kawan

Cinta seorang kawan ketika dia mengajak sahabatnya berbuat kebaikkan kepada Allah.

Sayangnya seorang kawan ketika dia menyedarkan kita apabila kita terpesong dari landasan Allah.

Kasihnya seorang teman ketika dia tidak pernah lupa berdoa untuk sahabat sahabatnya.


Sesungguhnya doa seorang sahabat tidak ternilai harganya sama seperti nilai persahabatan.

Please please please ingat aku dalam doa kau. Rindu dekat kau sangat sangat :(

Oi, mãe. Não precisa se assustar, isso não é uma carta de despedida e muito menos avisando que fui assassinado. Mas só queria te dizer que morri. Morri quando eu precisava desabafar com você, mas seus problemas eram maiores que eu, então resolvi deixar pra lá. De lado. Morri das inúmeras vezes que me senti vazio e que nunca pôde contar com suas palavras de incentivo. Morri quando tirei nota baixa na prova, mas que não sabia como te contar, porque sempre soube que você não iria aceitar. “Você não trabalha, não tem dívidas, não paga embasa, então você tem o direito de passar”. É isso que você sempre dizia. Sem ao menos ligar se isso me atingia ou não. Mas eu te entendo. Você é mãe. Morri quando eu quis assistir aquele filme que tava em últimas semanas no cinema, mas que nunca fez questão de me levar. Morri quando queria chegar pra dizer que te amo e simplesmente nunca soube como te acalmar. Quando eu quis te abraçar, beijar teu rosto e até mesmo te apertar. Morri de tanto você falar o que eu não precisava ouvir. Merecia, não minto. Mas não precisava. Morri quando eu pegava todas suas dores pra mim. Morri de tanto te ver chorar pelo pai. Acabei morrendo tentando viver. Morri. Por você.
—  M Kawan.
Tens que amar. Tem que amar com intensidade. Amar sem pensar. Amar sem enjoou. Tratar bem esse amor, pra florescer, criar raiz. Ame sim, ame a si mesmo.
—  ARQUEJAR
LAMARANMU KUTOLAK...!!!

(Kisah Sederhana, Jenaka tapi Penuh Makna)

By: Thoriq Ahmad

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.

Melalui ta'aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk

melanjutkannya menuju khitbah.

Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.

Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru

pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang

sekarang amatlah berbeda.

Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka

menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang

lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’

sang perempuan muda, dari sisinya.

“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.

“Iya, Pak,” jawab sang muda.

“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? ” tanya sang setengah baya

sambil menunjuk si perempuan.

“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.

“Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak

bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model

seperti itu!” balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal

sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”

“Lamaranmu kutolak. Itu serasa 'membeli kucing dalam karung’ kan, aku

takmau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.

Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya,

keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang

lelaki muda. Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”

“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.

“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di

Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.

“Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama

istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo

rumahku ini kan?”

“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak

yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”

“Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok

mau ngatur keluargamu?”

Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”

“Kamu lulusan mana?”

“Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus

terbaik di Indonesia lho Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM

ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”

“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya

saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”

“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik

anak-anakmu kelak?”

Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”

“Jadi kamu sudah bekerja?”

“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera

jualan produk saya Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu

nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”

“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak

terlalu laku.”

“Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu,

kalau kerja saja nggak becus begitu?”

Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”

“Rencananya maharmu apa?”

“Seperangkat alat shalat Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”

“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan

uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”

Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”

“Kamu bisa apa itu, internet?”

“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak

saya nge-net.”

“Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan

anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”

“Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter,

Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”

Bisikan, “Tapi Ayah…”

“Kamu kesini tadi naik apa?”

“Mobil Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya

Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”

“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”

“Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini

namanya payah. Memangnya anakku supir?”

Bisikan, “Ayahh..”

“Kamu merasa ganteng ya?”

“Nggak Pak. Biasa saja kok”

“Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang

cantik ini.”

“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”

Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan

soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang

muda yang sudah menyerah pasrah.

“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur'an dan Hadits?”

Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.

Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh

juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.

Hadits-pun cuma dari Arba'in yang terpendek pula.”

Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu

cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja

pun, aku masih tertatih.”

Mata sang muda ikut berkaca-kaca.

Ini harus happy ending, bukan?

Perhatikan SIAPA Sahabatmu

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a. beliau berkata:
“Rasulullah s.a.w. telah bersabda, maksudnya: ‘Seorang Mukmin itu berada di atas agama (gaya hidup dan perilaku) sahabatnya. Maka, salah seorang daripada kamu hendaklah memerhatikan dengan siapakah dia bersahabat.’“

(Riwayat al-Tirmizi dan Abu Daud)

#hadis #hadith #rasul #sahabat #teman #kawan #hurairah #nabi #muhammad

Eu amo seus defeitos, até os piores. Você tem algo que me prende a você e não me deixa amar outro alguém. Amo o jeito que você sorri, e o jeito de quando está emburrada. O jeito de como você fica brava, e quando você mostra teu lado boba feliz. Seu lado sensível me cativa. Sua carinha de “eu sou frágil” me chama a atenção, desperta meu lado “quero cuidar da sua fragilidade” e quando na verdade eu não quero só cuidar quando você está frágil, meus planos são cuidar de você, para sempre.
—  Kawãn Lemes (a-r-q-u-e-j-a-r)