anonymous asked:

hi! can i ask you something about wearing a hijab? i'm not muslim and i apologize if i say something offensive. it's not my intention. in one of the seasons sana says she wears a hijab because she wants to not bc she's forced. do muslim women wear it bc they want to or they have to when they're in public? doesn't it get uncomfortable sometimes? she even wears it at home. i hope i'm not being rude i'm just trying to learn about it

Hello, anon !! 

Before I go on with answering, I’ll clarify this little thing first : I’m not Muslim. I’m an ex-muslim, I studied Islamic Education for 9 years and I was a Hijabi for 4 years. So my answer will be heavily based on my interpretation of the religion of Islam, since I greatly believe that Islam is a philosophy that each can give their own touch and feel to.

Hijab is not just the veil you wear around your head, or just a garment you put on your skin, as it is commonly thought to be, it actually holds much more meaning. The piece of clothing is nothing but the physical form of the philosophy behind it, it’s the tip, that meets the short-sighted eye, of a huge mountain of ideas and meanings gathered behind it. 

Hijab, actually, is an atittude.

Hijab (حجاب) is a noun derived from the verb حجب, which means to withhold and to block. So, when you wear Hijab, you’re wearing an atittude to block bad manners and evil traits from sweeping into your soul, you’re adopting a set of manners that strengthen your will against commiting sins or making mistakes against yourself and against others. Hijab is a mindset based on respect, realizing your value and your unique traits amongst others’ different ways of being and respecting the diversity that puts us all together, based on patience; to realize the great effort you need to refrain from falling for lust and forbidden love in a sinfull context and to gather your powers to keep yourself in check from following the pleasures of relationships before marriage (that Islam, following a respectful logic of its own, sees to be unacceptable), and most importantly based on faith; to believe that Allah is the ultimate friend that stands by you through your reckless journey of falling and getting up towards the perfect state of good, and that Allah is your companion who empowers you and gives you strength in this inner fight against pleasurable sins. All of these manners and ideas come together inside your soul to serve as a shield and a veil against the weak nature of our being and against our irrationality, and as a protection from being robbed off the beliefs you stand for and the convictions you’re built on. 

Up until now, I’ve been speaking about a non-gender based concept, a Hijab that doesn’t make a difference between a woman and a man, because Islam comes to teach you about the better ways of being and it does so for all genders alike. Even when it comes to the physical form of Hijab, both women and men are requested to hide some parts of their body, in the presence of the opposite gender, that are considered to be atracttive and call for lustful looks. (for women more than men), and just as a person is supposed to cover up to avoid stiring up lust from the eyes of the other, the other is also supposed to lower their gaze. So after all, it’s an act that needs the well behaving of both parties. (So, yes, men can be Hijabis too)

Islam recommands this optional solution, and you are free to follow through with it. No one forces no one of how to see things, you have your own eyes to see the world. After all, it’s up to you to decide who you want to be, and what ideas and beliefs you want to adopt. You can be a Muslim, but still don’t believe that relationships before marriage are unacceptable, so you don’t consider Hijab as an option to protect you from a sin that you don’t even see as a sin. You can also be a non-muslim, but still be someone who wears this atittude on a daily basis due to your own individual freely refusing to engage in relationships before marriage. 

Your Islam is personal to yourself, and if anyone tries to shove their ideas and their own interpretations of Islam on another while pointing the finger to them and judging their way of being as wrong, is someone who needs to be taught about the common sense of free choice and personal belief.

To be honest, Islam can be understood in different ways, it’s a wide and immense philosophy that needs to be read through wisely and carefully, so interpretations that belittle women and that go against the simple concepts of gender equality and free will DO exist, they do more harm to the world than good.They’re intrepretations that neglect the important idea that Allah sent His message through His Prophet to His people for their benefit and for their good, and NOT to shower them with evil. So, any intrepretation that goes against that should not be accepted as a teaching from Islam.

Oh, by the way, about Sana wearing Hijab inside the house, that’s a minor issue since Iman Meskini is a Hijabi and she just won’t take off the clothing for the whole world to see, that’s why Sana is always seen to be wearing it even inside the house. But that’s not really a necessity, I mean, my grand-mother wears the veil indoors but my mother doesn’t. It’s a preference, all about what the Hijabi is more comfortable with.

I REALLY hope I didn’t offend anyone with this !

Sunatullah Kekuasaan

Tak ada yang namanya keabadian di dunia fana, sebab yang fana itu ada mulanya, dan tiap yang bermula sudah pasti akan ada akhirnya, itulah namanya sunatullah

Termasuk kekuasaan, Allah katakan ia seperti malan dan siang yang dipergilirkan, ada awalnya dan ada akhirnya, layaknya manusia yang memang punya batas

Nusantara menjadi saksi janji Allah itu lewat kerajaan Kutai, Sriwijaya, Samudera Pasai, Majapahit, dan banyak lagi. Raja-raja naik dan mangkat, peradaban berganti

Ada yang hitungan hari, ada yang sampai ratusan tahun, tapi tetap tak ada yang abadi, walau pemilik kekuasaan itu mencoba segala hal yang dia mampu untuk tetap berkuasa

Renungkan bagaimana Firaun mencoba melawan sunatullah dengan membunuhi tiap anak lelaki dan membiarkan yang perempuan, saat tahu kekuasaanya terancam

Saat Firaun melakukan segala hal yang dia bisa, melampaui kekejaman yang pernah terbayang. Musa yang kelak mengakhiri semuanya, justru dibesarkan di istananya

Demikian Persia yang bertahan 12 abad harus mengakui rivalnya yang lebih inovatif yaitu Romawi yang bertahan 13 abad sebelum menyerah pada keagungan Islam

Ada kekuasaan yang digantikan Allah sebab kedzalimannya, ada yang digantikan karena memang tak mampu bertahan lalu menyerah pada yang lebih unggul konsepnya

Bedanya, diantara peradaban-peradaban itu, hanya Islam yang akan diulang oleh Allah kekuasaannya, begitu yang Rasulullah sampaikan dalam haditsnya

Maka secara sunatullah, Islam pasti kembali berkuasa, karena itu sudah janji Allah dalam QS 24:55. Walau segala hal dibuat untuk menghalangi dan menghadangnya

Adapun jika saat ini kita menyaksikan Firaun model baru dan komplotannya yang melakukan apapun yang dia bisa agar tetap bisa berkuasa, tak apa, Allah punya rencana

Yang penting siapkan kesabaran dalam perjuangan, ikhlaskan semuanya hanya karena Allah, terus luruskan niat dan jauhkan diri kita daripada dosa dan kemaksiatan

Bila mereka selalu meracau tentang dunia dan dunia yang fana ini, biarlah kita terus mengingat janji Allah agar terus menyala semangat, juga terus istiqamah dalam berdakwah

Kembalinya Islam adalah janji Allah, bersatunya kaum Muslimin adalah kehendak Allah, dan kembalinya Khilafah atas manhaj kenabian, adalah bagian nubuwwah akhir zaman ☺️☺️☺️

youtube

Linda Sarsour says FGM is not a Muslim practice. 

Too bad Muhammad, Aisha, the Quran, Sharia manuals and actual Muslim scholars disagree.

I am acquainted with several of these women and they are amazing! True feminists in word and action. All of these women have suffered great brutality under the hands of a brutal religion and escaped under harrowing circumstances. All of them are activists presently at the risk of life and limb. They need our support. These are the true worthy examples. The true warriors.

Rezim Islamophobia

Lucu memang, sebagai negeri yang tercatat dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dengan Islam sebagai agama yang mayoritas, pemangku negeri ini masih takutkan Islam

Mereka Muslim, tapi Islamophobia, khawatir akan Islam seolah Islam itu sebab dari semua masalah yang terjadi, dan karenanya Islam itu dirasa harus disingkirkan dari kehidupan

Lihat saja ketika kasus penistaan agama terjadi, sebenarnya sederhana bahasannya, ketika Al-Qur'an dihina, kaum Muslim bereaksi, tapi oleh rezim disebut sebagai rencana makar

Semua hal dipandang dari sudut Islamophobia, aksi #BelaQuran dianggap menggoyang negara, ingin pemimpin Muslim dituduh anti-Pancasila, anti-kebhinekaan, anti-NKRI

Bagi rezim Islamophobia dan komplotannya, Islam selalu jadi biang masalah, selalu dituduh jadi sebab gejolak dalam masyarakat, ini yang kita lihat secara jelas

Mereka lupa, bahwa ummat terus-menerus berteriak pada penguasa, bukan karena mereka tak cinta negeri, bukan karena tak terima kebhinekaan, tapi karena ketidakadilan

Tapi para pemangku kewenangan terus menuduh, “ini makar dari kaum radikal”, “kita harus melawan cyber-jihad”, “ini kerjaan kaum fundamentalis agama”, dan sebagainya

Rezim ini tak pernah berkaca, tak pernah introspeksi, bahwa gejolak yang ada saat ini adalah karena kedzaliman yang terasa, karena ketidakadilan yang konsisten

Persis penista agama dan komplotannya, yang selalu menuduh yang berseberangan dengannya menggunakan isu SARA, anti-NKRI, anti-Pancasila, anti-kebhinekaan

Seolah bila tidak setuju dengan mereka, berarti pastilah jahat. Lupa bila manusia manapun takkan suka dengan kedzaliman, kekasaran, dan kekotoran lisan dan amalan

Bagaimana mungkin memperjuangkan Islam itu buruk? Padahal kita tahu negeri ini merdeka justru karena darah syuhada, sebab mereka tahu jihad membela tanah Muslim itu wajib

Bagaimana mungkin Islam jadi ancaman? Padahal Rasulullah begitu indah mencontohkan bagaimana saat Islam diterapkan, dan negeri ini tegak “Atas berkat rahmat Allah”?

Dalam sejarah, hanya yang dzalim yang takut akan datangnya Islam, sebab saat datang cahaya, maka lenyaplah kegelapan, ja'a al-haq, zahaqa al-bathil, itu firman Allah

Sedang mereka yang beriman takkan pernah takut dengan Islam, sebab Islamlah yang memberi arti hidup mereka, dan dengan Islam pula kematian mereka punya arti ☺️☺️☺️

Jadi Lebih Baik Itu Harus

Dulu ayah saya bekerja dengan mesin ketik, tapi zaman sudah berganti, saat kuliah saya sudah mengetik dengan komputer, dan kini saya gunakan notebook dalam keseharian

Dulu metode komunikasi tercanggih dengan pager, telegram dan surat terasa dari masa lain, sekarang saat orang semua punya smartphone, pager tak lagi relevan dalam kehidupan

Entah besok bagaimana lagi dunia membawa kita, tapi yang pasti dunia itu dinamis, terus berubah dan tidak menunggu kita, kitalah yang harus menyesuaikan dengan perubahan itu sendiri

Lantas apakah saat saya gunkan notebook lalu saya dianggap berkhianat pada ayah saya yang tak pernah mengenalnya? Seharusnya malah dia bangga, ada kemajuan pada anaknya

Lalu apakah ketika saya menggunakan smartphone lantas saya dianggap tak setia pada ayah saya yang tak pernah memakainya? Tentu tidak, sebab tiap masa punya penyelesaian sendiri

Tidak semua perubahan harus diartikan sebagai khianat, tak setia, atau ancaman, bisa jadi justru bagian dari cinta, kepedulian, dan keberlangsungan, yang jelas perubahan itu ada

Sebab kita tak bisa bertahan memakai disket 1.44 MB di masa flashdisk 64 GB sudah menjamur, atau bertahan dengan merpati pos saat ojek pun sudah bisa dipesan dengan koneksi internet

Sama seperti hidup yang selalu berubah dan perlu solusi, apakah kita masih mau bertahan dengan sekulerisme-kapitalis atau sosialisme-komunis, padahal terbukti merusak?

Bedanya, jika semua dalam kehidupan itu berubah, Islam justru tak pernah berubah dan selalu cocok untuk hidup manusia, kapanpun dan dimanapun, sebab datangnya dari Allah

Yang berubah itu Muslimnya, yang dulu mau mengambil Islam sebagai aturan hidup, namun sekarang malah mengambil aturan hidup dari yang bukan Islam, yang terbukti menyengsarakan

Maka tugas kitalah untuk menjaga negeri ini, memberi solusi bagi perubahan yabg terjadi, dan takkan pernah baik negeri ini, kecuali bila diterapkan Kitabullah dan Sunnah dalam kehidupan

Islam itu datang terakhir, karenanya paling canggih, aqidahnya, ukhuwahnya, akhlaknya, syaraiatnya, lebih dari konsep apapun yang kita kenal sekarang, tentu wajar kita kembali padanya ☺☺☺

Lelaki yang Salah Tingkah

Lelaki yang duduk di sebelah saya itu masih tertidur lelap ketika pramugari mengantarkan satu eksemplar majalah untuk saya sebagai pengganti surat kabar yang tidak ada. Kadang memang begitu. Saya mencari surat kabar tertentu dan karena sudah habis, pramugari menggantinya dengan majalah.

“Mohon maaf, Pak Fauzil, korannya sudah habis. Ini saya ganti majalah saja ya, Pak? Mohon maaf, Pak Fauzil,” kata pramugari ketika itu dengan ramah. Belakangan pramugari Garuda Indonesia memang sering menyapa dengan menyebut nama: Fauzil atau Adhim.

Saya pun menerima majalah tersebut, tak lupa mengucapkan terima kasih dan membaca beberapa bagian. Antara saya dengan lelaki yang “kebetulan” mempunyai kedudukan cukup bagus tersebut, diantarai oleh satu kursi kosong. Menjelang mendarat di Cengkareng, ia terbangun. Tak lama berselang, karena ada yang harus saya lakukan, majalah itu saya letakkan di samping saya; di atas kamera saya. Tetapi lelaki perlente itu segera mengambilnya cepat-cepat tanpa permisi dan memasukkan ke dalam tasnya. Ini merupakan hal yang aneh. Biasanya kalau ada yang tertarik membaca majalah atau koran yang bukan miliknya, ia meminta izin sebagai bentuk tata-krama dan sopan-santun. Tetapi kali ini, lelaki perlente tersebut tidak melakukannya. Ia bahkan sengaja mengambilnya cepat-cepat dan memasukkan ke dalam tasnya tanpa rasa bersalah.

Saya kemudian menoleh kepadanya dan tersenyum dengan baik. Tidak menegur. Saya hanya tersenyum lebar memandangnya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya. Ketika ia menoleh ke arah saya lagi, saya pun kembali tersenyum kepadanya. Senyum yang lebar selebar-lebarnya.

Buru-buru ia berkata, “Saya sudah bilang tadi ke pramugari, ini majalahnya untuk saya. Boleh saya bawa pulang.”

Saya pun kembali tersenyum kepadanya, lebih lebar. Saya tidak merasa perlu membantah karena saya tahu persis dia sedang tidur ketika majalah itu disodorkan, ditambah lagi pramugari secara jelas menyebut nama saya dua kali.

Merupakan kebiasaan jika majalah yang disodorkan ada tulisan “Tidak Boleh Dibawa Pulang”, sementara majalah tersebut diserahkan langsung kepada saya, maka saya akan kembalikan secara pribadi kepada pramugari. Adapun jika majalah yang hanya untuk dibaca di pesawat tersebut saya ambil dari tempat penyimpanan majalah yang tersedia, maka majalah saya kembalikan ke tempat itu. Maka ketika hendak keluar dari pesawat, saya pun menyampaikan permohonan maaf bahwa majalah tersebut sudah tidak di tangan saya.

Begitu keluar dari pesawat, lelaki perlente itu segera mengejar saya, berjalan berdampingan, lalu dia mengatakan. “Majalahnya untuk saya. Nggak apa-apa dibawa pulang. Saya sudah bilang ke pramugari,” katanya berusaha meyakinkan. Saya pun menanggapinya dengan tersenyum sambil sedikit manggut-manggut. Senyum yang paling manis. Tetapi ini membuatnya salah tingkah sehingga ia mempercepat langkahnya; cepat-cepat pergi sambil sesekali menengok ke arah saya.

Saya marah? Tidak. Saya hanya sedih dan sedikit bingung. Kalau dia mau meminta izin sebentar saja, sepertinya ia tidak perlu salah tingkah yang berkepanjangan seperti itu. Saya juga bisa menyampaikan kepada pramugari dengan cara yang lebih enak untuk memintakan izin bagi beliau. Selebihnya, saya sedih, terutama mengingat berbagai perbincangan tentang pendidikan adab di berbagai tempat. Jika orang seperti beliau saja kehilangan adab, bagaimana dengan anak-anak yang sedang belajar? Tentulah kalau beliau mengambil dengan cara seperti itu bukan karena tidak mampu membeli majalah. Bukan. Ia lebih dari sekedar mampu.
—  Mohammad Fauzil Adhim

Bukan Cinta Dalam Diam yg diperjuangkan…Tapi Cinta Dalam Ikhlas…

“Diam-Diam Ikhlas…Bukan Diam-Diam Nyesek…”

Jadi bukan sekedar diam menahan perasaan tapi kemampuan kita memasrahkan harapan dan perasaan kita pada Allah…Juga menahan diri tetap dalam koridorNya.

Itu yg terpenting.

Kecenderungan menyukai itu fitrah…Tapi menjaga kehormatan dan ketaatan itu juga sebuah fitrah dariNya… Semoga bisa dirasakan…:)

Tag/mention sahabat tersayang…:D

#memantaskandiri #cintadalamikhlas #jodoh #cintapositif #pernikahanimpian