keanehan

Jatuh Cintalah

Jatuh cintalah pada yang tahu bagaimana cara membuatmu tersenyum
Bahkan ketika kau enggan melakukannya dan tak punya alasan melakukannya.

Jatuh cintalah pada yang tahu bagaimana caranya membunuh waktu dengan berbincang-bincang
Kelak nanti hanya itu yang akan kalian berdua lakukan, ketika raga sudah renta dan rambut telah beruban semua.

Jatuh cintalah pada yang paham bagaimana caranya menghargai nilaimu. Yang setiap saat selalu merasa kau adalah sosok istimewa yang tak pantas dikecewakan.
Bahkan saat kau merasa, kau tidak berharga bagi siapapun.

Jatuh cintalah pada yang mampu mencintai sisi gelapmu. Keburukan, kekurangan, kekonyolan, dan keanehan. Dan selalu merasa beruntung karena telah dipertemukan dengan seorang seperti kau.

Jatuh cintalah pada sosok yang mampu membuatmu jatuh cinta berkali-kali. Meski hidup penuh dengan keadaan naik dan turun, bahagia dan duka. Kalian harus paham bahwa cinta adalah perjuangan berdua.

Jatuh cintalah pada cinta yang (mau berproses menjadi) baik. Yang denganmu ia merasa mampu berproses bersama dan tidak hanya merasa harus saling melengkapi. Karena masing-masing harus utuh secara pribadi.

-

© Tia Setiawati | Garut, 26 Juni 2017

Terimakasih telah menerima dengan lapang segala kekuranganku. Terimakasih telah memaklumi keanehan-keanehanku. Terimakasih telah dengan super sabar memperbaiki keburukan-keburukanku. Aku sadar dengan seluruh kekacauanku, tapi kamu jauh lebih sadar untuk merapikannya. Tentu saja dengan cinta :)
Makhluk Penuh Ketabahan

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh

Perihal begitu dominannya mereka menggunakan sisi perasaan, membuat mereka memiliki kemampuan merasa tahu segalanya. Meski tak juga mengenyampingkan logika, mungkin itulah yang membuat mereka melihat bahwa lelaki itu selalu penuh dengan kekeliruan.

Pada banyak hal, kita sangat sering menemukan perempuan menggunakan perasaannya. Ketika melihat mereka marah, menangis, bahkan diam tanpa berkata-kata sekalipun, sesungguhnya perasaan mereka saat itu berputar begitu teratur. Saat-saat seperti itu otak mereka begitu terampil menciptakan banyak prasangka-prasangka.

Mungkin, dari sana mengapa perempuan itu selalu merasa tahu. Di hadapan lelaki, hanya dengan melihat matanya, tingkahnya, ucapannya, bahkan cara menulisnya, perasaan mereka sanggup menembus tiap celah di pikiran para lelaki. Maka mereka akan selalu tahu apa yang sedang berubah dan telah berbeda dari lelaki di hadapannya. Tidak cukup itu, prasangka mereka terkadang bahkan melampaui sebuah kesalahan, hingga tercipta melankolis dalam kepala mereka sendiri, kemudian menjatuhkan sendirinya bulir-bulir air mata, berurai membasahi pipi mereka yang menggemaskan. Menyebalkan, memang.

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh.

Meski apa yang mereka rasakan tidak sepenuhnya apa yang mereka rasa benar dan walau sering salah dalam menebak, hati perempuan selalu tahu hal-hal yang telah berbeda dari biasanya. Maka dari situ juga prasangka itu lahir penuh dengan drama.

Tentang prasangka yang tak baik dalam rasa sakit, kecewa, pengabaian, atau perihal selalu merasa tahu segalanya. Dalam hati mereka yang paling tulus, dalam pikiran bawah sadar mereka, sesungguhnya menyimpan percaya yang begitu besar. Hingga seringkali bibir mereka berucap hal yang tak sama dengan isi hati mereka.

Dan saat nanti mereka tetap berdiri di sisimu, meski beribu kali mengaduh dan keluh yang dituturkan tentangmu. Maka saat itulah, mereka hanya ingin mencuri separuh perhatianmu, darinya mereka percaya sepenuhnya.

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh.

Padahal, kalau kita sanggup memahaminya sedikit saja, indahnya begitu anggun yang tersemat pada diri mereka sejak pertama kita menatap matanya.

Bersyukur mereka yang terlahir sebagai perempuan, sebab kehidupan nanti bukan hanya tentang diri mereka sendiri. Namun, seberapa besar arti mereka bagi kehidupan. Mungkin itulah yang membuat mereka selalu ingin memberi yang terbaik pada hidup lelaki yang ingin mereka genapi.

Nyatanya, perempuan memang makhluk yang aneh.

Namun, meski aneh dan menyebalkan, mereka tetap saja pantas untuk mendapatkan pelukan terhangat saat mereka membutuhkannya. Sebab di balik kesederhanaannya, ternyata masih begitu banyak perasaan-perasaan yang harus dijaga oleh lelaki.

Dan seluruh keanehan-keanehan yang pernah terlontar pada diri mereka, tidak akan pernah ada tandingannya dibanding ketabahan pada tiap-tiap air matanya yang mengandung do'a.

Ialah perempuan, makhluk Tuhan penuh ketabahan.

Dalam perjalanan pulang ke Jogja, 31 Januari 2017 | Seto Wibowo

Lebih senang sendiri dan tidak suka terlalu berbasa-basi, bukan sebuah kesalahan. Merasa berhak menilai padahal mencoba mengajaknya bicara saja tidak, juga bukan kesalahan, melainkan keanehan.

MonochromeTale-07

Terkadang aku ingin sendiri saja. Duduk santai diantara tumpukan buku-buku, memesan minuman manis hangat kesukaanku, dan tentu saja, tanpa diganggu oleh gerutumu.

Kau pasti tahu, banyak hal kukorbankan ketika memutuskan bersama denganmu. Banyak hal kulewatkan, sengaja atau tidak, dan itu karena ingin membahagiakanmu. Aku jadi melewatkan banyak waktu berkumpul bersama teman-teman dekatku. Aku jadi banyak melewatkan waktu-waktu yang kupakai untuk menyenangkan diriku sendiri, melakukan segala hal yang kusuka. Aku menjadi seorang yang bukan aku, hanya demi menemani dan membahagiakanmu.

Pada akhirnya, semua ini adalah sebuah keanehan. Bukankah seharusnya, sebeda apapun kegemaran kita, kau dan aku tetap bahagia bersama-sama, melakukan masing-masing hobi kita? Bukankah meski seringkali berbeda, kita tidak menjadi orang lain demi mempertahankan apa yang kata mereka adalah sebuah hubungan?

Sekarang tolong biarkan aku sendiri. Aku ingin sendiri dulu. Memikirkan semua yang sudah kita lalui dan yang mungkin akan kita lalui. Atau barangkali, sesuatu yang tak akan kita lalui bersama lagi.



© Tia Setiawati | Palembang, 19 September 2017



KISAH JENAZAH YANG DISHOLAWATI 70 RIBU MALAIKAT

Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. : Pada suatu pagi Rasulullah SAW bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik r.a. melihat suatu keanehan. Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya.

Tak lama kemudian Rasulullah SAW dihampiri oleh Malaikat Jibril. Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Malaikat Jibril : “Wahai Jibril, kenapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?” “Ya Rasulullah, Matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya.” jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW bertanya lagi : “Wahai Jibril, berapa jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini?” “Ya Rasulullah, 70 ribu Malaikat.” jawab Malaikat Jibril. Rasulullah SAW bertanya lagi : “Apa gerangan yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari?”

Kemudian Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT telah mengutus 70 ribu Malaikat agar membacakan shalawat kepada salah satu umatmu.”

“Siapakah dia, wahai Jibril?” tanya Rasulullah SAW. “Dialah Muawiyah…!!!” jawab Malaikat Jibril. Rasulullah SAW bertanya lagi : “Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini?” Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al-Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk, waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu membaca Surat Al-Ikhlas.”

Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya : “Dari itulah Allah SWT mengutus sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat kepada umatmu yang bernama Muawiyah tersebut.” SubhanAllah .. Walhamdulillah .. Wala ilaha illallah .. Wallahu akbar.

Rasulullah SAW bersabda : “Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur'an dalam semalam?” Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin kami bisa membaca sepertigai Al-Qur'an?” Lalu Nabi SAW bersabda, “Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an.” (H.R. Muslim no. 1922)

“Semoga Bermanfaat”

Merenda rindu

Rey
Tiga tahun berselang. Banyak hal yang berubah dalam diri gue. Postur badan gue lebih berisi, kegantengan gue nambah, dari segi finansial juga udah lebih mapan. Satu yang belum berubah dalam diri gue. Perasaan gue ke Wina.

Kalau perasaan gue ibarat pohon mangga, hari ini mestinya dia udah berbuah banyak dan manis. Namun nyatanya, perasaan gue masih pahit.

Hingga sekarang, keberadaan Wina masih misteri. Demi Wina, gue yang masih sakit tifus buru-buru keluar dari rumah sakit. Secepat kilat packing dan terbang dari Massachusetts ke Surabaya. Gila emang. Lebih gila lagi kalo kalian tahu, gue terbang cuma gara-gara ada pesan masuk ke WhatsApp gue:

 “Rey, gue ketemu Wina di masjid Manarul Ilmi minggu lalu.”

Pesan satu baris itu belum gue konfirmasi kebenarannya. Belum gue cek juga, yang dilihat temen gue itu beneran Wina atau bukan. Kalau emang beneran Wina, apa Wina masih single dan available? Terus si Wina ke Manarul sama siapa? Kalau sama suaminya gimana?

Dan setelah melalui 30 jam penerbangan, gue baru kepikiran. Temen gue lapor kalau dia lihat Wina di masjid minggu lalu. Ya kalau si Wina menetap di Surabaya? Kalau ke Surabaya cuma mampir doank gimana? Berapa persen kemungkinan si Wina datang ke masjid lagi?

Mendadak badan gue kerasa panas dan perut gue berasa kayak ditusuk. 

Gue linglung.

Dua hari gue stand by di Manarul demi nyari Wina tapi Wina nggak muncul.

Menyedihkan. 

Bodoh. 

Gue, Data Engineer yang hampir tiap hari menghitung peluang untuk memprediksi sesuatu, sekarang harus menjadi bodoh karena cinta lama gue yang belom kelar. 

*

Kalian pasti nanya, siapa Wina? orangnya kayak apa? sampe gue segitunya ke dia.

Sebelas tahun lalu, gue jadi asisten di mata kuliah Praktikum Pemrograman Terstruktur. Di situlah gue pertama kali mengenal Wiraditya Nasrullah yang akhirnya gue panggil Wina karena namanya aslinya terlalu maskulin buat gue.

Wina adik tingkat di bawah gue dua tahun. Awalnya gue nggak menemukan hal yang menarik pada diri Wina. Pertama kali gue lihat dia, gue langsung ngasih stereotype kalau dia sama kayak mbak-mbak jilbaber pada umumnya yang sering telat datang praktikum karena ada tugas dakwah di masjid, gugup sama cowok, berbicara menggurui dan stereotype negatif lainnya.

Sorry banget ya. Gue tahu zaman sekarang banyak banget cewek berjilbab lebar yang produktif, profesional dan bermanfaat untuk ummat. Tapi dulu pas gue masih mahasiswa, pikiran gue masih cethek jadi suka ngasih stereotype sembarangan ke banyak orang.

Wina adalah orang pertama yang mengakhiri stereotype negatif gue ke mahasiswi berjilbab lebar. Ia menghadiri asistensi 15 menit lebih awal. 

Dan gue menghargai itu.

Di hari kedua asistensi, gue menemukan keanehan lain dalam diri Wina. Dia datang sebelum gue. Pas ngelihat dia, mata gue tertuju ke benda yang ada di tangannya. Wina membaca Al Qur’an di tempat umum.

“oh ternyata masih sok suci” bisik gue dalam hati. 

Zaman gue kuliah belum ada komunitas One Day One Juz ya. Jadi gue masih asing ngelihat mahasiswa ngebaca Al Qur’an di tempat umum. Sekarang? gue sendiri kadang reflek muroja’ah kalo lagi nyetir.

“Ngapain tuh pamer kitab suci? Mau pamer kalo lo bisa baca Qur’an? Ini kampus neng, bukan pesantren” Gue menyelidik lebih tepatnya nyinyir.

“Oh ini? Nggak apa apa kak. Hak warga negara hehe.” 

Jawab Wina santai. Tadinya gue ngebayangin Wina bakal ceramahin gue tentang hormat kepada agama, kitab suci, dan yang lain sebagainya. Ternyata di luar dugaan, jawaban Wina sesantai itu. Nggak seru.

“Ga perlu di tempat juga umum kali” gue masih memancing perdebatan.

“Kak, kalau misal saya sudah selesai demo, saya bisa dapat pembahasan tiap soal nggak?” Wina mencoba mengalihkan pembicaraan so gue harus menjaga pembicaraan ini on track.

“Kamu nggak mendebat saya? Malah mengalihkan pembicaraan”  Wina tersenyum. 

“Untuk apa kak? Kakak mau saya ceramahi tentang sekularisme? Nggak ah. Ntar nilai saya dikurangi”

“Oh jadi kamu ga mau membela norma yang kamu yakini hanya karena takut nilai kamu dikurangi. Kamu menuduh saya subjektif?”

“Apakah setelah saya ceramahi, kak Rey akan berubah fikiran? Kakak lebih pintar dari pada saya. Saya bukan orang yang pandai berargumen kak. Saya tidak yakin kalau argumen saya bisa membuat kakak berubah fikiran. Saya hanya merasa berhak membaca kitab ini sama berhaknya dengan mahasiswa lain yang membaca novel, buku praktikum, blog, brosur dan yang lain sebagainya”

Itu cerita pembukaan gue tentang Wina. Wanita yang ngakunya nggak bisa berargumen tapi argumennya sukses ngebuat gue diem. Setelah itu, ada begitu banyak cerita antara kami berdua. 

Di mata gue, Wina itu seperti paradoks. Ia memegang prinsip namun dari luar tampak seperti orang yang longgar. Dewasa namun bahasa tubuhnya terkadang seperti anak kecil. Sering bicara dengan gugup namun tutur katanya tertata. Ia gadis cerdas yang belajar karena ia suka belajar. Bukan karena mengejar nilai atau ijazah seperti mahasiswa lain. 

Wina nggak sedih atau minder dengan IPK 2,1 juga nggak histeris dengan IPS 3,8. Wina sebenernya bukan termasuk cluster cewek cantik yang biasa gue pacarin tapi begitu berhadapan dengan dia, gue ngerasa dia seperti magnet dan gue hanyalah biji besi yang mau tak mau harus tertarik ke dalam dunianya.

Di kepala gue, ada begitu banyak deskripsi tentang Wina yang andai gue urai satu persatu, waktu dua jam nggak bakal cukup.

Wina adalah…… penikmat seni. 

Wina adalah…….mahasiswi berjilbab yang playlistnya banyak berisi lagu jazz dan blues. 

Wina adalah……..orang yang melakukan sesuatu karena ia tahu mengapa ia harus melakukan hal tersebut.

Wina adalah………wanita yang tetap bisa santai menggunakan HP monokrom meskipun teman-temanya menggunakan Iphone. 

Wina adalah…..

Wina adalah….

……

…….

Adzan isya berkumandang dan Wina sepertinya tidak muncul hari ini. Jadi bagaimana besok? Gue harus mulai pencarian ini dari mana?

Berpura-pura Baik-baik Saja

Kupikir jika kau sudah benar-benar ingin berkeluarga, perlu rasanya kau kurangi keriuhanmu perihal perasaan.

Kupikir wanita yang sudah benar siap diajak berkeluarga adalah ia yang memilih lebih sering melebarkan senyum menghadapi segala keanehan dunia.

Kupikir lagi, bahwa wanita yang siap diajak berkeluarga adalah dia yang mulai lebih pandai menenangkan keluhnya, sesalnya, kemudian memilih mengingatkan diri sendiri untuk tak terlalu nafsu mengutuki waktu.

Biar bagaimanapun, ketika sudah menikah kelak, tanggung jawabnya bukan lagi perihal dirinya. Ucapannya adalah penjaga pula bagi lelakinya. Perilakunya adalah cerminan pula bagi lelakinya.

Ketika menikah nanti, tanggung jawabnya bukan selalu menjadi lebih mudah, tapi justru menjadi lebih kompleks. Karena bila sudah menikah nanti, ia bukan hanya menjaga kehormatannya sendiri, tapi juga menjaga kehormatan lelakinya. Karena bila sudah berkeluarga nanti, ia tak bisa sembarangan meneriakkan perasaannya, sebab ada satu hati lagi yang harus ia jaga ketenangannya.

Bagi seorang lelaki, seslengean apapun kelihatannya, jika dia punya tujuan yang jelas hendak membawa keluarganya ke mana, jika dia sudah memetakan hendak membangun keluarga macam apa, dia akan lebih prefer memilih wanita tangguh untuk jadi partner berjuangnya. Karena seorang lelaki yang seperti itu, cenderung lebih paham bahwa pernikahan bukan sekadar wadah untuk bersenang-senang.

Karena lelaki yang sudah paham hendak membawa ke mana kapalnya berlayar, yang punya beraneka ragam impian di benaknya. Dia cenderung mencari pendamping nakhoda yang lebih kalem menghadapi keadaan, lebih tenang menghadapi rintangan. Karena dengan partner yang demikian, seorang lelaki akan lebih sigap memegang kemudi, seorang lelaki tidak harus selalu kerja dua kali: meyakinkan dirinya sendiri pun sekaligus meyakinkan pasangannya.

Pada kondisi sekompleks itu terkadang wanita perlu benar-benar pandai berakting, pandai berpura-pura menguatkan dirinya, agar sang lelaki lebih fokus pada kemudinya. Bayangkan saja jika lelaki itu harus berlama-lama meyakinkan pasangannya, mengalihkan fokusnya berkali-kali, bisa saja kapalnya sudah pecah dibelah ombak.

Tak perlu malu jika banyak yang beranggapan bahwa kau menjadi seorang yang sok tegar, sok kuat, sok enggak pernah terluka dan semacamnya. Karena bisa jadi kebiasaanmu yang pandai membuat diri terlihat biasa-biasa saja dan memilih lebih sering membagikan keruetan pada Tuhan adalah kebiasaan yang akan menyelamatkan bahtera keluargamu kelak.

Jadi, jangan dulu-dulu bangga bisa merasa lega meneriakkan segala luka pada khalayak dan merasa merdeka. Karena bisa saja, yang seperti itu akan menjadi kebiasaan yang bisa membuka peluang bagi tangan-tangan dan bisik-bisik kenyamanan lain saat kelak kau dihadapkan pada situasi maha kompleks dalam urusan berkeluarga.

Jadi, kapan mau belajar lebih kalem menghadapi setiap kondisi?

Jadi, tak perlu terlalu berharap bahwa kelak akan selalu ada yang menguatkanmu dan semacamnya. Karena bisa jadi, kau akan dituntut keadaan untuk lebih, lebih, lebih, dan lebih mandiri serta tabah menghadapi ujian. Iya, jauh lebih kompleks dari yang kau bilang ruet sekarang.

Adik-adiku yang manis, adik-adiku yang masih “nyaman” diombang-ambing perasaan, kurasa kau perlu terus berlatih mandiri sejak bertahun-tahun lalu. Eh, tapi, karena baru baca ini sekarang, belajar dari sekarang pun tak apa.

Emm … andai kau sadar sejak dulu, mungkin sekarang sudah banyak yang mengantre untuk benar-benar menjadikanmu pasangan (bukan sekadar permainan), pun begitu barangkali lelaki yang kau kagumi diam-diam itu. Duh, maaf, keceplosan.

Menyesal doang enggak mengubah keadaan, kan? Belajarlah, belajarlah, karena perihal mengendalikan diri adalah pelajaran sepanjang zaman, bahkan bila nanti yang kita sebut cinta sejati telah tenang dalam liang peristirahatan, pun begitu sebaliknya.

Percaya saja. Kelak akan kau temukan. Seorang baik hati yang tulus mencintaimu. Dia mampu menerima kelemahanmu. Mengerti akan segala keanehan mu. Sabar menghadapi keras nya kepala mu. Tetap waras saat kau dilanda ketidakwarasan. Tetap menyayangi mu meski terkadang tak kau hiraukan. Saat kau asyik dengan dunia mu, dia akan memahami. Saat kau sedih, dia rela menjadi badut untukmu. Menghiburmu. Dia akan selalu ada untukmu.
—  dirstories
Bisnis dan Kapitalisasi Aurat

Sebelumnya, saya memohon maaf jika mungkin tulisan saya menyinggung. Saya tidak bermaksud menyinggung siapapun, hanya ingin menceritakan sesuatu yang semoga menjadi pengingat bagi saya sendiri khususnya sebagai muslimah sekaligus sebagai (calon) pengusaha in sya Allah. Cieee…

Kita hidup di jaman di mana hijab menjadi sebuah trend. Menutup aurat bukan lagi sebuah keanehan dan perempuan berpakaian syar'i sudah menjadi pemandangan familiar. Sekitar belasan tahun ke belakang, menutup hijab adalah hal yang janggal, aneh, dan seringkali di larang.

Kemudian kebutuhan akan hijab menjadi meningkat di masyarakat. Bagi orang - orang yang bisa melirik peluang, bau uang sudah tercium dan pasar hijab, saya juga pernah mencoba bermain di dalamnya dulu dan akhir-akhir ini, and seriously, menjanjikan! Kata seorang customer desain saya yang mantan direktur marketing salah satu perusahaan hijab (syar’i) lokal terbesar di Indonesia, justru karena banyaknya saingan, itu menandakan bahwa pasar hijab begitu banyak. Jika tidak ada peluang pasar di dalamnya, tidak mungkin pengusaha - pengusaha merambah ke dunia itu. Tentu saja, perdagangan hijab berkelas - kelas, dari kelas Pasar Baru dan Gasibu hingga Saphira atau Zoya. Dari yang setipis saringan air hingga yang syar’i seperti milik Rabbani atau Nibras Hijab.

Banyak hal positif dari bisnis hijab. Muslimah - muslimah Indonesia tidak lagi kesulitan menutup aurat. Simbiosis mutualisme antara produsen dengan masyarakat bukan?

Saya tidak akan membicarakan hijab, tapi lebih kepada bisnis kecantikan lain yang berawal dari populernya hijab. 

Ceritanya, hari Selasa lalu dalam mata kuliah Design Thinking, kami diminta presentasi mengenai branding bisnis atau rencana bisnis kami masing - masing. Salah satu teman saya mempresentasikan bisnisnya yang berupa kerudung printed. Scarf printed memang sedang populer, terutama jika desainnya dari brand terkenal seperti Ria Miranda. Motifnya biasanya bunga - bunga, dengan warna pastel yang syahdu, manis sekali walaupun saya tidak pernah ingin mengenakannya. O ya, karena printing kain masih mahal sekali, yang saya tahu, hijab printed biasanya berukuran kecil kecuali dari brand milik Gaida.

Saya hanya fokus pada teknis dan proses brandingnya ketika  Profesor kami dengan agak sungkan bertanya, “saya ingin bertanya pada kalian yang berhijab di sini. Hijab itu kan untuk menutupi aurat ya, nah kerudung bercorak warna warni gini kan membuat perempuan jadi cantik dan memikat banyak laki - laki. Itu gimana ya, bukankah hukumnya justru tidak boleh demikian dalam Islam? Saya tidak tahu ini ya, tapi bahkan brand W**d*h juga membuat seakan perempuan tuh harus (dandan) cantik, begini, begitu.”

Terus terang saya merasa ditampar. Hal ini membuat saya berpikir lebih jauh lagi. Pengusaha kebanyakan akan melihat kecantikan yang seakan Islami dari sisi peluang. Serius deh, saya juga pernah bekerja di perusahaan kosmetik yang disebutkan dosen saya itu (walaupun saya tidak mengerjakan project decorative, tapi skin care). Bisnis muslimah adalah pasar besar yang dilirik banyak orang. Di sana kita bisa jualan apa saja, asal brand ambasadornya berhijab dan ada label halal, seakan - akan semuanya sudah memenuhi syarat menjadi muslimah.

Wardah adalah yang mengawali penjualan kosmetik dengan label halal, dan memang tujuannya demikian, memberikan garansi dan rasa aman pada santri yang ingin merawat kulitnya (merawat kulit, bukan berhias) karena banyak kosmetik yang tidak halal bahkan najis. Di jaman ini, semuanya bergerak sesuai dengan perkembangan pasar dan bisnis. Banyak brand kecantikan kemudian ikut-ikutan menggunakan label halal dengan bintang iklan berkerudung demi menarik minat pasar muslimah, padahal belum tentu secara syariah yang dipamerkan di televisi dan media itu diperbolehkan. 

Tentu saja, bisnis yang mendukung muslimah ini banyak manfaatnya. Kita jadi mengerti bagaimana harus berpenampilan baik, kita jadi mudah merawat diri, dan yang jelas ini adalah ladang rejeki bagi banyak sekali orang dan bidang.

Yang menjadi kontroversi adalah ajang Putri Muslimah, yang diprotes banyak orang karena membawa nama muslimah tapi memamerkan kecantikan di depan khalayak. Sponsor memberinya sponsor bukan karena mendukung kegiatan tersebut, tapi karena takut kesempatan menjadi sponsor direbut oleh kompetitornya. Lagi lagi kepentingan marketing.

Saya sendiri bukan yang sudah mengenakan hijab syar’i (semoga suatu hari nanti), saya juga masih sering berhias dan berdandan, karena begitulah kecenderungan wanita : ingin berhias dan terlihat cantik. Bagi saya, sulit sekali mengenyahkan nafsu ingin kelihatan cantik. Barangkali banyak perempuan juga begitu.

Lalu apa ujung dari tulisan ini? Sebenarnya lebih kepada mengingatkan diri sendiri dan barangkali teman - teman yang mengamati hal yang sama, bahwa kita perlu lebih berhati - hati. Dalam jaman yang begitu dinamis dan kapitalis, banyak sekali produk yang dengan mudah akan memuaskan nafsu kita berhias. Saya sendiri masih kebayang - bayang untuk membeli lipstik warna merah menyala. Tentu saja perempuan boleh berhias, tapi dengan batasan - batasannya. Dan batasan ini sesungguhnya mutlak sesuai tuntunan agama, namun pengaplikasiannya begitu relatif sesuai dengan yang mau kita percaya.

Duh, pada akhirnya, tulisan ini mengkritik diri saya sendiri yang kerap tidak peduli bahwa apa yang saya kenakan jauh dari kewajiban muslimah. 

Sekali lagi saya mohon maaf jika ada yang tidak sepakat. Kita bisa berdiskusi di belakang, karena fenomena bisnis muslimah ini sangat menarik bagi saya. 

Wallahualam Bissawab.

ksatriabulan  asked:

kak @academicus , aku mau nanya, sekarang aku baru mau mulai untuk mengembangkan kegemaran sejak kecil, yaitu nggambar, tapi melihat diluar sana banyak yang lebih jago, dan mahir, aku jadi minder sendiri, ada saran kak ?,ntar kalau udah sembuh dari penyakit mindernya, tak kasih hadiah gambarku deh, walaupun sebenarnya lebih bagus gambarnya anak TK, (sumpah kak, gambarku jelek2 banget,) hehe.. makasih jawabannya kak :)

Halo @ksatriabulan​​,

Selamat sudah mau memulai mengembangkan hobi semasa kecil! Ditunggu kiriman gambarnya :)

Jawaban singkat saya untuk pertanyaan ini sama seperti saran saya untuk berkarya yang dari dulu cuma satu: mulai aja dulu.

Tapi karena masalah utamanya adalah minder, saya mau berbagi tiga cerita singkat tentang berkarya. Dua diantaranya diambil dari buku Kreatif Sampai Mati nya @maswaditya. Semoga bisa membantu mengubah sudut pandang kita agar lebih berani untuk mulai berkarya.

1. Semua Dimulai Dari Amatir

Pandji Pragiwaksono, adalah salah satu pahlawan saya dalam berkarya. Saya penikmat karyanya, seperti yang pernah saya ceritakan di salah satu tulisan sebelumnya.

Saya sebut pahlawan karena dari dia saya belajar banyak hal, terutama bagaimana caranya berkarya maksimal dengan tetap menjadi diri sendiri.

Saran “mulai aja dulu” datangnya dari Pandji. Di salah satu diskusi tentang Indiepreneur, Pandji bilang hal yang sangat riil ketika ada yang bertanya hal yang kurang lebih sama,

“Saya mau nulis, tapi takut karena tulisan saya jelek. Gimana caranya saya bisa menulis sebagus mas Pandji?”

Kata Pandji, “semua orang mulai dari bawah. Kalo lo ga percaya, jangan lihat tulisan gue yang sekarang. Lihat tulisan blog gue jaman dulu”.

Besoknya, saya scroll sedalam-dalamnya blog pandji.com sampai ke tulisannya di tahun 2004. Di halaman terakhir, saya menemukan tulisan ini.

Udah, gitu aja. Pandji Pragiwaksono, menulis tentang kentut!

Aneh, lucu, dan ajaib. Pandji yang sekarang kita kenal sebagai standup comedian yang punya tur dunia, penulis buku-buku nasionalisme, dan pembawa gagasan besar di industri kreatif memulai karir penulisannya dengan menulis tentang kentut di blognya.

Tapi dengan konsisten menulis dan menulis, kita bisa melihat sendiri perubahan bahasan dan gaya menulis Pandji dari tulisan yang dulu ke tulisan yang sekarang.

Sebuah bukti bahwa semua dimulai dari amatir.

You need to start somewhere, or you will never going anywhere.

2. Rangkul Keterbatasan

Kalau kita merasa bahwa kita memilki kekurangan sehingga takut berkarya, kisah Phil Hansen akan jadi cerita yang wajib disimak.

Phil Hansen adalah seorang seniman yang memulai karirnya dengan frustasi. Dia suka menggambar, tapi sejak kecil dia tidak bisa membuat garis lurus. Setiap kali dia membuat garis lurus, tangannya tremor, bergetar, dan selalu menghasilkan garis yang bergelombang. Jika dia paksakan, tangannya akan terasa sakit dan dia tidak bisa menggambar.

Bagi Phil yang bercita cita menjadi seniman, hal ini merupakan kekurangan besar. Bagaimana bisa dia menciptakan seni yang hebat jika membuat garis lurus saja tidak bisa?

Tapi dia tidak berhenti hanya karena merasa dirinya tidak mampu. Phil terus bereksperimen sampai dia akhirnya menemukan polanya sendiri dan menyadari satu hal: dia mungkin tidak bisa membuat garis lurus, tapi dia bisa membuat titik-titik.

Dia akhirnya menemukan bahwa dia bisa melukis menggunakan teknik pointilism, yaitu membuat lukisan dengan menggabungkan titik-titik. Phil bereksperimen dengan berbagai objek besar, dan hasilnya justru membuat dia menjadi seniman dengan karya yang berbeda dan sangat ikonik.

Contohnya gambar bruce lee raksasa yang dibuat dengan cap tangan

Atau portrait Tesla yang dibuat dengan menggunakan mesin las.

Karya unik Phil lainnya beserta video pembuatannya bisa dilihat di philinthecircle.com. Phil, adalah contoh nyata bahwa sesuatu yang kita anggap sebagai “kekurangan” justru bisa menjadi keunikan dan ciri khas kita. Syaratnya, jangan minder sebelum memulai.

Keep exploring and you will find a way.

3. Semua Karya Ada Penikmatnya

Jika masih ada yang takut berkarya karena ragu akan ada yang suka, maka wajib kenal dengan M Dot Strange.

Strange, seperti namanya, adalah pembuat film animasi yang dicap aneh oleh banyak orang.

Aneh karena dia menghasilkan karya animasi yang sangat aneh. Film animasi perdananya berjudul We Are The Strange, berdurasi 88 menit, dan menggabungkan teknik stop motion, animasi 2 dimensi, dan animasi 3 dimensi.

Film ini bertambah aneh karena ceritanya yang aneh. Belum lagi karakter utamanya yang juga aneh: eMMM, seorang boneka berkepala besar dengan tato M di jidatnya dan Blue, gadis berwajah anime jepang yang digambar dengan animasi 2 dimensi dan terkadang 3 dimensi.

Teknik yang digunakan sangat tidak lazim, sehingga Strange kemudian membuat trademark sendiri untuk tekniknya, yaitu Strange + 8 bit + Anime = Str8nime.

Aneh. Sumpah, aneh banget. Kalau ga percaya, bisa tonton sendiri filmnya di Youtube.

Banyak orang yang berpikir film ini sangat aneh sehingga tidak mungkin akan ada yang suka. Ternyata mereka salah.

Saat film ini dirilis di Sundance Film Festival, banyak yang mencemooh. Tapi saat film ini rilis di Youtube,  “keanehan” Strange justru memunculkan penggemar berat.

M Dot Strange menjual filmnya dalam format DVD, dan saking lakunya, subtitlenya kemudian tersedia dalam 17 bahasa. Menandakan kekuatan fans yang mau bersukarela menerjemahkan film aneh ini.

Kini, M Dot Strange telah menelurkan lebih banyak karya dengan gayanya yang aneh. Dia membuktikan bahwa berbagai macam karya sejatinya memiliki penikmatnya sendiri-sendiri. Kita tidak bisa berharap semua orang suka, tapi di luar sana, pasti ada yang bisa mengapresiasi karya kita.

Tugas kita adalah bagaimana mempertemukan karya kita kepada penikmat yang tepat.


Sekali lagi, tiga cerita tadi menjadi bukti, bahwa karya kita pada akhirnya akan bisa bertemu dengan penikmatnya.

Dan satu-satunya cara untuk sampai ke sana, adalah dengan mulai berani menciptakannya.

Salam kreatif!

aku ?

terkadang menjadi seorang ambivert bukan sesuatu yang menyenangkan ataupun menyedihkan, seimbang, menurutku demikian.

aku menulis karena bagiku ada bahagia yang aku ciptakan sendiri ketika aku melakukannya. aku menulis karena begitu banyak pemikiran yang tercipta ketika sisi introvert sedang menguasai diriku.

aku menikmati bagaimana rasanya tenggelam dalam pemikiran yang berkecamuk seorang diri, karena aku sudah tahu bagaimana membuat pemikiran itu tidak serta merta menakutkan untukku. aku sudah menemukan media untuk menyalurkannya, salah satunya dengan menulis.

apa yang kamu lihat belum tentu sama dengan apa yang terlintas di pikiranmu. pun begitu sebaliknya. begitu juga dengan bagaimana sikap yang aku tunjukkan kepadamu. bukan berarti itu aku yang sebenarnya. mengenal tentang aku tidak rumit tapi tidak juga bisa hanya dengan sekali bertemu

bila nanti kamu menemukan aku jauh berbeda dengan apa yang aku tuliskan, aku yang terlihat seperti anak-anak, aku yang terlampau banyak berbicara, aku yang terlampau sering bergerak kesana kemari. mungkin sisi ekstrovert sedang menghuni diriku secara penuh saat itu. 

tidak selamanya aku bersikap demikian, terkadang aku bisa betah berlama-lama berdiam diri tak mengeluarkan sepatah kata pun meski sedang berada di tengah keramaian sekalipun.

beginilah aku, seseorang dengan sisi introvert dan ekstrovert yang menghuni bagian di diriku secara utuh. jika tidak siap dengan keanehanku, maka jangan coba untuk mendekat, aku takut kamu yang akan kewalahan sendiri melihat perubahan sikapku

apapun penilaianmu tentang aku, itu sepenuhnya pendapatmu yang tak bisa kularang. tapi bagiku, aku mencintai segenap diriku dengan utuh. aku bersyukur dengan segala keanehan yang aku miliki, dengan segala kehilangan dan kedatangan, dengan segala yang pernah, sempat dan sedang aku miliki. hanya sesederhana itu caraku menjadikan diriku sendiri bahagia ;)

Kita adalah dua keanehan yang dijebak semesta untuk terkurung pada sebuah ruangan, lalu perlahan menyadari satu sama lain bahwa “keanehan” tidak berlaku bagi orang-orang “aneh”. Tanpa kesepakatan, kita mulai sama-sama meng-aamiin-i bahwa terkadang semesta bercanda dengan begitu manis.
Karena Telinga

Saya ingat ketika setahun lalu saya bertanya pada Mas Anuanu tentang satu perbedaan di antara kami yang mungkin tidak familiar bagi sebagian orang yang kami kenal (bukan hal mendasar, dan sesungguhnya biasa saja, ga ada masalah bahkan setelah kami jalani. Anggap saja sekelas dengan persoalan dia suka makan Bengbeng saya suka makan Top Delfi).

Karena yang menjalani perbedaan seperti kami bukan mayoritas, beberapa orang menjadikannya bahan bercandaan. Bahkan ada yang menganggap saya yang kecentilan. Wajar sih, dulu juga saya biasa saja mendengar bercandaan tentang ini. Tapi ketika saya sendiri menjalani dan menjadi subyeknya, rasanya kok gak lucu lagi ya, ehehe. Kembali lagi ketika saya menanyakan soal perbedaan itu ke Mas Anuanu, jawabannya kira-kira kayak gini, “aku suka kok yang kayak gini. Aku sih ga masalah, asal kamu gak terlalu dengerin omongan orang.”

Ke belakang, ternyata perbedaan yang tidak masalah bagi kami ini kadang - kadang masih aneh bagi orang lain. Barangkali karena kami adalah dua alien aneh yang tersesat di bumi, maka yang menjadi keanehan bagi orang lain adalah hal yang biasa bagi kami. Atau barangkali saya belajar mendewasa darinya, hingga mengerti bahwa perbedaan kecil ini bukan apa - apa, sebab banyak sekali hal - hal prinsip dan krusial yang lebih butuh perhatian. 

Dia benar, kalau saya terlalu mendengarkan omongan orang, maka ini akan menjadi masalah. Kenyataannya, saya masih terlalu mendengarkan omongan orang. Padahal orang lain hanya bercanda, sayanya yang terlalu perasa.

Akhirnya saya mengerti, bahwa yang harus pintar diajari bukan hanya mulut, tapi juga telinga. Telinga harus tahu kapan dia mendengarkan, kapan dia harus berlagak tuli, dan kapan dia harus menjadikan sesuatu yang didengar sebagai pembelajaran.

Akhirnya saya paham, mulut yang saya anggap masih bodoh ini, tidak lebih bodoh dari telinga saya yang menjadikan segala sesuatu yang didengar masuk ke hati, lalu merembet ke mata.

Akhirnya saya menerima, bahwa telinga ini kurang bijak hingga mengikis bahagia.


Bahasa gaulnya, woles aja keles Diiiin…

Bandung,
08 Januari 2017

Cari orang yang mau menerima kekurangan kamu, jatuh cinta sama keanehan kamu, tapi nggak membiarkan kamu memelihara sifat-sifat burukmu. Kamu itu kacau, perlu diperbaiki, pakai cinta.
—  (Source: namasayakinsi)
Kambing dan Serigala

“Wahai Presiden, sesungguhnya apa yang sudah kau perbuat sampai-sampai kambing gembalaanku bisa tidur nyenyak di samping serigala? Sungguh, ini sebuah keanehan yang sangat!”

“Wahai Rakyatku, sesungguhnya hal itu bukanlah peristiwa yang aneh. Kau tahu, selama ini aku hanya mencoba memperbaiki hubunganku dengan Rabb-ku, hingga kemudian Ia pun memperbaiki hubungan kambing dan serigala pada masa kepemimpinanku ini.”


Jadi kesimpulannya, kunci memperbaiki hubungan kita dengan orang (bahkan makhluk) lain adalah dengan lebih dulu memperbaiki hubungan kita kepada Allaah, Rabb semesta alam.

Bagaimana hubungan kita dengan teman-teman, relasi kerja, ayah, ibu, suami, istri, anak-anak, bahkan mungkin dengan hewan peliharaan kita.

Nanti, jangan lagi sekadar bertanya, kenapa suami kita begini, kenapa istri kita begitu, kenapa teman kita nyebelin, kenapa sama tetangga ga akur, kenapa kita sering berselisih paham dengan orang tua, kenapa anak kita bandel, susah diatur, ga mau nurut, bla bla bla.

Bahkan jangan pula marah-marah sama kucing kesayangan kita di rumah. Kenapa dia rewel terus, jumpalitan ga keruan, galak, judes, suka ngumpetin ikan asin beserta sambal dan lalapnya, suka nyakar-nyakar tembok ga jelas, suka jambak-jambak bulu dengan penuh kegalauan, sampai-sampai kita kepikiran ngasih dia minum Ki*anti, siapatau lagi PMS.


[repetisi]

Ternyata kunci dari semua itu adalah bagaimana kita berusaha memperbaiki hubungan kita dengan Allaah, sebelum kita memperbaiki yang lain-lain. Jangan buru-buru memandang yang jauh, barangkali jendela rumah kitalah yang terlalu berdebu, sampai-sampai rumah tetangga kita tampak kumuh sekali, dan kita terlanjur marah-marah.


Oya, kalau saja “presiden” tadi hidup di masa kini, tentu dia berhak mendapat nobel perdamaian. Semoga Allaah merahmatimu, wahai khalifah Umar bin Abdul Aziz. *heart emotikon*

*kontemplasi dan alarm pagi :))

Kisah Langit Malam

Malam ini jalanan begitu padat, orang-orang beramai-ramai mengunjungi pusat perbelanjaan. Sedang di atas langit, Bulan memperhatikan manusia. Tidak biasanya manusia berkerumun seperti itu. Karena Bulan penasaran dengan apa yang sedang terjadi di bawah sana, ia pun mengirim secercah cahayanya menuju bumi. Cahaya.

Tidak perlu waktu lama bagi Cahaya untuk mencapai bumi. Cahaya pun kagum melihat bangunan sebesar dan semewah itu. Ia pun masuk dan melihat-lihat. Banyak gerai dirubung manusia. Namun, ada suatu gerai yang sangat ramai. Lebih ramai dari gerai lainnya. Karena penasaran, ia masuk menuju gerai berwarna serba merah muda tersebut.

Ternyata ini adalah gerai busana perempuan. Cahaya melihat ada tiga macam pakaian. Kerudung, bawahan, dan kemeja. Rasa penasarannya mulai menggunung, ia mulai melihat-lihat satu-persatu.

Tergantung berbagai macam motif kerudung. Ada kerudung panjang dan ada kerudung yang begitu pendek, kerudung yang jika digunakan mungkin tidak sanggup menutupi bahu secara keseluruhan. Anehnya kerudung pendek itu berharga jauh lebih mahal dari kerudung panjang. Cahaya tidak ingin pusing memikirkannya kenapa bisa sedemikian rupa, ia pun berpindah.

Cahaya melihat celana-celana tersusun rapi di atas sebuah meja besi. Ada dua macam celana, celana panjang dan celana pendek, bahkan sangat pendek. Jika digunakan, dari atas paha sampai bawah kaki pun tidak tertutup sama sekali. Lagi-lagi ada keanehan pada celana. Celana pendek itu juga harganya jauh lebih mahal dari celana panjang. Padahal bahan yang digunakan lebih banyak celana panjang, bukan? Sama seperti pada susunan rok. Rok pendek memiliki harga lebih mahal daripada rok panjang. Cahaya juga tidak ingin pusing memikirkan hal itu. Ia berpindah menuju jenis pakaian terakhir.

Kemeja-kemeja baru tertata rapi pada gantungannya. Tidak ada yang aneh pada kemeja ini, sampai Cahaya benar-benar memperhatikannya. Adalah kemeja yang biasa dan kemeja yang begitu tipis, tipis hingga sinar dari Cahaya dapat menembusnya. Mungkin jika digunakan mampu menerawang tubuh pemakainya. Yang begitu aneh, kemeja tipis tersebut harganya jauh melambung tinggi dibanding kemeja biasa yang tebal tadi. Cahaya tidak ingin ambil pusing memikirkannya.

Cahaya keluar dari gerai yang sangat berisik itu. Dalam hatinya menggumam.

Apakah ini yang disebut berpakaian tapi telanjang?

Lagi-lagi Cahaya malas memikirkannya, malam ini ia sedang tidak ingin berpikir berat. Cahaya lalu kembali pada Bulan. Dalam detik kedua, ia telah sampai pada Bulan.

“Apa yang terjadi di bawah sana?” tanya Bulan pada Cahaya.

“Ada lautan manusia, bangunan megah, dan banyak pakaian!” jawab Cahaya bersemangat. Bulan hanya mengangguk-angguk.

“Menurutmu, kenapa kerudung pendek bisa lebih berharga dibanding kerudung panjang?” tanya Cahaya.

“Entah.” jawab Bulan singkat. Dalam hati Bulan menggumam.

Mungkin kerudung pendek untuk yang berakal pendek, sedang kerudung panjang untuk yang berakal panjang.

“Saat tadi kamu di bawah, barang apa yang paling banyak dibawa manusia?” tanya Bulan sebelum Cahaya kembali menyatu dengannya.

“Yang harganya mahal, yang serba pendek itu!” katanya. Dan Bulan pun menggumam dalam hatinya.

Itulah perempuan. Terkadang mereka lupa betapa berharganya diri mereka.

“Huh, malam ini begitu aneh! Mudah-mudahan saja esok pagi Matahari tetap terbit seperti biasa.” ucap Cahaya.

“Jika Matahari tetap terbit, apa kamu yakin ia akan terbit di tempat biasa?” tanya Bulan dengan senyum tipis.

“Hmm, Entah. Hanya Allah yang tahu.” jawabnya. Dan Cahaya pun kembali beristirahat dalam Bulan.

Sedang di bawah sana, manusia masih terseret pada dunianya.

Dan Langit, yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara Bulan dan Cahaya. Perlahan menurunkan bulir-bulir air. Sekilas tampak gerimis. Padahal, ia seperti… menangis.

Dalam perjalanan kembali ke Bogor, 22 Juli 2015 | Seto Wibowo

Katamu; Berpikir Lebih Sederhana

Aku percaya bahwa Tuhan mengenalkanmu untuk berbagai tujuan yang tentu saja tak bisa sekadar ditebak. Tapi dari mengenalmu aku belajar banyak hal.

Entah kau mengakui keberadaanku atau tidak, tapi bagiku kau adalah teman diskusi yang ‘aneh’. Aku suka ketika mulai berdebat tentang hal kecil, bahkan sampai hal yang bisa sama sekali tidak aku kenali.

Banyak keanehan-keanehan yang berdampak positif untuk kehidupanku.

“Kamu itu terlalu ribet. Makanya kamu jadi susah sendiri.”

Salah satu nasihat yang berpengaruh besar pada pola pandangku terhadap sesuatu. Sejak malam itu, sejak kalimat itu meluncur menyodok hati. Aku baru sadar betapa rumitnya pola pandangku sebelumnya.

Sejak malam itu, berangsur tapi pasti, aku mulai menikmati berpikir lebih sederhana. Nyaman, damai, dan aku tak perlu menakuti ketakutan-ketakutan yang gagah mengajak berperang. Ketakutan yang kukarang sendiri, ketakutan yang terkadang justru aku lebih-lebihkan.

Aku menemukan satu sisi hidupku yang sebelumnya tidak aku kenali. Terima kasih, kamu 'teman’ yang baik. Teman?

Kasihan

Kasihan ya pada orang yang berani mengetok palu hakimnya atas orang lain dengan begitu mudah. Sekali dua kali melihat kejadian yang sebenarnya tidak dia mengerti, lalu membuatnya mengambil kesimpulan sendiri.

Kasihan orang - orang ini. Tidak pernah memberi kesempatan orang yang berbeda dunia dengannya, untuk memperkenalkan diri. Sehingga, yang dikenal hanya itu - itu saja, yang sama dangkalnya dengan mereka.

Kasihan ya, orang - orang pintar ini. Mereka hanya punya dua mata, yang digunakan sekedarnya. Mereka lupa bahwa mulut bisa dipakai untuk bertanya. Alih - alih mengajak bicara orang yang dirasa berbeda, mereka justru hanya bermain dengan prasangka, lalu mencari pendukung yang sama - sama tak paham apa - apa.

Kasihan ya, orang - orang hebat ini. Buatnya, filosofi dan pemikiran mendalam hanya barang absurd yang tak perlu dipahami. Mereka berpura - pura paham di depan, tapi lalu membicarakannya sebagai sebuah keanehan di belakang.

Kasihan ya, orang - orang di depan pagar ini. Tak pernah mengetuk pintu, apalagi masuk rumah. Sukanya hanya mengintip dari balik gerbang, dan tak pernah mendapat gambar yang benar tentang isi di dalam rumah itu.

Kasihan, sungguh kasihan.