kemuning

CERITA SORE

Diatas atap tempat ku duduk bersama matahari tua yang akan meninggalkan hari sebentar lagi..
16.56 tepat waktu ku menuliskan ini dengan tenang, tak lupa ku sumbat telinga dengan lantunan irama musik tua yang agaknya seusia dengan bapak ku saat seusia ku dulu. Amat syahdu sore ini, kepala pun turut bergerak mengikuti tempo monoton bit khas 80-90an sambil sesekali ku ikut bernyanyi sepenggal lirik “haruskah diri ini menjerit dan berlari mengejar dirimu yang kian jauh melangkah” sebab hanya itu yang ku hafal saat ini haha.

Sisi langit kanan ku adalah biru kosong tanpa ada goresan awan sekedar untuk menambah sedikit estetika lagit pada umumnya, dan sisi satunya adalah kemuning jingga yang ku cinta, dialah sang penenang riuh gemuruh dunia, yang mendamaikan perang berkepanjangan, yang menjadi peraduan banyak insan kala digelut berjuta kenyataan.

Bila diberi sebuah kesempatan saat ini, aku ingin berada di atas bukit batu di tepi laut dan memanjakan diri diterpa angin dan hangat senja tua. Alangkah sederhana permintaanku ini tampaknya haha. Disaat mereka mengharap materi dan sedikit cinta ku lebih memilih kasih dan damai, seperti di atas bukit batu di tepi laut tadi contohnya.

Kopi ku mulai dingin, tetapi nikmat masih tak bisa dielakkan, karena kopi terbaik adalah kopi yang disiramkan air panas didalam gelas dengan cinta ditiap tetesannya dan seduan tersebut dari tangan penikmat itu sendiri hehe.

Ahh ku sudahi saja tulisan ini dan menikmati kopi serta kepul awan buatan menunggu si jingga berganti warna merah kegelapan perlahan-lahan. 😁

Raisamunthe, 22 agustus 17, kosan tentem yogyakarta.