kelopak

pernah tak kelopak mata kiri bahagian bawah korang berdenyut-denyut?

……..

……..

ini yang aku kena sekarang…

sangat tak selesa ok.

banyak sangat petanda-petanda orang tua-tua kita;

1. nak menangis terima berita sedih, sebab belah kiri.

2. nak jumpa orang jauh.

3. akan terima berita tak baik.

4. ada orang tengah sebut pasal kita.

tetapi dari segi sainsnya, cikgu kata, otot mata kita contract berkali-kali.

hmmm… 

Padahal perjalanan kita masih panjang. Dan bekal masih sangat sedikit.

Mungkin ini perlu ditempel di kaca kamar biar tiap ngaca inget, ada tujuan jangka panjang yang perlu kita capai, jauh melebihi capaian duniawi kita.

Kita sama sekali tidak mengabaikan kepentingan duniawi. Tapi lebih mengutamakan dunia diatas akhirat, akan menjadikan kita lupa dengan perjalanan kita setelah ini.

Mungkin kita perlu menjadikan ini sebagai peringatan karena kita semakin hari adalah manusia yang semakin lupa, dengan Rabbnya. Karena dunia yang udah kebolak balik, menjadikan semuanya terlihat kabur. Dan kita kesulitan memilih mana jalan yang benar.

Tapi Allah, tidak menyia nyiakan kita gitu aja. Ada nurani, yang Allah kasih buat kita sebagai peringatan awal, apakah yang kita kerjakan itu Allah suka atau tidak.

Allah sayang sekali sama kita, bahkan setelah dosa sekian banyak, Allah masih belum mematikan kita.

Taubat kita ditungguin terus di tiap pagi kita membuka kelopak mata.

Semua kita salah. Khilaf. Dan itu fitrah.
Sayangnya, ada yang selalu berusaha minta ampun, sebagian lagi selalu merasa sudah diampuni.

Mari diam sejenak untuk memikirkan lagi, Allah nyiptain kita buat apa sih?

#edisiBelumMauMati
#edisiTakutMatiTapiCapekJugaSamaProposalSkripsidanKompre

Made with Instagram
Menyerapahi Rindu

Malam ini, tiada serapah untuk sebuah rindu,
namun nyatanya, airmata masih saja mengenangmu dengan dungu
dengan beberapa dalih; kelak, bahagia akan menggantikan hari-hari kita yang sedih.

Padahal, aku tahu; bagaimana cinta ini hendak tandang,
bila pintu hatimu sudah terkunci dan dipalang.

Kepada kedua kelopak mataku;
Memejamlah, biarkan ingatanmu melupa sejenak; tentang kesunyian yang tidak pernah pergi beranjak.

Aku yg tersimpuh mengadah tangan, mengatupkan dua pasang kelopak mata, berbicara kecil sembari berucap doa, pada malam di mana orang-orang masih banyak yg terpejam. Dan itulah salah satu bukti nyata, sebegitu hebatnya aku meminta kamu kepada Tuhan.
Ada hal yang tidak kamu tahu dari diamku, diammu, diam kita. Adalah guruh yang bunyinya meraksasa di dadaku; menuju kelopak mataku, pada keduanya ia bersalin jadi kubangan air.
Kota April

April mendinginkan kota ini. Membatu. Dan kita terperangkap di dingin petang. Di atas kelopak bunga sepatu. Bercampur angin sore kala punggungmu menjauh. April sebenih kacang hijau yang dibiarkan.

Kau menunda mengirim pesan tentang ucapan yang itu-itu saja: tentang api yang kehilangan cahaya. “Look up the stars,” larik yang melindungi kita dari hujan saat perempuan itu menyuguhkan teh di jalan perumnas.  Seperti ini, katanya manja. Padahal kita sedang putus asa. Dan nyamuk-nyamuk datang meminta darah. Bagai masa-masa sulit.

Suara roda menciumi genangan—yang memantulkan wajahmu. Aku selalu suka pada dingin antara kampung halaman dan air mukamu. Lalu diamnya rumah-rumah memberi arti: tetap di sini atau hilang sama sekali.

Selebihnya kosong, tapi tiang-tiang listrik lebih sendu dibanding tawamu. Jika tak memiliki waktu pulang, kau bisa membangun tenda di mataku. Menyelam dan memenuhi jantungku. Dan kau selalu cantik. Jenis perempuan yang berlian.

Tapi kota tetap asing. Abu-abu bercampur debu. “Oui. Étrangers!”

Pedagang gorengan, mobil boks, becak, juga bendera yang lesu, beriringan mengunci ingatan. Tak ada pesta, tapi mereka membuat festival sendiri, di mata kita. Yang paling besar adalah kenangan tentang kota. Dan yang paling kecil adalah melupakan.


Saya undur diri di dunia tumblr untuk sebulan dua bulan dikarenakan ada hal-hal yang perlu dilakukan segera. Semoga kita berjumpa lagi secepatnya. Tetap semangat menulis dan raih cita-cita. :)

Blaaar!!
Pergilah cinta yang selama ini diperjuangkan. 
Lalu kemudian datanglah air deras dari kelopak mata.

Ini nih kejadian yang belakangan ini kerap banyak terjadi di negara berkembang. Kayaknya lagi jadi trendsetter. Nggak ditinggalin demi orang ketiga itu nggak gaul. 

DEFINISI AYAH

Barangkali lelaki yang tertidur paling akhir. Yang memastikan anak-anaknya lelap dengan tenang. Yang menyaksikan dua kelopak mata istrinya memejam. Yang mencium mereka semua tanpa harus terlihat. Yang mendoakan dalam hati. Yang diam-diam menangis. Yang dengan dekap memindahkan tubuh anak-anaknya ke peraduan. Yang menarik selimut untuk melindungi mereka dari dingin. Yang menangkap nyamuk dalam kantuk. Yang terjaga untuk menjaga. Yang esok, atau lusa, atau kapan saja menikmati malam dengan cara yang sama.

Pamulang, 27 Oktober 2015

FAHD PAHDEPIE

#kalky #kemi

Made with Instagram
Retensi

Tertawa padahal menjerit teriris
Tersenyum padahal menangis
Tegar padahal rapuh
Berkebalikan hingga jenuh menjadi jenuh

Mungkin iya terlalu pandai menyembunyikan
Mungkin iya terlalu lihai berada di belakang tirai
Mungkin iya tak pernah bisa terlihat
Mungkin iya tak pernah nyata
Semu. Ada namun tiada. Kasat mata

Sesaat sebelum menghilang sebetulnya ingin berucap rindu
Sedetik sebelum beranjak sejatinya ingin berkata perihal rasa
Namun urung untuk dilakukan segala
Sebab tahu di titik mana berada

Batasan mana yang sekarang digunakan saja sudah tak tahu
Hanya bisa ikhlas bahwa tak lagi menanti dan dinanti
Kemudian beranjak walau tertatih
Tak apa, selalu tak pernah apa-apa
Besok jauh lebih kuat katanya

Menyusup tanya perihal kabar namun menguap karena enggan
Bila nanti tak apa berubah menjadi kenapa
Mungkin itulah manifestasi tertinggi
Atas segala yang diredam hingga sesak menabur perih

Segala substansi diri mungkin menolak untuk tahu
Tapi nyatanya tetap ada yang selalu tahu
Lupakan saja untuk menjadi tahu
Upaya sia-sia karena selalu berakhir segalanya di kelopak mata

Tak usah ditanya, cukup dirasa dan diungkapkan
Mungkin besok, ketika sudah berada di batas nadir


Hujan Mimpi
Maret, 2016

Kelopak mawar yang jatuh lalu diinjak olehmu itu, pernah kau puji karena cantiknya.
— 

Seseorang yang kau benci saat ini, barangkali dulu pernah berarti. Seseorang yang kau maki-maki itu, barangkali dulu pernah sesekali kau tanya “apa kamu masih mencintaiku?”

Barangkali.

setelah aku mampu pejamkan kedua-dua kelopak mata.
dan tersenyum.
tanpa takutkan apa-apa.

kepada Tuhan,
adakah ini maksudnya gelap?
kegelapan itu bimbing aku.
seimbang dan tenang.

jangan lepaskan tangan aku lagi Tuhan.

- 1 am, 07112015, ipoh.

—  nota kaki : Tuhan, saksi lah. teruslah menjadi saksi…
Dengan Keberanian
— 

Ia menanggalkan ketakutannya pelan-pelan, mencoba kembali merapikan penampilannya yang tak karuan.

Jendela yang selalu ia tutup rapat kini sudah bisa bernafas lega, tak hanya cahaya yang masuk, udara segar pun berdesakan ingin menyapanya.

Selepas membersihkan diri ia bercermin, diamatinya kelopak mata yang menghitam sebab kurang tidur sejak berminggu-minggu silam.

“Aku tetap cantik, kok,” celetuknya diiringi tawa geli melihat gayanya sendiri memonyong-monyongkan bibir di depan cermin.

Sekarang atau hari depan, kenyataan harus tetap dihadapi, berlari atau sembunyi tidak akan mengubah apapun selain membuatku semakin banyak membuang waktu.

Yah, aku harus datang. Aku harus melepasnya dengan keberanian. Tukasnya penuh kesungguhan.

Cubalah tuk menjadi sepersis angin,
yang menyampaikan hujan kepada tanah,
menggugur kelopak pada bunga,
memegang sayap agar bisa terbang..

Biarpun wujudnya samar,
tetap halus sapaannya, mesra belaiannya,
diam pada bahasanya..

Tulisan: Jadilah Sederhana

Jadilah sederhana, seperti angin yang berhembus lembut membuat sejuk yang merasakannya.

Jadilah sederhana, seperti hujan yang jatuh membasahi dan menyuburkan tanaman di pekarangan.

Jadilah sederhana, seperti lilin yang bersinar menyinari malam dalam ruang kamarmu.

Jadilah sederhana, seperti lampu tidur yang menemanimu ketika lelap menutup erat kelopak matamu.

Jadilah sederhana; sesederhana senyuman ibumu ketika tahu kabarmu baik-baik saja.

Medan, 12 Juni 2016
— Catatan Sederhana

Awak tak sayang saya ke?

Ada orang tanya, “Kenapa tak upload gambar dengan kawan-kawan, atau gambar kawan-kawan..”

Satu sebabnya, s-a-y-a-n-g.
Sebab sayang lah, tak pamerkan.
Sebab sayang lah, nak awak semua jadi mawar berduri, yang dihiasi kelopak-kelopak malu.

Nak di jadikan cerita, sifat malu Saidatina Fatimah az-Zahra berbanding dengan kita, bagai langit dengan bumi.

Sampai suatu ketika, ketika wafatnya Puteri Rasulullah SAW, di minta untuk di kebumikan pada waktu malam kerana risau rupa bentuk badannya di lihat.

Tak upload bukan tak sayang..
Sebab sayanglah tak upload/pamerkan.

Bukan maksud tak upload tu takde kawan..
Ada, tapi biarlah yang tersembunyi.

Andai kalian mengerti, maksud sayangku ini……… :’)

Sungguh, aku sayang kalian kerana Allah.

Adalah kau, yang menunggu diatas debu.
Maka tak apa jika seluruhmu dibalut pahit pekat yang tabu.

Meski tak segetir tertinggal terikat sauh, adalah aku yang telah dihabisi beragam paradigma.
Hingga tertinggal didalam kosong.

Maka jika terbengkalai ialah jerih,
Ijinkan aku ditelantarkan didalam kelopak matamu.

Hanya agar, aku sedalam-dalamnya lelap yang kau tunggu.

Made with Instagram
Untitled

Bagaimana kamu bisa membuka lembaran baru, saat lembaran yang lama masih belum kamu balikan.

Bagaimana kamu bisa berjalan kedepan, saat langkahmu tak pernah beranjak dari tempat awal yang seharusnya kau tinggalkan.

Bagaimana kamu bisa jujur, saat masih betah membohongi dirimu tentang semua kesedihan dengan berpura pura bahagia.

Bagaimana kamu bisa tenang, saat dirimu masih memberi ruang nyaman pada rasa cemas untuk singgah.

Bagaimana kamu bisa tertidur nyenyak, saat bayang masa lalu masih kerap menjadi mimpi buruk  yang datang di setiap malam.

Bagaimana kamu bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, saat dirimu sudah menyerah sebelum mulai berusaha.

Bagaimana kamu bisa yakin, saat ragu masih menjadi teman sejati yang kamu percaya.

Bagaimana kamu bisa tersenyum, saat murung masih bergelantungan kuat di wajahmu.

Bagaimana kamu bisa tertawa, saat air mata masih sering mengalir deras dari kedua kelopak matamu.

Bagaimana bisa kamu merasakan bahagia, saat semua hal menakutkan itu masih menghantui di setiap gerak tubuhmu.