kami sama~

The Dragneel family
  • The mathernal grandparents: dead
  • The paternal grandparents: also dead
  • The older brother: an immortal dark mage capable of creating demons and resurrecting the dead; also an emperor with a huge army and contradictory intentions; accidentally annihilated a town; at war with his woman for her body - yeah, that’s how it is basically
  • The older brother’s woman: a woman in her 20’s in the body of a 13yo, also immortal, trapped in a crystal, previously immortal, now dead but in spiritual form with a body (?). Mother of a child she supposedly gave birth to after her death - was she even dead to begin with? At war with the older brother.
  • The little brother: resurrected from the dead in form of a demon, previously killed by a dragon; currently somewhere between dragon and human and demon; could possibly destroy the world but thanks Kami-sama he doesn’t know
  • The nephew: born from the dead woman/girl and the immortal guy, in some mysterious way; kinda psychotic; fanservice-y power - very scary indeed; probably somewhere between artificially manufactured human and demon; daddy-complex; about to be scolded severely by mom - the dead woman -…
  • The little brother’s woman: come again?

Haruka: 

Iwatobi Swim Club: WE HAVE BEEN BLESSED. 

Takeru: 

Honan Stride Club: KAMI-SAMA HAS BEEN KIND TO US.

Kageyama: 

Karasuno Volleyball Club: *runs for the hills*

-BONUS- 

*one season of character development later*

Kageyama: 

Entire Fandom:

saya membenamkan muka di balik bantal. saya nggak ingin nangis. tapi toh, saya nangis juga. malam itu adalah malam terakhir kami bersama. besok paginya mas yunus akan berangkat ke Jepang dan saya akan pulang ke Bogor. dua bulan lamanya mas yunus akan belajar di sana. tidak tahu apakah saat pulang Kakak sudah lahir atau belum. tidak tahu sampai kapan kami akan tinggal berjauhan–karena setelah Kakak lahir, saya akan menetap di Bogor sementara mas yunus sekolah di Surabaya.

di antara hal-hal yang paling saya takuti, sendirian adalah salah satunya. saya takut sendirian dan takut merasa kesepian. jadilah saya menangis, membuang muka, sedangkan mas yunus mengusap-usap punggung saya.

setiap akhir minggu selama di Jepang, mas yunus mengirimi saya banyak sekali foto sambil bercerita. juga, berbagai foto barang-barang untuk bayi yang dibelinya. setiap hari kami ber-video-call. dan adalah saat-saat yang menenangkan ketika kami hanya menatap satu sama lain, tidak bicara apa-apa, melepas kangen diam-diam.

ternyata dua bulan tidak berjalan selama itu. mas yunus pulang dan memberikan saya kejutan, berkunjung sebentar ke Bogor sebelum harus kembali belajar. Kakak? ternyata Kakak belum menunjukkan tanda-tanda akan lahir. saya pun diajak mas yunus tamasya ke Taman Safari–kami menyebutnya bulan madu. ini adalah kali pertama kami bisa punya waktu bersama seperti ini. tidak bisa lama, mas yunus harus segera ke Surabaya.

saya kontraksi hebat dan saat itulah mas yunus datang lagi. mas yunus ada di sana, menemani persalinan, mengadzani mbak yuna, ikut mendengar tangisnya yang pertama. keesokan harinya, mas yunus (lagi-lagi) harus segera ke Surabaya.

semalam mas yunus selesai operasi jam 1. saat memberi kabar, saya tengah mengganti popok mbak yuna. mas yunus lalu menelepon (video-call), menemani saya. matanya lelah, tapi hangat sekali. mas yunus tidak berkata banyak, hanya menemani. sampai mbak yuna disusui, sampai mbak yuna tertidur lagi.

dan begitulah. kadang dan sering, kami berdua hanya saling melihat satu sama lain melalui layar kecil, menahan sekaligus melepas kangen. perasaan itu tidak lagi dibicarakan agar tidak lagi menambah beban. lima sepuluh detik saling menatap, sampai-sampai air mata saya keluar sendiri. sampai-sampai kami mencari bercandaan supaya tertawa, atau memilih menyudahi video-call-nya, agar tidak usah menjadi-jadi.

entah siapa yang sesungguhnya lebih tersiksa. seorang Bapak yang harus pergi belajar meninggalkan keluarganya, tinggal sendirian di rantau sana–atau seorang Ibu yang ditinggal suaminya, sendirian mengurus anaknya. sambil dua-duanya, menahan kangen setiap hari dan setiap malam.

bagi kami ini tetap anugerah. bisa saling menyabarkan dan saling menguatkan adalah anugerah. kami beruntung harus menjalani ini, kami yakin ini akan menguatkan kami. mas yunus selalu hadir untuk saya. jauh atau dekat, dirinya ada di samping saya, bersama saya. saya pun demikian.

semoga Allah selalu menjaga hati kami berdua, bertiga. semoga Allah menjadikan setiap rindu sebagai pahala.