jika banyak

Beberapa alasan aku diam meski sebenarnya aku sedang rindu.

1. Aku tidak bisa melihatmu terus kesal padaku. Apa yang kukatakan jadi salah saja di matamu. Padahal, aku hanya ingin apa yang kita jalani tetap baik-baik saja.

2. Barangkali kamu mengira diamku adalah ketidakpedulianku. Kamu salah. Diam justru caraku belajar bagaimana berdamai dengan diriku. Saat seseorang yang kucintai tak bisa memahamiku.

3. Kau tahu aku keras kepala. Tapi soal perasaan, padamu saja luluh segalanya. Hanya saja, aku terbatas, tak semua hal bisa kumengerti, tak semua hal mampu kusampaikan dengan cara baik, meski niatnya selalu baik.

4. Jika dengan banyak bicara hanya membuatmu terluka. Diam barangkali lebih baik adanya. Meski rindu tetap saja terasa menyiksa. Aku suka merindukanmu, tapi tidak dengan suasana-suasana seperti ini.

–boycandra

Ujian

Jika kau tak siap diuji, maka ujian itu akan tetap ada di depanmu, menantimu siap menghadapinya. Begitu seterusnya dengan ujian-ujian yang lain, mengantri dibelakangnya, semakin banyak. Jika kita tidak menghadapinya, kita tidak akan beranjak kemana-mana, diam ditempat.

Esok atau lusa, seperti saat-saat ini, saat kita melihat kebelakang dan menyaksikan betapa banyak ujian yang telah kita lewati, semuanya terasa seperti baru kemarin sore. Segala keresahan, kekhawatiran, ketakutan itu sudah terlewati. Dan perasaan ketika ujian datang selalu begitu, ragu, khawatir, takut, dsb. 

Esok atau lusa, seperti saat-saat ini, saat kita sudah berhasil memahami, mengapa kita mesti melewati ujian-ujian tersebut. Sudah seharusnya itu cukup untuk menjadi penyemangat kita atas ujian yang ada didepan mata, sesuatu yang besar menanti didepannya.

Esok atau lusa, kita mungkin akan banyak bersyukur. Sebab hadiah terbaik dari setiap ujian bukanlah di hasilnya, melainkan di rangkaian prosesnya. Sesuatu yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, lebih saleh, dan menjadi manusia yang lebih bernilai.

Yogyakarta, 30 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi

Prioritas

Pernah tidak kita sedang membutuhkan seseorang, lalu orang itu berkata tidak ada waktu namun dia update sedang bersantai atau berjalan - jalan?

Pernah tidak sahabat yang dulu selalu menghubungi kita ketika pulang kampung, tiba - tiba menjadikan kita orang terakhir yang dihubunginya?

Pernah tidak orang yang dulu selalu saling berkirim kabar dengan kita, tiba - tiba hanya menghubungi kita ketika dia punya bonus telfonan yang dia tidak tahu lagi siapa yang bisa ditelfon?

Pernah tidak sahabat paling dekatmu, sulit sekali untuk diajak makan siang dengan alasan sibuk, bahkan setelah kau memohon - mohon?

Dulu saya selalu sakit hati ketika mendapat perlakuan seperti itu dari orang - orang terdekat saya. Bagi saya saat itu, apakah saya hanya orang asing baginya? Hingga suatu hari, saya memperbincangkan hal ini dengan seorang sahabat saya. Dari dia, saya mendapat pemahaman baru. 

Kita sering berasumsi sesuka hati sih, menduga - duga jangan - jangan orang ini ga suka sama saya, jangan - jangan sahabat saya begini begitu. Jika terlalu banyak pikiran buruk yang sulit untuk dihindarkan, tanya dia! Konfirmasikan ke orang yang bersangkutan mengapa dia begini begitu! Kita tidak tahu apa yang tengah orang lain hadapi, barangkali justru dia sedang membutuhkan kita. Barangkali dia mungkin tengah bergejolak dengan kehidupan. Disinilah pentingnya komunikasi.

Begini, hidup ini berjalan dengan cepat, kita punya banyak persoalan yang harus segera diselesaikan, kita punya banyak sekali pekerjaan. Kita tidak punya waktu untuk memikirkan hal - hal yang tak perlu. 

Apa masalahnya jika sahabat kita tidak lagi punya waktu buat kita? Yang penting, ketika dia membutuhkan, kita ada. Apa masalahnya jika cerita - cerita kita diabaikan oleh orang yang dulu selalu mendengarkan? Ya sudah, tak usah lagi bercerita padanya, dan masalah selesai. Apa masalahnya jika orang yang dulu dekat dengan kita tidak lagi memberikan waktunya untuk kita? Ya sudah, barangkali dia punya prioritas di atas kebersamaan dengan kita, kita pun bisa mencari kebahagiaan sendiri.

Tak usahlah kita membesar - besarkan masalah dengan terus memikirkan sebuah kejadian kecil, hanya akan menghabiskan energi dan waktu kita. Belajarlah untuk bersikap ‘masa bodoh’ dengan perlakuan orang lain yang membuat kita sakit hati. Tidak semua sakit hati patut untuk ditindaklanjuti. Tidak semua asumsi patut untuk dipercayai. 

Kadang kita berpikir, “saya kan sudah baik sama orang itu, kok dia kayak gitu?” Kalau kita baik, ya baik saja, tanpa peduli orang lain membalasnya atau tidak.

Belajarlah untuk ikhlas, berbuat baik tanpa berharap imbal balik. Belajarlah mengenyampingkan sakit hati dan menghabiskan energi hanya untuk memikirkan hal - hal yang tak perlu untuk ditindaklanjuti.

Hidupmu Sedang Stagnan?

Apakah kamu sedang merasa hidupmu stagnan? Seperti gak ada perubahan yang lebih baik? Meskipun kamu sudah berusaha untuk semaksimal mungkin, tapi bisa jadi kamu kurang memperhatikan hal-hal sepele yang justru bisa mengubah dirimu jadi lebih baik.

Yang kamu perlukan adalah melakukan hal-hal di bawah ini.

1. Mulai tidur lebih awal

Tidur di malam hari adalah kebutuhan setiap manusia. Waktu malam yang panjang adalah waktu ideal untuk mengistirahatkan diri setelah seharian bekerja.

Tidur lebih cepat akan membuat tubuhmu lebih cepat melakukan metabolisme dan menyegarkanmu di keesokan harinya. Waktu ideal tidur antara pukul 9-10 malam.

2. Beribadah atau meditasi sebelum memulai aktivitas pagi

Keheningan yang tercipta dari ibadah dan meditasi di pagi hari bisa membuatmu lebih fokus sepanjang hari. Tubuh dan pikiran akan dibuat lebih siap menghadapi kesibukan dan kerumitan persoalan sepanjang hari.

Untuk itulah kamu mesti menyediakan waktu untuk beribadah atau meditasi sebelum matahari terbit.

3. Baca berita atau artikel positif agar semakin optimis

Yang kamu perlukan adalah informasi bermanfaat untuk kehidupanmu, misalnya informasi ekonomi atau keagamaan. Kamu gak perlu membuang-buang waktu untuk hal-hal yang kurang penting, seperti membaca artikel kriminal. Walaupun sesekali di setiap hari kamu perlu untuk membaca berita itu agar kamu bisa lebih waspada, tapi kamu harus yakin bahwa kebaikan pun akan ada di setiap hari.

Apa yang kamu pikirkan, itulah yang akan bisa kamu dapatkan.

4. Berikan senyum minimal kepada dua orang yang kamu temui

Setelah bangun tidur, siapa pun orang yang kamu temui, berikan senyum kepadanya. Baik itu keluarga, tetangga, atau teman kerja.

Tersenyum selain membuat orang lain senang, juga memberikan energi positif kepada dirimu sendiri. Beban pikiran akan jauh berkurang karena kebahagiaan akan terpancar pada orang-orang yang tersenyum.

5. Empat sehat lima sempurna

Asupan energi dari makanan-makanan yang bergizi tinggi mampu membuat jiwa ragamu lebih sehat. Gak perlu banyak keluar uang untuk yang satu ini. Cukup membeli buah-buahan dan sayuran lokal yang gak kalah bernutrisi baik bagi tubuhmu.

Ingat ada pepatah mengatakan: “di dalam tubuh yang kuat, ada jiwa yang kuat”.

6. Selingi dengan peregangan di setiap aktivitasmu

Manusia diciptakan untuk banyak bergerak. Jika itu gak terjadi, manusia justru akan menjadi lemah dan sakit.

Melakukan peregangan bisa membuat otot-ototmu tetap lentur. Aliran darah bisa mengalir lancar. Otomatis oksigen bisa tersalurkan kepada otakmu, dan pikiranmu menjadi sehat.

Lakukan peregangan minimal lima menit.

7. Jauhkan diri dari ponsel minimal satu jam setiap hari

Kamu perlu punya Me Time setiap hari tanpa dipengaruhi oleh ponsel. Dengan begitu kamu bisa melakukan refleksi dan mengingat-ingat apa yang mesti kamu lakukan. Adakah janji yang harus ditepati? Apakah kamu lupa membeli sesuatu?

Sambil berjalan-jalan kecil di rumah, kamu bisa merenung dan memikirkan hal-hal yang bermanfaat.

8. Sesekali mandi sore dengan air hangat

Mandi ketika pulang kerja adalah cara terbaik untuk mengembalikan energi yang hilang. Air yang sejuk bisa membuang energi-energi negatif dari tubuhmu.

Sesekali mandi air hangat bisa membuatmu rileks. Hasilnya, otot-ototmu jadi gak tegang lagi setelah aktivitas sepanjang hari.

9. Rencanakan menghabiskan akhir pekan dengan minimal satu orang yang kamu cintai

Di hari Senin, gak ada salahnya kamu membuat janji untuk pergi pada akhir pekan. Justru itu akan membuat rencana jadi gak mendadak banget. Kamu bisa mengatur ulang jadwal di hari-hari berikutnya seiring hari berganti.

Gak perlu jauh-jauh, setiap tempat di kotamu bisa kamu jadikan Quality Time bersama orang-orang yang kamu cintai.

10. Sebelum tidur, pikirkan minimal tiga hal yang bisa kamu syukuri di hari itu

Orang sukses adalah orang yang pandai bersyukur. Dengan bersyukur, meskipun pada hal-hal kecil seperti diberi ucapan selamat pagi oleh atasanmu, itu akan menjadikanmu lebih menghargai diri sendiri.

Terkadang memberi maaf dan bersyukur pada diri sendiri adalah yang utama. Lakukan itu setiap kamu akan tidur. Biasanya sih kamu akan dapat mimpi indah.

Jika sepuluh hal di atas bisa kamu lakukan secara bertahap, kemungkinan hidupmu berubah jadi lebih berwarna. Semangat!

Waktumu begitu bernilai, maka jangan berikan ia kepada mereka yang tidak mampu untuk menghargainya.

Sebelum nanti kamu baru menyadari, jika waktu-waktu itu dapat kamu gunakan untuk melakukan lebih banyak hal yang jauh memberikan manfaat dan mendatangkan kebaikan.

Dan tetaplah mengingat, jika kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang saat ini kita miliki.

RTM : Berhitung

Pernah tidak? Beberapa kali, atau banyak kali, jika tidak sesekali kita sangat perhitungan terhadap orang tua. Misal dulu sebelum kita bekerja, untuk diminta bantuan saja kita berhitung. Atau ketika salah satu dari beliau sakit, masih ada prioritas lain yang kita miliki. Kini misal selepas bekerja, saat kita mau memberi sebagian penghasilan kita ke mereka, masih kita perhitungkan. Bahkan, misal saat kita bicara dengan mereka dan tiba-tiba mereka terucap menginginkan sesuatu, kita berpikir-pikir untuk membelikannya atau tidak.

Saya menginsyafi, jika saya pernah seperti itu. Sampai suatu ketika, saya menikah dan akhirnya merasakan menjadi orang tua. Saya paham, bahwa hal itu membuat saya semakin bersalah. Saat ini, saya merasakan bagaimana saya sebagai orang tua, ingin memberikan yang terbaik dan segalanya untuk anak. Saya tidak peduli berapa ongkos yang dikeluarkan jika ia sakit, atau kebutuhan-kebutuhannya yang lain. Yang saya pikirkan adalah bagaimana saya berjuang untuk mencukupinya.

Saya tidak pernah berhitung ketika harus begadang, menggendongnya, dan lain-lain sementara saya masih ada urusan-urusan. Bagaimana kemudian saya merelakan urusan itu, hanya untuk menemaninya. Memastikannya dalam keadaan baik dan dalam pengawasan.

Saya tidak pernah mengukur berapa biaya yang harus saya keluarkan sejak ia lahir hingga hari ini. Sedikit atau banyak bukan menjadi ukuran, yang menjadi ukuran adalah ia bisa lahir dengan baik dan tumbuh dengan sehat.

ini membuat saya merenung, selain menjadi orang tua, saya juga masih memiliki peran sebagai anak. Dan sungguh, saya merasakan betul bahwa saya tidak akan pernah bisa mengganti kebaikannya, tidak akan pernah cukup usia saya untuk membayar semua pengorbanan orang tua.

Betapa bersyukur dan beruntungnya orang tua yang memiliki anak-anak yang tumbuh dengan baik. Memiliki budi pekerti yang baik, memiliki akhlak yang santun. Sedih rasanya jika melihat anak-anak yang tumbuh tanpa adab.

Dan saya sering bercerita sambil berdoa saat menimang-nimang Shabira, semoga ia tumbuh menjadi perempuan yang baik, yang beradab, yang salehah, yang berbakti, yang menjadi cahaya kedua orang tuanya.

Semoga suatu saat, Shabira (dan adik-adiknya) bisa membaca tulisan ini.

©kurniawangunadi | rumah, 1 februari 2018

Kamu dan aku pernah berada di titik yang melelahkan. Mungkin kita pernah berpikir untuk menyerah. Melepaskan semua yang telah diperjuangkan. Berharap semua baik-baik kembali tanpa ada kita di dalamnya. Kita pernah mencoba untuk berdiri di jalan masing-masing lagi. Kita pernah bertahan untuk tidak saling sapa lagi. Tapi kamu dan aku sama-sama tahu kita gagal untuk sebuah kegagalan. Kita tidak pernah berhasil berpisah. Kita selalu saja kembali bersama. Kini, kita menyadari; untuk apa saling menjauhi jika banyak hal baik yang bisa kita ciptakan jika bersama hingga nanti.

—boycandra

image

Everything is possible!

Masih ingatkah kisah tentang panglima Muhammad Alfatih ketika menaklukkan konstantinopel?

Kapal yang biasanya hanya bisa berlayar di lautan, namun ditangan beliau dan prajuritnya, kapal-kapal bisa berlayar diatas daratan bahkan melewati bukit dalam satu malam.

Masih ingatkah kisah Rasulullah dalam perang Badr?

Pasukan muslim hanya berjumlah 300an orang sedangkan pasukan musuh berjumlah 1.000 orang. Siapakah yang menang? Alhamdulillah pasukan muslimin.

Masih ingatkah ketika pertama kali jibril mendatangi rasulullah di gua hira?

Jibril meminta rasul yang tak pernah belajar dan tak bisa membaca untuk membaca. Sambil bergetar tubuh beliau, seketika rasul pun bisa membaca.

Ada banyak kisah terukir didunia ini yang menembus batas-batas ketidakmungkinan. Selama Allah mengizinkan, selagi Allah meridhoi maka everything is possible.

Jika ada banyak kemungkinan yang Allah jadikan mungkin. Maka, untuk apalah menjadi hamba yang takut untuk mengejar cita-citanya. Untuk apalah menjadi hamba yang ragu melangkah bila keutamaan ilmu yang didamba.

Selama melibatkan Allah, selagi membersamai perjuangan dengan kebaikan, it should be possible.

Selamat berjuang dan bersiap menerima segala bentuk konsekuensinya.

Pertolongan Allah selalu ada, tapi kita butuh berstrategi dan meluruskan niat agar layak di tolong Allah :)

Heal Yourself #1: Merawat Luka
image

Lebih dari satu kali, bahkan berkali-kali, kita merasa kecil karena luka-luka yang pernah kita miliki. Kalau bisa, kita bahkan berharap luka itu tidak pernah terjadi. Tapi, mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa luka-luka itu nyata dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri dan perjalanan kita. Kita tentu sudah tahu soal itu, lantas mengapa perasaan insecure atau merasa kecil sebagai dampak atas luka itu masih saja muncul? Sebabnya banyak dan akan semakin banyak jika kita bertanya dan berdialog dengan hati kita sendiri. Disana mungkin ada rasa malu, khawatir tidak diterima, takut diolok-olok, merasa berbeda dengan orang lain, takut bangkit dan melangkah maju, merasa gagal hingga membenci diri sendiri, atau bahkan perasaan-perasaan lain yang tak terdefinisi. Bagaimana rasanya memeluk semua perasaan itu? Rasanya tidak nyaman, bukan?

Di saat yang sama, diam-diam kita tengah melakukan sebuah kesalahan besar: kita menganggap bahwa kitalah satu-satunya orang di dunia ini yang paling menyedihkan dan paling tidak beruntung. Objektivitas kita menurun, sebab kita hanya berfokus pada diri, diri, dan diri. Tanpa kita sadari, persepsi yang kita miliki tentang luka-luka itu terkadang bisa berakhir menjadi sebuah perangkap yang membuat kita lupa bahwa semua yang datang dari Allah itu baik. Termasuk luka-luka itu, ia tak pernah akan hadir jika Allah tak bermaksud baik ketika menghadirkannya. Hanya saja, mungkin kita belum mampu mengeja hikmahnya atau masih keliru dalam menyesapi kebaikan-Nya.

Lalu bagaimana? Apa yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkan dan merawat luka-luka itu agar tak terus menggerogoti kutub-kutub positif di setiap sudut hati dan diri kita?

Kita seringkali mengeluarkan investasi yang tidak sedikit untuk menyelesaikan masalah dan merawat luka yang kita punya. Kita temui konselor, membuat janji dengan psikolog, atau bahkan melahap habis seluruh buku tentang pengembangan diri dan penyembuhan luka. Padahal, sebenarnya atas seizin-Nya kita bisa menolong diri kita sendiri, sebab diri kita telah didesain-Nya sedemikian rupa untuk memiliki ketahanan diri. Itulah resiliensi.

“Resilience is the process of adapting well in the face of adversity, trauma, tragedy, threats or significant sources of stress — such as family and relationship problems, serious health problems or workplace and financial stressors. It means “bouncing back” from difficult experiences. – American Psychological Association

Ah ya, tidak akan dibiarkan-Nya kita terus terluka. Tentu saja! Maka, diberi-Nya kita kemampuan untuk maju, menghadapi, dan kembali bangkit dari luka dan keterpurukan. Kekuatan itu ada dan dilekatkan-Nya di dalam diri kita, kita hanya perlu memunculkannya dan merasa percaya diri terhadapnya.

Lalu, apa lagi? Kita juga perlu menjadi diri yang berani yang terbuka untuk mau menyelesaikan luka yang ada. Sebab, tanpa keduanya, wajar jika semua “investasi” yang kita keluarkan hanya berakhir menguap atau tidak membantu sama sekali. Tentang hal ini, saya jadi ingat tentang pesan seorang dosen saat masih kuliah dulu, beliau bilang, “Jangan memaksa orang lain agar mau dibantu. Tidak akan ada gunanya.” Ah ya, sekarang saya baru memahaminya.

Berhentilah dulu membaca sampai disini. Sekarang, rebahkan tubuhmu, pejamkan matamu dan bernapaslah dengan tenang dan perlahan. Lalu katakanlah,

Keep reading

Jeda

Kita pasti pernah berhenti di salah satu titik hidup, pernah hampir menyerah bahkan putus asa. Terhenti begitu lama, bahkan mungkin sangat lama.

Mungkin, kita bisa melihat bagaimana hidup seseorang ialah ketika ia bangun dari gagalnya. Yang pertama orang yang melegakan dirinya sendiri sendiri dengan berpikir telah lebih baik dari orang lain. Dan yang kedua orang yang melihat tantangan dan siap menghadapinya.

Sejak dulu, waktu-waktu kegagalan selalu membuat kita tertunduk dan akhirnya sadar bahwa kita begitu kerdil dan tidak ada apa-apanya dibanding yang lain. Ajaibnya, sebuah kegagalan selalu lebih bijaksana dari kita sendiri. Bahwa tidak ada hidup yang selesai hanya dengan direnungi, tidak tuntas hanya dengan menangisinya, atau hanya sekedar berpasrah tanpa mencoba berdiri.

Tak pernah masalah jika telah membuat banyak kesalahan dari waktu ke waktu, selama kita bisa belajar jauh lebih banyak darinya. Sebab, kita juga perlu menyusun sebuah ruang pembuktian. Untuk kita, untuk bisa melihat versi terbaik dari diri kita sendiri.

Kita mungkin tidak punya banyak teman, tidak punya banyak pengikut di media sosial, juga tidak punya cukup tabungan untuk melakukan sesuatu yang mahal, seperti orang lain. Tapi kita selalu bisa membuat kebahagiaan kita, meski orang lain tidak paham dengan aturan hidup kita sendiri. Boleh jadi, nantinya yang menjadi begitu berarti bukan ketika berapa kali ketika kita berhasil, melainkan berapa kali kita sanggup memulai dari awal.

Demikianlah, tidak ada yang lebih indah selain membuktikan pada diri sendiri seberapa kuatnya kita. Hingga nanti kita tersadar, barangkali aset terbaik yang pernah disediakan Allah tidak selalu berupa seorang penyemangat atau rejeki yang melimpah, melainkan jarak. Sebagai penghalang antara diri kita yang lama dan yang baru.

Bogor, 2 Maret 2019 | Seto Wibowo

Jika dengan lulus kuliah, orangtua kita bahagia atas hal itu. Maka segerakanlah proses kelulusan itu.

Jika dengan menikah, orangtua kita bahagia atas hal itu. Maka milikilah ilmu dan jangan ditunda sebuah pernikahan itu.

Jika dengan banyak hartamu, orangtua kita bahagia atas hal itu. Maka berikanlah apa-apa yang bisa membahagiakan keduanya selama tidak melanggar syariat.

Namun ada yang lebih pantas dari itu semua, yaitu bakti kita kepada keduanya. Menjadi anak yang sholih untuk keduanya adalah hadiah terbaik yang bisa kita tunaikan sebagai anaknya.

Kelak orangtua tidak butuh jabatan, gelar, harta, atau hal lainnya yang kita punya. Yang mereka butuhkan adalah kesholihan seorang anak, doa anak yang sholih yang mereka butuhkan.

Kelak orangtua akan menyadari bahwa memiliki anak yang sholih adalah salah satu kebahagiaan yang tidak akan bisa digantikan dengan apapun juga.

Maka bila dengan kelulusanmu, kau menikah, dan hartamu bisa membahagiakan mereka sebagai upaya baktimu. Lakukanlah. Lakukanlah tanpa mengesampingkan belajar agama dan menjadi sholih untuk keduanya.

Mintalah padaNya sebuah kekuatan untuk mewujudkan cita-cita itu semua dengan tulus karenaNya. Sebab doa untuk cita-cita yang baik akan menemukan jalan kebaikannya. Percayalah pada jalan takdirNya..:))

Engkau harus menjadi wanita shalihah, agar kelak suamimu tak perlu khawatir saat tak sedang bersamamu karena ia tahu engkau mampu menjaga dirimu baik baik.

Engkau harus menjadi wanita shalihah, agar kelak wajah meneduhkanmu cukup menjadi alasan suamimu untuk menundukkan pandangannya.

Bahkan mulai saat ini bersalaman dengan laki laki bukan mahram saja engkau tidak mau, hingga tidak mudah bagimu berkenalan dengan laki laki atau memberikan nomor telepon pribadimu kepada mereka.
Dan jika saat ini engkau harus menahan untuk menunjukkan kecantikanmu lalu engkau memilih menutup diri dari ekspetasi manusia. Sungguh tidak apa apa jika banyak yang harus engkau relakan.

Tidak apa apa meski harus dibilang begini dan begitu. Biarkan saja.
Teruslah memperbaiki dirimu dari dirimu yang dulu.

Terlebih dari segala kebaikan dunia yang akan engkau dapatkan, Surga Firdhaus menantimu wanita shalihah :’)


Sungguh menulis ini, untuk menasehati diriku sendiri.
Sore, 22 Agustus 2017.
© Menyapa Mentari.

anonymous asked:

Assalaamu'alaikum. Pak Herri, bagaimana yang harus dilakukan seorang perempuan bila sedang jatuh cinta ? Barangkali ada kisah inspiratif yg bisa Pak Herri bagi agar menjadi pelajaran bagi para perempuan untuk menyikapi perasaannya..

Bila Perempuan Jatuh Cinta

Waalaikumsalam wr wb. Semenjak saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya perempuan jatuh cinta, saya tidak bisa menjawab apa-apa. Saya pun tidak bisa menerka-nerka bagaimana suasana hati perempuan saat ia jatuh cinta. Tapi, kalau kamu minta pendapat saya secara umum, mungkin saya bisa memberikan pengalaman.

Jika kamu jatuh cinta:

1) Pastikan kamu jatuh di tempat yang tepat. Sekalipun rasanya sakit, kamu bisa menikmatinya sebagai sebuah pelajaran. Dan tak akan menyia-nyiakan. Di poin utama ini, banyak mereka yang menjatuhkan dirinya ke dalam cinta yang salah dan tak berdaya-guna. Alih-alih menambah kebermanfaatan malah jatuh ke dalam bencana. 

2) Tegaskan ke dirimu bahwa yang namanya perasaan itu tidak ada limitnya. Ia bisa membuat orang menjadi gila atau bahkan benar-benar tak peduli. Jangan biarkan terjebak ke dalam dua kutub ekstrim ini. Sebab itu, jaga perasaan agar berada di pertengahan; yang sedang-sedang saja. Jangan berlebihan. Ini kan pesan Rasulullah. Pesan sederhana yang kadang kita selalu melupakan. 

3) Cinta itu tidak melulu tentang perasaan ke lawan jenis. Cinta juga bekerja dalam persahabatan, kemanusiaan, pekerjaan, masa depan, dsb. Saya lebih senang jika banyak dari kita jatuh cinta pada sesuatu yang selain membawa manfaat untuk diri sendiri, juga untuk orang lain.

Seorang perempuan jatuh cinta pada buku sehingga ia menulis banyak hal perihal kehidupan. Seorang perempuan jatuh cinta pada traveling, sehingga ia menjelajah banyak tempat dan berbagi kisah mengharukan. Seorang perempuan jatuh cinta pada aktivitas kemanusiaan, sehingga ia rela menghabiskan waktu menjadi relawan di daerah-daerah rawan. Seorang perempuan jatuh cinta pada sejarah, agama, atau bahkan filsafat, sehingga ia belajar menjadi seorang pemikir dan penceramah hebat.

Ah, andai saja kita sadar bahwa ketika perempuan jatuh cinta pada ini semua, sejarah dunia mungkin akan berbeda. 

Manfaat Kebaikan

Ialah kebaikan. Dia bukan hanya membuat baik orang yang diberi kebaikan. Tetapi juga pada diri yang memberi kebaikan. Sungguh banyak manfaat yang didapat pada diri, jika kita terus berbuat kebaikan. Maka, perbanyaklah berbuat kebaikan mulai dari sekarang.

Dengan berbuat kebaikan, cahaya pada wajah, Allah munculkan. Membuat teduh bagi setiap orang yang memandang. Maka utamakanlah berwajah teduh lagi menenangkan daripada yang cantik rupawan. Karena cantik belum tentu meneduhkan. Tetapi kebaikanlah sudah pasti membuat tenang bagi orang yang memandang.

Dengan berbuat kebaikan, sinar pada hati, Allah datangkan. Senantiasa hati menjadi tentram dan mendamaikan. Tidak lagi diliput kerisauan. Menjalani hidup menjadi lebih mudah dan tenang.

Dengan berbuat kebaikan, rezeki, Allah lapangkan. Bukan hanya berupa harta rezeki itu berada. Namun, juga berada pada sehatnya tubuh dan kebahagiaan di sekeliling kita. Maka, jika ingin rezeki lapang, banyak-banyaklah berbuat kebaikan.

Dengan berbuat kebaikan, Allah tanamkan kecintaan di hati banyak orang. Karena hanya dengan berada di dekat orang yang berbuat kebaikan, orang merasa aman dan nyaman. Karena dengan berkumpul dengan sesama yang berbuat kebaikan, orang ikut menjadi baik dan menularkan kebaikan. Karena cinta berawal dari kebaikan sehingga timbullah kecintaan di hati banyak orang.

“Sesungguhnya pada kebaikan itu ada cahaya pada wajah, sinar pada hati, dan kelapangan pada rezeki, serta kecintaan di hati banyak orang.” - Abdullah bin Abbas

Sudahlah, jangan menungguku lagi.  Aku tidak pernah bisa bersamamu. Maaf jika tak ada alasan yang mampu kujelaskan perihal semua itu. Harusnya kau tak melepaskan dia demi aku.  Sebab, aku juga tak bisa menerimamu sepenuh jiwaku.  Perasaan padamu baik-baik saja. Keadaan saja yang tak bisa kita paksa.  Sabarkan hatimu.  Kau harus tangguh menerima semua kenyataan hidupmu.  Kau tahu bagaimana aku padamu. Cukup jangan memaksa lagi. Semuanya sudah tertata tapi.  Kita tidak mungkin bersama jika harus menghancurkan lebih banyak rasa.

Semoga kamu paham. Bahwa terkadang perasaan harus kita kubur dalam-dalam. Jadikan saja semua ini kenangan baik dalam hidupmu. Kelak, saat hatimu sudah pulih semoga kau mampu tersenyum saat mengingat aku yang tak mampu mengikatmu.  Meski kau sudah mengorbankan banyak hal. Aku tahu, aku yang pengecut soal ini. Aku terlalu takut melukai dia yang dulu di hati.

–boycandra

Jika manusia punya banyak cara mengungkapkan rasa rindu, lalu bagaimana jika Allah yang merindu?

Justru ekpresi rinduNya seringkali tertuang dalam segala ujian, cobaan, kegagalan, serta mungkin peringatan. Dia rindu kita mendekat kepadaNya. Dia rindu kita menyebut dan memujinya di setiap langkah kehidupan. Namun kita seakan tak peka, lantas justru malah menyalahkanNya.

Bila Kita Tahu

Untuk beberapa orang, saya dikenal pendiam, beberapa orang lagi mengenal saya keras. Lalu, sebagian orang mengenal saya konyol, beberapa lainnya mengenal saya sombong. Sementara, ada orang-orang yang nyaman bercerita, menyandarkan kepala di pundak saya. Ada juga beberapa yang tidak begitu bisa menjelaskan. Beberapa lagi punya penafsiran sendiri lalu pergi, sebagian hanya sampai mendengar dari orang lain, tapi sudah merasa sangat mengenali.

Ya. Penilaian orang lain pada diri kita, bisa sampai serupa-rupa itu. Terserah saja sebenarnya. Kita tidak harus membela, atau menunjukkan. Dia yang benci takkan mau dengar, dia yang cinta takkan mau peduli.

Seringkali, jika banyak mendengar bisa membuatmu berhenti berjalan atau mundur, lebih baik memang tidak perlu mendengarkan. Kecuali kamu tahu, mana racun mana vitamin. Kecuali bila kamu juga mampu menawarnya sendiri; memilih zat yang boleh dimasukkan dalam hati. Dan kecuali kamu bisa mengubah racun jadi hal baik.

Masalah bisa datang setiap hari; pada siapa pun, hari ini dia, besok bisa kita. Termasuk penilaian orang lain. Hanya, jika kita sudah siap menerimanya, semua akan bisa kembali baik-baik saja.

Bagi segala macam masalah yang datang, sungguh tidak berguna bila kita menunjukkan penyangkalan-penyangkalan. Ia hanya akan memberatkan perjalanan. Selesaikan dengan pelan saja, sebab tidak ada yang memintamu cepat, tidak ada juga yang memintamu kuat, hanya menerima lalu berusaha. Keinginan untuk bersegera, nanti akan datang dengan sendirinya. Bertambahnya kekuatan, nanti akan datang kemudian.

Hidup akan bahagia jika kita taat pada Allah

Kalimat itu seringkali hadir dalam setiap pengingat, lisan para Ulama dan tulisan para Ustadz. Namun percayalah, ia merangkum makna yang dalam. Sangat dalam.


Kamu hanya akan mengangguk dan mengiyakannya jika sudah kau resapi banyak sekali masalah dalam hidupmu. Banyak sekali keresahan dan kekhawatiran. Lalu engkau memutuskan untuk memperbaiki ibadahmu.


Dan ajaib; segalanya membaik dan menyuguhkan senyum di wajahmu. Damai hatimu, tenteram jiwamu, luas pandanganmu.


Sebab kalimat itulah kunci dari segala jawaban atas kegundahanmu.