jus deh!

Connor Murphy Self-Harm Headcanons

B i g Trigger Warning to start off for obvious reasons. Talking of self harm, depression, all that fun stuff. 

  • So to my knowledge the ONLY time we see Connor in short sleeves during the show is at the very beginning during breakfast. He puts on his jacket afterwards and keeps it on at school 
  • So the Murphy’s definitely know that Connor self harms, but I imagine they view it the same way they view his pot habits 
  • In the sense that it’s undesirable and disappointing in their eyes 
  • Either that or just, no one acknowledges it 
  • Both his legs and arms are covered in scars and he is really self conscious about it. (hence him wearing a jacket and long clothes when going back to school despite the fact it was probably really hot). He see’s them as another ugly part of himself.
  • He scratches/claws and bites at himself a lot, and because of this his arms and hands are covered in crescent marks. 
  • His hands take most of the damage. Not only does he bite his fingers the most, but Connor also hits things when he’s angry. And these hits almost always leave marks that take a week or two to go away. 
  • He has tried to stop though. The hair tie around his wrist is the biggest example of this. Connor will snap it whenever he gets angry or upset. 
  • Cynthia found his pot? Snap. Zoe’s insulting him? Snap. Some kid called you a freak? Snap. 
  • He also snaps the hair tie when he’s angry with himself. So after he shoved Evan/before he gathered up the courage to approach him in the computer room? You can bet Connor spent a solid 3 minutes snapping that elastic against his wrist as he thought about his outburst. 
  • Also, Connor paints his nails as a way to try and avoid self harm. 
  • The act of painting the nails itself is really soothing for him. It gets him out of his head and keeps him focused on doing something positive, and something he also happens to think looks really cool 
  • Picking away at the paint also lets him stay distracted and break something that isn’t skin 
  • ( After a big freak out Connor’s nails really rapidly go from perfect to chipped. It can alternate from day to day because he’ll paint them, let them dry, and then start chipping at them immediately after )

I have a lot more Connor headcanons but this seemed a good place to stop for now ^^” 

“aku nggak nulis lagi, ah,” kata saya sambil ngulet di kasur.
“loh, kenapa kica?”
“ngapain juga nulis. ada yang baca juga enggak,” maksudnya mau bilang, dibaca mas yunus juga enggak.
“aku baca tau. kamu aja yang nggak tau.”
“aku cuma nulis untuk hadiah, nggak untuk yang lain-lain. aku nulis sebagai bentuk syukurku atas orang-orang yang kusayangi.”
“yaudah, kalau mau nggak nulis juga nggak papa. meskipun aku pasti kangen. pembaca kamu apalagi.”
“kenapa nggak papa? katanya aku disuruh tetap sibuk, tetap bertumbuh, tetap berkembang.”
“iya, tapi nggak harus dengan menulis. kica, intinya lakukanlah hal-hal yang membuat kamu bahagia–selama itu baik dan benar. apapun itu, aku pasti dukung kamu.”

saya diam tak menjawab, bertanya-tanya pada diri sendiri apa yang membahagiakan saya. mungkin cita-cita tertinggi saya saat ini adalah kehadiran mas yunus saat saya melahirkan, adalah kehadiran mas yunus untuk mengadzani anak pertama kami–yang terlalu mustahil sebab ada kemungkinan Kakak akan lahir saat mas yunus tugas luar negeri. pun jika mas yunus sudah kembali ke Surabaya, mas yunus tetap tidak mungkin pulang ke Bogor tiba-tiba.

“kica kangen Bogor, ya? di Bogor kamu sibuk, banyak yang dikerjain. manusia itu, semakin banyak kesibukan semakin bahagia.”
“menurutku, semakin merasa dirinya berarti dan bermakna, semakin bahagia seorang manusia. aku nggak tau seberapa bermaknanya aku di sini, seberapa bermaknanya aku di sana.”
“kamu sama Kakak harta aku yang paling berharga, kica.”
“iya. kadang sulit buat percaya itu, karena keadaan yang nggak memungkinkan. dari nikah sampai sekarang, kita belum pernah macam-macam yang biasanya jadi kegiatan bersama suami istri. belum pernah jalan-jalan bulan madu, belum pernah datang kondangan berdua, mas yunus belum pernah bisa hadir di acara-acara menulis atau iDS-ku, aku belum boleh ikut acara-acara mas yunus dan dikenalin sebagai istri, bahkan kita nggak punya banyak foto berdua karena momennya memang jarang banget ada. kita tuh, sering banget cuma bisa ngobrol kurang dari 500 kata per hari. selangka itu bisa ngobrol gini.”
“kica, sabar ya. nanti insyaAllah ada waktunya.”

saya diam tak menjawab lagi, masih ingin ada mas yunus saat kaki mulai sering kram akibat hamil besar, saat nanti harus begadang mengganti popok atau menyusui setiap beberapa jam, saat Kakak bisa menggenggam untuk pertama kali, bisa mendongak waktu tengkurap untuk pertama kali, saat pertama tumbuh gigi.

hari-hari ini adalah hari-hari terakhir sebelum kami LDR-an untuk waktu yang lumayan lama, namun tetap saja tidak banyak yang bisa kami lakukan bersama. terutama karena saya, sering harus pulang ke Bogor.

“maaf ya mas, aku sering ninggalin mas yunus. sebenarnya nggak peduli di mana aku bisa lebih bermakna, yang jelas mas yunus tetap nomor satu buatku. apapun yang mas yunus minta, insyaAllah aku penuhi. kalau aku diminta mas yunus ke Surabaya, aku pasti langsung ke sini.”
“kamu sama Kakak harta aku yang paling berharga, kica. yang aku minta cuma kamu sabar dan bersyukur. semua akan indah pada waktunya, tetapi semua waktu juga memiliki keindahan sendiri. yang aku minta, kamu bahagia.”

mas yunus kembali tenggelam pada layarnya. sambil berpikir banyak, saya mengambil lotion dan mulai memijati telapak kaki mas yunus. saya selalu ingin bersama mas yunus, tetapi malah sering meninggalkan mas yunus. di benak saya berkelebat bayangan repotnya mas yunus setiap saya harus pulang. cuci baju sendiri, masak sendiri, cuci piring sendiri, beres-beres rumah sendiri. pernah mas yunus ke rumah sakit dengan baju yang tidak disetrika–karena satu lemari habis dan mas yunus tidak sempat menyetrika baju.

“aku tau sih mas yunus orang paling sabar sedunia yang aku kenal. tapi, sabar ya mas, sama aku. mas yunus tetap yang utama (setelah Allah).”
“kicaa, cantik deh. bikinin jus dong,” katanya menyudahi sendunya saya.

seketika saya bahagia. seringkali dimintai tolong, dimintai sesuatu oleh suami, adalah kebahagiaan yang sangat besar bagi seorang perempuan–sebab di sanalah ladang pahala para perempuan terhampar.

dan kemudian, saya menulis lagi. sebab ini adalah hadiah untuk mas yunus, bentuk syukur saya atas kehadirannya.