat Islam jadi superpower layaknya USA dan Eropa hari ini. Jahat? Banget. Orang akan berfikir bahwa umat ini cuma numpang hidup di bumi tanpa mengembangkan peradaban. Dan itu kesalahan berpikir yang fatal.

Buku-buku sejarah berbahasa Inggris yang saya baca pun, begitu adanya. Dalam Pageant of World History, secara serampangan umat Islam dikenalkan sebagai pengembara gurun dan nomad. Peradaban Romawi diagungkan, lalu diteruskan oleh bangsa Eropa. Padahal, jarak antara Romawi dan bangkitnya Eropa adalah rentang yang mahapanjang. Lebih dari 950 tahun!

Nah, berangkat dari sinilah, kita punya tekad untuk ‘mendownload’ episode yang hilang itu dan menyampaikannya pada manusia. Sebab tanpa adanya episode ini, ada rantai sejarah yang putus dan mewariskan pemahaman yang sangat keliru untuk memandang dunia. Maka, peran pemuda muslim ditunggu, untuk banyak menginstall sejarah Islam dari sumbernya yang asli. Kita punya kewajiban untuk mengembalikan izzah kita dengan menata pemahaman sejarah kita. Kita bukan umat sembarangan, dunia tahu itu tapi mereka sembunyikan. Singkap!

Gambar : Kekuasaan Muslimin di Eropa Timur. Dulu, adzan berkumandang ratusan tahun di Athena, Bulgaria, kota-kota Austria Hongaria, bahkan sampai Rusia dan Ukraina.

@edgarhamas

Aku percaya. Bahwa dalam suatu hubungan akan ada yang namanya bosan. Kalau kata anak sekarang “udah b aja”. Tapi kamu harus tahu. Aku bukan orang yang akan pergi meski rasa tidak lagi sama. Selagi kamu tidak membuat kesalahan fatal. Serta masih ingin bersama. Aku akan kembali menumbuhkan cinta. Pelan-pelan kamu akan masuk kembali ke hatiku, seperti sedia kala.

Sebab aku percaya, bahwa cinta adalah kata kerja. Selagi mau berusaha dan menerima.

Learn From Experience #54

Belajar Menjadi Wanita yang Bersyukur

“Suamiku kok ga bantu cuci piring ya?”
“Suamiku kok ga ikut begadang jagain anak ya?”
“Suamiku kok ga mau mengepel rumah?”
“Suamiku kok ga ini, ga itu, banyaklah inginnya.”

Ya, itulah yang rutin dibicarakan para ibu-ibu, dimanapun tempatnya, baik secara langsung bertatap muka maupun via sosmed. Entah masih golongan mahmud (mamah muda) ataupun sudah memiliki banyak cucu. Saya perhatikan makin kesini, kok, kita ini para wanita banyak banget ya nuntut ini itu ke suami? Padahal kita sendiri belum bisa memberikan yang terbaik untuk suami. Tuntutan kita jauuuh lebih banyak daripada apa yang bisa kita berikan untuk suami.

Saya ingin sedikit saja bercerita pengalaman pribadi di keluarga saya yang menjadi pelajaran berharga bagi saya sendiri. Sejujurnya, saya juga pernah sempat mengeluh pada suami karena lelah dengan rutinitas rumah tangga. Bahkan, sempat mengeluh juga pada suami dengan kekurangannya.

Tapi, karena saya dan suami suka ngobrol, suami suka menasehati kalau saya ada salah, kalau ada kekeliruan dalam rumah tangga, bahkan malam-malam kami meng-haruskan untuk ngobrol bareng dulu sebelum tidur, mau dibawa kemana keluarga kami, agar tujuan bersama yang diharapkan tercapai, supaya sama-sama merasakan ‘kebahagiaan sesungguhnya’, bisa menikmati kehidupan berkeluarga, dengan sama-sama ‘mengerti’ tanggung jawab masing-masing. Jadi, masalah keluarga banyak yang terpecahkan dari ngobrol-ngobrol ini, karena saling terbuka.

Saya dan suami pernah baca cerita seorang suami yang suka meremehkan pekerjaan istrinya. Padahal, istrinya sama sekali tidak pernah mengeluh pekerjaannya, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dari mulai mengepel, mengasuh anak, mencuci baju, memasak, menyetrika, membersihkan kamar mandi, dsb. Saat suaminya pulang kerja, ada kekurangan sedikit saja yang dilakukan istrinya, suaminya langsung membentak.

“Kamu ini benar-benar ga becus jadi istri, ngurus rumah tangga ga bisa, kamu ga tau apa aku capek habis kerja? Anak-anak belum mandi, masakan ga enak, mainan berantakan,” banyaklah komplennya.

Ini tipikal suami, yang ga ngerti ‘beratnya’ kerja menjadi ibu sekaligus istri dalam rumah tangga. Tapi, ini adalah cerita di satu sisi suami yang tidak pandai berterimakasih dengan apa yang telah istrinya lakukan, dari pagi hari sampai suaminya pulang kembali dari kantor.

Di sisi lain, kami juga sering menemukan, sisi dari istri yang juga mengeluhkan prilaku dan sikap suaminya. Seorang istri yang merasa kerjaannya paling berat, tidak ada suami yang sanggup mengerjakan pekerjaannya. Wanita ini berpikiran, pekerjaan dia lebih capek dari pekerjaan suaminya. Jadi menurut wanita ini, suami itu setelah pulang dari kerja, harus membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah. Atau sebelum misalnya suami pergi ke kantor, minimal menyapu atau mengepel rumah, membantu istri. Apalagi banyak wanita muslimah sekarang yang menekankan bahwa seorang suami itu harus mencontoh prilaku Rasulullah SAW yang suka membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti ilmu yang biasa di dapat di pengajian. Wanita ini juga komplen, ketika suami tidak membantu nyebokin anak, tidak ikut bangun malam memberikan ASI, minimal ingin ditemani. Pokoknya di mata istri, ia merasa kerjanya lebih berat dan lebih capek dibanding kerjanya suami yang duduk ‘doang’ di kantor dan ber-AC.

Kalau kita lihat, dua keluarga ini adalah keluarga yang tidak bahagia. Ini yang selalu suami ceritakan ke saya.

“Tahu ngga dek, apa yang salah dari keluarga mereka?” Tanya suami.

Satu, ketika orang merasa kerjanya ‘lebih berat dan merasa lebih capek’ dibandingkan pasangannya, otomatis dia akan merendahkan pasangannya. Tidak menghargai apa yang sudah pasangannya lakukan untuknya.

Dua, kesalahan fatal dari mindset ini menyebabkan orang menjadi tidak semangat mengerjakan pekerjaan masing-masing yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

Tiga, suami kita itu berbeda dengan suami orang lain. Istri kita, berbeda dengan istri orang lain. Pun anak kita, berbeda dengan anak yang lain. Mereka semua bahkan kita sendiri tidak mau disama-samakan. Jadi berhentilah untuk membanding-bandingkan pasangan kita dengan orang lain. Hal ini akan menjadi pertengkaran dan keretakan di dalam rumah tangga.

Empat, cobalah kita belajar menjadi hamba yang bersyukur atas apa yang telah pasangan kita lakukan untuk kita. Insya Allah itu akan merubah mindset dari negatif menjadi positif. Jadilah pasangan yang mensupport apapun usaha yang telah dilakukan pasangan. Istri belum tentu sanggup melakukan kewajiban dan tanggung jawab suami, begitu pula sebaliknya, suami belum tentu sanggup mengerjakan semua pekerjaan istri. Allah telah mendesign setiap jenis laki-laki dan perempuan sesuai dengan tanggung jawab dan kodratnya masing-masing.

Kalau suami saya, misalnya ketika ngobrol sama orang, ia sangat membanggakan pekerjaan saya di rumah, mengurus anak, mengurus rumah, memasak makanan untuk ia dan anak-anak. Suami sering bercerita, tentang kesuksesan ibu-ibu hebat dalam mendidik anak-anaknya sehingga menjadi orang-orang hebat, karena seorang istri dan ibu yang memberikan pelayanan dan didikan secara full dirumah.

Tapi kalau ada yang membanggakan istrinya kerja dengan tittle S1, S2, bahkan S3 hingga istrinya bisa menjadi wanita karir, kata suami saya, “Aduh saya lebih membanggakan istri saya yang lebih memilih berkarir di rumah dibandingkan di luar.”

Jadi saya pribadi sebagai istrinya, lebih semangat karena dibanggakan oleh suami. Mengurus anak, memasak, membersihkan rumah, mengajari anak, saya semangat melakukannya karena suami mensupport, dan saya merasa begitu bernilai di mata suami. Senang, bukan? Sama juga seperti suami, kalau bernilai dan berharga di mata istri, jadi tambah semangat melakukan pekerjaannya. Kalau suami semangat, insya Allah kedepan karirnya akan lebih baik.

Memang sih, saya juga sempat mengeluh sebagai istri terhadap aktivitas harian saya. Tapi ketika ngobrol lagi sama suami, saya jadi berpikir ulang, apa saya sanggup mengerjakan pekerjaan suami? Sanggup bertanggung jawab seperti yang suami lakukan sekarang? Suami berpikir 5-10 tahun ke depan, sedangkan kebanyakan dari para istri hanya berpikir hari ini, besok, dan lusa. Makanya banyak istri suka shooping, menghabiskan uang suami. Ya, bukan?

Seandainya suami saya mengeluh, dengan kekurangan-kekurangan saya mengurus anak, kekurangan saya mengurus rumah, kekurangan saya tidak membantu ekonomi keluarga, kekurangan saya tidak bisa membantu pekerjaan suami di kantor, kayaknya ga enak juga didengar ya? Saya jadi down juga.

Tapi Alhamdulillah, kebanyakan dari para suami tidak begitu. Lebih banyak istri yang curhat antar wanita tentang kekurangan-kekurangan suaminya. Sangat jarang sekali suami yang curhat tentang kekurangan-kekurangan istrinya. Makanya kata suami, pentingnya jadi manusia bersyukur itu menjadi titik point, apakah orang itu bisa bahagia atau tidak dalam hidupnya. Dan pentingnya menghargai tugas dan tanggung jawab pasangan, menjadi tolak ukur kehidupan rumah tangga mereka akan bahagia atau tidak.

Kenapa saya ga bersyukur punya suami yang mau bekerja dan bertanggung jawab untuk keluarganya?
Kenapa saya ga bersyukur punya suami yang mau mencari uang tambahan untuk menopang ekonomi keluarganya?
Kenapa saya ga bersyukur punya suami yang terus mengajak saya untuk mengingat Allah?

Sedangkan, di luar sana banyak wanita yang mengharapkan tipikal suami seperti ini. Lalu, kenapa saya harus fokus sama kekurangannya? Sedangkan kelebihannya kalau dilihat lebih banyak dari kekurangannya. Inilah alasan suami juga sering mengingatkan, kenapa wanita banyak yang masuk neraka. Karena banyaknya wanita yang tidak bersyukur terhadap kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan oleh suami.

Saya hanya sharing sedikit saja pengalaman rumah tangga kami, karena saya banyak belajar dari suami tentang bagaimana belajar hidup, bagaimana berusaha untuk berpikiran positif, sehingga bisa menularkan energi positif di rumah dan di sekitar kami. Selebihnya, keluarga kalian yang lebih tahu ☺

06.07.17

Menghitung hari memasuki usia 25.
Semoga menjadi hamba yang senantiasa amanah dengan titipan-Nya. Aamiinn.

Topeng Putih: Alasan Kedua

Satu kesalahan fatal yang kulakukan malam ini adalah merindukanmu. Ya, walau memang di malam-malam sebelumnya aku juga melakukannya. Tapi malam ini, aku melakukan kesalahan paling fatal. Aku terlalu payah merindukanmu, hingga aku mencoba mencari tahu tentang kabarmu.

Pertama kubuka aplikasi chat di handphone, dan yang mengherankan: di antara semua aplikasi chat yang aku punya, tak satupun memperlihatkan foto profilmu di sana. Padahal aku tahu dan aku yakin beberapa bulan lalu kita masih saling bertukar kata dan sapa. Apakah aku mengganggumu? Atau memang kau uninstall semua aplikasi chatmu?

Semoga karena alasan yang kedua.

Selanjutnya, aku mencoba menghubungimu lewat sms dan telepon. Ada banyak nomermu yang aku save, namun tak satupun dari mereka yang terhubung. Aku hanya mendapat jawaban dari seorang wanita dengan suara sedikit manja, mengabarkan bahwa nomermu salah, tidak aktif dan tidak dapat menerima telepon. Apakah kau tak mau lagi berhubungan denganku? Atau kau memang mengganti semua nomermu?

Semoga karena alasan yang kedua.

Selanjutnya, aku membuka semua akun social mediamu. Dan mungkin di sini kesalahan fatalku. Kutemukan semua tulisan di sana adalah tentang permintaan maaf dan mencoba pergi melupakan seseorang, juga sebelumnya ada beberapa post berisi kata-kata mesra untuk seorang yang bersamamu sekarang. Apakah itu karena aku? Atau karena kau mencoba melupakan seorang yang sekarang bersamamu?

Semoga karena alasan kedua.

Hingga akhir tulisan ini, aku masih bertanya-tanya. Meyakinkan hati dan rindu bahwa semua itu karena alasan yang kedua. Tapi logika tak bisa menerima, ia berpikir begitu banyak bagaimana, mengapa, apa dan ribuan tanya yang membuatku tak bisa pejamkan mata.

Tolong jelaskanlah, apa kau tega menyiksaku tiap malam dengan pertanyaan-pertanyaan rindu yang tak bisa kuberi jawaban? Mataku butuh tidur, rinduku perlu dihibur.

Selamat malam. Kutahu kau sudah tidur, maka jangan mimpikan aku.

Plagiat? Plis deh, ah!

Sebenarnya tidak ada yang salah dari video ini, jika melihat pada isinya. Tapi ketika kita berbicara tentang orisinalitas konten, ada kesalahan fatal yang pihak Yufid lakukan di video ini.

Materi di video ini adalah tulisan Al Ustadz KH. Deden Muhammad Makhyaruddin dalam bukunya, “Rahasia Nikmatnya Menghafal Al Qur'an”, yang diterbitkan oleh Noura Books Publishing pada tahun 2014. Tidak masalah jika yang dicantumkan dalam video ini adalah nama sang penulis, yaitu Ust. Deden. Tapi yang dicatut justru nama orang lain. Di sini letak kesalahan fatalnya.

Ya, saya enggak biasa menulis yang seperti ini. Tapi media yang tugasnya mencerahkan pemahaman umat, harusnya menjaga etika dalam pembuatan konten-kontennya, bukannya malah “yang penting orang terinspirasi”. Media Islami tidak seperti itu.

Ya, semoga kita semua bisa belajar dari kejadian ini. Alangkah baiknya jika pihak Yufid memberikan klarifikasi dan memohon maaf kepada Ust. Deden. Saya rasa Ust. Deden pun tidak masalah kata-katanya diambil, tapi yang menjadi masalah adalah jika nanti kebiasaan mencatut nama orang ini diteruskan. Tentu nama baik umat Islam juga jadi taruhan, mengingat Yufid adalah medianya umat Islam.

Tulisan Ust. Deden dalam bukunya, “Rahasia Nikmatnya Menghafal Al Qur'an” yang dijadikan materi video ini, akan saya pos pada pos setelah ini.

Jakarta, 20 Oktober 2017
Ibnu Kurnia

Sejahat-jahatnya wanita, mereka tidak boleh dipukul, dibentak dengan bahasa kasar, atau diteriaki di tempat umum.
Jika dia salah, jelaskan dia salah, tapi tidak dengan cara diteriaki.
Jika dia melakukan kesalahan yang fatal, ajari dia dengan kehilangan, bukan dengan pukulan.
Jika dia tidak mau mendengarkan, peluklah hingga dia tenang, lalu ajak dia berdiskusi, bukan berdebat.
 
Itu yang seharusnya para Pria lakukan.
Jika Salah

Jika niatku salah, maka beri tahu. Agar aku bisa memperbaikinya.

Jika tujuanku salah, maka tunjukkan kemana seharusnya aku melanjutkan perjalanan.

Jika caraku salah, maka tegurlah. Agar tidak lebih banyak lagi kesalahan yg berujung fatal.

Jika menurutmu aku salah, bicaralah. Jangan dengan diam saja aku menafsirkan kesalahan-kesalahan sendiri. Bantu-lah aku untuk menjadi orang baik.

Kesalahanmu yang pertama adalah kamu mengenalnya, hingga kau menjadi dekat dengannya. Kesalahan selanjutnya adalah kamu mencintainya, hingga kau menaruh harapan untuk memilikinya. Kesalahan berikutnya adalah kamu memberitahunya bahwa kamu mencintainya, hingga ia berbuat sesukanya. Kesalahan yang paling fatal adalah kamu sudah terlanjur menjatuhkan hatimu sejatuh-jatuhnya, hingga berapa kalipun ia membuatmu terluka kau tetap selalu memaafkannya.
—  Terlanjur sudah
Dialog Sore tentang Memasak

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah tulisan yang aku buat, ada komentar yang bilang gini :

Hanya pria-pria yang sedang jatuh cinta yang bisa nulis hal-hal manis tapi ga realistis kaya gini. Seumur-umur baru tau ada pria yang ga mempermasalahkan kalau calon pasangannya ga bisa masak.

Tidak 100% salah, dan tidak 100% benar. Teman baik saya membaca komentar itu dan tertawa. Dia bertanya, “Bagaimana pendapatmu, Gun?”

Aku?

Aku memastikan pertanyaan temanku itu. Tidak masalah. Maksudku, tidak masalah pendamping hidupku nanti tidak bisa memasak. Itu bukan hal yang sangat utama dalam rumah tangga, namun tidak bisa disangkal bahwa di Indonesia, paradigma seperti itu (seorang perempuan/istri harus bisa memasak) telah menjadi pandangan umum dan dianggap benar. Jadi, jika ada sesorang istri yang tidak bisa memasak, dianggap kesalahan fatal oleh masyarakat umum.

“Aku tanya,bagimu sendiri bukan secara umum?”, dia menegaskan.

“Aku tidak masalah”, aku menegaskan jawabanku.

Temanku diam. Lalu menanyakan alasan.

Dalam alasan ini, aku harus berbagi sedikit cerita. Kalau tidak salah, salah satu cerita dari mbak Asma Nadia. Pada satu hari dia memasak untuk suaminya dan ketika selesai, keduanya telah dimeja makan. Suaminya bertanya. Untuk memasak ini dia butuh waktu berapa jam. Dijawabnya dua jam. Suaminya bertanya lagi. Dalam dua jam, berapa cerpen yang bisa ditulis. Dia menjawab kira-kira dua cerpen. Suaminya tersenyum dan bilang, besok-besok lebih baik menggunakan waktunya untuk menulis saja agar lebih produktif. Memasak biar diurus yang lain.

Ada cerita lain. Seorang perempuan yang dinikahi oleh pemuda lalu diajak ke luar negeri. Di sana, masih dengan paradigma yang dibawa. Sang perempuan memasak, mencuci, membersihkan rumah sepanjang waktu, menyetrika. Lalu pada suatu hari suaminya melihat itu dan bersedih. Dia mengatakan kepada istrinya agar besok istrinya tidak perlu lagi melakukan semua itu dan meminta istrinya untuk melanjutkan sekolah. Belajar untuk masuk ke sekolah S2 lanjutan di negeri itu. Istrinya bingung mendengar perintah suaminya. Bukankah itu tugas istri di rumah. Pikirnya begitu. Suaminya menjawab, tidak itu bukan tugas istri. Dia mengatakan, istrinya harus memiliki waktu untuk hal yang lebih produktif dan lebih berkualitas untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan keahliannya. Kebetulan istrinya juga seorang ‘tukang gambar’ saat itu. Suaminya memintanya agar bisa memanfaatkan waktunya untuk melatih keahliannya itu. Urusan rumah tangga, suaminya memutuskan menyewa pembantu. Istrinya yang masih bingung itu menangis. Menangis bahagia tentunya. 1001 laki-laki yang berpikir seperti itu saat ini.

Temanku manggut-manggut. Bertanya lagi, jadi kamu ingin menjadi laki-laki yang berpandangan seperti itu?

“Iya”, jawabku.

“Lalu bagaimana dengan paradigma yang sudah ada?”, tanyanya.

Mmmm …. memang sulit mengubahnya. Aku memang tidak menjadikan pandai memasak sebagai kriteria, meskipun aku suka makan nantinya. Pun, nantinya kalau aku mendapati istriku tidak bisa memasak, tidak akan menjadi masalah besar. Kalau aku mendapati istriku bisa memasak, anggap saja itu anugerah. Dia boleh menentukan waktunya. Kalau memang dia senang dan asyik memasak, tidak perlu dilarang juga kan.

“Jadi intinya apa, Gun?”.

“Intinya sih, bisa atau tidak soal memasak. Tidak menjadi prioritas bagiku. Biar nanti istriku menggunakan waktunya lebih produktif. Untuk hal-hal yang lebih bemanfaat besar bagi keluarga dan orang lain. Sekolah untuk meningkatkan ilmunya misalnya, atau melakukan keahliannya/kesukaannya. Mengembangkan potensinya.”

“Yakin nih?”, tatapnya tidak percaya.

“Kita buktikan saja nanti. Oh iya, ini bagiku ya dan ini pemahaman yang aku miliki. Jadi, tidak ada yang boleh protes. Haha. Di luar sana mungkin orang lain berpikir berbeda denganku. Keahlian memasak bukanlah hal yang harus dan wajib bagi perempuan, tapi laki-laki juga bisa memilikinya. Intinya adalah bagaimana menjadikan waktu yang dimiliki istri nanti tidak habis untuk hal-hal yang kurang produktif. Dan ini tidak hanya menyangkut soal memasak, tapi aktivitas lain yang dalam paradigma yang ada.Jika memasak baginya adalah kesukaan dan menjadikannya produktif, tentu lain masalah kan?”

Pembicaraan ini ditutup oleh adzan ashar.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Bandung, 14 Januari 2014

©kurniawangunadi

setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda dalam masalah ini, tidak ada salahnya kan :)

pak maulana, Qiyash, dan pemimpin

dari dulu saya pengen bikin tulisan tentang pak maulana,, niat udah ada cuman alasan belum kuat .. haha
gara2 ada maslah kemaren2 baru merasa pengen segera menulis 

kapan hari pak maulana ini bilang “untuk masalah kepemimpinan tidak usah berbicara agama” dan pak maulana ini menggambarkan pemilihan pemimpin dengan situasi pemilihan pilot.

di Islam untuk menentukan suatu hukum itu ada namanya metode Qiyash, yakni metode menyamakan, membandingkan, atau mengukur 

dalam metode qiyash ini,, Ashal (pokok) dan Fara’ (cabang) harus ada keterkaitannya dalam suatu konteks yang relevan,,
dan juga antara ashal dan Fara’ ndak boleh terbalik.
yang selanjutnya, metode qiyash ini diperuntukkuan untuk suatu permasalahan  baru yang belum ada sewaktu Rasulullah masih hidup.

nah kapan hari itu pak maulana mengQiyashkan pemimpin terhadap pilot.
untuk yang tau hukum Qiyash pasti udah geleng-geleng kepala,,
sudah ndak ada keterkaitan, ashal fara’ nya kebalik pula.

lagipula hukum menentukan pemimpin udah gak perlu di Qiyash lagi,, karena sudah ada hukumnya dan jelas tanpa keambiguan. Apa alasan pak maulana merubah hukum yang sudah ada dan telah jelas ?
udah gitu hukum hasil dia Qiyash malah bertolak belakang dengan Qur’an dan hadist
sesuatu yang seharusnya tidak akan pernah dilakukan orang dengan gelar ustadz.  kenapa orang yang dipanggil ustadz dengan banyak fans bisa melakukan kesalahan fatal dalam menentukan hukum suatu perkara.  
dosanya besar lho.

padahal udah jelas dalilnya
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin/pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ? (QS An Nisa 144)

justru masalah pilot itu yang hukumnya perlu di Qiyash ,, karena jaman Rasulullah belum ada pilot
namun Qiyash nya bukan dalam konteks pemimpin,, tapi dalam konteks berdagang jasa
kita transaksi dengan maskapai penerbangan akadnya memilih pemimpin atau membeli suatu jasa ?
beli jasa kan… jasa transportasi.. nah dalam transaksi kita dengan maskapai penerbangan, salah satu pelaksana jasanya adalah seorang pilot.
jadi pilot bukan sebagai pimpinan kita, tapi pelaksana jasa yang telah kita beli.

lantas gimana kalo pilotnya non muslim ?? kita bermuamalah dengan non muslim itu diperbolehkan ,, Rasulullah pun berdagang dengan yahudi,, jadi ndak masalah. 
perniagaan sama memilih pimpinan itu beda jauh, jadi mana bisa pake Qiyash antara pemilihan pemimpin dengan pilihan pilot ,, ndak ada keterkaitan

selanjutnya statemen “ “untuk masalah kepemimpinan tidak usah berbicara agama”
Ya Allah,, namanya pendakwah itu ya, harus berusaha dan mikir supaya umat muslim ini meyertakan agama dalam setiap kehidupannya. Ini kok malah gak boleh bawa2 agama
Islam itu agama yang menyeluruh ajarannya,, klo untuk hal sederhana seperti penyucian setelah buang air besar, gunting kuku, pake baju, masuk kamar mandi aja ada dalilnya, ada fiqih nya, ada contohnya dari Rasulullah,, kenapa memilih pemimpin yang lebih kompleks dan krusial gak boleh bawa agama ??

malah yang bawa agama dituduh mau black campaign 
Astagfirullah

saya sering menemukan statemen yang sembarangan dari pak maulana, terutama waktu sesi tanya jawab
hampir ndak pernah dia menjawab pertanyaan audience dengan menyertakan hujah entah  dalil hadist/Qur’an atau pendapat ulama, itu berarti yang keluar sebagai jawaban dari dia bukan ajaran Islam yang sebenarnya, tapi pendapat subjektif dari pak maulana, 

Coba bandingin dengan cara menjawab dari Dr.Zakir naik, ustadz Quraish shihab, atau ustadz Adi Hidayat,, dimana waktu mejawab mereka selalu ada hujah dari Qur’an, hadist, atau pendapat ulama. 

Ingat, setiap mu’min apalagi juru da’wah wajib menyampaikan dalil yang berdasar Alqur’an dan Sunnah

saya bikin tulisan untuk sharing kenapa kemaren apa yang dilakukan pak maulana dipermasalahkan oleh umat islam,,
jadi yang tetep dukung pak maulana supaya gak asal dukung,, yang ndak setuju dengan ustadz maulana supaya gak asal gak setuju, 

oh.. ya klo ada yang nanya kenapa saya nyebutnya pak maulana, bukan ustadz maulana…
ustadz itu klo di indonesia sebutan diberikan pada mereka yang ilmu agamanya tinggi 
nah perumpamaannya adalah, saya gak mau manggil seseorang dengan sebutan jenderal klo dia masih kopral
hope you got it 

akhir kata 
semoga kita semua dilindungi dari pendakwah yang jahil 
Aaamiin 

Wallahu a’lam

NB: fell free untuk menyanggah atau bertanya