jarie

“jadi Mas, mau dimasakin apa hari ini?”

Hari Ahad adalah waktu berbincang saya dengan Ibu. Sejak saya merantau, Ibu selalu berpesan jangan sering menghubunginya, karena hanya akan menambah rindu nya pada saya. Jadi lah Ahad kemarin kami berbincang tentang kejadian apa yang terjadi di rumah sederhana sekali itu. Rumah itu tak pernah sepi, walaupun kini hanya dihuni oleh sepasang kakek nenek berusia 80 dan 77 tahun.

Ibu bercerita tentang Adam yang mulai bisa berjalan, ponakan saya yang berusia setahun 10 Februari lalu. Bapak yang mulai pelihara jenggot karena ingin mengamalkan sunnah, dan keluarga yang masih gaduh. Hehehe…

“udah bisa masak semur ayam sekarang?” ibu bertanya  pada saya yang jangankan masak, makan saja bisa dihitung jari dalam seminggu. ppfftt

“udah Bu. Tapi rasanya masih lebih enak punya Ibu haha”

“lebih enak punya Ibu atau emang masakanmu yang gak enak? hahah., wong kamu belum jadi Ibu-Ibu kok mau enak kayak Ibu. Nanti kalau kamu udah jadi Ibu baru bisa bandingin masakanmu sama Ibu” 

kesombongan Ibu pada saya kambuh  -_-

“nggeh Bu…”

Ibu adalah tipe perempuan yang pantang membeli makanan di luar. Apalagi makanan cepat saji yang sekarang saya lihat malah banyak Ibu memberi anaknya sarapan makanan jenis itu. Fiuh. Saya pun tak menampik masih suka membeli nya. Tapi setelah saya bertanya alasan beliau memiliki prinsip “enak gak enak yang penting masakan rumah sendiri” saya mulai belajar untuk tidak akan membeli makanan cepat saji apapun alasannya!

“kenapa perempuan harus bisa masak?” saya pernah berdiskusi tentang ini dengan beberapa teman perempuan saya. Ada yang membenarkan ada pula yang menganggap ini hanya ajaran kuno karena sekarang sudah banyak rumah makan dan lebih enak dan praktis. Calon Ibu kekinian hahah prett..

Kata Ibu, perempuan harus bisa masak. Minimal ia tahu cara  menumis kangkung, menggoreng ikan, atau membuat sambal. Karena perempuan harus tahan hidup di segala kondisi dengan suami dan anak-anaknya. Jika kita berjodoh dengan lelaki yang berpenghasilan banyak, itu tak lantas membuat kita mengasumsikan bahwa kita boleh sesuka hati membeli makanan untuk dihidangkan untuk keluarga. Memasaklah, walau masakanmu itu rasanya seperti muntahan kucing. Hahaha… tapi ini ternyata bukan soal rasanya, namun soal bagaimana kita mencapai amalan kita sebagai seorang istri, Ibu, dan menantu di keluarga kita. Mungkin dengan membeli makanan di luar bisa dihitung sedekah. Namun sedekah seorang istri itu lebih dari uang yang kita keluarkan untuk orang lain. Sedekah istri itu ada di jerih payah nya memasak makanan yang manusiawi untuk keluarganya. Nilai tempe goreng yang sedikit hangus beda di mata Allaah (dan suami ehem) dengan tempe goreng mendoan yang kita beli. Berdoalah pada Allah agar menolong kita membuat tempe seenak beli di luar :D

Tentu boleh saja sesekali membeli makanan di luar. Tapi bagi Ibu saya, beliau lebih memilih untuk blajar membuat makanan itu sendiri sampai rasanya pas di lidah keluarganya. Tak apa bila setiap hari anak atau suaminya meminta makanan kesukaan meereka. Seperti saya, tak pernah lepas dari sambal goreng ati buatan Ibu. Hahaha…

Walaupun Ibu istri dari Bapak yang tidak pernah protes dengan apa yang Ibu masak, namun dengan senang hati Ibu membuatkan menu wajib untuk Bapak : tempe goreng. Pernah di warung langganan Ibu tempe habis, lalu Ibu pergi ke pasar pagi – pagi buta sendirian. Padahal saya bisa mengantarnya jika mau, namun ia langsung ke pasar yang agak jauh dari rumah dan membeli hingga 10 bungkus  tempe. Ketika ditanya kenapa beli banyak beliau bilang “takut kehabisan lagi, nanti Bapakmu makan apa?”

Ah, padahal Bapak tak pernah menyuruh beliau mewajibkan memasak tempe. Apapun akan beliau terima walupun itu hanya nasi dan garam. Tapi ini bakti istri pada suami, ini surga yang jarang saya lihat di rumah tangga orang lain, walupun itu di rumah tangga kakak saya.

Hikmahnya yang lain, jika kita berhasil memasak makanan kesukaan suami atau anak kita. Seingin apapun mereka makan makanan itu di luar, mereka akan lebih memilih meminta kita untuk membuatkannya daripada membelinya. Ah, trik Ibu yang lain adalah beliau bisa meminta masakan kesukaannya pada Bapak, karena Bapak tidak bisa memasak jadi ya harus beli. Wkwkwk…

Ibu juga bilang, dengan memasak sendiri kita bisa memastikan ke-halal-an makanan itu. Dari mulai ayam yang kita potong, sayur, dan beragam bumbu yang kita  campur ke dalam masakan kita. Tak jarang kita temukan makanan di luar ternyata mengandung ini dan itu. Belum lagi zat yang tak layak dikonsumsi. Perkara syubhat ini harus kita antisipasi dengan masakan yang kita buat sendiri.

Dari kecil saya terbiasa membawa bekal dari rumah. Selama 12 tahun  dari SD hingga SMA lauknya selalu sama. Nasi goreng ati ampela dengan telur ceplok setengah matang. Bosan? Jika itu beli pasti bosan, tapi anehnya saya yang minta menu itu pada Ibu, selalu sama, tak pernah bosan. Bahkan ketika kuliah saya sesekali membawa bekal yang serupa. Di situ beda nya!

Ibu juga mengumpulkan menu dan resep  masakan dari koran atau majalah bekas yang dia beli dari tukang loak. Artikel menu masakan itu dia gunting dan dia kumpulkan di satu buku. Namanya “kitab bahagia suami istri” wkwkwk…  anak-anaknya dulu mengira bahwa itu adalah buku terlarang karena ibu sangat menjaganya, ternyata itu kumpulan resep masakan hahaha…  mungkin generasi kita lebih mudah karena sudah bisa diakses via internet atau download aplikasi resep masakan :)

Jadilah perempuan yang bisa masak, sayang. Karena Allaah dan  Rasulullaah bersama perempuan yang bekerja payah demi keluarganya. Demi surga yang ada di rumahnya. 

Menjadi istri dan Ibu kekinian mungkin baik, namun menjadi istri dan Ibu yang baik itu lebih kekinian :)

“jadi Mas, mau dimasakin apa hari ini?”

I used to hate the color of my eyes cause they weren’t blue or green or gray, just plain ol’ brown. But then, this one time during lunch at 10th grade, the boy I liked was talking about something to his friends at our table when he suddenly stopped talking and told his friends to look at me. He literally told every single person eating at our table to stop whatever they were doing to look at my eyes because “it’s beautiful, look at how it changes color when the sunlight hits it just right. Look at it!” My face began to blush at the complimemt and the attention so everyone was telling him to stop being annoying and to apologize for bothering me, and all I could do was cover my face with my hands to hide the smile forming on my lips. I started loving my eye color after that, it’s been four years since.

Can i just say that i really love seijou. im not even talking about ships here, im talking about the team, the members, i love all of them, the third years more so. They’re all so hard working and wow i admire the closeness they all share, the familiarity they have with each other and that trust they all seem to give every member, its all so endearing. Not to mention the diversity of each character and the roles they all play in the team. And I just need more of seijou… i love them so much and its so sad to see so little of them both in the manga and in the anime (well compared to karasuno and nekoma anyway)