kakao talk emoticons

Sejarah 2.0

Tulisan menjadi patokan apakah sebuah masa masuk ke dalam zaman sejarah atau zaman prasejarah. Zaman sejarah dimulai kira-kira 4000 SM ketika bangsa Mesir mulai mengenal tulisan. Sejak saat itu, budaya lisan di mana segala sesuatu diperbincangkan dan hal yang penting diingat, tergantikan dengan budaya mencatat. Lalu bagaimana dengan masa sekarang? Sekarang kita tidak lagi berada di zaman sejarah, tetapi telah beranjak ke zaman sejarah 2.0.

Zaman sejarah 2.0 adalah zaman di mana komunikasi dari satu orang ke orang lain atau dari satu kelompok ke kelompok lain terjadi melalui tulisan dalam media digital. Zaman sejarah 2.0 bisa saja dikatakan dimulai sejak digunakannya sms atau e-mail sebagai sarana surat-menyurat secara digital. Tetapi eksistensi zaman sejarah 2.0 yang sesungguhnya adalah ketika ditemukannya aplikasi messenger. Siapa di antara kita yang punya smartphone tapi ga punya aplikasi messenger? Hampir pasti, tidak ada.

Messenger bertebaran di mana-mana. Apapun handphone-nya, android, iOS, windows phone, atau blackberry pasti tersedia layanan aplikasi messenger. WhatsApp, Viber, Line, Kakao Talk, WeChat, dan BBM adalah beberapa di antaranya. Belum lagi aplikasi messenger berbasis sosial media, seperti facebook messenger dan fasilitas chat di Path. Seringkali kita merasa harus menginstall semuanya karena orang lain memiliki aplikasi messenger yang berbeda-beda.

Jumlah pengguna aplikasi messenger di seluruh dunia mencapai angka yang fantastis. Aplikasi Facebook messenger mencapai 700 juta pengguna, WhatsApp 430 juta pengguna, WeChat 300 juta pengguna, Viber 200 juta pengguna, Line 300 juta pengguna, Kakao Talk 120 juta pengguna, dan BBM 100 juta pengguna. Melihat angka-angka tersebut, maka tidak heran jika beberapa waktu lalu Facebook membeli Whatsapp dengan angka yang fantastis, 14,6 milyar USD. Dengan demikian, Facebook menjadi penguasa di ranah aplikasi messenger dengan total lebih dari 1 milyar pengguna (total pengguna Facebook messenger ditambah Whatsapp). Jumlah transaksi komunikasi tulisan digital via messenger pun jumlahnya sangat besar. Misalnya untuk aplikasi Whatsapp, dari satu pengguna saja rata-rata setiap hari ada 1267 pesan dikirim, 2267 pesan diterima, 40 foto diupload, 13 voice message dikirim, dan 7 video message dikirim.

Mau tidak mau, kehidupan sehari-hari kita pun ikut terpengaruh dengan kehadiran messenger. Komunikasi tulisan secara digital menjadi dominan dilakukan. Setiap harinya, handphone saya ramai dengan ratusan hingga ribuan percakapan di WhatsApp dan Line. Pertanyaan dari si anu, sapaan dari si itu, diskusi dari grup yang ini, perbincangan dari grup yang itu, semua mengisi notifikasi handphone saya. Seringkali, jika update-an percakapan dituruti, bisa habis waktu 2 jam hanya untuk membaca-baca percakapan yang berseliweran. Itu pun baru membaca, belum kalau saya menanggapi lalu tanggapan tersebut menjadi sebuah percakapan lebih lanjut yang tentunya akan memakan waktu yang lebih lama. Waktu akan tersita lebih lama melalui percakapan secara teks, itu sudah pasti. Kecepatan yang dibutuhkan untuk mengetik biasanya memang lebih lama dibandingkan kecepatan berbicara. Itu pun belum kalau ditambah waktu loading dari aplikasi messenger.

Mobile messenger memaksa kita menjadi manusia online 24 jam. Mobile messenger membuat seolah-olah kita bisa diakses dan tersedia kapan saja. Oknum R mengeluh karena bosnya masih menghubunginya via bbm bahkan hingga tengah malam. Oknum X marah kepada saya karena saya tidak kunjung menjawab pertanyaannya via messenger. Komunikasi via messenger bertambah rumit ketika aplikasi tersebut menyediakan fitur yang merekam apakah suatu pesan sudah terkirim, apakah pending, apakah sudah dibaca, dan kapan si pengguna terakhir login.

“Pesannya cuma di-read aja sama dia.”

“Yah, gue dikacangin sama dia. Line gue ga dibales.”

“Harusnya sih dia udah baca. Last login WhatsApp-nya jam 3, padahal gue kirim pesan ke dia jam 1.”

Kita pasti familiar (atau pernah merasakan sendiri) situasi di atas. Dengan tersedianya messenger, kita seringkali secara tidak sadar menganggap lawan bicara adalah robot yang akan merespons secara otomatis, cepat, dan tepat setiap pesan yang kita berikan kepadanya. Kita lupa bahwa lawan bicara adalah manusia yang memiliki pertimbangan, emosi, dan berbagai kegiatan offline yang bisa jadi lebih penting dari sekedar membalas pesan online. Pernah mengirim pesan di grup tetapi tidak ada yang menanggapi? Jangan marah, itu tandanya teman-teman kamu adalah manusia, bukan simsimi.

Unsur komunikasi sejatinya tidak hanya meliputi pesan yang disampaikan, tetapi ada unsur lain seperti gesture dan suara. Sebuah percakapan terkadang menjadi rumit ketika disampaikan secara teks. Dalam pesan teks, kita tidak bisa mendengar intonasi ucapan lawan bicara, apalagi bahasa tubuhnya. Pesan teks tanpa intonasi dan bahasa tubuh bisa jadi akan ditangkap oleh lawan bicara dengan maksud yang berbeda. Untuk mengisi kekosongan itu lah emoticon diciptakan. Emoticon berusaha untuk mencoba melengkapi unsur komunikasi sedekat mungkin dengan komunikasi tatap muka. Pada era sms, emoticon hanyalah sesederhana “titik dua kurung tutup” atau “sama dengan huruf p”, kemudian semakin berkembangnya messenger mulai diciptakan icon smiley yang berwarna kuning. Dan kini, diciptakan emoticon yang lebih ekspresif seperti sticker di aplikasi Line atau Kakao Talk. Emoticon generasi akhir ini memiliki variasi ekspresi yang beragam sebagai penunjang komunikasi teks. Tujuannya lagi-lagi agar komunikasi secara teks bisa mendekati komunikasi secara tatap muka. Mendekati, tetapi tidak akan pernah dapat menyamai.

Salah satu alasan mengapa aplikasi messenger begitu disukai adalah karena messenger memungkinkan penggunanya untuk melakukan multiple conversations dengan berbagai orang atau berbagai grup. Di percakapan tatap muka, hal ini tidak mungkin untuk dilakukan mengingat sikap alami kita dalam menghargai lawan bicara adalah dengan fokus berbincang dengannya. Sedangkan melalui messenger, kita bisa dengan sesuka hati menghentikan percakapan dengan satu orang, lalu berlanjut ke percakapan dengan orang lain tanpa membuat lawan bicara merasa diabaikan. Tetapi keuntungan ini bisa jadi membawa dampak yang buruk. Multiple conversations melalui messenger membawa kita kepada percakapan dengan banyak orang secara superfisial atau membatasi kita untuk berbincang secara mendalam dengan seseorang. Terlalu banyak orang yang diajak ngobrol secara teks, terlalu sedikit waktu yang kita punya untuk berbicara secara mendalam. Hal ini terjadi terutama pada orang-orang yang belum pernah kita kenal secara dekat di dunia nyata.

Komunikasi secara teks via messenger juga mengubah cara kita berkomunikasi. Misalnya, dalam berkomunikasi secara teks tidak wajib untuk memulai percakapan dengan sapaan, sesuatu yang sering dilakukan dalam komunikasi tatap muka. Komunikasi teks juga mempengaruhi bahasa tulisan secara umum, seperti penggunaan singkatan yang tidak formal dengan tujuan mempersingkat waktu pengetikan, penggunaan tanda baca dan huruf yang tidak tepat, dan masalah tata bahasa.

Terakhir, messenger membawa orang-orang yang kita kenal atau sekedar kita tau menjadi dekat dengan kita, sedekat jangkauan tangan kita terhadap handphone. Lima belas tahun lalu jika saya ingin berkomunikasi dengan teman saya yang rumahnya selisih dua gang dari rumah saya, saya harus berjalan menemuinya. Sekarang, saat saya ingin berkomunikasi dengan teman yang tinggalnya beda pulau beda negara, saya tinggal menekan-nekan tombol di aplikasi messenger saya. Namun, kemudahan ini memiliki potensi untuk menjauhkan kita dari interaksi terhadap lingkungan terdekat. Sering kita melihat situasi (atau mengalami sendiri) ketika sedang berkumpul tetapi orang-orang di dalamnya sibuk bercakap-cakap dengan orang lain di dalam handphonenya. Dengan begini, dunia terasa ramai jika maya, tetapi terasa sepi jika nyata.

Menjadi pelaku sejarah 2.0:

1. Hati-hati dalam berkomunikasi via messenger. Perhatikan benar apa yang kamu tulis. Jika mulutmu harimaumu, tulisanmu di messenger adalah harimau yang buas. Kata-kata dapat terlupa, tapi tulisan di messenger akan tersimpan selamanya. Saya sering mengingatkan seseorang akan janjinya dengan melakukan screen capture terhadap apa yang pernah dia tulis di messenger.

2. Tidak semua pesan di grup messenger harus kita baca. Karena, berdasarkan pengalaman, tidak semua pesan yang ada itu penting bagi kita. Jika kita ketinggalan ratusan percakapan di grup, kita bisa meminta seseorang di dalam grup untuk membuat rangkuman akan percakapan yang telah lewat dan tidak sempat kita baca. Ini sering dilakukan oleh Oknum I di salah satu grup messenger yang saya ikuti.

3. Gunakan emoticon atau sticker, terutama pada pesan-pesan yang sensitif yang dapat membuat pesan kita disalahpahami oleh orang lain. Katanya, seseorang cenderung untuk lebih frontal dan kasar saat berkomunikasi via teks. Emoticon dapat juga memperhalus pesan kita yang tanpa kita sadari mungkin menyinggung perasaan orang lain.

4. Lawan bicaramu di messenger tetaplah manusia, bukan robot yang akan langsung membalas pesanmu di messenger selama 24 jam. Jadi jangan sedih kalau pesanmu hanya di-read saja. Telepon atau ajak bicara langsung jika memang pesanmu penting.

5. Sekali lagi, komunikasi teks via messenger hanya dapat mendekati komunikasi tatap muka, tetapi tidak akan pernah dapat menyamai. Tidak ada yang dapat mengalahkan komunikasi tatap muka. 

 

방탄 !!!!!!’ 우리 카톡 완전 재밋게 할 수 있다구 오예~~~ 여러분 우리 이모티콘 나왔어염 완전 웃김웃김 끼야야야어야야케케케케

Bangtan !!!!!!’ Oh yeah, we can now have really fun Kakao Talk conversations~~~ Everyone, our emoticons are out and they’re really funny kyaaaaaakekeke

Trans cr; wonnie @ bts-trans 

© TAKE OUT WITH FULL CREDITS

youtube
방탄소년단 Kakao Talk Emoticon release