is jogja

A dancer performs a traditional Javanese dance at the Kraton of Yogyakarta, a palace complex that presently houses the Sultan and his family. Yogyakarta is the only region of Indonesia that is still governed by a pre-colonial monarchy.

Curhat : Kehidupan Pascamenikah  (Adaptasi)

Akhirnya setelah berhari-hari belum menulis, saya nulis juga. Sebenarnya banyak sekali yang ingin dituliskan, cuma rasanya kemarin belum pas aja buat nulis #alesan. 

Mungkin tema soal Kehidupan Pascamenikah ini banyak yang penasaran (GR), akan saya coba tuliskan sebagai catatan perjalanan untuk saya sendiri dan barangkali bisa menjadi pelajaran buat teman-teman yang lain. Tulisan-tulisan ini akan sangat subjektif jadi ngga bisa disamakan seutuhnya dengan pihak lain tapi bisa diambil hikmahnya wkwkwkwk. Bismillah ya ;)

Banyak sepertinya di luar sana yang membayangkan bahwa kehidupan setelah menikah akan terasa menyenangkan setiap harinya, termasuk saya dulu. Romantis gitu, ada yang diajak bareng-bareng. Ibadah bareng, belajar bareng, sehari-hari ada yang nemenin, kalau sedih ada yang ngepuk-pukin. wkwkwkwkkwkw. Sampai-sampai melupa bahwa kebahagiaan itu beriringan dengan tantangan-tantangan. Kita justru lupa menguatkan diri untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. 

Dan bahkan, ada kejadian, beberapa ingin menikah karena ingin lari dari kehidupan dia sebelumnya, membayangkan bahwa dengan menikah akan menyelesaikan semua persoalan hidup, padahal…nggak juga. wk ;p

Dan tantangan yang pertama saya hadapi adalah : Adaptasi.

Di awal menikah, tantangannya adalah lebih-lebih soal adaptasi dan berkompromi. Karena ada peran, tanggungjawab, dan hak baru yang harus dijalani. 

Adalah saya yang nggak pernah ngerjain pekerjaan rumah sebegitunya, setelah menikah jadi harus melakukannya sehari-hari mulai nyapu, ngepel, masak. nyetrika. Saya yang hobi kelayapan, main sama temen-temen, setelah menikah jadi harus sadar bahwa ada kewajiban yang lain yang nggak bisa saya tinggal begitu aja. Saya yang biasanya kalau lapar tinggal merajuk sama Umi, sekarang saya harus siapkan sendiri, masak sendiri, bahkan memikirkan suami saya kepengen dimasakin apa, sukanya apa, yang mungkin kejadiannya selera makan kita dan suami jauh berbeda. Saya yang rencana kehidupan mau begini, begini, jadi harus dikompromikan. Saya yang dulunya dekat sekali dengan orangtua dan adik-adik, tiba-tiba udah nggak tinggal bareng sama mereka. Sekarang udah nggak nangis-nangis lagi karena kangen sama Umi sama Abah dooong. Dasar bocah. wkwkwk. Maklum, saya nggak pernah rantau sebelumnya. Ngga diizinin lebih dari tiga minggu pergi dari rumah wkwk. 

Selain beradaptasi dengan status yang berubah menjadi istri, saya juga harus beradaptasi dengan pasangan. Karena karakter kami jauh berbeda, pola asuh juga berbeda, jadi harus banyak-banyak legawanya. Harus banyak pengertian dan pemahaman satu sama lain. Harus belajar komunikasi yang baik. Belajar untuk meredam dan mengelola emosi (lain kali di postingan yang lain saya mau bagi tips dari guru saya). 

Adaptasi selanjutnya adalah dengan tempat tinggal baru. Setelah menikah, saya tinggal di kota yang bukan tempat saya berproses selama ini. Bukan tempat saya sekolah, bukan tempat kuliah, bukan tempat membangun jaringan, bukan tempat saya bekerja. Dan yaaah…saya di bawa keluar dari zona nyaman. Malang nyaman, sangat nyaman. Semua sumberdaya yang saya punya untuk mendevelop diri sendiri maupun orang banyak tersedia disana. Tiba-tiba harus pindah ke Jogja. Dan membangun semuanya dari awal. Pertemanan, kerjaan, lifeplan, mimpi-mimpi. 

Awalnya, saya stress bukan main. Sedih. Seringkali nggak tahu harus ngapain. Makin hari makin panik. Masak gagal terus, suami sakit, belum lagi kalau lagi mager dan rumah belum rapi. Saya pengen main, tapi belum tau mau main sama siapa. Saya mau aktif di kegiatan-kegiatan sosial seperti dulu, tapi juga jaringannya belum ada. Kondisinya juga lagi nggak memungkinkan karena jadwal saya sebagai istri masih belum tertata rapi. 

Dan belum pernah ada yang segigih Mas untuk membuat saya baik-baik saja dari sebelumnya. Yang mencari cara agar saya lekas terbiasa di situasi ini. Mas gigih sekali memotivasi saya cari kegiatan, ngenalin saya sama temen-temennya, ngasih saya PR biar saya belajar, mengapresiasi jerih saya, bantuin pekerjaan rumah, kalau saya ketiduran dikit, rumah udah beres aja. Huhuuuuu makasih suamikuuu. 

Kok saya nggak segigih Mas? Bahkan ini buat diri saya sendiri?

Akhirnya saya ada di titik bahwa saya nggak bisa cuma duduk diam dan meratapi. Harus lebih gigih lagi berusaha beradaptasi!

Adaptasi terus berjalan. Saya masih harus belajar setiap harinya. Akan banyak hal-hal baru yang ditemui. Dan semuanya memang butuh proses. Proses untuk menerima. Proses untuk lebih banyak sabar dan bersyukurnya. Proses untuk memotivasi diri sendiri. Proses untuk lebih kuat lagi. 

Ini curhatan kok nggak ada konklusinya. WKWKWK. Gapapa. Jadi maksudnya tuh saya nulis biar ada bayangan gitu buat yang belum menikah, semoga terus membekali diri dan mulai memikirkan tantangan-tantangan menikah (meskipun tantangannya juga banyak yang di luar perkiraan) HAHA. Jangan ingin menikah dengan mindset bahwa dengan menikah bisa menyelesaikan persoalan dan semua masalah. Nggak. Justru harus lebih kuat karena ada masalah-masalah baru yang harus dihadapi. 

Setiap pasangan pasti dicoba dengan masalah yang berbeda-beda, tapi bobotnya sama. Karena semua sudah sesuai porsinya. Mungkin yang lain tantangannya LDRan, ada juga yang harus sambil kerja, yang lain mungkin dicoba dengan kehidupan bersama mertua, dan banyak lagi. Jadi memang jangan dibanding-bandingkan kehidupan pernikahan kita dengan orang lain. Allah adil kok dalam menempatkan hambaNya di masing-masing keadaan. 

Buat yang baru nikah kaya saya, semangat untuk terus beradaptasi dan menjalani sebaik-baik peran. Karena setiap peran pasti punya makna.  

Semangat! Terimalah keadaan, banyak-banyak bersyukur, tetap berikhtiar dan tawakkal. Semoga cerita saya bisa jadi pelajaran :)

Purworejo, 2 Februari 2017.

Persoalan Mimpi dan Pendidikan

Kadang - kadang ada yang salah dengan cara kita menanggapi mimpi anak - anak muda. Hanya karena kurang berprestasi di bidang akademik, lalu diremehkan ketika dia memilih kampus favorit, alih2 memotivasi dan ‘menggembleng’. Seakan - akan si murid bercita - cita sekolah di Hogwarts bareng Harry Potter.

Ini bukan hanya perkara seorang anak ingin kuliah di mana. Ini adalah perkara pilihan hidup dan cita - cita. Cerita yang saya tuliskan tentang pilihan universitas hanyalah sebagai contoh saja. 

Hari ini membaca status @veramuna  (kalo ga salah?) yang isinya kira2 minta saran kepada gurunya ketika dulu dia ingin masuk ITB pake beasiswa. Si guru berkata, “ITB itu untuk anak - anak terbaik, dan kamu bukan yang terbaik.” Hasyem,masalah lu apa sih Pak?

Dan dia kemudian lulus dari FTTM ITB dengan beasiswa Bidikmisi. Huahahahaha, dia yang lulus, tapi gw yang happy. Belakangan si guru nanya - nanya ke dia karena anaknya mau masuk ITB.

Saya teringat pengalaman ketika bermaksud mengikuti tes UGM dan oleh guru BK ditakut - takuti dengan “Jogja itu jauh, UGM itu sulit masuknya, kamu ga ada sodara.” Ya elah lebay Bu, Jogja cm 5 jam dari kampung. Gw drop dan cancel pendaftaran ke UGM, menyesal sih memutuskan sesuatu hanya karena omongan orang, sungguh ga dewasa. Lalu tahun depannya gw masuk ITB yang jaraknya 15 jam dari kampung.

Itu juga pernah ada guru yang menunjukkan 'wajah kurang enak’ ketika tahu gw masuk jurusan desain, bukan teknik yang menurut dia lebih keren. Saya masih ingat dia berkata, “desain kan di sini juga banyak.” Lalu segera memalingkan mukanya, padahal sebelumnya excited banget denger kata ITB.

Duh, saya bukan seorang guru. Saya juga tidak bercita - cita menjadi guru. Tapi dulu, ketika saya ketrima di Indonesia Mengajar (walaupun tidak jadi berangkat karena sakit), saya belajar satu hal penting dari Indonesia Mengajar. Bahwa guru seharusnya menginspirasi agar murid - muridnya mau dan memampukan diri untuk bermimpi tinggi, di bidang apapun. And they did it di pelosok!! Bukan cuma kasih ilmu, tapi juga kasih inspirasi untuk anak - anak sederhana itu bahwa mereka bisa jadi hebat!

Tentu saja kemungkinan gagal itu besar, tapi bukan itu persoalan utamanya. Membiarkan mereka mencoba, berjuang, berusaha, memampukan diri, belajar, itu lebih penting. Jika kemudian gagal, saya yakin, mereka sudah akan belajar banyak hal dari kegagalan itu.

Jika mimpi sesederhana kuliah di universitas favorit saja dianggap mustahil hanya karena dia bukan juara kelas, lalu kita mau membentuk mental pemuda - pemuda Indonesia yang seperti apa? Alih - alih realistis, mereka akan tumbuh menjadi manusia yang pesimis, yang rendah diri, takut mencoba, dan takut gagal.

Saya bayangin dulu ketika jaman penjajahan para pemuda pake bambu runcing mau melawan Belanda, lalu pemimpinnya berkata, “Belanda itu kuat, punya senjata canggih, udah kamu nanam padi aja.”

*Tentu saja ga semua guru kayak gitu, saya juga punya banyak guru yang memotivasi dan mendorong murid-muridnya untuk terus maju. Yang sudah tahu muridnya terbelakang tapi masih berusaha agar muridnya 'bisa’.

Memesona itu Berani Bermimpi Tanpa Batas

Saya selalu terpesona dengan orang-orang yang tahu apa yang di-mau, melihat mereka yang berhasil berdiri dengan tegaknya di atas mimpi sendiri. Sungguh suatu hadiah diri paling luar biasa atas keringat dan air mata yang jatuh di setiap langkah menuju ke sana. 

Wanita pertama yang membuat saya langsung jatuh hati dan terinspirasi adalah @perempuanthicka. #Memesonaitu melihatnya bercerita bagaimana pekerjaannya sebagai penulis tentang kopi membawanya terbang ke mana saja. #Memesonaitu kilatan bahagia yang terlihat jelas di matanya, membuat saya percaya, bekerja sesuai dengan passion tak hanya akan membuat dompet mengembang, semangat dalam jiwa pun akan terus kenyang.

Tidak Ada Kata Terlambat

Dari kecil, kita sudah biasa ditanya tentang cita-cita. Dokter, pramugari, polisi dan banyak profesi keren yang lainnya. Namun, dengan bertambahnya usia, passion akan membawa kita ke tempat yang diinginkan. Kamu mungkin akan tersesat lebih dulu dengan salah jurusan atau pekerjaan yang hanya membuatmu mengutuk di setiap pagi. Tak pernah ada kata terlambat untuk berganti haluan, mengejar mimpi yang selama ini pura-pura kamu ikhlaskan. Di usia menjelang 30 tahun, saya masih terkungkung di rumah. Bekerja seadanya. Lowongan kerja kantoran bahkan meminta usia di bawah 26 tahun, bukan? Hobi menulis pun cuma jadi ajang curhat di blog. Sampai akhirnya tawaran bekerja sebagai content writer datang. Saya yang seorang Sarjana Teknik Pertanian, dengan tulisan acak adul yang mostly cuma puisi ala-ala? Serius? Tentu saja saya ambil! Apa sih yang tak bisa dipelajari? 

Keliling Diri dengan Vibe Positive

Bertemanlah dengan orang-orang yang punya energi positif. Mereka akan menulari kita dengan pikiran-pikiran optimis. Bagaimana mereka tetap semangat menghadapi hidup yang kadang kejam, atau tentang taktik menjauhkan diri dari penyakit hati. Belajar mendengarkan juga perlu. Karena setiap menyediakan telinga untuk mendengar, ada ilmu baru untuk dipelajari. Dari seorang teman, Titasya, saya belajar bahwa apapun bisa diraih asal terus berusaha. Sahabat yang juga bos saya ini mengajarkan bahwa penting untuk terus berkembang. Dari kawan lainnya, @tetavaganza saya belajar, bahwa terus berpositive thinking baik untuk kesehatan jiwa. Teman akrab ini juga membuat saya sadar, berbagi tidak akan pernah membuatmu kekurangan.

Berani Mendobrak Keluar dari Zona Nyaman

Keluar dari zona nyaman dan aman yang hangat memang sedikit menakutkan. Ratusan ‘bagaimana jika’ menghantui kepala dan memberati kaki untuk melangkah. Namun, kita tak tahu harta karun apa yang ada di luar kalau melangkah keluar saja tak berani. Ingat pepatah yang mengatakan, ‘Jangan mengharapkan hasil berbeda kalau masih melakukan usaha yang sama’, kan? Pertama kali menulis artikel, saya dapat tugas untuk membuat berita artis. Butuh waktu satu tahun bagi saya hingga akhirnya bisa menciptakan artikel yang enak dibaca dan paham bagaimana memilih tema yang menarik. Lalu, tawaran lain muncul. Bagaimana kalau menulis bidang baru? Traveling, misalnya? Sedikit menakutkan, memang. Tahu apa saya tentang traveling? Jalan-jalan juga paling jauh ke Jogja. Mendaki gunung pun belum pernah. Namun, sekali lagi saya tertantang menaklukkan bidang baru ini. Dan lagi, apa sih yang tak bisa dipelajari?

Tidak Berhenti Belajar

Berteman dengan berbagai macam orang dengan watak yang bervariasi, mau tak mau membuat saya banyak belajar tentang hal asing. Buat saya, hidup adalah sekolah sepanjang masa. Tempat di mana saya memberi makan otak dan hati dengan hal-hal baru setiap harinya, selama masih bernapas. Ilmu pun juga begitu. Saya memang sudah menyelesaikan pendidikan resmi, namun pelajaran hidup tak akan ada habisnya. Salah satu yang akhirnya saya pahami adalah ketika mengerjakan sesuatu sesuai passion, rasa haus akan ilmu di bidang tersebut tidak akan hilang. Contohnya, karena menulis tentang jalan-jalan, saya jadi semangat belajar memotret, bikin video pendek tapi informatif dan tetap seru. This is so much fun.

Bermimpi Tanpa Batas

Tak ada batasan untuk bermimpi. Kecintaan saya pada kopi pernah membuat saya bercita-cita untuk memiliki sebuah coffee shop agar tak perlu lagi membayar mahal untuk setiap gelas minuman surgawi yang saya minum. Kini, impian saya makin tinggi. Dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, saya ingin menikmati kopi di kafe sendiri yang tak jauh dari rumah, menulis buku ke 2 atau ke 3 untuk diterbitkan, dengan anak-anak yang bisa mengganggu saya kapan saja. #Memesonaitu ketika kamu berani bermimpi tanpa batas.

Tetap Menginjak Bumi

Manusia bisa berubah karena harta dan derajat. Sombong nggak sih kalau belum apa-apa saya sudah khawatir tentang ini? Menurut saya, penting untuk mewanti-wanti diri agar tidak keblinger dan untuk terus membumi sejak dini. Saya ingat pesan sahabat lainnya, sekaya-kayanya manusia adalah ia yang bisa bermanfaat bagi orang lain. 

Jangan takut untuk bermimpi. Kalau terlalu menyeramkan berjalan sendiri, ajak saja teman yang punya passion sama. Pancarkan pesonamu dengan semangat menggapai impian!

Berani?

Rapuh.

Judulnya dah galau ala orang yang lagi bertepuk sebelah tangan belum? Kayak siapa? Kayak kamu bukan? Wkwkwk

Dulu, Ibuk pernah berpesan satu kali, “Dek, kalau ada waktu luang, sempatkanlah datang ke pengajian.”
Aku jawab sekenanya “Iya…”

Padahal dalam hati, ngapain ke kajian. Yang ke pengajian itu kan ibu-ibu rumah tangga. Nanti ajalah, kalau udah jadi ibu-ibu.

Mbak No, setelah nikah, pernah aku tanya, “Lagi apa kau?”
“Lagi di pengajian” katanya.

Aku sempet mikir, orang-orang yang ke pengajian itu orang-orang yang ga asik. Buat yang kerudungnya gede-gede doang. Buat yang udah gamisan. Yang udah jadi ibu-ibu. Berat. Kalau masih muda sih gausahlah ya.
Apalagi pernah ada pengalaman dikasih tahu sesuatu “Itu kan haram!” dengan nada yang agak tinggi oleh seseorang yang cara berpakaiannya punya ilmu agama yang cukup baik. Aku jadi takut dan malah makin menjauh.

Tapi ternyata Allah menjebak hambaNya yang ngeyel ini ke satu pengajian. Rutin pula.

Berawal dari iseng dan buat ngisi waktu, aku dapet broadcast tentang kajian rutin. Akhirnya aku datang, sendirian. Kajian itu bakal diadakan rutin tiap Sabtu. Errr…nama kelompok kajiannya AISHAH. Akademi Ibunda dan Istri Shalihah. Jadi isi kajiannya tentang seputar rumah tangga gitu deh. Hehe. Iseng.

Karena namanya Istri dan Ibunda, kebanyakan yang datang adalah yang sudah berkeluarga. Cuma ada empat yang belum menikah, salah satunya aku. Dan ternyata mereka butuh panitia. Jadilah yang hadir hari itu, yang belum menikah diminta menjadi pengurus kajian. Errr…aku…mau ga mau ikutan.

Nah, bener sih, temenku yang jadi pengurus lainnya ukhti-ukhti gitu, ada yang pakai niqab juga bahkan. Tapi ternyata mereka asyique semua tuh anaknya. Dan aku, merasa dirangkul sekali oleh mereka. Mereka pastikan aku merasa bahwa “kita sama-sama belajar”, padahal ilmu agama mereka jauuuuuuh diatasku.

Tapi aku masih “rapuh”. Niat awalku kan karena iseng, ngisi waktu, dapet temen baru, dan itu semua aku dapat, tapi ilmunya engga wakaka duh, jangan ditirulah yang kayak aku ini.

Akhirnya niat aku perbarui. Datang ke kajian, untuk cari ilmunya.

Tapi aku masih “rapuh”. Satu persatu teman yang biasanya ngajak aku ke pengajian pindah ke luar Jogja. Aku sendirian.

Yaudah, gapapa, aku mulai ajak beberapa temanku yang lain. Kata mereka, “Nanti aku denger dari kamu ajalah.”
Atau ketika aku mencari teman untuk belajar tahsin, ada yang bilang, “Ngapain? Allah tu maklum kalik. Kan kita bukan orang Arab, jadi gapapa kalau kita baca Quran ga bener-bener amat. Dah dapet pahalanya juga.”

Dan aku yang “rapuh” ini cuma bisa diam.

Yaudah, gapapa. Buat aku dulu aja.

Tapi ternyata “sendirian” terasa lebih berat. Aku masih terlalu “rapuh” sehingga masih memikirkan apa yang orang lain katakan.

Pernah suatu saat, aku bilang sama Mbak No. Kan kalau kita melakukan sesuatu yang kita gak tau kalau itu gak boleh gapapa (Duh sumpah ini alesan orang males.) Kata Mbak No, “Kau mau dak tau terus? Kalau kau mau dak tau terus ya dakpapa. Gitu aja terus.”

Teringat lagi apa kata Hana Adha, “Nun, Allah tu baik kali sama kita. Semua dikasih loh ke kita. Tapi kita ni kadang cuma melakukan ibadah yang diiming-imingi aja. Masa belajar aja kita dak mau Nun? Padahal semua bisa dipelajari.”

Tapi ternyata orang “rapuh” kayak aku masih terus butuh teman yang mengingatkan. Dengan lembut. Karena rawan malah akan berbalik arah, apalagi kalau dikit-dikit dibilang haram. Ini itu haram. Kan yang tadinya mau belajar jadi merasa “ah ga asyique ah”. Boleh kan pelan-pelan? Jadi, kalian yang punya cukup ilmu untuk dibagikan, bagikanlah dengan lembut. Sesungguhnya orang-orang kayak aku ini ingin sekali belajar. Tapi terlalu takut dan malu. Malu dicemeeh “ciyeeeeehh hijraaaaahhhhh” seakan-akan belajar agama menjadi hal yang terlalu “eksklusif” membuat orang membuat batas sendiri.

Btw, aku salut sekali sama pemuda pemudi yang “nongkrong"nya di masjid. Salut sama orang yang segala perbuatan dan perilakunya "karena Allah”. Doakan aku menyusul.

toteczious  asked:

Tell us the mythical game about passing "Pohon Kembar" in Yogyakarta while eyes are blindfolded.

(picture from merdeka.com)

Legenda Beringin Kembar

In Yogyakarta, there are two (twin) Banyan trees located in Alun-Alun Kidul (Kidul Square) with an interesting backstory.

“Masangin” is a ‘game’ where a person would walk through the space between the two trees while they’re blindfolded. This act dated back to the olden times, and now travellers are always enthusiastic to try it out.

Legend tells that, the two trees have a mystical power to repel enemies and those without a good heart. One belief tells that if an enemy passes through the trees, all their strength will dissipate. Another belief tells of a story about Sri Sultan Hamengkubuwono I’s daughter, who ordered that all men who wished to wed her were to walk between the trees with their eyes closed. Only one man managed to complete the task, and it was said that it’s because he had a pure heart.

Another said that these trees were strongly connected to Segoro Kidul, the Southern Sea (Indian Ocean), and Nyi Roro Kidul (deity that rules over said sea). This was because a rumour spread around, saying that the two trees were gateways to the Southern Sea.

Mengintip Masa Lalu.

“Apa kabarnya sekarang ya?” adalah bisikan syaiton paling menggoda.
Akhirnya, di Minggu pagi yang cerah ini iseng ngetik nama yang udah lama banget ga muncul di pikiran. Sampai lupa ID Line nya apa bahkan.

Dan yang tersebut setelah melihat foto profilenya adalah… “Alhamdulillah.”

Karena fotonya…sudah berdua, pakai jas profesi yang sama.

Ah. Baiklah.

*nyerutup kopi*

Pasti ada satu orang di masa lalu, yang akan selalu berakhir dengan tanda tanya di hidup kita. Seseorang yang sempat kita “simpan” untuk nanti di masa depan, ketika kita rasa sudah waktunya. Tapi ternyata masa depan yang tak terasa sudah menjadi “saat ini”, tidak seperti apa yang kita bayangkan.

Sebut saja namanya Joni.
Joni adalah bagian dari perjuangan tahun akhir perkuliahan. Menjadi teman adalah satu-satunya pilihan, karena pacaran bukan hal yang dapat memastikan kita akan menjadi lebih baik di masa depan.
Sebagai senior yang menawarkan diri membantu juniornya untuk melewati masa-masa menyenangkan yang kita sebut skripsi, ternyata menjadi jalan bertukar cerita yang lain.

Oh, dan kamu, yang merasa lelaki itu “seksi” ketika punya badan bagus dan wajah mulus tanpa pori-pori, kamu harus lihat bagaimana mata seseorang yang menggebu-gebu menceritakan cita-citanya, rencananya menyusun masa depan.
Tahu kan, ketika orang dihadapan kita bercerita tentang sesuatu dengan semangat, terus kita jadi ikutan semangat, dan berharap ikut terlibat di dalamnya. Eh, kok ngelunjak. Wkwk

Joni menceritakan rencana rapinya tentang masa depan. Kenapa dia melalukan ini sekarang, apa yang akan dia lakukan di masa mendatang, dan banyak lagi.
Hana was being Hana at that time, mendengarkan dengan seksama tanpa sadar sambil tersenyum lebar, dalam hati merasa…minder.

Singkat cerita, Joni harus keluar kota, melanjutkan bagian dari studinya. Jarak sangat membantu untuk mengalihkan pikiran dan perasaan. Ya kan?

Joni selalu menjadi teman lama yang namanya hadir sekali setahun di layar handphone, saat lebaran. Selebihnya, teman yang selalu dalam pantauan, yang lama kelamaan menghilang.

Tapi Jogja selalu menjadi tempat pulang untuk siapapun.
Joni kembali dua tahun yang lalu, “Aku bakal di Jogja loh, mulai tahun ini sampai lima tahun mendatang.”
Dan Jogja tidak sesempit yang kalian kira, Tuhan tidak menuliskan skenario “kebetulan” sehingga aku dan Joni berpapasan di jalan. Dan Tuhan tidak menggerakkan hati hambaNya untuk saling bertukar sapa di dunia maya kemudian mengatur rencana untuk ketemuan.

Joni adalah bagian manis dari tahun terakhir perkuliahan.
Joni adalah sepotong kisah romantis, yang datang dan pergi tanpa permisi.
Kisah yang kita bingung mulainya dari mana, dan lupa berakhirnya seperti apa.

Joni hadir seperti kopi hangat yang wanginya menggoda sampai kita merasa tidak perlu tahu rasanya.
Joni pergi seperti segelas bekas kopi tubruk, sebagian hilang, sebagian tertinggal.

Makhluk Penuh Ketabahan

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh

Perihal begitu dominannya mereka menggunakan sisi perasaan, membuat mereka memiliki kemampuan merasa tahu segalanya. Meski tak juga mengenyampingkan logika, mungkin itulah yang membuat mereka melihat bahwa lelaki itu selalu penuh dengan kekeliruan.

Pada banyak hal, kita sangat sering menemukan perempuan menggunakan perasaannya. Ketika melihat mereka marah, menangis, bahkan diam tanpa berkata-kata sekalipun, sesungguhnya perasaan mereka saat itu berputar begitu teratur. Saat-saat seperti itu otak mereka begitu terampil menciptakan banyak prasangka-prasangka.

Mungkin, dari sana mengapa perempuan itu selalu merasa tahu. Di hadapan lelaki, hanya dengan melihat matanya, tingkahnya, ucapannya, bahkan cara menulisnya, perasaan mereka sanggup menembus tiap celah di pikiran para lelaki. Maka mereka akan selalu tahu apa yang sedang berubah dan telah berbeda dari lelaki di hadapannya. Tidak cukup itu, prasangka mereka terkadang bahkan melampaui sebuah kesalahan, hingga tercipta melankolis dalam kepala mereka sendiri, kemudian menjatuhkan sendirinya bulir-bulir air mata, berurai membasahi pipi mereka yang menggemaskan. Menyebalkan, memang.

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh.

Meski apa yang mereka rasakan tidak sepenuhnya apa yang mereka rasa benar dan walau sering salah dalam menebak, hati perempuan selalu tahu hal-hal yang telah berbeda dari biasanya. Maka dari situ juga prasangka itu lahir penuh dengan drama.

Tentang prasangka yang tak baik dalam rasa sakit, kecewa, pengabaian, atau perihal selalu merasa tahu segalanya. Dalam hati mereka yang paling tulus, dalam pikiran bawah sadar mereka, sesungguhnya menyimpan percaya yang begitu besar. Hingga seringkali bibir mereka berucap hal yang tak sama dengan isi hati mereka.

Dan saat nanti mereka tetap berdiri di sisimu, meski beribu kali mengaduh dan keluh yang dituturkan tentangmu. Maka saat itulah, mereka hanya ingin mencuri separuh perhatianmu, darinya mereka percaya sepenuhnya.

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh.

Padahal, kalau kita sanggup memahaminya sedikit saja, indahnya begitu anggun yang tersemat pada diri mereka sejak pertama kita menatap matanya.

Bersyukur mereka yang terlahir sebagai perempuan, sebab kehidupan nanti bukan hanya tentang diri mereka sendiri. Namun, seberapa besar arti mereka bagi kehidupan. Mungkin itulah yang membuat mereka selalu ingin memberi yang terbaik pada hidup lelaki yang ingin mereka genapi.

Nyatanya, perempuan memang makhluk yang aneh.

Namun, meski aneh dan menyebalkan, mereka tetap saja pantas untuk mendapatkan pelukan terhangat saat mereka membutuhkannya. Sebab di balik kesederhanaannya, ternyata masih begitu banyak perasaan-perasaan yang harus dijaga oleh lelaki.

Dan seluruh keanehan-keanehan yang pernah terlontar pada diri mereka, tidak akan pernah ada tandingannya dibanding ketabahan pada tiap-tiap air matanya yang mengandung do'a.

Ialah perempuan, makhluk Tuhan penuh ketabahan.

Dalam perjalanan pulang ke Jogja, 31 Januari 2017 | Seto Wibowo

Hari ini hari yang banyak dibicarakan di indonesia sebagai harinya emansipasi dan kemandirian wanita. Dihari ini saya akan bercerita tentang dua temen saya, kebetualan keduanya anak tumblr (dulu, sekarang sudah tidak aktif) kami pernah bermain bersama di komunitas tumblr jogja (yang sekarang juga udah ga jelas). Kedunya kuliah di universitas -kalau tidak salah jurusan- yang sama. Tapi kemudian bahagia dengan keputusannya masing-masing, keputusan yang dirinya buat secara independen sebagai perempuan.

Yang pertama selepas lulus dan jadi dokter kemudian melilih langsung menikah dan kini tinggal di belantara ibu kota. Kehidupan keluarganya makin lengkap dengan kehadiran putri mungilnya. Setiap hari kehidupannya adalah perjalanan si kecil yang dia rawat, kebanggan yang setiap hati di ceritakan, keceriaan yang mengisi hari-harinya. Keputusannya untuk menikah dan memiliki anak membawa jalan kebahagiaan baginya.

Yang kedua, perempuan ini memilih melanjutkan studi selepas wisuda. Menunda kisah cinta dan pernikahannya. Melanglang buana keliling dunia, studi lanjutan dengan sistem barat di universitas ternama dunia. Hari ini iya merayakan kelulusan studinya dengan wajah ceria ditemani toga diantara bangunan klasik eropa yang jadi ciri kampus dimana dia belajar.

Tidak ada yang salah atas keputusan keduanya, hidup selalu mebawa jalannya masing-masing. kedunya bahagia dan berhasil sebagai diri mereka atas keputusan yang mereka pilih.

Jadi, para wanita siapapun kamu, apapun keputusanmu, kamu berhak memilih masadepanmu, dengan caramu, dengan tanggungjawab yang penuh. Karena keputusan apapun yang kamu ambil dengan keyakinan akan berujung kebahagiaan.

Jadilah wanita yang tumbuh atas keputusan dan kesungguhan yang penuh.

Selamat hari kartini.

Suatu kontradiksi menenangkan

Jika aku mengatakan bahwa apabila engkau menolakku dan aku tidak sedih tentu itu suatu kebohongan
Namun jika aku berucap bahwa aku tak bahagia dengan kemungkinan pilihanmu yang tak sesuai harapanku
Ini adalah dusta yang lain

Pada akhirnya apapun alasan yang ada dalam benakmu untuk memilih ya maupun tidak
Adalah hikmah-hikmah dari Tuhan bagi kita yang menanti di setiap pintu takdir

Bagiku misterinya ada pada dua sisi subjektivitas
Aku hanya dapat menangkap sebagian horizon pemahamanmu yang kutangkap melalui gesture ataupun kata-kata minimal darimu
Aku juga tak terlalu paham dengan keseluruhan kontradiksi perasaanku kepadamu selama ini

Mencintaimu terlalu dalam adalah ketakutanku sejak beberapa tahun silam
Memandangmu sepersekian detik melemparku ke dalam hipotesis di balik tatapan itu
Aku melihat suatu ketenangan jiwa, kebaikan yang polos dan ketulusan iman di belakangnya
Kemudian percakapan dengan kawan-kawan dekatmu dan kawan-kawan dekatku hanya menambah biasku di awal
Ya, kau bahkan jauh lebih baik dari ekspektasiku sendiri

Maka melalui tulisan-tulisan, simbol-simbol, metafora-metafora aku mencoba mendeskripsikan keseluruhan kerinduanku yang membingungkan
Sebab melalui engkaulah pertama kali, kontradiksi tidak membuatku gelisah

Aku kini dapat mengakuinya dengan terus terang
Aku mencintaimu, aku benar-benar menyukaimu
Dan aku berharap satu hal saja
“Jalani hidupmu dengan kebahagiaan”,
Sebab kau telah memberi pelajaran banyak bagi orang-orang di sekitarmu

“Jangan lupa bahagia”, begitu kata kawan kita
Semoga engkau menemukan kebahagiaanmu
Sebab firasatku mengatakan, kau akan melakukan kerja-kerja besar untuk umat dan kemanusiaan
Bersama yang namanya telah dituliskanNya sejak kita adalah ketiadaan

Jogja, di perpustakaan yang tak lain adalah pelarianku darimu. 25032017

Hana di Bandung.

“Nun, aku mau ke Bandung. Jemput bisa Nun?”
“Bisalah…”
“Nginap sana juga ya Nun.”
“Siaap…”
“Nun, bawa aku ke kajian ust. Hanan ya Nun.”
“Oke.”
“Nun, pinjam baju. Hahaha”

(Nun, dari kata Hanun. Sama-sama manggil gitu, entah kenapa.)

Perjalanan tanpa rencana yang matang bisa jadi perjalanan yang berkesan.

Berawal dari satu kelas di tahun pertama sekolah menengah atas, kami lanjutkan komunikasi hingga saat ini. Berawal dari minta ajarin matematika hingga sampai ilmu agama. Hana Adha selalu jadi teman yang bisa diandalkan.

Errrr ada dua kemungkinan sih. Hana memang teman yang baik atau aku yang gak tahu diri. Wkwkwk. Tapi Hana senang tuh aku repotin. Hehe.

Lebaran tahun lalu Hana bilang pengen ke Jogokariyan. Ke masjidnya ust. Salim A Fillah. Ustadz yang kata-katanya bikin meleleh itu. Ustadz yang mengumpamakan senyum istrinya bagai sepotong surga tersiram madu. Ustadz yang mengingatkan kita untuk meneladani Matahari yang mencintai Bumi, tapi mendekat pada Bumi justru membinasakannya. Eh, belum sempat menyambut Hana di Jogja, malah disambut oleh Hana di Bandung. Wkwk.

Hana dari TK sampai SMP sekolah di sekolah islam gitu. Jadi dari jaman piyik udah kerudungan. Yaaaa menurutku ilmu agamanya udah jauh banget diatasku. Tapi masih aja ngerasa kurang. Eh, harusnya emang gitu ya.

Sebagai seseorang yang fakir ilmu dan niat belajarnya masih harus terus diperbarui karena kadang hilang di tengah jalan, melihat Hana yang semangat belajarnya membara bikin aku cemburu.

Bahkan Hana yang baca Al-Qurannya begitu lancar masih berburu guru tahsin.
Kata Hana, umur kita ni kan nanti bakal dipertanggungjawabkan. Selama ini kita hidup masa dak dipakai buat belajar. Sedangkan bahasa Arab dan membaca quran dengan baik dan benar itu semua bisa dipelajari. Kalau kita bisa belajar bahasa inggris berarti kita juga bisa belajar bahasa arab.

Hana bilang, Allah tu baik kali. Semua Allah kasih. Tapi sayangnya kita masih terbiasa dengan ibadah yang diiming-imingi. Padahal Allah baik kali loh sama kita.
Pernah suatu saat Hana dak terbangun pas tahajud, kebangunnya pas adzan subuh. Hana sedih kali. Hana ngerasa ada yang salah sama dirinya sampai-sampai Allah dak bangunkan dia pas tahajud. Tapi Allah baik kali, masih bangunin Hana pas adzan subuh, dak terlewat subuhnya. Hana merasa rugi kalau Senin dan Kamisnya berlalu begitu saja tanpa puasa. Dan Hana selalu sempatkan dhuha lebih dari dua rakaatnya.

Hana kenalkan Bandung sebagai kota yang tenang. Kota yang gemerlap lampu masjidnya. Hehe. Kata Hana, “Disini ni Nun, masjid tu tempat yang keren gitu Nun. Banyak anak mudanya. Anak muda disini tu nongkrongnya di masjid Nun.”

Jadilah aku diajak ke Masjid Salman, Masjid Raya Bandung, Daarut Tauhid, dan tentunya Masjid Trans Studio Bandung wkwk. Oh! Belum Al-Lathiif ya??? Yodah ntar sana lagi. Belum foto di depan gedung sate jugak pun. Wkwk

Duh, Bandung, sudah boleh rindu belum?

Writing’s Journey #1 - Sekelumit Kisah Sebatas Mimpi

Hai teman-teman semuanya! Selamat berjumpa di edisi perdana Writing’s Journey. Sesuai janji, hari ini aku mau sedikit cerita-cerita tentang pengalaman menulis. Agak bingung sih mau mulai darimana saking banyaknya yang ada di kepala. Tapi, mari diurai sedikit demi sedikit.

Pertanyaan pertama yang sering banget diajuin ketika temen-temen mulai tau kalo aku sudah punya buku “Sebatas Mimpi” yang nangkring di rak Gramedia adalah, “gimana caranya bisa tembus ke penerbit major atau GagasMedia?” dan satu-satunya jawaban yang aku bisa utarakan hanya, “aku ditemukan oleh editornya—yang sekarang jadi editor+teman kesayangan—karena konsisten nulis di Tumblr ini”

Ditemukan? Yaps, aku memang ditemukan dan dichat duluan oleh Kak Ry (editor GagasMedia). Hal pertama yang aku rasain pas itu tuh super duper excited, mau nangis bahagia sekaligus dilemma takut-takut kalo itu boongan *enggalebaytapibenerandeg-degan*. Inget banget waktu itu doi perkenalan nama dan ngasih tau kalo doi dari penerbit GagasMedia. Trus doi bilang, “sudah pernah nerbitin buku? Aku mau ngajak kamu nulis di GagasMedia.”

Selama beberapa menit aku cuma ngeread doang saking gataunya harus bereaksi apa. Karena gamau diboongin dengan percaya gitu aja *astagfirullahmaafkankesuudzonanku* akhirnya aku stalking buat nyari tau ini beneran engga sih? Asli orang GagasMedia engga sih? Karena yang aku tau mereka tuh salah satu penerbit yang udah punya nama di Indonesia, secara ya teenlit bahkan novelnya aku sering banget bacain pas SMP, dan mereka teh ngehubungin aku? Da aku mah siapa sih, masa iya ujug-ujug mereka nawarin aku nulis.

Sampe kemudian aku nemu twitternya dan langsung ngeadd line officialnya Kak Ry, lalu aku menemukan dia pernah nulis tentang Ditawari Editor untuk Bikin Buku. Kubaca tulisan itu sampe akhir dan merasa yakin bahwa ini bukan tipu-tipu. Kemudian pembicaraan berlanjutlah dengan konsep dan outline (ini akan aku bahas di sesi lainnya ya hehe).

Setelah aku cerita kayak gitu, mungkin saja muncul pernyataan dan pertanyaan, “enak banget bisa kayak gitu! Caranya gimana kak?”

Aku pribadi percaya, setiap tulisan akan menemukan pembaca dan jalannya masing-masing, tapi yang pasti untuk menjadi seseorang yang pada akhirnya bisa menerbitkan buku yang diperlukan itu adalah konsisten. Yak, konsisten untuk terus menulis!

Mungkin banyak yang mengira aku enak banget bisa ditawarin nulis gitu aja, engga perlu susah-susah untuk nunggu 1-3 bulan yang belum tentu naskahnya diterima. Wajar, komentar yang sudah lumrah akan timbul di masyarakat kita zaman sekarang. Mungkin, teman-teman yang berkomentar gitu lupa untuk melihat prosesnya. Seringkali kita memang lebih suka melihat hasil tanpa mengetahui prosesnya.

Percaya atau tidak, aku butuh waktu kurang lebih 9 tahun hingga akhirnya bisa menerbitkan buku. Yak, 9 tahun kalo punya anak udah kelas berapa tuh? Hmmm engga kode kok engga, hehe. Aku sudah suka sekali membaca dari SD (anaknya doyan minjem buku di perpustakaan tapi lupa dibalikin) dan jatuh cinta dengan kegiatan menulis sejak SMP.

Awal mulanya tuh karena dipilih sama guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk ikut lomba puisi di Dinas Kota Yogyakarta (iye aku SMP di Jogja hehe). Padahal mah engga jago-jago amat nulisnya da:( Nah tapi dari situ ketagihan untuk terus-terusan menulis, mulailah nulis-nulis di platform yang beragam—sengaja engga nulis diary karena takut dibaca orangtua haha—mulai dari nyerpen di facebook note (sampe dengan belagunya ngetag editor-editor majalah yang kalo jaman dulu gampang banget tuh buat temenan sama seleb-seleb atau orang terkenal di facebook yang penggunanya masih itungan jari) trus pindah ke blogspot, wordpress sampe akhirnya di 2014 jatuh hati sama Tumblr.

Jangan dikira selama 9 tahun perjalanan aku nulis-nulis tuh mulus dan dapet dukungan dari banyak pihak, karena itu sangat amatlah salah. Tau engga kenapa aku sampe akhirnya engga menggunakan nama asli di Tumblr ini? Karena oh karena aku ingin melarikan diri dari orang-orang yang bilang, “apasih nulisnya mellow banget? Galau mulu deh! Itu tulisan kenapa melankolis banget dah?” dan segala macam ejekan lainnya.

Bahkan orangtuaku dan orang lain yang umurnya jauh di atasku dari dulu bahkan sampe detik ini masih aja bisa ngomong, “emang kalo nulis bisa jadi apa? Emang nulis itu pekerjaan?” Ya, aku tidak menyalahkan siapa pun atas hal tersebut, karena memang profesi sebagai penulis sampe detik ini di Indonesia masih dipandang sebelah mata, belum didambakan oleh orangtua-orangtua, seperti mereka mendambakan anak-anaknya menjadi dokter, polisi, insinyur dan sederet pekerjaan lainnya.

Tapi dengan perkataan teman bahkan orang-orang terdekatku yang seperti itulah aku jadi semakin yakin untuk merubah pandangan mereka. Bahwa manusia terlahir dengan hobi dan kesukaan yang sebetulnya bisa untuk dijadikan sebuah karya kalo mereka serius mau menekuninya. Apa pun itu, engga hanya menulis tentunya.

Dari situ aku mikir, kalo aku engga bisa sebebas itu menulis dengan menggunakan nama Stefani Bella kenapa aku engga mencari cara lain untuk tetap bebas menulis? Maka, begitulah nama tumblr HujanMimpi ini tercipta~

Sembilan tahun aku juga pasti jenuh dan sempat bosen untuk nulis, sempet males untuk berjuang sama kesukaanku ini. Tapi, bener apa kata orang-orang zaman dulu, Tuhan selalu bersama dengan hamba-Nya yang sabar dan mau berusaha. Di setiap kebosanan selalu ada aja cara yang Tuhan berikan untuk ngasih semangat, salah satunya respon dari orang-orang yang menemukan dan membaca tulisanku. Pembaca itu teman baik! Respon pembaca adalah asupan motivasi tertinggi buatku pribadi.

Nah kalo habis ini masih ada yang nanya, “jadi kak kalo aku mau nerbitin buku enaknya gimana? Nunggu ditawarin atau gimana nih?”

Jawabanku adalah…Konsisten nulis dulu aja! Untuk menerbitkan buku banyak jalannya, betul? Bisa lewat penerbit indie, bisa juga di major, semua balik lagi ke usaha dan jalan yang sudah Tuhan pilihkan untuk kita.

Yang memilih menerbitkan buku di penerbit indie banyak loh yang sukses. Sebut saja mas @kurniawangunadi atau mbak @karenapuisiituindah yang buku KPII nya bisa sampe 3 di indie atau mas @azharnurunala. Mereka adalah contoh orang-orang ketje yang berhasil menemukan pembacanya sampe ke pelosok negeri seberang dengan jalur penerbitan indie. Keren? Iya banget!

Atau mau ke penerbit major? Langsung print naskahmu, kirimkan ke alamat redaksinya. Tapi, pintar-pintarlah memilih penerbit. Kalo naskahmu genrenya romance-komedi, kamu cari buku yang serupa dengan naskahmu, lalu lihat penerbitnya apa. Barulah kamu memasukkan naskahmu ke sana. Jangan sampe penantian 3 bulanmu sia-sia hanya karena kamu memasukkan genre romance ke penerbit yang hanya menerima naskah-naskah komedi atau horror. Ya atuh gimana mau diterima –“

Tapi kalo kamu masih belum seberani itu untuk memasukkan naskah ke penerbit, mulailah dengan menggunakan social media yang kamu miliki. Bisa di tumblr, facebook notes, twitter, ask.fm, Instagram, blogspot, wordpress, medium, wattpad, atau bahkan storial dan segala macam media lainnya. Konsistenlah untuk menulis, jadwalkan missal sehari harus ada 1 tulisan, atau seminggu harus ada minimal 2 tulisan yang mengudara.

Social media adalah cara tercepat untuk kamu memiliki pembaca dan mendapatkan respon dari pembaca untuk semakin memperbaiki tulisanmu. Dan percayalah, banyak penerbit yang mencari karya-karya popular dari social media. Jadi, jangan pernah takut bersuara apalagi jadi jiper hanya karena satu dua orang yang meremehkan. Dunia engga lantas runtuh hanya karena satu dua orang yang berbeda pendapat atau selera denganmu :)

Aku aja berjuang 9 tahun sambil jatuh bangun dan tertatih-tatih untuk kemudian bisa menerbitkan buku. Kamu, yakin gamau ngotot memperjuangkan mimpimu sampe akhirnya bisa membuktikan ke dunia bahwa cita-cita dan mimpimu bukan hanya Sebatas Mimpi?

*tulisan ini sekaligus menjawab pertanyaan dari Nur Azizah Zainal, terima kasih banyak atas pertanyaannya dear :)

Untuk yang lain yang mau bertanya atau mengajukan saran tulisan boleh cek infonya di bawah ini

Salam,
Hujan Mimpi aka Stefani Bella

Tangerang, 19 Juni 2017

jogja-bandung itu 400KM. setiap hari kami tidak hanya berdamai dengan jarak tapi juga harus berjuang untuk berdamai dengan prasangka.
VIP.

Jadi gini, beberapa waktu yang lalu Bapak dan Ibuk ke Jogja. Berhubung kami ini dak punya mobil pribadi, tiap Bapak Ibuk ke Jogja, kami nyewa mobil untuk ke Magelang. Kalau gak ke Magelang, ya gak usah. Seperlunya aja. Apalagi Bapak Ibuk kalau pulang ke Jawa udah gak jalan-jalan kayak orang liburan, tapi beneran kayak orang yang lagi pulang. Di rumah, masak, benerin rumah, jenguk mbah dan sebagainya.

Jadilah sepulang dari Magelang menuju Jogja dengan mobil sewaan kami harus mampir JCM. Sebenernya tujuannya ke Grapari sih, tapi karena itu sudah sore menjelang magrib, dan Grapari yang di jalan Solo pasti sudah tutup, kami putuskan ke Grapari yang ada di JCM.

Beberapa dari kalian pasti paham, kalau berkunjung ke rumah mbah, keluar dari rumahnya itu pasti bawaannya jadi banyak. Seakan-akan seisi rumah yang bisa kita bawa pulang untuk “sangu”, pasti dibawakan.
Sore itu kami dibawakan buntil (makanan tradisional Jawa berupa parutan daging kelapa yang dicampur dengan teri dan bumbu-bumbu, dibungkus daun pepaya, kemudian direbus dalam santan), beberapa lauk dan beberapa makanan khas Magelang sana. Satu mobil isinya oleh-oleh semua.

Nah, itu kan sudah sore, kami berusaha agar sebelum Magrib sudah sampai rumah, sedangkan itu Jumat sore, parkiran mal sudah mulai penuh.

Kata Bapak, “Itu ada parkir kosong, ngapa orang-orang tu dak parkir sini?”
“Parkir VIP tu pak.”
“Apa bedanya?”
“Mahal, duapuluh ribu.”
“Sini ajalah, biar cepet.”

Tapi akhirnya kami putuskan parkir di dekat pintu masuk, yang ada tulisannya parkir VIP.
Begitu parkir, ada abang-abang nyamperin ngasi note gitu buat nanti pas bayar.

Kami bergegas masuk, menyelesaikan urusan, kemudian pulang.

Sepanjang jalan, Bapak, Ibuk, dan aku gak berhenti ketawa.

Kenapa?

“Mobil sewa, isinya buntil, parkir di VIP pulak”

Mungkin beberapa dari kalian merasa biasa saja, tapi…parkir di VIP loh! Mobil sewaan, isinya jajanan desa! Di deretan mobil yang kinclong, mobil bagus yang pastinya punya orang kaya. Weh, kami pun orang kaya ding. Wkwk VIP!

“Tahu dek, kepanjangan VIP? Very Important Person. Kita ni, orang VIP. Ha! Adek dak pernah parkir disitu kan? Jadi pernah parkir disitu.”

Ada kan, kejadian yang kalian tahu pasti akan terus ada diingatan, apalagi yang bikin inget bisa terus keliatan. Kejadian itu, akan jadi salah satunya.