kacam

Opini: Umat Islam dalam PerSATUan

Hari ini sejumlah ormas Islam mencoba untuk mewujudkan ikatan persaudaraan sesama muslim di Indonesia. Hari ini lokasinya adalah di Jakarta.

Dalam aksi yang diberi nama Parade Tauhid, berbagai jenis orang, laki-laki dan perempuan, mulai dari yang berjilbab terawang sampai berjilbab lebar, yang bercadar dan tidak, yang celananya cingkrang dan celananya isbal, yang merokok dan tidak merokok, serta yang revolusioner dan pengikut nenek moyang. Semuanya melebur mengibarkan sebuah panji bertuliskan لا اله الا الله محمد الرسول الله. Berbagai macam banner berisikan “TAUHID itu (berbagai kacam kata)” diusung dan diarak berkeliling lokasi Car Free Day (CFD) di kawasan Senayan.

Sebelum pelaksanaannya, aksi ini sempat mengundang berbagai macam pro dan kontra. Yang kontra mengatakan bahwa acara ini termasuk mengada-adakan perkara yang tidak ada di zaman Rasulullah, yang pro mengatakan ini merupakan sebuah upaya menyatukan umat untuk membendung aksi-aksi missionaris dan para dedengkot syi'ah dan JIL serta JIN dalam merusak keimanan umat Islam Indonesia.

Yah, masing-masing memiliki dalil dan dasar dalam pendapatnya masing-masing. Saya tidak tahu mana yang lebih tepat, akan tetapi saya lebih menginginkan bersatunya umat Islam di Indonesia. Karena saat ini umat Islam di Indonesia berada dalam keadaan yang sangat lucu.

Sebuah contoh kasus, pada perayaan natal tahun lalu, muncul pro dan kontra hukum pengucapan selamat natal di Indonesia. Saya sebagai pengamat hanya bengong melihatnya, meskipun pada akhirnya saya memilih untuk tidak mengucapkan selamat natal sebagai sebuah bentuk kehati-hatian.

Akan tetapi, sebuah kejadian yang sangat memprihatikan muncul. Seorang teman saya yang beragama katolik membuat sebuah status di akun facebooknya. Dia berkata, “Kami yang merayakan natal kok malah kalian yang ribut? Aneh.” Teman-temannya yang lain meninggalkan komentar, “Berani sekali kau bikin status kayak gini.” Pernyataan ini seakan-akan menjadi bukti bahwa Islam saat ini hanya menebar ketakutan di mana-mana. Puncaknya, seorang kakak tingkat di tempat saya berkuliah melepas keislamanmya karena tak kuat dengan pergesekan* yang terjadi.

Bukan hanya itu saja, masih banyak lagi perdebatan-perdebatan lain yang rasanya miris. Umat Islam saat ini fokus pada perbedaan, akhirnya muncullah Islamophobia dalam tubuh umat Islam itu sendiri. Mereka yang belum siap menerima dakwah secara keras dan tegas menjadi korban-korban permainan media-media kafir yang menghembuskan fitnah bahwa Islam identik dengan teroris, kekerasan, dan intoleran dalam beragama. Akhirnya, muncullah peluang untuk Jaringan Islam Liberal untuk menyebarkan pemahaman menyimpangnya. Bahkan, tokoh-tokohnya tak takut mengeluarkan fatwa semisal, “Berciuman itu tidak haram. Asalkan tidak mengganggu ketertiban umum.” Untung saja ada seorang aktivis anti liberalisme (saya tidak perlu menyebutkan namanya) yang gencar membendung fatwa-fatwa aneh tersebut. Hingga akhirnya tokoh yang mengeluarkan fatwa meralat fatwanya menjadi “Mencium anak kecil itu tidak apa-apa dan tidak haram.” Akan tetapi, yang cukup disayangkan adalah seringkali perdebatan antara aktivis anti liberalisme dan tokoh-tokoh liberal dilakukam dengan cara yang tidak baik, bahkan terasa saling menghina. Hal ini mengundang banyak orang menjadi simpati pada tokoh-tokoh JIL.

Kenyataan ini diperparah dengan telah tertancapnya kuku-kuku JIL di pemerintahan dengan membawa serta tokoh-tokoh syi'ah. Maka semakin maraklah kejadian kristenisasi di Indonesia. Semakin berani pula musuh-musuh Islam yang tadinya bersembunyi menampakkan taringnya. Deislamisasi semakin menjadi-jadi. Bahkan di belakang rumah saya sekarang sudah ada lembaga yang hendak memprakarsai deislamisasi di daerah saya dengan kedok lembaga sosial. Sebenarnya wajar saja semakin banyak yang keluar dari Islam, terutama dari orang-orang kecil. Mereka tak dipedulikan oleh saudaranya yang lebih beruntung, yang lebih memilih berdiam diri di rumah menyaksikan film-film hasil produksi antek-antek yahudi untuk merusak moral anak muda, atau kegiatan-kegiatan lainnya tanpa sekali pun melirik saudaranya yang kesusahan. Padahal, Umar ibn Khattab sendiri rela berkeliling untuk mencari rakyatnya yang kesusahan. Karena aksi lebih penting dari pada diksi.

Seorang pendiri majalah perjuangan Sabiliku Bangkit, Ustadz Zainal Muttaqin, berkata dalam sebuah kajian di kampus saya, “Umat Islam saat ini sedang mengalami involusi dakwah. Jumlah yang memeluk Islam tetap itu-itu saja. Yang terjadi adalah orang di golongan yang satu berpindah ke golongan yang lain. Sangat sedikit yang awalnya bukan Islam menjadi memeluk Islam.” Dalam Daurah Asykariah, beliau juga menyampaikan kepada kami, perwakilan seluruh LDK di daerah Jadebek, “Orang kalau sudah mulai ngaji, semakin sedikit membaca (baca: selain bahan ngaji, seperti masalah politik, kenegaraan, sosial, budaya, dll). Kalian harus tetap membaca yang lain agar wawasan kalian berkembang. Karena ilmu-ilmu itu juga penting untuk kemajuan dakwah.”

Oleh karena itu, upaya penyatuan umat yang diwujudkan dalam aksi Parade Tauhid tahun ini adalah sebuah langkah besar. Ustadz Bachtiar Nasir, pemimpin lembaga AQL di Jakarta, mengatakan, “kita jangan sampai menyerah untuk menyatukan perbedaan.” Ya. Jangan sampai kita menyerah. Bila mengutip pernyataan Ustadz Salim A. Fillah yang kurang lebih isinya, “Bila tidak bisa bekerja sama, maka setidaknya saling bersinergi. Bila tidak bisa bersinergi, maka cukuplah saling mendiamkan dalam jalan dakwah masing-masing.”

Terakhir, izinkan saya mengutip pernyataan seorang ustadz sekaligus penulis kepada LDK kami dalam sebuah kajian beberapa tahun yang lalu. “Kita jangan sampai saling menjelek-jelekkan antara yang satu dan yang lain. Kita tidak tahu siapa yang akan mengembalikan kejayaan Islam, apakah itu Ikhwanul Muslimin, atau Hizbut Tahrir, atau Salafi, atau Jama'ah Tabligh, atau pun golongan yang lainnya.”

Semoga kita tidak mengkultuskan golongan kita sendiri. Kita tidak pernah tahu satu golongan yang dimaksud dalam sebuah hadits yang seringkali digunakan mengkafirkan orang lain adalah golongan yang mana.

Wallahu a'lam. Allah yang jauh lebih tahu tentang segalanya. Apabila ada kekhilafan dalam tulisan saya, tolong diluruskan. Karena saya masih tak lepas dari hawa nafsu saat menuliskannya.

***
Jakarta, 16 Agustus 2015 | © M. A. Anugrahadi