kang dan

Memilih Pasangan

Topik yang galau?
engga galau ko ini.. sebetulnya ini materi salah satu meetup Nuparents yang ingin saya bagi. Harapannya siapapun semakin mantap dengan langkah yang dipilih.
 
Survey kilat tentang memilih pasangan masih seputar cara memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidup. Cara yang baik mendapatkan pasangan dan cara yang tepat mengenali diri pasangan. Surprisingly, jika membahas tentang memilih pasangan ternyata tidak hanya sekadar itu. Lebih jauh lagi, ini adalah tentang membangun peradaban.

Alhamdulilah NuParents punya kesempatan untuk diskusi langsung dan membuat heboh rumah koordinator ITB Motherhood teh Yuria Pratiwhi Cleopatra. Teh Patra dan pasangannya kang Ismir salah satu pasangan yang menginspirasi untuk saya pribadi, bagaimana pasangan ini melibatkan Allah dalam setiap sendi-sendi keluarga mereka. Teh Patra mengawali diskusi dengan menekankan keluarga sebagai bagian dari peradaban dimulai dari memilih pasangan. 

Memilih pasangan bukanlah proses main-main, tapi merupakan proses yang memang harus disikapi secara serius, sebab sebagai calon orangtua kita memiliki kewajiban terhadap (calon) anak untuk memilihkan calon ibu atau ayah yang baik. Satu hal yang perlu kita ingat, menikah perlu dilakukan dengan proses yang sesuai dengan syariat, termasuk juga ketika memilih dan mengenali pasangan ini.

Jika prosesnya diawali dengan ikatan-ikatan tidak halal yang tidak sesuai dengan syariat, lalu bagaimana? mangga tanyakan pada hati :) . Teh Patra menyampaikan, “Mengenal calon pasangan sebelum nikah bukanlah jaminan pernikahan akan berlangsung dengan baik karena semua sifat asli akan muncul setelah menikah sehingga proses mengenal pasangan adalah proses seumur hidup.”

Saya sering bertanya-tanya apakah dua individu yang dipertemukan dalam ikatan pernikahan keduanya selalu cocok bagi satu sama lain? Ternyata tidak. Setiap manusia unik, karenanya memang tidak ada satu orang individu yang akan benar-benar cocok untuk individu yang lainnya. Kalau kata teh Patra, “Kesempurnaan pasangan justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Jika keduanya sudah sempurna, dimanakah letak peran untuk saling mengisi dan saling menghebatkan?” Lalu, apa yang sebaiknya menjadi landasan kita dan pasangan memberanikan diri untuk terikat dalam pernikahan?

Tidak ada yang lain selain untuk beribadah, untuk membangun peradaban agar anak-anak kita kelak menjadi kontributor dalam peradaban Islam. Nah lho, atas tujuan sebesar dan seserius ini, mungkinkah jika kita mengawalinya dengan hubungan dan perasaan yang justru tidak terletak dalam koridor keridhoan Allah?

Menikah adalah satu-satunya cara untuk membangun keluarga. Tapi, jangan sampai kita menjadi keluarga yang sekedar bertahan: sekedar bisa hidup, memiliki keturunan dan menjalani hidup selayaknya orang kebanyakan. Mengapa? Jelas, sebab kita tidak bisa menjadi keluarga yang biasa-biasa saja untuk membangun peradaban. Apa yang perlu dilakukan untuk bisa membangun peradaban?

Pertama, mau membangun peradaban berarti mau berjuang untuk mewujudkannya. Bagaimana cara berjuangnya? Cara yang paling konkret adalah dengan tidak berhenti belajar; yang pertama dan utama adalah belajar ilmu agama (termasuk Tafsir, Sirah Nabawiyah dan Fiqih praktis), ilmu bahasa, menguatkan spesialisasi pada suatu keilmuan atau peminatan serta mengupdate wawasan tentang apa yang sedang terjadi pada realitas sekarang ini.

Kedua, membangun peradaban bersama keluarga berarti juga bahwa keluarga tersebut harus memiliki visi dan misi yang jelas serta sama-sama memiliki semangat dan usaha untuk dapat mewujudkannya. Untuk dapat mewujudkan setiap visi dan misinya, milikilah proyek bersama keluarga yang tentunya mengandung kebermanfaatan yang luas dan berkelanjutan. Untuk menunjang hal ini, keluarga teh Patra rutin mengadakan rapat keluarga.

Itu kan kalau sudah menikah, kalau belum, apa yang bisa dilakukan?

Sebelum menikah, lihatlah seseorang dari potensi yang dimilikinya, lalu kelak ketika sudah menikah berilah ia kesempatan untuk mengoptimalkan potensinya. Niatkan dalam hati, “Setelah menikah dengan saya, pasangan saya bisa menjadi seseorang yang hebat.” Ayo buatlah resolusi dan beranilah untuk memperjuangkannya! Ketiga, perjuangkanlah komunikasi dengan pasangan (dan seluruh anggota keluarga). Mengapa perlu diperjuangkan? Sebab, membangun peradaban tentu tidak dilakukan dengan komunikasi biasa yang ala kadarnya. Dalam pernikahan nanti, komunikasi ini sering menjadi masalah, maka salah satu harus ada yang mengalah meski ia tidak bersalah. 

Serius mau membangun peradaban?

Yuk persiapkan sejak sekarang! Semoga Allah mempertemukan masing-masing dari kita dengan orang yang bisa berkolaborasi sepanjang hidup dan membersamai kita dalam langkah-langkah untuk mewujudkan cita-cita besar membangun peradaban.

Pesan teh Patra, carilah yang berpotensi berjuang! ;) 

Favorite Trainees [Week 3]

So … I’m obsessed with produce 101, I don’t miss 1 episode…

1- My favorite, the charming, the sweetiest Kang Daniel  AKA daddy Dan!


2-The Greek God, son of Aphrodite himself Ong Seong Woo!

3- He came crashing the door and became one of my favorites Hyung Seob:

4- This anxiety trainwreck called Kim Dong Bin:

5- I love introspective boys, so Park Woojin makes to my top 5!

Kalau ortu ikut baca Insya Allah langsung dapat SIM (Surat Ijin Menikah) 😅
.

Repost dari @diy_diyyah - “Aku mencintaimu.. Tapi, lebih mengharapkan-Nya.

Aku merindukanmu dalam do'a.. Meski ku tak tahu dirimu.. pangeran yg tertulis di lauhul mahfudz.. ”
.

(Haduch..haduch.. baper baca bukunya kang abay..😆😆 Menangis,tersenyum dan tertawa saat baca buku.. dan rasanya bahagia dan terharu karna abis baca buku ini ternyata ayahku juga ikut membacanya.. jadi diy yakin ayah bakal tambah tahu cinta dan cita diy☺☺)
.

Terima kasih kang abay dan teh nia yg menginspirasi😊🙏..jujur saat baca buku ini, bayangan kalian berdua selalu muncul dan mampu menggambarkan sosok athar dan ara 😅.. Semoga Allah swt mempertemukan kita lagi ya.. Aamiin

#cintadalamikhlas #testimoniCDI #kangabay #novelcdi

The Way I Lose Her: Ngamen!

Ada seseorang yang terus kamu jatuh cintai biar bagaimanapun keadaannya. Berkali-kali dilukakan olehnya tak lekas mampu membuatmu membencinya. Dan untukku; seseorang itu adalah kamu.

                                                       ===

.

Tak perlu waktu lama, berita itu pun langsung menyebar begitu cepat dari mulut satu panitia yang membawa HP ke panitia yang lain di sekitarnya. Begitu juga dengan gue dan Cloudy, dia menatap gue sebentar, gue balas menatapnya penuh tanya, tapi Cloudy juga tampak tidak mengerti. Tanpa pikir panjang gue langsung berlari ke dalam sekolahan sambil masih ribet membawa tumpukan banyak kertas disusul dengan Cloudy di belakang.

Ketika melewati lapangan basket, Ikhsan terlihat sedang turun dari genteng mirip kaya monyet baru beres ngegondol nangka lalu kemudian dia ikut berlari di sebelah gue juga.

“Ada apaan nih, Nyet?!” Tanya Ikhsan sambil mencoba memakai seragamnya kembali.

“Tau nih. Kayaknya penting banget.” Tukas gue seraya terus berlari.

Selang lima menit, keadaan menjadi riuh ramai di dalam ruang rapat. Seluruh panitia kelas tiga yang sampai sekarang masih belum hadir membuat para panitia kelas satu dan dua pada bertanya-tanya. Mereka ribut banget di dalam ruang rapat. Cloudy terlihat khawatir dan terus mencoba menghubungi ketua OSIS namun teleponnya tak kunjung diangkat.

Tiba-tiba, pintu ruang OSIS dibuka dengan begitu terburu-buru. Dari luar masuk para panitia kelas tiga dengan wajah yang begitu cemas. Seluruh kelas mendadak hening. Para panitia kelas tiga berdiri di sudut kelas sedangkan kang Ade langsung berdiri di depan kami semua. Cloudy yang tadi ada di sebelah gue langsung berlari dan berdiri juga bersama kakak kelas tiga yang lain.

“Siang.” Kang Ade mulai angkat bicara.

“Siang, kang.” Semua anak menjawab serentak.

Kang Ade menghela napas panjang sebentar.

“Kita mendapatkan berita buruk, teman-teman.”

Seluruh anak-anak semakin hening. Suara detak jam dinding serasa begitu nyaring.

“Dua orang sponsor utama kita menarik diri. Detailnya masih belum bisa saya kasih tahu, tapi secara garis besar mereka dengan terpaksa harus memutuskan kontrak dengan Bazzar kita. Dan berita buruknya adalah semua itu berimbas kepada divisi bendahara. Setelah melakukan kalkulasi ulang, kita benar-benar kekurangan dana yang cukup banyak.”

“…” Kami semua masih mencoba menyimak.

“Acara kita ini sudah tinggal menghitung hari, jadi sudah tidak mungkin mengalami perubahan yang signifikan, mengingat segala hal utama sudah tercetak dan kita sebar juga ke beberapa sekolah. Oleh karena itu, saya mau nanya apa ada yang punya usul dari mana kita bisa mendapatkan dana tambahan?” Tanya kang Ade.

Kelas sempat diam sebentar, sebelum tiba-tiba mereka saling ricuh memberikan pendapat. Ada yang berdiskusi, ada yang langsung mengusulkan usul yang ada di kepala mereka. Segala ide cemerlang dan ide goblok muncul di satu waktu. Ada yang mengusulkan kami untuk menarik sumbangan dari anak-anak kelas, ada yang usul buka kedai Nasi Padang di depan sekolahan (ini sudah dapat dipastikan usul Ikhsan.), ada yang usul jualan Donat ke kelas-kelas, ada yang usul kencleng Jumat dijadikan uang tambahan buat Bazzar (ini usul gue, biar Bazzar kami jadi Bazzar syariah.), ada yang usul ngamen di jalan, bahkan ada juga yang mengusulkan meminta sumbangan dari orang tua murid.

Setelah berdiskusi cukup lama, kang Ade lalu menenangkan para panitia yang masih pada ribut itu.

“Setelah menimbang dan memilah, kami setuju dengan beberapa usul yang kalian berikan. Yang pertama adalah, selama beberapa hari ke depan akan ada giliran tugas untuk masuk ke kelas-kelas dan berjualan jajanan pasar, nanti akan saya buat divisi khusus yang bertanggung jawab atas makanan yang dijual. Kedua, kami ambil usul kalian yang tentang mengamen itu. Dan setelah sempat saya diskusikan dengan teman-teman yang lain, saya menugaskan kalian para panitia, hari sabtu malam minggu ini, kita akan ngamen bareng di perempatan lampu merah Dago, tepatnya di dekat mall Planet Dago (Dago Plaza), Bandung. (Saat ini lebih tepatnya di dekat daerah Dukomsel, dan depan Pizza Hut/Hanamasa Dago, Bandung.)”

Kami semua terdiam. Beberapa ada yang langsung berdiskusi dengan teman di sebelahnya tentang perintah yang baru saja dikeluarkan oleh kang Ade. Sedangkan gue dan Ikhsan malah terlihat exciting banget! Gimana enggak, ini bakal jadi acara yang super duper rame! Teriak-teriak di jalanan terus main gitar sambil nyanyi-nyanyi di malam sabtu di kota Bandung yang pasti sejuk dan enak banget!

Tak perlu waktu lama, pada akhirnya kami semua setuju untuk ngamen bareng sabtu malam nanti.

.

                                                                        ===

.

Sabtu
17.00

Setelah memarkirkan motor gue di parkiran mall Plago (Planet Dago), gue langsung bergegas menuju meeting point anak-anak panitia yang berada tepat di halaman mall Plago ini. Di sana gue lihat sudah ada Ikhsan dan anak-anak panitia yang lain. Ada yang bawa makanan, ada yang jajan, ada juga yang lagi ngerokok asik sambil nongkrong di bawah pohon. Dari jauh rasanya gue melihat sosok yang sudah tidak asing lagi. Di sebelah Ikhsan tengah berdiri seseorang dengan badan yang agak berisi. Rasa-rasanya gue kenal nih.

Ketika gue berjalan semakin mendekat, betapa terkejutnya gue ketika melihat ada sosok Bobby di sana. Doi datang sambil membawa Jimbe kesayangannya. Gue langsung loncat ke arah Bobby dan memeluknya, emang orang gendut tuh paling enak buat dipeluk ya. Empuk banget!

“Wah Bob, lo kan bukan panitia? Kenapa bisa ikut ngamen, Bob?” Tanya gue sambil terus ngusap-ngusap perut Bobby.

“Noh, gue diajak si Ikhsan.” Jawab Bobby.

“Emang boleh, San, bawa orang luar?” Tanya gue lagi.

“Boleh kok, gue udah izin sama kang Ade.”

“Waaah bagus deh, gue makin semangat nih! Lo dateng ke sini naik apa, Bob?”

“Mobil.”

“Sendirian?” Tanya gue lagi.

“Enggak. Berdua kok.”

“Lha, sama sape?”

Belum sempat Bobby menjawab, dari jauh terdengar seseorang memanggil ke arah kami bertiga.

“OOOOIIII!!! Gue cariin ternyata lagi pada di sini!”

Tiba-tiba dari depan gue ada sosok yang membuat gue langsung terperangah luar biasa.

“Bob, Nih kunci mobil lo. Thanks yak.” Ucapnya sambil menyerahkan kunci mobil ke arah Bobby.

“Udah ngambil tas-nya?” Tanya Bobby.

“Udah.” Katanya sambil tersenyum, lalu sebentar kemudian ia melihat ke arah gue. “Mukanya biasa aja kali. Kaya lagi liat siapa aja.” Sindirnya.

“…”

Dalam keadaan yang masih tertegun, diam-diam gue melirik ke arah Ikhsan. Ikhsan juga melirik ke arah gue sambil masih nyetem gitar yang ia bawa dari rumahnya.

“Ini kenapa bisa ada Ipeh di sini?” Tanya gue tanpa bersuara ke arah Ikhsan.

Ikhsan cuma geleng-geleng.

“Mana gue tau?! Gue cuma ngundang si Bobby, eh nih kuntilanak malah main ikut aje!” Jawab Ikhsan tanpa suara juga.

“Nanti kan ada Cloudy juga?! Lha terus ini gimana dong?!”

“Gue nggak tanggung jawab ah..” Jawab Ikhsan sambil berlalu begitu saja.

BHANGKE!! SAHABAT MACAM APA DIA!!
ADUUH!!
BAKAL SECAPEK APA GUE NANTI MALAM YA TUHAAAAN…

Dengan cepat gue langsung menengok ke arah Ipeh. “Kenapa elo bisa ada di sini, Peh?” Tanya gue heran.

“Diajak Bobby.” Jawabnya sambil tersenyum riang.

“Masa sih, Bob?” Gue melirik ke arah Bobby.

“Bohong, nih begundal yang ngerengek pengen ikut.”

“Tuh kan. Tamu nggak di undang berarti elu itu, Peh.” Tiba-tiba Ikhsan datang dari belakang dan langsung ikutan memojokkan Ipeh.

“Ya biarin dong. Bobby aja boleh datang masa gue enggak? Diskriminasi!”

“Ya kan emang gue ngajaknya cuma si Bobby doang, berarti Bobby dah dapet izin. Nah elo? Udah kaya toge dalam tahu aja lo, tiba-tiba muncul di tempat yang nggak tepat. Gimana nih, Dim? Pulangin aja dia ke rumahnya?”

“Hmm…” Gue pura-pura mikir.

“Ayolah, Mbe… Boleh ya? Lagian masa elo tega sih nyuruh gue pulang sore-sore begini.” Rengek Ipeh.

“Nggak bisa Peh, gue sebagai panitia yang dengan jobdesc Kontraktor harus menyeleksi siapa saja yang berhak ikut acara ngamen agar acara ini berjalan kondusif.” Kata gue penuh wibawa.

“Hah? Kontraktor?”

“Iya, Kontraktor. Itu loh ketua yang ngurus-ngurus jalannya acara.”

“ITU KORDINATOR, KUYA!!!” Teriak mereka bertiga kompak di telinga gue.

“…”

Akhirnya karena nggak tega, gue izinin Ipeh untuk ikut meramaikan acara ngamen malam ini, lagian gue rasa kehadiran Ipeh mampu membuat ngamen hari ini berjalan lebih ramai. Ipeh ini paling ahli dalam membangun suasana agar lebih ceria soalnya.

Acara ngamen akan dimulai sekitar selepas Isya nanti, karena mengingat jam-jam segitu biasanya daerah Dago ini bakal penuh dengan mobil dan tak jarang menimbulkan kemacetan. Nah kebetulan banget, jalanan macet adalah sesuatu yang kami tunggu-tunggu untuk kegiatan ngamen malam hari nanti.

Sekarang jam masih menunjukkan pukul lima sore. Beberapa anak panitia masih banyak yang belum datang, tapi ada juga yang sudah asik nongkrong-nongkrong sambil ketawa-ketiwi di berbagai sudut mall Plago. Suasana Bandung sore ini begitu cerah, langitnya begitu biru diselingi awan dan matahari yang bersembunyi di belakangnya. Semua keindahan itu turut andil dalam membuat sore hari ini begitu sejuk dan nyaman. Tipikal udara Bandung yang seperti biasanya.

Bandung yang memang terkenal karena udara sejuknya itu membuat sore hari ini semakin menawan. Beberapa pohon besar yang berdiri di pinggir trotoar membuat polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor tak begitu terasa.

Sekarang gue lagi berdiri di sini, di balkon lantai dua menatap kosong ke arah jalanan. Di bawah gue terlihat banyak sekali anak dari sekolah kami sedang berlalu-lalang. Ada yang jajan, ada yang mulai main musik sendiri, ada yang rokokan, ada juga yang jalan-jalan di dalam Mall.

Dari atas gue bisa melihat Ikhsan dan Bobby sedang asik dengan teman-teman barunya. Ikhsan bermain gitar, Bobby bermain Jimbe, sedangkan teman-teman yang lain pada bernyanyi mengiringi. Kang Acil terlihat sedang duduk mojok di kursi kayu sambil menatap fokus ke arah HP-nya yang gue tahu doi sedang menonton film apa; Film Budidaya Ikan Sidat. Juga gue melihat dari sebrang jalan ada Mai dengan poni khas-nya; Baru turun dari angkot, lalu kini sedang celingak-celinguk berusaha untuk menyebrang jalan.

Gue menghirup dalam-dalam aroma Bandung sore ini. Fuuuh.. begitu segar rasanya. Sedang asik-asiknya memperhatikan keadaan sekitar, tiba-tiba mata gue menangkap satu sosok yang sedang duduk sendirian di teras depan Mall Plago. Anak perempuan berperawakan mungil, rambutnya pendek sebahu, pipinya embem, mengenakan tas ransel berwarna merah, memakai kaos oblong putih dan celana jeans biru usang. Ia duduk sendirian di sana sambil memegang sebuah minuman Ice Tea Bubble yang saat itu sedang ngetren pada masanya.

Gue memperhatikannya sebentar dari atas sana. Gue lihat ia sedang merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel kesayangannya. Ia terlihat sedang mengetik sesuatu sebelum kemudian ada suara SMS masuk ke HP gue.

“Dimanaaaa? Temenin gue :(“ Tulisnya di SMS itu.

Gue tersenyum membacanya. Membaca sebuah SMS dari cewek pemenang kejuaraan karate antar SMA tapi paling takut kalau ditinggal sendirian seperti itu. Setelah memasukan HP ke dalam saku lagi, dengan cepat gue turun ke lantai satu lalu mampir sebentar ke kedai penjual minuman Bubble untuk membeli minuman yang sama seperti yang Ipeh beli tadi.

Setelah pesanan gue datang, gue diam-diam berjalan menghampirinya. Belum sempat menyadari gue ada di belakangnya, gue tempelkan minuman dingin yang sedang gue pegang itu ke pipi kiri Ipeh. Sontak Ipeh terkejut, menatap gue sebentar, lalu langsung memasang wajah cemberut.

“Dih kok cemberut.” Tanya gue yang lalu duduk di sebelahnya.

“Dingin tau! Lagian itu berair, bedak gue nanti luntur ih!” Jawabnya ketus.

“Duileee, sejak kapan lo jadi centil begini pake bedak segala? Lagian Nona ini mau ke mana sih pake bedak segala? Ada angin apa hayooo?” Tanya gue lagi sambil menyeruput minuman itu.

“Gapapa dong. Protes aja lu.”

Gue hanya terkekeh mendengarnya marah-marah. Setelah percakapan sebentar tadi, kini kami berdua terdiam menatap ke arah jalanan yang sama. Tak ada sepatah kata pun terucap di antara bibir kami berdua. Ipeh menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang tengah selonjoran itu.

“Tumben, Peh lo bisa keluar jam segini?” Tiba-tiba gue memutuskan untuk membuka percakapan.

Ipeh menengok ke arah gue, “Iya, tadi udah izin kok. Lagian gue bosen, Mbe, di rumah mulu.”

“Loh? Emang sekarang udah jarang keluar?”

Ipeh mengangguk-angguk.

“Hoo.. Emang kegiatan lo belakangan ini apa sih?” Tanya gue lagi.

Namun belum sempat Ipeh menjawab, gue kembali melontarkan pernyataan.

“Belakangan ini, rasa-rasanya gue jadi nggak tahu kegiatan lo apa. Apa yang lo lakuin hari ini, ke mana lo pergi, hari ini sudah melakukan apa saja, gue nggak tahu lagi.” Gue menyeruput minuman gue dalam-dalam.

“Kak Ai apa kabar?” Gue kembali melihat ke arahnya.

“Alhamdulillah baik kok.”

“Mbak Afi?”

“Baik juga.”

“Kalau Hanifa?” Gue mendekatkan muka gue ke arahnya.

Ipeh melirik sebentar lalu tertawa kecil, “Buruk nih!” Jawabnya keras sambil menaikkan kedua tangannya guna melakukan peregangan sambil duduk.

“Yaaah rasanya buruk mulu deh keadaan lo. Bahagia dong lo sekali-kali!” Ledek gue.

“Ya habis mau gimana lagi? Bahagia gue lagi pergi entah ke mana sih.”

“Ke mana emang?”

“Hinggap di hati orang lain..”

“Beuuuh… Terus kal..”

“Hayo! Mau mancing-mancing apa lagi lo?!” Belum sempat merampungkan pertanyaan, Ipeh langsung memotong sambil noyor-noyor jidat gue pake jari telunjuknya.

“Hahahahahahahahahaha sialan. Strategi gue ketebak.”

“Fuuuh, basi! Udah kagak mempan!”

“Hehehe, oh iya btw Peh, lo udah izin sama kak Ai atau mbak Afi? Hari ini lo mau pulang jam berapa? Ini bisa sampai malem loh. Bayangin aja acaranya juga dimulai jam tujuh. Kan lo nggak boleh keluar malem setahu gue.”

“Tenang..” Ipeh menepuk-nepuk pundak gue. “Gue udah dapet izin kok..” Lanjutnya bangga.

“…” Gue menatapnya curiga. “Lo izin apaan?” Tanya gue lagi.

“Gue izin keluarnya sama lo. Bhahahahak… Gue bilang kalau ada apa-apa, yang tanggung jawab Dimas.” Ipeh tertawa puas sekali.

“BAH!! Seenaknya aja lu main atur hidup orang!”

“Hahahah ya abis mau gimana lagi, Mbe, orang mereka percayanya cuma sama elo doang.”

“Ah elo, bagian kagak enaknya selalu aja dikasih ke gue.”

“Pahala, Mbe.. Pahala.. Lo udah banyak dosanya, bantu orang sekali-sekali kek biar ringanan dikit itu catatan malaikat di kiri. ”

“Pahala pahala gundulmu! Gue ini anaknya sholeh, Nyet! Gue lahiran bukan lewat Rahim, tapi lewat jembatan Shirotol Mustaqim!”

“Bhahahahahahak begok!” Ipeh tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan gue barusan.

Kami berdua tertawa sore hari itu. Setelah percakapan barusan, suasana kami berdua semakin hangat. Ipeh mulai menceritakan kegiatan sehari-harinya yang sempat tidak gue tahu itu, dan gue juga mulai asik curhat panjang lebar mengenai lelahnya mengurusi Bazzar selama beberapa minggu ke belakang ini.

Lambat laun matahari semakin tenggelam di ufuk barat, anak-anak mulai berhenti melakukan aktifitasnya dan pada memilih untuk duduk bersama di satu tempat, beberapa ada juga yang melaksanakan sholat Magrhib terlebih dahulu. Ketika kang Ade sudah datang, kini semua terfokus pada satu tujuan yang sama, ngamen dan ngumpulin uang sebanyak-banyaknya untuk menunjang jalannya Bazzar kami nanti.

Kami duduk di sebuah kursi kayu panjang yang telah disediakan oleh pihak pengelola Mall. Kang Ade seperti biasa berdiri di depan didampingi oleh kang Acil yang kini celanannya sudah tidak berbentuk lagi lantaran film yang ia tonton di HP-nya barusan.

“Oke saya rasa sudah banyak sekali anak-anak panitia maupun non panitia yang datang sore hari ini. Jadi kita mulai saja ya. Jadi begini, sebelum kita pada ngamen berjamaah nanti malam, ada baiknya kita bagi jadi beberapa tim terlebih dahulu. Tiap tim terdiri dari 6 sampai 7 orang. Silakan kalian tentukan sendiri siapa-siapa anggota tim kalian.” Tukas kang Ade.

Tak perlu waktu lama untuk membuat tempat rapat dadakan yang tadinya sempat hening menjadi riuh tak terkendali. Gue sih sudah pasti ikut geng Keledai gue. Si Ikhsan, Bobby, Ipeh, dan beberapa teman Ikhsan dari kelas lain juga.

Setelah merasa kelompok kecil ini telah terbentuk, kami mulai berdiskusi bersama. Dari yang namanya ingin menyanyikan lagu apa, tempat ngamen di posisi mana, cara ngamennya seperti apa, dan masih banyak lagi. Kini kami semua hanya tinggal menunggu jam 7 datang lalu setelah itu saling berpencar untuk ngamen di tempat pilihannya masing-masing.

.

                                                                ===

.

Ketika gue lagi asik latihan nyanyi-nyanyi bareng sama Ikhsan dan teman-teman yang lain, kang Acil mendatangi gue dan mengajak gue untuk berbicara sebentar di belakang. Tanpa pikir panjang gue langsung mengiyakan dan mengikuti kang Acil menjauh dari teman-teman yang lain.

“Ada apa, Kang?” Tanya gue.

Kang Acil mendekat ke arah gue. “Dim, lo liat Cloudy?” Tanyanya

Eh? Cloudy? Iya juga ya, sedari tadi kok gue nggak lihat batang hidungnya? Biasanya Cloudy paling cepat datang di sebuah rapat atau acara seperti ini. Tapi jarang-jarang dia bisa terlambat seperti ini. Gue coba lihat ke dalam inbox sms gue, tapi di sana tidak ada sama sekali sms dari dia.

Gue menjawab sambil geleng-geleng, “Nggak liat, Kang. Dia nggak nge-sms saya juga soalnya.”

“Waduh, kemana ya tuh anak. Padahal gue rasa tuh anak kalau ikut acara ini pasti ngehasilin duitnya banyak.” Kata kang Acil menggaruk kepala.

Mendengar hal itu, gue langsung ketawa. “Iya juga ya, Kang. Pasti pada pengin ngasih uang kalau dia yang minta mah.”

“Hahahah nah maka dari itu. Yaudah tolong lo sms-in dia atau telepon atau apa kek, tanyain dia ada di mana. Kalau udah ada kabar, lo langsung bilang ke gue yak.” Sambung kang Acil lagi.

Gue terdiam menatap ke arah sisi jalan yang lain tanpa menjawab pertanyaan kang Acil barusan.

“Heh, jawab oi!” Kata kang Acil.

“Kayaknya nggak usah dicariin deh, Kang. Noh panjang umur noh orangnya. Doi baru dateng tuh.” Kata gue sambil menunjuk ke sisi jalan.

Sontak kang Acil langsung menengok ke arah yang gue maksudkan.

“Ah panjang umur tuh anak. Yaudah gue samperin dia dulu ya.” Kata kang Acil semangat.

“Okee..” Jawab gue lalu kembali ngumpul lagi sama temen-temen yang lain.

Tak perlu menunggu cukup lama, kini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Semua anak-anak sudah pada bersiap-siap di halaman mall Plago buat briefing yang terakhir kalinya. Gue dan Ikhsan terlihat begitu exciting, termasuk juga Ipeh. Dari tadi tidak henti-hentinya Ipeh terlihat begitu ceria di samping gue. Nempel terus kaya nasi sama centongnya.

“Mbe, taruhan deh. Hari ini kita dapet berapa?” Tanya Ipeh bisik-bisik.

“Tujuh puluh ribu sih dapet.” Kata gue.

“Oke, gue pegang 100 ribu kalau gitu.”

“Oke deal ya. Yang menang dapet apa nih?” Tanya gue.

“Hmm.. Teh Kotak?”

“Ah bosen ah. Gimana kalau yang menang boleh nginep di kamar yang kalah?”

“Ah itu sih enak di elu, kuya!” Kepala gue dikeprak pake botol aqua kosong yang sudah Ipeh isi sama kerikil.

Gue dan Ipeh lanjut ketawa-ketawa, begitu juga Ikhsan yang sekarang ikut nimbrung. Kang Ade sudah mempersilakan kami semua untuk mulai ngamen. Tidak ada aturan yang kang Ade berikan, alias kami dibiarkan bekreasi sebebas mungkin.

Namun, baru saja gue sedang siap-siap untuk melangkah menembus arah kemacetan, tiba-tiba langkah tim gue terhenti. Di depan gue sekarang sedang ada seseorang yang mendadak datang dan diam begitu saja.

“Dimas.” Panggilnya dingin.

Melihat kehadirannya, Ipeh yang tadi masih ketawa-tawa kini langsung memasang wajah bete.

“Mau apa lu di sini?” Tanya Ipeh ketus.

.

.

.

                                                     Bersambung
                                          (besok di jam yang sama)

Previous Story: Here