keloks

Memohon Pada Sang Empu

Lama sekali saya bisa menerima kalau semua yang ada di sekitar saya adalah bukan milik saya. Bahkan urat-urat, darah, napas, semuanya. Mengakui segalanya adalah pinjaman kadang menyakitkan. Ya seperti saya tak ada daya apa-apa. Padahal ya memang tidak.

Perjalanan menuju menerima itu berkelok. Lebih dari kelok sembilan yang ada di tanah Sumatra ini. Sungguh!

Kali ini kendaraan saya adalah film. Film dari negeri ajushi rasa oppa sana hahahaha *skip*
Hati saya dipatahkan biar ada tempat bagi hati baru tumbuh. Saya meyakinkan diri kalau semua yang saya rasakan bukan lantaran baper. Tapi benar-benar merasakan pesannya.

Kalau sudah begini. Manusia balik-balik pasti mewek. Merasa kerdil. Dan kalah *ugh*

Setelah film itu habis. Saya tersungkur. Benar-benar tersungkur dalam artian harfiah. Alay? Ya silakan kalo mikirnya begitu. Tapi saya merasa menang setelah kalah berkali-kali. Ego yang tidak mau kalah itu luntur, gugur.

Saya jadi ingat di tahun lalu saya merasakan berbagai pengalaman sederhana tapi impactnya wow!
Sebagai manusia yang masih sering alpa saya malu untuk minta apalagi mohon sama yang lebih dekat dari nadi, sama sang empu. Tapi balik-balik ke sini saya menyadari kalau saya harus memohon di dunia. Ya itu cuma mohon-mohon sama sang empu. Kalau saya mau ngemis ya ngemis sama sang empu. Saya mau yang aneh-aneh ya sama yang empu. Ga ada lagi kata malu, gengsi, atau sejenisnya.

Saya jadi berpikir ketika saya minta-minta sama sang empu sama saja saya menerima semua yang dia kasih sama saja bersyukur sama saja menghargai kemahaan empu.

Saya mau memohon sama empu sampai saya ga punya napas lagi buat sekedar bilang: Ya…..


*hmm saya agak bingung nulisnya gimana hahaha. Tapi saya sedang mnikmati proses ini*

hob·by

/ˈhäbē/

Pada suatu masa kami bertemu orang-orang yang berhasil, menurut sudut pandang kami, karena melakukan apa yang mereka sukai dan mendapatkan apresiasi ‘dengan baik’ oleh pihak-pihak di sekitarnya. Lalu masing-masing dari kami berpikir, wah saya mau begitu juga. Kemudian berpikir lagi lebih jauh mengenai hal-hal yang kami sukai dan mana dari sekian banyak itu yang akan membawa kami lebih dekat satu jengkal ke keberhasilan yang kami definisikan barusan tadi, guna mendapat apresiasi ‘yang baik’ oleh pihak-pihak di sekitar kami dan akses yang memadai menuju jalan berkelok-kelok namun pasti.

Yang mana, ya? Oh, yang ini; ucap masing-masing dari kami ingat, sambil menyalakan lampu kuning 5 watt di atas kepala supaya lebih Sherlockian. Kalau dipikir-pikir keren juga orang yang pertama kali menggagas hobi yang kami tekuni ini, meskipun disebut jago pun kami masih jauh dari layak. Tapi berbekal tekad yang sedemikian dipaksa bulat, ditambah sedikit bumbu-bumbu motivasi mengenai pursuit your happyness tipikal milenial yang bertebaran di jagad internet, juga observasi menyeluruh dari berbagai sudut pandang, hobi kami akan mendapat apresiasi yang persentase menjadi baik-nya lebih besar (yang mana definisi baik ini bisa jadi berupa kritik yang semoga berupa bahan bangunan). Mari di-wah: WAH!

Memangnya apa? Kami hobi membuat ini itu, segala craft yang asyik dikerjakan setiap waktu. Ditilik dari instakilogram punya mbak idekuhandmade, hobi ter-seru ini mampu membawa dirinya ke hari-hari senyum beruntun. Kalau begitu hasilnya, segala suka dan susah untuk menjadi jago akan kami jabani dengan santun. Dengan begitu, profesi impian kami untuk menjadi craftsman akan menari-nari senang beriringan seperti pantun~




((hobi aktualnya: minum walaupun nggak haus, sembari nonton variety show Korea yang bikin ketawa atau konten asique dan so-called aesthetic di YouTube, diselingi baca-baca (baca-baca tab komentar di mention-an Twitter orang lebih tepatnya), main-main bersama para kucing tampan lalu browsing-browsing ini itu dibarengi streaming lagu, tak lama kemudian terdistraksi buat gambar-gambar atau nulis-nulis yang semuanya dilakukan dalam satu waktu. yak, penting sekali.))

@kitajatim

Perjalanan

Bagaimana kabarmu? Kuharap selalu baik.

Bagaimana target yang ingin kau capai? Sudah sejauh mana?

Jika kini kau sedang berjalan, maka kuharap kau sedikit bejalan cepat jangan terlalu banyak berhenti. Jika kau kini sedang berlari, hati-hati ya, aku tak mau kau tersandung. Jika kau lelah, tak apa beristirahat. Jangan lupa makan yang cukup agar kau tak sakit.

Berjalanlah terus. Berjanjilah untuk selalu tetap kuat. Jika kau merasa sendiri, tak usah takut. Ada Allah, aku dan doa-doaku yang akan selalu menyertaimu.
Jika nanti diperjalanan kau menemukan jalan yang berbatu, berkelok-kelok, tak usah takut. Ada Allah, aku, dan doa-doaku yang akan selalu menyertaimu.

Saat diperjalanan, jangan terlalu berambisi melihat ke depan, karena perjalanan bukan siapa yang terlebih dahulu mencapai tujuan. Tapi bagaimana kita menikmati setiap perjalanannya dan mengambil hikmah dari setiap belokannya. Tetaplah rendah hati.

Aku pun disini sedang berjalan. Aku sedang menyiapkan diri bertemu denganmu disebuah persimpangan. Tugasku saat ini adalah selalu mendoakanmu. Agar saat nanti kita bertemu kembali disebuah persimpangan, kau segera siap mengajakku berjalan bersama dalam sebuah perjalanan hingga mencapai surganya Allah kelak.

Bandung, 15 Februari 2017 | tammiutm | #TebarManfaatLewatAksara

Jika kau cari aku. Mungkin aku ada di sudut-sudut hatimu yang tak kau rasa. Atau kau akan temukan aku di kelok-kelok ingatan yang tak kau ingat. Atau barangkali pada serpihan waktu yang tak sengaja bertemu kemudian hanya berlalu.
—  Iya, mungkin aku ada di sana.