kesalahan fatal

karuniaindahsari  asked:

Menjadi lebih sedih lagi jika saudara sesama muslim bahkan teman-teman yg dulu ada di jalan dakwah yg sama justru lantang membela 'yang sekarang dihukum' dan justru menghardik orang2 yg memperjuangkan agamanya. Bagaimana sikap kita seharusnya? mau diajak tukar pikiran tp justru berujung debat jadinya selama ini dibiarkan saja. Tapi sungguh, sedih sekali melihat postingannya atau kata2 yg dikeluarkannya :(

Futur Di Jalan Dakwah

Oh banyak. Kawan-kawan saya juga begitu. Mereka yang cuti dari dakwah, lalu perlahan mundur teratur. Akhirnya resign. Ada bahkan kawan dekat saya, keilmuannya tidak perlu ditanya. Aktivitas beliau setiap minggu padat dengan agenda dakwah. Terkenal ke mana-mana karena sering mengisi acara. Bahkan banyak pula yang menjadikannya standar aktivis. Tapi, masalah “kecewa” dan “ke cewek/cowok” ini memang susah penawarnya. Orang yang bidangnya mengader pun kalau sudah kecemplung bisa jadi keder juga. Pemikirannya jadi campur-aduk, cenderung liberal, tidak lagi mengenal dasar-dasar tarbiyah. Berubah.

Tadinya, saya pikir, bisa jadi saya (atau mungkin kita), yang terlambat untuk berevolusi mengerti hakikat menjadi muslim yang baik. Mereka yang keluar dari jalan dakwah itu, saya pikir mereka telah menemukan titik puncak memahami hakikat bermuamalah. Mereka pasti telah melewati masa-masa kontemplasi yang membuat mereka berubah. Menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jauh lebih bijak, jauh lebih alim, jauh lebih beramal. Intinya keluarnya mereka dari jalan dakwah karena sesuatu yang membuat mereka jadi lebih baik. Saya malah curiga jangan-jangan kita ini yang salah jalan.

Tapi, pikiran saya itu tidak sejalan dengan perilaku yang kawan-kawan saya tunjukkan. Mereka malah mengalami degradasi ke dalam posisi di mana dulu kita pernah mendapatkan materi itu. Materi tentang futur, tentang yang berjatuhan, tentang virus merah jambu, tentang takut mati, tentang dunia. Tentang materi-materi yang pernah kita sangat hafal sewaktu SMA dulu. Kok kenapa malah mereka yang hidup dalam materi-materi itu?

Akhirnya, saya percaya bahwa jalan dakwah itu memang jalan terakhir yang menjadikan seseorang paripurna. Karirnya mentok di situ: juru dakwah, tidak akan ke mana-mana. Mereka yang keluar tidak mungkin akan lebih baik. Sebab, semakin ia baik, harusnya ia makin paham bahwa menjaga umat adalah tugas kenabian yang diwariskan kepada mereka yang paham.

Lalu bagaimana dengan kawan-kawan kita itu? Kita tetap bermuamalah yang baik dengan mereka. Bisa jadi memang mereka butuh istirahat. Jangan jauhkan atau malah mengucilkan mereka. Kita tidak pernah tahu apa yang bergejolak di dalam hatinya. Kesalahan fatal aktivis dakwah adalah ketika ada kawannya yang futur, bukannya diobati dan diterapi, malah diperburuk sehingga lukanya makin menganga. Jangan-jangan malah kita yang membuat mereka seperti itu?

Kita harusnya lebih khawatir kepada diri kita. Jangan-jangan kita berikutnya? Hari ini kita menangisi kawan-kawan kita itu. Esok, malah kita yang dibahas. Jangan sampai.

Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?

@edgarhamas

“Tugas utama umat manusia disempurnakan oleh kaum Muslimin. Filsuf terbesar, Al-Farabi, seorang Muslim; Ahli Matematika terbesar, Abu Kamil dan Ibrahim Sinan, kaum muslimin; Ahli Ilmu Bumi dan ensiklopedis terbesar, Al-Mas’udi, seorang Muslim; Ahli Sejarah terbesar, Ath-Thabari, masih juga seorang Muslim!” -George Sarton (1884–1896 M)

“Seorang pria hitam di Afrika Selatan”, ungkap Munawer Suleyman seorang sejarawan, “duduk di ujung kursi. Ia tak diperkenankan duduk di kursi sepenuhnya, sebab kursi itu bertulis ‘dahulukan orang putih daripada orang hitam.” Politik Apartheid diciptakan oleh bangsa Eropa ketika mereka menjajah Afrika. Mereka pendatang, namun seenaknya membagi-bagi hak kemanusiaan, menciderai yang lain dan memuliakan kaumnya sendiri.

Beberapa puluh tahun kemudian, seorang guru di Amerika bertanya kepada muridnya, “anak-anak, siapakah bangsa yang pertama kali memperkenalkan dunia tentang persamaan?”, semuanya berebut menjawab, sebab mereka telah membaca buku sejarah semalam tadi, “tentu Amerika bu, Abraham Lincoln melakukannya!”

Padahal, beribu tahun sebelum Lincoln membebaskan budak-budak dan menghilangkan sekat hitam dan putih, telah ada satu pemerintahan yang melakukannya. Menjembatani hitamnya Ethiopia dan langsatnya kulit orang-orang Romawi. Mempertemukan mata coklat arab dengan mata biru Barbar. Menenun persaudaraan antara petarung-petarung sahara dan pemukim negeri Persia. Islam, dengan paripurna telah melakukannya.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Dulu, di Eropa, mandi merupakan suatu hal yang diharamkan oleh penguasa”, tulis Mark Graham dalam buku ‘How Islam Created World, “Pengharaman ini berakhir ketika Umat Islam memasuki Andalusia dan memimpin mereka.”

Sepulang dari Perang Salib, para bangsawan dan Pasukan Salib memasuki Gerbang-Gerbang Kota Eropa dengan bau harum. Mereka membawa “Sabun, Minyak Wangi, Kamfer, Balsem, Permadani mewah Islam , sedangkan yang terbawa tak sengaja adalah Pengaruh Akhlaq Islam. Sebelum itu Bangsawa Eropa tak kenal sabun dan minyak wangi. Mereka hanya mengolesi badannya dengan semacam tanaman liar”, tulis Profesor Poeradisastra.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Pada kaum muslimin, mau tidak mau kita harus mengakui”, kata Will Durrant dalam The Story of Civilization hal. 187, “bahwa merekalah pencetus pertama Ilmu Kimia sebagai salah satu cabang keilmuan”

Pada saat yang sama, “ketika umat Islam memulai penemuan-penemuan penting dalam ilmu Fisika dan Kimia”, dilansir dalam laman sejarah ‘Katibah At Tarikh’, “orang Eropa ramai-ramai menganggap bahwa warna-warni tabung kimia itu sebagai sihir, mereka menjauhinya dan menuduh umat Islam telah bersekongkol dengan iblis, sebuah kesalahan yang fatal.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Rumah Sakit hewan pertama di dunia”, dilansir dari laman Ottoman Archives, “dibangun pada Abad 18 di Bursa, Turki hari ini. Penggagasnya adalah Kekhalifahan Utsmani. Kekhalifahan sangat mengaskan rakyatnya untuk menyayangi binatang, hingga mengadakan program santunan binatang setiap musim dingin, membentuk pasukan khusus untuk menelusuri bukit curam dan gunung-gunung, menebarkan makanan bagi hewan liar yang kelaparan.”

Sementara di saat yang sama, dunia mengenal hewan sebagai makhluk yang disia-siakan. Keledai dipaksa mengangkat beban melebihi kapasitasnya. Banteng-banteng dipertarungkan dalam adat matador. Singa-singa dipertontonkan di Colosseum, bertarung sampai ada yang mati. Dan Islam datang, menebar cita dan cinta, hingga sampai-sampai, terkenang salah satu Undang-undang Umar bin Khattab yang berjudul, “Aturan Muatan yang boleh dibawa Keledai”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Di waktu ketika perpustakaan terbesar di Eropa adalah Library of Saint Gallen dengan jumlh 600 buku”, dilansir dari laman Tarikhuna Al Adzim, “di saat yang sama, Cordoba di bawah naungan Islam telah memiliki perpustakaan di banyak tempat dengan masing-masingnya memiliki 400 ribu buku.”

“Ketika Kerajaan Castilia pimpinan Ferdinand dan Isabella menghancurkan peradaban Islam di Spanyol”, tulis Raghib As Sirjani dalam bukunya ‘Qisshatu Al Andalus’, “mereka membakar lebih dari satu juta buku. Jumlah yang sangat besar yang tidak dimiliki oleh dunia saat itu.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Islam itu agama perang”, orang-orang berseloroh begitu. Yakin? Jika memang yang mereka katakan begitu, lalu mengapa sampai jatuh korban 60 juta jiwa setelah perang dunia II oleh bangsa Eropa? Sedangkan tak pernah ada korban perang sebanyak itu dalam peperangan yang dilakukan Umat Islam. Jika memang Islam agama teror, mengapa sejarah malah mengenang kebengisan pasukan Salib yang membantai 70.000 warga kota selama 4 hari 4 malam?

Justru Islam malah datang dengan aturan pertempuran yang ‘maha lembut’. Kok bisa? Bayangkan, dalam aturan pertempuran saja, tidak dperbolehkan pasukan muslimin menebang pohon, merusak taman, membakar tanaman. Tak boleh menyerang wanita, anak-anak dan orangtua. Tak boleh menyerang tempat ibadah. Tak diperkenankan menyerang orang yang sudah menyerah. Hebatnya.

(Notulensi Pribadi Ketika Mengisi Kajian Online Gamasis UNPAD)

Menjadi percaya kepada apa saja yang kamu rencanakan, kepada apa saja yang sudah kamu pilih, adalah perjalanan meyakinkan diri sendiri yang cukup panjang. Jangan kira itu terjadi begitu saja. Aku bernegosiasi dengan segala pikiran buruk yang selalu berhasil masuk. Bukan mengkhawatirkanmu, tapi mengkhawatirkan hal jelek yang sama-sama tidak kita tahu bagaimana dan kapan ia akan terjadi pada setiap manusia.

Hanya, kekhawatiran ini tidak aku kabarkan terang-terangan. Sebab jika kuberitahukan, kamu bisa menertawakanku satu harian. Rasanya malas jika kekhawatiranku dianggap barang lucu. Atau salah-salah, kamu akan anggap ini sebagai beban: satu kesalahan artinya fatal. Maka, aku pilih percaya saja dan, apalagi selain, mendo'akan.

Kamu sudah melalui banyak hal. Hingga sampai pada sesuatu yang kamu putuskan, sebaiknya kuanggap, kamu pasti sudah sangat paham dengan risiko dan keuntungannya, kamu siap menyelesaikan apa pun yang sudah kamu mulai. Yang paling penting, ada Tuhan yang tidak kamu biarkan jauh-jauh dari setiap tindakan. Jadi, memang tidak ada yang perlu aku khawatirkan secara lebih. Yang harusnya terjadi pasti terjadi, yang tidak, maka tidak.

Begitu, kan?! Iya. Apalagi?!
Pada akhirnya aku sadar, kau lebih kucintai daripada aksara dan menulis itu sendiri. Tak heran setelah kau benar-benar hilang dari rongga dada, kata-kata seolah balas dendam dan tak mau mampir di benak. Dan itu kesalahan fatal yang harus kutebus begitu mahal. Kurasa, aku harus meminta maaf dan memperbaiki apa yang salah sejak awal; belajar mencintai kata sebelum menjadikan manusia atau benda sebagai sumbernya.
Topeng Putih: Alasan Kedua

Satu kesalahan fatal yang kulakukan malam ini adalah merindukanmu. Ya, walau memang di malam-malam sebelumnya aku juga melakukannya. Tapi malam ini, aku melakukan kesalahan paling fatal. Aku terlalu payah merindukanmu, hingga aku mencoba mencari tahu tentang kabarmu.

Pertama kubuka aplikasi chat di handphone, dan yang mengherankan: di antara semua aplikasi chat yang aku punya, tak satupun memperlihatkan foto profilmu di sana. Padahal aku tahu dan aku yakin beberapa bulan lalu kita masih saling bertukar kata dan sapa. Apakah aku mengganggumu? Atau memang kau uninstall semua aplikasi chatmu?

Semoga karena alasan yang kedua.

Selanjutnya, aku mencoba menghubungimu lewat sms dan telepon. Ada banyak nomermu yang aku save, namun tak satupun dari mereka yang terhubung. Aku hanya mendapat jawaban dari seorang wanita dengan suara sedikit manja, mengabarkan bahwa nomermu salah, tidak aktif dan tidak dapat menerima telepon. Apakah kau tak mau lagi berhubungan denganku? Atau kau memang mengganti semua nomermu?

Semoga karena alasan yang kedua.

Selanjutnya, aku membuka semua akun social mediamu. Dan mungkin di sini kesalahan fatalku. Kutemukan semua tulisan di sana adalah tentang permintaan maaf dan mencoba pergi melupakan seseorang, juga sebelumnya ada beberapa post berisi kata-kata mesra untuk seorang yang bersamamu sekarang. Apakah itu karena aku? Atau karena kau mencoba melupakan seorang yang sekarang bersamamu?

Semoga karena alasan kedua.

Hingga akhir tulisan ini, aku masih bertanya-tanya. Meyakinkan hati dan rindu bahwa semua itu karena alasan yang kedua. Tapi logika tak bisa menerima, ia berpikir begitu banyak bagaimana, mengapa, apa dan ribuan tanya yang membuatku tak bisa pejamkan mata.

Tolong jelaskanlah, apa kau tega menyiksaku tiap malam dengan pertanyaan-pertanyaan rindu yang tak bisa kuberi jawaban? Mataku butuh tidur, rinduku perlu dihibur.

Selamat malam. Kutahu kau sudah tidur, maka jangan mimpikan aku.

eskacanghijau  asked:

Babang Quraners, what should I do? Lelaki yang dipilih dan dipercaya oleh orang tuaku (dijodohkan) ternyata sudah kehilangan imannya. He doesn't believe in God. Mungkin karena basicnya adalah seorang seniman, freelance illustrator. Karya-karyanya pun isinya gambar-gambar illuminating semua. Udah coba nanya-nanya minta pendapat sana sini juga sih, they said I should leave him. Tp belum berani bilang ke orang tua.

Coba didakwahi, diingatkan, didoakan. Kalau nggak bisa ya sudah, mau gimana lagi.

Bilang aja dan katakan sama orang tua apa adanya, sebab apa?

Salah satu kesalahan paling fatal dalam hidup adalah, salah memilih imam, seseorang yang akan membimbing dan menemanimu selama hidupmu, mendekatkanmu setiap hari kepada Rabbmu. Lalu jika untuk itu saja ia tidak mampu, bisa kamu bayangkan bagaimana nasibmu? Jika mungkin kamu aman dan bahagia di dunia, dapatkah kamu jamin bahwa kamu akan bahagia pula di akhirat dengan yang semisal?

[EPISODE MANUSIA YANG DIHILANGKAN]

Pernah nggak, kamu nonton serial anime yang berepisode, lalu ada satu dua episode yang ternyata lupa terdownload? Rasanya ada yang kurang, jengkel dan kesal. Sebab kadang, episode yang hilang itu ternyata adalah momentum inti dari serial animenya. Di situ, kadang kita merasa sedih, hehe.

Keadaan itu ternyata diadaptasi juga oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab untuk mengisahkan pada umat manusia tentang sejarah peradabannya. Dalam salah satu video sejarah peradaban manusia buatan orang Barat, muncul tahun-tahun dan rangkaian peristiwa yang menjadi momentum sejarah tak terlupakan. Berdirinya Piramid, ditemukannya bidang miring, ditemukannya kertas dan alat tulis; itu semua rata-rata terjadi tahun 600an kebelakang.

Dan secara ajaib, dari tahun 600 tiba-tiba timeline meloncat sampai tahun 1500. Orang awam akan berpikir mungkin tidak ada hal besar yang terjadi antara tentang 600 M sampai 1500 M. Padahal, sejatinya saat-saat itulah dasar ilmu pengetahuan dan pencapaian peradaban manusia memasuki gerbang kemajuan yang sangat-sangat pesat.

Apakah episode yang telah dihilangkan itu? Secara jahat dan serampangan, banyak pihak yang menghilangkan peran kaum Muslimin dalam mengembangkan peradaban manusia. Rentang 600-1500 adalah Golden Ages milik muslimin, yang sederhananya, saat itulah umat Islam jadi superpower layaknya USA dan Eropa hari ini. Jahat? Banget. Orang akan berfikir bahwa umat ini cuma numpang hidup di bumi tanpa mengembangkan peradaban. Dan itu kesalahan berpikir yang fatal.

Buku-buku sejarah berbahasa Inggris yang saya baca pun, begitu adanya. Dalam Pageant of World History, secara serampangan umat Islam dikenalkan sebagai pengembara gurun dan nomad. Peradaban Romawi diagungkan, lalu diteruskan oleh bangsa Eropa. Padahal, jarak antara Romawi dan bangkitnya Eropa adalah rentang yang mahapanjang. Lebih dari 950 tahun!

Nah, berangkat dari sinilah, kita punya tekad untuk ‘mendownload’ episode yang hilang itu dan menyampaikannya pada manusia. Sebab tanpa adanya episode ini, ada rantai sejarah yang putus dan mewariskan pemahaman yang sangat keliru untuk memandang dunia. Maka, peran pemuda muslim ditunggu, untuk banyak menginstall sejarah Islam dari sumbernya yang asli. Kita punya kewajiban untuk mengembalikan izzah kita dengan menata pemahaman sejarah kita. Kita bukan umat sembarangan, dunia tahu itu tapi mereka sembunyikan. Singkap!

Gambar : Kekuasaan Muslimin di Eropa Timur. Dulu, adzan berkumandang ratusan tahun di Athena, Bulgaria, kota-kota Austria Hongaria, bahkan sampai Rusia dan Ukraina.

@edgarhamas

6

Bermodalkan kuas 800 rupiah dan cat air murahan, beberapa hari yang lalu memberanikan diri buat mulai merambah dunia baru 😐
Berawal dari ada satu foto punya mbak qing.guoo yang nongol di explore instagram. Sooooo lovable ❤ serius.
“Ah kalo gini mungkin juga bisa” dan setelah nyobaaaaa, “shiiit ini apaan”.

Yang catnya meluber lah. yang warna cat pas diliat sama diolesin bedalah. yang kuasnya nggak bisa meliuk liuk sesuai keinginan tanganlah. yang terlalu bold, yang kertas jadi mengkerut, dan yang lain lain yang bikin, “anjaaay, susah uga yha bang"😐

Seriously, ternyata ngga gampang. ditambah lagi, karena gatau teknik2 dasar pake watercolor. Oke, lain kali kalo mau nyoba sesuatu, lebih baik baca dulu deh seluk beluk nya. paling nggak dasarnya :”) thats so important.

Dan kesalahan fatal adalah, jangan gunakan kuas murah. percaya deh :“)

Setelah percobaan yang gagal berkali2, akhirnya stop dulu deh dan mulai browsing2 (kenapa baru sekarang yalord) dan nemu banyak bangeeeeeeet artist yang basicnya watercolor dan sooooo adorable. bisa dicek dek di feed IG nya anwitacitriya sama ashiyaart. Style mereka yang cool sekaligus cute bikin hati meleleh(menurutku).

Dan sekarang aku uda punya drawing pen yang waterproof buat line nya. akhirnyaaaaa (padahal butuh juga kuas, kertas watercolor, kalo cat airnya sendiri sih, menurutku cukuplah buat belajar)

Kalo ada komunitas gambar di solo yang basicnya tinta, pensil atau cat air, mau dong gabung :”)
Bener-bener sukaaaa tapi apa daya ngga jago.

Sejahat-jahatnya wanita, mereka tidak boleh dipukul, dibentak dengan bahasa kasar, atau diteriaki di tempat umum.
Jika dia salah, jelaskan dia salah, tapi tidak dengan cara diteriaki.
Jika dia melakukan kesalahan yang fatal, ajari dia dengan kehilangan, bukan dengan pukulan.
Jika dia tidak mau mendengarkan, peluklah hingga dia tenang, lalu ajak dia berdiskusi, bukan berdebat.
 
Itu yang seharusnya para Pria lakukan.
Kesalahanmu yang pertama adalah kamu mengenalnya, hingga kau menjadi dekat dengannya. Kesalahan selanjutnya adalah kamu mencintainya, hingga kau menaruh harapan untuk memilikinya. Kesalahan berikutnya adalah kamu memberitahunya bahwa kamu mencintainya, hingga ia berbuat sesukanya. Kesalahan yang paling fatal adalah kamu sudah terlanjur menjatuhkan hatimu sejatuh-jatuhnya, hingga berapa kalipun ia membuatmu terluka kau tetap selalu memaafkannya.
—  Terlanjur sudah
The Way I Lose Her: Big Day

Aku berusaha mengubur rasa ini. Bukan karena aku tidak suka, melainkan aku tidak mau tersiksa jika suatu saat nanti kita tidak sedekat dulu lagi karena salah satu dari kita telah mengetahui perasaan masing-masing. Kehilanganmu, aku masih belum mampu.

                                                            ===

.

“Ada apaan? Tumben lo keliatan serius amat.” Tanya gue penuh penasaran.

“Tapi sebelumnya kita harus ke rumah lo dulu, Mbe. Penting soalnya.” Tukas Ipeh buru-buru.

“Lha ada hubungan apa rumah gue sama elo? Mau ngapain kita di rumah gue?”

“…”

“Ah, jangan-jangan lo mau…” Gue menatap Ipeh dengan tatapan mesum.

“IH APAAN SIH?! Bukan itu!!” Ipeh mencubit keras pipi gue.

“Aduuuuh duh duh, iya iya ampun ampun." 

"Tadi niatnya gue mau ngomongin hal ini waktu di kelas PMR, tapi elo malah digusur ke ekskul Pramuka.”

“Digusur, lo pikir gue gubuk reot pake acara digusur segala.”

“Lagian kenapa tadi lo pake acara datang telat segala sih? kalau datangnya pagi kan bisa duduk di sebelah gue, nanti bisa nyontek pas ada test kayak tadi.”

“Bukan jodoh berarti Peh..” Jawab gue sembari ngorek-ngorek sisa oreo di gelas gue.

“IH BEGO IH!! GEMES GUE SAMA ELO MBE!!”

“Kenapa sih kayaknya ada masalah yang penting banget?” Tanya gue lagi.

“Udah nanti gue jelasin di jalan, ayo sekarang berangkat dulu cepet!”

“Tas gue juga belom dianter sama si Ikhsan. Bentaran dikit ngapa.”

“Yaudah tapi pas tasnya udah dateng, kita langsung ke rumah lo ya Mbe. Ngebut kalau bisa.” Pinta Ipeh sembari menggoyang-goyangkan tubuh gue.

“Lo kenapa sih? kayak orang mau melahirkan aja. Nah tuh si monyet dateng.” Gue lihat dari jauh Ikhsan mendatangi gue dengan membawa 2 tas.

“Woi nyet, nih tas lo, thanks yak, gue mau langsung cabut duluan. Doi udah nunggu gue di parkiran. Hahai, pucuk dicinta ulam pun tiba. Sudah tiba saatnya bagi Ikhsan untuk berbuka puasaaa~” Jawab Ikhsan bahagia.

“Anjir muka lo mesum banget nyet! Inget, gitu-gitu juga anak orang tuh. Jangan lo apa-apain, belon cukup umur.”

“Alah, harusnya gue yang ngomong kaya gitu ke elo. Elo mah bibir kakak kelas aja diembat!”

DEG!!
Anjir gue terkejut banget mendengar statement Ikhsan itu. Sebenarnya mau dia ngomong apa pun gue nggak masalah, tapi yang jadi masalahnya adalah di depan gue sekarang sedang ada Ipeh, gila. Gue belum pernah cerita masalah ini sama siapa-siapa kecuali ke Ikhsan doang. Sontak gue gelagapan mendengar perkataan Ikhsan, gue lihat Ipeh terlihat kebingungan dan mulai berpikir. Wah bahaya nih kalau Ipeh sudah mulai berpikir, karena biasanya kalau nih anak sudah mulai berpikir pasti muncul pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyenangkan. Dengan cepat gue langsung melempar bungkus kosong susu ultra yang ada di atas meja kantin ke arah Ikhsan dengan mimik yang menyuruhnya untuk cepat pergi dari sini.

Menyadari bahwa Ikhsan baru melakukan kesalahan fatal, Ikhsan langsung cengengesan.

“Astagfirullah gue lupa. Bhahahahahahk maap-maap. Woi Wonder Woman, gue pergi dulu yak. Jangan kebanyakan mikir, ntar botak pala lo!” Ujar Ikhsan sambil noyor-noyor jidat Ipeh pake telunjuk.

“Dih sana-sana pergi! Jangan deket-deket, ntar sholat gue nggak sah!” Tukas Ipeh menjauh.

“Lo kira gue najis. Dah ah, Dim gue pamit yak.”

“HUS!! SANA!!”

“Hahahahaha ngambek. Noh urusin pacar lo yang kekar itu!” Ujar Ikhsan tertawa terkekeh-kekeh sembari menunjuk ke arah Ipeh.

Tai emang si Ikhsan ini, perkataan terakhirnya sebelum pergi itu membuat gue dan Ipeh saling tatap-tatapan awkward, ntah kenapa situasi seperti ini bisa membuat gue dan Ipeh menjadi canggung, padahal biasanya kalau di depan cewek yang lain, setiap gue di cie-cie-in pun gue terlihat biasa saja, maka dari itu gue sering dibilang cowok nggak peka. Tapi ntah kenapa siang ini kok gue merasa canggung banget berada bersama Ipeh setelah Ikhsan pergi.

Kita masih terdiam canggung.

“Hei, ayok cepet ke rumah lo! Kan tasnya udah ada.” Mendadak Ipeh menarik-narik tangan gue.

“Ah males ah peh. Nggak semangat, gue lagi males ke rumah.” Jawab gue lenjeh-lenjeh di meja kantin.

“IH!! MBE!!! Kan nanti nggak akan lama di rumah lo-nya juga, kita cuma mampir sebentar, dah gitu lo harus cepet-cepet ke rumah gue.”

“Nggak mau ah, kok maksa-maksa gue sih. Pacar gue juga bukan. Weeee"  tanpa sadar gue mengucapkan hal yang kayaknya nggak cocok untuk diucapkan ketika dalam keadaan seperti ini.

Mendengar hal itu, Ipeh langsung terdiam. Gue yang masih menaruh kepala di atas meja kantin pun baru sadar bahwa apa yang gue katakan tadi malah bisa membuat suasana kita berdua semakin canggung.

"Yaudah, mau apa biar kita cepet pulang?” Tanya Ipeh lagi sambil duduk di sebelah gue.

“Biasa..”

“Apaan? Teh Kotak?”

“Yoi..”

“Yaudah tunggu!” Ipeh bergegas pergi meninggalkan gue.

Sembari menunggu Ipeh, karena gue merasakan rasa canggung yang luar biasa, dengan sigap gue mengambil HP di saku dan mengirim pesan ke temen sms-an gue, Matematika Buku Cetak.

“Anjir suasana gue canggung. Aaaaaakkkk” Tulis gue.

Gue menekan tombol send, lalu menunggu ada balasan, berharap temen gue itu membalas sms gue cepat.

Trrrt…
Satu SMS masuk. Gue langsung buru-buru membacanya.

“Canggung kenapa?” Tanyanya.

Gue langsung membalas pesan tersebut dengan kilat.

“Nggak tau, baru kali ini gue ngerasa canggung kaya gini. Anjir aneh sumpah.”

BRAK!!

Lagi menunggu balasan dari si Matematika Buku Cetak, tiba-tiba meja kantin tempat gue menaruh kepala mendadak terguncang seperti ada barang berat ditaruh dengan keras di atasnya. Sontak gue langsung bangun dan melihat ke arah sumber suara.

“Nih!” Ipeh menaruh sebungkus keresek besar di depan muka gue.

“Apaan nih?” Gue mengintip ke dalamnya.

“ANJIR LO UDAH GILA PEH?! SATU JUGA CUKUP KALI PEH!!”

“BAWEL!! Tuh gue beliin 6 Teh Kotak. Anggap aja lo utang sama gue. Dan bayarannya adalah menuruti apa kata gue satu hari ini. Dah gitu nanti gue beliin teh kotak 6 bungkus lagi di rumah.”

“Gila lo!! Lo mau ngebuat gue struk?! Ini sih namanya mau ngebunuh gue pelan-pelan, nanti kalau semisal gue bersin malah keluar gula aren lo mau tanggung jawab?!”

“Hahahaha dodol malah ngelawak. Ayo ih Mbeee…” Ucap Ipeh yang ntah kenapa mendadak jadi manja.

“Iya deh iya ayo berangkat, gue buka dulu yak satu. Lagian ada apa sih nona Ifa sampai terburu-buru gitu?!” Jawab gue mencubit pipinya Ipeh.

“Ih manggil Ifa dong! Buruan ah ayo ke parkiran.” Ipeh berjalan duluan di depan sembari menarik tas gue.

“Gue udah macam kacung aja kalau begini caranya.” Gue berjalan malas-malasan di belakangnya sambil masih setia nyedot Teh Kotak geratis ini.

.

                                                         ===

.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Ipeh yang sedari tadi ada di jok belakang motor gue ini lebih pendiam ketimbang biasanya. Ketika macet gue sempat melihat dari kaca mobil di sebelah bahwa Ipeh sedang sibuk dengan HP-nya. Ada apa sih ini? gue tuh orangnya paling males kalau udah dibuat penasaran. Rasa-rasanya ada yang ganjel.

Setelah sampai di rumah, Ipeh langsung turun dari motor dan menunggu gue memarkirkan motor di pekarangan rumah. 

“Ada siapa aja Mbe di rumah?” Tanya Ipeh.

“Jam segini sih cuma ada nyokap doang, itu pun paling lagi tidur di kamar. Kenapa?”

“Yaudah cepet yuk masuk.”

“Ini siapa sih yang tuan rumahnya?”

Sebenarnya Ipeh baru ke rumah gue sekali doang, tapi siang ini lagaknya dia sudah seperti orang yang sering mampir ke rumah gue. Nih anak lama-lama makin mirip si Ikhsan, pecicilan nggak jelas. Begitu masuk ke dalam rumah, gue langsung ditarik oleh Ipeh ke pekarangan belakang. Ipeh mengambil handuk di jemuran lalu melemparkannya ke arah gue.

“Cepet mandi dulu. Yang bersih, yang wangi. Gue tunggu di mana nih?”

“Ngg.. kamar gue?”

“Ah nggak mau, masa ada cewek nunggu di kamar cowok sih?!”

“Loh, elo cewek toh?”

“IH MBE!!” Ipeh mengacungkan kepalan tangannya ke arah gue yang langsung terbirit-birit masuk ke dalam kamar mandi.

Ini adalah kali pertama di mana gue harus mandi dengan perasaan penuh tanya. Gue nggak punya niat mandi, tapi sekarang lagi sabunan. Rasa-rasanya kayak ada yang hampa gitu. Sabunan pun terasa tidak selancar biasanya. Keramas pun tidak sesensasional biasanya. Bahkan mau nyanyi di kamar mandi pun rasanya tidak bebas. Gue gosok semua onderdil gue biar bersih sambil terus berpikir apa maunya Ipeh siang ini– walaupun pikiran gue sempat memikirkan yang tidak-tidak, tapi setidakanya gue harus bersiap dengan apapun yang akan Ipeh lakukan.

Halah.

Begitu selesai dari kamar mandi, gue berjalan menghampiri Ipeh dengan handuk yang masih melingkar menutupi bagian mempesona di tubuh gue. Ipeh yang sedari tadi masih sibuk sama HPnya mendadak terkejut melihat gue dengan busana seperti ini berdiri di depannya.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!” Ipeh teriak sambil menutup mata.

Gue terkejut bukan main mendengar Ipeh yang tiba-tiba teriak seperti ini. Dengan sigap gue langsung menutup mulut Ipeh.

“Eh kampret, jangan teriak-teriak lo, ntar nyokap gue ngeliat bisa bahaya. Apa yang bakal nyokap gue pikirkan kalau melihat anak kesayangannya masih pake anduk gini di depan cewek yang lagi teriak-teriak!”

Ipeh berontak tapi sambil tetap mencoba menutup mata.

“MBE IH!! PAKE CELANA DULU!!”

“Bawel amat. Bentar gue ke kamar dulu.” Jawab gue dingin dan pergi meninggalkannya.

Setelah meninggalkan Ipeh sendirian, gue masuk ke dalam kamar dan memakai pakaian biasa yang gue pakai kalau lagi ada di rumah. Celana pendek dan kaos oblong gitu aja. Namun begitu gue keluar kamar dan berjalan menuju Ipeh, Ipeh terlihat sangat marah. Dia bangkit dari kursi, menghampiri gue, dan menjewer kuping gue keras.

“Aduuuh duh duh duh, gue salah apa lagi Tuhaaaan…”

“Mana tempat baju lo?” Tanya Ipeh kasar.

“Di.. di.. di kamar Peh.”

“Ayo masuk ke kamar!”

“Eh?! Masuk ke kamar?!” Gue memasang wajah mesum.

“IH BUKAN ITU!!! MAKANNYA KALAU MANDI, OTAKNYA JUGA DIBILAS BIAR SEHAT!!”

“Ya terus mau ngapain ke kamar gueee Peh.” Gue masih menahan rasa sakit di telinga.

Namun Ipeh tampaknya tidak menghiraukan pertanyaan gue, Ipeh menarik kuping gue sehingga mau tidak mau gue mengikutinya dari belakang. Sesampainya di kamar, Ipeh langsung melepaskan jewerannya.

“Tempat kemeja di mana?” Tanya Ipeh.

“Lemari yang bisa digeser.” Jawab gue bete.

“Celana jeans paling bagus lo taruh mana?” Tanyanya lagi.

“Laci nomer 2.”

“Kalau acara formal, lo pake apa biasanya?”

“Acara formal? kalau formal semegah acara pesta atau kalau gue lagi nge-MC sih gue pake jas sama waistcoat. Tapi kalau acara ngumpul-ngumpul sih gue paling pake sweater.” Jawab gue sembari mengambil gitar lalu kemudian mamainkan lagu Jason Mraz - I’m Yours semetara Ipeh lagi sibuk ngacak-ngacak isi lemari pakaian gue.

“Pake celana jeansnya.” Ipeh melemparkan celana Jeans ke arah gue. 

Awalnya gue menolak dan tetap melanjutkan bermain gitar, tapi kemudian Ipeh mengancam bakal memutuskan gelang kesayangan gue yang lupa gue pakai dan terletak di lemari pakaian. Maka mau tidak mau gue terpaksa menuruti semua perintah Ipeh.

“Coba pake kemeja ini.”

“iya..”

“Hmm, kurang cocok. Lepas, ganti yang ini.”

“Iya..”

“Bagus sih, mau pake sweater?”

“Iya..”

“Ada 3 nih, biru, biru muda, sama biru dongker. Astaga Mbe, punya sweater kok warnanya sama semua.”

“Gue suka warna biru dongker. Bawel lo. Udah kaya Mak Tiri aja.”

“Mau pake yang mana?”

“Yang nomer 3.”

“Sepatunya punya yang bagus nggak?” Tanya Ipeh yang sekarang lagi membuka lemari sepatu gue.

“Ada, noh yang warna biru jeans.”

“ASTAGA!! Warna biru lagi?!”

“Gue suka warna biru dongker.”

“Euh, yaudah cepet pake.” Tukas Ipeh bete.

“Ambilin gelang gue yang mau lo putusin tadi itu dong.”

“Nih!” Ipeh melemparkan gelang kesayangan gue tersebut.

“Jam tangan gue juga sekalian, ada di laci lemari.”

“Warna apa jamnya?”

“Biru..”

“BIRU LAGI?!”

“Gue suka war..”

“Iya lo suka warna biru dongker kan? gue tau. Nggak usah dijelasin lagi.”

“…”

“Parfum mana parfum?” Tanya Ipeh.

“Nggak usah diparfumin ah. Kaya banci mau mangkal aja pake parfum.”

“PARFUM MANA PARFUM!!” Kata Ipeh melotot.

“Ad..ada di atas meja belajar.”

“Buset, katanya kalau pake parfum tuh kaya banci yang mau mangkal, tapi lo sendiri punya 4 parfum yang beda-beda.”

“Yeee kalau soal itu sih beda cerita, parfum gue mah berkualitas semua.”

“Axe coffee? oke gue tau. Spalding? Enak nih wanginya, anak karate biasanya sering pake. Chabiche? Nggak pernah denger, wanginya juga aneh. Drakkar Noir? Apa pula ini?”

Melihat Ipeh yang masih ngotak-ngatik parfum gue dan menciumnya satu persatu, lama kelamaan gue jadi bete juga. Gue berdiri dari tempat tidur , gue genggam tangan Ipeh sehingga badannya kini menghadap gue. Gue majuin kepala gue dengan wajah galak.

“Jawab gue sekarang.” Tukas gue galak.

“Ngg.. Jauhan mukanya, Mbe.”

“Diem. Jawab dulu pertanyaan gue.” Muka gue semakin maju. “Jelasin ke gue sekarang, mau ada acara apa hari ini?!”

“Ngg..”

“Indoor? Outdoor? Wedding? Party? Dinner? Lunch? Brunch? Ah brunch nggak mungkin, udah lewat waktunya.”

“Dinner.”

“Hotel atau restaurant biasa?”

“Restaurant biasa.”

“Restorant yang perlu booking apa tinggal dateng?”

“Restoran yang perlu booking, Mbe.”

“Oke.”

Gue kembali mundur dan membiarkan Ipeh sedikit menjauh sambil memegang jantungnya karena terlihat masih kaget atas apa yang gue lakukan kepadanya tadi. Gue melihat ke arah Ipeh sinis, lalu mengambil satu parfum. Drakkar Noir. 

“Wanginya enak nggak?” Tanya gue sembari menyemprotkan parfum tersebut ke badan gue.

“Ngg.. enak sih Mbe. Nggak bikin mual.”

“Ya jelas aja, mahal ini. Gue nggak pernah mau pake parfum ini kecuali ada acara penting. Sini lo..” Gue menarik tangan Ipeh sehingga Ia menjadi lebih dekat kembali.

“Ih mau apa Mbe?!”

Gue menyemprotkan parfum gue tersebut ke kedua lengan nadi gue, meratakannya, lalu kemudian menggosokannya ke area leher Ipeh.

“Ini buat apa Mbe?” Tanya Ipeh penasaran.

“Lo kan baru kenal sama parfum ini, dan kalau mendadak lo nyium wangi parfum yang gue pake ketika nanti kita naik motor, lo bakal mual lama-lama. Tapi dengan wangi cologne yang ada di leher lo itu, lama-lama kelamaan idung lo bakal terbiasa dan nggak akan mual lagi.” Jelas gue sembari terus mengusap-ngusap nadi lengan gue ke nadi leher Ipeh.

“Kok gue baru tau Mbe ada cara yang kaya gitu?”

“Kuper sih lo. Kebanyakan maen di lumpur. Ayo butuh apa lagi, gue perlu bawa tas nggak?”

“Ngg.. Nggak deh kayaknya Mbe.”

“Kayaknya gue tau hari ini mau ngapain. Kalau semua udah beres, ayo cepetan kita pergi.”

“Hehehe maaf ya Mbe ngerepotin.” Ipeh tersenyum melihat gue yang sudah berdandan rapih.

“Bawel.”

.

                                                                  ===

.

Sekarang gue dan Ipeh sedang menuju sebuah komplek perumahan Ipeh. Dan sekali lagi, selama perjalanan ini Ipeh terlihat lebih pendiam, ntah apa yang sedang Ia lakukan di belakang. Waktu telah menunjukkan pukul 16.00

Sesampainya di halaman rumah, Ipeh langsung menyuruh gue untuk memasukkan motor ke dalam garasi. Loh tumben-tumbenan, biasanya gue cuma disuruh parkir motor di halaman doang. Belum juga gue sempat bertanya, Ipeh langsung mengancam dengan mengangkat kepalan tangannya. Yasudah, akhirnya mau tidak mau gue menuruti lagi kemauan Ipeh yang seenak jidatnya sendiri itu.

Setelah memarkirkan motor, Ipeh mengatakan agar gue menunggu di ruang tamu sementara Ipeh bersiap-siap mandi dan berganti pakaian. Tanpa dihidangkan minum atau cemilan lain, akhirnya gue terpaksa menuggu sendirian di ruang tamu.

1 menit.. gue duduk dengan sikap sempurna.
3 menit.. gue mulai bersandar sambil memangku kaki.
5 menit.. gue mulai bersandar sambil selonjoran.
10 menit.. gue udah nyakuin 3 guci, 2 porselen, dan 1 asbak di dalam saku.

“Eh, itu.. kamu..” Mendadak dari pintu dalam ada seseorang wanita yang menyapa gue.

“Eh kak Ai ya?” Jawab gue berusaha untuk kembali mengingat nama-nama kakaknya Ipeh.

“Wesss hebat masih inget ternyata. Btw nama kamu tuh siapa ya? Kalau nggak salah sih dari huruf D. Hmm Doni ya? Atau Dani? Dodi? Dirgantara ? Ah aku ingat, Dumay ya?!” Ucapnya gembira.

“Dimas kak. Jauh amat dari Dimas jadi Dumay.”

Buset nama gue jadi Dumay, lo pikir nama gue singkatan dari Dunia Maya?! 

“Ah iya Dimas hahahah, padahal nama pasaran kaya gitu kok aku bisa lupa ya..” Jawabnya polos.

“…" 

Nih nggak adik, nggak kakak, kok sama-sama menyebalkan ya. Rasa-rasanya gue jadi mengerti darimana Ipeh mendapatkan sifat menyebalkannya itu.

"Btw kamu ngapain di sini?” Tanya kak Ai lagi.

“Ngg.. dipaksa Ifa kak. Aku juga masih belum tau mau ada apa.” Jawab gue polos.

“Loh, diajak Ifa? Seriusan ifa yang ngajak?”

“Iya kak, emang ini ada apa sih kak?”

“Seriusan Ifa yang ngajak?” Kak Ai semakin mendekat, gue semakin grogi. Body kak Ai memang luar biasa menggoyangkan Iman. Mirip kaya lekukan rebana.

“Iya kak. Salah ya?”

“Hmm… hmm… hmmm…” Kak Ai menelaah gue dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Hmmm.. bakal jadi berita besar nih kayaknya hari ini.” Tukasnya lagi.

Mendengar hal tersebut, perasaan gue semakin tidak karuan. Gue semakin deg-degan. Ini kali pertama gue bisa merasakan se-nervous ini.

“Emang ada apa sih kak?” Tanya gue semakin penasaran.

“Eh bentar, udah jam brp sekarang?” Tanya kak Ai memotong.

Gue melihat ke arah jam tangan gue, “Ngg.. jam 16.20 menit kak.” Jawab gue.

“Astaga bisa-bisa telat nih. Eh kamu, aku masuk ke dalam dulu ya. Kamu kalau mau minum bikin sendiri aja di dapur. Dari sini belok kiri, terus belok kanan. Ambil aja apa yang kamu mau. Anggap rumah sendiri. Aku ke dalam dulu ya.” Kata kak Ai yang langsung pergi meninggalkan gue sendirian.

“Eh iya kak silahkah. Maaf merepotkan.” Jawab gue gelagapan.

Lhaaa ngapain juga gue malah minta maaf. Benar-benar kebiasaan lama nih, gue kalau ketemu cewek yang menggoyangkan iman pasti ujung-ujungnya salting. Lagian gue sampai sekarang masih heran, kakak-kakak Ipeh itu benar-benar sosok yang sempurna kalau dilihat dari luar. Bahkan mata gue yang sering menilai wanita cantik itu tidak cantik pun sekarang 100% yakin dan sangat setuju apabila ada orang lain yang berkata bahwa kedua kakak Ipeh ini cantik-cantik. Gue nggak tau nyokapnya Ipeh ngidam apaan ketika mengandung mereka berdua, sedangkan ketika mengandung Ipeh, paling-paling nyokapnya ngidam gardu listrik atau kertas semen.

Belum lagi ditambah fasilitas yang dimiliki oleh keluarga Ipeh, gue rasa makin hebat saja kedua kakaknya dalam merawat diri. Gue sekarang cukup mengerti ketika Ipeh menjelaskan bahwa kedua kakaknya itu adalah primadona ketika mereka masih sekolah dahulu. Dan mungkin dari banyaknya pria yang pernah mengunjungi rumah ini, gue termasuk salah seorang yang beruntung karena bisa melihat kakak-kakak Ipeh mengenakan pakaian santai yang biasa wanita kenakan ketika mereka sedang tidak ada rencana untuk pergi keluar rumah.

Sembari menunggu Ipeh yang masih mandi, gue agak gelisah ketika mengetahui bahwa Teh Kotak yang Ipeh belikan untuk gue itu dia bawa juga ke dalam. Sehingga sekarang gue dehidrasi sendirian di ruang tamu tanpa ada sedikit pun hidangan yang disediakan. Gue memang punya gejala sering mengalami Dehidrasi, oleh sebab itu ketika gue sudah terlalu sering minum Teh Kotak pun orang tua gue jarang melarang. Karena sudah terlalu merasa sesak di tenggorokan, akhirnya gue beranikan diri untuk mengambil tawaran kak Ai tadi, yaitu membuat minum sendiri.

Kalau nggak salah dari sini lurus, belok kiri, terus belok kanan. Gue berjalan pelan-pelan dengan perasaan sungkan karena gue belum terlalu akrab dengan rumah ini. Namun ternyata Tuhan itu baik, gue langsung menemukan area dapur tanpa harus tersesat terlebih dahulu. Seperti yang gue duga sebelumnya, dapur Ipeh terlihat cukup megah dengan segala macam bahan-bahan masakan dan minuman. Di sana tersedia gelas-gelas kaca, saos, sayuran, dispenser buat beras, kulkas besar yang harganya kira-kira 10jtan, rak piring dengan piring bagus-bagus, dan macam-macam toples berisi kue di sebelah tumpukan bumbu-bumbu masak.

Untung tidak ada Ikhsan hari ini, gue nggak bisa membayangkan akan seterkejut apa Ikhsan jika melihat hal ini semua, apalagi ketika melihat banyaknya toples berisi macam-macam kue di dalamnya. Dapur ini benar-benar seperti harta karun. Gue mengambil satu gelas kaca, lalu kemudian membuka lemari kulkas.

ASTAGAAAA!!!
ASTAGFIRULLAH!!
YA ALLAH YA ROHMAN YA ROHIM YA MALIK YA KUDUS…

Gue terkejut bukan main sambil menyenandungkan Asma Ul-Husna melihat isi kulkas Ipeh. Ini sih namanya bukan kulkas rumahan! Ini sih kulkas department store! Banyak amat buah-buahannya, mana ada frozen sushi segala lagi. Gue iseng membuka laci kedua dari bawah dan menemukan ada banyak daging sapi dan daging ayam yang masih di wrap rapih. Gue buka laci tengah kulkasnya dan menemukan banyak permen coklat beserta keju-keju impor. Anjir gila banget. Ini sih namanya pemborosan makanan!! Gue senewen-senewen ganteng melihat isi kulkas Ipeh tersebut. 

Gue kembali iseng dengan membuka pintu paling bawah kulkas tersebut, dan astaga! Gue terkejut lagi ketika mendapati ada banyak botol minuman tersusun rapih di dalam sana. Dari macam-macam softdrink, wine, atau bahkan buah-buah fermentasi dalam kaleng. Petualangan gue belum selesai, gue putuskan untuk membuka freezer kulkas Ipeh. Dan sesuai dugaan gue, isinya luar biasa semua. Dari macam-macam es krim walls, coklat dingin, es mony, forzen fruit, dan masih banyak lagi. 

Gue heran, dengan makanan semewah dan sebanyak ini, kenapa nggak ada satupun member di keluarga Ipeh yang terlihat kelebihan berat badan ya? Bener-bener keluarga murtad ini namanya. Mungkin ini keluarga dulunya keturunan Sinbad, alias keluarga beruntung. Cantik iya, berkecukupan iya, body kaya gitar spanyol iya, pinter juga iya. Gilaaaaaa, ini sih Tuhan bener-bener nggak adil namanya. Ketika satu temen gue sangat beruntung dengan berbagai macam fasilitas seperti Ipeh ini bisa hidup bahagia, di lain sisi, melihat Ikhsan, gue jadi merasa kasihan bukan main. Sungguh perbedaan kasta yang tak mungkin bisa dilewati oleh 7 generasi.

Gue menarik nafas dan mulai memilih-milih enaknya mau minum apa. Tapi melihat isi kulkas Ipeh sih kayaknya enak semua. Yasudah, toh kakak Ai sudah mempersilahkan gue untuk menganggap dapur ini dapur gue sendiri, jadi kalau semisal gue ambil apa yang gue mau juga nggak papa ya. Lagian kehilangan 1-2 minuman atau makanan juga tampaknya mereka tidak akan keberatan.

Gue ambil sedikit wine dan menuangkannya di dalam gelas. Meminumnya sedikit, lalu tersimpuh bersujud syukur kepada Tuhan.

“Ya Tuhaaan, akhirnya hambaMu ini bisa merasakan Wine untuk yang pertama kalinya. Akhirnya hambaMu ini Kau izinkan untuk menikmati beberapa Wine mahal dengan geratis.” Gue menitikan air mata, rasa-rasanya gue jadi mengerti betapa bahagianya Jack Dawson waktu mendapatkan tiket untuk menaiki kapal Titanic First Class geratis di film Titanic keluaran tahun 2000 silam. 

Setelah menuang Wine, kini gue mencoba untuk membuka minuman lain, yaitu sebuah minuman Jus Kemasan rasa apel asli Amerika. Dan sekali lagi, gue harus bersujud syukur sambil sholat Ba'diyatan kepada Tuhan setelah menikmati tiap bulir air jus yang masuk ke tenggorokan gue ini. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan..

Next, gue mengambil sebuah box karton minuman dengan tulisan bahasa korea di kemasannya. Dari gambarnya sih gue tau ini Teh, tapi apa boleh gue coba ya? ah gue coba aja deh, hidup cuma sekali, ada kesempatan bagus jangan disia-siakan.

Tanpa malu-malu lagi gue langsung menuangkan minuman yang nggak gue kenal sama sekali itu ke dalam gelas. Dan ketika gue cicipi, lidah gue berputar kencang layaknya biang-lala, badan gue bergoyang melakukan gerakan goyang dribble. Mata gue kelap-kelip kaya lampu bohlam di kios rokok. Luar biasa!! Ini adalah Teh paling nikmat yang pernah gue coba selama hidup gue. Tanpa pikir panjang, gue langsung menuangkan penuh Teh tersebut ke dalam gelas, mengambil satu buah toples berisi Millo Balls rasa coklat, dan membawanya pergi ke ruang tamu untuk disantap dengan santai.

Sampe 7 lebaran haji pun kayaknya nyokap sama bokap gue kaga akan pernah beli Wine untuk persediaan minuman di rumah. Walau ada nenek-nenek main basket pake sendal rematik juga nyokap gue kaga akan pernah beli minuman aneh-aneh kaya minuman yang ada di kulkas Ipeh seperti ini. Maka dari itu wajar apabila gue bahagia setengah mati hari ini.

.

                                                                  ===

.

Sore ini, dengan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa akhirnya stabilitas perut gue terjamin dengan aneka makanan mahal yang baru saja gue comot dari dapur orang. Kalau seperti ini caranya sih Ipeh nggak keluar-keluar dari kamar juga nggak papa, menunggu tidak pernah semenyenangkan ini sebelumnya.

“Loh.. ada tamu toh.” Tiba-tiba dari pintu luar ada seseorang yang masuk. 

Setelah gue lihat, ternyata itu mba Afi.

“Eh, kamu lagi. Temennya Ifa ya?” Tanya mba Afi ketika tak sengaja mendapati gue lagi asik-asikkan ngemilin makanan orang di ruang tamunya.

“Eh iya mba, aku di undang Ifa tadi.”

“Loh, kamu diundang Ifa? serius?”

“Ngg.. iya mba, kalau aku nggak salah denger sih gitu.” Kata gue.

Tapi tampaknya sore ini gue lagi sial, ketika gue lagi menjelaskan perihal kehadiran gue di rumah ini, dari dalam rumah tiba-tiba muncul kak Ai. Perasaan gue mulai nggak enak setiap dua orang ini muncul dan hadir di satu waktu bersamaan. Gue masih inget apa yang mereka tanyakan waktu pertama gue datang ke rumah ini dulu.

“Udah beres mba Salonnya?” Tanya kak Ai.

“Udah nih, lumayan deh. Oh iya, Putra jadi datang hari ini?” Balas Mba Afi sembari memeriksa HP-nya.

“Jadi kok, awas aja kalau dia nggak dateng pas acara penting kaya gini. Indra sendiri bakal dateng, mba?”

“Dia usahakan katanya, nanti dia bakal langsung dateng ke restorannya.”

“Eh mba, btw masih inget nggak siapa nama pacar Ifa ini?”

DEG!!
Ucapan kata ganti orang ketiga yang kak Ai tunjukkan ke gue itu mendadak terasa sangat menyakitkan di hati.

“Nah itu, aku juga bingung i, sini deh duduk dulu deh.”

Akhirnya firasat buruk gue pun kejadian juga. Dua orang cantik-cantik tapi menyebalkan ini sekarang sedang duduk di sebrang gue sembari menatap penuh curiga. Padahal harus menghadapi sikap menyebalkan Ipeh saja kadang gue sudah nggak sanggup, dan sekarang gue diharuskan menghadapi 2 Ipeh yang lain. Bedanya, kalau Ipeh temen gue mah otot semua di bagian dadanya, tapi kalau dua orang Ipeh yang ada di depan gue sekarang ini isi dadanya adalah harapan dari para umat manusia di seluruh dunia.

*dislepet beha*

Kak Ai terlihat berbicara bisik-bisik, lalu kemudian mba Afi melihat ke arah gue sebentar dan berbicara bisik-bisik juga ke arah kak Ai. Gue grogi setengah mati, semoga mereka tidak menyadari bahwa ada makanan-makanan dari kulkas mereka yang kini tersaji tanpa izin di depan gue.

“Ehem…” Tiba-tiba mbak Afi mengagetkan gue.

“Aku mau tanya, Kamu Dimas kan yah?” Tanyanya lagi.

“Ngg.. i-iya kak, saya Dimas.”

“Hoo Dimas toh.. Nah Dimas ini siapanya Ifa kalau boleh tau?”

“Ngg.. temen sekelasnya mbak. Sumpah Dimas jujur, nggak bohong.” Jawab gue glagapan.

“Kenapa jadi grogi gitu, memangnya ada yang salah sama hubungan kamu dengan Ifa?" 

"Aduh, bukan gitu kak, cuma.. cuma, ngg.. anu… itu…”

“Eh kok jadi gagap gitu, jadi emang cuma teman aja nih?” Kak Ai menimpali.

“Iya kak. 100% teman doang. Kadang Dimas malah dijadiin budaknya sama Ifa. Dimas disuruh-suruh tanpa dikasih bayaran sesuai UMR Bandung.” Jawab gue nelangsa.

“Kamu nolak nggak waktu Ifa nyuruh-nyuruh kamu?” Kak Ai menatap gue curiga.

“Ngg.. kebanyakan sih nggak kak..”

“Kenapa nggak nolak? Emm.. jadi kamu masih mau bohong kalau kamu nggak suka sama Ifa?” Sindir kak Ai.

Belum sempat gue menjawab, gue sudah dihardik oleh pertanyaan senonoh lainnya dari mbak Afi.

“Terus, kalau misal kamu cuma teman, kenapa kamu ada di sini dong?” Mbak Afi kembali bertanya bak Jaksa Agung mau memberi hukuman mati.

“Aduh.. itu… anu.. ngg.. Dimas mendadak di undang sama Ifa, mbak. Bener deh, nggak bohong.”

“Hooo di undang sama Ifa.. Terus kamu tau sekarang ada acara apa?”

“Nggak tau kak, Ifa nggak mau ngasih tau. Tiap mau nanya, pasti Dimas langsung diancam.”

“Hahahaha itu baru adik kakak.” Ejek kak Ai.

“Sebentar i, mba mau nanya pertanyaan terakhir, dan mba harap kamu bisa jawab ya, Dimas.” Ancam mba Afi sambil tersenyum penuh muslihat.

“….”

“Kenapa dari sekian banyak teman Ifa, malah kamu yang dia pilih untuk datang ke rumah? Hari ini tuh sebenarnya ada acara besar untuk kita-kita semua, dan kenapa pilihan untuk acara sepenting ini tuh jatuh ke tangan kamu? Apa di sekolah, kamu sebegitu dekatnya sama Ifa sampai-sampai Ifa mempercayakan kamu ketimbang temennya yang lain? Atau jangan-jangan, kalian berdua sama-sama suka, tapi saling nggak mau ngungkapin perasaan karena takut pertemanan kalian jadi kerasa berbeda?”

“….” Gue speechless tidak berdaya di depan semua pertanyaan mba Afi. Karena sebenarnya, ada beberapa pertanyaan dari mba Afi yang memang pada dasarnya itu juga sering gue tanyakan kepada diri gue sendiri. 

Melihat gue yang nggak bisa menjawab pertanyaan mbak Afi, sontak mereka berdua tertawa penuh kemenangan. Rasa-rasanya gue makin bete kalau ada di sini lama-lama. Gue dijadikan bahan cemoohan oleh kedua kakak Ipeh. Sambil tertunduk malu, kak Ai dan mba Afi terus saja menggoda gue.

“Hahhahaha udah ah, masuk gih i, bentar lagi kita berangkat, kamu tinggal ganti baju doang kan?”

“Hahaha aduh perut Ai sakit nih gara-gara ketawa terus.. udah kok mbak, tinggal ganti baju doang.”

“Ifa sudah siap?” Mba Afi mulai berdiri dari duduknya.

“Lagi dandan kayaknya.”

“Yaudah, hei kamu HTS-annya Ifa, kita masuk dulu ya..”

“….” Gue cuma memandang mereka dengan tatapan bete.

Akhirnya setelah puas mendzolimi perasaan suci seorang anak SMA, para tante-tante liar itu kembali ke habitatnya masing-masing, meninggalkan gue kembali sendirian. Perasaan gue sekarang campur aduk, bukan karena malu atau bete, melainkan karena mengingat pertanyaan yang mba Afi tanyakan kepada gue tadi.

Pertanyaan mba Afi itu tanpa sadar kembali membuka sebuah rasa yang dulu sempat muncul ketika gue memakaikan jaket gue ke badan Ipeh di teras halaman rumah ini. Perasaan janggal yang gue sendiri nggak mau tau itu apa. Apakah mungkin benar ya, kalau sebenarnya gue nggak mau tau ini perasaan apa karena takut itu malah menjadi penghalang persahabatan gue dan Ipeh?

Rasa apa sih yang sebenarnya gue rasa ke Ipeh ? Apakah rasa nyaman sebagai teman? ataukah rasa nyaman karena perasaan….

Sayang?

Lantas apakah kalau semisal gue memang sayang, kita berdua masih bisa bercanda-canda dan tertawa se-tanpa-beban seperti dulu lagi? Atau jangan-jangan, jauh di dalam hati gue, gue suka Ipeh?

ASTAGA!!
Apa sih yang gue pikirin?! Kenapa juga gue harus mikirin hal kaya gini. Bangsat! Gue dikhianati oleh perasaan gue sendiri. Ipeh cuma teman kok, lagian siapa juga yang suka sama orang seurakan dia. Dan jika dibandingkan dengan Kak Hana pun, gue yakin kak Hana jauh lebih cantik dan anggun ketimbang Ipeh. Nggak! perasaan yang gue rasakan ini cuma perasaan sesaat doang. Semua orang juga pasti bakal merasakan hal seperti ini kalau ada di posisi gue.

i’m the biggest denial ever.

.

                                                                  ===

.

18.00

Setelah kumandang Maghrib terdengar, tiba-tiba gue juga mendengar ada derap langkah kaki dari dalam rumah. Dari suara langkah kakinya sih terlihat ada 2 orang. Dan ternyata memang benar, itu kak Ai dan mba Afi, mereka tampak terburu-buru berjalan berdampingan menuju ruang tamu.

“Ai, nyalain mobil dulu. Panasin mobilnya. Mba mau nelepon restorannya dulu.”

“Oke mba.” Kak Ai langsung pergi menuju parkiran mobil tanpa menghiraukan kehadiran gue di ruang tamu.

Sedangkan mba Afi terlihat lagi sibuk berbicara di teleponnya dengan seseorang yang ntah siapa. Tapi tampaknya mba Afi ini terkesan tegas orangnya, kharismanya ketika sedang berbicara di telepon itu gue rasa seperti kharisma seorang cewek cantik, mapan, mandiri, lalu sedang menceramahi para pria-pria murahan macam seblak yang mencoba mendekatinya. Elegan banget.

Setelah selesai berbicara dan menutup telepon, mba Afi melihat ke arah gue sebentar, lalu ngedumel.

“Ini si Ifa kemana sih, kasian pacarnya dibiarin sendirian gini dari tadi. Tuh anak dandan aja sampe 1 jam setengah. Dasar cewek aneh!”

“…” Gue cuma bisa diam melihat mba Afi ngomel-ngomel sendiri.

“IFAAAA!! CEPET TURUN!! SUDAH MAU PERGI NIH!! INI PACAR KAMU JUGA DIBIARIN NUNGGU LAMA DARI TADI!!”

“Iyaaa mbaaaa, Ini ifa lagi mau ngunci pintu kamar.” Mendadak ada suara Ipeh terdengar. Dan ntah kenapa, perasaan gue mendadak lega ketika mendengar suara itu.

“Eh pacar Ifa, kalau ifa udah turun, langsung suruh nyusul ke mobil aja ya. Jangan lupa suruh tuh anak buat ngunci pintu rumah, dia suka teledor soalnya kalau nggak diingetin.” kata mba Afi.

“I-iya mba, nanti Dimas kasih tau." 

Akhirnya mba Afi pergi menuju parkiran mobil meninggalkan gue sendirian sekali lagi. Sekarang gue berdiri, merapihkan pakaian, dan bersiap-siap menyambut Ipeh. Ada suara langkah kaki terburu-buru gue dengar dari dalam, dan ternyata itu Ipeh. Sebelum menemui gue, Ipeh berbalik sebentar dan mengunci pintu sebuah lorong tempat gue tadi pergi menuju dapur.

Karena mata gue minus, gue masih belum terlalu awas dengan apa yang ada di hadapan gue sekarang itu. Perlahan Ipeh menghampiri gue, dia terlihat malu-malu. 

Dan begitu mata gue bisa melihat jelas semuanya, sontak gue langsung terpana. Seluruh indra perasa gue mendadak berhenti. Mata gue tak henti-hentinya menatap seseorang yang ada di depan gue sekarang itu. Otak gue mendadak menghapus seluruh kenangan tentang bagaimana penampilan Ipeh sehari-hari ketika bertemu gue. Jantung gue berdetak begitu kencang dan nggak karuan, mulut gue kaku tak bisa banyak bicara seperti biasanya. 

Sosok anak mungil, tengil, dan cerewet yang selalu mengganggu gue kemana-mana dengan sikap annoyingnya itu sekarang sudah berubah menjadi seorang wanita elegan yang luar biasa cantik. Jika dulu gue dibesarkan dengan kartun-kartun buatan Walt Disney, maka apa yang terjadi pada Ipeh saat ini mirip seperti kartun Cinderella yang menjadi nyata. Rambutnya hitam terurai begitu rapih di belakang kepalanya, poni ciri khas anak SMA yang biasa ia kenakan setiap hari kini berubah menjadi poni rapih yang benar-benar menawan, bibirnya sedikit merah karena lipstik namun tidak begitu tebal, gaun hitam yang ia kenakan benar-benar membuat kulit putih langsat Ipeh terlihat begitu luar biasa mengaggumkan, membuat gue pengen megang-megang dan nyentuh-nyetuh selayaknya Ipeh adalah dodol codet.

Walaupun urakan, Ipeh sama sekali tidak mempunyai bekas luka di sekujur tubuhnya, sehingga ketika ia mengenakan gaun seperti ini, sangat sulit rasanya untuk percaya bahwa keseharian Ipeh adalah anak tomboy yang telah mengantongi sabuk biru di ekskul karate.

Gue masih tertegun di depan sesosok wanita paruh baya yang luar biasa cantiknya. Melihat pipi Ipeh hari ini, ntah kenapa rasanya bibir gue ingin mencoba rebah dan berisitirahat di sana. Jantung gue kembali berdegup kencang ketika Ipeh semakin mendekat ke arah gue. Perasaan yang selalu gue hiraukan itu kembali muncul ke permukaan. Jika tadi gue bersumpah bahwa kak Hana lebih cantik dan anggun ketimbang Ipeh, maka sekarang gue berani jujur bahwa itu adalah kebohongan paling besar yang pernah gue utarakan. Bibir gue benar-benar kelu, biasanya gue menjadi sependiam ini hanya jika gue sedang ada dihadapan orang yang benar-benar gue sayang, dan apa yang terjadi sekarang? ya. gue benar-benar terdiam. 

Tak bisa gue pungkiri. 
Gue..
Gue yang sekarang..
Gue benar-benar jatuh cinta dengan Ipeh.

I won’t deny anymore.

Ipeh sambil malu-malu menghampiri gue yang masih saja terdiam di hadapannya itu.

"Ih Mbe! Kok lo jadi pendiam gini sih? Gue malu sumpah dandan kaya gini di depan lo.” Kata Ipeh kesal.

“Pehhh?”

“Apa?!” Jawab Ipeh kesal.

“Ini beneran elo?” Tanya gue lagi.

“Ih Mbe, sumpah deh lo nyebelin banget!”

“Ini seriusan elo Peh?” Gue cubit kedua pipinya dan gue tarik-tarik berharap ini cuma sekedar mimpi.

“Apaan sih?! Gue males tau pakai pakaian kaya gini.” Ipeh menampis tangan gue.

“Peh, lo tiap hari aja kaya gini dong Peh. Gue mau jadi pacar lo kalau misal lo kaya gini terus.” kata gue bercanda.

“Yeeee malah ngalantur.” Ipeh memukul kepala gue.

“Tapi gue nggak habis pikir sumpah, anak bolang kaya elo bisa tiba-tiba jadi bidadari surga kaya gini?! Gila lo Peh, lo bisa dandan juga?”

“Apaan?! Gue juga dibantu sama kak Ai tadi.”

“Gak percuma gue nunggu lo lama-lama kalau hasilnya lo bisa secantik ini." 

"Ih ngeledek terus sumpah!”

“Hahahaha nggak kok, oh iya tadi mba Afi bilang dia udah nunggu di mobil. Ayo berangkat sekarang, jangan lupa kunci pintu..” Kata gue.

“Okeee, tapi Mbe, jujur gue malu banget pake rok kaya gini.” Ipeh terlihat murung memegangi gaunnya.

Setelah gue mengunci pintu, gue melihat kembali ke arah Ipeh yang masih merasa tidak nyaman dengan pakaian yang tengah ia kenakan. Mungkin bagi Ipeh yang sehari-harinya lebih sering menggunakan jeans bolong-bolong dan kaos oblong, memakai gaun terbuka seperti iri rasanya seperti tidak mengenakan apa-apa. 

Namun tiba-tiba, gue tanpa pikir panjang menggenggam tangan Ipeh lalu kemudian menggandengnya sembari berjalan menuju parkiran mobil. 

“Lo nggak boleh minder. Jika pun ada yang harus minder, itu pasti gue yang merasa sebegitu kurang jika harus mendampingi lo yang terlihat luar biasa hari ini. Kalau tau lo bakal secantik kaya gini, gue pasti tadi bakal pake pakaian jas lengkap, Peh.” Kata gue.

“…” Ipeh hanya terdiam melihat ke arah gue yang masih menggandeng tangannya.

“Tenang saja, hari ini gue bakal membuat orang-orang yang melihat ke arah kita berpikir bahwa gue adalah cowok paling beruntung yang bisa mendampingi cewek secantik elo, Peh” Kata gue yang masih berjalan bergandengan tangan tanpa sedikit pun menoleh ke arah Ipeh.

Ipeh terdiam..

“Dih gombal aja deh.” Mendadak Ipeh mencubit tangan gue.

“Bhahahahahak bangke serius gue, tapi ngomong-ngomong, apa jadinya ya kalau ada anak kelas yang ngeliat kita kaya begini. Bisa runyam ini dunia persilatan." 

"Hahahaha iya juga ya.”

Sesaat sebelum gue membukakan pintu mobil untuk Ipeh, gue melihat ke arah Ipeh.

“Peh, hari ini ada acara apa sih?” Tanya gue penasaran.

Ipeh melihat ke arah gue.

“Orang tua gue pengen ketemu lo.” Jawab Ipeh polos dengan wajah tanpa dosa, lalu kemudian masuk begitu saja ke dalam mobil.

WHAT?!
WHAT THE FUCK?!
IS THIS SERIOUS?!

gue benar-benar panik setengah mati.

.

.

.

                                                           Bersambung

Previous story : Here.

Seandainya kau tidak sengaja membaca, ketahuilah, apa yang aku tulis hari ini, adalah apa yang sebenar-benarnya aku rasakan saat itu.

Jika Salah

Jika niatku salah, maka beri tahu. Agar aku bisa memperbaikinya.

Jika tujuanku salah, maka tunjukkan kemana seharusnya aku melanjutkan perjalanan.

Jika caraku salah, maka tegurlah. Agar tidak lebih banyak lagi kesalahan yg berujung fatal.

Jika menurutmu aku salah, bicaralah. Jangan dengan diam saja aku menafsirkan kesalahan-kesalahan sendiri. Bantu-lah aku untuk menjadi orang baik.

Dialog Sore tentang Memasak

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah tulisan yang aku buat, ada komentar yang bilang gini :

Hanya pria-pria yang sedang jatuh cinta yang bisa nulis hal-hal manis tapi ga realistis kaya gini. Seumur-umur baru tau ada pria yang ga mempermasalahkan kalau calon pasangannya ga bisa masak.

Tidak 100% salah, dan tidak 100% benar. Teman baik saya membaca komentar itu dan tertawa. Dia bertanya, “Bagaimana pendapatmu, Gun?”

Aku?

Aku memastikan pertanyaan temanku itu. Tidak masalah. Maksudku, tidak masalah pendamping hidupku nanti tidak bisa memasak. Itu bukan hal yang sangat utama dalam rumah tangga, namun tidak bisa disangkal bahwa di Indonesia, paradigma seperti itu (seorang perempuan/istri harus bisa memasak) telah menjadi pandangan umum dan dianggap benar. Jadi, jika ada sesorang istri yang tidak bisa memasak, dianggap kesalahan fatal oleh masyarakat umum.

“Aku tanya,bagimu sendiri bukan secara umum?”, dia menegaskan.

“Aku tidak masalah”, aku menegaskan jawabanku.

Temanku diam. Lalu menanyakan alasan.

Dalam alasan ini, aku harus berbagi sedikit cerita. Kalau tidak salah, salah satu cerita dari mbak Asma Nadia. Pada satu hari dia memasak untuk suaminya dan ketika selesai, keduanya telah dimeja makan. Suaminya bertanya. Untuk memasak ini dia butuh waktu berapa jam. Dijawabnya dua jam. Suaminya bertanya lagi. Dalam dua jam, berapa cerpen yang bisa ditulis. Dia menjawab kira-kira dua cerpen. Suaminya tersenyum dan bilang, besok-besok lebih baik menggunakan waktunya untuk menulis saja agar lebih produktif. Memasak biar diurus yang lain.

Ada cerita lain. Seorang perempuan yang dinikahi oleh pemuda lalu diajak ke luar negeri. Di sana, masih dengan paradigma yang dibawa. Sang perempuan memasak, mencuci, membersihkan rumah sepanjang waktu, menyetrika. Lalu pada suatu hari suaminya melihat itu dan bersedih. Dia mengatakan kepada istrinya agar besok istrinya tidak perlu lagi melakukan semua itu dan meminta istrinya untuk melanjutkan sekolah. Belajar untuk masuk ke sekolah S2 lanjutan di negeri itu. Istrinya bingung mendengar perintah suaminya. Bukankah itu tugas istri di rumah. Pikirnya begitu. Suaminya menjawab, tidak itu bukan tugas istri. Dia mengatakan, istrinya harus memiliki waktu untuk hal yang lebih produktif dan lebih berkualitas untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan keahliannya. Kebetulan istrinya juga seorang ‘tukang gambar’ saat itu. Suaminya memintanya agar bisa memanfaatkan waktunya untuk melatih keahliannya itu. Urusan rumah tangga, suaminya memutuskan menyewa pembantu. Istrinya yang masih bingung itu menangis. Menangis bahagia tentunya. 1001 laki-laki yang berpikir seperti itu saat ini.

Temanku manggut-manggut. Bertanya lagi, jadi kamu ingin menjadi laki-laki yang berpandangan seperti itu?

“Iya”, jawabku.

“Lalu bagaimana dengan paradigma yang sudah ada?”, tanyanya.

Mmmm …. memang sulit mengubahnya. Aku memang tidak menjadikan pandai memasak sebagai kriteria, meskipun aku suka makan nantinya. Pun, nantinya kalau aku mendapati istriku tidak bisa memasak, tidak akan menjadi masalah besar. Kalau aku mendapati istriku bisa memasak, anggap saja itu anugerah. Dia boleh menentukan waktunya. Kalau memang dia senang dan asyik memasak, tidak perlu dilarang juga kan.

“Jadi intinya apa, Gun?”.

“Intinya sih, bisa atau tidak soal memasak. Tidak menjadi prioritas bagiku. Biar nanti istriku menggunakan waktunya lebih produktif. Untuk hal-hal yang lebih bemanfaat besar bagi keluarga dan orang lain. Sekolah untuk meningkatkan ilmunya misalnya, atau melakukan keahliannya/kesukaannya. Mengembangkan potensinya.”

“Yakin nih?”, tatapnya tidak percaya.

“Kita buktikan saja nanti. Oh iya, ini bagiku ya dan ini pemahaman yang aku miliki. Jadi, tidak ada yang boleh protes. Haha. Di luar sana mungkin orang lain berpikir berbeda denganku. Keahlian memasak bukanlah hal yang harus dan wajib bagi perempuan, tapi laki-laki juga bisa memilikinya. Intinya adalah bagaimana menjadikan waktu yang dimiliki istri nanti tidak habis untuk hal-hal yang kurang produktif. Dan ini tidak hanya menyangkut soal memasak, tapi aktivitas lain yang dalam paradigma yang ada.Jika memasak baginya adalah kesukaan dan menjadikannya produktif, tentu lain masalah kan?”

Pembicaraan ini ditutup oleh adzan ashar.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Bandung, 14 Januari 2014

©kurniawangunadi

setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda dalam masalah ini, tidak ada salahnya kan :)

pak maulana, Qiyash, dan pemimpin

dari dulu saya pengen bikin tulisan tentang pak maulana,, niat udah ada cuman alasan belum kuat .. haha
gara2 ada maslah kemaren2 baru merasa pengen segera menulis 

kapan hari pak maulana ini bilang “untuk masalah kepemimpinan tidak usah berbicara agama” dan pak maulana ini menggambarkan pemilihan pemimpin dengan situasi pemilihan pilot.

di Islam untuk menentukan suatu hukum itu ada namanya metode Qiyash, yakni metode menyamakan, membandingkan, atau mengukur 

dalam metode qiyash ini,, Ashal (pokok) dan Fara’ (cabang) harus ada keterkaitannya dalam suatu konteks yang relevan,,
dan juga antara ashal dan Fara’ ndak boleh terbalik.
yang selanjutnya, metode qiyash ini diperuntukkuan untuk suatu permasalahan  baru yang belum ada sewaktu Rasulullah masih hidup.

nah kapan hari itu pak maulana mengQiyashkan pemimpin terhadap pilot.
untuk yang tau hukum Qiyash pasti udah geleng-geleng kepala,,
sudah ndak ada keterkaitan, ashal fara’ nya kebalik pula.

lagipula hukum menentukan pemimpin udah gak perlu di Qiyash lagi,, karena sudah ada hukumnya dan jelas tanpa keambiguan. Apa alasan pak maulana merubah hukum yang sudah ada dan telah jelas ?
udah gitu hukum hasil dia Qiyash malah bertolak belakang dengan Qur’an dan hadist
sesuatu yang seharusnya tidak akan pernah dilakukan orang dengan gelar ustadz.  kenapa orang yang dipanggil ustadz dengan banyak fans bisa melakukan kesalahan fatal dalam menentukan hukum suatu perkara.  
dosanya besar lho.

padahal udah jelas dalilnya
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin/pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ? (QS An Nisa 144)

justru masalah pilot itu yang hukumnya perlu di Qiyash ,, karena jaman Rasulullah belum ada pilot
namun Qiyash nya bukan dalam konteks pemimpin,, tapi dalam konteks berdagang jasa
kita transaksi dengan maskapai penerbangan akadnya memilih pemimpin atau membeli suatu jasa ?
beli jasa kan… jasa transportasi.. nah dalam transaksi kita dengan maskapai penerbangan, salah satu pelaksana jasanya adalah seorang pilot.
jadi pilot bukan sebagai pimpinan kita, tapi pelaksana jasa yang telah kita beli.

lantas gimana kalo pilotnya non muslim ?? kita bermuamalah dengan non muslim itu diperbolehkan ,, Rasulullah pun berdagang dengan yahudi,, jadi ndak masalah. 
perniagaan sama memilih pimpinan itu beda jauh, jadi mana bisa pake Qiyash antara pemilihan pemimpin dengan pilihan pilot ,, ndak ada keterkaitan

selanjutnya statemen “ “untuk masalah kepemimpinan tidak usah berbicara agama”
Ya Allah,, namanya pendakwah itu ya, harus berusaha dan mikir supaya umat muslim ini meyertakan agama dalam setiap kehidupannya. Ini kok malah gak boleh bawa2 agama
Islam itu agama yang menyeluruh ajarannya,, klo untuk hal sederhana seperti penyucian setelah buang air besar, gunting kuku, pake baju, masuk kamar mandi aja ada dalilnya, ada fiqih nya, ada contohnya dari Rasulullah,, kenapa memilih pemimpin yang lebih kompleks dan krusial gak boleh bawa agama ??

malah yang bawa agama dituduh mau black campaign 
Astagfirullah

saya sering menemukan statemen yang sembarangan dari pak maulana, terutama waktu sesi tanya jawab
hampir ndak pernah dia menjawab pertanyaan audience dengan menyertakan hujah entah  dalil hadist/Qur’an atau pendapat ulama, itu berarti yang keluar sebagai jawaban dari dia bukan ajaran Islam yang sebenarnya, tapi pendapat subjektif dari pak maulana, 

Coba bandingin dengan cara menjawab dari Dr.Zakir naik, ustadz Quraish shihab, atau ustadz Adi Hidayat,, dimana waktu mejawab mereka selalu ada hujah dari Qur’an, hadist, atau pendapat ulama. 

Ingat, setiap mu’min apalagi juru da’wah wajib menyampaikan dalil yang berdasar Alqur’an dan Sunnah

saya bikin tulisan untuk sharing kenapa kemaren apa yang dilakukan pak maulana dipermasalahkan oleh umat islam,,
jadi yang tetep dukung pak maulana supaya gak asal dukung,, yang ndak setuju dengan ustadz maulana supaya gak asal gak setuju, 

oh.. ya klo ada yang nanya kenapa saya nyebutnya pak maulana, bukan ustadz maulana…
ustadz itu klo di indonesia sebutan diberikan pada mereka yang ilmu agamanya tinggi 
nah perumpamaannya adalah, saya gak mau manggil seseorang dengan sebutan jenderal klo dia masih kopral
hope you got it 

akhir kata 
semoga kita semua dilindungi dari pendakwah yang jahil 
Aaamiin 

Wallahu a’lam

NB: fell free untuk menyanggah atau bertanya