kami sama~

Tulisan : Taatnya Perempuan

Bismillah ar rahman ar rahim.

catatan : tulisan ini bersifat subjektif dan merupakan hasil dari pengamatan dan pengalaman pribadi, ditambah dengan beberapa cerita dari teman sebaya.

Semasa masih lajang beberapa waktu yang lalu. Saya belum begitu memahami secara benar tentang definisi perempuan yang baik, atau yang salehah mungkin kata teman-teman yang belajar agama lebih dari saya. Bagi saya, yang masih seperti ini; kacau, ilmu agamanya cetek, bacaan qurannya terbatas, dll. Tidak ada dalam keberanian saya untuk mempersunting kesalehahan seperti yang didefinisikan dalam buku-buku, pengajian, atau yang dipropagandakan oleh akun-akun di media sosial. Bagi saya, perempuan baik adalah perempuan yang baik, cukup itu.

Kecantikan yang ada dalam benak saya pun hanya sanggup menjangkau dari apa yang dilihat dan dengar, seperti bagaimana ia berpakaian, pakaian seperti apa yang ia kenakan, bentuk parasnya, bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain, bagaimana ia bebicara, dan hanya sebatas itu.

Sampai kemudian, suatu hari saya datang ke kajian di salah satu Masjid. Bahwa hal yang paling sulit bagi perempuan yang nantinya menikah adalah ketaatan terhadap suaminya. Apalagi ketika ketaatan itu berpindah dari orang tua kepada suaminya, dan hal-hal yang mengikuti setelahnya.

Rasanya, ilmu itu hanya sampai pada sebatas pengetahuan kala itu. Sampai akhirnya saya menikah dan memahami betul maksud dari ilmu yang dulu pernah saya dapatkan.

Bagi orang-orang yang merindukan kebebasan yang tidak berbatas, mungkin menikah akan menjadi halangan yang luar biasa. Khususnya bagi perempuan. Bagaimana tidak, sebab setiap hal yang nantinya perempuan ingin putuskan seperti keluar rumah, berpakaian, dan hal-hal krusial lainnya nanti harus melalui izin dari suaminya. Tidak hanya urusan seperti itu, bahkan urusan untuk puasa sunah pun kalau suaminya tidak mengizinkan, ia tidak boleh melakukannya.

Sebagai laki-laki saya pun merenung, berpikir lebih banyak, sambil memandang istri saya hari ini. Betapa “ridho” suami itu benar-benar jadi sesuatu yang amat berharga. Dan sebagai laki-laki saya menjadi mengerti tentang makna-makna yang selama ini abu-abu dalam kehidupan berumah tangga.

Menikah itu harus bisa mengendalikan ego. Saya berusaha untuk meredakannya dan dalam sekian bulan pernikahan ini, saya merasa cukup berhasil. Saya tidak ingin mempersulit istri saya demi melihatnya merasa cukup lapang dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Tidak mengekangnya, saya berusaha memberi pilihan-pilihan yang lebih luas dan leluasa. Saya juga selalu berusaha mendukung setiap pilihan-pilihannya yang baik.

Dan saya pun menjadi paham bahwa ketaatan seorang istri itu tidak bisa kita tuntut, ia lahir dari kepercayaannya kepada kita (laki-laki). Dan saya pun menjadi paham bahwa kecantikan yang hakiki dari seorang perempuan adalah ketaatannya. Ia menyadari bahwa setelah menikah, dirinya tidak lagi bebas. Ada suami yang menjadi pertama dan utama. Ada keputusan-keputusan yang dulu ketika masih sendiri, ia bebas memilih, kini harus melalui izin suaminya. Dan berbagai hal lainnya.

Dan ketaatan itu sungguh akan mengalahkan seluruh atribut kosmetik yang menghiasi wajah, jilbab lucu yang ditawarkan di online shop, dan gamis-gamis panjang yang warna-warni yang melekat di tubuh para model dan endorser. Maka, beruntunglah bagi laki-laki yang mendapatkan perempuan yang memahami tentang ketaatan. Dan beruntunglah perempuan yang mendapatkan laki-laki yang tidak semena-mena dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Ketaatan perempuan itu bisa menjadi jalan surga bagi perempuan. Juga bagi laki-laki. Dan kini, kami sama-sama belajar untuk memaknai ketaatan kami kepada Tuhan sebagai jalan kami dalam menjalani rumah tangga ini. Bismillah :)

Yogyakarta, 15 Maret 2015 | ©kurniawangunadi

  • Us: Sensei's depiction of violence, death, mental illness, morale and the concept of justice is problematic. Facing off two opposite factions sensei clearly states that there is no right or wrong, nor in morale, nor in justice, that the line between sanity and insanity is very thin and its drawing depends on whose judgement we are considering - characters whose violence/unhealthy habits can be praised on both sides as long as they serve the purpose of exterminating the opposite factions. Ghouls and humans are similar, they are both wicked, both evil, neither is absolutely right or wrong. Sensei rarely states this explicitly in the manga but rather wisely lets the characters state it through their actions. Sensei is a master of narrative.
  • Ishida: ...
  • Ishida: I am Ishida
  • Sakura: I know someone who has a crush on you ;)
  • Naruto: Is it-
  • Sakura: Not me, baka.
  • Naruto: Oh... Who, then?
  • Sakura: Well I promised I wouldn't tell but... If you guess who it is, it's won't be a problem, right?
  • Naruto: Uh right! Right! Give me a hint!
  • Sakura: This person has pale skin, and black hair, and they're from a very old, powerful clan
  • Naruto: Um...
  • Sakura: Also, when we were in the academy, they were always watching you, though you never seemed to notice
  • Naruto: Eto...
  • Sakura: They have a rare bloodline limit
  • Naruto: *scratches his head and squints*
  • Sakura: It gives them very special eyes
  • Naruto: So, you're telling me this person... *counts on his fingers, muttering* and they... Aha! I get it.
  • Sakura: Finally
  • Naruto: Hehe, Sasuke, that bastard must be pretty embarrassed
  • Naruto: Oh well, I guess it makes sense
  • Naruto: Though it's weird that we're both guys...
  • Naruto: Don't tell him I said this, but I always thought he was really pretty, not like a girl, just, um, in a different way
  • Naruto: And he's really cool, but, but sweet too, like awkward in a cute way when he tries to be nice. Plus we understand each-other.
  • Naruto: Even though we fight a lot- hell, even fighting with him is really fun.
  • Naruto: And those times we kissed... They were an accident, but damn, that bastard had soft lips. I wonder if- uh *blushes* never mind.
  • Naruto: All things considered, it could be a lot worse
  • Naruto: I wonder if I should ask him out on- Sakura-chan?
  • Sakura: It's- It's-
  • Naruto: Sakura-chan, your eye is twitch-
  • Sakura: HINATA
  • Naruto: What?
  • Sakura: HINATA, SHE'S THE ONE WHO- HINATA, SHE'S A GIRL, SHE'S ALWAYS- THE CHUNIN EXAMS, NEJI'S COUSIN, YOU CAN NOT BE THIS DENSE, BAKA NARUTO!
  • Naruto: ...
  • Sakura: ...
  • Naruto: I don't get it. What does Hinata have to do with Sasuke and me?
  • Sakura: You know what, never mind. Yeah, take him out to eat ramen. Figure out how you'll revive his clan together while you're at it. It's not going to be easy since you're both guys, but when was anything ever easy for you two? It never stopped you before.
  • Sakura: Kami-sama, I tried. I really did. I'll leave the rest up to you.
  • Naruto: Sakura-chan, you're not making any sense. Where are you going? Oi, Sakura-chan!