jaungs

“Darah itu merah Jenderal !” ucap wanita itu dengan bengisnya.
Tak berapa lama kemudian wanita tersebut mengambil silet dan melukai wajah Sang Jenderal. Terlihat Sang Jenderal mengerang kesakitan. Darah pun mulau bercucuran membasahi wajahnya. Wanita itu tak terlihat kasihan atau simpatik dengan kondisi Jenderal. Dia justru terlihat puas dan tersenyum bengis penuh kemenangan.

======================

Salah satu adegan film G30SPKI ini melekat erat di benak saya. Waktu itu saya masih SD. Hampir tiap tahun ada pemutaran film G30SPKI di tanah lapang di desa kami. Tanah lapang tersebut kebetulan berada tepat di samping SD saya. Kami pun mendapat tugas untuk menyaksikan film tersebut.

Sebagai murid yg taat, tentu saya mematuhi perintah guru. Dengan senang hati saya menyaksikan film G30SPKI yang diputar di malam Minggu. Tepatnya malam minggu di Minggu keempat bulan September. Disamping menonton film layar tancap tsb, saya juga menikmati jajanan yang menggoda selera anak SD. Ada kacang rebus, gorengan, gembus, soto, bakso dll. Rasanya nikmat sekali menyaksikan lacar tancap sambil ngemil jaung rebus. Meski di adegan tertentu saya harus menutup mata, tapi secara umum saya menikmati film tsb.

Karena hampir tiap tahun menyaksikan film G30SPKI, maka alam bawah sadar kami mengatakan bahwa PKI itu sangat jahat, kejam, keji, tak berperi kemanusiaan, tak pantas hidup di Indonesia. Hampir seluruh anak SD di zaman saya sangat membenci PKI.

Entah sejak kapan Film G30SPKI ini stop tayang. Entah mengapa film ini tak diproduksi ulang. Entah persepsi apa yang tertanam dalam benak anak2 SD tentang PKI.

Sungguh sangat mengherankan jika sampai ada wacana bahwa pemerintah harus meminta maaf kepada PKI. Logika yang tak bisa diterima oleh anak2 SD angkatan saya. Benar2 aneh jika ada yang mengatakan bahwa PKI adalah korban serangan ulama dan santri.

Masih cukup banyak tokoh2 yang hidup dari berbagai kalangan yang bisa mengonformasi ttg kebengisan PKI. Akan tetapi jika kita bertanya pada mantan anggota komunis yg masih hidup, tentu saja mereka akan membantahnya.

Dalam pemberontakan Madiun 1948 yg dilakukan PKI beserta Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) dan organisasi kiri lainnya telah menelan ribuan korban jiwa. KOrban tsb berasal dari kalangan santri, ulama, maupun pemimpin tarekat yg dibantai secara keji.

Di kaki Gunung Wilis, tepatnya di daerah Dungus Kresek Madiun, terdapat pemakaman massal para ulama yg ditangkap di berbagai pesantren. Di daerah Takeran Maospati, magetan, terdapat sumur yg dijadikan tempat penyiksaan ulama dan santri yg ditangkap dari berbagai pesantren. Antara lain pesantren Sewulan, Mojopurno, Ponorogo. Mereka dimasukan ke dalam sumur dalam keadaan hidup.

Pada 13 Januari 1965, sebanyak 100 orang aktifis PII di kanigoro-Kediri di serbu oleh massa PKI. Para aktifis PII tsb disiksa oleh PKI

PKI selalu mengintimidasi para Kyai, Ustadz, serta guru madrasah. Mereka mengambil paksa tanah milik Yayasan Islam dan para Kyai. Mereka juga sering membakar masjid.

Sebelum PKI ditumpas, PKI banyak melakukan aksi sepihak di daerah. PKI tak hanya berkonflik dg umat Islam. PKI dan kaum Marhaen juga saling membunuh. Tapi yg mengherankan saat itu di Jakarta pemimpin Marhaen (Soekarno) berpelukan dg pemimpin PKI (DN.Aidit)

Sayangnya tak banyak saksi korban PKI yg mau menuliskan memoar atau catatan atas apa yg mereka alami di tahun 60-an tsb. Yang menulis memoar justru orang2 PKI. Memoar yg tentu saja membela PKI. Mereka menyembunyikan fakta kekejaman PKI dan hanya mengungkap betapa PKI jadi korban.

Andai Film G30SPKI tsb diwajibkan tayang ulang, mungkin bisa memberikan gambaran ttg kekejian PKI.

*rindu layar tancap G30SPKI*

Watch on ghazwasalih.tumblr.com

Rude jaung hosok “ALL YALL TALKIN ABOUT YOONGI BUT ARE YALL SEEIN THIS SHIT LOOK AT JHOPE IM GONE”

Made with Vine