iqballers

Podcast Subjective Episode 7: Ketika Youtuber Jadi Cita-Cita

Buat orang yang sering nonton Youtube, lagu Ganteng Ganteng Swag pasti tidak asing. Lagu hip hop yang menyuarakan keresahan para Youtubers tentang industri entertainment, khususnya TV.

“Youtube Youtube Youtube lebih dari TV!

Dan harus diakui, lirik Jovi di lagu ini sangat catchy dan nempel banget di kepala. Terakhir kali saya cek saat membuat tulisan ini, video Ganteng Ganteng Swag sudah mencapai 9,5 Juta view di Youtube.

Yang menyedihkan, video dengan lirik dan adegan eksplisit ini dibebaskan tampil tanpa age restriction atau batasan usia.

Hasilnya?

Waktu saya sedang jalan-jalan di timeline Twitter, saya melihat sebuah video dari akun @hati2diinternet, berisi kompilasi beberapa video lucu.

Diantara bagian dari kompilasi yang dibuat, ada beberapa video anak-anak SD melakukan cover lagu GGS sambil ngomong Fuck pencitraanI don’t give a fuck, dan mengacungkan jari tengah. Beberapa mengucapkannya dengan penyebutan yang kacau, yang menunjukkan bahwa mereka sebenarnya ga ngerti-ngerti amat yang mereka ucapkan. Mereka hanya mengikuti idola-nya.

Tak hanya itu, yang lebih menyedihkan buat saya adalah banyaknya anak-anak yang sok-sokan ngevlog dan bilang secara eksplisit bahwa mereka bercita-cita menjadi Youtuber.

Ya, kamu ga salah dengar. Anak-anak ini bercita-cita jadi Youtuber.


Internet semakin menggila, dan sosial media semakin merambah siapa saja. Tak terkecuali anak-anak dengan beragam usia.

Dan semakin ke sini, gempuran konten negatif semakin banyak dan saya semakin resah, karena anak-anak mengalami krisis idola dan panutan.

Panutan yang ada dan konten yang tersedia, hanya itu-itu saja. Dan inilah alasan kenapa saya gemas dengan orang yang cuma cerita soal cinta. Inilah kenapa seharusnya kita semua bercerita. Inilah kenapa kita semua harusnya membanjiri sosmed kita dengan karya.

Semua keresahan ini, saya tumpahkan di episode Podcast Subjective terbaru.

Saya bercerita tentang riuhnya dunia Youtube, konten negatif vs konten positif, dan memperluas definisi keren untuk anak muda.

Dengarkan di Soundcloud, iTunes, atau download dan jadikan podcast ini teman ngobrol di jalan.

Listen to me, and you will listen to my subjectivity.

2

”I have no regrets. I killed one hundred children. I could have killed five hundred. This was not a problem, nor was the money. But I pledged to kill one hundred and I never wanted to violate this.”
- Javed Iqbal

Pakistan’s most prolific serial killer Javed Iqbal being escorted by police to court. Iqbal sent an anonymous letter to a Lahore newspaper in December of 1999, confessing to the murder of a hundred children and then taunting the police for being too incompetent to catch him. 

When police raided his apartment they found the walls stained with blood, two vats of hydrochloric acid with human remains in them and a chain he had used to strangle the victims with. The victims, aged between six and sixteen years old, had all been sexually assaulted before being strangled by Iqbal. He was nicknamed “Kukri” due to the fact the bodies were dismembered with a kukri blade and then discarded in a nearby river. 

He along with three teenage accomplices were arrested in late December 1999. Iqbal was found suspiciously dead in his cell on March 16th 2001 by apparent suicide by hanging on a bed sheet. It is believed however he was the victim of foul play.

larasgitaran  asked:

Hai, mas Iqbal. Hari ini pertama kalinya gue nemu tumblr lo dan gak tau kenapa gue menikmati tulisan yang ada di sini. Bahkan gue dengerin podcast subjective episode 6 sampai selesai hahaha Selama ini sering banget, bahkan hampir tiap hari terjadi perdebatan antara gue dan sisi lain gue di kepala yang berebutan buat ngeluarin pendapatnya. Ternyata lo juga ngalamin hal yang sama, paling ngga gue sekarang tau kalo bukan cuma gue yang ngalamin itu. Nanti gue dengerin deh podcasts lainnya. Sukses!

Halo @larasgitaran​,

Salam kenal. Terima kasih sudah menikmati tulisan dan mendengarkan podcast saya, semoga bermanfaat :)

Saya bahas juga soal ini di segmen #jawabdipodcast episode 7. Saya percaya bahwa semua orang juga mengalami hal yang sama; punya otak yang berisik dengan suara-suara yang saling berdebat. Hanya saja, kadarnya berbeda-beda.

Sedikit cerita tambahan, saya baru baca kembali bahwa otak yang berisik adalah anugerah sekaligus masalah. Anugerah karena berarti otak kita bekerja dengan normal dan terus mengolah informasi, tapi masalah karena jika keberisikan ini tidak dikendalikan, kita justru akan tersesat pada eksplorasi yang tidak terkendali.

Karenanya, beberapa waktu belakangan semakin marak bahasan tentang mindfulness, tentang bagaimana kita secara sadar mengendalikan bagaimana otak kita berpikir.

Apalagi dengan ramanya dunia sosial media, banjirnya notifikasi, dan nagihnya scrolling di linimasa; berfokus dan menyadari diri sendiri semakin sulit untuk dilakukan.

Karenanya, berikut beberapa tulisan yang menarik dibaca untuk belajar fokus dan mengendalikan pikiran yang berisik:

  1. Social Media Detox: Identifying Addiction and Disconnecting From Your Newsfeed by Holstee
  2. 7 Tips on Reboot Smartphone with Mindfulness by Tristan Harris
  3. 12 Mindfulness Hacks You Can Use in 24 Hours by Larry Kim
  4. 11 Ways to Make Your Mind Calm and Peaceful by Lifehack

Selamat belajar mengendalikan pikiran, semoga bermanfaat.

Salam kreatif!

youtube

Check out Ayesha Iqbal-Perry’s new video!

Lovely lines from two great poets….


Iqbal says
Udne de in parindo ko azaad fiza me galib…
Jo tere apne hoge wo laut aaege kisi roz…

Galibs reply to iqbal~~
Na rakh Umeed-e-wafa kisi parinde se iqbal
Jab par nikal aate hai apne bhi aashiyana bhool jate hai…
Khuda ki mohabbat ko fana kaun karega?
Sabhi bande nek ho to gunaah kaun karega?
Ae khuda mere dosto ko salamat rakhna
Warna meri salamati ki dua kaun karega
Aur rakhna mere dushmano ko bhi mehfooz
Warna meri tere paas aane ki duaa kaun karega
🙌

I have a confession to make, and this may sound so selfish.

But these podcast things, are all about me.

At least initially.

Saya memulai Podcast Subjective untuk “mengobati” diri saya sendiri. Saya tertantang mengeksplorasi cara baru untuk jujur beropini. Saya merasa perlu menyalurkan suara-suara berisik di kepala ini. Dan saya ingin berbagi keresahan serta membangun diskusi.

Tapi dalam perjalanannya, saya tidak menyangka banyak respon positif yang saya terima. Yang paling menyenangkan, banyaknya pertanyaan dan bahan diskusi, baik via Email, Tumblr, Instagram, dan Twitter.

Sayangnya, ada banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab lewat tulisan

Untuk itu, saya sedang mencoba format baru untuk Podcast Subjective: 30 menit membahas topik yang ingin saya bicarakan, dan 30 menit sisanya menjawab pertanyaan dan diskusi dalam segmen #JawabdiPodcast.

Dengan format ini, harapannya tiap episode bisa membangun lebih banyak diskusi. Ask me anything, bisa tentang topik yang pernah dibahas, usulan topik baru, atau pertanyaan apapun - yang iseng maupun yang seru untuk didiskusikan. Kirim pertanyaan via Email/Twitter/Tumblr dengan hashtag #JawabdiPodcast.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

gadispenuhtanya  asked:

Assalamu'alaikum ka, aku penikmat karya2 kk :) Oia, ka..Kapan mau berkarya lagi yg quotes biologeek itu? Hehe.. aku slalu nunggu itu soalny sukaak bangeet. Lucuu unik gitu. Ditunggu selalu karya lainnya juga ya kaa 😆 Sukses terus buat ka iqbal :))

Waalaikumsalam,

Terima kasih @gadispenuhtanya! Semoga bisa menginspirasi dan bermanfaat :)

Ah, dan terima kasih juga sudah mengingatkan. Udah cukup lama belum update project Biologeek di Tumblr, walaupun sebenarnya udah sampai season 6 di instagram.com/biologeek.

Oh dan rencananya, saya dan Akmal (ilustrator Biologeek) akan ikut meramaikan Pop Con Asia 2016 bulan Agustus nanti.

Info lebih lengkapnya akan saya update lagi.

Terima kasih doanya, semoga bisa menginspirasi juga untuk ikut berkarya.


Thank you very moth!

Here is the #Wallpaper Entry bDesigned by Musawar e Iqbal Nauman Hameed

قوم مذہب سے ہے’ مذہب جو نہيں’ تم بھی نہيں
جذب باہم جو نہيں’ محفل انجم بھی نہيں

Qoum Mazhab Se Hai, Mazhab Jo Nahin, Tum Bhi Nahin
Jazb-e-Baham Jo Nahin, Mehfil-e-Anjum Bhi Nahin

A nation exists on din, you cease to exist if the din does not exist
Without mutual attraction the assembly of stars does not exist

From Jawab-e-Shikwa :http://goo.gl/EBGTFh

Kalian hanya cukup panggil aku iqbal, keluarga tercintaku biasa memanggilku abang, nama aslinya sih Iqbal Aulia Ramadhan, aku terlahir di kota subang, tanggal 01,01,1998. “Jujur gue anak baru di blogs” Cukup sekian dulu perkenalanya. Hehehe _ selasa,26,07,2016_22:40 WIB

Oldest litigant in India's disputed Ram Janmabhoomi-Babri Mosque case dies

The oldest litigant in the disputed Ram Janmabhoomi-Babri Masjid land case died on Wednesday (20 July) at his home in the temple city of Ayodhya in the northern Indian state of Uttar Pradesh. Ninety five-year-old Mohammad Hashim Ansari was suffering from heart-related ailments.

Following Ansari’s demise, son Iqbal said that he will now contest the case, which has been continuing since 1961, on behalf of the Sunni Central Waqf Board. The title suit case came into the limelight after a mosque on the disputed site was demolished on 6 December 1992, by members of a Hindu nationalist political party, leading to communal tensions in the country.

A tailor by profession, Ansari was reportedly the first appellant to file the case in the court of civil judge of Faizabad Municipality against the “illegal encroachment” – of land belonging to the mosque – allegedly by the Hindu Mahasabha.

“His health condition was not well for the past six years. He had undergone surgery too. But, today morning, he did not complain of any health problem. He was sitting in his room after taking tea. Suddenly he collapsed,” Ansari’s son, a Samajwadi Party worker, told The Indian Express. He added that Ansari will be buried in Ayodhya on Wednesday evening.

The Ram Janmabhoomi-Babri Masjid case is one of the most controversial cases in India, which centres the disputed land. Hindus term the land as Ram Janmabhoomi – meaning the birth place of Lord Rama – while Muslims dispute the claims arguing that the demolished Babri Mosque was built on that land in 1528 by Mughal emperor Babur.

The ongoing court dispute has caused many conflicts between the two communities. The demolition of the mosque led to riots across India wherein thousands of people were killed.

Related Articles