kali*

  • Ruby: And over there, Ms. Belladonna, is our dog Zwei.
  • Kali: Oh, how cute! May I pet him?
  • Yang: You’re not scared of him?
  • Kali: No. Why would I be?
  • Ruby: Well you’re a cat faunas, aren’t you?
  • Kali: Kids, just because I have cat ears doesn’t mean I’m actually a cat. Don’t be silly.
  • Yang: Then what about Blake? She is scared of dogs...
  • Ruby: ...And loves fish...
  • Yang: ...And hates the sound of vacuum cleaners...
  • Ruby: ...And sleeps in a box sometimes....
  • Yang: ...And you can distract her with a lazer pointer.
  • Ruby: I even saw her lick herself once!
  • Kali: Oh that....Well I don’t know what to tell you. Blake’s just weird.
  • *Ruby and Yang look over at Blake, who has her hands tangled in a ball of yarn*
  • Blake: A little help.
4

Reset day, so the Saijrakh FC and some friends decided to torture ourselves with the HW raids. From a smooth VA run that devolved into the wipe fest of Dun Scaith, it was shared with good friends and a learning experience for some. Ever the fun time when amidst friends. Always looking forward to more shenanigans with these amazing people. 

@pearlescent-scales @celestial-opposition @oyuun @rottingxiv @oneangryhyur and @summoner-ondine

hito-pinku  asked:

Do you know of any lesbian YA fiction, preferably with an Asian MC?

Yes, I do! For a general list of lesbian YA, check out this goodreads list. You can find my favourites here, under YA and SFF YA (they’re bisexual women and lesbian recs).

Here are the lesbian Asian main characters in YA that I know of, though I haven’t read all of them:

There’s also Huntress and Ash by Malinda Lo, but those are implied and not explicitly Asian.  (You) Set Me On Fire by Mariko Tamaki (review) and When Fox is a Thousand by Larissa Lai (review) are more new adult-ish: they take place in universities.

Hope that helps!

Bisa tidak kamu beri saya pelukan. 5-10 menit.
Saya merasa buruk sekali sekarang. Saya gagal berkali-kali. Lagi, lagi, lagi, dan lagi.
Saya buruk sekali dalam hal ini…

Tolong.

23

Usamah bin Zaid 18 tahun. Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.

Sa’d bin Abi Waqqash 17 tahun. Yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah. Termasuk dari enam orang ahlus syuro.

Al Arqam bin Abil Arqam 16 tahun. Menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut.

Zubair bin Awwam 15 tahun. Yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya.

Zaid bin Tsabit 13 tahun. Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.

Atab bin Usaid. Diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah pada umur 18 tahun.

Mu’adz bin Amr bin Jamuh 13 tahun dan Mu’awwidz bin ‘Afra 14 tahun. Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar.

Thalhah bin Ubaidullah 16 tahun. Orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati demi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi.

Muhammad Al Fatih 22 tahun. Menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa.

Abdurrahman An Nashir 21 tahun. Pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya.

Muhammad Al Qasim 17 tahun. Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya.


Jika usia belia mereka adalah emas, yang mereka tinggalkan adalah prestasi, akal muda mereka bijak melebihi raja. Lalu dihabiskan untuk apa dan bagaimana usia muda saya ini?

Menutup malam yang penuh muhasabah diri sambil berdoa, semoga tidak Allah jadikan kita orang yang merugi. 

Di Antara Pintu-Pintu

Tok. Tok. Tok.

Kapan seseorang membuka pintu? Kenapa seseorang membuka pintu? Sejatinya berapa kali pintu harus diketuk?

Saya berdiri lama di balik pintu. Gegas kaki seseorang sampai ke sini. Dengan harap cemas jari saya menelusuri gagang pintu. Memastikan bahwa gagang itu masih di sana dan kekuatan saya bisa menariknya sempurna. Sehingga pintu berderit terbuka saya melihat seseorang, menyilakan masuk, membagi ruang duduk saya, menyediakan teh, dan kudapan.

Siapa di balik pintu? Saya selalu bertanya-tanya atau sebenarnya pintu itu terbuka. Dan saya berada di luar. Menunggu seseorang mengucap sapa dan mengajaknya berbincang di teras. Sebab pintu agak menjorok ke dalam. Mencoba bertanya hal-hal biasa dan realistis di teras.

Lalu siapa yang akan saya kenalkan pada sepinya kursi tamu di dalam rumah? Berdebunya bingkai-bingkai foto masa kecil tanda tak ada yang tertarik selucu apa saya dulu. Juga kagetnya kucing saya yang tak pernah disapa orang lain.

Saya juga tidak tahu.

Dan di antara pintu rumah telah saya selipkan selamat datang yang kadang berubah jadi selamat tinggal bahkan di lain waktu akan menunjukkan sampai jumpa lagi. Saya selipkan ketiganya lantaran saya sudah takut menggunakan lidah sendiri. Di antara pintu-pintu itu saya selipkan kegamangan saya.

Bengkulu, 2017.;

9

Everyone’s congratulating PBG for his upset outburst towards Jontron, but nobody’s congratulating him for apologizing for it after and showing political disagreements shouldn’t be what destroys friendships.
I have a lot more respect for him because of this and he deserves more credit for it imo.