kehidupan akhirat

BENAR PRODUKTIF ATAU TERNYATA HANYA MERASA PRODUKTIF?

Sepekan yang lalu, saya merasa banyak hal terkait waktu di keseharian saya sedang berantakan. Indikasinya? Mudah saja, beberapa yang bisa saya ceritakan misalnya saya lebih sering pulang malam dari kantor, kurang punya banyak waktu untuk menulis, snooze alarm beberapa kali di dini hari, makan semua dimasakin Ibu, dan beberapa kali merasa kejar-kejaran dengan deadline pengumpulan tugas harian di jam 23.59 malam. Menyadari semua itu, saya merasa perlu melakukan sesuatu, hingga saya pun menyusun ulang apa saja yang menjadi amanah saya dalam sepekan dan mencoba memanfaatkan waktu-waktu senggang untuk bisa mengerjakan to do list harian.

Allah Maha Tahu kalau semua itu belum cukup mendongkrak saya, hingga atas seizin-Nya dua buah undangan mengisi acara pun saya terima. Tak tanggung-tanggung, temanya adalah tentang produktivitas. Saya jadi curiga, jangan-jangan inilah cara Allah membuat saya belajar dengan cara yang lain, yaitu dengan mendengarkan diri saya sendiri berbicara perihal produktivitas agar saya kembali ingat apa yang perlu saya lakukan. Maa syaa Allah, Tabaarakallahu, kegiatan ini membuat saya semangat lagi! Saya ingin bercerita di dashboard biru dongker ini juga tentang itu semua. Disimak, ya!

Produktif? Apa Sih Artinya?

Berbicara tentang produktif dan produktivitas, kiranya kita perlu berhati-hati nih, jangan-jangan selama ini kita hanya merasa produktif tapi ternyata belum benar-benar produktif karena salah mendefinisikan produktif itu sendiri. Kalau begitu, yuk samakan dulu frekuensi kita tentang arti produktif!

Merujuk pada KBBI, produktif berarti (1) bersifat atau mampu menghasilkan; (2) mendatangkan hasil, manfaat, dan keuntungan; (3) mampu menghasilkan terus, dst. Tapi, sederhananya, bagi saya,

produktif berarti terus bergerak. Bukan berarti gerak-gerak tanpa arah, tapi gerak-gerak ibadah kepada Allah yang dapat diwujudkan melalui apa saja, seperti misalnya belajar, bekerja, berkarya, berbagi, mengabdi, dan juga kegiatan lain apapun yang ada dalam koridor kebenaran dan kebaikan.

Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa, instead of productive, be afraid that you may be just busy. Ya, sibuk sama sekali berbeda dengan produktif meski mungkin terlihat sama. Sibuk adalah kegiatannya banyak, pekerjaannya banyak, deadlinenya menumpuk, janji temunya berjejer, dan seterusnya, tapi semua hanya dilakukan untuk dunianya saja tanpa ada kontribusi sedikitpun untuk kehidupan akhirat karena tidak diniatkan untuk beribadah kepada Allah. Sebaliknya, produktif adalah mengerjakan segala sesuatunya untuk Allah, berharap segala sesuatu itu akan menjadi penolong kelak di akhirat. (Pelajari lebih lanjut tentang ini dengan menonton sebuah video di Youtube dengan judul Run to be Eternal pada link berikut ini)

Kalau Muslim(ah) yang Produktif, Itu Kayak Gimana?

Menurut sebuah artikel yang ditulis oleh muslimdaily.com, muslim(ah) produktif adalah ia yang menggunakan seluruh sumber daya yang ia miliki dan yang ada di sekitarnya untuk berjuang dan bekerja sekuat tenaga agar dapat mencapai posisi yang tinggi kelak di surga. Maka, dari penjelasan tersebut kita dapat mengambil makna bahwa muslim(ah) produktif adalah ia yang hidupnya senantiasa berisi kebaikan dan ibadah-ibadah kepada-Nya yang diwujudkan melalui apa saja sebab misinya adalah tentang bagaimana menjadikan dunia ini sebagai ladang amal yang akan dipanen di akhirat. 

Memangnya, apa sih yang membuat kita perlu menjadi seorang muslim(ah) yang produktif? 

Pertama, sebagai anak muda, kita semua memiliki energi untuk bergerak yang sangat besar, sayang sekali jika energi tersebut digunakan untuk lebih banyak diam, galau, dan mengurusi hal-hal yang tidak penting seperti cinta dan perasaan yang tidak karuan. Sebaliknya, energi yang besar itu sangat lebih dari cukup untuk membuat kita produktif bergerak dalam mengupayakan kebermanfaatan.

Kedua, we are not only live once. Kita tidak hidup sekali, sebab di akhirat nanti kita akan dihidupkan kembali untuk menghadap Allah dan mempertanggungjawabkan setiap yang kita lakukan di dunia. Jika kita mengisi hidup dengan lebih banyak membuang-buang waktu, galau, dan tidak menjadi hamba yang produktif dalam kebermanfaatan, bagaimana kita kelak akan mempertanggungjawabkan semuanya? Oleh karena itu,cseorang muslim(ah) yang menggenggam iman di dalam hatinya akan memahami bahwa dalam setiap gerak-geriknya di dunia ada Allah yang selalu mengawasi, maka ia akan paham bahwa setiap detik akan dipertanggungjawabkan.

Bagaimana Caranya Supaya Bisa Jadi Produktif?

Pertama, milikilah niat yang lurus dan wujudkanlah dengan serius. Mengapa harus berniat lurus? Sebab niat ini adalah penentu, yang saking pentingnya sampai Allah ingatkan kita dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayar 23,

“Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah mereka kerjakan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.”

Nah lho?! Ternyata ada lho amalan-amalan yang kelak akan berakhir menjadi bagaikan debu yang beterbangan, yaitu sia-sia dan tidak mendapat pahala karena tidak dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

Kedua, ambilah kesempatan dan proaktif dalam berbuat baik. Tidak perlu menunggu ajakan teman, tapi jadilah yang mengajak. Tidak perlu menunggu kolaborasi, tapi ciptakanlah kolaborasi. Tidak perlu menunggu disuruh, tapi lakukanlah dengan inisiatif yang tinggi. Terus kalau sendirian kan engga ada teman, gimana, dong? Mulai dulu saja setulus hatimu, sebab menjadi produktif secara tidak langsung berarti bahwa kita memancarkan radar produktivitas yang menarik orang-orang dalam frekuensi yang sama, sehingga entah bagaimana akan Allah pertemukan dengan orang-orang yang bahagia melakukan kebaikan dalam hidupnya

Ketiga, belajar, belajar, dan terus belajar. Jangan salah, belajar ini dapat dilakukan melalui apa saja, tidak harus selalu di dalam kotak-kotak persegi empat ruang kelas atau berlembar-lembar buku, sebab semua hal berpotensi menjadi pembelajaran bagi kita.

Keempat, fokus dan sungguh-sungguhlah dalam melakukan kebaikan dan jangan biarkan ada banyak ruang yang tersisa untuk mengurusi hal-hal recehan. Ini tentu tidak mudah, karena ternyata ada banyak sekali hal kecil di sekitar kita yang berpotensi menjadi distraksi, terutama yang menggoyangkan fokus kita dari fokus menjalankan tugas ibadah kepada Allah. Contoh paling umumnya adalah godaan lawan jenis! Nah lho?!

Kelima, sadari potensi diri dan pikirkanlah kebaikan apa saja yang bisa dilakukan dengan potensi itu. Mengapa? Karena potensi diri ini bagaimana pun adalah titipan dari Allah, yang kelak pasti akan menuntut pertanggungjawaban. Lalu, bagaimana kelak kita akan menjawab tanya Allah tentang untuk apakah potensi diri ini digunakan?

Tips dan Tools Productivity

Untuk menghadirkan atmosfer positif dan produktif, sebagai anak muda milenials kita bisa juga menggunakan tools productivity yang dapat kita download di smartphone, seperti misalnya Trello untuk to do list pekerjaan/tugas harian atau Yawme untuk checklist amalan harian. Atau, kalau lebih nyaman menggunakan tulisan tangan, common-place book adalah solusi yang juga bisa digunakan.

Okay, clear, ya? 

Selamat mengakhiri akhir pekan! Besok Senin, semoga kita dimudahkan-Nya untuk bertransformasi menjadi seseorang yang dalam setiap gerak di kesehariannya, baik itu belajar, bekerja, berkarya, berbagi, mengabdi, dan juga kegiatan lain apapun, selalu menjadikan Allah sebagai alasan utamanya :”)

_____

Picture Source: Pexels

Pernah suatu ketika, seorang pria membaca qur'an tapi tidak merasakan perubahan apapun.

Sejak kecil, pria itu memang dididik untuk membaca Qur'an, mulai dari pengajian di rumah hingga mengikuti sekolah mengaji.diluar.

Saat kecil hingga remaja, pria tersebut jarang mengkhatamnkan atau menamatkan, selalu berkutat di juz terakhir berulang-ulang.

Pernah di suatu Ramadhan ketika pria tersebut kuliah, ia menargetkan diri untuk khatam. Alhamdulillah, pria itu bisa mengkhatamkannya.

Namun, entah kenapa, setelah khatam membaca semua, pria itu tidak merasa ada perubahan yang signifikan dalam dirinya. Padahal, kata ustadznya, Qur'an itu petunjuk, tapi ia tidak mendapatkan petunjuk apapun. Katanya Qur'an itu penyejuk, tapi dia tidak merasakan kesejukan apapun. Katanya Qur'an itu menenangkan, tapi ia tidak merasakan ketenangan apapun.

Bingung, namun pria itu tidak lantas meninggalkan Qur'an, namun ia bertanya dalam dirinya, “Nampaknya, ada yang salah dengan cara saya membaca Qur'an”.

Akhirnya, selepas ramadhan di tahun 2016, ia mulai mengubah cara mengajinya. Kini ia tak hanya membacanya secara biasa, namun ia juga kini membaca artinya. Selepas shalat, ia membaca beberapa halaman, lalu kembali ke awal untuk membaca artinya saja. Akhirnya, pria ini mulai mengerti, apa arti dari kalimat yang ia baca. Sedikit demi sedikit, isi qur'an mulai ia pahami.

Namun, baca arti saja baginya tidak cukup, kadang ia masih kesulitan untuk memahami Qur'an tersebut. Karena, banyak potongan ayat yang nampak tidak jelas dan tidak berkesinambungan. Ia tahu, masih ada ilmu yang ia pahami.

Lantas, pria ini, secara tidak sengaja membuka sebuah kajian di youtube, kajian tentang sirah nabawiyah atau sejarah nabi yang juga menceritakan bagaimana islam diturunkan oleh Allah kepada seluruh alam melalui Nabi Muhammad SAW.

Pria ini sesungguhnya tidak menyukai pelajaran sejarah, belajar sejarah baginya adalah hal yang membosankan, tak ada beda seperti dongeng-dongen sebelum tidur. Namun, kalimat pembuka sang ustadz di youtube itu sangat menjanjikan. “Jika kita memahami sirah nabawiyah, maka kita akan memahami Qur'an, baik makna serta alasan kenapa sebuah ayat diturunkan.” ya kalimat tersebut cukup menggoda sang pria untuk memelajari Sirah Nabawiyah.

Akhirnya, setelah 80 jam mendengarkan sirah nabawiyah dengan total 40 episode, muncul kecintaannya terhadap Qur'an. ia mulai memahami sedikit demi sedikit, alasan kenapa ayat ini turun, atau ayat ini menjelaskan apa, atau kenapa urutannya berbeda, sedikit demi sedikit ia belajar. Seperti bagaimana ia tercengan dengan kisah al-kafirun, atau kisah turunnya surah an-noor, dan masih banyak hal lainnya. Dan ia tidak pernah menyesal untuk belajar sejarah nabi, karena itu sangat membantu ia memahami Qur'an yang selama ini ia baca namun tak diresapi.

Kini, pria itu sangat senang tatkala membaca Qur'an, karena kini ia mulai memahami apa arti serta makna dari bacaan yang ia baca. Kini ia paham kenapa Qur'an disebut petunjuk, karena di dalamnya memang ada petunjuk bagi mereka yang ingin kehidupan yang bahagia dunia akhirat. Kini ia paham, kenapa Qur'an disebut penyejuk, karena di dalamnya terdapat penenang bagi mereka yang hidupnya gelisah. Kini ia paham kenapa Qur'an disebut obat, karena di dalamnya terdapat penyembuh bagi hatinya yang sakit karena urusan di dunia. Masih banyak hal luar biasa yang ia dapatkan setelah memahami Al-Qur'an.

Ia pun berharap, bahwa rekan-rekannya yang lain pun, bisa mulai mencintai Qur'an sebagaimana ia mulai mencintainya. Dan semenjak ia mencintai Al-Qur'an, ia mulai menerapkan dan mengamalkannya dalam kesehariannya.

Dan akhirnya, sang pria menarik sebuah kesimpulan

Al-Qur'an itu,
Jika dibaca dengan mata, kita bisa melihatnya.
Jika dibaca dengan mulut, kita bisa melafalkannya.
Jika dibaca dengan arti, kita bisa memahaminya.
Jika dibaca dengan hati, kita bisa memaknai dan mengamalkannya.

Kamu, membaca qur'an, dengan apa?

Choqi-isyraqi

Solve Problems Worth Solving

Kata Al-Quran, Allah ciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa yang paling baik amalnya.

Begini saya memahaminya: segala urusan dalam kehidupan adalah ujian dan kematian adalah tanda agar kita memahami bahwa waktu kita terbatas.

Mari kita tengok dunia ini dengan segala kehebohannya. Politik, ekonomi, pendidikan, bisnis, kesejahteraan, agama, banyak sekali urusan manusia di dunia. Di dalamnya banyak sekali ketidakidealan yang membuat hati kita gatal, gelisah, disonan.

Nyatanya, tidak mungkin kita mampu memedulikan sebagian besar masalah.

Tengok saja lingkungan pertemanan kita, jejaring sosial kita. Banyak hal yang kita rasa kurang tepat, yang ingin kita perbaiki, namun jika semuanya kita berikan perhatian, besar kemungkinan kita akan keletihan sebelum benar-benar menciptakan perubahan yang berarti.

Alih-alih mengalokasikan energi pada banyak masalah yang masuk dalam radar observasi, menurut saya, akan lebih berguna jika kita secara sadar memilih masalah mana yang layak dan ingin kita selesaikan.

Tulisan ini lahir dari banyak pemicu. Banyak sekali. Satu diantaranya adalah, saya banyak menyaksikan perdebatan—bahkan perselisihan, antara sesama muslim.

Yang satu barangkali begitu bersemangat ingin memurnikan tauhid, mengamalkan sunnah Nabi, menjaga kelurusan pemahaman ummat Islam; yang lainnya ingin membangun suatu ummat yang progresif, mampu berkompetisi dengan dunia secara kualitas, menginfiltrasi substansi Islam pada kehidupan kontemporer tanpa sibuk dengan simbolisme.

Sedikit banyak, kita pasti punya kecenderungan terhadap salah satu pihak. Ini membuat kita merasakan dorongan untuk “memperbaiki” pihak lainnya. Namun, setelah sekian lama saya belajar dari apa yang saya saksikan dan alami, saya sampai pada kesimpulan bahwa ini bukanlah masalah yang layak untuk kita bergelut ria di dalamnya. Ini adalah jenis masalah yang harus kita sikapi dengan tepat namun seperlunya, lalu beranjak ke masalah yang benar-benar layak kita geluti.

Apa sebab? Sebabnya, sejak zaman para khulafaur-rasyidiin, bahkan sejak zaman Rasulullah, perdebatan-perselisihan ini sudah terjadi (beruntung, di zaman Rasul, ada otoritas yang menentukan apa yang benar). Jadi, anggap saja ini sebuah keniscayaan duniawi, yang bisa menjadi jebakan bagi mereka yang kurang bijaksana, namun menjadi medium pahala bagi mereka yang telah Allah beri “hikmah”.

Tidak, substansi tulisan ini bukan tentang perdebatan-perselisihan antara sesama muslim. Tulisan ini menegaskan kepada diri saya sendiri untuk selalu memilih dengan kesadaran penuh masalah mana yang hendak saya tangani. Sebab sebagian masalah tidak layak untuk diinvestasikan waktu dan energi, dan sebagian yang lain bernilai tinggi bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

Teringat perbualan saya dengan seorang kakak suatu masa dahulu. 

“Kak, saya letihlah kak. Dengan dunia ni. Bila kita boleh rehat?”

“Sabar ya dik. Kita rehat dalam kubur nanti ya.”

Dan hari ini kata-kata seorang sahabat membuat saya tersenyum lagi. Katanya, “Saya nak rehat. Dari dunia ni. Saya rindukan alam semulajadi. Rindu bunyi unggas. Bunyi pantai.”

“Awak, itulah cita-cita setiap hati yang merindukanNya. Dunia ini bukan tempat kitapun sebenarnya. Ada kampung yang lagi indah. Bercita-citalah untuk balik ke kampung ‘sana’ itu.”

Sampai suatu masa, kita memang akan merasa letih dengan dunia ini. Bukan jasad kita yang letih sebenarnya, tetapi hati kitalah yang letih. Letih dengan karenah-karenah dunia yang sering memujuk rayu dan menipu.

Namun, sebelum berhasil untuk keluar daripada dunia itu, kita perlulah 'bekerja’ terlebih dahulu.

Seperti seorang yang bekerja makan gaji. Berpuluh-puluh tahun dia bekerja. Bukan dia tidak mahu bersara, bahkan itulah cita-citanya yang paling utama. Iaitu mahu berehat, kerana dia sebenarnya sudah malas, jemu dan penat sekali dengan bekerja. Tetapi kenapa walaupun begitu, dia tetap juga bekerja? Kerana dia mahu mengumpul harta untuk memastikan hidupnya senang selepas dia bersara nanti.

Begitulah tamsilannya dengan kehidupan kita di dunia ini. Kita perlu bekerja keras untuk mengumpul harta demi masa depan kita selepas kita 'bersara’ dari kehidupan ini nanti. Jadi walau letih dan penat bagaimana sekalipun kita rasa, kita tetap harus 'bekerja’. 

Bekerja untuk siapa? Bekerja untuk Allah. Bekerja demi memastikan cita-cita kita yang paling utama itu akan tercapai jua suatu hari nanti. Cita-cita untuk berehat. Bersara. Dan bertemu dengan Majikan kita itu. :’)

Catatan CikBeah pada CiKNor ( saya) 
Allaah.. aku sayang pada sahabatku ini kerana Allaah Taala..
:’)

Terbalik

Ketika yang kita upayakan dengan maksimal tidak kita dapatkan, why so serious? Ketika kita sedang ikhtiar lalu ada panggilan Allah untuk sholat dan kita memilih berkutat dengan pekerjaan kita, why so serious? Ketika apa yang kita cari dan kumpulkan kita tinggalkan saat maut tiba, why so serious? Ketika kita memprioritaskan kehidupan dunia yang sementara jauh di atas kehidupan Akhirat yang kekal abadi, why so serious?

Sesungguhnya rezekimu adalah apa yang kamu makan, apa yang usang karena kamu pakai, dan apa yang kamu kirimkan untuk tabungan Akhirat (Hadits). Saat harta benda berpindah tangan kepada ahli waris, yang tersisa hanya lembar-lembar kain kafan, iman, dan rekam amal-amal sholeh.

Banyak yang lupa bahwa kita di dunia ini ada awal dan ada akhir. Ada hidup dan ada mati. Yang kaya di dunia, akan mati. Yang miskin di dunia, akan mati. Yang punya kedudukan akan mati. Rakyat biasapun akan mati. Yang bahagia akan mati. Yang menderitapun akan mati. Tapi untuk kehidupan Akhirat yang kekal abadi, apakah kita mempersiapkan kebahagiaan atau penderitaan?

Kehidupan di Akhirat sulit kita bayangkan lamanya (juga kelezatan nikmatnya). Satu hari di Akhirat sama dengan 1000 tahun menurut perhitungan dunia (Surat As-Sajdah). Jadi, bertahanlah dalam cobaan, bersungguh-sungguhlah dalam beramal sholeh, betulkan iman, dan perbaikilah akhlak.

Satu ungkapan (mungkin sebuah hadits lemah) yang sering kita dengar, “Berusahalah kamu untuk dunia seakan kamu hidup selamanya. Berusahalah untuk Akhirat seakan kamu mati esok pagi.” Maksud kalimat pertama bukan menyuruh kita untuk mengumpulkan harta yang banyak untuk persiapan hidup selamanya. Melainkan, mengingatkan kita bahwa dalam menjalani hidup itu santai saja… kan masih lama. Kan bakal hidup selamanya. Tidak perlu bersusah hati bila tidak dapatkan ‘dunia’. Sangat capek kan kalau harus bersusah hati selamanya~

Tapi, dewasa ini, sebagian kita melihat dengan cara yang terbalik. Yang harusnya A dikerjakannya B. Yang harusnya B dikerjakannya pula A. Yaitu, dunia dikejar sungguh-sungguh seakan tidak ada hari esok (seakan mati esok pagi) sedangkan untuk beramal sholeh ditunda-tunda seakan tidak bakal mati-mati (hidup selamanya).

Padahal, maut itu datangnya tiba-tiba. Orang tua mati, remaja mati, anak-anak mati, bahkan bayi yang belum sempat menangis di atas permukaan Bumi ini ada yang mati.

Imam Al-Ghazali telah ingatkan kita bahwa yang paling jauh adalah masa lalu dan yang paling dekat adalah maut.

Maka, setelah beriktiar maka tawakkal-lah. Rezeki kita sudah diatur dalam kitab yang telah ditulis oleh pena (Al-Qalam) 50000 tahun sebelum ruh kita ditiupkan ke rahim ibu kita. Pena sudah diangkat dan tintapun sudah kering (Hadits).

Tak perlu membandingkan saya dengan dengan orang lain. Rezeki sudah diatur dan kita tidak akan dimatikan sebelum butir makanan terakhir yang sudah 'dituliskan’ buat kita masuk ke dalam rongga mulut.

Kebakhilan kita tidak akan menambah total rezeki yang telah dituliskan buat kita. Kedermawanan kita (sedekah, membantu orang lain, dsb.) tidak akan mengurangi dari rezeki yang telah Allah tuliskan buat kita.

Lebih lanjut lagi, Allah berfirman:

… Jika kamu bersyukur, akan Aku tambah nikmatku untukmu, dan jika kamu ingkar (tidak bersyukur), sungguh siksa-Ku sangat pedih. (Ibrahim: 7)

Kehidupan di dunia ini memang sudah kebalik-balik. Penjahat terlihat baik, orang baik terlihat jahat. Yang penting dianggap remeh. Yang remeh terlihat sangat penting. Cukup dunia ini yang terbalik-balik, kamu jangan :)

Allahu a'lam.

Cinta Dunia

Setelah ashar didalam masjid, diskusi tentang masa depan :

Teman : Jadi suatu saat akan ambil jalan hidup yang berbeda?

Pemuda : Iya, insya Allah. Kenapa harus takut?

Teman : Ane melihat ente sebagai orang yang beruntung dan aneh karena hidup seperti ini yang seperti orang kebanyakan

Pemuda : banyak belum tentu benar, lagi pula kenapa harus takut berbeda?

Teman : Iya, tapi dari sisi pengorbanan dan ujiannya sudah terpikir?

Pemuda : *sambil tersenyum* untuk saat ini saya masih sangat yakin, sudah terpikir. Saya sudah melewati dimana saya di uji dengan suatu ujian dan saya berpikr bahwa saya akan mati saat itu, saya pernah tau rasanya hidup dari bawah, tidak punya uang, dimusuhi, sendirian dan tidak tau lagi mencari pertolongan kecuali dalam sujud sujud saya, dan pernah tersesat karena berharap mendapat kebahagiaan dari mengejar apa yang diyakini oleh orang orang sebagai kebahagiaan dan saya tertipu. Dunia ini begitu menipu. Setelah saya dapatkan ternyata pun tidak saya dapati itu.

Teman : *matanya berbinar* Alhamdulillah, cuma menurut ane, ente tetap orang yang beruntung. Ane juga tidak takut, kalo ente bercerita terkait pengalaman hidup, ane juga ingin menceritakan ujian pengalaman hidup ane dan keluarga.

dan mulailah temannya menceritakan lika liku perjuangan hidupnya dan keluarganya yang membuat si pemuda merasa begitu beruntung karena tidak ada apa apanya dibanding ujian hidup yang dialami temannya dan keluarganya Bahkan temannya hampir hampir menangis ketika bercerita ketika mengingat beratnya ujian yang dia dan keluarganya alami. Dan disitulah pemudai itu tau apa yang menempa temannya hingga sekarang duduk sesosok pemudah sholeh dan cerdas dihadapannya menceritakan pengalaman ujian hidupnya.

Kemudian diskusi berlanjut mengenai pembahasan dunia jaman sekarang. Dimana mereka dibesarkan dalam arus informasi dan teknologi yang berubah cepat. Dalam hitungan 0,58 detik 371 juta informasi berhasil dihimpun oleh sang pemuda ketika menulis tulisan ini dengan kata pencarian “dunia”. Saat dia menulis ini, setidaknya 7,6 Miliyar orang tinggal di bumi yang sama dan dalam urusannya masing masing. Disaat si pemuda menulis tulisan ini, ada orang diluar sana yang beberapa langkah lagi (insya Allah) mewujudkan mimpinya membawa manusia dari New York ke Washington DC dalam waktu 29 menit, padahal jika ditempuh dengan pesawat memakan waktu 55 menit. Berarti Jakarta - Surabaya bisa ditempuh lebih kurang 30 menit dengan mode transportasi serupa.

Namun pikirannya melambung jauh, dengan super canggihnya dunia sekarang majunya peradaban tidak semerta menjadikan manusianya punya suatu nilai dalam dirinya. Banyak sekali manusia yang nampak hebat,dalam hidupnya banyak berbuat dan terkenal namun di usia senjanya dan sakaratul mautnya kemudian mempertanyakan setelah kehidupan mereka didunia usai, mereka baru mengingat kematian, mengingat kehidupan setelah dunia ini dan mengingat Tuhan mereka. Betapa celakanya karena mereka tertipu dan merugi.

Seiring kemajuan jaman pun ternyata membuat tingkat depresi yang dialami tiap orang meningkat, lucunya mereka tertekan karena masalah masalah standar sosial dan nilai nilai jaman sekarang yang ditakutkan karena terlalu mencintai dunia. Orang tua depresi lantaran anakanya tidak bisa matematika ketika mereka tidak khawatir bahwa anaknya tidak pernah diajari tentang agama, siswa depresi karena mereka tidak bisa masuk perguruan tinggi yang mereka inginkan dan mereka tidak khawatir terkait akhlak mereka yang tidak mencerminkan orang terdidik, mahasiswa yang depresi karena kuliahnya tidak kunjung selesai dan tidak khawatir terkait dalam hidupunya tak pernah sekalipun tuntas membaca Qur’an beserta artinya, wanita yang depresi karena tak kunjung menikah dan tidak khawatir bahwa bisa jadi maut yang lebih datang lebih dahulu dan dalam kubur mereka tidak ditanya kenapa belum menikah, orang orang dewasa yang ketakutan mereka tidak mendapat pekerjaan atau kehilangan pekerjan dan tidak khawatir mereka kehilangan iman atau aqidah, orang tua yang depresi mendidik anaknya agar menjadi orang kaya dan bekerja di perusahaan besar dan tidak sedikitpun khawatir bahwa anak mereka tidak dididik untuk mengutamakan Tuhannya dibanding semuanya, bahwa rezeki tiap manusia sudah ada takarannya dan tidak akan tertukar. Kesemuanya merupakan bagian permasalahan besar umat jaman now yang bersumber dari satu penyakit, Hubbud Dunya wa Kahirotul Maut (Cinta Dunia dan Takut Mati).

Kita terlalu banyak mengkhawatirkan banyak hal yang tidak esensial untuk kehidupan kita sesungguhnya di akhirat. Kita berjuang keras, mencari jalan, mengumpulkan harta, bermimpi hidup dalam standar kemewahan yang ditampilkan di media sosial dan televisi sampai kita lupa bahwa hidup ini hanya sementara. Kita lupa bahwa untuk perkara dunia ambil lah secukupnya, namun untuk perkara akhirat ambilah sebanyak banyaknya. Kita lupa bahwa di dunia ini tujuan kita bukan untuk mengumpulkan harta dan popularitas, tapi tujuan hidup didunia adalah untuk beribadah guna meraih ridhonya dengan cara mengumpulkan bekal sebanyak banyaknya untuk kehidupan akhirat. Maka tidak heran dalam sebuah hadits Rasulullah digambarkan kondisi umat saat ini pada 1400 tahun silam :

“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” - (HR Abu Dawud 3745)

Dalam lamunan yang jauh, Al Hasan pernah berkata “Suatu ketika Umar melewati tempat pembuangan sampah. Ia berdiam sebentar di tempat itu dengan perasaan sedih terhadap sahabat sahabatnya. Lantas ia bergumam, “Inilah dunia yang kalian kejar” (Ahmad dalam Az-Zuhd, 147). Sebegitu hina, rendah, dan mudahnya dunia dimata orang orang soleh.

Dari sejarah pun kita belajar, umat ini diangkat derajatnya dan menguasai dunia bukan karena kuantitas jumlahnya,tapi karena kualitas keimanan dan ketaqwaanya sehingga datang pertolongan pertolongan dari langit. Betapa seringnya pasukan pasukan muslim yang sedikit mengalahkan pasukan yang besar. Dan betapa dahulu islam muncul sebagai suatu hal yang dianggap remeh kala itu oleh dua raksasa super power saat itu, Persia dan Romawi. Namun ternyata atas ijin Allah ummat muslim yang saat itu jumlahnya tidak seberapapun mampu menumbangkan keduanya dan menjadi super power baru. 

Sehingga ketika kaum muslimin dahulu mulai merebut kekuasaan Romawi, dan pasukan kaum muslimin masuk ke Yordania, mata mata Romawi yang mengintai pasukan muslim melaporkan pada kaumnya “… pada malam hari mereka laksana rahib-rahib ahli ibadah dan di siang hari mereka adalah penunggang kuda yang tangguh. Mereka sibuk memperbaiki anak panah dan meruncingkan tombak. Jika engkau mengajak teman dudukmu untuk berbicara maka ia tidak akan paham apa yang engkau katakan disebabkan riuh-rendahnya suara mereka membaca al-Qur’an dan berdzikir.” Lantas atasannya kemudian menjawab “Telah datang kepada kalian suatu kaum yang tak mungkin dapat kalian kalahkan“. Ya karena mereka bagai singa di siang hari namun seperti rahib di malam hari, dan mereka kaum yang lebih mencintai mati daripada hidup.

Bagaimana dengan dunia? apakah berarti orang orang yang dengan keimanan dan ketaqwaan yang tinggi harus meninggalkan dunia? tidak sama sekali, karena kita tahu bahwa kebanyakan sahabat utama Rasulullah SAW adalah orang orang yang dunia ada digenggamannya, mereka sukses menjadi konglomerat, pebisinis dan tokoh masyarakat namun tetap hidup zuhud dalam kesederhanaan. Mereka punya orientasi akhirat sehingga dunia yang mengejar mereka bukan mereka yang mengejar dunia. Sehingga mudah mudahan Allah jadikan kita orang orang yang tidak cinta dunia dan tidak takut mati, dan jadikan kita orang yang bertaqwa. Cukuplah taqwa untuk menggapai mimpi, karena “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.(QS. Ath Tholaq: 2-3).

Kamu, Penyejuk Mata dan Cahaya Keluarga

Tulisan ini adalah review Kajian Islam HijUp dengan judul “Wanita Penyejuk Mata Cahaya Keluarga” yang dibawakan oleh Ustadzah Mimin Aminah, ditambah oleh sharing dari teh Laudia Chyntia Bella, yang diselenggarakan di Mesjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan pada hari Ahad, 19 Maret 2017.

Dua hari yang lalu, tiba-tiba saya mendapat e-mail dari HijUp yang menginformasikan agar saya menghadiri kajian Islam HijUp. Dalam hati, saya pikir ini mungkin e-mail blast yang dikirim ke banyak orang, maka saya pun tidak mem-follow up e-mail tersebut, terlebih saya juga tidak merasa mendaftar untuk hadir. Esok harinya, saat sedang di perjalanan pulang, Nisa bilang, “Eh Nov, aku tuh kemarin daftarin kamu untuk hadir di kajian HijUp. Besok pulang siaran kita kesana, yaa!” Oalaaah, ternyata saya didaftarkan oleh Nisa. Tepat di hari Ahad, selepas sharing Bincang Pustaka di MQFM, kami pun bertolak menuju Masjid Al-Irsyad, masjid indah dimana saya pernah bermimpi untuk bisa melangsungkan akad nikah disana.

Sesampainya disana, ruang utama masjid sudah penuh oleh para wanita-wanita yang saya yakin mereka adalah wanita pilihan, sebab mereka haus akan ilmu dan peduli pada kehidupan akhirat. Saya terdiam beberapa saat, merenungi betapa Allah Maha Baik mempertemukan saya dengan kesempatan ini, meski sebelumnya saya tidak begitu tertarik. Lalu, dalam diam saya berdialog dengan diri sendiri, Mungkin Allah memang tahu kalau hati saya sedang kering dan butuh disiram. Pembahasan hari ini pasti tentang sesuatu yang sedang saya butuhkan.” Mata saya pun tertumbuk pada sebuah spanduk di depan yang bertuliskan tema kajian hari ini, Wanita Penyejuk Mata Cahaya Keluarga. Tuh kan!

Saya tuliskan reviewnya untukmu, ya!

Kelak, di syurga akan ada 2 jenis bidadari, yaitu bidadari syurga yang memang berasal dari syurga dan bidadari syurga yang berasal dari dunia, yang karena ketaatan dan keshalihannya di dunia akhirnya mengantarkannya menjadi bidadari syurga. Hmm, siapa orangnya yang tidak ingin menjadi bidadari di syurga? Rasanya semua wanita baik tentu ingin menjadi bidadari di syurga, bukan? Tapi ternyata, tidak ada yang begitu saja, semua perlu dibayar dengan ketaatan dan keshalihan selama di dunia.

Dengan gayanya yang tegas dan kalimatnya yang ringkas tapi tepat sasaran, ustadzah menyampaikan, Jadi wanita itu yang penting taat. Senang dan sakit di dunia ini hanya sebentar, jangan terlena, jangan terpuruk. Kesenangan sekarang belum ada apa-apanya, nanti ada syurga. Kesedihan sekarang belum ada apa-apanya, ada yang lebih sedih kalau kita tidak taat, nanti ada neraka. Kesenangan dan kesedihan harus jadi saham yang bisa mengantarkan kita berjalan menuju syurga. Geraham saya tiba-tiba saja bergemelutuk, teringat beberapa kejadian yang membuat hati saya sakit, lalu saya seperti diingatkan lagi bahwa sejatinya setiap rasa sakit di dunia itu sebentar saja. Sakit itu, bagaimana pun juga ada karena Allah sayang sama saya. Ya Allah, ternyata luka kemarin adalah bentuk cinta?

Ustadzah melanjutkan pembahasan tentang wanita shalihah. Ternyata, hanya keshalihan yang membuat kita diridhoi Allah, disayang Rasulullah, dan ditempatkan di syurga. Tidak yang lain. Lalu, bagaimanakah bentuk keshalihan itu? Bagaimana agar bisa menjadi wanita shalihah?

Pertama, taat dalam menjalani apa yang diperintahkan Allah, sebab perintah-Nya adalah kebutuhan kita. Hati saya terasa tertusuk ketika ustadzah bilang, “Jangan hidup di dunia tanpa tau apa perintah Allah. Rugi!” Kedua, taat untuk menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, sebab semua yang dilarang berarti berbahaya untuk kita. Betapa lemasnya saya ketika mendengar kalimat ustadzah, “Hari ini, banyak sekali wanita yang hidupnya berantakan karena melanggar perintah Allah. Tidak bahagia, tidak tenang, karena tidak nurut sama Allah!” Ketiga, taat dalam menjalani fungsi dan peran sebagai wanita. Ini menarik, sebab setiap wanita sejatinya memiliki 3 peranan utama dalam hidup, yaitu sebagai anak, isteri, dan ibu. Menjalani ketiganya dengan profesional selalu berawal dari sikap taat sebagai seorang individu. Keempat, sabar dan ridho dengan segala ketetapan Allah dan menerima skenario Allah. Ah, wanita, kita tentu sepakat bahwa ini tidak mudah, bukan? Tapi ternyata kemarin ustadzah mengingatkan bahwa tidak ada takdir Allah yang salah dan dzalim kepada kita. Ah, air mata merembes hingga rasanya ingin menunduk saja.

Di syurga, ada 4 orang wanita yang pertama-tama ada disana. Ada Asiyah yang istiqomah imannya meski diuji dengan suami sekelas Firaun. Ada Khadijah yang shalih dan mampu mewujudkan syukur dengan sebaik-baik syukur sebab Allah menjadikan Rasulullah sebagai suaminya. Ada Fatimah yang terkenal dengan ketegaran, kesabaran dan tentu keshalihannya. Ada juga Maryam yang mampu menjaga kesucian dan tetap ridho dengan semua ketetapan Allah meski itu tidak masuk akal baginya. Ya Allah, semoga Engkau memampukan kami untuk bisa berada di syurga juga bersama mereka.

Jadi, tak ada yang lain yang bisa membuat kita menjadi penyejuk mata dan cahaya keluarga selain mengupayakan taat dan keshalihan kita sebagai seorang wanita. Semoga Allah senantiasa memudahkan dan menguatkan kita untuk tetap berjuang hingga Dia mengumpulkan kita semua kelak di syurga-Nya. Aamiiin. Kalau kamu masuk syurga, aku mau ikut yaaaa!

“Besok kita jadi bukber ya, di tempat yg kemarin udah aku reserved”

Aku menutup aplikasi line setelah memastikan teman segrup mengiyakan. Beralih ke aplikasi kalender: besok bukber jurusan, lusa bukber unit, weekend bukber sma. Melewati tengah ramadhan, ajakan bukber masih saja padat. Sebelum pada pulang kampung katanya.

Namun malang, ternyata aku yang lebih dulu ‘pulang’.

Bukber hari itu ditiadakan.
Teman-temanku berombong datang ke rumahku. Teman dekatku menangis, yang lain matanya sembab.

Lalu apa?

Semua grup line yang aku ikuti berisikan ribuan ucapan belangsukawa terindah.
Post berisikan wajahku dgn caption kenangan terbaik ramai memenuhi instagram.
Oh belum lagi ratusan notifikasi ucapan kangen dan tidak percaya aku telah tiada yang membludak di kolom komentar instagramku.
Dan papan bunga dengan namaku yang berdiri di depan gerbang kampus tercinta.

Lihat, begitu banyak orang yang mencintaiku. Tidak sia-sia aku sering menghabiskan waktu bonding dengan mereka, bukan?

I wish I could say that.

Namun kehidupan akhirat nyatanya tidak seindah itu.

Ucapan belasungkawa, post instagram, serta komentar kangen mereka di media tidak cukup kuat untuk menembus ke bawah tanah ini. Aku bahkan tidak tahu menahu itu ada.

Ratusan teman dan rekan di kampus katanya.
Aku di gelapnya kubur menunggu cahaya doa dari mereka-mereka yang lama kuhabiskan waktu dengannya.
Namun berapalah titik cahaya yang datang langsung dari doa di atas sajadah, bukan di atas keyboard?
Mungkin hitungan jari. Atau kurang.

Kemana kalian?
Bukankah kita sudah terlampau sering melakukan bonding bersama?
Bercanda dan terbahak bareng, nonton bareng, makan bareng, jalan bareng, kegiatan ini kegiatan itu, dan kau juga sudah menyebutku sebagai keluarga, ingat?

Atau memang selalu dan hanya akan sebatas ini sejak dulu.
Yang hidup di dunia akan tetap berkutat dengan dunianya.
Sedikit demi sedikit kenangan tentangku akan lenyap dihanyutkan kesibukan dunia.
Sebulan, setahun, lalu habis.

Dan tinggallah aku yang kan pergi mempertanggungjawabkan diri di akhirat.
Sendiri.

Kalaulah dahulu diperlihatkan seintip kehidupan akhirat yang nyata,

Pastilah aku akan memilih bonding dengan Sang Pencipta dibandingkan dengan makhluk-Nya.
Akan menggantikan belasan bukber yang sering tercampur bumbu ghibah itu dengan dzikir petang atau berkumpul dengan keluarga.
Akan menggantikan tidur sehabis subuh itu dengan dzikir pagi.
Akan menggantikan waktu marathon film itu dengan marathon hafalan Al-Quran.
Dan tentu tidak akan menyia-nyiakan bulan Ramadhan ini dengan amalan sekedarnya.

Bahkan tanpa diperlihatkan pun sebenarnya aku tahu, namun sering berpura lupa dan acuh mengabaikannya.

Hingga waktuku habis dan datanglah hari penyesalan ini.

Apalah artinya banyak tertawa bersama makhluk, jika menjadikan kita lupa untuk menangis kepada-Nya

“Andai kalian tahu apa yang aku tahu, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR Bukhari dan Muslim)

#selfreminder
#ceritapendek

EPILOG:
Kudengar bukber di hari 'kepulanganku’ itu diundur menjadi minggu depan. Tak ada yang berbeda, hanya berkurang satu kursi dari meja. Ternyata tanpaku pun mereka tetap bisa ramai dan banyak tertawa.

Sumber : Mutia Ayu C. via Mirka Tiara

NICE HOMEWORK #1 “ADAB MENUNTUT ILMU”

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap orang yang bisa dipelajari dimana saja, tidak mengenal batas waktu dan tempat dan bisa dari siapa saja. Luasnya ilmu Allah itu, seluas lautan. Hingga apa yang dipelajari pun bagaikan setetes air dijari tangan yang dicelupkan di samudera luas. Maka, agenda menuntut ilmu itu harus menjadi prioritas setiap waktu. Agar  bisa menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi pribadi yang berdaya guna, tangguh dan tidak hanya menjadi buih-buih di lautan.

Ada banyak ilmu yang bisa dipilih untuk menjadi fokus diri, ada ilmu dunia dan ilmu akhirat. Namun yang saya pahami, walaupun ilmu dunia yang menjadi fokus diri, tetap bisa bermanfaat untuk kehidupan akhirat juga. Asalkan, ketika menutut ilmu itu diniatkan hanya untuk mencari ridha Allah, lalu mengamalkannya karena Allah lagi. Kemudian senantiasa berusaha memberikan yang terbaik dan berusaha menebarkan manfaat seluas-luasnya. Semoga apapun ilmu yang dipelajari dan diniatkan untuk mencari ridha Allah semata itu, bisa mendatangkan cintanya Allah pada diri ini hingga ke akhirat nanti.

Dalam hidup ini, saya ingin mempelajari lebih dalam tentang “ilmu menulis” di universitas kehidupan ini. Sebab, menulis itu bisa mengantarkan pada ilmu-ilmu yang lainnya, baik dunia dan akhirat. Lewat kegiatan menulis, saya berharap cintanya Allah dapat bertambah dijalan tersebut. Untuk menjadi seorang penulis, ada banyak sekali dialog yang akan tercipta, dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan orang lain, dengan alam, dan bahkan benda mati. Lalu dari dialog itu, diolah lewat hati dan logika, agar mampu menghasilkan sebuah tulisan yang bisa menjadi nadi-nadi di pembuluh darah peradaban. Sensitivitas hati ini harus dilatih setiap hari. Mata hati ini harus digerakkan terus untuk mengumpulkan hikmah-hikmah yang Allah sampaikan pada diri. Semoga tulisan-tulisan yang ada nantinya, mampu menggerakkan semesta ke arah yang lebih baik. Menjadi pemicu detak jantung peradaban para generasi yang mencintai Rabb-Nya.

Adapun stategi yang saya lakukan dalam menuntut ilmu, yaitu:

1.  “Meluruskan niat setiap waktu”, menuntut ilmu hanya untuk mencari ridha Allah.

2. “All out”, mengusahakan yang terbaik dan tidak setengah-setengah dalam menuntut ilmu.

3. “Open minded”, rela belajar apa saja asalkan bisa bermanfaat untuk umat dan menggarahkan pada perubahan yang baik.

4. “Proaktif dan kritis”, rela mencari dan menemui sumber-sumber ilmu dengan semangat yang tak terbatas dan memfilter ilmu tersebut sebelum ditanamkan didalam hati.

5. “Selalu berdoa”, memohon pada Allah semoga setiap langkah digerakan menuju pada hal-hal yang baik, dan dilindungi dari ilmu yang salah, serta dilindungi dari penyakit hati yang mungkin datang ketika Allah menitipi ilmu-Nya pada diri.

Selain itu, untuk menambah keberkahan ilmu yang akan dipelajari, maka saya memilih untuk komitmen dalam menjalan adab-adab dalam menuntut ilmu itu yang diajarkan dalam matrikulasi institut ibu profesional ini. Baik adab menuntut ilmu pada diri sendiri: iklash dan mau membersihkan hati dari hal-hal yang buruk, selalu bergegas, menjadi gelas kosong yang tak bocor, menuntaskan ilmu yang dipelajari, dan bersungguh-sungguh. Adab terhadap guru: menghargai guru, mendengarkan ilmu yang disampaikan dengan baik, meminta keridhaan guru apabila ingin menyebarluaskan ilmu yang beliau sampaikan. Adab terhadap sumber ilmu: tidak sembarangan meletakkan sumber ilmu, misalnya Al-qur’an dan buku-buku, tidak plagiat, asal copy-paste, dan tidak mudah percaya dengan menerapkan sikap “sceptical thinking” dalam menerima informasi khususnya didunia online.

Semoga diri ini masih diberi waktu untuk terus menuntut ilmu, diberi kesempatan untuk menjadi pembelajar yang baik dan tak kenal lelah, dan semoga diri ini bisa menjadi pembelajar yang dipenuhi cinta dan ridha-Nya.

Bandung, 20 Mei 2017

Photo : Pinterest

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. - (QS. Ali ‘Imron : 185)

Antara yang semu dengan yang nyata harus kita sadari bersama. Antara yang memperdaya dengan kehidupan sesungguhnya harus kita pahami dengan seksama. Maka janganlah terlena dengan yang semu adanya, yaitu dunia. Karena akhirat, kehidupan yang sebenarnya. Tetaplah fokus untuk mengejar yang nyata. Semoga kita semua diingatkan terus akan akhirat dan dihindarkan dari kelengahan akan dunia.

The Meaning of Life (?)

Tentang the meaning of life atau makna hidup, saya pertama kali mendengar istilah itu saat masih kuliah, tepatnya saat melakukan penelitian dan berdiskusi dengan kakak kelas mengenai salah satu jenis terapi Psikologi yang berbasis pada pencarian makna hidup, namanya Logoterapi. Adalah sesuatu yang terkesan keren rasanya saat itu ketika kami membicarakan ini, pasalnya tema ini memang tidak umum untuk didiskusikan dalam bahasan sehari-hari, apalagi jika dijadikan topik selingan saat makan siang. Konyolnya, saat itu saya merasa tengah menapaki makna hidup yang dicari-cari, padahal sebaliknya.

The Meaning of Life Theory milik Viktor Frankl ini beranggapan bahwa makna hidup dan hasrat untuk memiliki hidup yang bermakna adalah motivasi utama manusia agar bisa meraih kehidupan yang didambakannya. Menurut teori ini, hidup tetap memiliki makna atau arti dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Selain itu, teori ini berpendapat bahwa setiap manusia memiliki kebebasan yang hampir tidak terbatas untuk menemukan sendiri makna hidupnya. Terakhir, teori ini juga mengatakan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap penderitaan dan peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Kesalahan saya, saya menelan teori ini mentah-mentah hingga saya berkesimpulan bahwa makna hidup hanyalah tentang hidup itu sendiri, tanpa mencakup pemaknaan tentang kehidupan sebelum hidup dan juga kehidupan setelah hidup. Konsep umum dari teori ini memang bisa saya terima, tapi lama-lama saya jadi bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya menjadi sebab saya ada di dunia, apakah yang terjadi di balik sempurnanya alam semesta, apa tujuan hidup saya, kemanakah saya harus berjalan, dimanakah titik akhir dari semua ini, dan apa yang terjadi di kehidupan setelah hidup. Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan saya itu tidak mampu saya jawab sendiri, pun tidak terjawab juga oleh teori The Meaning of Life ini.

Suatu hari, saat sedang berdiskusi dengan dosen saya selepas bimbingan skripsi, kami tiba-tiba saja membahas mengenai makna hidup. Lucunya, dosen saya yang notabene seorang Psikolog itu tidak mengkaitkan pembahasan kami dengan teori makna hidup, tapi beliau merekomendasikan saya untuk menonton sebuah video Talk Islam yang berjudul The Meaning of Life, judul yang diksinya sama dengan teori yang pernah saya pelajari sebelumnya. Ternyata, video pendek yang berdurasi sekitar 6 menit itu kontan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sempat terbersit di kepala saya sebelumnya.

Kemudian, saya menyadari bahwa alam semesta dan seluruh isinya, termasuk kita sebagai manusia, adalah bentuk penciptaan yang sempurna. Maka, mustahil jika seluruhnya itu muncul tiba-tiba ke dunia tanpa ada yang menciptakan semua dari permulaannya, membuat standar tujuan mengapa semuanya diciptakan dan kemanakah kesudahan semuanya. Kawan, apakah kamu mengira semua ini terjadi begitu saja? Apakah kamu mengira semua ini ada tanpa ada makna dan tujuannya? Apakah kamu mengira jika semua ini selesai, maka tidak akan ada yang meminta pertanggungjawaban?

Tak paham? Begini, perhatikan contoh sederhana ini. Mustahil tulisan ini kamu baca jika tidak pernah ada yang membuat dan menuliskannya, bukan? Mustahil tulisan ini kamu baca jika tidak pernah ada yang menguploadnya ke media sosial, bukan? Hidupmu pun begitu, kawan. Ada yang menciptakanmu hingga kamu terlahir ke dunia. Adalah Allah, Dialah yang menciptakanmu dan membuatmu berada di dunia, Dialah yang menciptakanmu dengan tujuan untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya, Dialah yang mengatur seluruh urusan hidupmu di dunia, maka kepada-Nyalah semua ini berakhir dan berkesudahan.

Makna hidup memang tidak pernah sederhana, tapi jika sedikit disimpulkan, hidup adalah tentang sebuah perjalanan: dari Allah, untuk Allah, dan menuju Allah. See? Hidup bukanlah hanya untuk mencari makna-makna ketika hidup, tapi juga untuk mempersiapkan kehidupan setelah hidup. Sebab ternyata, karena Allahlah kita semua tercipta dan ada di dunia, Allahlah yang ada di balik sempurnanya alam semesta, untuk beribadah kepada-Nyalah tujuan hidup kita di dunia, dan kelak ada akhirat sebagai kehidupan setelah hidup.

“Jangan sampai hari pembalasan menjadi hari pertamamu dalam menyadari apa artinya hidup ini.” – (The Meaning of Life, Talk Islam)

Berusahalah untuk memberi, engkau akan menerima...
👤 Ustadz Musyaffa Ad Dariny, M.A.

Ketika engkau hidup untuk membahagiakan orang lain, Allah akan memberimu orang-orang yang akan membahagiakanmu…

Maka berusahalah untuk memberi, bukan menerima… semakin engkau memberi, engkau akan semakin banyak menerima tanpa engkau minta…

Selama engkau mengharapkan kebaikan untuk orang lain, kebaikan akan datang kepadamu dari jalan yang tidak kau bayangkan… Tapi baikkanlah niatmu, Allah akan membaikkan keadaanmu…

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, dan membaikkan kehidupan akhirat dan dunia kita…

Aamiin…

Gunakan Dunia Untuk Tujuan Akhiratmu

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi ” (QS. Al Qashshash: 77).

Islam adalah agama yang special; Yang tidak hanya mengatur kepada urusan Akhirat tetapi juga mengatur segala urusan Dunia yang nantinya akan berpengaruh kepada urusan Akhirat~

Hendaklah seseorang menggunakan nikmat dunia yang Allah berikan untuk menggapai kehidupan akhirat yaitu surga. Karena seorang mukmin hendaklah memanfaatkan dunianya untuk hal yang bermanfaat bagi akhiratnya.

IBUNDA HARITSAH BIN SURAQAH

Selamat hari senin moms and dads…
Kita kembali lagi di #SeninBersamaBuku ya…
Hari ini kita akan mengisahkan kisah terakhir dari buku Ibunda para Ulama. Edisi berikutnya Insyaa Allah kita jumpa dengan buku baru ya…

Kisah kali ini adalah kisah tentang seorang ibu yang begitu mencintai anaknya, namun kecintaan pada anaknya tidak serta merta mengalahkan cintanya kepada Allah swt. Ridlo Allah swt tetaplah menjadi harapan tertingginya, dan karena Allah-lah ia mencintai anaknya. Saat ia kehilangan anak kesayangannya, hanya kabar tentang Surga yang mampu membuatnya tenang dan bahagia.

Dialah Haritsah bin Suraqah. Seorang pemuda Anshar yang begitu dicintai oleh ibunya yang telah renta. Saking sayangnya sang ibu, rasanya ia rela mengorbankan nyawanya asal anaknya tidak terluka.
Maka kisah menakjubkan ini, dimulai saat Nabi Muhammad saw menyeru para sahabatnya untuk pergi ke Badar. Seruan ini terdengar pula oleh Haritsah dan tentu saja ia ingin menjadi bagian dari barisan prajurit kaum Muslimin.

Maka ia hendak meminta izin pada sang ibu. Sayangnya, sebelum terucap permintaan izin itu, sang ibu terlebih dahulu memiliki keinginan. Ibu Haritsah ingin anaknya segera menikah agar ia bisa segera menimang cucu. Namun kali ini Haritsah terpaksa menolak keinginan sang ibu. Ia lalu mengutarakan keinginannya ingin ikut rombongan Rasulullah ke Badar.
Tentu saja ibunya berat hati melepaskan anak tercintanya. Namun akhirnya, Haritsah berhasil membujuk ibunya untuk memberikan izin.
“Pergilah hai anakku. Nampaknya aku tak akan merasakan nikmatnya makan, minum, dan tidur hingga engkau kembali kepadaku,” ucap ibunya. Lalu wanita renta itu membantu anaknya menyiapkan perbekalan perang.

Kaum Muslimin bermarkas di sekitar sumur Badar. Mereka mendirikan kemah-kemah. Pasukan kafir mulai tiba kompi demi kompi untuk mengambil posisi mereka. Sesaat sebelum genderang perang ditabuh, kedua pasukan telah siap berhadap-hadapan. Saat itulah tiba-tiba Haritsah pergi berlari menuju sumur Badar. Ia sangat kehausan dan berniat mengambil air dari sumur Badar. Tatkala tangan Haritsah sedang menciduk air dari sumur dan bersiap meminumnya, ada seorang sahabat yang melihatnya. Ia adalah seorang muslim dari Bani Najjar. Ia mendapat tugas dari Rasulullah saw untuk menjaga sumur Badar dari para penyelinap. Sebagai orang yang mendapat tugas menjaga sumur, ia khawatir orang yang sedang berada di dekat sumur adalah mata-mata dari pihak lawan yang ingin meracuni sumur tersebut untuk mencelakai kaum muslimin.
Maka ia segera mengambil busurnya lalu dilepaskan anak panahnya tepat di kerongkongan Haritsah. Haritsah berteriak kesakitan dan meminta tolong. Ia mencoba melepas anak panahnya namun justru ia terkoyak. tak ada yang menolongnya karena mereka mengira ia adalah mata-mata. Hingga akhirnya Haritsah meninggal.
Setelah Meninggal, penjaga sumur melihat jasadnya dan ia terkejut karena ternyata yang ia bunuh adalah Haritsah bin Suraqah.
*****

Saat perang Badar selesai, ibu Haritsah menunggu kedatangannya namun tak kunjung datang. Lalu wanita renta itu mendatangi salah seorang yang ikut perang untuk menanyakan apakah Haritsah telah syahid. Namun orang tersebut mengatakan bahwa Haritsah tidak syahid, karena ia mati bukan di tangan orang kafir bahkan belum dimulai perang sama sekali. Sang ibunda sangat sedih karena khawatir anaknya tidak masuk Surga. Lalu ia mendatangi Rasulullah saw dengan muka yang menunduk. Lalu ia menanyakan perihal Haritsah.
“Bukan hanya satu Jannah baginya. Ada Jannah yang bertingkat-tingkat di sana dan Haritsah berada di Firdaus yang paling atas.”
Jawaban Rasulullah saw membuat tangisnya mereda. legalah hatinya karena telah dikabarkan perihal Surga bagi anaknya oleh Rasulullah saw. Maka ia kembali ke rumah dan mengisi sisa hidupnya dengan mempersiapkan bekal sebaik-baiknya menuju kehidupan di akhirat. (dp)

»Sumber: buku Ibunda para Ulama (Sufyan bin Fuad Baswedan)

»SUPERMOM’s NOTE«
Edisi #SeninBersamaBuku 06 Februari 2017


» Email: supermom.wannabe1(at)gmail(dot)com
» Fanpage FB: Supermom Wannabe
» Twitter & Instagram: @supermom_w
» Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com
» WhatsApp: +6285725105272

instagram

“Menikahi seseorang adalah menikahi takdir wafatnya. Seseorang yang akan kamu nikahi adalah manusia yang pasti mati. Maka pastikan setiap detik kebersamaanmu dengannya adalah mempersiapkan kehidupan yang baik di akhirat kelak.
.
.
Menikahi seseorang adalah bersiap sepenuh hati untuk kehilangan dirinya (di dunia). Tapi berjuang dengan segenap jiwa agar berkumpul di surga, selamanya.” (Apa Kabar Rindu? hal 84)
.
.
Info dan pemesanan buku #ApaKabarRindu : 0812 8642 7969 (wa/telegram), line @senyumsyukur, atau klik link di bio. Bisa juga dm
.
.
Yakin ga mau ngetag teman untuk diajak baper? 😂😂😂
.
.
Mau dapat petikan2 dari buku #ApaKabarRindu dan #CintadanKehilangan juga info diskon dan promo silakan ketik mau spasi nama kirim ke WA 0812 8642 7969 atau temanan di bbm dgn pin : senyums

Made with Instagram

“ MASUK SURGA BERSAMA KELUARGA ”

👤 ustad NAJMI UMAR BAKKAR

sesuatu yg kt inginkan seorang suami istri dan anak2 masuk surga

Masuk surga seorang krn Rahmat Allah bukan krn amalan seorang
rahmat adalah kasih sayang dan rahmat allah berupa surga
Dan rahmat allah d dunia berupa kenikmatan dan keberkahan hidupnya

📝 1. Dalil pertama

📖 Qs AR RAd 23-24
Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu

(Sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu

surga itu d masukin oleh orng2 :
- benar iman nya
- Benar amalnya
- Benar akidahnya
- Dan mengikuti sunah

Pintu surga ada 8
Barangsiapa berwudhu dan mengucapkan

Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna mUhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang menyekutukanNya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya

Kt nabi bila seorang berwudhu dan baca ini maka dia akan masuk surga dr pintu mana saja yg dia inginkan

📖 Qs At tur 21
Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya

Orng2 yg beriman dan murni imanya tdk bercampur kesyirikan maka allah akan
Berikan rasa aman dan mereka mendapat petunjuk

📖 Qs al an am 82
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk

100 tingkatan dan tingkatan tertinggi yaitu jannah firdaus
- orng iman nya baik
- para nabi
- orang2 sholeh

📝 Dalil ke 2

📖 Qs annisa 69
Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik
sebaiknya

📖 Qs al imran 133
Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa

Amal sholeh kt smua bermanfaat bs memberikan syafaat kepd orngtua,anak dan suami istri

🔗 syafaat d berikan allah dgn 2 yaitu :

✔ Keikhlasan seorang dan amal yg menurut sunah (tuntunan Rosullah)

✔ Jika Allah meridhoi
Siapa orng yg bs memberikan syafaat jika Allah yg meridoi

📝 3. Dalil ke 3

📖 Qs Az Zukhruf 70
Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan

Untuk wanita bila suami nya meninggal maka wanita ini menikah dan d kumpulkan d surga dgn suami nya yg terakhir

📖 Qs yasen 55-56-57
Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).

Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan

Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan

Bila ingin masuk surga maka wujudkan apa yg allah perintahkan
Dan jaga diri kt :
➡ Iman
➡ Akidah
➡ Amalan2
jgn yg tdak ada tuntunan dr Rosullah

📖 Qs Al azhab 21
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah

📖 Qs al israa 19
Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik

Nabi mengatakan seorang mukmin baik laki2 dan perempuan pst akan mendapatkan ujian

➡ hidupnya d hina orang d kucilkan
➡Hartanya
➡ Anaknya

Bila ingin masuk surga dgn keluarga maka bersungguh2 lah
Qs al israa 19

Mahalnya surga itu dpt kt dpatkan dgn bersungguhnya dgn adanya rasa takut dan melahirkan sungguh2 dan akan mendapatkan derajat yg tinggi

ROSULLAH berkata Barangsiapa yg takut pd Allah maka dia Akan bersungguh2
Dan barangsiapa yg bersungguh2 maka dia akan mendapatkan derajat yg tinggi

📖 Qs Al ankabut 69
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik

Hidayah itu adalah kesungguh2an dan jihad
Hidayah d dapatkan dgn jihad dan kesungguh2an dan mengamalkan dan mendakwakan islam maka bekal iman dan amal sholeh yg dia dptkan surga bersama keluarga

➡ Hrs dgn sabar

📖 Qs al haj 78
Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong

📍Orng yg tidk ikhlas maka akan sulit menerima islam dan dakwah islam

📖 Qs annisa 142
Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit
sekali

allah menunggu dan kt rasakan benarnya islam dan perkataan rosullah

Dan allah mengatakan sesungguhnya allah tdk akan merubah kondisi seseorang smpai orang itu merubah dirinya sendiri
Dan hrs ada
👇
- ada pengorbanan
- Ada perjuangan
- Ada kesungguhan

Allah menjelaskan ada surga d dunia
Dalam ayat
👇
📖 Qs ar rahman 46
Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada 2 surga

Orng yg berilmu itu pst ada rasa takut dan iman nya benar
Bagi orang yg memiliki rasa takut akan mendapatkan 2 surga yaitu :
✔ Surga d dunia
Memahami tuntunan rosullah yaitu manhaj salaf
Mendapatkan ketenangan dalam kehidupan

✔ Surga d akhirat
Cintanya allah dgn seorang hamba

Masuknya mereka keluarga ke dalam neraka
Sesungguhnya orng2 yg merugi adalah mereka berada d neraka bersama2
👇
📖 Qs Az Zumar 15

Maka sembahlah selain Dia sesukamu! (wahai orang-orang musyrik). Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata

📗 Hadits dalam imam at tabrani
nabi bersabda tidur itu saudara nya kematian dan penghuni surga itu tdk pernah tidur

🔦 Amal2 yg bs bersama nabi d surga

1. Wajib mentaati Rosullah dan ketaatan yg benar

📖 Qs annisa 69
Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik
baiknya

2.mencintai Rosullah dan cinta yg tertinggi dr pd kecintaan pd manusia
Ikuti beliau
Seorang itu d kumpulkan d surga dgn siapa yg dia cintai

3.banyak berselawat pd nabi

4.seseorang yg perhatian pd anak yatim

5.berdoa
Abdulah bin mas'ud ingin bersama rosullah d surga dan dia tetap berdoa ingin bersama rosullah d surga

Doa yg d ucapkan ibnu mas'ud
👇
“Ya Allah saya meminta kepada-Mu keimanan yang tidak akan berubah dengan kemurtadan, kenikmatan yang tiada putus, dan (aku memohon kepada-Mu) agar menjadi pendamping Muhammad shallallahu'alaihi wasallam di derajat tertinggi dari surga yang kekal.“ (HR. Ahmad)

📆 29072017
🏡 Baitul ilmi Umar bin khatab

Why Start Up?

Bagi sebagian orang, kehidupan pasca kampus adalah kehidupan yang menantang. Betapa tidak, itulah saat-saat dimana kita mendapatkan kesempatan sekaligus tantangan untuk mulai memilih salah satu dari sekian banyak pilihan penting, yaitu memilih pekerjaan. Banyak sekali pertanyaan yang muncul, seperti misalnya, “Apakah langsung bekerja sekarang atau melanjutkan magister dulu? Apakah perusahaan itu cocok untuk saya? Apakah yang bisa saya pelajari jika bekerja disana? Apakah ini baik untuk kehidupan dunia dan akhirat saya?” dan lain-lain. Sedikit lebih cepat, hal ini tidak saya alami setelah lulus, melainkan saat semester-semester pertama perkuliahan karena sejak itu saya memang bekerja sambil kuliah. Tapi, saya banyak mendapat cerita dari teman-teman tentang kegelisahan mereka dalam menentukan pilihan pekerjaan. Apakah kamu mengalaminya?

Sejak pertama kali bekerja di tahun 2011, saya memilih untuk bekerja di start up. Sampai setelah kuliah selesai pun, saya tetap tidak memilih perusahaan-perusahaan konvensional. 

Mengapa start up? Mengapa tidak perusahaan-perusahaan besar di skala nasional ataupun internasional?

Pertama, start up (terutama yang bergerak di industri kreatif) selalu menyuguhkan situasi dan kultur kerja yang menyenangkan. Atmosfer berkarya dan suasana kreatif di dalamnya membuat bekerja tidak terasa seperti bekerja. Interaksi dengan teman sepekerjaan pun bukanlah interaksi formal yang kaku, tapi seperti sedang bekerja kelompok saat kuliah atau seperti berkegiatan di BEM atau himpunan. Hal inilah yang membuat biasanya suasana kekeluargaan dan persahabatan terbentuk di start up.

Kedua, bekerja di start up berarti menyaksikan diri sendiri, teman-teman, dan perusahaan terus bertumbuh seiring waktu. Bersama teman-teman di kantor, saya mengalami banyak proses, dari mulai kantor hanya seluas beberapa petak sampai jadi bertingkat, dari gaji hanya beberapa ratus ribu sampai akhirnya bisa mendapat nominal yang layak, dari jumlah partner kerja yang hanya beberapa orang sampai akhirnya bisa membuka kesempatan agar orang lain bisa internship, dari mulai grogi mengeluarkan pendapat di rapat sampai akhirnya bisa business matching dengan klien, dari mulai scheduling berantakan sampai bisa membenahi timeline, dan lain-lain. Bagi saya yang memang suka dan bahagia melihat orang bertumbuh, ini tentu menyenangkan.

Ketiga, start up memungkinkan kita untuk banyak berkontribusi pada hal-hal penting di perusahaan. Mengapa? Hal ini terjadi karena paradigma bekerja di start up adalah tentang ‘bagaimana saya bisa belajar dan bertumbuh untuk bisa berkontribusi demi perkembangan dan perbaikan perusahaan’ bukan tentang ‘bagaimana saya bisa mendapat gaji yang besar, menyelesaikan dengan baik perintah atasan, dan kapan saya bisa naik jabatan’. Dua hal ini adalah hal mendasar yang bisa membuat performa kerja menjadi berbeda.

Keempat, bye bye rapat membosankan! Ya, di start up, situasi rapat tidaklah formal dan kaku, tapi lebih rileks dan menyenangkan karena seringkali diselingi candaan-candaan yang mencairkan situasi. Bahkan, bisa saja rapat dilakukan sambil makan, sambil jalan-jalan, atau bahkan sambil liburan. Apakah ini berarti kami tidak serius? Tentu tidak! Deadline dan masalah-masalah besar pasti selalu ada dan bukan berarti kami menanggapinya dengan bercanda, hanya saja, potensi kreatif untuk menyelesaikan masalah ternyata lebih muncul jika kita sedang tidak dalam keadaan stress.

Lalu, apa saja yang saya pelajari selama menjadi bagian dari start up? Makna hidup apakah yang bisa saya ambil dari sana?

Saya belajar untuk menikmati dan menghargai proses, belajar berani menumbuhkan potensi kreatif, belajar menjadikan kreativitas sebagai sarana untuk menyampaikan kebaikan, belajar untuk menumbuhkan orang lain sambil bertumbuh juga secara pribadi, belajar tenang dengan perubahan, belajar melihat sisi ‘lucu dan menyenangkan’ dari tantangan yang dihadapi, belajar membentuk hubungan kerja yang menyenangkan dengan atasan, sejawat, atau bawahan, belajar menerima resiko, dan bahkan belajar untuk mengikhlaskan apa-apa yang ada sudah ada dalam genggaman.

Meskipun demikian, bekerja bukanlah tentang dimana kita bekerja, seberapa besar gajinya, atau apa yang menjadi profesi kita. Tapi, bekerja adalah tentang mengabdi kepada Allah dan menggenapkan usaha-usaha terbaik untuk menjemput keridhoan-Nya. Sebab, pada akhirnya karunia dan rezeki tetaplah berasal dari-Nya dan sudah ditentukan takaran-takarannya.

Masih Kamis, tenaaaang week-end masih lama, semangaaaaat! ;)

***

👤 Dr. Firanda Andirja

NASEHAT ABUL ‘ATAHIYAH (JANGAN TERPEDAYA DENGAN GEMERLAP DUNIA !!!)

رَغِيْفُ خُبْزٍ يَابِسٍ = تَأْكُلُهُ فِي زَاوِيَةْ

Sepotong roti kering yang engkau makan di pojokan….

وَكُوْزُ ماءٍ باردٍ = تَشْرَبُهُ مِنْ صَافِيَةْ

Dan secangkir air dingin yang kau minum dari mata air yang jernih….

وَغُرْفَةٌ ضَيِّقَةٌ = نَفْسُكَ فِيْهَا خَالِيَةْ

Dan kamar sempit yang jiwamu merasa kosong di dalamnya…

أَوْ مَسْجِدٌ بِمَعْزِلٍ = عَنِ الْوَرَى فِي نَاحِيَةْ

Atau mesjid yang terasing dan jauh dari manusia, lalu engkau berada di sudut mesjid tersebut…

تَقْرَأُ فِيْهِ مُصْحَفاً = مُسْتَنِداً لِسَارِيَةْ

Engkau membaca Al-Qur'an sambil bersandaran di sebuah tiang mesjid…

مُعْتَبِراً بِمَنْ مَضَى = مِنَ الْقُرُوْنِ الْخَالِيَةْ

Seraya mengambil ibroh/pelajaran dari kisah-kisah orang-orang terdahulu yang telah tiada…

خَيْرٌ مِنَ السَّاعَاتِ فِي = فَيْءِ الْقُصُوْرِ الْعَالِيَةْ

Itu lebih baik daripada berlama-lama di dalam istana-istana yang megah…

تَعْقُبُهَا عُقُوْبَةٌ = تَصْلَى بِنَارٍ حَامِيَةْ

Yang akhirnya mengakibatkan dosa yang menyebabkan engkau masuk dalam api yang panas…

فَهَذِهِ وَصِيَتِي = مُخْبِرَةٌُ بِحَالِيَةْ

Ini adalah wasiatku yang mengabarkan tentang dirinya…

طُوْبَى لِمَنْ يَسْمَعُهَا = تِلْكَ لَعُمْرِي كَافِيَةْ

Sungguh beruntung orang yang mendengarnya… demi Allah wasiat ini sudahlah cukup (memberi pelajaran…)

فَاسْمَعْ لِنُصْحِ مُشْفِقٍ = يُدْعَى أَبَا الْعَتَاهِيَةْ

Maka dengarlah nasehat orang yang sayang dan khawatir kepadamu yang dikenal dengan Abul 'Ataahiyah..

 

Sungguh indah sya'ir Abul 'Ataahiyah di atas, terutama bagi yang mengerti bahasa arab… Sedikit waktu yang disempatkan untuk membaca Al-Qur'an di pojokan mesjid, jauh dari pandangan manusia, ternyata jauh lebih bernilai dari kemegahan istana yang hanya sementara…

 

Benarlah jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan ;

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Sholat sunnah dua rakaat qobliah subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya”

Janganlah terpedaya dengan kenikmatan dunia, sesungguhnya ia adalah kenikmatan yang semu dan sementara… Ingatlah akan kenikmatan akhirat yang jauh lebih baik dan abadi…

Jika seseorang disuruh memilih mendapatkan kenikmatan secangkir susu, akan tetapi kapan saja bisa ia minum dan tersedia, atau memilih kambing guling akan tetapi hanya sekali saja bisa santap,

tentu orang yang berakal akan memilih secangkir susu –meskipun sedikit- akan tetapi terus tersedia selama puluhan tahun, kapan saja siap untuk diminum…

Maka bagaimana lagi jika perkaranya sebaliknya, kambing guling yang terus siap tersedia kapan saja bisa disantap, dibandingkan dengan secangkir susu yang hanya bisa sekali diminum ??… Bagaimana lagi dengan hanya secangkir air putih ???…

Demikianlah, kenikmatan dunia selain sedikit, iapun fana dan akan sirna… Adapun kenikmatan akhirat sangat banyak dan abadi…

Jika engkau terpedaya dan terkagum-kagum bahkan kepingin tatkala melihat kenikmatan dan kemewahan benda-benda dunia,

sedangkan engkau sedang menghadapi sulitnya kehidupan dunia, maka agar engkau tidak terpedaya, ucapkanlah doa yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشُ الآخِرَةِ

“Yaa Allah tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan akhirat” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Doa ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ucapkan tatkala Nabi dan para sahabat kaum muhajirin dan anshor sedang menggali parit dalam perang Khandak, sementara perut-perut mereka keroncongan karena kelaparan, bahkan mereka mengikatkan batu ke perut-perut mereka untuk menahan rasa lapar…

“kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan (sementara) di dunia untuk kesenangan (abadi) di Akhirat…”


Umar bin Khaththab (ra) pernah dibuat menangis tersebab kalimat ini. tersebab melihat bekas pada punggung Rasulullaah, pemimpin sekaligus karib seperjuangan yang paling dicintainya, akibat tidur beralaskan tikar kasar dan berbantalkan pelepah kurma.

Al Faruq tersedu menyaksikan sang pemimpin umat itu memilih hidup dalam kebersahajaan, karena emas memang takkan pernah sepadan dengan tembaga…

“tetapi kamu lebih memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal…” (QS. Al-A'laa: 16-17)

repost from mba @laninalathifa :)