jarie

One of my fav things about katsudeku is the fact that Izuku calls Bakugou “kacchan” and Bakugou lets him, he fucking lets him. He doesn’t yell, get angry, or get violent. He just lets Izuku call him that, he lets Izuku (his childhood friend turned rival) of all people call him “kacchan”

Tulisan : Lakukan

Kita tidak perlu menjelaskan tentang siapa kita dan bagaimana kita. Tentang kita yang (mungkin) baik, bekerja keras, penuh toleransi, bertanggungjawab, dan segala hal yang menurut kita adalah yang terbaik dari diri kita sendiri. Orang lain akan mengenal kita bukan dari penjelasan tersebut, tapi dari apa yang kita lakukan.

Dan seperti itulah sebenarnya diri kita. Saya mengenal beberapa orang yang cukup “keren” di negeri ini. Bagaimana saya mengenal mereka mungkin berbeda dengan orang-orang yang kenal hanya dari apa yang mereka tampilkan di media sosial. Mengenal mereka dengan lebih detail dan menyeluruh, bukan hanya satu arah seperti kita membaca mereka di media sosialnya.

Dan bukankah memang seperti itu diri kita? Orang yang “mengenal” kita bisa dihitung jari. Dari segala hal pencapaian kita selama ini, dan mungkin orang lain menganggap kita luar biasa dengan pencapaian organisasi, prestasi, dan segudang hal lainnya. Yang benar-benar mengenal kita hanya sedikit. Dan kita tidak pernah menjelaskan tentang diri kita kepada mereka yang sedikit itu.

Sebab mereka tidak memerlukan penjelasan apapun, sebab mereka mengenal siapa diri kita dan siapa sebenarnya. Barangkali orang lain di luar sana terkagum-kagum denganmu, mereka tidak.

Lakukanlah apa yang kamu yakini dan percayai bahwa itu baik dan benar. Benar yang tidak hanya dalam definisi kita sendiri, tapi kebenaran yang berasal dari sumber-sumber utama. Baik yang tidak hanya baik menurut kehendak kita sendiri, tapi kebaikan yang berasal dari tuntunan-tuntunan utama.

Kita tidak perlu menjelaskan, cukup lakukanlah.

Yogyakarta, 12 Februari 2017 | ©kurniawangunadi

hey there anon

Now, while I know that katsudeku would most likely never become canon (and while it breaks my heart, im totally okay with it). BUT you know what. I’ve started to ship them ever since the start of the manga, it was during the well-known slug villain scene when king-of-explodo-kills got captured, it was just so beautiful for me. dekus’ will to save kacchan despite everything kacchan’s done to him, his shout of kacchan’s name as he desperately tried to save his friend, and the expression on Kacchans’ face, he just looked so vulnerable as if he was asking for help, he wanted to be saved it had a lot of impact on me and it was there and then that i told myself ‘that’s it, that’s my ship!’

sure, they may not be in talking terms as of now. but they’re slowly, very slowly, in their own pace, getting there. They’ve managed to change their perspective of each other and because of that, they’re trying to become better, stronger. Whether or not it’s intentional, they have both managed to make an impact on the others life: kacchan has realized that he isnt the only one who’s strong and talented, he’s managed to lessen his shouting and violence and is trying to get better, to not stop trying to give it his all.



deku on the other hand has viewed kacchan as someone worth looking up to and becoming a source of inspiration, he admires kacchan a lot and sees him as someone worth surpassing.

the thing is, while i do agree that kacchan has caused deku troubles (and i do hope that he apologizes one day) they were kids, and while that doesnt justify kacchan’s actions and behavior, what im trying to say here is that they were kids, they make mistakes and learn from it and would probably try to correct their mistakes, and i think that’s what’s happening with them.

katsudeku isnt as toxic and unhealthy as some people claim/make it to be. In the end, it’s just kacchan’s inflated ego (he’s a head full of pride) that’s preventing him from recognizing his care towards deku; i mean, if people reread the manga they’ll see katsuki isn’t that bad of a person at all, he can be caring and nice (though he can be very subtle about it), honestly kacchan isnt the nicest character nor is he the most honest. kacchan can be violent, but he doesnt take it to a point where in he’ll try to kill someone. He wants to be a hero, fighting bad guys excites him and just like deku, he looks up to All Might, and i believe some people tend to forget that. Katsuki is a very complex character whose personality isnt just that of a bully. he’s full of depth and character development (and i can’t help but love him and would want to protect him) and this is why i believe, deku never really took his bullying to a point where he’d actually jump off the roof and stop aiming to become a hero. katsuki might still call him deku, but i think the intensity and the reason is different now. remember that time when kacchan got kidnapped? when he said deku that time, it got to me. he wasnt angry or upset but he looked concernrd: kacchan knew they’d lost and if izuku tried to reach out to  save him, izuku will get dragged with him or worse get hurt. he wanted deku to stay back in order to protect him, and that just speaks volume to me.

and let’s not forget the fact that izuku still calls katsuki “kacchan” of all things, and katsuki lets him, sure he might shout and look pissed but he just lets it go, and i just love that.

i mean just look at this, when izuku found out that the villains were targeting katsuki, he was worried and he still cares for kacchan.

and here we have king-of-expolod-kills itching for a fight, he looks hella pissed and he knows izuku’s the one behind it yet he still let the nickname go, he just brushes it off, he doesnt get mad at deku.

i mean look at their genuine concern for the other… sure, this ship is a little bit problematic, but that’s what makes it interesting.

3

WINTERSUN 2nd GUITARIST REVEALED

Wintersun’s second guitarist is 27-year old Asim Searah. We welcome Asim to the band!

Asim was born in Pakistan and moved to Finland at the age of 18 to pursue a career in music and has been playing in several bands and projects since then.

We’ve known him for a long time and we knew he is a great singer, but we didn’t realise how talented and skillful guitar player he is. Asim was actually the first who sent us an audition video, which surprised us very positively. After the video auditions and two rounds of live auditions we realised he was exactly what we were looking for. He is very motivated and passionate with a good heavy metal attitude - a great guitar player and vocalist to improve the live sound of Wintersun even further!

Asim comments:

“It’s an honour to be a part of a band that I have looked up to for many years. It’s definitely a dream come true and I’m super excited to share the stage with Wintersun!”

Perjalanan Nafsu Polis (5)

Aku cuba jalan terhencut-hencut, perit yang mula terasa dari hujung kaki aku dah mula naik ke pangkal betis. Aku duduk di kaki lima jalan sambil meraba-raba kaki aku. Pedih terasa pada lutut dari dalam seluar uniform aku yang bergalur kesan tar jalan. Aku pandang motor Yamaha aku yang tergolek di tepi jalan.

Entah macamana aku boleh tersasar terlanggar lubang besar, mungkin sebab gelap malam, jalan pun tak ada lampu - tambah-tambah pulak tu aku dok berkhayal nak jumpa Badrul dekat kuarters dia waktu bawak motosikal tadi. Nasib baik tak ada apa yang rosak sangat. Cuma tayar depan sahaja nampaknya macam bengkok.

Aku bingkas dan papah motosikal aku. Aku heret perlahan, kadang-kadang ada beberapa buah kereta yang lalu memperlahankan kereta memandang aku, tapi tak sorang pun berhenti. Agaknya diorang suka tengok polis macam aku ini kena balasan macam tu kot. Aku tolak motor aku ikut jalan pintas melalui kawasan perumahan.

Dekat 10 minit, badan aku dah berpeluh sakan. Uniform aku yang aku pakai dari pagi memang dah tak payah cakaplah, aku rasa dah macam-macam bau ada. Kaki aku dalam but hitam aku pun dah rimas semacam terperap lama-lama. Aku tengok jam tangan aku, dah pukul 2.30 pagi. Menyesal pulak tadi balik lambat, kalau balik awal sedikit aku rasa tak jadi macam ni. Kereta pun dah tak banyak lalu ikut jalan kawasan perumahan ni. Kejap-kejap bunyi anjing menyalak dari dalam pagar bila terpandang aku.

Sampai dekat kawasan taman permainan, aku berhenti sekejap. Aku tongkatkan motor aku dekat tepi longkang. Aku pun dah tahan nak kencing, aku berdiri tepi longkang dan bukak zip seluar aku - aku tarik keluar konek aku yang terperap dalam seluar dalam - aku pancut laju ke pangkal pasu bunga. Aku tarik nafas lega - sambil itu aku tinjau-tinjau kawasan sekeliling. Sekali pandang aku nampak dua buah motosikal di tepi jalan di seberang padang permainan. Mula-mula aku tak endah, sekali lagi aku tengok - ada lambang PDRM pada motosikal terpantul. Agaknya budak-budak polis balai kawasan perumahan itu tengah buat rondaan. Boleh aku mintak tolong diorang hantar balik kuarters Badrul.

Aku zip seluar uniform aku dan terus melangkah menuju ke arah motosikal. Kelibat tuan punya motosikal langsung tak kelihatan, aku agak mungkin tengah meronda sambil berjalan kaki. Aku tunggu beberapa minit, namun kelibat mereka tak jugak muncul. Lama-lama aku dah macam putus asa, aku patah balik menuju ke arah motosikal aku.

Tak sampai beberapa langkah, bunyi yang sudah biasa aku dengar, kedengaran dari dalam gelap berhampiran deretan kereta yang parking di tepi jalan. Aku pasti bunyi itu adalah suara lelaki mengerang tengah kena hisap. Aku beranikan diri menuju ke arah beberapa buah kereta sambil berselindung. Aku duduk bertenggek ke jalan dan mengintai dari bawah kereta. Aku nampak 2 pasang kaki berbut hitam bertali yang selalu dipakai polis gerakan am (PGA). Salah seorang sedang melutut mengadap sesama sendiri. Aku cukup pasti apa yang mereka tengah buat.

Perlahan-lahan, aku muncul berdiri mengadap dua anak muda polis PGA - berpakaian seperti polis hutan, berseluar cargo biru berbut hitam bertali sampai ke betis, seorang duduk mencangkuk tengah menghisap batang yang seorang lagi yang bersandar pada belakang kereta.

‘Korang dah takde tempat lain dah ke?’ Apa lagi dua-dua mereka kelam kabut cuba berselindung menyedari kehadiran aku. Yang duduk mencangkuk, agak muda dari yang sorang lagi, cepat-cepat berdiri manakala yang sorang lagi berpusing menyorok kembali batang dia ke dalam seluar.

'Maaf tuan. Tolong jangan report tuan’ rayu Hairi, yang muda, namanya jelas pada dada baju uniformnya. 'Ya, tuan. Tolonglah’ sambung Kamal yang agak besar badannya berdiri di belakang. Aku renung mereka berdua dari atas ke bawah, memang kedua-dua bakal jadi habuan aku lah malam ni.

'Korang dah gian sangat ke?’ tegas aku dan menghampiri mereka. Batang aku mula mengeras dalam seluar uniform aku.

'Tak, tuan. Saya yang paksa dia hisap. Saya ingat dah malam macam ni dah tak ada orang lalu kat area sini’ Kamal menjawab, mukanya merah padam dan merenung but hitam aku.

'Dah, kalau korang nak buat benda-benda macam ni carilah tempat yang terselindung sikit.’ reaksi wajah Hairi berubah mendengar nasihat aku. 'Korang boleh hantar aku balik? Motor aku rosak’ cepat-cepat saja Kamal mengangguk.

Aku ikut mereka ke motosikal dan aku membonceng dengan Hairi, yang berkulit putih bermisai halus. Sangat muda lagi dalam lingkungan pertengahan 20an. 'Ke motor aku dulu sebelah sana’ aku menunding jari ke arah motosikal aku yang diletakkan di seberang taman permainan. Kamal terus beredar sambil diikuti Hairi dan aku.

Sampai ke motosikal aku, aku capai helmet dan beg galas aku dan terus kembali membonceng motosikal Hairi. Aku bagi tahu Kamal kuarters tempat Badrul tinggal, dia mengangguk mengiakan. Terus dia memecut motosikalnya diekori Hairi. Menyedari Kamal berada di hadapan, inilah peluang aku untuk mengoda dan meraba konek si Hairi di atas motosikal itu jugak. Aku rapatkan kedua-dua paha aku pada pahanya. Batang aku yang keras aku gesel-gesel ke belakangnya. Aku letak tangan kiri aku betul-betul di celah kelangkangnya. Hairi tunduk memandang pergerakan tangan aku.

'Pandang depan’ Tangan kanan aku menepuk bahunya dan dia terus tersentak. Badannya mula mengigil tapi dia cuba mengawal keadaan. 'Tuan nak buat apa ni?’ sapa Hairi.

Aku tak membalas pertanyaannya, sebalik aku rapatkan lagi paha aku dan geselkan lagi batang aku pada belakangnya. Aku ramas batangnya yang semakin keras dari luar seluar uniformnya. Boleh tahan besar jugak koneknya. Hairi merengus sedikit, aku pasti air mazinya mula keluar dari lubang koneknya. Budak-budak muda macam dia ni memang cepat berair kalau kena raba.

Aku tolak zip seluarnya sehingga terbuka, dia mengekori Kamal seperti tiada apa yang berlaku. Hairi mengangkang sedikit pahanya sambil cuba untuk tidak memandang ke celah kelangkangnya. Aku tanggalkan sarung tangan yang membalut tangan kanan dengan gigi aku. Aku seluk tangan aku ke dalam celah zip seluarnya sambil tangan kiri aku kemas mengenggam paha kirinya. Jari tangan aku yang kasar memegang batangnya yang keras dan ibu jari aku mengentel lubang koneknya yang berair. Aku pegang kepala batangnya dan aku belai perlahan.

'Ummmmphhhh’ Hairi bersuara melepaskan rasa stim dilancap oleh aku. Aku rapatkan kepala aku yang beralas helmet ke bahunya. Hairi terus menyandarkan kepalanya kerana terlalu ghairah. Kadang-kadang dia laju dan kadang-kadang memperlahankan motosikalnya. Air mazinya banyak sekali keluar. Aku lancapkan batang koneknya perlahan-lahan, dan biarkan dia menikmati setiap urutan tangan aku. Lama kelamaan aku perasan dia sudah tak berapa selesa dan seakan dia mahu lebih dari kena lancap. Aku lepas tangan aku dan cuba alihkan dari batangnya, cepat-cepat tangan kirinya memegang tangan aku dan memaksa aku terus meramas batangnya.

Dalam 15 minit, kami sampai di kuarters Badrul. Kamal matikan enjin motosikal dan diikuti Hairi. Hairi menarik zip seluarnya sambil diperhatikan Kamal. Aku pegang bahu Kamal dan berbisik ke telinga.

'Naik atas kalau kau nak batang kau kena hisap’ Kamal mengangguk dan beralih menuju ke arah Hairi yang masih di atas motosikal. Mereka berdua berbual kecil dan akhirnya mengekori aku ke lif.

Aku tekan butang lif sambil kedua-dua mereka berdiri di belakang aku. Aku tanggalkan helmet aku dan menunggu lif terbuka. Aku menuju ke arah kuarters Badrul yang terletak berhampiran tangga kecemasan. Aku ketuk pintu berberapa kali, akhirnya lampu rumah terpasang. Badrul yang berkain pelikat tidak berbaju membuka pintu. Aku pandang batangnya yang keras mencanak sambil matanya terkebil-kebil memandang aku. Dia bukak pintu grill dan aku raba batangnya yang keras dan berbisik ke telinganya.

'Kau main dengan yang buncit tu, aku nak fuck yang muda’ aku ramas batang Badrul yang beralas kain pelikat. Badrul mengangguk.

Badrul mengajak Kamal dan Hairi ke kerusi di tengah-tengah ruang tamu. Dua- dua mereka cuba untuk menanggalkan kasut masing-masing tapi dipaksa masuk Badrul dengan kasut-kasut mereka sekali. Aku tanggalkan jaket aku dan aku gantungkan pada kerusi. Aku yang masih beruniform memandang Hairi tajam, dia balas pandang, merenung aku penuh berahi. Agaknya melihat aku beruniform menambahkan keghairahannya lagi.

Aku berdiri di hadapannya dan perlahan-lahan dia menolak turun zip seluar uniform aku dan mula meramas batang aku. Aku pandang Kamal yang bersandar di atas sofa dan sedang mengeluarkan batangnya dari celah seluar cargo uniformnya. Badrul yang duduk di celah kangkangnya mula membelai dan menghisap batang Kamal yang mencanak. Kamal mengerang dengan penuh seronok. Aku pasti Kamal sudah biasa dihisap oleh lelaki sebelum ini.

Tangan Hairi merayap meraba batang aku dari celah seluar dalam. Diselaknya seluar dalam aku. Batang aku yang terperap dari pagi di dalam seluar uniform memang agak berbau peluh. Hairi terpegun seketika melihat konek aku, agaknya dia tidak pernah hisap batang sebesar itu. Aku pegang belakang kepalanya dan aku paksa dia hisap batang aku. Hairi tercekik dan cuba memasukkan batang aku dalam rongga mulutnya.

Kamal pula semakin lama semakin kuat mengerang dihisap Badrul, aku apa lagi tak tahan dengan bunyi itu - aku paksa Hairi menelan batang aku sampai ke pangkal. Terbeliak matanya sambil mulutnya mula melelehkan air liur. Hairi pegang paha aku kemas dan melutut di depan aku, dikulumnya batang aku bersungguh-sungguh dan mencium bau peluh dari celah kelangkang aku. Semakin lama semakin rancak dia menghisap batang aku. Aku berkalih memandang gelagat Badrul dan Kamal, nampaknya Kamal begitu asyik memaksa Badrul yang berkain pelikat menghisap koneknya.

'Jangan gigit’, aku pegang kepala Hairi bila tiba-tiba dia tergigit kepala batang aku. Matanya putih memandang aku, aku tenung matanya asyik sambil melihat lidahnya yang menjilat-jilat kepala batang aku yang berair-air. Aku pegang ketiaknya dan mengarahkan dia berdiri. Dia yang segak beruniform biru gelap berdiri kaku di depan aku, menunggu reaksi aku seterusnya.

'Kamu suka?’ tanya aku perlahan. Dia mengangguk sambil tangannya meramas- ramas kepala batang aku yang berair. Aku biarkan dia merasa batang aku yang tegang mencacak keluar dari celah seluar uniform aku. Aku tarik tangannya dan menuju ke bilik Badrul. Aku biarkan Badrul dan Kamal yang sedang berpelukan di atas lantai. Kamal yang masih beruniform lengkap sedang menindih Badrul yang sudah tertanggal kain pelikatnya.

Aku duduk di bucu katil dan Hairi berdiri seolah tidak tahu apa yang hendak dibuatnya. Aku angkat kaki aku dan aku suruh dia tanggalkan but hitam aku yang seharian dipakai. Dicapainya kaki aku dan perlahan-lahan dia tarik but hitam aku yang panjang ke paras betis. Diletaknya ke bawah, dan diangkat kaki aku yang sebelah lagi dan ditanggalkannya but aku. Stokin aku yang berbau peluh terperap seharian memenuhi ruang, Hairi tidak berganjak atau menunjukkan reaksi yang berlainan, sebaliknya dihidu bau kaki aku yang berbalut stokin. Dia duduk melutut dan merapatkan tapak kaki aku ke hidungnya dan menghidu bau stokin aku. Aku lurut wajahnya dengan ibu jari kaki aku yang masih beralas stokin putih. Dia pegang kaki aku dan dihisapnya ibu jari kaki aku terus. Berderau darah aku menahan rasa ngilu yang mula merayap ke paha. Aku baringkan badan aku yang sangat penat di atas katil dan membiarkan Hairi mengurut kaki aku. Perlahan- lahan Hairi tanggalkan kedua-dua belah stokin aku dan mula mengurut setiap inci tapak kaki. Aku mengerang perlahan asyik dan batang aku semakin keras mencanak di celah zip seluar. Lama-lama aku dibuai lena dengan cara Hairi meramas ibu jari kaki aku dan terus mata aku terlelap akibat kepenatan.

Aku tertidur entah berapa lama, namun suara Badrul mengerang sayup menyebut nama aku menyebab aku terjaga. Aku cuba bingkas dari atas katil, namun tangan kiri aku sudah tergari di kepala katil. Aku mula cemas seketika, kelibat Hairi tidak juga kelihatan dalam samar-samar bilik Badrul yang tidak berlampu. Aku cuba raba ke pinggang mencari kocek duti belt aku dengan tangan kanan aku yang tidak bergari, namun duti belt aku sudah ditanggalkan. Aku tarik kaki aku, malangnya sebelah kaki aku juga tergari di hujung katil besi. Aku mula jadi risau, namun aku cuba tenangkan diri aku. Aku bimbang sekiranya Hairi dan Kamal bukanlah anggota polis tapi menyamar. Mampus aku kena siasat nanti. Tiba-tiba kelibat Hairi muncul di muka pintu.

'Maaf tuan, kawan saya suruh saya gari tuan tadi’ Hairi berdiri di hadapan. Aku pura-pura tenang, aku cuba fikirkan cara terbaik untuk menipu Hairi. Lagi sekali aku dengar Badrul mengerang dikerjakan Kamal. Aku tak pasti apa yang dilakukan Kamal, tapi pasti sekali Badrul mengerang kesakitan.

'Kenapa kamu berhenti? Kenapa tak hisap batang aku’ tanya aku pada Hairi yang berdiri di hujung katil. Hairi gelisah, aku tahu dia teringin namun dia memang mengikut kehendak Kamal. Aku pegang batang aku yang separuh keras pada celah zip seluar aku. 'Hisaplah’ pujuk aku sambil mengoncang batang aku. Hairi datang dekat pada aku, dia pegang batang aku dan dilurutnya air mazi yang mula meleleh dari lubang konek aku. Sebelah tangannya berhati-hati memegang senjata di pinggangnya. Dia cukup berwaspada dengan apa-apa tindakan aku. Aku tengok dia begitu seronok membelai batang aku yang mula keras dan tak semena suara Badrul menganggu kosentrasinya. Dia berpaling, cepat-cepat aku capai tangan kirinya dan menarik badannya rapat ke dada aku. Hairi rebah di atas badan aku. Aku peluk badannya dengan tangan kanan aku yang tidak bergari dan aku capai senjata di pinggangnya. Hairi cuba bergelut dengan memegang tangan aku yang mengenggam pistol di tangan, namun aku terus acukan pistol ke kepalanya.

Hairi tergamam dan terus berhenti bergelut. Mukanya pucat secara tiba-tiba dan dia diam terbaring di atas dada aku. Mungkin terfikir akan nyawanya melayang di tangan aku. Tiba-tiba aku rasa basah dan suam pada bahagian paha seluar uniform aku. Aku tenyeh hujung senjata ke dahinya yang berpeluh.

'Kau kencing hah?’ Hairi tak menjawab tapi dia kelihatan cukup ketakutan. 'Bukak gari tangan dengan kaki aku’. Mula-mula dia enggan, namun sekali lagi aku acukan pistol ke dahinya. 'Bukak!’

Hairi cepat-cepat capai kunci dari kocek bajunya dan terus buka gari yang terpasang pada tangan kiri aku dan kemudian kaki aku. Dia berundur dan mengangkat kedua-dua belah tangannya ke kepala sambil aku pandang kesan basah pada celah kelangkangnya. Aku acukan pistol di tangan aku pada celah kelangkangnya. Dia kelihatan begitu ketakutan. Aku selitkan senjata ke celah pinggang aku dan aku capai leher bajunya. Aku tolak badannya yang kecil ke lantai. Aku cukup geram pada waktu itu, namun aku tahankan perasaan marah aku dan aku gari tangannya ke belakang. Aku capai stokin aku yang berada di atas lantai, dan aku sumbat ke dalam mulutnya. Hairi mengeleng-geleng kepala. Aku tahu ia tidak selesa namun aku perlu pastikan dia terus senyap. Hairi tidak melawan langsung dan aku tengok celah kelangkang seluarnya yang basah lagi. Aku pasti dia terkencing ketakutan.

'Nanti aku kerjakan kamu sampai lunyai’ Aku duduk di atas dadanya dan aku bisik ke telinganya sambil sebelah tangan aku meramas celah kelangkangnya. Hairi mengeleng-gelengkan kepala lagi, matanya terkebil-kebil minta dilepaskan. Aku pegang wajahnya, dan aku hentak kepalanya dengan siku aku. Matanya mula tertutup rapat dan dia cuba menjerit menahan kesakitan. Kakinya meronta-ronta kemudian perlahan-lahan berhenti dan dia mula tidak sedarkan diri.

Aku tarik Hairi yang tidak sedarkan diri dan aku sandarkan ke dinding.

Perlahan-lahan aku keluar dari bilik dan mengintai apa yang berlaku, kelihatan Kamal yang separuh berbogel dengan seluarnya terlodeh di kakinya yang masih beralas kasut sedang menerjah bontot Badrul yang tersandar ke dinding dengan batang koneknya yang keras mencacak. Kaki Badrul menyilang ke belakang Kamal dan Badrul kelihatan lemah longlai dikerjakan Kamal yang dua kali ganda besar badannya dari Badrul.

Tanpa disedari Kamal aku rapat ke belakangnya, aku tarik dia dengan menyentap bahunya. Dia berpaling terkejut. Badrul jatuh terkulai ke lantai dan batang Kamal yang keras mencanak keluar dari bontot Badrul bersama air mazi yang penuh di kepala batangnya. Kamal cuba melawan dan melepaskan tumbukannya ke wajah aku, aku mengelak dan menyiku dagunya. Dia terpelanting ke dinding dan aku terajang celah kelangkangnya dan dia terus jatuh merengkok ke lantai menahan kesakitan.

'Jangan, tuan.’ dia merayu sambil tangannya menutup celah kelangkangnya.

Aku pegang leher baju uniformnya dan aku heret dia menjauhi Badrul. Aku pegang tangannya dan aku silang kan ke belakang. Aku kangkangkan kakinya dan aku tindih dengan lutut aku. Kamal meronta-ronta menahan sakit. Aku cengkam rambutnya dan aku hentakkan kepalanya ke lantai.

'Aaarghhh… sakit, tuan’ mulut Kamal meleleh air liur dibelasah aku. Aku pusingkan badannya dan aku terlentangkan dia mengadap aku. Batangnya yang pendek tapi lebar masih keras mencanak. Aku tumbuk sekali lagi ke perutnya, dia mengerang lagi kesakitan.

'Kau paksa budak tu gari aku, kau nak buat apa hah?’ Aku pegang leher bajunya dan menekan dadanya ke lantai. Aku memang cukup geram dengan reaksi Kamal dan memang waktu itu aku sudah tidak fikir lain kecuali membantai bontotnya. Apa lagi, cepat-cepat aku tanggalkan seluar uniform dan seluar dalam aku dan kakinya aku angkat ke atas bahu aku dan aku arahkan batang aku yang mencacak keras ke lubang bontotnya. Aku terjah kepala batang aku ke dalam lubang bontotnya yang cukup sempit dan tertutup rapat. Batang aku yang keras menusuk ke dalam lubang bontotnya yang terkemut-kemut menahan.

'Aaaargggggggggghhhhhhhhhhh aaarggghhhhh’ Kamal meronta-ronta kesakitan bila seluruh batang aku masuk ke dalam bontotnya buat pertama kali. Dia cuba untuk memeluk aku tapi aku pegang dadanya rapat ke lantai dan aku hentakkan batang aku dalam-dalam dan berkali-kali. Kamal cuba menjerit menahan perit akibat lubang bontotnya yang dipenuhi batang aku yang besar. Aku pekup mulutnya. Dia mula mengalirkan air mata menahan sakit. Batangnya yang mencanak memancutkan air mani berkali-kali serta merta. Air maninya melekat ke baju uniform putih aku, berlendir dan bertompok-tompok. Aku tarik keluar batang aku dan aku terjahkan bontotnya beberapa kali lagi dengan geramnya.

'Rasakan!’ celah kelangkang aku menghentak bontotnya kasar. Aku pegang pangkal batangnya dan aku urut sampai ke kepala koneknya yang meleleh dengan air mani. Aku lancapkan Kamal tanpa henti, akhirnya dia mengerang dan menikmati setiap hentakan batang aku dalam lubang bontotnya. Aku pun dah mula tidak tahan, batang aku terasa macam nak pecah disebabkan bontot Kamal yang sangat ketat. Aku tarik keluar batang aku dan terus aku tujukan ke dalam mulutnya yang tertutup rapat.

Aku tampar pipi Kamal kuat. 'Bukak cepat!’ Kamal terus menganggakan mulutnya, cepat-cepat aku masukkan batang aku yang mencanak-canak ke dalam rongga mulutnya. Aku dapat rasa lidahnya menyentuh kepala konek aku dan dikulumnya batang aku rakus. 'Arrrggghh!’ Aku sudah tak dapat tahan, sekaligus air mani aku memancut ke dalam rongga mulutnya. Mata Kamal terbeliak cuba untuk tidak menelan air mani aku yang penuh dalam mulutnya. 'Telan!’ Aku pegang kepalanya dan aku tolakkan batang aku dalam-dalam. Kamal mengeleng-gelengkan kepalanya, namun lama kelamaan diteguknya air mani aku.

Aku tarik keluar batang aku. Kamal tersedak dan dia terus memuntahkan apa yang ditelannya. Baju biru uniformnya penuh dengan air mani aku. Dia terlentang dan kelihatan tidak bermaya lagi. Aku tampar pipinya dan dia mula tidak sedarkan diri. Aku sarung kembali seluar aku dan aku pegang celah ketiaknya dan menariknya ke kerusi dan aku terlentangkan di atas sofa. Aku capai duti beltnya yang tersangkut di meja dan aku gari tangannya ke belakang. Aku tengok bontotnya merah dan lebam akibat dirogol tadi. Memang Kamal lembik aku kerjakan.

Aku perhatikan Badrul yang terlena di tepi dinding. 'Bad, kau ok?’ Badrul mengangguk dalam keadaan sedar tak sedar. Aku angkat dan dukungnya, dia yang bertelanjang bulat masih dalam keadaan separuh sedar. Agaknya Kamal memang pandai main sampai Badrul betul-betul kepenatan. Aku baringkan Badrul di atas katil dan biarkan dia tidur berdengkur.

Aku pandang Hairi yang terperosok di tepi dinding, batang aku yang masih separuh keras di dalam seluar mula mengembang melihat wajah Hairi yang tenang tidak sedarkan diri. Celah kelangkang Hairi masih basah dengan air kencingnya. Aku tanggalkan sarung tangan, baju uniform aku dan aku letakkan di atas katil di sisi Badrul. Aku berdiri di depan Hairi dan aku tarik keluar stokin aku yang tersumbat dalam mulutnya. Perlahan-lahan mata Hairi terkebil-kebil, dia mendongak melihat aku seakan merayu belas ihsan. Aku pegang celah ketiaknya dan mengangkatnya berdiri. Dia memandang ke arah Badrul yang berdengkur di atas katil. Aku tolak bahunya, dia melangkah keluar menuju keluar dari bilik.

'Tuan buat apa dengan Kamal?’ sapanya melihat Kamal terbaring di atas sofa tidak sedarkan diri. Aku alihkan Kamal dari atas sofa dan aku baringkan dia ke lantai. Kamal masih tidak sedarkan diri terlentang tidak bergerak.

Aku berdiri di belakang Hairi dan mengeselkan batang aku pada tangannya yang tergari sambil tangan aku meraba badannya. Hairi mula bernafas rancak dan mula meraba batang aku perlahan-perlahan. Aku raba celah kelangkang seluarnya yang basah dan aku tolak turun zip seluarnya. Hairi diam kaku sambil meramas batang aku yang keras dalam seluar. Aku bernafas rapat pada tengkuknya dan dia mula bersandar ke dada aku. Aku masukkan tangan aku ke dalam seluarnya dan meraba batang koneknya yang terperap dalam seluar dalamnya yang basah. Bau bekas air kencingnya kuat. Aku pegang batangnya dan aku tarik keluar dari celah zip seluarnya.

'Pancut atas Kamal’ arah aku ke telinganya. Dia berpaling terpinga. 'Pancut!’ paksa aku sambil mengenggam batangnya. Hairi terketar-ketar, lama kelamaan air kencingnya menitik keluar dari lubang koneknya. Hairi cuba menyelesakan dirinya dan mengangkang kakinya dan kemudian dia memancut deras air kencingnya ke arah Kamal yang terbaring. Aku halakan batangnya betul-betul mengena muka Kamal. Kamal tersedar bila air kencing Hairi yang hangat mengena wajahnya. Dia cuba mengelak dan Hairi begitu takut sekali melihat Kamal mengelupur di atas lantai. Kamal cuba bingkas namun dihalang aku. Aku tarik Kamal dan aku paksa dia mengadap celah kelangkang Hairi. Air kencing Hairi yang masih laju terpercik ke muka Kamal, Hairi cuba mengarahkan batangnya ke arah lain, namun aku pegang batangnya supaya betul-betul ke arah Kamal yang terkebil-kebil dan menundukkan mukanya.

'Bukak mulut kau, Kamal!’ aku sepak bontot Kamal yang melutut di hadapan Hairi. Aku tarik rambut Kamal supaya dia mendongak betul-betul mengadap pancutan air kencing Hairi. 'Macam tulah’ balas aku bila Kamal membuka mulutnya luas dan meneguk air kencing Hairi. Aku tersenyum melihat reaksi Hairi yang mula bersahaja. Aku tolak kepala Kamal supaya batang Hairi masuk terus ke dalam mulutnya. Kamal cuba melawan namun separuh dari batang konek Hairi yang keras sudah ditelannya.

Aku berdiri di sisi Hairi sambil melihat Kamal menghisap batang Hairi perlahan- lahan. Hairi merengus dan semakin lama semakin kuat mengerang menikmati rasa sedap dihisap. Batangnya semakin lama semakin keras dan mencanak dalam mulut Kamal. Aku agak Hairi jarang dapat dihisap seperti itu dan mungkin juga tak pernah. Aku pegang Hairi dari belakang sambil memeluknya, tangannya yang tergari kebelakangan cuba meraba aku. Aku bukak butang baju uniformnya sampai ke perut dan meraba badannya yang berbulu. Aku ramas puting dadanya dan dia mula bersuara perlahan menahan rasa ngilu. Kepalanya bersandar ke dada aku dan Hairi mula ghairah dan menerjah batangnya ke dalam mulut Kamal tanpa henti. Aku seluk poket seluar dan keluarkan kunci gari dan aku tanggalkan dari pergelangan tangan Hairi. Aku campak gari ke atas sofa dan Hairi terus memegang kepala Kamal dan memaksa Kamal menelan habis batangnya yang semakin keras dan mencanak.

'Mal, kau jangan gigit!’ Hairi tolak batangnya ke dalam mulut Kamal rapat ke pangkal beberapa kali. Aku raba pinggang Hairi dan aku tanggalkan tali pinggangnya. Aku tarik seluarnya ke bawah menonjolkan bontotnya yang putih, aku ramas dan mula mengeselkan batang aku yang keras di dalam seluar pada belakangnya. Hairi tolak Kamal ke tepi dan berpaling mengadap aku. Aku tarik Hairi dan memeluknya sambil melagakan batangnya yang keras dengan batang aku. Aku tanggalkan seluar aku dan Hairi lucutkan seluarnya yang masih tersarung di hujung kaki yang beralas kasut but hitam. Aku pegang pinggang Hairi dan mengendongnya di pinggang aku. Hairi memeluk aku dari depan dan mulutnya rapat ke mulut aku. Lidahnya memasuki ruang mulut aku dan aku terus menghisap lidahnya basah. Batang aku mula keras mencanak dan aku arahkan terus ke lubang bontotnya. Hairi pegang bahu aku dan menolak masuk batang aku ke dalam lubang bontotnya yang terkemut-kemut.

Aku pegang badan Hairi kuat, lubang bontotnya mencengkam setiap inci batang aku. Aku kangkang kaki dan aku peluk badan Hairi yang kecil, perlahan-lahan aku melangkah rapat ke tepi dinding dan menyandarkan badan Hairi pada dinding yang mengadap aku. Hairi menyandarkan kepala ke dinding dan memandang aku sambil menghentak bontotnya pada celah kelangkang aku. Aku tolak batang aku dalam-dalam, Hairi asyik sekali sambil memegang bahu aku.

'Oooh Tuan, sedap tuan!“ Hairi mengigit telinga kanan aku sambil lubang bontotnya mencengkam kuat batang aku yang kembang dan berair. Aku jolok batang aku dalam dan ditelan habis cuping telinga aku, lidahnya tak henti menghisap. Aku hayunkan badannya dan menghentak bontotnya kuat. Batang Hairi keras dan bergesel pada perut aku. Kepala koneknya berair-air dan mencanak tidak henti.

'Sedapkan?’ bisik aku ke telinga Hairi. Perlahan aku pusingkan badan Hairi tanpa mengeluarkan batang aku dari lubang bontotnya. Hairi terkial-kial cuba menahan perit. Aku pegang pinggangnya dan pusingkan seluruh badannya dan dia akhirnya membelakangi aku. Kedua-dua tangannya menongkat ke dinding dan kakinya memeluk paha aku dari belakang. Aku peluk badan Hairi kemas dan menghentak ganas lubang bontotnya. Hairi mengerang menahan kesedapan dan mengikut rentak hayunan paha aku. Makin lama makin kuat dia mengerang dan aku ramas batangnya yang keras mencacak.

'Tuan, aaaaaaaaaaaaaaaaarghhhhhhh, saya dah tak tahan lagi’ Hairi mendongak dan batangnya mula memancutkan air mani ke dinding berkali-kali. Aku lancapkan batangnya lagi dan aku dapat rasa bontotnya ketat mencengkam kepala batang aku yang dari tadi menahan air mani aku. Aku peluk badannya kemas dan meramas dadanya. Batang aku mula memancutkan air mani sambil menghentak kuat bontotnya.

'Oooooohhh Hairi!’ raung aku

Aku terus bersandar ke dinding beralaskan badan Hairi yang kecil molek, air mani yang melekat pada dinding, aku lumurkan pada badannya. Perlahan aku keluarkan batang aku dari lubang bontotnya dan aku peluk Hairi dan terus baring ke lantai menghilangkan penat. Aku pandang Kamal yang terbaring di lantai dan aku kejutkannya.

'Kau telan air mani Hairi sampai habis, lepas tu aku lepaskan kau’ Kamal duduk di depan dinding dan mula menjilat saki baki air mani Hairi yang melekat di dinding. Tanpa segan Kamal kemudian mula menjilat air mani yang masih meleleh dari batang Hairi yang terbaring terlentang kepenatan. Aku capai seluar dalam Hairi yang melekat di hujung kakinya aku kesat batang aku. Aku bukak gari pada tangan Kamal, dia terus menarik nafas lega dan membaringkan dirinya di sisi aku. Aku baring di antara mereka berdua, Hairi yang mula sedarkan diri terus memeluk aku dan kemudian diikuti oleh Kamal.

Aku puas sekali, bukan senang nak jinakkan mereka berdua. Aku pasti mereka akan datang lagi mencari aku. Kamal capai seluar dalam Hairi dari tangan aku dan dihidunya, aku tengok batangnya separuh keras bergesel pada paha aku. Aku raba batangnya yang mula basah dan berair. Kamal merengus.

'Hairi, Kamal, bangun. Nanti balai cari korang.”

Kamal & Hairi bingkas dan mencari uniform masing-masing yang berselerak di lantai. Mereka berdua beredar tidak berapa minit kemudian. Aku terus masuk ke bilik dan membaringkan diri di sisi Badrul. Aku peluk Badrul dari belakang dan mengeselkan batang aku pada celah bontotnya, aku cium lehernya dan dia terjaga.

'Mereka dah balik?’ sapa Badrul terkebil-kebil.

'Dah’ aku peluk erat Badrul.

'Dah puas?’

'Belum, selagi tak dapat lubang kamu’

Badan Badrul aku tindih dari belakang dan perlahan-lahan aku masuk batang aku ke dalam lubang bontot Badrul dan menikmati setiap henjutan rapat ke pangkal batang aku.

'Ooooh, Bad! Kau terbaik’

Katsudeku Drabble Part 1

Apparently, it doesn’t take all that much to make Midoriya Izuku cry.

Katsuki Bakugou hated this fact, hated how the other boy could easily show weakness and grief to others, even to him. He doesn’t like it, doesn’t like how easy it also makes it for others to comfort him, to be friend him, to be closer to him.

“Maybe you’re just jealous.” Kirishima, ever the helpful and supportive friend, suggested after Bakugou has been scowling at Todoroki (referred to as fucking half-and-half) even more than usual after being caught comforting Izuku who was crying after having a talk with their sensei regarding his quirk use.

“And maybe you should get that shitty head of yours fixed, shit-for-brains?” Katsuki answers back without a moments hesitation.

“Wow, you’ve just reached a whole new level of asshole, that even I couldn’t imagine possible.” Kirishima often asks himself why he was friends with someone like Katsuki Bakugou.

“Shut up. I am not fucking jealous of anyone, especially not that fucking half-and-half, okay.”

Maybe it’s in the way Bakugou’s eyes easily finds its way to land on Izuku’s or in the way his lips immediately forms into a scowl seeing the green haired boy being so close with Todoroki that makes this scene so laughable. Because to Kirishima, Katsuki Bakugou is an unstoppable force upon this earth that may as well be as good, heck, even better than the pros when it comes to both wits and strength, but when it comes to romance, he may as well be as inexperienced as a five year old boy.

“Man, Bakugou, i kindda feel sorry for you right now.” Kirishima pats his shoulder condescendingly, which is all the cue Bakugou needed to try and blow his hands off of him.

Jarie: GUUUUESS WHO GOT A PAY RAAAIISE?~

Jarie: Well, not so much a pay raise as it was a bonus, but you know!~ Someone was attempting to hack into the BLU Intel System, so they gave little old me compensation for-

Arin: IT’S LIKE 12 IN THE MORNING, JARIE!

Jarie: I-It’s actually closer to 1 in the afternoon, darling! 

Jarie: BUUUT!~ I had a good reason for waking you up! Not only do I now have enough saved to finally move out of this crap hole, I even have a little extra spending money we can go wild with! YAY!

Jarie: I was thinking we could go out and grab a nice bite to eat before heading to one of the ‘swankier’ clubs in town!~ Maybe we’ll even get lucky and bring some guys home! Doesn’t that sound like fun, Arin?

Arin: Yeah, a blast… Too bad I already got plans for today, so that’s a no go.

Arin: Leroy asked me to help him and a buddy move some shit out of his house. Just some boxes and shit I think. Whatever. It’s a good excuse to check up on his ass.

Jarie: WHY DO YOU KEEP CHOOSING THE LITTLE PSYCHOPATH OVER ME? JARIE’S NEVER KILLED ANYONE! NOT EVEN AT WORK AND THAT’S PART OF HIS DARN JOB!

11 HAL YANG HARUS KAMU INGAT SEBELUM MENGELUH :::

1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.

2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

3. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa, Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya.

5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu. Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.

6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan

10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, Pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.

11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

ﻓﺒﺄﻱ ﺍﻻﺀ ﺭﺑﻜﻤﺎ ﺗﻜﺬﺑﺎﻥ
(Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustai ??)

Maka bersyukurlah..

Alhamdulillahi Rabbil’alamiin..

===

semoga bermanfaat mengisi kehidupan

I used to hate the color of my eyes cause they weren’t blue or green or gray, just plain ol’ brown. But then, this one time during lunch at 10th grade, the boy I liked was talking about something to his friends at our table when he suddenly stopped talking and told his friends to look at me. He literally told every single person eating at our table to stop whatever they were doing to look at my eyes because “it’s beautiful, look at how it changes color when the sunlight hits it just right. Look at it!” My face began to blush at the complimemt and the attention so everyone was telling him to stop being annoying and to apologize for bothering me, and all I could do was cover my face with my hands to hide the smile forming on my lips. I started loving my eye color after that, it’s been four years since.

Arin: THE FUCK IS WITH YOU AND THE WHOLE “LEROY’S A MURDERER” THING? YOU BEEN GETTING INTO CONSPIRACIES AGAIN LIKE THE WATER MIND CONTROL THING?

Jarie: You were’t there, Arin! I’m the one who had to sit there and watch your deranged little ex gun down Stan and Joel to get his hands on Louie! Stan died on the way to the hospital while poor Joel bled right out in Lu-Lu’s floor! He’s sick! End of story!

Arin: Ya know what’s sick, and not in the ‘OOOH SWEET! SICK MAN!’ kinda way? You’re defensive fucking attitude right now!

Arin: You was on some hard ass shit that night if some random fuck, who was probably just after Louie cause the guy FUCKING SHOT ME, looked like Leroy to you! Look, I know him! He’s changed a lot since I’ve been dirt napping, but he sure as hell ain’t no psycho-killer! Now gimme that address before you roll it into a joint or some shit!

Jarie: FINE! Believe his hollow words over mine!See if I care whn gives you the bullet to the head treatment like Lu-Lu got!

Arin: I don’t care what Louie got! He’s fuckin’ dead and I couldn’t be happier, the fucker! Now I’m gonna go see Leroy and his fuckin’ hippie friend either way! So go out, get fucked, and get over it! 

Jaire: Oh trust me, darling! I already have…

queenii-llama  asked:

16 + aftg for the salty ask thing 👀👀👀

i love being enabled bless up

16. If you could change anything in the series, what would you change? listen. this series is hella fucked up alright but ONE THING the one. thing. that bothers me. so much. Closure for one Aaron Michael Minyard, the light of my life. NOW. I know a lot of people think Aaron is some sort of awful homophobe which like….ok ya know what this is gonna turn in to a full on analysis i’ve been dying to do anyway WOOHOO

SO let’s start from the beginning shall we? and mind you i’m going completely off memory because im legit too lazy to go reread everything to get my timelines exact, so bear with me bud. ok! so, it starts out, as i understand it, that Tilda had the twins and gave them both up, but took only Aaron back, resulting in Andrew going into foster care (My personal theory: the twins are out of wedlock so Tilda didn’t want to her strict preacher brother Lucifer Luther to know. Somehow he finds out she’s pregnant so she can’t have an abortion, but Luther doesn’t know she’s having twins. She tries to give them up as a last ditch effort, but Luther demands to see the baby, and knowing she can’t handle two kids, she only takes one back). Now, when the boys are all at Thanksgiving it’s mentioned that Aaron asks after people the Hemmicks know. This, coupled with the fact that Nicky knows most of the story of the twins, means that Aaron must’ve spent a lot of time with the Hemmicks, likely because Tilda was a single mom and Luther seems like the kind of asshole brother that would dictate what Tilda can and can’t do with her life only to leave her to fend for herself. So that means from the very beginning all Aaron has is a stressed out mother who didn’t want him and a very strictly religious Aunt and Uncle. This is where i think the “”“homophobia”“” comes in. See, with a mother like Tilda, who only had and kept him out of obligation, Aaron probably saw the Hemmicks as his only positive influence. We all know what the did to Nicky. Their fire and brimstone outlook shaped Aaron early on and with nothing and no one to teach him that was wrong, at 19 I think it makes a lot of sense that Aaron would choose that particular trait of the people he resents to attack (Nicky he resents for not being there for him, likely because he was the closest Aaron had to a true ally in his childhood, Andrew for killing Tilda). Now!! This is not me justifying the things Aaron says, they’re unnecessary, rude, and do border on being bigoted. However, I do understand where they come from. Just like I understand why Andrew killed Tilda and reacts violently to certain things without attempting to justify it, because it’s still wrong to. Ya know. Murder and assault people. Anyway. So, you see, Aaron was pretty alone from the beginning. Then, of course, it worsens, because these books exist to hurt me. Tilda was already neglecting Aaron, but the older he gets, the less she cares. It’s not clear when the abuse starts, but it was likely young. Theyre, what, 12 when Higgins mistakes Aaron for Andrew? Aaron writes him letters, desperate. Nicky is like 4 or 5 years older than the twins, so he’s either been sent to that hell-camp by his devil incarnate parents or is in Germany by now. Aaron is more alone than ever and discovers he has a twin, a brother, someone who he might stick by him and be there for him. Andrew ices him out. I get why he did it, trust me, but Aaron doesn’t! He doesn’t get any explanation! You can imagine how much that’d hurt. Aaron has lived so far with a mother that doesn’t want him and has made it obvious through neglecting and then abusing him, with an aunt and uncle who only regurgitate hateful rhetoric coated in bullshit claims of faith, and an older cousin who was going through too much personally to really be there for Aaron (again!!! not Nicky’s fault!!! But we’re trying to look from Aaron’s perspective ok!!!!). Aaron has been so, so lonely, and he’s still got hope. He writes Andrew because of that hope. He begs Andrew to come live with them, because he hopes things might be better if he did. And then when Andrew finally does, Tilda is killed. It’s not entirely clear that Andrew did it, but Aaron must suspect. And if you think for a damn second that Aaron was thankful? You should read up on abusive relationships because Tilda’s death probably broke Aaron, and Andrew actually expected him to be ok with it. He expected him to be grateful that Tilda was dead. Despite being an awful mother, she was the only who took care of Aaron, so his feelings after her death could never ever be so simple. Then, there’s the fact that Aaron was an addict (I’m not sure about the timeline on this either but I’m pretty sure it was highschool that made Aaron an addict. Tilda was an addict herself [i think??? again im working off memory] so in Aaron’s mind, it numbed the world for her, his so called friends in highschool had access to drugs, maybe it’d numb the world for him). I won’t deny Andrew’s method of forcing Aaron into withdrawal worked, but holy hell that must’ve been brutal. And frankly, it’s downright cruel, when in a better world Aaron should’ve been taken to rehab. This all happens before the boy can even vote. Fast forward a few tense years, and now theyre going to college, theyve renewed their deal, and Aaron meets Katelyn. You cannot punish him for falling for her. You cannot be angry with Aaron, who is just as much a fox as the rest of them, for falling in love and fighting for it, especially if you praise Andrew for doing the same. Both boys fight against their pasts, their traumas, and each other for the ones they love. And in time, I sincerely hope that Aaron gets more sessions with Bee (or a therapist he feels more comfortable with) and the boys mend their relationship. With the series ending in the midst of him going to trial for tide-sticking a stubborn shitstain on the earth, and I’ll always be bitter that we don’t get to officially now what happens to him, and out of all the foxes he doesn’t get the chance at happiness, closure, and new life that the rest of the team got. The chance that Wymack promises to all his foxes.
Listen, I get why some people are uncomfortable with some of the things Aaron says. But it comes down to this: Aaron is 19 and he’s spent most of his years neglected, abused, and influenced by shitty people. He’s still learning. He didn’t get what he deserved. If he did, he wouldn’t have been a fox.

send me salty asks!