islam ma

Gli angeli di Manchester

Colpite i bambini e crollerà una nazione. Questa è quindi la tattica di oppressione messa in atto dal terrorismo islamico; la disumana motivazione che ha mosso un uomo, quell’uomo che non è più uomo, ma automa e schiavo dell’ideologia dell’odio, a farsi esplodere durante il concerto di Ariana Grande all’arena di Manchester lunedì sera. Un ordigno pieno di chiodi, aculei di ferro che hanno colpito non soldati, non adulti bensì bambini, giovanissimi ragazzi completamente innocenti, completamenti estranei all’odio che muove le guerre, gli orrori dei conflitti, le futili motivazioni che muovono uomini a opprimere altri uomini.
Lo chiamano terrorismo di matrice islamica poiché le idee con i quali giustificano l’aberrante sono le stesse che hanno costituito l’Islam: ma è ciò che essi sostengono, che cercano di convincersi e convincere che la violenza è giusitizia. Tuttavia nulla di tutto ciò somiglia all’Islam, nulla di tutto ciò che affermano, alcun motivo giustificante la soppressione del diritto alla vita ha la parvenza di religione, in quanto essa si pone il dovere di sostenere la comprensione del dolore altrui, la negazione di ogni forma di giudizio e violenza, l’agire per l’uguaglianza e la fraternità tra popoli. Le religioni si prefiggono il dovere di insegnare l’umanità. L’Islam -o qualsiasi altra religione- non è motivo di questo fermento di ostilità.
Il terrorismo ”islamico”, o qualunque forma di violenza, è un’erbaccia, un pianta-parassita, completamente privi di radici , quindi assente di fondamenti, che caccia le altre piante, opprime e distrugge quelle altre che hanno radici e si nutrono di ciò che riescono loro a ricavare. Piante secolari, tenacissime e solidissime che sono le società civili e libere, quelle occidentali e quelle poche orientali che riescono a reggersi nonostante i colpi dei nuovi totalitarismi. Il terrorismo di matrice ”islamica” non ha perciò radici, non ha storia, ma ha un inizio e quindi avrà una fine; non può affermarsi se non come fallace movimento totalitario. Totalitario perché preme, si insinua subdolo come lunghi tentacoli tra i pilastri dei sistemi dei Paesi non in guerra, li fa vacillare, tentennano tra un improvvisato e ostile intolleranza a un becero e inutile buonismo. La libertà personale diviene un’incontrollabile virtù; la libertà di girare per le città, nel viaggiare sono fatalità e il timore diviene isteria collettiva; meglio non uscire di casa. Si colpiscono gli Stati non in guerra ed essi si atterriscono di quest’ondata di terrore propria dei conflitti, poi i punti di ritrovo; allora la popolazione diviene protagonista di una sanguinaria disputa che ha sapore un po’ di mera ideologia. Si colpiscono i giovani adulti che s’affacciano speranzosi alla vita, alla generazione che avrà il potere di orchestrare con i fragili fili del destino mondiale e il popolo comincia a fremere atterrito. Si colpiscono i bambini e l’intero popolo si inginocchierà. Ma questo popolo non può abbandonarsi al dolore, alla paura, alla sofferenza poiché significherebbe perdere, abbandonare tutti quei valori per i quali troppe persone hanno sacrificato la propria vita, far schiacciare ogni promessa.
Che queste lacrime non siano indizio di indifesa, di perdita bensì la motivazione per cui non si deve cedere, per continuare a resistere, difendersi, a combattere.


Viviana Rizzo

4 Wanita penghuni Surga dan 4 wanita penghuni Neraka

Abdullah bin Mas`ud mendengar sabda Rasulullah yang artinya : Wanita mana saja yang mau diajak suaminya ke tempata tidur, lalu menunda nunda hingga suaminya tertidur maka ia dilaknat Allah".“Wanita mana pun yang cemberut dihadapan suaminya maka dia dimurkai Allah sampai ia tersenyum kepada suaminya, dan meminta keridhaannya”.“Siapa saja wanita yang durhaka dihadapan suaminya melainkan ia berdiri dari kuburnya, mukanya menjadi hitam, dan wanita yang keluar rumahnya tanpa izin suaminta, maka ia dilaknat malaikat hingga ia kembali ”.“Seorang istri yang keluar rumah tanpa seizin suaminya akan dilaknat segala sesuatu yang terkena sinar matahari hingga ikan-ikan yang ada di laut ”.

“Siapakah manusia yang lebih besar haknya dari istri. Rasulullah SAW bersabda "Suaminya” Aku bertanya lagi “Dan siapakah yang lebih besar haknya bagi seorang lelaki.? Rasulullah SAW bersabda :"Tiga golongan manusia yang Allah tidak mau menerima shalatnya dan amal kebaikannya tidak di naikan ke langit, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali, wanita yang dimurkai suaminya hingga suaminya ridha, dan pemabuk hingga ia sadar”.
“Jika seorang istri berkata kepada suaminya,” Saya sama sekali tidak pernah melihat kebaikanmu`, maka amalnya benar-benar terhapus" Maksud dari hadist diatas adalah, jika seorang istri mengingkari suaminya, maka sebagai balasannya Allah akan melenyapkan segala amal kebaikannya serta merusak segala amal kebajikannya. Lebih dari itu, pahala Allah terhalang oleh ucapan buruk sang istri itu tentang suaminya, kecuali ia kembali mengakui segala kebaikan suaminya. Kalau memang ucapan sang istri itu benar, maka istri tidak boleh dicela sebagaimana ucapan budak kepada tuannya. Begitulah menurut, Al-Zizi. Hadist tersebut di riwayatkan oleh Ibnu adiy dan Ibnu Asakir dari Aisiyah ra.

Thalhah bin Ubaidillah ra. mendengar Rasulullah SAW bersbda :“Wanita yang berkata kepada suaminya, "Aku tidak melihat kebaikanmu sama sekali, melainkan Allah Swt. memutuskan-rahmatnya kepadanya pada hari kiamat . Rasulullah SAW bersabda :"wanita yang meminta suaminya untuk menalak tanpa ada alasan yang mendesak, maka haram baginya bau surga, (HR. Ibnu Hibban, dan Al-Hakim dari Thazauban budak Rasulullah SAW ) Ibnu Ruslan berkata Maksud dari kalimat `alasan yang mendesak`diatas adalah, jika wanita itu takut tidak dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum Allah yang berhubungan dengan kewajibannya, seperti pergaulan yang baik karena istri itu benci kepada suaminya atau suami menyakitinya, sedangkan maksud dari `wanita itu terhalang`adalah, tidak dapat memperoleh harumnya bau surga, jika wanita itu benar-benar sengsara karena benci kepada suaminya, lantaran ia tidak pernah mengurusnya, maka tidak haram bagi seorang istri untuk meminta cerai.

Abu Bakar As-shiddiq ra. mendengar Rasulullah SAW bersabda :"Apa bila seorang wanita berkata kepada suaminya, "ceraikanlah aku ! "maka ia datang pada hari kiamat dimana mukanya tidak berdaging,lidahnya keluar dari kuduknya, dan terjungkir di kerak jahanam, sekali pun siangnya dia berpuasa dan malam harinya bangun salat selamanya.

Rasulullah SAW bersabda :"Sesungguhnya Allah tidak mau memandang wanita (istri) yang tidak mau bersyukur kepada suaminya,”
Rasulullah SAW. juga bersabda :“Sesungguhnya Allah tidak mau memandang wanita (istri) yang tidak mau bersyukur kepada suaminya,padahal dia masih membutuhkannya,”

Abu Hurairah ra.pernah mendengar Rasulullah SAW.bersbda :“Andai kata seorang wanita itu mempunyai harta kekayaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman bin Dawud a.s. dan suaminya memakan harta itu,lalu bertanya kepada suaminya,di mana hartaku ? Allah pasti melebur amal wanita itu empat puluh tahun. ”

Usman bin Affan ra. mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Andai kata wanita itu memiliki dunia seisinya dan membelanjakan semua hartanya untuk suaminya,kemudian ia mengungkit ungkit suaminya sesudah waktu lama,maka Allah melebur amalnya dan ia di halau bersama Qarun.”

Rasulullah SAW bersabda : “Perkara pertama kali di nyatakan kepada wanita pada hari kiamat adalah salat dan suaminya,”
Rasulullah SAW bersabda : “Perkara pertama kali di hisab (dihitung) pada hari kiamat bagi lelaki adalah salatnya, kemudian istrinya,dan budak yang di miliki, jika ia mempergauli mereka dengan baik dan berbuat baik kepada mereka, maka Allah berbuat baik kepadanya,dan yang pertama kali teliti bagi wanita adalah salatnya, kemudian hak suaminya.”
Rasulullah SAW bersabda :“Bagaimana sikap kamu terhadap suamimu?” Jawabnya, `saya tidak mempersempit dan tidak sembrono dalam mengabdi kepadanya, kecuali jika saya tidak mampu melakukannya.“
Rasulullah SAW bersabda : "Bagaimana sikapmu kepadanya, ingatlah! dia itu adalah surga dan nerakamu”

Rasulullah SAW bersabda : “Ada empat golongan wanita berada di surga dan empat lainnya di neraka.Beliau lalu menyebutkan empat wanita yang masuk surga ;
*Pertama, wanita yang mampu menjaga diri,taat kepada Allah dan suaminya,serta wanita yang banyak anaknya.
*Kedua, wanita sabar dan menerima pemberian itu sedikit.
*Ketiga, wanita yang mempunyai rasa malu ,jika suaminya meninggalkannya pergi dia memelihara diri dan hartanya.Jika suaminya berada dirumah ia dapat mengekang lisannya (untuk tidak menyakiti suaminya).
*Keempat, Wanita yang di tinggal mati suaminya beserta anak-anaknya yang masih kecil. Lalu ia mengekang dirinya demi kepentingan untuk memelihara,mendidik dan berbuat baik kepada mereka.bSerta ia tidak mau kawin lagi karena takut menyia nyiakan anak-anaknya.Kemudian Nabi melanjutkan sabdanya : "Adapun empat wanita yang berada di neraka adalah :
*Pertama, wanita yang jelek lisannya (ucapannya) terhadap suaminya, jika suaminya pergi ia tidak mau menjaga diri,dan jika suaminya berada di rumah ia menyakiti suami dengan ucapannya.
*Kedua, wanita yang membebani atau menuntut suaminya dimana suaminya tidak mampu untuk melakukannya.
*Ketiga, Wanita yang tidak menutup dirinya dari lelaki lain dan keluar dari rumahnya dengan dandanan yang menyolok.
*Keempat, Wanita yang sama sekali tidak mempunyai cita-cita kecuali hanya makan,minum dan tidur, ia juga tidak senang melakukan shalat, tidak mau taat kepada Allah dan RasulNya serta suaminya.Maka wanita yang mempunyai sifat-sifat seperti itu adalah wanita terkutuk termasuk ahli neraka kecuali jika ia bertobat ”

Sa`ad bin Abi waqqash ra. mendengar Rasulullah bersabda : “wanita yang tidak mau menghilangkan kesempitan suaminya maka Allah Swt. murka kepadanya dan semua malaikat malaikatnya ”. Diantara wanita yang masuk surga kelak adalah wanita yang mempunyai rasa malu, kalau di tinggal suaminya maka ia menjaga diri dan harta suaminya.
Dalam hal ini Salman Al-farisi ra. mendengar Rasulullah bersabda : “Tidaklah seorang wanita yang memandang lelaki bukan suaminya dengan shahwat,melainkan kedua matanya dipaku pada hari kiamat ”

Abu Ayub Al -Anshari as. mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Allah Swt. menciptakan tujuh puluh ribu malaikat dilangit dunia, mereka mengutuk setiap wanita yang menyalahgunakan harta suaminya. Dan ia pada hari kiamat berkumpul bersama tukang-tukang sihir dan dukun peramal, sekalipun ia menghabiskan umurnya untuk berkhidmat kepada suaminya ”. “Wanita yang mengambil harta suaminya tanpa seizin nya, ia akan memikul dosa seperti dosa tujuh ribu pencuri”. Termasuk wanita yang disurga adalah wanita yang ditinggal mati suaminya dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil sebagai anak yatim.Lalu wanita itu memelihara,mengasuh dan mendidik mereka dengan baik. Ia pun selalu bersikap baik terhadap anak-anaknya dan tidak akan kawin lagi karena khawatir menyia nyiakan anaknya".
Sehubungan dengan hal ini Rasulullah SAW. bersabda : “Setiap manusia diharamkan oleh Allah masuk surga sebelum aku, melainkan aku melihat kananku, tiba-tiba ada seorang wanita segera mendahului kepintu surga. Kataku, "Apa kelebihan wanita ini mendahului aku.? ”
maka dikatakan kepadaku,“Hai Muhammad. inilah wanita cantik lagi baik.Dia punya anak-anak yatim, dia selalu sabar hingga anak-anak yatim itu hidupnya menjadi sempurna.`Akhirnya Allah menyanjung nyanjung wanita itu ”. Dan di hadist diatas disebutkan adanya empat wanita yang masuk neraka, adalah wanita yang mulutnya sangat lancang terhadap suaminya, dan jika suaminya pergi ia tidak menjaga dirinya, sedangkan kalau suaminya dirumah ia selalu menyakiti hatinya.

Berkaitan dengan hal ini maka Umar bin Khathab mengataka bahwa Rasulullah bersabda yang artinya : “Wanita yang mengeraskan suara terhadap suaminya, akan dilaknat oleh segala sesuatu yang terkena sinar matahari”.
Selanjutnya adalah wanita yang selalu menuntut suaminya untuk memenuhi sesuatu yang diluar batas kemampuannya.

Abu Dzar ra. mendengar Rasulullah bersabda : “Andaikata wanita itu beribadah seperti ibadah penduduk langit dan bumi, lalu ia menyusahkan suaminya dalam urusan nafkah, maka ia datang pada hari kiamat dimana tangannya terbelenggu pada lehernya, kakinya diikat, kejelekannya terungkap, mukanya luka luka, dan di gantungi para malaikat yang keras keras dan kasar kasar, mereka menjungkirkannya dineraka”
Yang ketiga yakni wanita yang tidak menutupi dirinya dari lelaki lain dan ia keluar dari rumahnya dengan berhias dan bersolek serta menampakan kecantikannya kepada lelaki lain.“

Salman Al-Farisi mendengar Rasulullah bersabda yang artinya : "Wanita yang berhias dan memakai harum haruman lalu keluar dari rumah suaminya tanpa seizin suaminya,ia berjalan benar benar dalam kemarahan dan kemurkaan Allah hingga ia kembali”.

Rasulullah bersabda : “Wanita yang melepas pakaiannya diluar rumahnya, yaitu memperlihatkan tubuhnya pada lelaki lain, maka Allah akan membedah tutup tubuhnya ” (HR. Imam Ahmad, Thabrani, Ibnu Majah, Al Hakim,dan Al Baihaqi).

Sebuah hadist yang diriwayatkan Al Hakim menyebutkan,ada seorang wanita kepada Nabi SAW.yang artinya : “Anak paman saya melamarku untuk menikahi saya, maka berilah saya nasehat mengenai hak suaminya yang harus dipenuhi oleh istri. jika hak hak itu mampu saya penuhi, maka saya akan menikah. Lalu… Rasulullah SAW bersabda : "Diantara haknya adalah andaikan kedua hidung suaminya mengalir darah atau nanah lalu istrinya menjilatinya dengan lidahnya, ia belum memenuhi hak suaminya. Kalau manusia boleh bersujud kepada manusia, niscaya aku perintahkan wanita itu untuk bersujud kepada suaminya, lalu wanita itu berkata, "Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, selama dunia ini masih ada aku tidak akan menikah”.

Aisyah ra. menceritakan kedatangan seorang wanita yang bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah! Saya seorang gadis sudah dipinang seorang lelaki,tetapi saya tidak mau kawin. Maka apakah hak suami atas wanita? Lalu Rasulullah menjawab : "Andaikan dari kepala suami sampai kedua telapak kakinya terdapat nanah, lalu istri menjilatinya, ia tetap belum dapat memenuhi kesyukurannya terhadap suaminya, Lalu gadis itu berkata, kalau begitu saya tidak mau menikah, Beliau kemudian menjawab "Tidak begitu, sebaiknya Anda tetap kawin, karena kawin itu lebih baik”.

At Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang baik : “Bahwasannya wanita itu tidak dapat memenuhi hak Allah sebelum menenuhi hak hak suaminya. Seumpama suami meminta haknya sekalipun ia sedang diatas punggung unta, maka ia tidak boleh menolak dirinya ”

Ibnu Abbas ra. mengatakan, ada seorang wanita dari desa Khats'am datang kepada Rasulullah seraya berkata “saya ini seorang wanita yang tidak bersuami, sedangkan saya ingin menikah,maka apakah hak suami pada istri? Rosul menjawab : "Sesungguhnya sebagian dari hak hak suami pada istrinya adakah :
*Apabila suami memerlukan diri istrinya meskipun sang istri sedang berada di atas punggung unta, ia tidak boleh menolak.
*Istri tidak boleh memberikan apa saja dari rumah suami tanpa seizinya.Kalau istri memberikan sesuatu tanpa seizin suaminya, maka si istri berdosa sedangkan suami mendapatkan pahala.
*Istri tidak boleh berpuasa jika tidak mendapatkan izin suaminya, karena ia hanya akan merasakan letih dan dahaga, sedangkan puasanya tidak akan diterima Allah.
*Jika istri keluar dari rumahnya tanpa izin suaminya, maka ia mendapat laknat para malaikat hingga kembali kerumahnya dan bertobat ”.

Pada suatu saat, Sayyidina Ali kw. datang kepada Nabi SAW. bersama Fatimah. Tiba tiba mereka menjumpai beliau sedang menangis tersedu sedu. Ali pun bertanya kepadanya, “Ayah dan ibuku menjadi tebusan wahai Rasulullah ”(Maksudnya, kesusahan dan tangisanmu akan saya tebus dengan bapak dan ibu saya, karena saya sangat mencintaimu). Apa yang menjadikan engkau menangis ? Rosul kemudian menjawab, “Wahai Ali, ketika diriku di isra'kan (di perjalanan) ke langit, aku melihat para wanita dari umatku disiksa dineraka jahanam dengan berbagai macam siksaan. Maka saya menangis karena melihat beratnya siksaan mereka itu”
Lalu beliau menjelaskan detil detail siksaan itu sebagai berikut :
*Aku melihat seorang wanita yang digantung dengan rambutnya dan otaknya mendidih.
*Aku melihat seorang wanita yang digantung dengan lidahnya, lalu air mendidih yang sangat panas dituangkan ke tenggorokannya.
*Aku melihat wanita kedua kakinya hingga puting susuny,dan kedua tangannya diikatkan pada ubun ubunnya,lalu Allah menguasakan padanya ular ular dan kalajengking untuk menyiksanya.
*Aku melihat wanita yang digantung dengan puting susunya.
*Aku melihat wanita dimana kepalanya seperti kepala babi dan tubuhnya seperti tubuh keledai, dan ia di hadapkan beribu ribu siksaan.
*Aku melihat wanita dengan bentuk rupa anjing,sedangkan apa masuk dari mulutnya keluar dari duburnya,lalu para malaikat memukuli kepalanya dengan palu dari api.
Lalu Fatimah ra. berdiri seraya berkata, “Wahai ayah tercinta, "Apakah yang pernah diperbuat wanita wanita itu sehingga mereka mengalami siksaan seperti itu?”
Rasulullah pun bersabda: “Wahai putriku! adapun wanita yang digantung dengan rambutnya, karena ia tidak mau menutupi rambutnya dari lelaki lain. Sedangkan wanita yang di gantung dengan lidahnya adalah wanita yang menggunakan lisan untuk menyakiti hati suaminya. Maka pembalasan itu setimpal dengan perbuatannya. Adapun wanita yang digantung dengan puting susunya adalah wanita yang mengajak tidur lelaki lain ditempat tidur suaminya. Lalu wanita yang kedua kakinya diikat hingga puting susunya dan tangannya sampai ubun ubunnya lalu digerogoti ular ular dan kalajengkin adalah wanita yang tidak mandi janabat, tidak mau mandi hait, dan mengabaikan sholat. Sedangkan wanita yang kepala babi dan bertubuh keledai adalah wanita yang suka mengadu domba dan tukang dusta. Sedangkan wanita yang rupanya berbentuk seperti anjing dimana api masuk dari mulutnya dan keluar lewat duburnya adalah wanita yang mengungkit ungkit pemberian dan pendengki. Wahai putriku kecelakaan besarlah bagi wanita yang durhaka terhadap suaminya.”

MALAYSIA, Kuala Lumpur : Malaysian boys wait for their turn during a mass-circumcision ceremony at the Tuanku Mizan Army hospital in Kuala Lumpur on December 5, 2014. 112 children participated in the event organised by the Ministry of Defence for children of defence personnel, with a grand welcome and festivity, which some consider as a celebration of reaching manhood. AFP PHOTO / MANAN VATSYAYANA

Description of Prophet MuHammad

The Messenger of Allah was great and revered by the people. He was not exaggeratedly tall, nor was he short like he whose organs are merging in on each other; rather, he was of average height, but leaning towards being tall. He was not purely white, nor was he dark-skinned, he was white with a tint of redness. His head was big, which signals the strength of his brain. His hair was not excessively curly, nor was it completely straight, rather, he had locks that were in between. When it was easy to do so, he would part his hair down the middle, and he was seen with four braids. His hair would come to his earlobes and sometimes touch his shoulders. At 60 years old, he only had about 20 white hairs in all of his head and beard. He used to comb both of them, but not always. Some of those hairs were at his temples, and some showed when he parted his hair, and they would disappear when he oiled his hair. His face was not long, nor very round; rather it was round, but with some length in it, and it was not chubby. It was radiant, like the full moon- as opposed to the sun, for one cannot bear to look directly into the sun. His cheeks were not high. His nose was not completely straight, though one may mistakenly think it was, rather, there was slight elevation in it, and there was light upon it. He had a wide mouth, and nice space between his two upper front teeth and between his two lower front teeth. When he would talk, it would be as if light was coming from his mouth. The black of his eyes was intense, and the white of his eyes had red lines. His eyelashes were long and plentiful. His eyebrows were not bushy, nor were they connected, though one may mistakenly think they were. Anger would cause a vein to appear between them- and he would only become angry for the sake of Allah. His beard was thick. It was as if he had the neck of a doll. He had a nice physique, and he was radiant. His body was thick- not fat, and not skinny- and firm (mutamassik); not flabby. His chest and stomach were even. His shoulders and chest were broad. His body was not hairy, but he had a long strip of thin hair from his chest to his navel, hair on his upper chest, his shoulders, forearms and shins. Between his shoulder blades, closer to the left, was the “Ring of Prophethood”- named as such because the Jews and Christians of old knew that the last Prophet would have such a mark on his back- a protruding red birthmark with hair, about the area of a pigeon egg. The tips of his bones were big, and that appeared in his elbows and knees. His preferred attire was a qamis (long shirt), because it is the best for covering the body. His sleeves stopped at his wrist and his qamis would stop mid-shin, and then the shine of his honorable shins would be seen. His hands and feet were thick. His feet were arched and smooth, water would trickle off of them and not become trapped. His heels did not have much flesh. He would wear khuffs and he would wear sandals. He would lean into his steps when walking, lifting his feet from the ground with energy, and walk swiftly as if he were going downhill, not like the arrogant nor like the lazy. He walked humbly, looking towards the ground more than towards the sky, and that was also due to him frequent thinking and pondering. He would not only turn his head towards one, but his body, and this is a sign of humility, and when he would encounter someone, he would be the first to give the Salam. He had the most generous heart, most honest tongue, he was the most easy-going person, and someone whom one would like to be in his company. If someone were to suddenly or unexpectedly see him, he would be awestruck, and if one were to get to know him he would love him. Every good attribute he had was as perfect as such an attribute could be. Whoever described him said, “I never before saw someone like him, nor ever again.”

Alhamdulillah

I’m feeling very grateful and blessed right now! As you all may know, my parents didn’t know I was converted to Islam, or more correctly said: they didn’t believe me. That was months ago and I always felt some tension, so I didn’t engage a conversation about it at all, I just showed them I was interested and occupied with this beautiful religion. Every night, when we had dinner, I refused to eat the meat since it was not halal, or I just bought my own. It wasn’t quite noticeable, at least, that’s what I thought haha. But here is the wonderful news! My mom bought me fish yesterday for dinner, and suddenly she asks: ‘’Are you eating halal now?’’ I was quite shocked since it was so directly and I almost denied it, but I think her mother’s instincts saw right true me and the said: ‘’that’s okay, you should have just said it, so I can buy halal for you.’’ I explained to her that I was afraid of their reactions, especially from my sister, and that I didnt want to bother anyone with it. The next day she bought a bunch of halal meat and said: ‘’from now on, we’re eating halal. It doesn’t matter to me what kind of meat I’m eating anyway.’’
My mom’s the best, I can’t describe in words how grateful I am, alhamdulillah <3.

Ever wondered how the Muslim calendar started? How the months were derived and why it was actually composed like how it is now?

Did you know that it was another reason that strengthen the unity of Islam? Ma sha Allah.

Like the event of choosing the Adhaan, the choosing and deciding of making the Muslim calendar went through same process, the Companions Radiyallahu Anhum also went thorough study about this, they also suggested similar ways as other nations.

Some companions Radiyallahu Anhum suggested that it should be like the Roman calendar but then it was rejected due to the many reasons like it was too long and was filled with many events that were specific to other different nation.

Then some suggested about the Persian calendar but then again the idea was rejected because with Persians every time a new king was put into the throne, their previous dating would be abolished.

That is why, ‘Umar Ibn Al Khattab Radiyallahu Anhu based the Muslim calendar on the Hijrah (migration) of the Prophet Sallallahu Alaihi Wassalaam. Hence making him the first person to number the Muslim calendar.
_____

But then, the basing of when it started was again a discussion, Ibn. Hajr Rahimahullah said:

'Umar consulted the companions about dating the Muslim calendar, they found that they could base the beginning of their calendar on four events: the birthdate of the Prophet Sallallahu Alaihi Wassalaam, the month and year during the Prophet Sallallahu Alaihi Wasssalaam first received revelation, the migration of the Prophet Sallallahu Alaihi Wassalaam and the month and year during which the Prophet Sallallahu Alaihi Wasssalaam passed away.

Yet the Muslims would disagree about the exact date of the Prophet’s birth and of the first Time the Prophet received revelation, also they didn’t want to base their calendar on the date of the Prophet’s death, since it would only arouse feelings of sadness and pain. So it was only the Hijra that remained.
_____

Indeed through this simple act of establishing a unique Muslim calendar, 'Umar helped promote further unity among the Muslims.

Muslims were already united by a single religion; by a bond of brotherhood- a bond that took only faith into consideration, and not other factors such as skin color, race or lineage. They were united by a single Qiblah, the direction they all faced during Prayer, no matter where they were on earth- and now they were also united by the same calendar, by the same means by which they would record the events of their collective and proud history.

Allahu'akbar.

About the Muharram being the first month, Ibn Hajar Rahimahullah further says:

“They agreed upon Muharram instead of Rabi'ul-Awwal because the Prophet Sallallahu Alaihi Wassalaam first made a firm resolve to migrate to Madinah in the month of Muharram. The second pledge of Al-'Aqabah took place in Dhul-Hijjah, which represented the first stage of the Prophet’s migration. After the second pledge of Al-'Aqabah took place, and after the PropheT Sallallahu Alaihi Wassalaam made a firm resolve to migrate to Madinah, the first new moon that appeared was the new moon of Muharram, thus making Muharram the appropriate first month of the Muslim calendar.”
_____

May we become great holders of historical triumphs of Islam, that in our hearts these great events that happened in the Muslim history and world history will continue to live in our heart even if written history couldn’t give justice to it, but like how the ahadith survived, let our Muslim historical events shine through our lives.

Amin

Zohayma
_____

Al Mustadrak, Al Hakim: 3/14

Note: This is part of the collection of Golden Stories of the Sahabah Stories, which narrates and shares the amazing stories of the Sahabah Radiyallahu Anhum as taken from excerpts of their lives.