is jogja

Persoalan Mimpi dan Pendidikan

Kadang - kadang ada yang salah dengan cara kita menanggapi mimpi anak - anak muda. Hanya karena kurang berprestasi di bidang akademik, lalu diremehkan ketika dia memilih kampus favorit, alih2 memotivasi dan ‘menggembleng’. Seakan - akan si murid bercita - cita sekolah di Hogwarts bareng Harry Potter.

Ini bukan hanya perkara seorang anak ingin kuliah di mana. Ini adalah perkara pilihan hidup dan cita - cita. Cerita yang saya tuliskan tentang pilihan universitas hanyalah sebagai contoh saja. 

Hari ini membaca status @veramuna  (kalo ga salah?) yang isinya kira2 minta saran kepada gurunya ketika dulu dia ingin masuk ITB pake beasiswa. Si guru berkata, “ITB itu untuk anak - anak terbaik, dan kamu bukan yang terbaik.” Hasyem,masalah lu apa sih Pak?

Dan dia kemudian lulus dari FTTM ITB dengan beasiswa Bidikmisi. Huahahahaha, dia yang lulus, tapi gw yang happy. Belakangan si guru nanya - nanya ke dia karena anaknya mau masuk ITB.

Saya teringat pengalaman ketika bermaksud mengikuti tes UGM dan oleh guru BK ditakut - takuti dengan “Jogja itu jauh, UGM itu sulit masuknya, kamu ga ada sodara.” Ya elah lebay Bu, Jogja cm 5 jam dari kampung. Gw drop dan cancel pendaftaran ke UGM, menyesal sih memutuskan sesuatu hanya karena omongan orang, sungguh ga dewasa. Lalu tahun depannya gw masuk ITB yang jaraknya 15 jam dari kampung.

Itu juga pernah ada guru yang menunjukkan 'wajah kurang enak’ ketika tahu gw masuk jurusan desain, bukan teknik yang menurut dia lebih keren. Saya masih ingat dia berkata, “desain kan di sini juga banyak.” Lalu segera memalingkan mukanya, padahal sebelumnya excited banget denger kata ITB.

Duh, saya bukan seorang guru. Saya juga tidak bercita - cita menjadi guru. Tapi dulu, ketika saya ketrima di Indonesia Mengajar (walaupun tidak jadi berangkat karena sakit), saya belajar satu hal penting dari Indonesia Mengajar. Bahwa guru seharusnya menginspirasi agar murid - muridnya mau dan memampukan diri untuk bermimpi tinggi, di bidang apapun. And they did it di pelosok!! Bukan cuma kasih ilmu, tapi juga kasih inspirasi untuk anak - anak sederhana itu bahwa mereka bisa jadi hebat!

Tentu saja kemungkinan gagal itu besar, tapi bukan itu persoalan utamanya. Membiarkan mereka mencoba, berjuang, berusaha, memampukan diri, belajar, itu lebih penting. Jika kemudian gagal, saya yakin, mereka sudah akan belajar banyak hal dari kegagalan itu.

Jika mimpi sesederhana kuliah di universitas favorit saja dianggap mustahil hanya karena dia bukan juara kelas, lalu kita mau membentuk mental pemuda - pemuda Indonesia yang seperti apa? Alih - alih realistis, mereka akan tumbuh menjadi manusia yang pesimis, yang rendah diri, takut mencoba, dan takut gagal.

Saya bayangin dulu ketika jaman penjajahan para pemuda pake bambu runcing mau melawan Belanda, lalu pemimpinnya berkata, “Belanda itu kuat, punya senjata canggih, udah kamu nanam padi aja.”

*Tentu saja ga semua guru kayak gitu, saya juga punya banyak guru yang memotivasi dan mendorong murid-muridnya untuk terus maju. Yang sudah tahu muridnya terbelakang tapi masih berusaha agar muridnya 'bisa’.

Curhat : Kehidupan Pascamenikah  (Adaptasi)

Akhirnya setelah berhari-hari belum menulis, saya nulis juga. Sebenarnya banyak sekali yang ingin dituliskan, cuma rasanya kemarin belum pas aja buat nulis #alesan. 

Mungkin tema soal Kehidupan Pascamenikah ini banyak yang penasaran (GR), akan saya coba tuliskan sebagai catatan perjalanan untuk saya sendiri dan barangkali bisa menjadi pelajaran buat teman-teman yang lain. Tulisan-tulisan ini akan sangat subjektif jadi ngga bisa disamakan seutuhnya dengan pihak lain tapi bisa diambil hikmahnya wkwkwkwk. Bismillah ya ;)

Banyak sepertinya di luar sana yang membayangkan bahwa kehidupan setelah menikah akan terasa menyenangkan setiap harinya, termasuk saya dulu. Romantis gitu, ada yang diajak bareng-bareng. Ibadah bareng, belajar bareng, sehari-hari ada yang nemenin, kalau sedih ada yang ngepuk-pukin. wkwkwkwkkwkw. Sampai-sampai melupa bahwa kebahagiaan itu beriringan dengan tantangan-tantangan. Kita justru lupa menguatkan diri untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. 

Dan bahkan, ada kejadian, beberapa ingin menikah karena ingin lari dari kehidupan dia sebelumnya, membayangkan bahwa dengan menikah akan menyelesaikan semua persoalan hidup, padahal…nggak juga. wk ;p

Dan tantangan yang pertama saya hadapi adalah : Adaptasi.

Di awal menikah, tantangannya adalah lebih-lebih soal adaptasi dan berkompromi. Karena ada peran, tanggungjawab, dan hak baru yang harus dijalani. 

Adalah saya yang nggak pernah ngerjain pekerjaan rumah sebegitunya, setelah menikah jadi harus melakukannya sehari-hari mulai nyapu, ngepel, masak. nyetrika. Saya yang hobi kelayapan, main sama temen-temen, setelah menikah jadi harus sadar bahwa ada kewajiban yang lain yang nggak bisa saya tinggal begitu aja. Saya yang biasanya kalau lapar tinggal merajuk sama Umi, sekarang saya harus siapkan sendiri, masak sendiri, bahkan memikirkan suami saya kepengen dimasakin apa, sukanya apa, yang mungkin kejadiannya selera makan kita dan suami jauh berbeda. Saya yang rencana kehidupan mau begini, begini, jadi harus dikompromikan. Saya yang dulunya dekat sekali dengan orangtua dan adik-adik, tiba-tiba udah nggak tinggal bareng sama mereka. Sekarang udah nggak nangis-nangis lagi karena kangen sama Umi sama Abah dooong. Dasar bocah. wkwkwk. Maklum, saya nggak pernah rantau sebelumnya. Ngga diizinin lebih dari tiga minggu pergi dari rumah wkwk. 

Selain beradaptasi dengan status yang berubah menjadi istri, saya juga harus beradaptasi dengan pasangan. Karena karakter kami jauh berbeda, pola asuh juga berbeda, jadi harus banyak-banyak legawanya. Harus banyak pengertian dan pemahaman satu sama lain. Harus belajar komunikasi yang baik. Belajar untuk meredam dan mengelola emosi (lain kali di postingan yang lain saya mau bagi tips dari guru saya). 

Adaptasi selanjutnya adalah dengan tempat tinggal baru. Setelah menikah, saya tinggal di kota yang bukan tempat saya berproses selama ini. Bukan tempat saya sekolah, bukan tempat kuliah, bukan tempat membangun jaringan, bukan tempat saya bekerja. Dan yaaah…saya di bawa keluar dari zona nyaman. Malang nyaman, sangat nyaman. Semua sumberdaya yang saya punya untuk mendevelop diri sendiri maupun orang banyak tersedia disana. Tiba-tiba harus pindah ke Jogja. Dan membangun semuanya dari awal. Pertemanan, kerjaan, lifeplan, mimpi-mimpi. 

Awalnya, saya stress bukan main. Sedih. Seringkali nggak tahu harus ngapain. Makin hari makin panik. Masak gagal terus, suami sakit, belum lagi kalau lagi mager dan rumah belum rapi. Saya pengen main, tapi belum tau mau main sama siapa. Saya mau aktif di kegiatan-kegiatan sosial seperti dulu, tapi juga jaringannya belum ada. Kondisinya juga lagi nggak memungkinkan karena jadwal saya sebagai istri masih belum tertata rapi. 

Dan belum pernah ada yang segigih Mas untuk membuat saya baik-baik saja dari sebelumnya. Yang mencari cara agar saya lekas terbiasa di situasi ini. Mas gigih sekali memotivasi saya cari kegiatan, ngenalin saya sama temen-temennya, ngasih saya PR biar saya belajar, mengapresiasi jerih saya, bantuin pekerjaan rumah, kalau saya ketiduran dikit, rumah udah beres aja. Huhuuuuu makasih suamikuuu. 

Kok saya nggak segigih Mas? Bahkan ini buat diri saya sendiri?

Akhirnya saya ada di titik bahwa saya nggak bisa cuma duduk diam dan meratapi. Harus lebih gigih lagi berusaha beradaptasi!

Adaptasi terus berjalan. Saya masih harus belajar setiap harinya. Akan banyak hal-hal baru yang ditemui. Dan semuanya memang butuh proses. Proses untuk menerima. Proses untuk lebih banyak sabar dan bersyukurnya. Proses untuk memotivasi diri sendiri. Proses untuk lebih kuat lagi. 

Ini curhatan kok nggak ada konklusinya. WKWKWK. Gapapa. Jadi maksudnya tuh saya nulis biar ada bayangan gitu buat yang belum menikah, semoga terus membekali diri dan mulai memikirkan tantangan-tantangan menikah (meskipun tantangannya juga banyak yang di luar perkiraan) HAHA. Jangan ingin menikah dengan mindset bahwa dengan menikah bisa menyelesaikan persoalan dan semua masalah. Nggak. Justru harus lebih kuat karena ada masalah-masalah baru yang harus dihadapi. 

Setiap pasangan pasti dicoba dengan masalah yang berbeda-beda, tapi bobotnya sama. Karena semua sudah sesuai porsinya. Mungkin yang lain tantangannya LDRan, ada juga yang harus sambil kerja, yang lain mungkin dicoba dengan kehidupan bersama mertua, dan banyak lagi. Jadi memang jangan dibanding-bandingkan kehidupan pernikahan kita dengan orang lain. Allah adil kok dalam menempatkan hambaNya di masing-masing keadaan. 

Buat yang baru nikah kaya saya, semangat untuk terus beradaptasi dan menjalani sebaik-baik peran. Karena setiap peran pasti punya makna.  

Semangat! Terimalah keadaan, banyak-banyak bersyukur, tetap berikhtiar dan tawakkal. Semoga cerita saya bisa jadi pelajaran :)

Purworejo, 2 Februari 2017.

Rapuh.

Judulnya dah galau ala orang yang lagi bertepuk sebelah tangan belum? Kayak siapa? Kayak kamu bukan? Wkwkwk

Dulu, Ibuk pernah berpesan satu kali, “Dek, kalau ada waktu luang, sempatkanlah datang ke pengajian.”
Aku jawab sekenanya “Iya…”

Padahal dalam hati, ngapain ke kajian. Yang ke pengajian itu kan ibu-ibu rumah tangga. Nanti ajalah, kalau udah jadi ibu-ibu.

Mbak No, setelah nikah, pernah aku tanya, “Lagi apa kau?”
“Lagi di pengajian” katanya.

Aku sempet mikir, orang-orang yang ke pengajian itu orang-orang yang ga asik. Buat yang kerudungnya gede-gede doang. Buat yang udah gamisan. Yang udah jadi ibu-ibu. Berat. Kalau masih muda sih gausahlah ya.
Apalagi pernah ada pengalaman dikasih tahu sesuatu “Itu kan haram!” dengan nada yang agak tinggi oleh seseorang yang cara berpakaiannya punya ilmu agama yang cukup baik. Aku jadi takut dan malah makin menjauh.

Tapi ternyata Allah menjebak hambaNya yang ngeyel ini ke satu pengajian. Rutin pula.

Berawal dari iseng dan buat ngisi waktu, aku dapet broadcast tentang kajian rutin. Akhirnya aku datang, sendirian. Kajian itu bakal diadakan rutin tiap Sabtu. Errr…nama kelompok kajiannya AISHAH. Akademi Ibunda dan Istri Shalihah. Jadi isi kajiannya tentang seputar rumah tangga gitu deh. Hehe. Iseng.

Karena namanya Istri dan Ibunda, kebanyakan yang datang adalah yang sudah berkeluarga. Cuma ada empat yang belum menikah, salah satunya aku. Dan ternyata mereka butuh panitia. Jadilah yang hadir hari itu, yang belum menikah diminta menjadi pengurus kajian. Errr…aku…mau ga mau ikutan.

Nah, bener sih, temenku yang jadi pengurus lainnya ukhti-ukhti gitu, ada yang pakai niqab juga bahkan. Tapi ternyata mereka asyique semua tuh anaknya. Dan aku, merasa dirangkul sekali oleh mereka. Mereka pastikan aku merasa bahwa “kita sama-sama belajar”, padahal ilmu agama mereka jauuuuuuh diatasku.

Tapi aku masih “rapuh”. Niat awalku kan karena iseng, ngisi waktu, dapet temen baru, dan itu semua aku dapat, tapi ilmunya engga wakaka duh, jangan ditirulah yang kayak aku ini.

Akhirnya niat aku perbarui. Datang ke kajian, untuk cari ilmunya.

Tapi aku masih “rapuh”. Satu persatu teman yang biasanya ngajak aku ke pengajian pindah ke luar Jogja. Aku sendirian.

Yaudah, gapapa, aku mulai ajak beberapa temanku yang lain. Kata mereka, “Nanti aku denger dari kamu ajalah.”
Atau ketika aku mencari teman untuk belajar tahsin, ada yang bilang, “Ngapain? Allah tu maklum kalik. Kan kita bukan orang Arab, jadi gapapa kalau kita baca Quran ga bener-bener amat. Dah dapet pahalanya juga.”

Dan aku yang “rapuh” ini cuma bisa diam.

Yaudah, gapapa. Buat aku dulu aja.

Tapi ternyata “sendirian” terasa lebih berat. Aku masih terlalu “rapuh” sehingga masih memikirkan apa yang orang lain katakan.

Pernah suatu saat, aku bilang sama Mbak No. Kan kalau kita melakukan sesuatu yang kita gak tau kalau itu gak boleh gapapa (Duh sumpah ini alesan orang males.) Kata Mbak No, “Kau mau dak tau terus? Kalau kau mau dak tau terus ya dakpapa. Gitu aja terus.”

Teringat lagi apa kata Hana Adha, “Nun, Allah tu baik kali sama kita. Semua dikasih loh ke kita. Tapi kita ni kadang cuma melakukan ibadah yang diiming-imingi aja. Masa belajar aja kita dak mau Nun? Padahal semua bisa dipelajari.”

Tapi ternyata orang “rapuh” kayak aku masih terus butuh teman yang mengingatkan. Dengan lembut. Karena rawan malah akan berbalik arah, apalagi kalau dikit-dikit dibilang haram. Ini itu haram. Kan yang tadinya mau belajar jadi merasa “ah ga asyique ah”. Boleh kan pelan-pelan? Jadi, kalian yang punya cukup ilmu untuk dibagikan, bagikanlah dengan lembut. Sesungguhnya orang-orang kayak aku ini ingin sekali belajar. Tapi terlalu takut dan malu. Malu dicemeeh “ciyeeeeehh hijraaaaahhhhh” seakan-akan belajar agama menjadi hal yang terlalu “eksklusif” membuat orang membuat batas sendiri.

Btw, aku salut sekali sama pemuda pemudi yang “nongkrong"nya di masjid. Salut sama orang yang segala perbuatan dan perilakunya "karena Allah”. Doakan aku menyusul.

Memesona itu Berani Bermimpi Tanpa Batas

Saya selalu terpesona dengan orang-orang yang tahu apa yang di-mau, melihat mereka yang berhasil berdiri dengan tegaknya di atas mimpi sendiri. Sungguh suatu hadiah diri paling luar biasa atas keringat dan air mata yang jatuh di setiap langkah menuju ke sana. 

Wanita pertama yang membuat saya langsung jatuh hati dan terinspirasi adalah @perempuanthicka. #Memesonaitu melihatnya bercerita bagaimana pekerjaannya sebagai penulis tentang kopi membawanya terbang ke mana saja. #Memesonaitu kilatan bahagia yang terlihat jelas di matanya, membuat saya percaya, bekerja sesuai dengan passion tak hanya akan membuat dompet mengembang, semangat dalam jiwa pun akan terus kenyang.

Tidak Ada Kata Terlambat

Dari kecil, kita sudah biasa ditanya tentang cita-cita. Dokter, pramugari, polisi dan banyak profesi keren yang lainnya. Namun, dengan bertambahnya usia, passion akan membawa kita ke tempat yang diinginkan. Kamu mungkin akan tersesat lebih dulu dengan salah jurusan atau pekerjaan yang hanya membuatmu mengutuk di setiap pagi. Tak pernah ada kata terlambat untuk berganti haluan, mengejar mimpi yang selama ini pura-pura kamu ikhlaskan. Di usia menjelang 30 tahun, saya masih terkungkung di rumah. Bekerja seadanya. Lowongan kerja kantoran bahkan meminta usia di bawah 26 tahun, bukan? Hobi menulis pun cuma jadi ajang curhat di blog. Sampai akhirnya tawaran bekerja sebagai content writer datang. Saya yang seorang Sarjana Teknik Pertanian, dengan tulisan acak adul yang mostly cuma puisi ala-ala? Serius? Tentu saja saya ambil! Apa sih yang tak bisa dipelajari? 

Keliling Diri dengan Vibe Positive

Bertemanlah dengan orang-orang yang punya energi positif. Mereka akan menulari kita dengan pikiran-pikiran optimis. Bagaimana mereka tetap semangat menghadapi hidup yang kadang kejam, atau tentang taktik menjauhkan diri dari penyakit hati. Belajar mendengarkan juga perlu. Karena setiap menyediakan telinga untuk mendengar, ada ilmu baru untuk dipelajari. Dari seorang teman, Titasya, saya belajar bahwa apapun bisa diraih asal terus berusaha. Sahabat yang juga bos saya ini mengajarkan bahwa penting untuk terus berkembang. Dari kawan lainnya, @tetavaganza saya belajar, bahwa terus berpositive thinking baik untuk kesehatan jiwa. Teman akrab ini juga membuat saya sadar, berbagi tidak akan pernah membuatmu kekurangan.

Berani Mendobrak Keluar dari Zona Nyaman

Keluar dari zona nyaman dan aman yang hangat memang sedikit menakutkan. Ratusan ‘bagaimana jika’ menghantui kepala dan memberati kaki untuk melangkah. Namun, kita tak tahu harta karun apa yang ada di luar kalau melangkah keluar saja tak berani. Ingat pepatah yang mengatakan, ‘Jangan mengharapkan hasil berbeda kalau masih melakukan usaha yang sama’, kan? Pertama kali menulis artikel, saya dapat tugas untuk membuat berita artis. Butuh waktu satu tahun bagi saya hingga akhirnya bisa menciptakan artikel yang enak dibaca dan paham bagaimana memilih tema yang menarik. Lalu, tawaran lain muncul. Bagaimana kalau menulis bidang baru? Traveling, misalnya? Sedikit menakutkan, memang. Tahu apa saya tentang traveling? Jalan-jalan juga paling jauh ke Jogja. Mendaki gunung pun belum pernah. Namun, sekali lagi saya tertantang menaklukkan bidang baru ini. Dan lagi, apa sih yang tak bisa dipelajari?

Tidak Berhenti Belajar

Berteman dengan berbagai macam orang dengan watak yang bervariasi, mau tak mau membuat saya banyak belajar tentang hal asing. Buat saya, hidup adalah sekolah sepanjang masa. Tempat di mana saya memberi makan otak dan hati dengan hal-hal baru setiap harinya, selama masih bernapas. Ilmu pun juga begitu. Saya memang sudah menyelesaikan pendidikan resmi, namun pelajaran hidup tak akan ada habisnya. Salah satu yang akhirnya saya pahami adalah ketika mengerjakan sesuatu sesuai passion, rasa haus akan ilmu di bidang tersebut tidak akan hilang. Contohnya, karena menulis tentang jalan-jalan, saya jadi semangat belajar memotret, bikin video pendek tapi informatif dan tetap seru. This is so much fun.

Bermimpi Tanpa Batas

Tak ada batasan untuk bermimpi. Kecintaan saya pada kopi pernah membuat saya bercita-cita untuk memiliki sebuah coffee shop agar tak perlu lagi membayar mahal untuk setiap gelas minuman surgawi yang saya minum. Kini, impian saya makin tinggi. Dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, saya ingin menikmati kopi di kafe sendiri yang tak jauh dari rumah, menulis buku ke 2 atau ke 3 untuk diterbitkan, dengan anak-anak yang bisa mengganggu saya kapan saja. #Memesonaitu ketika kamu berani bermimpi tanpa batas.

Tetap Menginjak Bumi

Manusia bisa berubah karena harta dan derajat. Sombong nggak sih kalau belum apa-apa saya sudah khawatir tentang ini? Menurut saya, penting untuk mewanti-wanti diri agar tidak keblinger dan untuk terus membumi sejak dini. Saya ingat pesan sahabat lainnya, sekaya-kayanya manusia adalah ia yang bisa bermanfaat bagi orang lain. 

Jangan takut untuk bermimpi. Kalau terlalu menyeramkan berjalan sendiri, ajak saja teman yang punya passion sama. Pancarkan pesonamu dengan semangat menggapai impian!

Berani?

toteczious  asked:

Tell us the mythical game about passing "Pohon Kembar" in Yogyakarta while eyes are blindfolded.

(picture from merdeka.com)

Legenda Beringin Kembar

In Yogyakarta, there are two (twin) Banyan trees located in Alun-Alun Kidul (Kidul Square) with an interesting backstory.

“Masangin” is a ‘game’ where a person would walk through the space between the two trees while they’re blindfolded. This act dated back to the olden times, and now travellers are always enthusiastic to try it out.

Legend tells that, the two trees have a mystical power to repel enemies and those without a good heart. One belief tells that if an enemy passes through the trees, all their strength will dissipate. Another belief tells of a story about Sri Sultan Hamengkubuwono I’s daughter, who ordered that all men who wished to wed her were to walk between the trees with their eyes closed. Only one man managed to complete the task, and it was said that it’s because he had a pure heart.

Another said that these trees were strongly connected to Segoro Kidul, the Southern Sea (Indian Ocean), and Nyi Roro Kidul (deity that rules over said sea). This was because a rumour spread around, saying that the two trees were gateways to the Southern Sea.

Hari ini hari yang banyak dibicarakan di indonesia sebagai harinya emansipasi dan kemandirian wanita. Dihari ini saya akan bercerita tentang dua temen saya, kebetualan keduanya anak tumblr (dulu, sekarang sudah tidak aktif) kami pernah bermain bersama di komunitas tumblr jogja (yang sekarang juga udah ga jelas). Kedunya kuliah di universitas -kalau tidak salah jurusan- yang sama. Tapi kemudian bahagia dengan keputusannya masing-masing, keputusan yang dirinya buat secara independen sebagai perempuan.

Yang pertama selepas lulus dan jadi dokter kemudian melilih langsung menikah dan kini tinggal di belantara ibu kota. Kehidupan keluarganya makin lengkap dengan kehadiran putri mungilnya. Setiap hari kehidupannya adalah perjalanan si kecil yang dia rawat, kebanggan yang setiap hati di ceritakan, keceriaan yang mengisi hari-harinya. Keputusannya untuk menikah dan memiliki anak membawa jalan kebahagiaan baginya.

Yang kedua, perempuan ini memilih melanjutkan studi selepas wisuda. Menunda kisah cinta dan pernikahannya. Melanglang buana keliling dunia, studi lanjutan dengan sistem barat di universitas ternama dunia. Hari ini iya merayakan kelulusan studinya dengan wajah ceria ditemani toga diantara bangunan klasik eropa yang jadi ciri kampus dimana dia belajar.

Tidak ada yang salah atas keputusan keduanya, hidup selalu mebawa jalannya masing-masing. kedunya bahagia dan berhasil sebagai diri mereka atas keputusan yang mereka pilih.

Jadi, para wanita siapapun kamu, apapun keputusanmu, kamu berhak memilih masadepanmu, dengan caramu, dengan tanggungjawab yang penuh. Karena keputusan apapun yang kamu ambil dengan keyakinan akan berujung kebahagiaan.

Jadilah wanita yang tumbuh atas keputusan dan kesungguhan yang penuh.

Selamat hari kartini.

Mengintip Masa Lalu.

“Apa kabarnya sekarang ya?” adalah bisikan syaiton paling menggoda.
Akhirnya, di Minggu pagi yang cerah ini iseng ngetik nama yang udah lama banget ga muncul di pikiran. Sampai lupa ID Line nya apa bahkan.

Dan yang tersebut setelah melihat foto profilenya adalah… “Alhamdulillah.”

Karena fotonya…sudah berdua, pakai jas profesi yang sama.

Ah. Baiklah.

*nyerutup kopi*

Pasti ada satu orang di masa lalu, yang akan selalu berakhir dengan tanda tanya di hidup kita. Seseorang yang sempat kita “simpan” untuk nanti di masa depan, ketika kita rasa sudah waktunya. Tapi ternyata masa depan yang tak terasa sudah menjadi “saat ini”, tidak seperti apa yang kita bayangkan.

Sebut saja namanya Joni.
Joni adalah bagian dari perjuangan tahun akhir perkuliahan. Menjadi teman adalah satu-satunya pilihan, karena pacaran bukan hal yang dapat memastikan kita akan menjadi lebih baik di masa depan.
Sebagai senior yang menawarkan diri membantu juniornya untuk melewati masa-masa menyenangkan yang kita sebut skripsi, ternyata menjadi jalan bertukar cerita yang lain.

Oh, dan kamu, yang merasa lelaki itu “seksi” ketika punya badan bagus dan wajah mulus tanpa pori-pori, kamu harus lihat bagaimana mata seseorang yang menggebu-gebu menceritakan cita-citanya, rencananya menyusun masa depan.
Tahu kan, ketika orang dihadapan kita bercerita tentang sesuatu dengan semangat, terus kita jadi ikutan semangat, dan berharap ikut terlibat di dalamnya. Eh, kok ngelunjak. Wkwk

Joni menceritakan rencana rapinya tentang masa depan. Kenapa dia melalukan ini sekarang, apa yang akan dia lakukan di masa mendatang, dan banyak lagi.
Hana was being Hana at that time, mendengarkan dengan seksama tanpa sadar sambil tersenyum lebar, dalam hati merasa…minder.

Singkat cerita, Joni harus keluar kota, melanjutkan bagian dari studinya. Jarak sangat membantu untuk mengalihkan pikiran dan perasaan. Ya kan?

Joni selalu menjadi teman lama yang namanya hadir sekali setahun di layar handphone, saat lebaran. Selebihnya, teman yang selalu dalam pantauan, yang lama kelamaan menghilang.

Tapi Jogja selalu menjadi tempat pulang untuk siapapun.
Joni kembali dua tahun yang lalu, “Aku bakal di Jogja loh, mulai tahun ini sampai lima tahun mendatang.”
Dan Jogja tidak sesempit yang kalian kira, Tuhan tidak menuliskan skenario “kebetulan” sehingga aku dan Joni berpapasan di jalan. Dan Tuhan tidak menggerakkan hati hambaNya untuk saling bertukar sapa di dunia maya kemudian mengatur rencana untuk ketemuan.

Joni adalah bagian manis dari tahun terakhir perkuliahan.
Joni adalah sepotong kisah romantis, yang datang dan pergi tanpa permisi.
Kisah yang kita bingung mulainya dari mana, dan lupa berakhirnya seperti apa.

Joni hadir seperti kopi hangat yang wanginya menggoda sampai kita merasa tidak perlu tahu rasanya.
Joni pergi seperti segelas bekas kopi tubruk, sebagian hilang, sebagian tertinggal.

Makhluk Penuh Ketabahan

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh

Perihal begitu dominannya mereka menggunakan sisi perasaan, membuat mereka memiliki kemampuan merasa tahu segalanya. Meski tak juga mengenyampingkan logika, mungkin itulah yang membuat mereka melihat bahwa lelaki itu selalu penuh dengan kekeliruan.

Pada banyak hal, kita sangat sering menemukan perempuan menggunakan perasaannya. Ketika melihat mereka marah, menangis, bahkan diam tanpa berkata-kata sekalipun, sesungguhnya perasaan mereka saat itu berputar begitu teratur. Saat-saat seperti itu otak mereka begitu terampil menciptakan banyak prasangka-prasangka.

Mungkin, dari sana mengapa perempuan itu selalu merasa tahu. Di hadapan lelaki, hanya dengan melihat matanya, tingkahnya, ucapannya, bahkan cara menulisnya, perasaan mereka sanggup menembus tiap celah di pikiran para lelaki. Maka mereka akan selalu tahu apa yang sedang berubah dan telah berbeda dari lelaki di hadapannya. Tidak cukup itu, prasangka mereka terkadang bahkan melampaui sebuah kesalahan, hingga tercipta melankolis dalam kepala mereka sendiri, kemudian menjatuhkan sendirinya bulir-bulir air mata, berurai membasahi pipi mereka yang menggemaskan. Menyebalkan, memang.

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh.

Meski apa yang mereka rasakan tidak sepenuhnya apa yang mereka rasa benar dan walau sering salah dalam menebak, hati perempuan selalu tahu hal-hal yang telah berbeda dari biasanya. Maka dari situ juga prasangka itu lahir penuh dengan drama.

Tentang prasangka yang tak baik dalam rasa sakit, kecewa, pengabaian, atau perihal selalu merasa tahu segalanya. Dalam hati mereka yang paling tulus, dalam pikiran bawah sadar mereka, sesungguhnya menyimpan percaya yang begitu besar. Hingga seringkali bibir mereka berucap hal yang tak sama dengan isi hati mereka.

Dan saat nanti mereka tetap berdiri di sisimu, meski beribu kali mengaduh dan keluh yang dituturkan tentangmu. Maka saat itulah, mereka hanya ingin mencuri separuh perhatianmu, darinya mereka percaya sepenuhnya.

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh.

Padahal, kalau kita sanggup memahaminya sedikit saja, indahnya begitu anggun yang tersemat pada diri mereka sejak pertama kita menatap matanya.

Bersyukur mereka yang terlahir sebagai perempuan, sebab kehidupan nanti bukan hanya tentang diri mereka sendiri. Namun, seberapa besar arti mereka bagi kehidupan. Mungkin itulah yang membuat mereka selalu ingin memberi yang terbaik pada hidup lelaki yang ingin mereka genapi.

Nyatanya, perempuan memang makhluk yang aneh.

Namun, meski aneh dan menyebalkan, mereka tetap saja pantas untuk mendapatkan pelukan terhangat saat mereka membutuhkannya. Sebab di balik kesederhanaannya, ternyata masih begitu banyak perasaan-perasaan yang harus dijaga oleh lelaki.

Dan seluruh keanehan-keanehan yang pernah terlontar pada diri mereka, tidak akan pernah ada tandingannya dibanding ketabahan pada tiap-tiap air matanya yang mengandung do'a.

Ialah perempuan, makhluk Tuhan penuh ketabahan.

Dalam perjalanan pulang ke Jogja, 31 Januari 2017 | Seto Wibowo

Suatu kontradiksi menenangkan

Jika aku mengatakan bahwa apabila engkau menolakku dan aku tidak sedih tentu itu suatu kebohongan
Namun jika aku berucap bahwa aku tak bahagia dengan kemungkinan pilihanmu yang tak sesuai harapanku
Ini adalah dusta yang lain

Pada akhirnya apapun alasan yang ada dalam benakmu untuk memilih ya maupun tidak
Adalah hikmah-hikmah dari Tuhan bagi kita yang menanti di setiap pintu takdir

Bagiku misterinya ada pada dua sisi subjektivitas
Aku hanya dapat menangkap sebagian horizon pemahamanmu yang kutangkap melalui gesture ataupun kata-kata minimal darimu
Aku juga tak terlalu paham dengan keseluruhan kontradiksi perasaanku kepadamu selama ini

Mencintaimu terlalu dalam adalah ketakutanku sejak beberapa tahun silam
Memandangmu sepersekian detik melemparku ke dalam hipotesis di balik tatapan itu
Aku melihat suatu ketenangan jiwa, kebaikan yang polos dan ketulusan iman di belakangnya
Kemudian percakapan dengan kawan-kawan dekatmu dan kawan-kawan dekatku hanya menambah biasku di awal
Ya, kau bahkan jauh lebih baik dari ekspektasiku sendiri

Maka melalui tulisan-tulisan, simbol-simbol, metafora-metafora aku mencoba mendeskripsikan keseluruhan kerinduanku yang membingungkan
Sebab melalui engkaulah pertama kali, kontradiksi tidak membuatku gelisah

Aku kini dapat mengakuinya dengan terus terang
Aku mencintaimu, aku benar-benar menyukaimu
Dan aku berharap satu hal saja
“Jalani hidupmu dengan kebahagiaan”,
Sebab kau telah memberi pelajaran banyak bagi orang-orang di sekitarmu

“Jangan lupa bahagia”, begitu kata kawan kita
Semoga engkau menemukan kebahagiaanmu
Sebab firasatku mengatakan, kau akan melakukan kerja-kerja besar untuk umat dan kemanusiaan
Bersama yang namanya telah dituliskanNya sejak kita adalah ketiadaan

Jogja, di perpustakaan yang tak lain adalah pelarianku darimu. 25032017

Hana di Bandung.

“Nun, aku mau ke Bandung. Jemput bisa Nun?”
“Bisalah…”
“Nginap sana juga ya Nun.”
“Siaap…”
“Nun, bawa aku ke kajian ust. Hanan ya Nun.”
“Oke.”
“Nun, pinjam baju. Hahaha”

(Nun, dari kata Hanun. Sama-sama manggil gitu, entah kenapa.)

Perjalanan tanpa rencana yang matang bisa jadi perjalanan yang berkesan.

Berawal dari satu kelas di tahun pertama sekolah menengah atas, kami lanjutkan komunikasi hingga saat ini. Berawal dari minta ajarin matematika hingga sampai ilmu agama. Hana Adha selalu jadi teman yang bisa diandalkan.

Errrr ada dua kemungkinan sih. Hana memang teman yang baik atau aku yang gak tahu diri. Wkwkwk. Tapi Hana senang tuh aku repotin. Hehe.

Lebaran tahun lalu Hana bilang pengen ke Jogokariyan. Ke masjidnya ust. Salim A Fillah. Ustadz yang kata-katanya bikin meleleh itu. Ustadz yang mengumpamakan senyum istrinya bagai sepotong surga tersiram madu. Ustadz yang mengingatkan kita untuk meneladani Matahari yang mencintai Bumi, tapi mendekat pada Bumi justru membinasakannya. Eh, belum sempat menyambut Hana di Jogja, malah disambut oleh Hana di Bandung. Wkwk.

Hana dari TK sampai SMP sekolah di sekolah islam gitu. Jadi dari jaman piyik udah kerudungan. Yaaaa menurutku ilmu agamanya udah jauh banget diatasku. Tapi masih aja ngerasa kurang. Eh, harusnya emang gitu ya.

Sebagai seseorang yang fakir ilmu dan niat belajarnya masih harus terus diperbarui karena kadang hilang di tengah jalan, melihat Hana yang semangat belajarnya membara bikin aku cemburu.

Bahkan Hana yang baca Al-Qurannya begitu lancar masih berburu guru tahsin.
Kata Hana, umur kita ni kan nanti bakal dipertanggungjawabkan. Selama ini kita hidup masa dak dipakai buat belajar. Sedangkan bahasa Arab dan membaca quran dengan baik dan benar itu semua bisa dipelajari. Kalau kita bisa belajar bahasa inggris berarti kita juga bisa belajar bahasa arab.

Hana bilang, Allah tu baik kali. Semua Allah kasih. Tapi sayangnya kita masih terbiasa dengan ibadah yang diiming-imingi. Padahal Allah baik kali loh sama kita.
Pernah suatu saat Hana dak terbangun pas tahajud, kebangunnya pas adzan subuh. Hana sedih kali. Hana ngerasa ada yang salah sama dirinya sampai-sampai Allah dak bangunkan dia pas tahajud. Tapi Allah baik kali, masih bangunin Hana pas adzan subuh, dak terlewat subuhnya. Hana merasa rugi kalau Senin dan Kamisnya berlalu begitu saja tanpa puasa. Dan Hana selalu sempatkan dhuha lebih dari dua rakaatnya.

Hana kenalkan Bandung sebagai kota yang tenang. Kota yang gemerlap lampu masjidnya. Hehe. Kata Hana, “Disini ni Nun, masjid tu tempat yang keren gitu Nun. Banyak anak mudanya. Anak muda disini tu nongkrongnya di masjid Nun.”

Jadilah aku diajak ke Masjid Salman, Masjid Raya Bandung, Daarut Tauhid, dan tentunya Masjid Trans Studio Bandung wkwk. Oh! Belum Al-Lathiif ya??? Yodah ntar sana lagi. Belum foto di depan gedung sate jugak pun. Wkwk

Duh, Bandung, sudah boleh rindu belum?

jogja-bandung itu 400KM. setiap hari kami tidak hanya berdamai dengan jarak tapi juga harus berjuang untuk berdamai dengan prasangka.
VIP.

Jadi gini, beberapa waktu yang lalu Bapak dan Ibuk ke Jogja. Berhubung kami ini dak punya mobil pribadi, tiap Bapak Ibuk ke Jogja, kami nyewa mobil untuk ke Magelang. Kalau gak ke Magelang, ya gak usah. Seperlunya aja. Apalagi Bapak Ibuk kalau pulang ke Jawa udah gak jalan-jalan kayak orang liburan, tapi beneran kayak orang yang lagi pulang. Di rumah, masak, benerin rumah, jenguk mbah dan sebagainya.

Jadilah sepulang dari Magelang menuju Jogja dengan mobil sewaan kami harus mampir JCM. Sebenernya tujuannya ke Grapari sih, tapi karena itu sudah sore menjelang magrib, dan Grapari yang di jalan Solo pasti sudah tutup, kami putuskan ke Grapari yang ada di JCM.

Beberapa dari kalian pasti paham, kalau berkunjung ke rumah mbah, keluar dari rumahnya itu pasti bawaannya jadi banyak. Seakan-akan seisi rumah yang bisa kita bawa pulang untuk “sangu”, pasti dibawakan.
Sore itu kami dibawakan buntil (makanan tradisional Jawa berupa parutan daging kelapa yang dicampur dengan teri dan bumbu-bumbu, dibungkus daun pepaya, kemudian direbus dalam santan), beberapa lauk dan beberapa makanan khas Magelang sana. Satu mobil isinya oleh-oleh semua.

Nah, itu kan sudah sore, kami berusaha agar sebelum Magrib sudah sampai rumah, sedangkan itu Jumat sore, parkiran mal sudah mulai penuh.

Kata Bapak, “Itu ada parkir kosong, ngapa orang-orang tu dak parkir sini?”
“Parkir VIP tu pak.”
“Apa bedanya?”
“Mahal, duapuluh ribu.”
“Sini ajalah, biar cepet.”

Tapi akhirnya kami putuskan parkir di dekat pintu masuk, yang ada tulisannya parkir VIP.
Begitu parkir, ada abang-abang nyamperin ngasi note gitu buat nanti pas bayar.

Kami bergegas masuk, menyelesaikan urusan, kemudian pulang.

Sepanjang jalan, Bapak, Ibuk, dan aku gak berhenti ketawa.

Kenapa?

“Mobil sewa, isinya buntil, parkir di VIP pulak”

Mungkin beberapa dari kalian merasa biasa saja, tapi…parkir di VIP loh! Mobil sewaan, isinya jajanan desa! Di deretan mobil yang kinclong, mobil bagus yang pastinya punya orang kaya. Weh, kami pun orang kaya ding. Wkwk VIP!

“Tahu dek, kepanjangan VIP? Very Important Person. Kita ni, orang VIP. Ha! Adek dak pernah parkir disitu kan? Jadi pernah parkir disitu.”

Ada kan, kejadian yang kalian tahu pasti akan terus ada diingatan, apalagi yang bikin inget bisa terus keliatan. Kejadian itu, akan jadi salah satunya.

fisikawanunyu  asked:

Assalamualaikum, mas quraners (gak tau siap namanya). Dari baca baca tumblr sampean kayanya bisa dimintai pendapat hehe :v Gimana yha mas semakin kesini semakin diri ini gak siap buat nikah. Padahal pas smster akhir kmrin pengennya sampe ke ubun ubun. Niatnya abis wisuda,ngajar,nikah 😂 Tapi semenjak di jogja, banyak ikut kajian pra nikah,parenting segala macem makin tau makin takut. Takut gabisa ada laki laki sebaik ayah 😥. Om tolong jawab om dg ketakutan ini wassalam 🙏🏻

Wa’alaykumussalam wr wb,

Wah, keknya ini pertanyaan cocoknya buat yang udah nikah. Tapi saya coba jawab dari sudut pandang saya, siapa tau bisa diambil atau dikoreksi jika ada kesalahan.

Mungkin manusiawi jika kita rasakan sedikit ketakutan saat hendak melakukan sesuatu yang sama sekali belum pernah kita lakukan. Takut salah, takut nanti hasilnya buruk dan ketakutan lainnya, termasuk dalam hal pernikahan.

Saya pun pernah merasakan atau mungkin masih juga untuk saat ini. Takut jika mungkin partner belum terbiasa dengan atmosfer barunya, lingkungannya atau jika ia belum sepaham itu tentang pernikahan. Takut jika dia tidak siap dengan segala konsekuensinya, jika ia terbiasa dengan kemudahan dan kenyamanan namun tidak cukup sabar untuk bertahap menapaki tangga kehidupan dan perjuangan. Memang kisah setiap orang bisa jadi berbeda, tapi setiap pasangan pasti punya ujiannya masing-masing. #berat amat yak kayanya, maapkeun

Karena pernikahan adalah sarana tarbiyah melatih kedewasaan, maka bisa jadi banyak ujian dan perlu banyak kesabaran. Perlu niat yang ikhlas, hati yang luas, yang senantiasa berusaha belajar mendengar, memahami, melayani dan memberi yang terbaik yang kita bisa untuk partner kita.

Barangkali yang harus dilakukan saat takut tak menemukan sosok terbaik seperti yang selama ini mencintai kita adalah dengan memposisikan diri dan berdoa. Posisikan diri kita sebagai partner terbaik yang selalu ada untuk melayani dan melakukan yang terbaik. Yang selalu berusaha membuat si dia bahagia, belajar memahami dan menguatkan hatinya, belajar melaksanakan tugas sebaik mungkin. Semoga dengan niat yang tulus, Allah atur pula pertemuan itu dengan seseorang yang juga tulus.

Maka jika nanti harus memilih, pilihlah seseorang  yang lurus niatnya, siap mentalnya, terlihat tanggung jawabnya. 

Quraners

13 Reasons Why

Duh, maaf ya. Ini lagi, ini lagi.

Tapi ini series bule pertama yang aku tonton setelah Sherlock Holmes. Agak kebanting sih. Cuma ya, bolehlah, biar ada obrolan sama dedek-dedek.

Jadi ini ceritanya tentang bullying gitu.
Ada anak baru pindah, terus susah kali dapat kawan. Terus ya, biasalah ya, di SMA gitu ada banyak geng. Terus dia depresi, terus bunuh diri. Bolehlah buat tontonan. Mayan bikin penasaran, tapi setelah selesai nonton cuma kayak “Ooh…”, bukan yang meninggalkan perasaan mendalam gitu.

Gak kayak pas kamu menyapaku. Eh.

Nah, Bela adalah orang yang kalau ngomong seperlunya. Cuek. Kalau menatap sesuatu aja tuh kayak meleknya gak maksimal gitu. Senyum juga seadanya.

Ngobrol sama Bela ini gampang-gampang susah. Apalagi kalau punya selera humor receh kayak aku. Berkali-kali ngasih lelucon, terus dia cuma pasang wajah datar, sambil memicingkan mata, “Mbak, Mbak barusan melucu Mbak? Tapi gak lucu Mbak”

Wkwk.

Atau sebenarnya itu lucu, tapi dia gengsi. Biasalah. Permainan kakak adek. Berusaha bikin kesal satu sama lain.

Atau ketika Bela ikut marching, aku gak tau posisi dia apa disana, tapi dia sempet ngajarin juniornya. Aku pernah liat dia ngelatih, mukanya datar. Suaranya pelan. Tapi gak marah-marah. Gak ketus juga. Cuma…gimana ya. Hahaha.

Cobalah kalian ketemu Bela.

Balik lagi yak. Sebenarnya aku gak terlalu khawatir tentang karakter Bela yang kayak gitu. Dia pasti bisa dapat teman yang baik, dimanapun dia berada. Tapi ya, tetep aja kan ya, lingkungan baru, Jogja pasti beda dari Duri. Di Duri, kita tahu si A anak siapa, orangtuanya bagaimana, keluarganya seperti apa. Kalau di Jogja? Pasti lebih banyak lagi macamnya.

Rasanya tuh, pengen anter jemput Bela, ikut masuk kelas bimbelnya, tapi ya gimana…Bela kan udah besar. Lagian aku udah gak sanggup duduk di kelas ngerjain soal kimia atau fisika. Wkwk.

Jadilah kemarin aku bilang gini ke Bela setelah nonton 13 reasons why, “Bel, Bela kenalanlah Bel. Ada Bel yang Bela kenal? Ada yang ngajak Bela kenalan?”

Pertanyaan setengah bercanda, setengah serius.

Kata dia, “Tadi Bela ngobrol sama orang di sebelah Bela. Tapi dak kenalan.”

Wkwk. Namanya juga Bela. Dia datang kayaknya emang untuk belajar. Sampai lupa menjalin pertemanan. Tapi gakpapa, hari pertama. Wajar.

Nah, hari kedua, Bela pulang, terus tiba-tiba bilang gini, “Mbak, Bela dah kenalan mbak. Bela ada teman mbak. Empat.”

Wkwkwkwkwkwkwk.

Rona sempet ketemu Bela, terus tadi dia nanya, “Gimana adekmu? Masih irit ngomongnya? Jangan-jangan sekalinya ngomong, dibayar.”

Wkwk.

Jadi, inti dari tulisan ini apa?
Gak ada. Aku mau cerita aja. Sambil mengingat-ingat, dulu awal aku di Jogja, Bapak nelfon, nanyain aku udah punya teman apa belum.

Ternyata, gini rasanya jadi Bapak waktu itu.

Khawatir yang mengawang-awang.
Teman seperti apa yang akan ditemui di lingkungan barunya?
Seperti apa pengaruh yang dibawa oleh teman barunya?
Siapa teman barunya?

Karena…yha…you know lah…

4

23/01/2017; 7:30PM

this is kinda my bullet juornal when i was in highschool, and these four are my fav pages!!

1st one is literally my goal; like it is still tho right now; to join more MUN!! in the picture was the merchs of my first MUN which was HSMUN (High Scope Model United Nation) << literally i was alone travelling from Jogja to Jakarta only to join HSMUN but it was once in a lifetime experience;; i love it!!!

2nd is a doodle by my lovely friend (read: fighting bilfach!!) but the quote was written by me tho lol

3rd is a page of magazine i found left in my class desk lol i cut it because i love the quote!!!

4th is… a lifetime goal. despite of what happening now in usa with the trump won election, i still want to go there!! and it all listed as detail as where i want to go!!(i had this one dream with my boyfriend to go to the ice skating in new york omg)

i might start a 100dop very soon because im still working on my room sorry about my cleaning procrastination;( 

10

Jangan berhenti membaca; kita tidak tahu mana buku yang akan menjadi momentum hentakan kesadaran kita. Jangan-jangan buku lawas di pojok perpus akan jadi ledakan inspirasi selanjutnya.

Jangan juga berhenti menulis; lagi-lagi karena kita tidak tahu, tulisan kita yang mana yang jadi bagian dari momentum seseorang, jadi penggugah semangatnya, jadi pelebur laranya. Sebab penghargaan tertinggi seorang penulis adalah bila ketikannya bisa mengubah jalan hidup pembacanya.

@edgarhamas

*** *** ***

Sudah ketemu buku bacaan yang jadi momentum kamu? Jika sudah, tambah lagi, siapa tahu buku dari penulis pemula punya secuil kata-kata yang melengkapi puzzle pencarian jatidirimu, hehe. Atau jika belum, siapa tahu lembar-lembar buku ini bisa jadi pengantarmu mencari momentum terbaikmu. Siapa yang tahu, kan?

Buku ‘Untuk Kalian yang Rindu Perubahan’ akan ada di stand Pro-U Media di Jakarta Islamic Bookfair. Bersama beragam buku lainnya dari penulis-penulis Pro-U Media (Ustadz Salim A Fillah, Ust Sholihin Abu Izzuddin, Ust Felix Siauw, Ust Shafwan Albanna, Ust Fauzhil Adhim, Ust Jauhar Az Zanki, Ust Zulfi Akmal, Ust Hadrami dsb), kamu nggak akan nyesel udah menyambangi stand Penerbit kece ini. Buku-bukunya dijamin “menerbitkan gagasan dan cita-cita”, senada dengan tagline Pro-U sedari mula.

Kalo nggak sempat ke Jakarta-IBF, masih banyak kok di Toko buku Togamas Bandung-Surabaya-Jogja-Solo dll, Nurul Fikri, Rabbani, Iman Shop, dan Social Agency.

Selamat belanja buku, selamat tinggikan minat baca Indonesia 😃