joging

Dhib ਦਿਬ

Spiritual

ਦਿਬ ਦ੍ਰਿਸਟਿ ਜਾਗੈ ਭਰਮੁ ਚੁਕਾਏ
dhib dhirasaT jaagai bharam chukaae ||
One whose spiritual vision is awakened - his doubt is driven out.

ਗੁਰ ਪਰਸਾਦਿ ਪਰਮ ਪਦੁ ਪਾਏ
gur parasaadhi param padh paae ||
By Guru’s Grace, he obtains the supreme status.

ਸੋ ਜੋਗੀ ਇਹ ਜੁਗਤਿ ਪਛਾਣੈ ਗੁਰ ਕੈ ਸਬਦਿ ਬੀਚਾਰੀ ਜੀਉ॥੨॥
so jogee eih jugat pachhaaNai gur kai sabadhi beechaaree jeeu ||2||
He alone is a Yogi, who understands this way, and contemplates the Word of the Guru’s Shabad. ||2||

zaboravi me još malo

Zaboravi me još malo,

slobodno.

Svakako sam zamislila da mogu kroz život sama.

Odavno sam se već zarekla da me neće

dotaći ruka koja se dvoumi.

Naterao si me da ispitivački gledam

svoj odraz u ogledalu,

da sumnjičavo čitam ono što napišem,

da isključivo kupujem čipkano rublje

- ali ničeg lošeg nema u tome.

Uvek se sve završi tako što poljubim sebi rame.

Jer ja bih mene volela ludački,

ne bih me puštala.

Ali ovo je priča o tebi.


Zaboravi me još malo,

evo

proglasi svaki hobi zabavnijim od mene

i nadji vremena za sve te epizode i utakmice

i stare drugare

i nove drugare,

za viski;

ali nemoj me zvati kada ne budu mogli da utole tvoju nepresušnu glad

za pažnjom,

za potvrđivanjem;

kada ne budu imali vremena da,

zbog svih svojih

hobija, projekata, serija, joge, šejkova i instrumenata

slušaju priče Zlatnog dečaka i sreći i ljubavi.

Jer nikoga zapravo nije briga.

Čak ni tebe.


Ponekad sam sigurna

da me zaboraviš malo

samo zbog intenziteta,

jer uplašiš se koliko možeš da mi veruješ

i ne možeš da me izbaciš iz glave.

Ali ne voliš ti mene onako kako bih ja želela da me voliš.

Jer posle svakog dejta ja se podozrivo

gledam u ogledalu

i sve sam manje ponosna na svoje

klavikule,

na svoj vrat

i struk,

jer devojke kojima lajkuješ fotke na instagramu

imaju ogromne grudi

i spavaju u solarijumu

i izduže noge preko one aplikacije.


Zaboravi me još malo,

dobro ti ide.

Vidim da sa bivšom imaš o čemu da pričaš.

Nadam se da je ućutala malo

jer joj je to jedina opcija da te zadrži.

Čuvaj svoj lični prostor

bodljikavom žicom

i ne puštaj me unutra više,

jer ja ne razumem kako možeš

da mi govoriš da me voliš

ovoliko godina

i da smo još uvek ovde

gde od svojih strahova i ne vidim tvoje.


Zaboravi me još malo

lakše mi je tako.

Svakako živim u kontstantnom užasu

da neću naći nekog u čija ohrabrivanja mogu lako da poverujem.

Jer nismo baš toliko isti,

kao što kažu.

Ja precrtavam ljude,

a ti ih prikupljaš.

Zato ću obgrliti sve svoje sumnje

i po ko zna koji put

ti neću ništa od ovoga reći,

jer na neki bolesno zaštitnički način

ne želim da te povredim.

Ali ću pozvati svog bivšeg večeras

i on će se baš obradovati

jer on stvarno voli

klavikule i smislene razgovore,

obožava kada se smejem

i misli da zaslužujem bolje od njega.


Zato me zaboravi malo

slobodno

molim te,

nemoj da mi govoriš da me voliš

i da sam ti potrebna.

Znaš da me mnogo bole poigravanja.

Predugo sam sama i jaka

da bih poverovala da zaslužujem

jutra bez plana.

Sve što ne možeš da mi pružiš

neka te natera

da me zaboraviš malo,

još samo malo,

malo više od danas

kada sam skoro poverovala

da si mi potreban.

Leona (Part 4)

Ronny:
Brur, malam ini campus night.

Me:
Berangkat?

Ronny:
Berangkat.

Me:
Siapa aja yang ikut?

Ronny:
Semua ikut.

Me:
Lo jemput gue.

Ronny:
Oke.

Me:
Bawain gue kemeja.

Ronny:
Yaelah. Oke.

Kamis malam, ada campus night. Kampus kami yang bikin. Bukan kampus kami sih, tapi salah seorang mahasiswa, namanya Bang Bernard, dia memang biasa bikin event disko-disko begitu. Salah satu DJ-nya juga aku tahu, DJ Diaz, anak Fikom juga, angkatan 2004. Aku kenal Diaz. Aku kan eksis.

Nggak mungkin acara disko begini yang bikin lembaga kampus resmi. Ini acara mabuk-mabukan, bukan cerdas cermat. Ini cuma inisiatif mahasiswa yang doyan party aja, terus punya link untuk bikin acara di kelab malam, punya teman DJ yang bisa dibayar profit sharing, dan yaudah, bikin. Apa ini sudah dapat persetujuan pihak kampus? Ya enggak, lah.

Jam 10 malam, kudengar telepon genggamku berdering, dari Ronny. Katanya dia sudah di luar rumahku. Aku keluar, dan langsung membuka pintu bagian tengah mobil Ronny. Bukan mobil mewah, tapi ini tetap kendaraan roda empat. Di dalam mobil Ronny sudah ada Andhika.

“Ron, baju buat gue mana?”
“Tuh, gue bawain 3 kemeja, pilih aja.”
“Oke.”

Kami meluncur ke club malam. Di mobil, Ronny sudah memutar lagu, kata Ronny ini bergenre Chicago House Music. Musik disko yang berkelas katanya, bukan yang mainstream. Nggak paham juga aku. Tetap aja beat-nya bikin joged. Suatu hari dia akan nge-DJ di campus night, begitu mimpinya. Cetek sekali. Akan tetapi Ronny sudah ikut DJ School segala. Kalau dia belajar DJ, aku diajak. Kenal banyak anak gaul Jakarta dari situ. Padahal aku anak Bekasi. Tetapi anak Bekasi sejati memang biasanya yang kayak aku dan Ronny begini, yang sok paling eksis di Jakarta.

Sampai di suatu gedung, club itu berada di lantai paling atas pada gedung itu. Kemudian kami langsung masuk ke dalam lift, bersamaan dengan 2 pria lain. Sepertinya anak kampus kami juga, tetapi kami tidak kenal. Lalu pintu lift itu terbuka, kami yang ada di dalam lift itu keluar, dan aku melihat antre yang panjang. Itu namanya antre guestlist, yaitu orang-orang yang ingin masuk ke dalam club, tapi nggak mau bayar, makanya pakai guestlist. Kalau mau masuk pakai guestlist, itu harus datang awal, sebelum jam 12 malam. Lewat dari itu, guestlist tidak berlaku lagi. Kalau tetap mau masuk, ya harus bayar. Bayarnya 100 ribu rupiah, tidak rela aku bayar segitu untuk masuk club. Tidak ada uang juga sebenarnya. Dan guestlist itu ada limitnya. Satu nama biasanya berlaku untuk 10 orang. Kalau sudah 10 orang masuk pakai nama itu, maka guestlist itu dinyatakan tidak berlaku lagi. Kami juga pakai guestlist masuknya. Kami dapat guestlist atas nama Vanny, dari Kak Vanny.

“Maaf. Guestlist-nya sudah full.” Kata seorang pegawai club yang bertugas mengurusi guestlist.
“Coba dicek lagi, atas nama Vanny.” Ronny memaksa.
“Sudah, Bro. Full. Sorry.” Jawab pegawai club itu, dia cewek yang rambutnya Mohawk.
“Atas nama Icha.” Aku nyamber.
“Wait….. oh, ada atas nama Icha. Silakan.”

Jujur, aku  hanya asal bicara. Icha itu nama cewek yang pasaran. Pemilik nama itu sudah pasti gaul, meski aku tidak tahu seperti apa wujudnya.

Kami masuk ke dalam club. Ini bukan yang pertama kalinya, tetapi kami seperti selalu saja norak mendengar musik di dalam sana, kami norak melihat lampu sorot berwarna-warni, kami norak melihat cewek-cewek berpakaian seksi, kami norak melihat orang mabuk-mabukan. Kami berjingkrak-jingkrak, mata kami menjelajah seisi tempat itu mencari orang yang dikenal.

“Yo what’s up!!!!” Fajar mengagetkan kami dari belakang. Dia melompat ke badan Ronny, hingga Ronny terpaksa menggembloknya. Sebuah bentuk sapa anak gaul tahun 2000an memang begitu. Kutengok, sudah ada Benny dan Robbie juga rupanya. Sudah wangi-wangi badan mereka. Mantap gayanya. Tos-tos-tos-tos.

Kita semua lengkap, berenam, dan siap memangsa cewek cantik yang ada di sini. Aku tidak tahu mengapa aku menggunakan kata ‘memangsa.’ Apa kami cowok yang buas? Sepertinya kami hanya berlagak buas.

All night long….. All night long…..

Aku melihat jam yang kukenakan di tangan kiriku, ini jam pemberian Yohanes, pakai saja katanya. Sudah Jam 1 lewat. Pantas club sudah penuh dan kami berdesak-desakan. Kami berenam hanya berdiri dan berdansa kecil di dekat meja Kak Vanny. Jika mau minum, ambil saja di meja. Begitu pesan Kak Vanny. Aku tanya Ronny sudah minum berapa gelas, dia bilang 4 gelas. Aku baru 2 gelas, tetapi entah berapa kali Kak Vanny mencekoki langsung dari botol Greygoose tadi. Kepalaku keleyengan. Kupandangi sekitar, semua seakan nampak berbayang-bayang, dan semua cewek yang ada di kelab ini seakan cantik sama rata.

Entah berapa kapasitas maksimal club ini, tetapi jika harus kukira-kira, sepertinya ada 700 orang dan 60%-nya itu cewek. Wah! Alkohol yang sudah merasuk ke dalam tubuhku semacam memberiku perintah untuk mengajak berkenalan. Aku belajar satu hal tentang mengajak cewek berkenalan. Teorinya begini. Jika aku mengatakan “Hai” ke 10 perempuan, minimal pasti ada 1 cewek yang merespon. Jadi aku berjalan, kugiring Ronny untuk ikut bersamaku. Satu persatu cewek yang kutemui, kusapa dia. “Hai.”

Belum sampai 10 cewek yang kusapa, aku sudah dapat. Namanya Brenda. Eh, Brenda atau Belinda, aku lupa. Pokoknya itu. Nggak cantik-cantik amat, tetapi badannya bagus, kakinya jenjang, sikutnya keras. Abaikan yang terakhir.

Ngobrol basa-basi, rupanya Brenda sudah setengah mabuk. Kutahu dari harum alkohol yang tercium dari mulutnya, kelihatan dari cara dia menggelendot di pundakku terus, kedengaran dari suaranya yang menyeret. Karena di club ini bising, jadi aku dan Brenda kalau ngobrol mesti bisik-bisik. Nah, Brenda ini tiap ngomong, bibirnya ditempel-tempelin ke kupingku. Bukan horny, malah risih. Jujur, aku agak kurang nyaman berurusan sama cewek yang sudah mabok. Jadi pelan-pelan kutinggal Brenda, lalu kucari yang lain.

“Brur wewe ngasa mal ota hi hama??” Tanya Ronny, nggak jelas ngomong apa, nggak kedengaran. Club itu kan berisik, dia ngomong kurang keras.
“LO NGOMONG APAAN???” Aku bertanya balik.
“CEWEK YANG SAMA LO TADI, MANA??” Ronny mengulang pertanyaan. Kali ini kedengaran.
“Toilet.” Jawabku.
“HAH??” Ronny budek.
“TOILETT!!” Kuulang jawabanku, lebih keras.
“OH. NGGAK LO ANTERIN?” Ronny nanya lagi.
“NGGAK. RIBET. UDAH MABOK.” Jawabku.
“ELU MABOK?” Ronny kembali budek.
“DIA MABOK.” Jawabku, sedikit kesal.
“IH KOK LO TINGGAL? BAGUS ITU! CANTIK!” Ronny protes.
“BAGUSAN ARAH JAM 3 GUE.” Kataku.
“MANA, MANA?” Ronny panik.
“PELAN-PELAN LIHATNYA, JANGAN NORAK.” Tegurku.

Cewek arah jam tiga yang kumaksud itu kira-kira gambarannya begini. Dia cantik, usianya sekitar 19-21 tahun, pakaiannya simple, rambutnya panjang, badannya tinggi dan ramping, kulitnya putih, dia duduk di sofa, sementara di sebelahnya ada seorang cowok, dan ada cewek-cewek dan cowok-cowok lain di meja itu. Sekitar 9 orang, lah.

“Jangan, Brur.. ada cowoknya.” Ronny khawatir.
“Belum tentu cowoknya.” Kataku.
“Jelas cowoknya. Mereka duduk sebelahan. Jangan, lah..”
“Duduk bersebelahan bukan berarti pacaran.”
“Ya udah terserah lo.”
“Kok lo jadi ngambek sih, Ron?? Jealous???”
“Yeeeee anying! Yaudah sana samperin. Kemeja gue buat lo kalo lo bisa dapet nomornya!”
“Bukan masalah kemeja. Ini masalah love at the first sight.”
“LOVE AT THE FIRST SIGHT PALA LO MELEDAK!”
“Hehe.. Tunggu sini, Brur.”

Aku beranjak dari tempat sebelumnya aku berdiri menuju ke arah bidadari yang dari tadi kudebatkan sama Ronny. Aku berjalan agak memutar sampai kemudian aku berada persis di belakang sofa yang cewek itu duduki. Urusan kenalan, menurutku cuma urusan timing. Kurasa timing yang tepat akan tiba sebentar lagi.

Keep reading

Hight 5.2

Weight before 181

Weight after 165

Begain 6 weeks ago. Started by eating clean cut carbs and sugar first three weeks. By the fourth week I started joging while pushing my 55 lbs son in his stroller to the park 1 mile away. While my son played i did 3 sets of 15 lunges on a bench 3-4xs per week. On the sixth week which eas last week i have joined a gym increasing workouts by trying different classes from zumba to belly, butt and thighs boot camp 4-5xs week.

    —- SUBMIT your own Before and After weight-loss photos HERE.