jauhin

The Way I Lose her: Ibu

.

Konon, ada seorang anak kecil berkata kepada Tuhan, tepat sebelum ia dilahirkan.

“Tuhan, aku takut..”ucap anak kecil itu.

Mendengar pernyataan anak kecil itu, Tuhan tersenyum.

Sembari memeluk dan memangkunya, Tuhan menjawab, “Wahai Anaku, sudah saatnya kau menempuh kehidupan baru, tidak bisa selamanya kau ada di sini, suatu saat kita akan berjumpa lagi kelak, dengan jiwa yg berbeda.”

Anak tersebut menitikan air matanya, dia sangat tidak ingin meninggalkan Surga.Tempat di mana dia bisa dengan bebas bermain riang gembira. Tempat di mana ia bisa dengan bebas tertawa dan tidak perlu merasa takut akan apapun.

Dengan sedikit murung, anak itu berusaha meyakinkan Tuhan agar ia tak diturunkan ke muka bumi.

“Tuhan, saat aku di sana, siapa yg akan melindungiku? sedangkan di sini, aku terlindung dari segala marabahaya.“ tanya sang anak kecil.

Tuhan menjawab "Tenang saja anakKu, akan kukirimkan Malaikat TerbaikKu untuk selalu menjagamu.”

“Lalu saat aku ada di sana, siapa yg akan melindungiku dari dinginnya udara malam? sedangkan di sini, udara selalu terasa hangat.”

Tuhan kembali menjawab “Tenang saja anakKu, akan kukirimkan Malaikat TerbaikKu untuk selalu menghangatkanmu.”

“Lalu saat nanti aku menangis, siapa yg akan mengerti aku? sedangkan di sini, aku mempunyai Tuhan tempatku mengadu”

Tuhan menjawab,“Tenang saja anakKu, akan kukirimkan Malaikat TerbaikKu untuk selalu menghiburmu.”

“Lalu saat aku ada di sana, bagaimana aku berbicara? sedangkan aku tidak bisa bahasa mereka.”

Tuhan kembali menjawab,“Tenang saja anakKu, Malaikat TerbaikKu akan mengajarimu cara berbahasa yg luhur.”

“Jika aku mengantuk, di manakah aku akan tertidur?”

Tuhan menjawab,“Malaikat TerbaikKu akan menjadi tempat bernaungmu.”

“Lalu jika aku sakit, siapa yg akan merawatku?”

Tuhan menjawab, “Malaikat TerbaikKu akan selalu merawatmu siang dan malam, tanpa lelah.”

“Lalu jika AKU LUPA PADAMU, aku harus bagaimana?”

Tuhan kembali menjawab,“Tenang, Malaikat TerbaikKu akan selalu membimbingmu untuk mengingatKu.”

“Jika aku tersakiti, siapa yg akan menolongku?”

Tuhan menjawab, “Malaikat TerbaikKu akan mewakili segala penderitaanmu.”

“Jika aku lapar, siapa yg akan memberiku makan?”

Tuhan menjawab, “Malaikat TerbaikKu akan mencarikan makanan untukmu sampai kapanpun”

Anak itu terdiam seribu bahasa. Tuhan tampak tersenyum melihatnya. Lalu anak itu kembali bertanya untuk yg terakhir kalinya.

“Tuhan, aku mau turun ke muka bumi, asal Kau mau menjawab pertanyaanku yg terakhir ini.”

Tuhan bertanya, “Apakah pertanyaanmu itu, anakKu?”

“Aku penasaran, siapakah Malaikat TerbaikMu itu, Tuhan?” tanyanya penasaran.

Mendengar pertanyaan terakhir anak kecil itu, Tuhan Tersenyum bahagia. Lalu di bisikannya dengan pelan sebuah kata-kata yg indah di telinga sang anak kecil.

.

“Malaikat terbaikKu itu, nanti akan kau sebut dengan panggilan, IBU.”

.

Akhirnya, siang itu semua persyaratan pendaftaran masuk SMA sudah emak gue bereskan dengan sehat wal'afiat. Kata emak gue, kita cuma disuruh nunggu aja sistemnya berjalan, dan semua itu bisa dilihat pada web yg bersangkutan.

Mendengar hal itu, gue cukup senang. Karena ini mengartikan persyaratan gue untuk mengikuti kompetisi mencari sebuah bangku di sekolah ini sudah kumplit. Dan untungnya, 2 sekolah pilihan kedua dan ketiga gue gak perlu mengumpulkan persyaratan yg muluk-muluk seperti sekolah pilihan pertama gue ini. Jadinya mulai hari ini gue sudah bisa bernafas dengan lega. Ngg.. Maksudnya, Ibu gue yg bernafas dengan lega. Kalau gue sih asik-asik aja sambil ngemutin sendok nyam-nyam.

Sebelum pulang, kita sempatkan diri untuk sekedar mampir makan di salah-satu restoran cepat saji yg ada di Bandung. Nama restorannya gue samarkan menjadi KFC. Gue, ibu gue, dan kakak gue kesini buat makan siang.

Yaiyalah, ngana pikir ane ke sini buat pijat?!

Setelah melewati ritual pilih-pilih menu makanan, pesen makanan, dan milih bonus CD musik yg gak jelas. Akhirnya kita makan siang bersama lagi setelah sekian lama tidak bisa kumpul seperti ini.

Ini adalah moment yg paling gue rindukan ketika gue sudah menyentuh masa-masa kuliah hari ini. Moment di mana gue bisa berkumpul bareng bersama kedua wanita paling hebat dalam keluarga ini, ibu, dan juga kakak gue sendiri.

Selagi gue memperkosa habis-habisan ayam KFC yg baru datang, gue gak habis-habisnya bertanya sama kakak perihal apa saja hal yg harus gue lakukan nanti jika berhasil masuk ke SMA pilihan gue tersebut.

Di situ, kakak gue menjelaskan tentang siapa saja guru yg wajib gue deketin agar dapet nilai bagus, guru yg wajib gue jauhin keberadaanya, guru yg wajib gue deketin agar bisa mabal dari kelas, kumpulan warung-warung kantin yg bisa gue utangin, kumpulan warung kantin yg selalu mempunyai pelayan cantik luar biasa, hingga sudut-sudut tempat paling angker yg ada di sekolah itu. Karena gak bisa dipungkiri, gue adalah salah satu penggemar hal-hal misteri.

Maka dari itu gue selalu mencintai wanita dengan setulus hati. Karena wanita adalah salah satu misteri ilahi yg belum bisa dipecahkan hingga kini. Tsaaaahh #dirukiyahFelixSilau

.

                                                         ===

.

Sedang asik bercengkrama bertiga, sering rasanya gue melihat ada banyak anak kuliahan atau SMA yg sering mampir ke restoran ini. Dan beruntungnya, siang itu ada suatu kejadian yg merubah hidup gue hingga detik ini, sebuah kejadian yg ngebuat gue gak bisa berhenti kagum hingga detik ini.

Setelah cukup puas menjilati selangkangan paha ayam, gue memutuskan mencari wastafel untuk sekedar mencuci tangan. Lagi dalam perjalanan menuju tempat cuci tangan, secara tidak sengaja gue berpapasan dengan meja seorang anak laki-laki dengan kisaran umur sekitar 20-21 tahun yg sedang bersama ibu-ibu.

Awalnya sih gue gak peduli tuh orang siapa, mau itu brondongnya si ibu-ibu kek, atau pembantu pribadinya kek, yg jelas selama dia cowok, He never get my attention.

Tapi, ketika gue lagi asiknya mencet-mencet pentil wadah sabun yg berbentuk tabung ini, gue mendengar beberapa kalimat dari meja anak laki-laki itu,

.

“Ibu mau pesen apa lagi? biar aku pesenin ya?” ucapnya lembut.

Gue gak sengaja mendengar apa yg ia ucapkan ketika sedang cuci tangan, dan sayangnya setelah berbicara menawarkan makanan tadi, gue gak terlalu mendengar apa yg ibu-ibu itu katakan, tapi yg jelas saat itu gue tau bahwa ternyata status mereka adalah seorang Ibu dan anak. Bukan tante-tante liar yg lagi mengeksploitasi keluguan seorang brondong.

“Yaudah, aku suapin ya, bu” Jawabnya lagi seraya menyuapi sup ayam hangat kearah ibu tersebut.

 Usut punya usut, akhirnya gue sadar bahwa ternyata tangan ibu itu tidak terlalu bisa untuk digerakkan, ntah karena hal apa. Mungkin terlalu banyak maen capsah di pos ronda kemaren malam.
Tapi bukan hal itu yg menarik perhatian gue, melainkan sikap seorang anak laki-laki tersebut.

Dikala anak laki-laki seumuran dia di luar sana akan merasa malu jika berjalan berdua dengan ibunya, anak ini malah dengan leluasa mengajak ibunya makan di restoran yg notabenenya restoran tempat anak-anak muda.

Ketika anak laki-laki lain malu jika dirangkul, dipeluk, atau bahkan dicium oleh ibunya sendiri di depan publik, anak ini malah dengan rendah hati menyuapi ibunya tersebut.

Dan ini lah yg gue maksud sebagaimana seorang pria dalam bertindak. Bukan sebagai seorang anak laki-laki.

He is a Man, not a boy.

Para pria memang harusnya sudah seperti itu, karena biar bagaimanapun, ibu adalah nama yg terucap 3x oleh Nabi kita sebelum Beliau mengucap nama Ayah.

Bagaimana seorang pria memperlakukan pacarnya kelak, bisa dilihat dari bagaimana perlakuan pria tersebut terhadap ibunya sendiri di tempat umum.

Dan bagaimana pria berlaku santun kepada setiap wanita yg ia temui kelak, dapat dilihat dari bagaimana cara ia berbicara dan bertutur kata ketika menjawab pertanyaan yg ibunya tanyakan.

Semenjak kejadian itu, gue jadi belajar. Bahwa kelak jika gue sudah dewasa, jalan berdua bersama ibu adalah cita-cita yg selalu gue jaga. Hal itu akan tetap menjadi cita-cita yg selalu gue usahakan selagi Tuhan belum memanggilnya.

Dari hal ini gue jadi banyak belajar dan sering menasehati gue atau teman-teman gue sendiri, bahwa sebaiknya mereka tidak pernah tersinggung jika seseorang mengatakan kalau mereka anak mamah hanya karena sering bersama Ibu. Karena mungkin nanti ketika Ibu sudah tiada, kalian akan sangat berharap agar orang-orang masih memanggil kalian dengan sebutan anak mamah.

Wisuda gak ada pendamping tapi hanya didampingi orang tua?
Mungkin gue mau menukarkan gelar sarjana gue hanya agar Ibu ada disamping gue.

Ibu.
Adalah wakil Tuhan di dunia.
Beliau adalah bentuk nyata dari Tuhan.
Beliau adalah malaikat tanpa sayap, yg tetap bercahaya bahkan disaat kita sedang menutup mata.

.

.

.

                                                 Bersambung

Mahluk Paling Ribet (Just Kidding)

Sesuai pengalaman, menurut gue perempuan itu mahluk paling ribet kedua yang ada di muka bumi ini. Yang pertama, cewek. (sama aja, Malih!)

Gimana ribetnya?

Cewek kalo melakukan sesuatu, banyak pertimbangan. Kita cowok.. kalo kita laper, kita makan. Cewek mau makan, takut gendut. Mau keluar, takut item. Mau sunat, tapi cewek. Wadaw.

Dan ribetnya lagi, Kalo ke mall.. apa yang dibeli, nggak sesuai sama tujuan awal. mau beli tas, yang dibeli sepatu. Mau beli sepatu, yang dibeli baju. Mau beli baju, yang dibeli…. Ijazah palsu. Ada lagi ke mall niat nggak beli apa-apa, pulang-pulang bawa 10 kantong. Ribet memang.

Hidup cewek banyak diribetin oleh hal-hal seperti dandan, make up, catok rambut, pinsil alis, bulumata palsu, senyum palsu, air mata palsu…
Dan cewek selalu ngeluh, “enak ya jadi cowok… cowok nggak ribet. Cewek mah ribet.” Yes, kita para cowok, kita mahluk yang simple. Yang bikin ribet kita cuma satu: elu! :))

Let me tell you something.. kenapa cewek itu ribet. Ini mungkin rahasia, rahasia yang selama ini disimpan dalam-dalam oleh para cewek. Dan gue akan membukanya. HAHA!
Cewek menjadi ribet itu strategi, my friends… strategi supaya kita mengucapkan satu kata: YA. Semakin sering kita bilang ya, semakin dekat kita dengan tujuan akhir cewek. Apa tujuan akhirnya? CEWEK SELALU BENAR.

Gue jelasin polanya.

Pertama cewek akan menunggu suasana yang tepat untuk bertanya satu hal…. Kalo pertanyaan ini udah keluar, HATI-HATI… Pertanyaannya adalah.. “Kamu sayang aku, nggak?”
Dan lo pasti jawab: iya…
Dan di situlah lo mulai masuk ke dalam pencucian otak (haha), dan setelah itu semua pertanyaan bahkan permintaan cewek lo bakal jawab ya.. Contoh:

“Sayang, ujan nih.. jemput aku ya..”
“Iya..”

“Sayang,  aku mau iPhone 6..”
“Iya..”

“Sayang,  aku mau iPhone 7..”
“kan belum keluar?”
“buat dong..”
“iya..”

Lalu strategi berikutnya, cewek akan membandingkan dirinya dengan keseharian lo. Pas lo mau futsal, dia akan bilang, “oh kamu lebih mentingin futsal daripada aku? Kamu sejak main futsal, kamu nggak pernah ada waktu buat aku. Mulai sekarang, jauhin yang namanya futsal.”
Dan lo nggak sadar, kian hari larangannya akan makin ekstrim. Bahkan lo mau napas aja mesti minta izin.
“Sayang, aku mau napas aja.”
“Oh kamu lebih mentingin napas daripada aku? Kamu sejak bernapas, kamu nggak pernah ada waktu buat aku. Mulai sekarang, nggak ada napas-napas lagi.”

Wadadaw.

Nah, di fase ini…. Lo akan kejebak! Saat dia menjadi yang terpenting, maka dia akan membuat lo serba salah. Biasanya dia punya kata pamungkas; “Terserah.” Saat sesuatu menjadi terserah lo, maka dia akan mengkritik segala keputusan lo.

“Sayang, kita mau makan di mana?”
“Terserah.”
“Makan di café itu aja, ya..”
“Kejauhan..”
“Oh kalo gitu, café ini..”
“Ah di situ sumpek.”
“Berarti café ini aja..”
“Hih.. aku puasa.”

Lo dibikin muter-muter, sampe akhirnya lo lepas kendali. Lalu lo bertanya dengan nada yang keras, “YA KAMU MAUNYA APAAAAA?”

Saat lo kesel, di situ dia akan diem selama 3 detik. Yaa.. 3 detik. 1, 2, 3, kemudian dia menoleh. Dia natap lo dalem-dalem, dan dia bilang satu statement.. statement ini bakal menghantui lo berhari-hari. Dia bilang,
“Aku paling nggak suka dibentak. Asal kamu tau, orang tua aku aja nggak pernah bentak aku. Kamu jahat. Turunin aku sekarang.”

Sebagai cowok, lo nggak suka ditantang… lo bilang, “oh oke, silakan turun!”

Pertama-tama lo santai-santai aja! Lo ketemu temen lo, ketawa-ketiwi.. “tadi cewek gue minta turunin di jalan. Terus dia pulang naek ojek. Padahal rumahnya di Kebumen. Hahahahaha!!!”

Tapi pas sampe di rumah.. kejadian tadi itu bakal menghantui pikiran lo. Lo mulai ngomong sama diri sendiri:
“heh.. gue jahat? Ada juga lo yang ribet. Kok gue yang jahat. Gue jahat apa? Gue ngebentak? Gue nurunin lo di pinggir jalan??
Heh.. heh..
kok gue tega ya? Deh, iya gue jahat. Seharusnya gue nggak ngebentak. Seharusnya gue nggak nurunin dia di pinggir jalan. Mana rumahnya di Kebumen.. jam segini di Pantura kan banyak truk. Entar kalo dia kelilipan gimana.. dia kan nggak bawa masker..
AH GUE BEGO BEGO BEGO!!!”  

Lo ngerasa bersalah, lo nganggep diri lo bego. Lo nyesel. Dan akhirnya lo nelpon..

“maaf, aku salah.”
“Terlambat, aku udah di Kebumen.”

SEE? CEWEK SELALU BENAR.


“Seribet-ribetnya perempuan, dia kekasih kita. Jangan berpikir untuk mengubahnya, karena dia mahluk yang unik. Tetapi berpikirlah untuk melengkapinya, karena dia adalah bagian kita.” 

Ada yang mungkin memang belum bisa kau mengerti, bahwa aku begitu menginginkan dijemput dengan cara yang suci. Kata ukhti fulan, kalau aku sayang kamu, aku harus jauhin kamu. Sampai Allah ngasih waktu yang tepat, pribadi yang siap dan emosional yang matang. Kita mulai dengan bismillah ya.
—  Monolog bocah yang katanya sedang jatuh cinta.
Satu-satunya nama perempuan yang jelas disebutin Al-Qur'an adalah Maryam. Bahkan dijadiin nama Surat didalamnya. Surat Maryam.
— 

Menurutku ini unik.

Fyi, Allah memuji habis-habisan Maryam lho didalam Al-Qur'an ini.

Dan kamu tau? Sebelum Allah membahas pujian-pujian lain, yang disebutin pertama oleh Allah adalah Maryam selalu menjaga dirinya. Menjaga kehormatannya.

Well, yang susah buat perempuan sekarang adalah menjaga diri. Terkadang kita suka menyepelekan.

“Nggak apa-apa kok, cuman chatting doang. Ngobrol biasa..”

“Nggak kok, cuman jalan berdua jaraknyapun dua meter..”

“Nggak ngapa-ngapain kok, cuman ngingetin sholat doang..”

Dan kita nggak pernah sadar dan bener-bener tau lewat jalan mana syaitan menggoda kita. Pffft. Ighfirli YaAllah..

Jalan satu-satunya adalah, untuk mengantisipasi doang, mending kalau ngrasa udah agak aneh perangainya, ditanya.

“Maksudnya apa ya?”

Habis gitu kalau gajelas maksudnya, jauhin aja. Jaga diri aja. Ini hanya mengantisipasi. Dan sebentuk rasa taat juga kepada Allah ^^

Well, mari bersama-sama belajar menjaga diri dengan baik sebagaimana Maryam menjaga dirinya dengan sangat baik.

Mangats kaka ^^

Leona (Part 11)

ANDAI BUKAN AKU

Tidurku tidak begitu nyenyak semalam. Cemas hati ini memikirkan keadaan Leona. Dari sepulangnya aku dari rumah sakit hingga pada siang hari ini aku dalam perjalanan ke kampus, tak kunjung kudengar kabar dari Leona. Yang kuharapkan, semoga sakitnya tidak parah, semoga Leona lekas sembuh, semoga dia cepat mengabariku. Aku ini bukan orang yang pandai menunjukkan kepedulian. Hati ini bertanya-tanya, tetapi aku malas bertanya langsung. Nanti juga Leona akan memberi kabar. Dia pasti akan mengabariku. Jika ia belum memberi kabar, itu bukan berarti dia melupakanku. Mungkin belum sempat saja, atau mungkin dia sedang istirahat.  

Di bus, kududuk di kursi paling belakang, dekat jendela. Tumben dapat tempat duduk. Biasanya kalu di bus, aku suka memerhatikan sekitarku. Siapa yang duduk di sebelahku, menebak permasalahan satu persatu wajah yang kujumpai di bus. Namun, kali ini berbeda. Mataku hanya terus memandang ke luar, namun perasaanku memikirkan banyak hal tentang Leona.

Leona sakit apa, ya? Perut Leona kenapa, ya? Leona kok belum ngabarin, ya? Mamanya Leona komentar apa, ya? Abang-abangnya Leona bilang terima kasih tuh ikhlas, nggak, ya? Yang jenguk Leona sakit siapa aja, ya? Yang jenguk Leona bawa apa aja, ya? Leona mana, ya? Kok Leona nggak SMS, ya? Leona kangen aku nggak, ya? Leona lagi di rumah kan, ya? Apa Leona dirawat di rumah sakit, ya? Sakitnya parah nggak, ya? Leona udah mandi belum, ya? Leona kayak apa ya kalo lagi mandi?

Di sisi lain, aku masih terkesan oleh keramahan mamanya Leona. Kesan pertama aku bertemu mamanya Leona adalah membanggakan. Ya bangga dong! Beliau menyambutku bak pahlawan yang sudah menolong anak perempuan satu-satunya yang sekaligus paling bungsu itu. Kuingat berulang kali dia berkata kepadaku terima kasih. Abangnya juga bilang thanks. Aku sungguh merasa sudah diterima, seakan-akan mamanya itu calon mertuaku, seakan-akan abang-abangnya itu calon abang iparku. Tiba-tiba saja jadi kepikiran, ada hari di mana aku bisa makan malam bersama keluarganya. Di meja makan, aku bercerita ini dan itu, dan mereka tertawa. Sebab aku masih ingat betul senyum mamanya. Aku ingat betul suara abangnya. Di dalam hati kecilku ada harapan, supaya keluarga Leona dapat menerimaku apa adanya. Aku ingin mereka mengerti, kalau bersamaku Leona baik-baik saja, tidak ada lecet sedikit pun. Aku memang nakal tapi kan bukan penjahat. Ah, andai aku tidak sama dengan Joshua yang orang-orang ceritakan, andai aku sama seperti Joshua yang Leona pandang.

Sesampainya di kampus, aku langsung menuju kelas padahal biasanya langsung ke kantin. Dan padahal belum waktunya masuk kelas. Kulihat kelasku masih sepi, hanya ada 5 orang, semuanya cewek, tampang-tampangnya pada kutu buku. Lalu kudu aku duduk sendirian di dekat kelas, di lantai sambil selonjoran, barangkali bisa melanjutkan lamunan.

Leona kalo mandi kayak apa, ya? Hahahaha.. mesum!

Duduk selonjoran di sini, pemandangan terasa berbeda dengan di kantin. Di sini terasa lebih tenang, tidak bau asap rokok, tidak ada yang main kartu. Kulihat seorang mahasiswa di dekatku sedang duduk khusyuk membaca buku. Ada juga kelompok yang lagi mendiskusikan politik, sepertinya. Ada juga yang lagi pacaran, ngobrolnya pelan-pelan. Jadi kepikiran, kalau selama ini aku menghabiskan waktu kuliah lebih banyak di kantin itu sebenarnya kerugian. Mereka yang ada di sekitarku sekarang ini semacam punya semangat yang jauh lebih tinggi untuk menjadi sarjana, menggapai masa depan. Aku ingin punya semangat yang sama. “Situ mahasiswa, loh!” Kataku dalam hati, spontan saja ngomong begitu ke diri sendiri. Sudah sebegini beruntungnya hidupku. Banyak orang yang sama miskinnya denganku, tetapi hanya mampu sampai SMA, bahkan SMP. “Seharusnya situ bisa lebih menghargai keadaan, sesulit apapun keadaan itu.” Kataku lagi dalam hati.

Sementara di beberapa hari belakangan ini, suara Leona seperti menghantui pikiran. Kuingat waktu dia bilang, “Aku yakin kamu pasti punya sesuatu.” Tak banyak aku diberikan rasa yakin seperti itu. Aku saja tidak yakin sama diriku sendiri. Yang kupercaya dari dulu, aku beruntung. Aku hanyalah orang yang bergantung pada keberuntungan. Bilamana aku mendapatkan hari yang sial, maka itu hari yang wajar. Memang sudah nasibku sial. Tadinya kupikir begitu. Leona seperti menyadarkanku, bahwa menjadi apa kita nanti, itu tergantung pada kita, pada tekad yang kita pegang. Aku, sebetulnya aku harus yakin akan masa depanku, atau paling tidak aku mengharapkan sesuatu, lebih dari karena aku beruntung, tetapi karena aku mampu.

***

Dan saya meminta kamu.
Untuk menjadi pendamping saya.
Melawan diri saya sendiri.
Saya pikir demikian cara terbaik tuk mengambarkan.
Saya tidak bisa melawan diri saya.
Mencintai kamu.

Gambar-gambar saya.
Semuanya tentangmu.

Aku belum mengalah. Sebenarnya rindu ini sudah menjelaskan satu hal, bahwa jangan terus melawan diri yang sudah jelas butuh untuk menyayangi. Namun, aku masih keras hati, gengsi. Kupikir, tenang saja, Leona pasti akan memberi kabar. Pasti.

Sekitar jam 5 sore, apa yang kuyakini itu menjadi kenyataan. Ya, akhirnya Leona mengirim SMS juga. Tuh kan, bener!

Leona:
Joooooshhhh, makasih yaaaa kemarin udah nganter Nana ke rumah sakit.. Aku sakit usus buntu, Josh.. huhuhuhuhu…. Ini baru selesai operasi… Tadinya mau nelpon kamu tapi susah nih lagi ada mama… Nanti kalo udah nggak ada mama, aku telpon kamu yaaaa.. Kamu di mana Josh?? Kuliah, kan? Awas ya nggak masuk kelas….

Josh:
Usus buntu? Wow.

***

Malam harinya, sekitar jam 7 lewat, Leona meneleponku. Waktu mendengar suaranya, hatiku lega sekali. Kudengar dia berbicara tidak sesemangat biasanya seberisik Leona Permata. Terasa sekali bahwa dia sedang terbaring di rumah sakit dalam keadaan perut habis dijahit.

“Josh, huhuhu atit…. Huhuhu… mau disayang-sayang sama kamu… huhu…”
“Syukur deh, operasinya lancar.”
“Amin, Josh… Ih ampun deh Josh, baru ini loh aku ngerasain usus buntu.. Sakit banget astaghfirullah….”
“Yaelah, Le.. emang maunya berapa kali?”
“Ih sebelumnya belum pernah..”
“Bebas, Le. Belum ada sih aku denger orang dua kali kena usus buntu.”
“Eh iya ya, hahaha aduh, aduh, aduh, sakit perutnya Josh kalo ketawa..”
“Ya makanya jangan ketawa.”
“Ih nggak tau, ketawanya nggak sengaja.”
“Yaelaaaah…”
“Josh di mana nih?”
“Di rumah.”
“Loh katanya kuliaaah? Ya ampun Josh, pemalas banget sih duuuuh…”
“Yeee, tadi kuliah. Sekarang udah di rumah.”
“Ih tumben banget kamu jam segini udah di rumah??”
“Iya, tadi selesai kelas langsung pulang.”
“Loh, nggak nongkrong di kantin?”
“Males.”
“Kenapa? Lagi marahan ya sama Ronny?”
“Enggaaak..”
“Trus?”
“Ya emang mau pulang aja..”
“Ih hebat… gitu dong.. lagian ngapain sih kamu lama-lama di kampus? Entar malah judi lagi, trus duitnya abis lagi..”
“Iya, Le.”
“Josh, aku mau cerita.. Mama kemarin nanyain kamu ke aku.”
“Oya? Nanya apa?”
“Mama nanya kamu siapa, kata mama kamu orangnya baik, sopan.”
“MAMA BILANG GITU? Hahaha, nggak nyangka.”
“Iya.. tapi abis itu mama marah, karena aku bilang kalo kamu itu Josh.”
“Yeeee… kok kamu bilang??”
“Abis aku bingung, Josh.. mama nanya kamu namanya siapa, aku bingung jawabnya.”
“Trus?”
“Aku bingung, Josh. Aku disuruh jauhin kamu. Katanya kamu anak nggak bener, dan udah gitu kita beda agama. Mereka nggak mau kamu sama aku deket, pacaran.”
“Loh, kita kan nggak pacaran!”
“Ya gimana, Josh, Nicky udah ngadu semua tentang kita.. Aku bingung. Papa kayaknya udah tau juga soal kamu. Abang-abang aku juga udah heboh. Aku sedih banget, mereka itu nggak tau siapa kamu. Nicky nggak tau siapa kamu.  Yang tau kamu itu aku, Josh. Aku tau kamu baik. Kamu itu baik, Josh. Kamu itu sayang sama aku. Aku tau itu. Aku ngerasain. Aku tau kamu nggak mungkin ngejahatin aku.”
“Le, kamu nggak usah pikir-pikir soal ini dulu, lah. Kamu lagi sakit. Apa yang mama bilang, iyain aja.”
“Iya, Josh. Aku cuma sedih aja, aku nggak mau jauh dari kamu.”
“Ya, mau gimana, Le.”
“Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Aku tuh sayang sama kamu, Josh. Sayang banget.”
“Haha, emang aku bakal diapain?”
“Aku takut kamu kenapa-napa. Takut abang-abang aku nyamperin kamu.”
“Nyamperin aku? Ngapain?”
“Nggak tau, Josh. Aku juga bingung mereka sampe segininya.”
“Keluarga kamu seprotektif itu ya sama kamu?”
“Nggak tau makanyaaaa… huhuhu…”

Aku terdiam. Aku bingung harus berkomentar apa.

“Josh?”
“Ya?”
“Kok diem?”
“Iya, kepikiran.”
“Maaf ya, Josh..”
“Loh kok maaf?”
“Nggak tau, mau minta maaf aja. Hehehe..”
“Kamu itu nggak salah kok, Le. Kalo kamu menganggap aku sayang kamu, kamu nggak salah.”
“Iya kan? Hihihihi, Nana tuh tau..”
“Pede banget ya lu.”
“Kan kamu yang ngajarin. Kamu kan kepedean, Josh, orangnya.. Haha.. aduh.. lupa nggak boleh ketawa. Sakit. Haha.. Aduh.”
“Kadang-kadang, aku juga minder sih.”
“Ih, minder dari mana!”
“Ya aku tahu siapa aku, Le. Aku ya gini.”
“Ih, apa sih kamu ngomongnya..”
“Hehe, ya aku nyadar sih, siapa aku dan siapa kamu. Biar gimana, kita beda. Coba kamu bayangin, andai kita merawat perasaan ini terus, andai sampai seterusnya kita menjaga hati kita masing-masing, lalu mau sampai kapan? Suatu saat kita akan menemukan ujungnya, Le. Dan ujungnya itu pasti nggak menyenangkan. Hehe..”
“Maksudnya?”
“Hehe, nggak paham ya? Dasar.”
“Ih bahasa kamu lagian.”
“Aku cuma bisa bilang, aku nggak mau ada ujung di antara kita. Dari kamu, aku menemukan keseriusan menilai hidup. Kamu itu kayak jendela, Le.”
“Maksudnya?”
“Jendela untuk aku melihat diri aku berharga, berarti.”
“Hihihihihi, manis banget sih. Aku ngerti, aku ngerti..”
“Hehehe..”
“Josh, bikinin aku puisi, dong!”
“Hah? Puisi? Hahahahahaha…”
“Iya, kamu kan suka bikin puisi. Perasaan kamu nggak pernah nulis buat aku deh, huh..”
“Emang kalo aku bikin, kamu bakal ngerti?”
“Ih ya Allah kesannya aku bego banget.”
“Hahaha.. Kamu adalah puisi itu, Le. Kamu itu indah, tetapi sulit dimengerti.”
“Kamu bisa, Josh.”
“Apa?”
“Ngertiin aku.”
“Emang iya?”
“Nggak juga sih, hahahaha… aduh… sakit..”
“Yeee, dia geli sendiri, hahaha…”
“Hahaha aduh.. aduh..”
“Hahaha.. eh mama belum dateng?”
“Belum.”
“Trus kamu kapan pulang?”
“Nggak tau ih, Nana udah males di rumah sakit..”
“Sabar. Nanti juga sembuh.”
“Iya tapi udah nggak tahan ih… Mau cepet-cepet ngampus, ketemu Josh, jalan-jalan.. eh kita belum ke Ragunan, kan. Nana mau deh ke Ragunan, Josh..”
“Iya, sembuh dulu dong.”
“Iya makanya doain…”
“Iya, udah kok.”
“Doain gitu, Al-fatiha..”
“Hahahahahaha… Al-fatiha gimana sih?”
“Nih Nana ajarin..
Bismillah Ar-Rahman Ar-Raheem
Al-hamdu lillahi Rabb il-‘alamin”
“Haha, udah, udah..”
“Ih, dengerin…”
“Haha, gimana-gimana..”
“Ar-Rahman Ar-Raheem
Maliki yawmi-d-Din
Iyya-ka na'budu wa iyya-ka nasta'in
Ihdina-sirat al-mustaqim
Sirat al-ladhina an'amta ‘alai-him
Ghair il-Maghdubi 'alai-him wa la-d-dallin
..”
“Hahahaha…. Udah, ah..”
“Amiiiiiiiiiin…”
“Oh, udah? Haha..”
“Ih parah banget ya, nggak rispek banget orang doa malah ketawa..”
“Kan ceritanya aku tuh ketawa kagum.”
“Yeee alesan.”
“Hahaha.. Leona, Leona.”
“Joshua, Joshua.”
“Leona.”
“Joshua.”
“Leona Permata.”
“Joshua Zani.”
“Leona cantik.”
“Joshua ganteng.”
“Hahaha..”
“Hahahaha aduh… Ih, Josh, jangan lucu dong, sakit nih kalo ketawa…”
“Hahaha…”

***

Bila cinta itu satu, tiga perempatnya itu percakapan. Bagiku, percakapan dengan Leona adalah senyata-nyatanya kasih dan sayang. Bercanda dan berdebat dengannya, rasanya indah sekali. Mendengar ia bermanja-manja, aku ingin setiap hari. Dari percakapan, aku bisa sangat-sangat mengerti, bahwa ada seseorang yang sedang menyayangiku dengan tanpa keluhan. Lebih lagi daripada itu, aku pun menyadari, kalau ada yang sedang peduli dengan tidak hanya hadirku, tetapi juga tentang hidupku. Demi seseorang, aku ingin menjadi aku yang lebih baik.

Ya, aku jatuh cinta, tepat di hari aku mulai merasa mungkin suatu saat akan kehilangan. Aku tidak pernah takut kehilangan Leona. Aku hanya tidak mau. Seseorang bisa datang dan pergi, tetapi cinta tidak berubah. Sifatnya selalu sama: kuat. Sementara perpisahan hanyalah bukti, bahwa manusia itu lemah. Aku dan Leona, kami bukan mahluk yang lemah. Kami sama-sama cinta, maka kami merasa kuat. Dari sini, demi diriku sendiri aku mulai ingin melupakan, bahwasanya ada cinta yang lebih besar daripada cinta manusia kepada manusia.

Kuliahku masih jauh dari selesai, aku masih muda dan berapi-api. Aku merasakan, bahwa ada begitu banyak hari yang bisa kulewati bersama Leona, lalu untuk apa aku menggusarkan keyakinan? Tanpa perlu bahas agama, aku dan Leona sudah banyak perbedaan. Dari perbedaan-perbedaan itu, justru aku menemukan cinta. Tidak sekali aku merasakan cinta, tetapi yang kepadanya rasanya lain.


Ingin sungguh aku bicara satu kali saja
Sebagai ungkapan kata, perasaan kupadamu

Telah cukup lama kudiam di dalam keheningan ini
Kebekuan di bibirku, tak berdayanya tubuhku

Dan ternyata cinta yang menguatkan aku
Dan ternyata cinta


Lagu berjudul Ternyata Cinta ini kuyakini tercipta untuk mewakilkan perasaan orang yang merasa kuat karena cinta. Bukan suatu kebetulan aku mendengar dan mengenal lagu ini. Saat yang tepat aku mendengarkannya. Di saat-saat seperti ini, aku membutuhkan lagu-lagu cinta. Aku butuh ada yang mengerti perasaan ini.

Sekitar 9 hari aku tidak bertemu Leona. Ya, 9 hari. Selama 9 hari itu, aku dan dia hanya berkomunikasi via SMS, telepon. Sekali lagi, bukankah kita butuh berjarak untuk melihat perasaan dengan lebih jelas? 9 hari itu jarak yang jelas untuk aku teramat sangat sadar kalau aku cinta dia, rindu dia. Tidak bertemu selama 9 hari adalah suatu pencapaian, bukan penderitaan. Nanti jika bertemu, aku telah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku ingin merayakannya dengan ciuman. Aku akan mencium bibir Leona, berkali-kali dan bermenit-menit.

Teman-teman kampusku, terutama yang terdekat yaitu Ronny dan Andhika, mereka sampai heran. Aku tidak lagi nongkrong di kantin, aku tidak lagi main judi. Asal ke kuliah, aku masuk kelas. Selesai kelas, aku pulang. “Lo kesambet ya?” Ronny sampai bilang begitu.

Malam kemarin Ronny ajak aku clubbing, katanya bareng Dinda dan Karin, tetapi aku menolak. Kubilang, “Nggak, Brur, gue mau di rumah aja. Di rumah lagi ada nyokap. Kasih kenal aja Karin ke Andhika. Gue udah ada Leona.” Waktu kubilang begitu, dia tertawa sambil bilang, “ah, taik.”

Kalau ada teman yang mendadak menghilang dari tongkrongan karena perempuan, aku orangnya. Aku tidak malu bilang begitu. Aku orang yang menganut suatu kepercayaan, bahwa kekasih itu lebih penting daripada teman. Kekasih bisa menjadi sekaligus teman, sedang teman belum tentu.

Iya, Leona memang belum kekasih secara ‘resmi’, lagian apa ‘nembak’ itu kewajiban? Sama-sama tau kalau saling sayang, bukankah itu cukup? Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya ‘nembak.’ “Kamu mau nggak jadi pacarku?” Yaelah, itu bukan Josh banget kalo harus bilang begitu.

Sebenarnya yang paling aku tunggu-tunggu itu besok. Leona bilang dia sudah sehat, udah di rumah, dan besok hari senin akan ke kampus. Besoklah yang paling kutunggu, tidak sabar rasanya. Tekad untuk menciumnya besok itu sudah bulat, sudah ingin sekali. Besok aku cuma ada satu mata kuliah, jam 9 pagi. Sisanya aman. Leona juga. Jadi pas sekali. Setelah kelas, aku dan Leona sudah sepakat untuk pergi nonton. “Josh jangan tidur malem-malem, biar nggak telat ngampusnya. Nanti Nana jemput ya.” Begitu kata Leona di telepon yang baru saja kututup. Oke, aku akan tidur cepat, Le, aku akan bangun pagi. Yes!

***

Di mobil, perjalanan ke kampus

“Mana coba liat bekas jahitannya?”
“Ih jangan malu..”
“Dih, apaan sih..”
“Hihihihihi…”
“Mana liat?”
“Ih, Josh.. sebel tau nggak, jelek banget ada bekas jahitan gini… Nih, tuh, liat..”
“Panjang juga ya, garisnya..”
“Makanyaaaaaaa…”
“Nggak apa, kok. Seksi.”
“Ih Josh.. hahaha..”
“Coba sini pegang.”
“Ih nggak boleh pegang-pegang.”
“Eh nggak boleh, ya?”
“Boleh deh boleh..”
“Hahahaha, jangan deh..”
“Ih apaan sih Josh… hahaha…”

Sumpah, hati ini senang sekali bertemu dia. Setelah berhari-hari tidak bertemu, kulihat cantiknya bertambah 9 kali lipat. Bisa begini, ya, bingung..

“Mama ada ngomong apa lagi sama kamu?”
“Ih Josh.. bahas yang lain aja kek, lagi kangen gini bahasnya mama.”
“Haha, emang kenapa?”
“Ya nggak usah ditanyainlah mama ngomong apa, biarin.”
“Kamu nggak mau aku mendengar hal-hal yang kamu tahu aku bakal sedih dengernya, ya?”
“Hehehehehe, iya…”
“Mama kamu itu baik, Le.. Cuma khawatir aja kamu sama aku. Aku kan gini. Kristen.”
“Ih, Josh.. makanya masuk Islam ajaaaa..”
“Hahahahahahahaha, jangan, dong…”
“Hahahahaha.. Islam bagus tau.”
“Iya, tau.”
“Yaudah makanya ayo… Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah, ayo Josh, terusin…”
“Hahahaha..”
“Hahahahahahahahaha….”

Sesampainya kami di kampus, kami keluar dari mobil dengan terkejut, karena tiba-tiba kami melihat Fajar, Robby dan Benny sedang duduk persis tak jauh dari parkiran. Entah, tiap bertemu mereka, aku ada rasa tidak enak. Aku pernah memukul wajah Nicky, sahabat mereka. Namun, karena aku tahu biar bagaimana aku dan dia pernah berteman akrab, aku menghampiri sambil menggandeng tangan Leona. Sementara Leona seperti panik.

“Bro, kelas pagi?” Tanyaku ke Fajar.
“Yoi.. eh, Nana.. Udah sembuh?” Jawab Fajar, dilanjutkan menyapa Leona.
“Iya, Jar.” Jawab Leona, singkat.
“Lo pada kelas di lantai berapa?” Tanyaku ke mereka bertiga.
“Empat.” Jawab Benny.
“Sama. Naik yuk, bareng.” Tawarku.
“Duluan, Josh.” Jawab Fajar.
“Nana kelas pagi juga?” Tanya Benny ke Leona.
“Iya, di lantai 3. Ih kalian pada mau bolos ya? Ayo masuuuk..” Jawab Leona.
“Hehehe.. Duluan gih.” Jawab Fajar.
“Iya, duluan aja.” Sambung Robbie.
“Ngusir nih?” Tanyaku, sensitif.
“Yaelah sensi amat lo, Josh.” Kata Robbie.
“Tauk. Sensi lo ah.” Kata Benny.
“Hahaha, yaudah gue duluan ya..” Kataku.
“Oks, Bro..” Kata Fajar.
“Dadaaaaahh…” Leona melambaikan tangan ke mereka.

Aku dan Leona berjalan meninggalkan mereka. Sekitar 10 langkah, Fajar teriak. “Nana.. dapet salam.” Aku dan Leona menoleh ke belakang. “Dari Nicky.” Mendengar hal itu, aku tersinggung. Aku berputar, lalu berjalan kembali ke arah mereka. “Josh, udah sih, diemin ajah..” Leona menahanku, namun tak berhasil.

“Bilang Nicky, salam balik dari Joshua.” Kataku, wajahku sejengkal dari wajah Fajar.
“Dih apaan sih lo, Josh, norak.” Ledek Robbie.
“Nyolot lo lama-lama.” Kata Benny.
“Cemburu, Josh?” Tanya Fajar.
“Ih udaaaaah….” Leona bermaksud melerai.
“Haha, lo pada kenapa sih? Nggak suka sama gue?” Tanyaku.
“Santai kali, Josh.. Jangan kayak jagoan.” Kata Fajar.
“Ih Fajar, udah dong..” Kata Leona.
“Ciye Leona, dijenguk Nicky dibawain bunga.” Kata Robbie.
“Ih jangan nyebelin ya, Robbieeeee…” Kata Leona.
“Kamu dijenguk Nicky?” Tanyaku ke Leona.
“Kita semua jenguk kali, Josh. Lo nggak jenguk Leona? Paraaaah..” Kata Benny.
“Iya, Le?” Tanyaku lagi ke Leona.
“Iya, Josh…” Jawab Leona.
“Kok nggak bilang?” Tanyaku.
“Ya takut lo cemburu, lah…” Fajar memotong.
“Diem.” Kataku ke Fajar. Sambil menunjuk wajahnya.
“Lo jagoan?” Tanya Fajar, tangannya menangkap tanganku.
“Lepas.” Kataku.
“Ih Fajar udahh, Josh udahhh…” Leona melerai.
“Enak ya Josh, pulang pergi kuliah dianterin, makan dibayarin..” Kata Robbie.
“Hati-hati mulut lo, Rob. Gue masih mandang lo temen.” Kataku.
“Nicky juga temen gue, Josh.” Kata Robbie.
“Trus?” Tanyaku.
“Lo bukan kayaknya.” Kata Robbie.
“Pergi sana, Josh.” Kata Fajar.
“Josh, udah yuk, kelas. Diemin aja mereka.” Kata Leona.
“Kamu diem.” Kataku ke Leona.
“Ciye Leona, dapet bunga..” Kata Benny.
“Benny apaan sih!” Kata Leona.
“Jar, gue kasih tau. Gue mukul temen lo karena dia mukul Leona. Kalo lo jadi gue, mungkin lo bakal ngelakuin hal yang sama.” Kataku. “Dan sekarang, gue sama Leona. Keberatan?”
“Nope.” Kata Fajar.
“Lo keberatan Josh, Nicky jenguk Leona?” Tanya Benny.
“Yaelah lo kenapa lagi sih, Ben?” Kataku.
“Jawab aja, Josh..” Kata Benny.
“Benny udah dong, Josh juga udah..” Kata Leona.
“Udahlah, gue nggak mau ribut sama kalian. Bagi gue, lo semua masih temen.” Kataku. Kemudian aku berjalan meninggalkan mereka.
“Oh iya, abangnya Leona nyariin lo.” Kata Benny. Tak kuhiraukan.

“Kamu kenapa nggak bilang Nicky jenguk kamu?”
“Maaf, Josh.. aku cuma nggak mau kamu mikir yang enggak-enggak.”
“Duh, Le. Santai aja kalo kamu ngomong sih. Males aja aku taunya dari orang lain.”
“Iyaaaa.. maaf…..”
“Dia dateng sama Fajar?”
“Iya, sama Fajar, Benny, Robbie, berempat.”
“Bawa bunga?”
“Iyaaaa… ih Josh, maaf…”
“Hmmm… Yaudah, aku kelas ya. Daaaa…”
“Iya… Josh jangan marah ya.”
“Iya.”
“Ah bohoooong..”
“Bete sih.”
“Joshh… Maaf…..”
“Hmm.. Nicky ada hubung-hubungin kamu lagi?”
“Duuuh, Joshh….”
“Iya?”
“Iyaaaa…”
“Nelpon? SMS?”
“Iya, suka SMS..”
“Kamu bales?”
“Iyaaaa.. seadanya.”
“Hmm..”
“Josh, tapi aku nanggepinnya cueeeek….”
“Kapan terakhir dia SMS?”
“Tadiiii.. tadi pagi..”
“Bilang apa?”
“Ya gitu…. Selamat pagi, hati-hati kuliahnya…”
“Kamu bales apa?”
“Bales, bilang iya makasih. Udah gitu doang, Josh..”
“Kamu sayang aku?”
“Iyaaaa, Josh… sayang banget… ya ampun kamu jangan marah dong, Josh… Takut tau nggak, liat mata kamu…. Duhh…”
“Sayang?”
“Iyaaaa, Josh…”
“Aku juga. Yaudah, aku kelas ya. Kamu masuk gih. Daaaaa…”

Kuusap rambutnya, lalu aku pergi dengan perasaan, hmmm, sedikit kecewa. Aku pergi tidak ke kelas, tetapi ke kantin.

*bersambung*