introv

Menuliskan Introver

Butuh waktu kurang lebih dua pekan untukku menyelesaikan naskahnya. Entahlah itu tergolong cepat atau lambat. Tak kusangka aku bisa menuliskannya di antara kesibukan pindah rumah yang amat menyita tenaga dan perasaan. Mungkin benar, apa yang lahir dari hatimu selalu lebih mudah untuk dituliskan.

Menulis tentang introver seperti menulis buku diari. Saat aku membaca ulang naskahnya, kepalaku mengait-ngaitkan tulisan-tulisan itu dengan kejadian-kejadian nyata yang aku alami. Tentang ketidaknyamanan saat berada dalam kerumunan orang-orang, tentang kecemasan yang seringkali berlebihan, tentang keaslian, tentang pertemanan, tentang kelelahan, tentang kesibukan pikirannya, tentang kesukaannya pada obrolan-obrolan berbobot, dan semua yang menjadi ‘perjuangan’ hidup yang dialami introver.

Suamiku yang ekstrover menyebut buku ini melankolis. Haha. Sebenarnya, buku ini hanya bermaksud untuk mendalami jiwa introver. Buku ini juga memuat berbagai kebiasaan introver, yang disampaikan lewat percakapan-percakapan imajiner. Mungkin beberapa tulisan terasa melankolis bagi sebagian orang, mungkin terasa menyemangati. Penjiwaan setiap orang mungkin berbeda beda. Pada dasarnya, buku ini mencoba membuat para pembacanya (yang introver) merasa dipahami dan para pembaca (yang bukan introver) bersedia memahami. Ya, sudah saatnya kesalahpahaman soal introver disudahi.

Menjadi introver di dunia yang semakin bising, bukanlah hal mudah. Dunia seperti lebih mudah menerima mereka yang senang berbicara tanpa lelah. Ada semacam stigma bahwa introver pemalu, tidak bisa berhasil, dan tidak bahagia. Hanya karena introver lekat dengan keheningan dan kesendirian. Sudah saatnya dunia berhenti menganggap introver sebagai kekurangan. Introver, bisa jadi menyimpan rahasia kedamaian hidup, sesuatu yang belakangan menjadi barang langka dan diburu oleh banyak manusia.

Baiklah, inilah dia anak yang kukandung sekian lama dalam rahim pemikiranku. Maukah kau menyambutnya?

Segera hadir ke dunia :
“Mendengar Nyanyian Sunyi”
Catatan penjelajahan ke ruang pikir introver.

  • me: I should really go out for a change, confinding myself in my home for so long can't be healthy
  • me: I could have one of those fun chill dates with myself that tumblr mentioned once
  • me: *thinks of places I could go read where there would be other people minding their own business*
  • me: *thinks of where to go if there's no room there*
  • me: *imagines going around from place to place trying to find a good spot for myself*
  • me: *imagines walking in crowds*
  • me:
  • me:
  • me: that's enough going out for one day yup let's say I went
Introver bukan antisosial. Ia hanya sangat selektif dalam menentukan bersama siapa waktu dan tenaganya ia habiskan. Sekali ia menentukan, ia akan sepenuhnya hadir. Sepenuhnya mendengarkan. Sepenuhnya merasa. Sepenuh hati. Tidak semua orang mampu memberi kesepenuhan hati yang sepadan, sehingga sikap introver ini rasanya dapat dimengerti
Psycholostory #34: Bukan Introver atau Ekstrover, Terus?

Beberapa pesan masuk ke inbox Tumblr saya menanyakan kapan saya akan menulis serial Psycholostory lagi. Saya kaget, karena ternyata serial ini ada yang baca! Hehe. Alhamdulillah, setelah sekian lama (banget), akhirnya sekarang saya menambah konten untuk seri yang baru. Di serial ke-34 ini, saya akan membahas salah satu dari sekelumit uniknya kepribadian manusia. 

Beberapa hari belakangan, sejak teh Urfa merilis buku tentang introver, dashboard Tumblr ramai membahas introver. Hal ini mengingatkan saya pada obrolan-obrolan dengan teman-teman di luar sana tentang introver-ekstrover. Lalu, hampir selalu ada pertanyaan yang muncul dari mereka, seperti misalnya, “Aku introver atau ekstrover, ya? Terus, kalau misalnya aku bukan diantara keduanya, gimana? dan seterusnya.

Dalam pandangan umum, ekstrover sering dipahami sebagai pribadi yang sociable dan akan mendapatkan banyak energi jika bersama-sama dengan banyak orang. Sebaliknya, introver sering dipahami sebagai pribadi yang senang tenggelam dalam pemikirannya sendiri dan baik-baik saja jika sendirian. Pembahasan yang dasarnya berawal dari teori milik Carl Gustav Jung ini memang menarik untuk ditelisik. Tapi, sebenarnya ada pembahasan yang berkaitan dengan hal ini yang rasanya tidak terlalu ramai dibicarakan, yaitu tentang ambivert: pribadi yang not totally introver tapi juga not totally ekstrover. 

Think of introversion and extroversion as a spectrum, with ambiversion lying somewhere in the middle.

Nah tuh, adakah disini teman-teman yang merasa ambivert? Atau justru belum pernah dengar istilahnya? Sini sini saya mau cerita~

Dulu, saya mengira bahwa saya adalah seorang ekstrover karena saya senang sekali jika sedang bersama-sama dengan orang lain, berjejaring, bekerja dalam kelompok, dan bisa mendapatkan energi lewat banyak pertemuan dan obrolan. Tapi, lama-lama, terutama setelah saya beranjak dewasa (cailah hmm~), saya mulai menyadari bahwa saya tidak sepenuhnya demikian, ada waktu-waktu dimana saya menikmati sendirian, asik dengan pemikiran-pemikiran diri, tidak ingin bertemu banyak orang, atau bahkan tidak mau dihubungi via apapun; dan itu sering terjadi. Bukan karena sedang bermasalah, tapi karena memang ternyata itu menenangkan dan membahagiakan untuk dilakukan. Kamu, apakah juga seperti saya?

“It’s like they’re billingual.” begitulah kata Daniel Pink (2013) ketika menggambarkan ambivert dalam bukunya yang berjudul The Surprising Truth About Moving Others. Iya, ambivert itu semacam bisa shifting dari introver ke ekstrover, begitupun sebaliknya. Lebih lanjut, salah satu artikel di Forbes berjudul 9 Signs that You’re an Ambivert menjelaskan, 

“Ambiverts are those who fall somewhere between an introvert and an extrovert, meaning sometimes you are the life of the party and other times you just want to curl up with a book to recharge your batteries.” 

Ah yaaa, saya lebih dari sepakat dengan penjelasan-penjelasan itu! Sejauh saya mengenal dan memahami diri sendiri, se-ambivert itulah saya. Lucunya, orang-orang sering mengira saya totally extrovert, mungkin karena mereka seringnya melihat saya diantara banyak orang, padahal itu tidak sepenuhnya benar. Meski setiap harinya saya berinteraksi aktif dengan orang lain baik secara online maupun offline, rasanya akan ada sebuah titik waktu dimana hal itu tidak begitu menyenangkan jika saya lakukan terus-menerus. Ada waktunya saya ingin sendirian sambil menulis, menonton, membaca buku, membuat lettering dan bermain-main dengan cat air, menulis, diam saja, atau apapun yang bisa mengembalikan energi saya.

Selepas bertemu banyak orang, apalagi jika jumlahnya puluhan atau berbilang ratus saat mengisi workshop atau seminar, biasanya saya benar-benar ingin punya me-time. Bukan karena super exhausted akibat merasa energinya terserap banyak orang, tapi lebih ke ingin mencari ketenangan dan atau berdialog dengan diri sendiri. Itulah mengapa biasanya orang-orang yang mengenal saya dengan baik akan bertanya dulu sebelum menghubungi atau bertemu, “Nov, kamu lagi available untuk diskusi dan ditemui engga?” dan jika saya sedang ingin sendirian, biasanya saya akan menjawab, “Tunggu sebentar, ya. Nanti aku berkabar.”

Saat masih sesekali praktik di Rumah Sakit, saya selalu jujur pada Psikolog senior untuk tidak memberi klien interview atau pasien konseling yang jumlahnya lebih dari 20 orang dalam sehari. Bukan lelah, tapi terus-menerus berbicara dengan orang yang berbeda-beda sepanjang hari secara bergantian, meski masing-masingnya hanya 30-45 menit, pada akhirnya bisa membuat saya merasa tidak nyaman dan tentunya jadi banyak kerjaan laporan kan kalau kayak gitu haha. Ketika pulang, saya sudah tidak ingin bertemu banyak orang lagi. Meski mungkin tak sama, adakah diantaramu yang merasakan hal-hal serupa?

Menariknya, hasil penelitian tentang fenomena kepribadian manusia yang dilakukan oleh seorang profesor bernama Adam Grant Wharton dari School of the University of Pennsylvania mengatakan bahwa, 

dua per tiga manusia di dunia tidak dapat secara spesifik diidentifikasikan sebagai introver atau ekstrover; mereka adalah pribadi-pribadi ambivert, yang memiliki kecenderungan untuk bisa menjadi introver dan bisa juga menjadi ekstrover

Bagaimana ciri-ciri ambivert?

Biasanya, pribadi ambivert tidak bermasalah jika harus bekerja dalam kelompok atau sendirian; situasi sosial bukan membuatnya tidak nyaman, hanya saja ia akan kelelahan jika terlalu banyak dan terus-menerus berada di tengah situasi sosial tersebut; menjadi pusat perhatian sebenarnya bukan masalah, hanya saja ia tidak terlalu suka untuk selalu diperlakukan demikian; di satu sisi ia pendiam, tapi di sisi lain ia adalah pribadi yang highly social; dapat mudah berbaur dengan orang lain, sama mudahnya dengan ia tenggelam bersama dirinya sendiri. Apa lagi, ya? Kamu yang merasa ambivert apakah ada yang ingin menambahkan?

Tidak ada yang salah dengan menjadi introver, ekstrover, atau ambivert sekali pun. Sebab, setiap manusia diciptakan Allah dengan keunikannya masing-masing. Maka, untuk setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, semoga kita senantiasa bersyukur dan tetap bangga menjadi diri sendiri. Bagaimana dengan memperlakukan orang lain? Perlakukanlah dengan benar, baik, dan tulus sebagaimana mereka ingin diperlakukan. Sebab, sebagaimana dirimu, setiap diri berharga, setiap hati istimewa, dan setiap perasaan ingin diterima. Salam Psycholostory!

_____

Untuk membaca serial Psycholostory yang lain, silahkan klik disini.

Ti-Ne vs. Ni

Submitted by soratie

As an INTP, I had problems to understand the Ne vs. Ni descriptions first. Mostly because I over-analyze. From my point of view Ti-Ne can look similar to Ni. But only partly.

If Ni is described as trying to find the truth, the path, the one right thing, my Ti-Ne gets excited: me too! If Ni is described as trying to fit new ideas to their beliefs and trying to go deep on a topic, my Ti-Ne cries: that’s so me! I continuously try to fit new ideas to my logic*! 

But if Ni is described as believing in that one truth, my Ti-Ne rolls it’s eyes and says that you don’t have any logical proof that that’s true. You just haven’t thought as deep on other possibilities. Have you thought about this? And this? And this? And if Ni is described as having a plan for future, my Ti-Ne laughs: how can you decide on something like that because of all of those possibilities that you haven’t thought about fully yet?

Ne, on the other hand, is usually described as all around the place with it’s ideas. My Ti-Ne is confused: for me the ideas need to be in some sense logical. Not realistic, but logical. And as soon as the idea is decidedly not logical, I lose interest. Or when it’s fully discussed and the conversation gets repetitive. But this is also why I can discuss one topic for a long while as I try to get to the bottom of it. To the pure theory of it. But I need to evaluate it against all the other possibilities at the same time. I don’t like just scratching the surface if there is something interesting underneath. But I confess: often my Ne leads a conversation to other directions even when I wanted to get new ideas for this one theory I had. And I only realize this afterwards when I have more time to use my Ti.

(*With Ni it’s apparently not logic but inner sense of something. But if the wording does not explicitly state this, my mind finds loop holes…)

PS. I don’t roll my eyes or laugh at people out loud. My Si and Fe remind me that it’s mean. And my Ti-Ne admires people who can believe that they know the truth. It seems logical that they might be more happy in this world.

No Jam (Part 2)

Characters: Reader x Markson (GOT7)
Genre: Angst, Fluff, Slice-of-Life
Words: 4400

Plot: He said you were boring–not enough. You agreed. You were happier on your own anyways. But six months later you find yourself on a blind date with a new guy and late night talks with another. Looks like being forever alone is not on your agenda.

[Part 1] [Part 2] [Part 3]

[Masterlist]

a/n - Yes, there is going to be a part 3 after all ^^ Thanks for reading!~

-

I stood outside the coffee house, fingering at my white sun dress and tapping my pink heels against the pavement nervously. Today was going to be the second date with Jackson and for some reason I was more nervous now than last time. Perhaps it was because we were going to go out this time, or maybe it was because I was more committed now. 

I hadn’t really considered last time to be a date. In my head, it was just a meeting and Jackson had arrived a whole hour early so I didn’t even have enough time to get nervous. So here I was, in one of my favorite dresses that suddenly felt too short and wearing the most make up I’ve ever had on my face since the break up six months ago.  

I couldn’t help feeling like I should’ve worn something else. Jackson refused to tell me what he planned for today. He insisted on surprising me and I had a gut feeling that I shouldn’t have worn white…or a dress for that matter. 

But as I was contemplating whether to go back home and change, Jackson came rushing my way looking like sunshine with his blond tresses and wide smile. He was in a casual t-shirt and jeans and suddenly I felt overdressed.  

But my worries were quickly pushed aside when I saw what he was holding. 

“You brought Bob?!” I exclaimed in disbelieve, giggles bubbling out of me. Jackson answered with a high-pitched laugh, holding the potted plant out proudly.

Keep reading

anonymous asked:

I just recently found out about the whole mbti types. That being said I don't know as much as I thought I did (very little I'm coming to learn). I keep seeing references to Ni Te stuff like that. I know they stand for letters of the types (right?) but I'm still confused as to what they mean. I kinda understand on some weird level but at the same I don't which is really annoying. I tried looking it up but that just further confused me so I was wondering if you would explain?

So in the theory in its purest form (which stems from the Jungian theory of psychological types), it isn’t about the letters of your type. How they always describe it: 60% extraverted, 35% intuitive, 8% feeling, 22% perceptive; that means nothing.

It’s about the cognitive functions associated with your type. Cognitive functions are basic mental processes, and there are 8 of them (Ti, Te, Fi, Fe, Si, Se, Ni, and Ne). The extroverted functions are ways of interacting with the world. The introverted functions are ways of reflecting on yourself and what you know. 

You can find out what they stand for and which type has which functions here on my Functions page. It provides a very brief, technical overview of each function, but I’ll go more in detail here.

This is gonna be really boring unless you’re genuinely interested in the topic, so I’m sorry in advance >.<

JUDGING FUNCTIONS

Ti - Introverted thinking. People with a strong Ti interpret things based on what they already know and what makes sense to them. They make decisions based on what seems like the smart thing to do. Also tend to think outside the box a lot. People with a strong Ti think things through before they talk because they need time to process their own thoughts. Otherwise, they’ll just start rambling. A lot of times, Ti is content with just thinking their opinions through and knowing they make sense. They feel little need to voice their opinions. They use logic on their own terms, and that’s it; that’s why they gravitate towards theories over facts; they don’t need things to be accurate; they just need them to make sense and be possible. They also like things to be mentally stimulating. TPs have a strong Ti.

Te - Extroverted thinking. People with a strong Te make decisions and base their opinions on a solid foundation - facts, something that’s known to be true. Unlike Ti, people with a strong Te don’t need things to make sense to them; they just need them to hold true. They’ll often find yourself “organizing the real world” because compartmentalizing everything and giving everything its own place makes it easier for them to apply logic externally. Tend to like voicing their opinions more because if they can correct someone, they’re doing the person a favor. They also tend to strive for efficiency and accuracy, so they’ll always trust what’s proven. These are the people who want to take logic and apply it practically to improve things. They want to take their ideas and turn them into something more. TJs have a strong Te.

Fi - Introverted feeling. People with a strong Fi interpret things based on how they feel and what seems right to them. They have a filter of their emotions that all information goes through, so everything they know is based on how they feel; it’s all subjective, and they like it that way. Accuracy doesn’t matter to them much; neither does objectivity because what that really is, is removing yourself from a situation, and honestly, what’s the point of that? If it concerns you, why remove yourself from it? It’s more important to assess how you feel and make decisions based on what makes you happy. Fi thinks through things based on how they feel and can sometimes over-analyze other people’s feelings and take it personally. That’s why people with a strong Fi are likely to fall into depression. In conversations, they’ll talk about personal things to connect with people. They value sincerity a lot. They don’t want you to quote song lyrics to them because that’s so typical; they want to know how you feel in your own words because that’s what really matters. FPs have a strong Fi.

Fe - Extroverted feeling. People with a strong Fe make decisions based on how everyone feels, and how that makes them feel. They actively engage in other people’s feelings and are always in tune with the mood or atmosphere in a room. They like to keep that atmosphere up, and are often the types to radiate energy to do that. Fe, like I said before, is the type that would dance at a party because of the exhilarating atmosphere. They’ll also get everyone a round of drinks because that has the same effect. They like being polite and will always be respectful towards what’s appropriate. In conversations, they’ll always be actively engaged. They’ll laugh at your jokes because that’s a nice thing to do. The only time they won’t do so is when the “joke” isn’t funny and is actually offensive. They take offense towards other people pretty personally and will defend people with no hesitation. Fi is loyal to the people so close to them that they’re a part of them. Fe is loyal to everyone; you’ll often find that activists have a strong Fe, and they’ll preach on what’s right with a passion because everything they do is with a strong passion. FJs have a strong Fe.

PERCEIVING FUNCTIONS

Si - Introverted sensing. People with a strong Si internalize information based on familiarity and act based on personal experience. They like knowing what to expect and often abide by personal schedules. They trust nothing more than experience because the past is the best resource we have. It’s not people who’ve researched the topic who know what they’ve talking about but people who actually have experience with the topic. They also tend to be very sentimental. They love gifts that are personal and have a lot of thought behind them because that’s how they assign value. They like things to be memorable and to mean something, so much so that they’ll become stories that they’ll tell for the rest of their life because their memories will be their greatest treasure. While telling stories, they pay a lot of attention to detail because they remember things like how it smelled or what the place reminded them of. They are usually very consistent with their opinions and what they believe, and this makes them very stable and trustworthy as well (ideally). SJs have a strong Si.

Se - Extroverted sensing. People with a strong Se experience the world with full speed ahead and live in the moment. It’s not about learning from their past experiences but about creating new ones that they’ll remember for the rest of their life. They tend to be very hands-on; they learn by doing things. Watching a demo isn’t likely to help as much as doing the experiment themselves. They’re also very in tune with their senses and aware of their environment because of that. They get bored of routine pretty easily and always like to be doing something different. When they’re out with their friends, they’re generally not the type to be on their phone or do their own thing; they like fully engaging in what’s going on. People with a strong Se are really easily affected by their environment. If the mood is low and depressing, they’ll feel that way too. If it’s happy and full of energy, that’s how they’ll be. SPs have a strong Se.

Ni - Introverted intuition. People with strong Ne have strong intuition, and they can come up with ideas with little external situation. When they have ideas presented to them, they expand on them inwards. They see the bigger picture first and closely observe the details later. So they’ll work with one idea at a time, one picture, and then explore the different facets of the idea by connecting it to things they already know. It’s a very arbitrary process, and they won’t know how got from Point A to Point B, nor will they be able to explain it to anyone else. People with a strong Ni are really good with understanding different interpretations of one thing, but it’s a bit limited to what they know. Ni is also linked with imagination, so people with Ni tend to be very imaginative. Because it’s introverted and free of external stimulation, they don’t go wild with their imagination though; they keep it relevant and don’t find it hard to stay on task. They love research and finding more and more things about a certain topic. NJs have a strong Ne.

Ne - Extroverted intuition. People with a strong Ne are very intuitive, but their intuition works closely with the outside world. When ideas are presented to them, they expand on them outwards. They’ll think of each idea as a detail itself in a bigger picture, and they’ll connect it with other details (other ideas) to get to the big picture. They work with multiple ideas at a time and often jump from one to the next very quickly, leaving a messy train of thought. They tend to be good at brainstorming. They can’t sit still and quiet for a very long time because there’s stimulation all around them. They also often have a very hard time falling asleep because their own ideas keep them awake. They’re often very good at arguments and debates because they can look at things from different people’s points of views. Though they may not understand certain views, much less agree with them, they can follow how they got to that conclusion. Structured debates aside, they also love discussions in general. They love research too, but they never stay on topic because they get caught up so easily. Their imagination is wilder, but they need external inspiration as a jump-start. NPs have a strong Ne.

FUNCTION STACK

They’re the 8 functions, and you have 4 in your function stack.

The first is the dominant function, the one that people always default to and use primarily when interacting with the world (if it’s extroverted) or when reflecting on it (if it’s introverted).

The second is the auxiliary function, and it’s the second in command. If the dom is extroverted, this one’s introverted and the primary mode of reflection. If the dom is introverted, this one’s extroverted and so the primary mode of interaction. It’s used less than the dominant function but is still one of the primary functions.

The auxiliary function works closely with the tertiary function or the third in line. These are always a pair. If the second is Ni, the third will be Se. If the second is Fe, the third will be Ti. If this pair is a perceiving pair (N/S), your intake of information will be more stable and balanced. If this pair is a judging pair (T/F), your decisions/opinions will be more balanced and thought out. 

The last function is the inferior function, and it’s always paired with the dominant in the same way. These two don’t work together well though because the dom is so much stronger and used all the time. The inferior function kicks in under stress or when a person feels helpless and unable to use their dominant function. If this is a perceiving pair (N/S), you’ll primarily only take in information one way. If this is a judging pair (T/F), you’ll be quick to make decisions or have opinions.

This isn’t the case only if your inferior function is actually developed. In that case, you’ll be more stable, and your personality will be more well-rounded because all your functions will be able to work together much more easily. This takes time though.

The other 4 functions that you don’t have are called your “shadow functions.” Some say you still use them, but I don’t believe you use a significant amount. I don’t think you can treat the world two opposite ways, you know? So there’s no need even trying to develop those functions; it’s a lost cause.

I hope this helped; if you have any other questions, feel free to ask.

sukarela

waktu kita masih SMP, menjadi anak OSIS itu hits sekali. saat pendaftaran menjadi anggota OSIS dibuka, yang ikut sangat banyak. pesan-pesan guru dan kakak kelas yang teringat pertama kali adalah–bahwa melakukan sesuatu dengan sukarela itu keren. menjadi panitia bakti sosial, menjadi panitia pensi, menjadi kakak MOS (yang super galak), atau sekadar menjadi pengelola mading.

semakin besar, semakin sering kita diperkenalkan dengan istilah menjadi sukarelawan–melakukan kegiatan secara sukarela. waktu kuliah, kita berbondong-bondong ikut organisasi dan kepanitiaan. sebagian ada yang benar-benar niat membantu. sebagian lagi, berburu tambahan daftar CV.

kata penelitian, orang yang dengan rutin melakukan kegiatan sukarela selama beberapa jam setiap minggunya cenderung lebih bahagia daripada yang tidak. saya rasa, karena ini jugalah, mengikuti kegiatan sukarela menjadi semacam gaya hidup anak muda sekarang–yang menurut saya sih bagus banget!

suatu hari, saya pernah merasa terpanggil untuk ikut kegiatan sukarela yang lumayan ekstrem: mengajar satu tahun di pedalaman–untuk seumur hidup menginspirasi. namun, Ibu saya menolak ide ini sebab menurut Ibu, orang lain bisa menggantikan peran yang ingin saya jalani di entah berantah itu, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan peran saya sebagai saya di rumah dan di perusahaan dan yayasan keluarga kami. tentu saja saat itu saya kesal. padahal, saya yakin bisa belajar banyak sekali dari pengalaman tersebut. terlebih, adalah karena saya bukan anak tunggal. ah, bisa saja kan peran saya diganti Mas Uta, Dek Ute, atau Dek Uto?

sore ini Ibu menelepon. Ibu bercerita sedang di jalan, disetiri Dek Ute. Ibu bercerita bagaimana adik saya kini melakukan semua hal di rumah yang dulu biasa kami lakukan berdua. mengantar Ibu ke mana-mana, membantu apapun yang Ayah dan Ibu perlukan, termasuk, merawat Eyang yang sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur. setiap hari Dek Ute membuatkan bubur untuk Eyang, menyuapi, memandikan, menggantikan popok, merawat luka ulkus dekubitusnya, membersihkan kamarnya, membukakan dan menutupkan jendela, juga menggunting kuku Eyang seminggu sekali.

Dek Ute ini, hampir seratus delapan puluh derajat berseberangan dengan saya. kalau saya ekstrover luar biasa, dia introver luar biasa. kalau saya senangnya main-main di luar, ikut organisasi dan lain sebagainya, Dek Ute senangnya di rumah, memberi makan kucing-kucing liar yang lewat, atau menyikat kamar mandi dan beberes kamar.

sekali lagi Ibu mengingatkan saya tentang kesukarelaan, Dek Ute yang menjadi teladannya. sering kita berpikir bahwa kesukarelaan adalah melakukan sesuatu yang bisa mengubah hidup banyak orang, yang menginspirasi banyak orang, atau kadang–yang harus tersorot. kita lupa bahwa kesukarelaan sejatinya dekat dengan kita, kesempatan melakukannya ada di mana-mana. melakukan pekerjaan yang lebih dari yang diminta atasan di kantor adalah kesukarelaan. memberikan bantuan agar rekan-rekan sejawat lebih mudah bekerja adalah kesukarelaan. membantu mengisi kuisioner teman yang sedang penelitian adalah kesukarelaan–masih banyak lagi bentuk kesukarelaan lain.

kita biasanya senang dengan ukuran-ukuran ini: jauh, besar, banyak. kadang kita lupa, bahwa kesukarelaan bisa juga berarti menjadi bermanfaat bagi yang dekat, kecil, sedikit. sebab sejatinya, manfaat kesukarelaan tidak terletak pada ukurannya, melainkan pada makna bagi mereka yang menerima.

kesukarelaan adalah apa saja yang dengan sangat ikhlas kita lakukan.

ssstt

“Solitude matters, and for some people, it’s the air they breathe”

Apa yang salah dengan menjadi seorang introver? Teka-teki itu pertama kali mengemuka di pikiran saya pas umur 13. Pas lagi gemes-gemesnya. Memilih untuk menyendiri karena ada kesenangan dalam kemandirian, dibilang angkuh enggak mau merengkuh. Membisu karena ada ketenteraman dalam kesenyapan, dibilang sombong enggak mau ngomong. Aduh. Enggak, bukan gitu!

Karena dulu enggak masuk TK, saya terbiasa gilsen alias gila sendirian. Selalu asyik dengan atlas dunia atau tamagotchi di genggaman. Enggak pernah ada masalah. Semua permai, semua damai. Satu Dollar Amerika waktu itu, setara dengan 2300 Rupiah. Stok boneka Pikachu pun aman terkendali di pasaran. Tapi kaya yang saya ceritain di awal, kegelisahan sebagai seorang introver tumbuh lirih sampai sewindu kemudian. Enggak heran kalau buku-buku psikologi jadi pelarian masa remaja. Saya terus nyari jawaban.

Emang enggak semua orang paham setelan alami kaum introver. Enggak jarang kami disebut aneh. Lebih aneh lagi karena hobinya sensi dan mikirin segala rupa dari A-Z. Nyatanya, karakter seseorang enggak pernah mateng semaleman. Ada rentetan waktu, kejadian, pembelajaran dan pilihan yang campur aduk. Enggak adil kalau introver dicap sebagai golongan kelas dua karena social judgment.

Sampai akhirnya saya ngeh kalau judgment yang dimaksud, nongol di bahasan buku Quiet-nya Susan Cain. Istilahnya, extrovert ideal. Quiet jadi harta karun karena akhirnya saya nemu jawaban kegelisahan setelah sekian lama. Extrovert ideal diartikan sebagai keyakinan kalau para extrover punya kepribadian sempurna: suka berteman, dominan dan nyaman dalam sorotan.

Pandangan ini dateng dari histori kebudayaan Yunani-Romawi yang lagi gandrung berpidato, kala itu. Simak aja di film-film sejarah. Mereka yang ngandelin orasi lebih diunggulkan ketimbang mereka yang ngandelin kontemplasi. Per saat itu, golongan introver dillat sebagai golongan yang akrab dengan kekecewaan dan kesedihan. Jauh dari gambaran ekstrover yang bergelora dan gegap gempita. Seolah lebih hidup. 

Extrovert ideal akhirnya jadi jebakan buat banyak orang. Contohnya, kerja rame-rame dinilai jadi cara kerja paling bener. Sekat-sekat di kantor makin memendek atau bahkan lenyap enggak bersisa. Sementara kan enggak semua orang jadi produktif dengan cara kerja begitu. Ada sebagian yang risih, butuh konsentrasi lebih dan keramaian cuma bikin pikiran gampang mendidih. Mereka pengennya bilang “please kindly go away, i’m introverting” di waktu tertentu, tapi enggak bisa.

Alhasil, jebakan itu ngerugiin kaum introver untuk dua hal. Pertama, mereka suka dipandang sebelah mata karena kecanggungan yang khas. Kedua, mereka sering maksain diri pura-pura jadi ekstrover. Mereka lupa kalau kelebihan dan kekurangan bak dua sisi koin yang selalu hadir di setiap hal. Ekstrover itu keren, tapi ada jeleknya. Introver juga. Yang jago ngomong tuh menawan, yang jago nulis juga. Keramaian itu seru, ketenangan juga syahdu. 

Kepura-puraan cuma mengaburkan jati diri. Saya masih suka protes sih sama diri sendiri: come on, why can’t you just be yourself? 

Kalau Susan Cain boleh kasih masukan ciamik untuk mereka yang introver, dia bakal bilang “stay true to your own nature. If you like to do things in a slow and steady way, don’t let others make you feel as if you have to race. If you enjoy depth, don’t force yourself to seek breadth”. Tinggal atur-atur aja supaya semuanya harmonis.

Semakin jadi diri sendiri, semakin besar kesempatan kita untuk ngerasa hepi. Duduk sendiri di toko eskrim dan larut bersama buku kesayangan. Melipir ke bioskop beli satu tiket untuk nonton film kekinian. Parkir mundur kendaraan dengan pemutar musik yang dimatikan. Semua dilakukan demi sensasi tenteram yang susah dijelaskan. Absurd, ya? Mungkin. Abis perkara saat ternyata cara absurd itu justru bikin saya dan banyak orang di luar sana bahagia.

Jangan menghakimi kesendirian, jangan meremehkan kesunyian. Kita enggak pernah tau, apakah keduanya lahir dari sebab-akibat atau emang sebuah pilihan.

Kalau menyendiri adalah dosa terlarang, mungkin sampai sekarang budaya Barat enggak akan mengenal komputer Apple, teori relativitas, kisah Harry Potter atau lukisan bunga matahari nya Van Gogh. Karya-karya monumental itu lahir dari kesendirian yang disengaja dan malam-malam panjang tanpa suara.

Jadi, ssstt. Jangan berisik dulu, ya.

Are you done? (Jay Park x Reader)

This is for my bitch at @khiphoponeshots. I love you bitch!

—————-

You met Jay at his apartment building. Your bestfriend was moving next door so you helped her move, since she helped you move you owed her. He saw you at the elevator, well sort off, whne the doors opened, he just saw two hands, a big box and two long legs. He walked in and saw you were going on the same floor

“Moving in?”

He asked you. He got a glimse of your face, you were sweating and biting your lip

“My best friend”

Your replied to him. The doors opened and as you were about to walk out, he stopped you and took the box from your hands

“No no no, it’s okay”

“I got it, just show me the way”

He said. You smiled gratefully at him and walked out, with him following you, you stopped infront of your bestie’s open apartment door and turned to him

“I’ll take it from here, thank you so much”

You thanked him, taking the box back to your arms. He smiled a beautiful smile, with his pearly white teeth

“You are welcome”

“I’m Jay by the way”

“Ari, I would shake your hand but i’m a bit full”

You joked, he chuckled and said his goodbyes.He started to walk away, thinking if he should turn around or see if he meets you again. He cursed in his mind, turning back to your direction.

“Hey ummmm me and my friends are having a party tonight, would you and your friend like to join?”

“Sure”

———————

It didn’t take long for Jay to claim you as him. To him you were absolutely perfect from the inside and out, your soft long dirty blonde hair that went down your butt, your hazel eyes. Your full bottom lip, your strong thighs, your slender arms, your introver habits, the love for dancing, your interesting past, everything was so exciting to him.

You trusted Jay 100% and no one could change that. You knew he was extremely loyal and he always considered your feelings, so at first you didn’t really pay attention to the late texts or his strange behaviour, you just thought it was stressed. But it started to happen often, you were starting to get anxious

One night he comes home and he is a bit tipsy, so you help him get to bed, you take of his pants and all that. A receipt fell out, it was from a gas station and it was regular gas, that’s strange cause he doesn’t use regular gas.

Next day Jay wakes up with a headache, thank god for him he didn’t have to work today. Since he had planned everything for you, but as soon as he walks out of the room and sees you mad as fuck, with a tea mug on your hand he knows something is wrong

“Good morning babe”

He said, touching your hand. You push it away and turn your back to him, your hair slapping him in the face

“Don’t touch me”

He started thinking what he has done, his mind went in on anything you could be mad. Did he let the toilet seat up again? He remembers that he took the trash out, so what was wrong?

“Baby what did I do?”

You put the tea mug down, turning back to face him. Anger written all over your face

“Yesterday you came home and you were tipsy. So as a good girlfriend I helped you get to bed, but as I was putting your clothes away a receipt came out. It was regualr gas, that’s funny I’ve never seen you put regualr gas, I’VE NEVER SEEN YOU PUT REGULAR GAS, you know who put that regular gas? that regualr bitch you was with, the one you are texting and calling these past few weeks”

You were snapping, you were legit pissed, your eyes were all wide and shit, you were yelling to emphasize your invalid point. He tried to hide his laugh, most of the time you were right, you were always right, but now you were wrong, he was waiting all this moment for this one motherfucking time he can prove you wrong. He started laughing, making you even more mad

“Are you done? no… are you done? You’re done right? You sure? okay….”

You were confused. Why was he laughing, you just accusted him of cheating, and he was laughing like you told a joke

“First off, you are stupid cause the regular gas was put from Seonghwa because he was driving, yesterday I was drunk and I knew you would get mad at me if I drove so I gave him the keys, I was out of gas so he quickly put gas before anyone saw us. Now the calls and texts were to your best friend, cause I planned a two day getaway to a spa resort for your stupid ass, since you are whinning I work too much”

You were looking at him, blinking rapidly. He kept laughing at your face, he finally had this moment! you were the one that didn’t know what to say, that was wrong. Your mouth was slightly opened, you honestly looked like a cartoon

“I…. you”

“You are dumb and i’m the best boyfriend”

He said. You looked down at the well polished floor, blushing like crazy

“Now next time you want to accuse me of cheating try to look into it”

He wrapped his arms around your defeated figure. Enjoying the moment! I mean this doesn’t really happen often, it was time to celebrate this

“i’m sorry”

“What did you say babe?”

“I’m sorry, I was wrong”

“YES!”

He threw his fist in the air, smilling like a chamption. he started running around the kitchen, chanting and yelling like a maniac making you laugh

“Babe get off the kitchen table, I cook here”

You told him. He got down and hugged you one more time, his arms on your waist

“Now pack your bag, we have to go celebrate my triumph by getting a massage and other shit they have there”

You giggled and walked to the bedroom. Him smacking your ass when you walked by, you were used to it so you didn’t say anything. You packed everything you needed, but Jay had one more surprise

“Pack these two”

He ordered you, handing you a box. You took it and opened it slowly, inside of it there were a bunch of thongs and bras, in different colours. You quickly closed the box and looked at him

“What? You didn’t think we are just going to get massages there did you?”

Originally posted by ygnj

Sosial Media: Mengamini Gender Stereotype

“Cewek tuh gak suka nunggu.”

“Cowok tuh kalau di depan orang yang dia suka ga mau kelihatan lemah, misalnya kalau ga tau jalan ga mau nanya orang, kalau ga bisa ga bakal minta tolong.”

“Cewek tuh kalau sedih selalu berusaha nutupin kesedihannya dengan senyum.”

“Sesibuk-sibuknya laki-laki akan memikirkan orang yang dia sayang sebelum tidur.”

Dan bla bla bla.

-

Ya emangnya siapa juga yang suka nunggu? Atau apakah laki-laki semuanya nggak mau nanya karena takut kelihatan lemah, ya gimana kalau justru saking udah akrabnya jadi berani aja nanya sama orang? Atau apa hanya perempuan yang responnya demikian ketika sedih dan laki-laki ngga mungkin gitu? Siapa juga di antara kita yang ngga pernah mikirin orang yang penting untuk kita ketika mau tidur?

Di media sosial ada banyak banget klaim-klaim seperti tersebut di atas yang biasanya mengatasnamakan gender tertentu. Selama ini kita selalu berpikiran bahwa ada beberapa trait bawaan yang beda antara laki-laki dan perempuan yang semasif itu perbedaannya. Laki-laki itu gak cengeng, lebih kuat. Perempuan itu ga kuat, lemah lembut dan emosional. Kita selalu berkiblat pada label-label mengenai appropriate behavior dari dua kelompok itu dalam mempersepsi orang lain dan pengambilan keputusan. Permasalahannya adalah apakah label itu presisi? Dan kalau nggak terus kenapa banyak sekali orang yang justru menyebarluaskan konten itu di media sosial?

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah nggak pernah ada penyantuman sumber yang jelas mengenai dari mana datangnya klaim-klaim tersebut dan kalau gitu saya bisa menyimpulkan itu bukan berbasis research. Kedua, kalaupun itu hasil research, research itu sendiri belum tentu langsung bisa secara saklek diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam konteks ilmu sosial.

Basis yang perlu diketahui ketika kita ingin mencari tahu soal tingkah laku manusia adalah keberadaan dua approach dalam psikologi, yaitu nomothetic dan idiografik. Nomothetic itu simplenya pendekatan fokus pada kelompok besar dan melebar. Tujuannya adalah untuk mengambil kesimpulan berdasarkan mayoritas-nya seperti apa. Contohnya, misalkan kita mau bikin penelitian dengan hipotesis bahwa orang yang menikah subjective well being-nya lebih baik daripada yang tidak menikah. Kalau dari 100 partisipan yang menikah dan 100 partisipan yang belum menikah dibandingkan subjective well being-nya (dengan metode statistik tertentu pastinya) dan yang menikah skornya lebih tinggi secara signifikan, ya berarti kesimpulannya terdapat perbedaan signifikan antara subjective well being orang yang menikah dan yang tidak menikah di mana individu yang menikah memiliki subjective well being yang lebih tinggi daripada individu yang tidak menikah.

Pertanyaannya, apakah di dunia nyata ada individu yang tidak menikah tapi subjective well being-nya lebih tinggi daripada yang menikah? Ada. Yang dibandingkan itu adalah rata-rata kelompoknyanya, which means sebenarnya ada aja orang yang walau nggak menikah subjective well being-nya lebih tinggi, tapi dalam research tersebut skornya ketarik oleh skor di bawah-bawahnya. Intinya, karena basisnya mayoritas, si minoritas-minoritas itu nggak bisa ter-capture dalam research.

Sementara idiografik adalah pendekatan yang fokus pada keunikan individu. Jadi bentuknya semacam case study. Berkebalikan dengan research, pendekatan ini berusaha memberikan ruang untuk orang-orang yang biasanya merupakan minoritas-minoritas seperti yang tersebut di atas tadi dengan pendekatan yang mendalam. Biasanya pendekatan ini digunakan psikolog untuk menangani kasus-kasus istimewa.

Masalahnya, who’s to decide which one’s special? Because we are ALL special cases. Tes kepribadian semacam MBTI aja agak diragukan di dunia akademik karena mustahil banget membagi semua manusia di muka bumi ini jadi 16 kategori berdasarkan dikotomi-dikotomi ekstrover-introver, intuitive-sensing, etc. Bagaimana mungkin membagi ke dalam pilihan-pilihan yang eksklusif? INFJnya saya dan INFJ-nya kamu bisa aja masih beda kan?

Yang menjadi pertanyaan besar adalah “Terus buat apa research? Udah susah-susah masih nggak 100% yakin juga.” Research itu bisa kok dijadikan pijakan asalkan:

  1. Ketahuilah bahwa level keyakinan mengenai hasil research itu 95%-99%, yang berarti masih terdapat kemungkinan 5%-1% bahwa hasil penemuan itu salah.
  2. Lihat dulu partisipannya, latar belakang budayanya, siapa tahu karakteristik partisipan itu yang menyebabkan hasilnya jadi demikian. Kalau mau dibilang perempuan itu lebih empathetic, perempuan umur berapa? Suku apa? Tinggal dimana? Pekerjaannya apa? Hal ini akan mempermudah untuk generalisasi yang sesuai dengan konteksnya. Bukan generalisasi yang bablas seperti yang selama ini kita tahu.
  3. Research berupaya mengambil kesimpulan dari beberapa sample yang dianggap mewakili populasi. Apa teknik samplingnya udah tepat? Apakah representatif?
  4. Tujuan research adalah mencari gambaran umum dari mayoritas orang, bukan untuk menilik keunikan antarindividu. Jadi, kalau mau menilai orang jangan semata-mata berbasis pada research, because in fact, we know them personally.

“Kata psikologi kalau laki-laki suka tuh bakal maintain eye contact tau!! Itu dia ngeliatin aku terus.” Hadu mba ya gimana ya mba manusia kan punya mata.

“Gue sampe ketiduran nunggu balesan chat dari dia. Perempuan tuh suka kalau diusahain.” Ya emang laki-laki ngga suka diusahain juga? Btw, ketiduran nunggu balesan chat itu bukan perjuangan kali mas kalau kangen ya ngajak ketemu gimana sih :(

“Laki-laki tuh suka banget perempuan yang langsung nelpon, line, whatsapp, snapchat, kalau dia ngilang dikit.” Subhanallah maaf mas perempuan juga mungkin lagi belajar, rapat, lomba, nonton, tidur, lari keliling pulau Jawa, dll. jadi ngga bisa nyari. Dan laki-lakinya juga bisa aja ngga suka diganggu karena lagi supersibuk atau semacamnya, ada kali laki-laki yang pengennya securely attached bukan yang insecure begitu. Namanya manusia kan beda-beda.

Bagaimanapun juga research punya tampuk istimewa dalam pengambilan keputusan tapi bukan untuk kehidupan personal. Karena basisnya kelompok, then it applies untuk kelompok. Contohnya, seandainya tidak terdapat perbedaan dalam hal interpersonal skills laki-laki dan perempuan, aplikasinya adalah perusahaan nggak perlu membuat parameter berbeda dalam proses rekrutmen karyawan. Sementara, karena idiografik itu basisnya individu, maka tindakan yang diambil itu bisa macam-macam bagi tiap orang. Contohnya ada dua orang ke psikolog dengan keluhan yang sama tapi akar permasalahannya ternyata berbeda, ya tentunya upaya penyelesaiannya juga nanti akan berbeda.

Sedihnya adalah klaim-klaim (seperti contoh di bagian teratas tulisan ini) jadi bahan dagangan yang laris di ranah komunikasi online walau tanpa basis informasi yang jelas dan dapat dipercaya. Kenapa? Karena itu relatable. Hal yang sangat saya sayangkan adalah rasanya nggak perlu kita berupaya menyampaikan sesuatu yang pribadi dengan bawa-bawa satu gender. “Perempuan tuh suka diperhatiin.” Semua orang suka diperhatikan tau! Coba diganti semua pernyataan “Perempuan itu…” dan “Laki-laki itu…” dengan “Saya itu…” karena terlalu terburu-buru sekali kalau kita mau langsung menggeneralisir trait dan preferences dari seseorang hanya berdasarkan ketergabungannya pada kelompok tertentu (in this case, gender). Memahami manusia tidak pernah sesederhana itu.



Why can’t we just say how we actually really feel without trying to find some obnoxious sources that will validate how we feel? I know believing stereotype is tempting, but aren’t we better than that?



nota

“Gimana caranya bisa nulis se-ngalir itu?”

Beberapa orang melayangkan pertanyaan itu di minggu lalu. Sayangnya, saya enggak pernah bener-bener bermaksud untuk nulis secara mengalir. Tapi, terima kasih untuk kawan-kawan yang membuka sapa, jawaban ini untuk kalian. Semoga menyelesaikan.

Berikut lima kebiasaan simpel yang menurut saya perlu. Mungkin cocok untuk sebagian, enggak buat yang lain.

1. Percayakan. Enggak ada orang yang sempurna, enggak ada tulisan yang sempurna. Tulisan apik memotret penulisnya dengan lugas. Ada kata yang dibuka berkala. Ada diksi yang diseleksi teliti. Sebelum melugas, seseorang harus nyaman bercermin terlebih dahulu karena aksaranya merupakan refleksi dirinya. Kalau kesempurnaan selalu ingin dijadikan modal awal, kapan mulai nulisnya? Percaya diri itu penting.

Di titik ini, keliatan mana yang mau berekspresi atau berimpresi. Saya pilih yang pertama karena karangan saya bukan karya penuh gelora jiwa dan bunga-bunga asmara. Cuma curhat aja. Enggak heran kalau topik yang diangkat berkutat tentang perenungan karena memang itu hobinya. Khas introver. Eh, kebetulan apa yang dijadikan bahan curhat diamini sama banyak orang. Menyenangkan sekali!

2. Catatkan. Satu, saya bukan pengingat yang baik. Dua, saya sayang sama gagasan. Keduanya jadi alasan utama kenapa buku catatan selalu dibawa kemana-mana. Ide bisa mampir dimana dan kapan aja. Ibarat tamu kehormatan, enggak santun kalau saya tolak kedatangannya dengan bilang “berkunjung lagi besok, ya!” karena mungkin enggak ada lagi kunjungan berikutnya. Sementara kita larut mengabaikan gagasan, di luar terus bermunculan penulis cemerlang yang teratur membudidayakan gagasan.

Bentuk catatan tiap orang bisa berbeda. Mungkin secarik kertas atau seberkas risalah digital. Malah kadang saya berceloteh sendiri di fitur rekaman suara ponsel untuk menyimpan ide yang datang tiba-tiba sewaktu lagi berhalangan nulis.

3. Andaikan. Beda dengan berimajinasi, berandai enggak terlalu banyak melibatkan fantasi. Sejak saya sadar belum bisa bikin tulisan sarat fantasi, pengandaian jadi kompas andalan penjelajah ide. Dari pengalaman yang dibagi, saya nanya “gimana kalau” selama prosesnya. Gimana kalau saya jadi dia, gimana kalau saya yang mengalami dan gimana kalau-gimana kalau lainnya. Harapannya, dengan sering menempatkan diri di kacamata orang lain, cerita bisa berkembang luas, berimbang dan enggak menggurui.

4. Ceritakan. Teruslah menulis karena bahan bakunya selalu tersedia dan enggak pernah habis. Kitanya aja yang enggak terlatih untuk bergagasan. Biar jadi bisa karena terbiasa. Sekali lagi, saya harus kutip potongan nasihat penulis favorit, Malcolm Gladwell. Dia bilang, kunci untuk menemukan gagasan adalah dengan meyakinkan diri sendiri bahwa semua orang dan segala hal punya cerita. Inget deh sama memori masa kecil sewaktu belajar bicara. Kita bisa bawel berdongeng tentang apapun kepada siapapun.

Kian mendewasanya kita, kian merumit pula jalan pikiran. Kita kehilangan antusiasme bercerita. Takut dianggap begini, takut dicap begitu lalu berakhir dengan enggak nulis sepatah katapun walau kita tau kita ingin.

5. Ulangi. Temukan pola asyikmu, lalu ulangi. Apa yang bikin nulis jadi seru? Waktu atau musik tertentu? Penuhi sebisanya. Saya juga sering baca ulang calon artikel sebelum dirilis. Udah enak dibaca belum. Udah padu belum. Udah berkepribadian belum. Kalau belum, edit lagi.

Ada juga trik-trik khusus. Misal, mengendapkan tulisan sebentar supaya intisarinya semakin terserap. Atau teknik fast writing di tahap peletakan pondasi. Kejujuran jadi bahan pendukung utama untuk fast writing. Berterusteranglah agar lahir kelancaran untuk penulis dan pembaca. Mengalir atau enggaknya tulisan akan mengikuti.

Seiring waktu yang berpulang, pengalaman setiap orang terus terisi ulang. Kesadaran mereka jadi penentu seberapa unik pengalaman yang ada. “Either write something worth reading or do something worth writing”. Semua orang bisa nulis, kalau mau. Bagus atau enggaknya tulisan bukan perkara utama kalau niat yang dikedepankan ialah berbagi.

Bukankah berbagi harusnya membahagiakan? Ikuti aliran cerita. Di situ, kita temukan manfaat berjatidiri.

How INTJs see ENFPs

Perception of Confidence: Creative, yet scattered. As Ni dominants we are used to moving at a much slower pace than Ne types. For example, I often work on something for the entire day whereas ENFPs might see that as destructive to their “flow” (they might plan several different activities in a row on the same day). For ENFPs this means planning to meet with severral people (who may not get along) in a row. For example, my friend and I had lunch planned. Instead of saving time to hangout afterwards for the rest of the day he planned to meet with his family literraly 5 hours later. This is because ENFPs often like to fill there schedules literally (being Ne dominant and maybe backing it a bit with Te and Si later). Whereas, being lead percievers but more introvered (Ni-Se) INTJs will likely keep there schedules more “open” in that they might stay more focused on one thing at a time.

General Relationship: Frustrating, but rewarding. ENFPs teach us how to socialize and be more easygoing whereas INTJs teach ENFPs how to become more focused. Since both of us push each other to our extremes in terms of comfort zone it becomes taxing and generally hard to maintain. I think we become sort of drained but its nice to have someone that understands your weaknesses and has abilities you lack.