kece badai

Tumblr is My Favorite Sosial Media

Menurutku tumblr adalah media sosial yang paling kece. Kenapa? Yap, ada banyak keajaiban yang aku temukan di sini :D

Keajaiban tulisan dari para penulis yang kece badai (seperti muhammadakhyar  kuntawiaji kurniawangunadi fahdpahdepie dokterfina erstudio karenapuisiituindah catatanbesarku dll) yang menulis dengan kejujuran hatinya sehingga banyak menginspirasi banyak orang, dan mengubah pola pikir seseorang tentang kehidupan.

Keajaiban gambar yang Masya Allah indah dari berbagai belahan dunia yang telah terekam oleh kamera-kamera fotografer yang super kece.

Keajaiban informasi-informasi yang sangat penting tentang Islam, pengetahuan, teknologi, kesehatan, dll.

Dan ada banyak keajaiban lain, seperti menjadi saksi bertemunya dua keping hati di tumblr (red : dokter keren kuntawiaji dan penulis kece prawitamutia) Barakallah yah kak, semoga dilancarkan semuanya :)

Selain itu tumblr adalah media sosial yang paling berkualitas. Why? Karena berbagai sharing yang diupload para pemilik tumblr adalah hal-hal yang berkualitas. Bukan sekadar numpang eksis, numpang keren, atau narsis-narsis gaje belaka.

Tumblr juga bukan media sosial yang bukan untuk banyak-banyakan like, comment, atau followers belaka. Dia apa adanya dari hati.

Pokoknya tumblr adalah media ternyaman yang pernah aku temui untuk sekarang ini :D

Terima kasih tumblr, karenamu aku menemukan banyak orang keren di sini :) Alhamdulillah …

Kekampretan (Generasi) Saya

Selamat pagi!

Saya masih malas di kamar bersama gadget saya. Di luar masih gerimis, sarapan bisa nanti agak siangan. Pagi adalah waktu mengumpulkan nyawa. Cek Tumblr, Twitter, Path, Whatsapp, Line, dan Instagram dulu jeh. Kali aja ada hal seru yang kelewat. Tadi malam sebelum tidur udah ngeskrol juga sih sampai ngantuk.

Tadi malam saya nonton film, DVD bajakan. Bioskop mahal, mending uang dipakai beli french fries dan cappucino di kafe langganan. Smart buyer!

Kadang-kadang saya beli koran sih pagi begini. Eh ntar aja deh, masih hujan. Sekalian otewe tempat kumpul, dekat stasiun ada yang jual koran.

Membaca koran online sepotong-sepotong bikin gemes. Isinya cuma 5W+1H yang dibagi menjadi 2-3 halaman. Katanya buat naikin jumlah klik situsnya, biar rating naik, iklan bisa lebih mahal.

Sebenarnya saya jarang baca koran. Susah kalo dibaca pas di kereta atau bus kota. Terus saya ga punya banyak waktu baca artikel-artikel tajuk dari redaktur dan opini-opini yang bernas dari para pakar, aktivis, dan jurnalis. Waktu saya berharga buat main CoC atau ngomentarin twit dan status galau temen yang ngebet nikah.

Saya lebih suka baca novel-novel ringan dan kumpulan cerpen. Ga banyak mikir. Ah, jadi kangen. Dulu pernah satu-dua kali baca novel sastra yang ‘serius’. Pergulatan antara ego, keadaan, dan budaya terasa sekali.

Hmm, kenapa ya baca artikel koran yang 500-700 kata satuannya malas, tapi baca novel tebal nggak? Padahal novel itu fiksi, artikel itu non-fiksi dan bikin pinter. Saya merasa saya malas mikir yang berat-berat. Saya merasa tidak perlu tahu urusan orang lain. Saya cuma membaca berita dan artikel terkait bidang keahlian saya. Eh bentar, kalo gitu, saya bakal jadi “specialist” yang buta akan bidang-bidang lain dong, dan ga pernah mencari tahu persinggungan antarbidang keilmuan. Saya ga bisa jadi pemimpin besar yang mengorkestrasi kekuatan-kekuatan sumberdaya menjadi keunggulan dan solusi buat keadaan. Baik, saya jadi pegawai saja. Kerja, digaji, hidup sejahtera. Tidak apa-apa juga kalo digaji orang asing, digaji perusahaan asing yang cari makan di Tanah Air.

Dari koran, novel, sampai soal pilihan jadi pegawai. Life is good rite? Kerjaan settled, 9 to 5. Pulang kerja bisa baca novel, nonton film (bajakan), atau sekali waktu nongkrong di kafe langganan buat main board games. Dulu ingat pas mahasiswa, males gerak beud kalo udah soal ‘waktu terbuang’ untuk ke tempat acara nun jauh dari kampus. Saya merasa waktu saya sangat berharga untuk dihabiskan di perjalanan cuma buat workshop menulis kreatif, meet up dengan alumni, futsal bareng dengan anak-anak dari kampus lain. Mendingan nonton drama Jepang lah. Saya lebih suka ngedon sendiri dengan ‘hobi’ saya. Buat apa mikirin skill tambahan non-akademis, jejaring, dan pengalaman ekstrakampus, toh saya bakal jadi pegawai. Waktu itu beasiswa lancar dan berlebih, bisa dipakai buat ngemil. Daripada habisin duit di jalan karena ntar bakal minum-makan di kafe tengah kota, mending beli roti, susu, dan Nutella sebagai teman movie marathon di akhir pekan. Ah, indahnya masa kuliah.

Sekali waktu perlu juga rasanya nulis di blog atau update status di FB. Biar kelihatan bisa mikir gitu. Buat blog, dalam hal ini Tumblr, untung udah banyak follow artis Tumblr dan akun bule yang kece badai. Tinggal reblog and I will impress people. Untuk FB, biasanya aku ngikutin yang ramai di Newsfeed. Dengan sedikit tambahan hasil kepo beberapa link berita online, aku bisa deh koar-koar tentang Indonesia. Sekarang aku sadar, eksistensiku di media sosial sedangkal proses aku mencari, menyaring, dan mengolah informasi, juga sesuai dengan berapa waktu yang aku investasikan untuk membaca referensi.

Life is good, but hambar. Beda deh kalo pengalaman kuliah saya dulu dengan teman-teman aktivis kampus dan pejuang sosial ekstrakampus. Eh tidak ada gunanya dibanding-bandingkan. Katanya itu syarat bahagia. Bahagia tapi hambar, hmm. Yang jelas mereka lebih banyak baca buku dari saya, mereka lebih banyak mendengar dari para senior dan pakar daripada saya, mereka lebih banyak amal sosial daripada saya, dan punya lebih banyak kesempatan dan pengalaman yang mengasah kepekaan pada kondisi riil masyarakat. Again, buat apa dibandingin, bikin ga bahagia aja.

Profesionalisme. Nah, ini baru keren. Sebagai calon peneliti, saya ambil banyak pengalaman di kampus. Kerja di lab, ikut proyek dosen, berharap bisa publish paper. Kerja di lembaga riset di bidang yang kita sukai. Life is good huh? Eh tapi kok pas lihat kawan-kawan sejurusan dan sefakultas dulu baca manga, bahas anime, dan main DOTA kok rasanya ada yang mengganjal. Saat saya baca paper dan bikin review literatur mereka cuma ngerjain tutorial terus lanjut buka Onemanga. Mereka bisa disibukkan dngan kegiatan yang lain sebenarnya. Ngapain kek gitu, ikut kegiatan sosial internal kampus, atau datang bedah buku dan film di perpus. Okay, mereka capek-capek kuliah tentu sudah punya tujuan. Mereka mau jadi insinyur atau sales atau MT yang oke ya itu urusan mereka. Mereka pasti sudah memikirkannya, buat apa susah-susah mikirin orang lain. Oh ya, kuliah itu capek tahu … jadi butuh refreshing. Refreshing yang cukup biar IPK tetap di atas cum laude. Mama-papa senang, aku senang.

Pas wisuda baru terlihat siapa-siapa yang sukses dan belum sukses, siapa yang sudah jelas tujuannya dan yang belum, siapa yang sudah halus softskill-nya dan siapa yang masih kasar, siapa yang sudah bulat portfolionya dan siapa yang masih scattered. Ah, lagi-lagi. Bukan hak-ku untuk menjadi juri buat kehidupan orang lain. Tapi yang jelas, wajah-wajah yang kuyu, khawatir, dan panik itu kelihatan di semester akhir. Sumringah wisudaan dan pasca-sidang akhir cuma sesaat. Oh ya, saya juga melihat wajah khawatir itu saat saya bercermin saat menggosok gigi pagi dan malam hari.

Andai saja dulu saat ada yang ngajak beraktivitas di luar kampus saya punya rasa ingin tahu lebih besar.

Andai saja dulu saat ada sesi berjejaring saya tidak egois untuk buru-buru balik ke asrama untuk nonton film.

Andai saja dulu saat saya merasa kehambaran hidup saya berani memberi warna baru dan mencoba hal-hal extraordinary yang memacu adrenalin.

Andai saja dulu saya menukar kenikmatan Nutella dan asrama ber-AC dengan bea transportasi dan marjin harga makanan asrama dan tengah kota.

Andai saja saya dulu mengajak kawan-kawan untuk sejenak berhenti main PES lalu sowan ke kampus lain atau nyamperin pojok kegiatan komunitas di sekitar kota.

Kata Tuhan, ga baik berandai-andai. Tapi berandai untuk masa depan yang lebih baik masa ga boleh? Ada baiknya juga sih ga berandai jadi A dan B. Hidup ga capek. Tidur cukup, refreshing cukup, nanti kalo kerja gaji cukup. Asumsikan dengan modal nilai oke, mudah dapat kerja. Bisa hidup bahagia.

Oke segitu dulu.

Siapa hayo yang belum daftar?

Ga kepengen ketemu penulis buku Hujan Matahari dan Lautan Langit aka @kurniawangunadi nih? 

Ga kepengen ketemu Selebtumblr yang kece badai aka @kotak-nasi?

Atau ga ada yang kepengen selfie bareng Minko & Minka yang bikin penasaran~?

uwuwuw~

Sok atuh isi formatnya: nama # akuntumblr # kota # no.hp

Bisa dikirim melalui SMS/WA ke nomor 087882308772

atau melalui  LINE dwifputri

Pendaftaran akan ditutup pada tanggal 20 Oktober 2015. Jadi, jangan salahkan Minko kalau kamu tidak bisa ikut GATH KITA :p