jepiter

Lakukanlah Kebaikan Sejak Lintasan Pikiran Pertama

Ada satu penyakit yang saya ingin sembuhkan pada diri ini, yaitu penyakit terlalu lama berpikir untuk berbuat kebaikan.

Misalnya, sepulang kantor beberapa hari yang lalu, di balik kepadatan lalu lintas saya dapati ada mobil mogok. Si Bapak pengemudi terlihat berusaha mendorong mobilnya sambil memegangi stir, sendirian. Kondisi sedang hujan. Saya hanya punya waktu sekian detik untuk mengobservasi apa yang terjadi, lalu memutuskan apa yang ingin saya lakukan.

Sejujurnya, dalam sekian milidetik, saya bisa memproyeksikan diri saya menepikan motor, lalu membantu si Bapak mendorong mobilnya. Tapi saya malah terus mengizinkan lintasan pikiran berseliweran, “Mobilnya besar (mobil off-road), apakah tenaga saya cukup untuk mendorongnya?”, “Ini kok ngga ada yang bantuin ya?”, “Kalau aku menepi, motorku aman ngga ya?”, dan sebagainya sambil motor terus melaju.

Hati dan pikiran saya berkonflik, “Ayo turun! Itu belum jauh”, “Yakin nih? Nanti juga ada yang bantu”, “Ayo bantu, masih belum terlambat!”, “Kamu kan pakai sendal jepit, nanti slip dan putus lho”, “Ayo ngga apa-apa udah agak jauh juga, kamu kan mau berbuat baik, ngga ada kata terlambat”, “Ini udah jauh loh, sudah ikhlaskan saja, nanti lakukan kebaikan yang lain.”

Akhirnya, saya tidak mengambil keputusan dan saya sudah benar-benar jauh dari si Bapak yang membutuhkan bantuan.

Satu peristiwa kecil lagi baru saja terjadi siang ini. Sekembalinya saya membeli makan di jam istirahat siang, saya berpapasan dengan seorang Ibu yang bisa dibilang mulai tua, memikul satu karung besar yang entah apa isinya. Pakaiannya lusuh, jelas bukan kelas menengah yang sedang bekerja formal. Sementara itu, saya membawa nasi dan lauk-pauknya dalam bungkusan.

Sekian milidetik pertama, saya simpati. Sekian milidetik selanjutnya, saya ingin berbuat baik terhadap beliau. Sekian milidetik setelah itu, saya memikirkan apa yang bisa saya lakukan. Lalu muncul opsi: memberikan makan siang di tangan saya atau memberikannya sejumlah uang untuk makan siang.

Hati dan pikiran pun kembali berkonflik, sementara kami terus berjalan ke arah masing-masing. Hingga akhirnya, si Ibu sudah tak terlihat, dan saya pun hanya bisa mencela diri saya sendiri.

Peristiwa-peristiwa itu memang kecil, yang kalaupun saya eksekusi niat baik saya saat itu, hasilnya tidak akan mengubah dunia. Namun saya begitu menyesali diri sendiri ketika mengingat:

1. Tindakan-tindakan spontan kita merefleksikan siapa sesungguhnya diri kita, seperti apa sesungguhnya akhlak dan karakter kita.

2. Jika bahkan daun yang jatuh saja berada dalam takdir dan pengawasan Allah (Al-An’am, 59), maka mungkin saja semua peristiwa seperti itu adalah cara Allah melihat sebaik apakah amal kita (Al-Mulk, 2); seberapa layakkah Allah menolong kita di saat kita kesulitan suatu hari nanti, atau juga mungkin Allah ingin melihat apakah status Facebook kita, post Tumblr kita, broadcast Whatsapp kita yang bicara soal iman dan amal shalih benar-benar bagian dari diri kita, ataukah hanya jargon omong kosong semata.


Maka, inilah nasihat untuk diri saya sendiri: 

Lakukanlah kebaikan sejak lintasan pikiran pertama.

Bagian Kecil: 212

Saya adalah bagian kecil dari bocah-bocah pengajian yang semangatnya dalam melangkah melebihi orang dewasa.

Saya adalah bagian kecil dari bapak-bapak yang menyiapkan sendal jepit kedua untuk kafilah dari luar kota.

Saya adalah bagian kecil dari ibu-ibu yang memasak makanan untuk mereka yang datang minim perbekalan.

Saya adalah bagian kecil dari mereka yang menginginkan persatuan; mereka yang setiap hari mengajak kebaikan; mereka yang mengedepankan persaudaraan; mereka yang bergetar hatinya ketika nama-Nya dikumandangkan; mereka yang sakit hatinya ketika agamanya dihinakan.

Meski hanya menjadi bagian kecil, posisi saya jelas; di sini saya berdiri.

Bilakah suatu saat nanti Engkau izinkan diriku untuk jatuh, maka jatuhkanlah aku kepada ia yang memujaMu.. Jatuhkanlah aku kepada ciptaanMu yang berjalan menujuMu dan berjuang mencari keridhaanMu..

Ketika hati merasa dikecewakan, ataupun bersedih meratapi nasib, pergilah ke suatu tempat dan bertemulah dengan orang lain. Maka laramu akan melebur dalam ramainya.

Aku bahagia, saat melihat orang lain berlalu-lalang dan beraktivitas, kemudian sejenak berhenti dan mengamati. “Apakah harimu baik-baik saja?”

Menyapa orang lain tidak akan membuatmu menjadi lebih buruk, karena itulah aku senang berkenalan dan memperbanyak relasi. Berinteraksi dengan orang lain, khususnya orang baru yang passionate, selalu membuatku merasa lebih hidup. Selain merasa senang, aku menjadi semangat karena bisa belajar banyak hal baru dan semakin memahami bahwa manusia tak diciptakan hanya dalam 1 tipe.

Salinglah mengenal. Tak pernah ada yang salah dari berbuat ramah. Karena bertemu dengan yang baik adalah sebuah bonus.

Kamu tidak akan pernah mengira bahwa orang asing yang mungkin hanya memakai sandal jepit di depanmu, adalah seorang direktur utama sebuah BUMN, ataukah seorang penerima beasiswa LPDP atau Full Bright.

Kamu tak akan pernah tau.

Karena semakin banyak orang yang kamu kenal, maka kesempatanmu untuk bertemu dengan orang-orang baik  akan semakin besar. Juga tak ada yang tau jika kelak ternyata orang yang duduk di sampingmu dalam sebuah kereta dengan baju yang lusuh adalah orang yang akan mendanai sepenuhnya usaha start-up mu.

Bertemulah dengan banyak orang karena Allah selalu mengirimkan rezeki-Nya melalui perantara.

Maka rendahkanlah hatimu, dan biarkan Allah menjaganya.


Dear @ajinurafifah. If you ever remember this photo, surprisingly it was 2 years ago since this photo taken at January 29th 2015 on Rainy Hijab Photoshoot. Terimakasih sudah menjadi bonus dari Allah dan selalu melibatkanku dalam kebaikan!

Surabaya, 5 Januari 2017 ; 01.00 AM, midnight random thoughts. why this is so interesting than my examination’s slide?

Persoalan Sandal Jepit

Tenang rasanya hati manusia, kalau untuk persoalan sandal jepit yang putus saja, ngadunya ke Allah. 

Memutuskan untuk mengadu pada makhluk bisa saja menjadi tepat, ketika bukan solusi yang ingin dicari, tetapi lebih untuk menghargai dan menghormati keberadaannya. Dan itu baik.

Ia yakin, ndak ada yang memiliki kemampuan memahami dirinya dengan akurasi 100% kecuali Rabb-nya, walaupun itu sahabat terbaiknya, pasangannya bahkan dirinya sendiri.

Ia juga sudah paham, persoalan yang datang tidak lagi memiliki atribut besar-kecil atau berat-ringan, karena pertanyaan paling esensial yang perlu ia jawab adalah “kepada siapa ia akan mengadu?” dan “seberapa berpengaruh persoalan tersebut kepada kadar keyakinannya akan kebaikan & pertolongan Allah?”

“وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ”

Sandal dan Pemaknaan Hidup

Dari sekian banyak ciptaan di alam semesta ini, sandal mungkin menjadi salah satu benda yang secara tak sengaja mengajarkan banyak hal. Iya, sandal, sendal jepit kalau kata orang. Bahkan, sangking berartinya ini, kita begitu peduli hingga terkadang memberikan tanda atau nama pada benda ini

Ia secara tidak langsung mengajarkan kepada pemiliknya tentang pemaknaan akan arti kenyamanan, kesetiaan, dan kehilangan. Coba diingat berapa banyak dari kita yang selalu menggunakan sandal? Dari banyaknya alas kaki yang diciptakan manusia, rasanya terlalu naif kalau kita tidak membutuhkan sandal. Ia yang begitu setia menanti, walaupun sering kita duakan berkali-kali, yang menerima kaki ini, bersih ataupun saat kotor sekali. Dan ia yang berkorban melindungi kaki dari kerikil tajam serta panas tanah duniawi

Sandal juga mengajarkan tentang kepekaan. Bagaimana tidak? Ketika kaki ini salah memakai sandal, terasa sekali bahwa ini bukan sandal milik sendiri. Berbeda, berbeda sekali walaupun memiliki rupa yang sama dengan yang lain. Aneh memang, tapi itu nyata.  Apalagi saat sandal ini didampingin bukan dengan pasangan yang asli. Aku tak perlu menjelaskan, kamu bisa rasakan sendiri

Juga disaat kita ketika kehilangan sandal. Mungkin kita sepakat kalau ini salah satu hal yang paling membuat gelisah dan menyebalkan, apalagi ketika ia masih baru. Duh, itulah mengapa terkadang tak kuasa hati ini untuk meminjamkan, karena takut sekali ia tertukar atau hilang dan tak pernah kembali

Berbagai kenyamanan yang ia berikan dalam setiap langkah kaki serta kesederhanaan yang mengiringi memberikan bukti bahwa nyaman bukan masalah mahal-murah, tapi ini tentang sesuatu yang pas di hati. Ini semacam cinta yang tidak butuh penjelasan lagi. Rasanya ingin sekali menghabiskan sisa umurmu sampai tak dapat dipakai lagi, tapi ini tidak pernah terjadi! Selalu ada orang yang cemburu dan membawamu lari. Mereka kejam dan tak berperi-kaki

Please, jangan pergi lagi. Aku terlalu lelah untuk kembali mencari atau mengganti dirimu lagi untuk kesekian kali :’)

p.s Untuk pertama kalinya aku menulis sambil mentertawakan diri  😅


on Writing Challenge with :
@febrianimanda @alfianzack @hiboki @isasetiawan @swcoollepool
@dyahayucintya @inbakus @ageovani @afsabila @zgalangb @milhanfah @fahrizal182

Tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak punya masa depan.

Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik. Bagaimanapun masa lalunya dahulu, sekelam apa lingkungannya dulu, dan seburuk apa perangainya di masa lampau. Berilah kesempatan seseorang untuk berubah.

Karena, seseorang yang hampir membunuh Rasul pun kini berbaring di sebelah makam beliau: Umar bin Khattab.

Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang pernah berperang melawan agama Allah pun akhirnya menjadi pedang-nya Alloh: Khalid bin Walid.

Jangan memandang seseorang dari status dan hartanya, karena sepatu emas Fir'aun berada di neraka, sedangkan sandal jepit Bilal bin Rabah terdengar di Surga.

Intinya, jangan memandang remeh seseorang karena masa lalu dan lingkungannya, karena bunga teratai tetap mekar cantik meski tinggal di air yang kotor,

Maka untuk jadi hebat yang diperlukan adalah kuatnya tekad.

Tak perlu pusingkan masa lalu, tak perlu malu dengan tempat asalmu, jika kau mau, kamu bisa menjadi laksana bunga teratai yang tinggal di air yang kotor namun tetap mekar mengagumkan.

Berubah dan bangkit jauh lebih indah dari pada diam dan hanya bermimpi tanpa melakukan tindakan apapun.

Sepatu
  • Jogja, 2010, musim hujan. Via telfon.
  • Aku: Buk, adek tiap hari kehujanan
  • Ibuk: Iya dek?
  • Aku: Iya...musim hujan di sini.
  • Ibuk: Oalah...kasian...
  • Aku: Sepatu adek basah Buk. Kena hujan. Hampir rusak...
  • Ibuk: Terus gimana tu?
  • Aku: Ya gimana lah lagi ya Buk...
  • Ibuk: Dek, beli sendal jepit. Kalau hujan ganti sendal jepit, sepatunya masukkan kedalam plastik, taro di jok motor atau di tas. Gitu aja kok bingung.
  • Aku: ...yapulak ya Buk ya...
  • Kode tak sampai.
Sandal

Ada beberapa hal menarik mengenai sendal, alat yang sangat nyaman untuk melindungi kaki dari tanah yang kotor tapi tidak boleh digunakan ketika acara formal, aku masih belum mengerti apa esesnsinya.

Ketika adzan berkumandang, aku dengan kawan-kawanku selalu berebut sendal jepit untuk menuju ke mesjid. pernah suatu ketika sendal yang aku bawa ter tukar dengan sendal yang lain di masjid, karena aku lupa menandai mana sendal milikku.

Jadi hikmahnya adalah, jadikan dirimu unik dari yang lain agar mudah dikenali. :D

@febrianimanda @alfianzack @hiboki @isasetiawan@swcoollepool @dyahayucintya @ageovani @afsabila @zgalangb @creativemuslim @milhanfah @fahrizal182 @inbakus 

Esok lusa, akan ada seseorang selain ayah/ibu/saudaramu yang mengecup keningmu lembut jam-jam segini, lalu berkata:
“Subuhan, sayang”
— 

Ugh. Keinginan banget~
Terus doi ambil udu, make peci meski rambutnya masih basah-basah gitu, baju koko lecek, sarung ngatung, sendal jepit, lalu meski dengan langkah terseret-seret karna mengantuk doi berangkat ke mesjid.

Percayalah, pria macam itu gantengnya klimaks 💁🏻

Sopan atau tidak, itu soal norma & budaya. Kuliah ke kampus pake sarung dan sandal jepit itu tidak sopan, tapi ngaji di pondok pesantren pake sepatu dan celana jeans itu kurang ajar.

SIMPLE SEDEKAH
✔ Belilah beberapa buah sandal jepit
plastik atau bakiak kayu, letakkan di
sekitar masjid agar para jamaah dapat
menggunakannya saat akan berwudhu.
Anda akan menikmati pahala dari
setiap orang yang memakainya
✔ Letakkanlah di jendela kamarmu
segelas air atau makanan untuk burung-burung
kecil yang datang hinggap ke sana
✔ Sisihkanlah dari hasil upah jerih
payahmu, sebagian untuk disumbangkan
kepada anak yatim
✔ Belilah sekantong plastik kaos
tangan dan kaos kaki, agar bisa
diberikan kepada para pekerja
✔ Letakkanlah di kamarmu sebuah
kotak, dimana setiap kali kamu merasa
melakukan dosa, masukan uang receh
3-5rbu kedalamnya, jika sudah 1
bulan, buka kotak itu dan besedekahlah
dengan uang tersebut. Lakukanlah ini setiap
bulan
✔ Jika anda hadir dalam acara kumpul-kumpul
bersama keluarga dan kerabat, belilah
½-1 doos air mineral, niatkan untuk
sedekah kepada orang² yang butuh minum,
yang sakit, dan lainnya
✔ Jika anda mengisi bensin atau
parkir, kemudian petugasnya
mengembalikan uang receh sisa
kembalian, berikan sisa uang itu
untuknya sebagai sedekah
✔ Belilah mushaf (Al Quran) letakkan
di salah satu masjid dan bayangkan
berapa pahala yang akan anda dapat pada
setiap huruf yang mereka baca
✔ Berikanlah perasaan gembira kepada
setiap muslim, khususnya kepada mereka
yang sedang tertimpa kesedihan
✔ Lemparkanlah senyum kepada orang yang
anda temui, berilah salam kepada orang
yang duduk dan bertuturlah dengan ucapan
yang baik karena semuanya adalah
sedekah
✔ Jangan biarkan anda tertidur,
melainkan telah memaafkan setiap
orang yang telah berbuat buruk
kepadamu (menggibahi, mengadu
domba dan mendzalimimu
✔ Kirimkan pesan ini ke semua
kontakmu, siapa tahu ada orang yang
mau mengamalkan ini, sehingga
andapun akan mendapatkan pahala.

Semoga
bermanfaat

Suatu hari, aku ingin kembali bermain hujan di jalanan. Denganmu, yang semoga sebentar lagi dipertemukan Tuhan. Menengadahkan tangan, bersandal jepit karena telanjang kaki membuatku risi, berteriak-teriak mengalahkan gemuruh air, mengabaikan tawa para tetangga. Mereka pikir kita pasangan gila. Padahal, kita hanya dua sahabat baru yang ditakdirkan Tuhan hidup bersama dalam rumah tangga.
—  #dear-unknown-name-future-man