kera 2013

Kita Bukan Hakim Kan?

Ketika sakit keras pada 2012-2013, saya belajar satu hal. Bahwa saya sakit karena kesalahan dan dosa besar yang saya lakukan. Saya lalu belajar dan berproses sejak itu. Hanya saya yang tahu persis daftar dosa-dosa besar yang saya lakukan, yang membuat saya dapat hukuman. Hingga sekarang pun masih proses perbaikan, dan sekali lagi hanya saya yang tahu sampai di mana proses itu berjalan.

Kenapa saya tekankan soal hanya saya yang tahu? Karena seringkali kita bertemu orang-orang yang menghakimi dosa kita. Barangkali, kita juga pernah menjadi orang seperti itu.

Ceritanya, ketika di Jakarta, saya pernah halaqah dan ada satu kesempatan yang membuat saya sangat tidak nyaman. Pemimpin halaqah a.k.a murabbi membicarakan seorang pegawainya yang sedang sakit. Dia bilang, pegawainya itu mengkorupsi uang perusahaan. Saya bertanya, dari mana dia tahu? Apakah sudah ada bukti atau dia mengakui? Katanya, “gak sih. Tapi kan orang sakit itu pasti ada penyebab dia telah berbuat dosa? Kan kalau orang makan harta tidak berkah pasti ada akibatnya, nah orang ini kan kita bisa lihat dia sakit.”

Dan sepanjang halaqah hari itu saya mengernyitkan alis tak henti-hentinya. Dan memutuskan untuk tidak pernah datang lagi. Oke, dalam kasus diri saya sendiri, saya sakit karena saya berbuat dosa besar. Tapi bukan berarti saya bisa menghakimi orang lain juga berbuat dosa ini itu ketika dia mengalami sakit kan? Bukan ranah kita menilai, bukan wilayah kita menentukan dosa yang tidak ada buktinya. Yang bisa kita lakukan hanya mengingatkan orang itu untuk mengevaluasi dirinya sendiri. 

Dari pada menuduh orang lain, lebih baik evaluasi lah diri sendiri. Kenapa kita belum dikaruniai anak juga, kenapa kita belum menikah juga, kenapa rejeki kita sempit, kenapa kita sakit-sakitan, kenapa anak-anak kita nakal, kenapa keluarga kita selalu bermasalah. Belum tentu kita lebih baik dari orang-orang yang kita hakimi kan?

Toh setiap kesulitan bukan selalu hukuman. Bisa jadi itu ujian. Ketika kita tengah sibuk menghakimi orang lain, kita katakan dia banyak dosa zina atau korupsi, bisa jadi dia sedang bertaubat dan sibuk memperbaiki diri. Dia lalu naik level, dan kita yang lupa evaluasi diri justru terjengkang ke dalam neraka.

Kita hanya punya waktu 24 jam. Sayang ga sih kalau kita pakai untuk merinci dosa orang lain sementara perkerjaan itu sudah dilakukan dengan sempurna oleh para malaikat? Kita malah melupakan tugas kita sendiri : mengevaluasi diri sendiri. 

Seperti pesan Umar ibn Khattab, hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab. 

Yuk ah, soal kebaikan, pikirkan orang lain lebih dulu. Perihal dosa, kita evaluasi diri kita saja lebih dulu.