jossshhh

Leona (Part 8)

Jika aku bersama Leona, aku merasa senang. Aku senang bila ada yang sayang. Namun ketika aku memikirkan hal-hal yang lain, aku merasa khawatir. Dan aku khawatir, bahwa aku tidak bisa memberikan rasa sayang yang sama seperti yang aku terima. Itu membuatku membentengi hatiku dari segala perhatian dan kebaikan yang dia berikan. Aku bisa saja luluh, tetapi aku tidak ingin terjatuh. Aku kenal diriku. Aku ini orang yang mudah menyakiti, meski seringnya aku tidak bermaksud.

Tidak ada keinginanku untuk menjadikan Leona sebagai pacar. Dan lagi pula, malas aku berpacaran. Leona begitu menyenangkan karena ia hanya seorang teman, bukan pacar. Apabila ia menjadi pacarku, sepertinya akan merepotkan. Aku tidak mau repot. Makanya sebisanya aku tidak pernah kurang ajar untuk menciumnya, meskipun aku tahu dia pasti mau. Aku tidak ingin ketika aku menciumnya, maka tanggung jawabku terhadap perasaannya semakin besar. Aku hanya bisa memeluknya. Sejauh itu, sedekat itu.

Sepanjang 4 bulan lebih hubungan kami semakin dekat, tak sekalipun Leona menanyakan perasaanku terhadapnya. Ia sama sekali tidak bertanya. Mungkin ia menyadari, apabila ia menanyakan soal perasaan, maka aku akan bingung, dan kebingungan itu bisa membuatnya kecewa. Aku memikirkan sebenarnya apa maunya. Mungkin ia hanya ingin menyayangiku, namun tidak kulihat ia berharap aku memberikan hal yang sama. Sebab inilah aku. Aku masih menjadi Joshua yang cuek, Joshua yang angkuh, Joshua yang sering tidak peduli, menjadi Joshua yang dia terima-terima saja. Satu pertanyaan baru muncul di kepala: adakah rasa sayang yang tanpa harapan untuk dimiliki?

Kadang-kadang aku juga memikirkan Nicky. Apa ia benar-benar menghilang dari kehidupan Leona? Aku tidak yakin. Bisa saja mereka masih berhubungan, atau minimal Nicky masih keep contact dengan keluarga Leona. Yang kutahu, Nicky begitu dekat dengan keluarga Leona. Sepertinya tidak mungkin kalau Nicky benar-benar lenyap dari kehidupan Leona.

Sebetulnya, ada satu hal yang aku ingin Leona sadari, dan sebetulnya ingin kukatakan kepadanya sejak lama. Bahwa aku bahagia karena hadirnya mengisi hari-hariku, akan tetapi aku tetap bahagia saat ia tidak ada. Dan seringkali ketika ia tak ada, aku bersama Karin.

Malam ini aku janjian bertemu Karin di suatu tempat nongkrong di daerah Kemang. Kutemui Karin ditemani Ronny. Karena katanya, Karin juga ajak temannya, cewek. Mana tahu Ronny dan temannya Karin itu cocok. Kalau cocok, kan seru. Ke mana-mana bisa berempat. Lagian kalau aku pergi sendiri, repot juga. Naik apa? Aku kan nggak ada kendaraan. Makanya aku minta Ronny temani. Dan betapa dia sahabat yang baik dan pengertian, dia mau.

Ini jadi pertemuan kedua antara aku dan Karin. Pertemuan pertama ya pas berkenalan waktu itu. Setengah tahun lebih kami cuma chatting nggak jelas. Beberapa kali kami janjian mau bertemu, tetapi ujung-ujungnya pasti tidak jadi. Entah karena ada acara apa, atau aku yang lupa. Nah, hari ini akhirnya terlaksana juga.

Aku dan Ronny sampai di suatu café sekitar jam 9 kurang, pada malam yang diwarnai gerimis kecil. Kami masuk dan langsung kulihat Karin sedang duduk berdua dengan temannya yang sama cantik. Saat melihatnya, aku sedikit terkejut, karena ternyata rambutnya dipotong pendek. Karin mengenakan tank top dan jeans ketat, kulitnya yang putih terang sudah cukup menjadi pusat perhatian bagi cowok-cowok di café itu. Sementara temannya Karin bertubuh kecil mungil, senyumnya manis dan suaranya begitu menggemaskan.

“Karin, hai!” Sapaku.
“Josh, hai! Ini kenalin, Dinda.” Karin menyapa balik seraya mengenalkan temannya, Dinda.
“Ini Ronny. My Bro.” Kataku.
“Hai, hai.” Sapa Ronny seraya menyodorkan tangan ke Karin dan Dinda. “Udah lama nunggu?” Ronny sok akrab.
“Heheeee, lumayan.” Jawab Karin. Dinda tersenyum, kemudian main HP.
“Karin..” Panggilku.
“Ya, Joshua?” Karin menyahut.
“Sejak kapan?” Aku bertanya.
“Rambut pendek?” Karin menebak.
“Iya.” Kataku.
“Bagus, nggak?” Tanyanya.
“Sangat.” Jawabku.
“Kamu suka?” Tanya Karin.
“Sangat.” Jawabku.
“Terima kasih.” Kata Karin.
“Sama-sama.” Kataku.
“Kamu nggak berubah.” Kata Karin.
“Oya?” Pancingku.
“Kemejanya pun sama.” Kata Karin.
“Oiya, ya? Hahaha..” Aku terkaget.
“Hahaha..” Karin tertawa, tawa yang manis.
“Sengaja…. Takut kamu lupa.” Kataku.
“Hehehe, bisa, bisa.” Kata Karin.
Aku tersenyum, Karin tersenyum, Ronny menyambar, “oh ini yang namanya Karin.” Sungguh basa-basi yang menyebalkan. Aku yakin Karin pasti tahu itu basa-basi.
“Jangan gitu basa-basinya.” Tegurku sambil menyikutnya.
“Hahahaha…” Karin tertawa.
“Hahaha..” Dinda ikut tertawa, walau kurasa dia tidak menyimak.
“Pesan dulu gih, kalian.” Kata Karin.
“Ya.” Aku merespon. Lalu aku memanggil salah seorang server di café itu.

Aku melihat menu, dan kulihat, wah lumayan juga harganya. Lalu aku memesan sebotol beer. Ronny memesan pasta, mineral water, dan beer.

“Nggak makan?” Tanya Karin.
“Mau. Tapi nanti aja.” Jawabku.
“Kapan?” Tanya Karin, lagi.
“Lihat nanti.” Jawabku.
“Tadi siapa namanya?” Karin bertanya ke aku sambil matanya menunjuk ke arah Ronny.
“Ronny.” Aku dan Ronny menjawab.
“Kalian sudah kenal lama?” Tanya Karin.
“Yap.. dari SMA.” Kataku.
“I see.” Kata Karin.
“Dan sekarang satu kampus.” Ronny menambahkan.
“I see, I see.” Kata Karin.
“Kamu dan Dinda?” Tanya aku. Mendengar namanya disebut, Dinda menoleh. “Hah? Kenapa gue?”
“Elo sama Karin udah temenan lama?” Tanya aku ke Dinda, sambil tertawa kecil melihat dia yang terlalu fokus sama HP-nya.
“Oh.. hahaha, iya, dari SMA.” Jawab Dinda.
“Kalian kuliah di mana?” Tanya Ronny ke Dinda dan Karin.
“Umm.. Katanya Joshua udah cerita tentang gue? Hehe.” Kata Karin.
Ronny kebingungan, lalu katanya, “Ngg… Josh belom cerita lo kuliah di mana. Hahaha..”
“Hahaha!” Kami semua tertawa. Termasuk Dinda.

Aku  memandang Karin seperti pribadi yang lain, berbeda jauh dari cewek yang kuajak kenalan di club waktu itu. Dia berubah menjadi sosok yang kayak-kayaknya detail dan banyak tanya. Dia masih ingat kemejaku dan menanyakan hal-hal kecil. Mungkin itu basa-basi saja. Namun tatapannya yang dalam seperti menjelaskan ada sesuatu yang ingin dia tahu lebih jauh.

“Ronny single?” Tanya Karin ke Ronny.
“Hehe, iya nih.” Jawab Ronny, sok manis.
“Dinda juga tuh.” Kata Karin sambil melirik Dinda.
“Eh, apa? Kok gue?” Dinda berlagak insecure.
“Elo jomblo, kan?” Tanya Karin ke Dinda seraya memberi lirikan jahil.
“Hehehe, iya nih baru putus.” Jawab Dinda.
“Putusnya kenapa?” Tanya Ronny.
“Ciyeeee..” Cetusku.
“Ahahahaha…” Kami tertawa lagi.

Di sela-sela percakapan, tiba-tiba Leona meneleponku. Kuangkat.

Keep reading