kelir

bukankah hidup selalu memberikan pilihan-pilihan? berhenti, berlari, melompat, memangkas. tapi siapa yang harus disalahkan atas pilihan-pilihan yang dipilih, selain diri sendiri? bukan kau, bukan kalian. tapi izinkan saya untuk memilih. mungkin pilihan saya, kau dan kalian tidak suka, tapi setidaknya ini hidup saya. saya yang akan menanggung bebannya, bukan kau, kalian, juga bukan puisi ini.

Overture

1
hidup kita sebatang sungai, dan mati
luas lautan di balik lembah-lembah nasib
maka lupakan sejenak kelir-kelir pemakaman: 
nama, melati, juga pohon kamboja

2
kata-kata yang lelah, mengasah tajam waktu
maka mata usia biarkanlah semakin tumpul
seperti pasrah napas menjelang kematian
di atas ranjang, terbaringlah bahasa bunga
tak perlu kita hitung kelopak kata yang mekar
semut dan kupu-kupu paham rahasia nektar

3
hingga puisi menuliskan bait yang hidup
prasangka di hati kita akan terus menangis
airmata tumpah, mengaliri lekuk bahasa, dan
perahu karam kita hanya akan diziarahi ikan-ikan

Kleco, 2017

Kılınçı köni erse körki kelir, tişi körki kılk ol biligli bilir.

( Ahlâkı dürüst olan kimse güzel görünür; kadının güzelliği onun tavır ve hareketidir; bunu bilen bilir. )

- Kutadgu Bilig

யாதும் ஊரே யாவரும் கேளிர்
— 

yaathum oore yaavarum kelir - to us all towns are one, all men our kin

The beginning of a poem by tamil philosopher Poongundranar written 2000 years ago. Every human of every town is of the same value because they are கேளிர் (related). Hence, all people should be bound by one, same moral and legal code.