iniyona

CERAI

            Kamu jengah di jerat cinta

            Mulai terpikir untuk lepas

            Tapi ada dia disini

            Kamu ingin pulang

            Mulai ingin tertawa

            Tapi dia masih disini

            Kamu benci bau alcohol

            Mulai bosan pipimu bertemu telapak

            Tapi dia disini, yang kau sebut buah cinta.

Rejeki itu Kejutan

Yang namanya kejutan itu pasti bikin kaget. Ada yang marah-marah, ada yang kesenangan, ada yang terdiam siyok, bahkan ada yang menangis haru ketika menerima kejutan.

Ada seorang teman saya yang gemar sekali mengirim broadcast message, saking seringnya dan hal itu ganggu banget, saya sampai pernah menghapus dia dari kontak BlackBerry Messenger saya. Tapi kemudian dia meng-add saya lagi dan saya menerimanya lagi di kontak saya karena nggak enak.

Jika biasanya dia kirim broadcast message tentang iklan produk, pada suatu hari dia mengirimkan sebuah tulisan singkat bahwa rejeki yang diterima manusia itu adalah kejutan.

Saya yang sudah hendak menghapus broadcast message yang dikirimkannya –biasanya sih gitu, nggak pernah baca langsung hapus aja, jadi tertarik membacanya. Secara singkat broadcast message itu tertulis seperti ini:

Mungkin kau tak tahu di mana rizkimu. Tapi rizkimu tahu di mana engkau. Dari langit, laut, gunung, dan lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizkimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijamiNya adalah kekeliruan berganda.

Tugas kita bukan mengkhawatirkan rizki atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban “dari mana” dan “untuk apa” atas setiap karuniaNya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringat demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya (mati).

Bekerja itu bagian dari ibadah, Sedang rizki itu urusanNya. Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat. Tapi rizki tak selalu terlertak dipekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7 kali bolak-balik dari Shafa ke Marwa, tapi Zam-zam justru terbit di kaki Ismail, bayinya!

Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizki itu kejutan. Ia kejutan untuk disyukuri hamba bertakwa; datang dari arah tak terduga. Tugas kita cuma menempuh jalan halal. Allah yang melimpahkan bekal.”

Tulisan broadcast message  itu bagus sekali. Saya serasa disentil membacanya. Selama ini saya merasa kerja keras saya belum pernah membuahkan hasil. Tapi, kejadiannya sama persis kayak yang tertulis di broadcast message itu. Saya cari di mana, eh, dapatnya malah di tempat lain; yang diharap dan dikerjakan susah payah malah nggak dapat, yang nggak disangka-sangka malahan menjadi rejeki.

Kenapa ya, rejeki itu harus terletak di mana saja dan datang dalam kejutan dan bukanlah suatu kepastian? Mungkin agar saya mau dan mau terus bekerja menggapai rejeki. Kalau memang sudah pasti rejekinya dari apa yang saya kerjakan, bisa jadi saya jadi pemalas dan hanya mengerjakan itu-itu saja. Makanya Allah meletakkan rejeki “sekehendakNya” dia saja, itu agar saya mau mencarinya tanpa menyerah.

Setelah memperoleh rejeki, pertanyaanya kemudian adalah “untuk apa?” Karena sesungguhnya dalam rejeki yang kita terima, terdapat hak orang lain di dalamnya.

Hak orang lain ini bisa diantarkan dalam berbagai cara, ketika saya membeli cendol, maka rejeki saya menjadi rejekinya abang cendol itu juga. Atau bisa juga dengan bersedekah dan membagi rejeki dengan orangtua, istri, sanak saudara yang membutuhkan. Intinya sih, jangan pelit-pelit deh jadi orang. Harta kan nggak dibawa mati, meski kalau nggak punya harta hidup serasa mati.

Rejeki sebagaimana jodoh, memang menjadi misteri. Bisa saja kita menemukannya dengan mudah dan bisa saja sebaliknya.

Sudah sejak dulu saya meminta kepada Allah dalam setiap doa, agar diberikan rejeki yang berlimpah. Waktu kecil, saya meminta agar Papa saya diberi kemudahan dalam mencari nafkah untuk keluarga. Alhamdulillah, meski tak banyak, rejeki yang beliau dapatkan cukup memberi kami makan setiap harinya.

Ketika saya memulai mencari penghasilan sendiri, saya mulai berdoa agar rejeki saya dilancarkan. Ya, meski sudah bertahun-tahun berdoa, rejeki saya belumlah selancar itu. Lebih banyakan seretnya malah.

Saya masih menanti datangnya rejeki dalam bentuk kejutan, baik hari ini maupun di hari-hari yang akan datang. Kejutan yang manis tentunya, yang bikin senang dan menangis haru. Bukan kejutan yang bikin marah dan kecewa.

Halaman Rumah

              Selamat kamu sudah menemukan Rumah mu. Rumah yang dulu pernah kita rencanakan akan kita bangun bersama, yang di isi senyum manis wajah2 penerus kita.

            Bersama pernah kita, dari dunia maya kita bertemu, yang akhirnya menjadi nyata. Hanya dia setelah aku, dia yang kau pilih menjadi Rumah mu. Semoga dia benar2 menjadi yang terakhir untukmu.

            Begitu banyak pintu rumah yang harus kita masuki, beberapa tak meninggalkan kesan berarti. Hanya sebagai pengganti kenangan cerita yang pernah datang sebelumnya. Beberapa Rumah lainnya hanya memberikan gambaran buruk, betapa bodohnya kita dalam memilih Rumah.

            Jika nanti Rumah mu itu buruk, buatlah Halaman Rumah mu dengan Indah, karena kebanyakan orang hanya melihat Rumah dari halaman depannya saja. Jangan biarkan mereka masuk ke dalam Rumah mu, tinggal kan mereka di luar.

            Entah berapa banyak senja lagi yang harus ku tunggu untuk dapat mengejarmu menemukan Rumah ku sendiri, Rumah yang bagus, yang bisa menjadi tempat ku bersandar, melepas letih dari penat hidup, sebelum aku perlahan mati 
Dalam Bioskop

Setelah sekian lama tidak menikmati tayangan bioskop karena tak ada lagi film impor yang bermutu, akhirnya pada suatu hari saya pergi juga ke bioskop. Target menonton kali ini adalah film “Source Code” tontonan yang mungkin akan membosankan bagi orang yang bekerja sebagai programmer—orang yang setiap hari berkutat dengan source code.

Saya tidak akan membahas tentang film “Source Code” karena kalau saya membahas suatu film, di ujung bahasannya saya pasti akan memberitahu akhir cerita dari film itu.

Setelah membeli tiket untuk menonton film(saya ingin sekali menulis, bahwa menonton film lagi gratis hari ini, di karenakan yang punya bioskop atau minimal yang jaga parkiran bioskop lagi ulang tahun… tapi ya sudahlah). Akhirnya saya menuju kafetaria bioskop.

Pesanan di kafetaria bioskop bisa di jadikan tolak ukur kasta seseorang penonton.

Kasta penonton standart

            Pesanan orang-orang di kasta biasanya paket-paket hemat yang disediakan oleh pihak kafetaria, seperti paket popcorn dan coca-cola. Atau lebih standartnya lagi adalah popcorn dan air mineral.

Kasta penonton gaul aja

            Pesanan makanan orang di kasta ini biasanya mulai ke tingkat popcorn yang ukuran besar tapi untuk di nikmati sendiri, pesan minuman coca-cola nya pun yang ukuran besar untuk sendiri. Sampai sekarang saya masih berpikir apakah sebenarnya dia itu termasuk kasta “gaul aja” atau “rakus” ya…

Kasta penonton sejati

            Setelah beli tiket menonton, langsung duduk menunggu panggilan bahwa pemutaran film akan segera di mulai, di dalam bioskop akan benar menonton film saja. Saya suka tipe penonton seperti ini, terutama kalau dia wanita cocok di jadikan pacara, irit soalnya nih…

Kasta penonton restoran

            Tipe yang paling saya tidak suka, sebenarnya kasta yang terakhir ini tidak perlu di tulis jika saja kafetaria bioskop tidak mulai berjualan makanan “besar” di dalam bioskop !!! Entah sejak kapan kafetaria mulai berjualan nasi goreng, sop buntut, omelete, bahkan ada nasi goreng kambing. Penonton di kasta ini amat sangat mengganggu penonton lainnya, terutama kalau mereka memesan nasi goreng kambing, ohh tidak! Aromanya bisa memenuhi ruangan bioskop.

            Saya selalu berpikir, sebenarnya kalau di urut berdasarkan “kasta penonton” di atas saya termasuk di bagian mana ya? Yang biasa saya lakukan ketika ke kafetaria bioskop adalah bertanya ke penjualnya “maaf hari ini lagi boleh ngutang nggak??“ 
Pejuang Jarak

Hubungan percintaan jarak jauh atau Long Distance Relationship A.K.A LDR diperlukan komitmen lebih daripada sekedar cinta. Ada kepercayaan, kesabaran, dan kemauan rela berkorban dalam menjalani LDR.

Kalau nggak ada kepercayaan, baru sebentaran LDR-an pastinya udah putus nih. Kalau dikit-dikit cemburuan. Dengar gosip dikit udah panasan, dan nuduh yang nggak-nggak. Ya, mendingan jangan LDR-an. Bikin capek perasaan doank kalau pacaran jarak jauh tanpa kepercayaan.

Kesabaran juga penting nih dalam hubungan LDR. Kalau nggak sabaran dan akhirnya ketemu sama dia terus tiap harinya. Lama-lama itu udah bukan LDR namanya. Sekalian aja pindah ke kota tempat dia tinggal. LDR itu perlu kesabaran tingkat tinggi. Percayalah, jarak itu hanya pemisah hati yang bersatu.

Kemauan rela berkorban uang untuk mengunjugi satu sama lain dengan membeli tiket kereta api, bus, kapal laut atau pesawat  itu juga penting lho.. Biasanya yang berkorban begini tuh yang cowok. Dia pasti samperin ceweknya entah itu di luar kota ataupun di luar negeri. 

Di jaman sekarang orang-orang yang pada LDR-an itu sudah lebih mudah. Berkat kemajuan teknologi, saling bertegur sapa sudah setiap saat tanpa perlu keluar pulsa berlebih. BBMWhatsapp, Skype atau Line sudah amat membantu memperdekat jarak yang jauh. Tinggal langganan paket bulanan yang bisa internetan, udah bisa memakai aplikasi tersebut di ponselnya. Kalau lagi bokek pulsa, tinggal ke warnet yang murah, udah bisa Skype-an sama pacarnya. Bisa saling bertatap muka via layar monitor dan saling cium layar monitor masing-masing juga.

Karena faktor-faktor kemudahan inilah, orang jaman sekarang itu banyak banget yang pacarannya pada LDR. Mungkin mereka-mereka itu menganut aliran: kalau ada yang jauh kenapa harus yang dekat. 

Saya sendiri sudah dua kali berpacaran secara LDR. Kalau dulu tuh belum seenak sekarang LDR-annya. Mau kirim-kiriman pesan aja harus pakai SMS. Kalau telponan rooming. Bikin tagihan telpon lumayan bengkak. Kalau mau saling bertemu muka ya pakai Yahoo Messenger atau MSN. Belum lagi internet jaman dulu belum sekencang sekarang. Kadang pas koneksi internetnya lagi ngelag, ihat muka pacar suka patah-patah kayak goyangnya Anisa Bahar.

Setelah dua kali menjalani hubungan LDR, kayaknya kalau sekarang disuruh pacaran jarak jauh lagi, saya sih ogah banget. Bukannya apa-apa, tapi kalau nggak bertemu pacar seminggu sekali aja rasanya itu agak-agak kurang afdol deh pacarannya. Walau berkat kemajuan teknologi hal itu bisa di atasi, dan komunikasi juga bisa setiap saat. Saya sudah menjadi orang yang lebih suka mengobrol itu sambil bertatap muka secara langsung. Bukan antara layar sama layar.

Jalan bareng, nonton bareng, makan bareng, membahas berbagai hal yang sedang terjadi dikehidupan dia dan saya secara bareng-bareng, itu tidak bisa dilakukan setiap saat atau minimal seminggu sekali sama orang yang pacarannya LDR.

Mantan saya LDR-an dulu pernah bilang, “yang paling enak dari LDR-an itu adalah perasaan saling merindunya. Kalau ketemuan terus tiap hari nanti malahan cepat bosan.” Saya dulu mengamini apa yang dikatakannya. Tapi sekarang saya sadar itu adalah sikap untuk menyenangkan hati kami yang berpacaran jarak jauh. Kalau sudah menikah, hampir setiap suami-istri juga bertemu setiap harinya. Dan mereka nggak bosan-bosan tuh.

Orang-orang yang melakukan LDR itu layak disebut pejuang jarak. Mereka memperjuangkan jarak yang ada menjadi seakan tidak berjarak. Kangen, saling cemburuan, menghabiskan banyak waktu sendirian sambil senyum-senyum sendirian di depan layar ponselnya karena lagi chit-chat sama pacar, pasti sering dialami sama mereka yang LDR-an.

Jodoh terkadang memang berjarak. Tapi selama hati saling bertaut, berpacaran jarak jauh bukanlah suatu kendala. Selamat bertempur kalian para “pejuang jarak.”

Dimanfaatkan Cinta

Setiap orang pasti pernah dimanfaatkan oleh cinta. Ada yang sampai terpontang-panting hidupnya karena cinta. Ada juga yang sukses jadi pemanfaat cinta itu sendiri.

Dulu, jaman masih kuliah, ada teman saya yang datang dari keluarga berada. Anaknya juga baik, sopan banget, dan juga setia kawan. Untung saja Tuhan itu adil, kesempurnaan teman saya itu berkurang karena tampangnya yang biasa-biasa aja: ganteng nggak, jelek juga belum.

Kami yang kuliah dijurusan teknik memang kekurangan wanita. Jadilah kami dulu sering mengincar para wanita dari jurusan lain. Pada suatu hari teman saya ini jatuh hati pada anak jurusan psikologi yang memang terdiri dari banyak wanita dibandingkan prianya.

Perkenalan keduanya ini karena ada mata kuliah umum yang menggabungkan kelas anak teknik dan psikologi. Jadilah keduanya berkenalan.

Wanita anak psikologi ini memang cantik luar biasa. Teman saya itu mulai pendekatan dengan sistem antar jemput kuliah. Gempor banget nih teman saya. Walau dia lagi nggak ada kuliah pagi, tapi demi sang pujaan hati dia rela bangun pagi dan menjemput wanita itu. Gokilnya lagi, jarak rumah wanita itu ke kampus cuma sekitar 1 kilometer. Sedangkan jarak rumah teman saya ke kampus itu ada kali 8 kilometer-an. Jadi teman saya itu selama proses pendekatan hampir setiap jemputnya saja menempuh jarak 10 kilometerlah kurang lebih. 

Untuk bagian antarnya beda lagi hitungan jaraknya, karena sebelum pulang keduanya biasa nongkrong-nongkrong dulu. Saya dan beberapa teman yang lain biasa suka ikutan juga nongkrong sama mereka.

Saya tidak ingat berapa lama proses pendekatan itu berlangsung. Yang pasti mereka berdua akhirnya jadian juga. Ya, kalau sampai nggak jadian sih kampret bangetlah nasib teman saya itu.

Sebagai anak kuliah, melihat teman ada yang jadian, pastilah kami langsung nodong minta ditraktir. Jaman kuliah yang namanya traktiran itu kayak pergi ke kondangan tanpa perlu ngasih amplop. Barokah banget lah!

Teman saya ini membuktikan bahwa cinta memang tak memandang tampang. Melainkan ketulusan hati teman saya serta kemauannya untuk rela berkorban. Kisah cinta mereka berdua berakhir bahagia, ya, setidaknya untuk dua bulan saja. Setelah itu putus karena sang wanita berpaling pada pria lain yang sama baiknya dengan teman saya itu tapi punya tampang dan body yang lebih oke.

Saya yang waktu itu lagi numpang di mobil dia buat makan di luar kampus, agak kaget dengar cerita dia (lebih tepatnya sih pura-pura kaget, soalnya saya udah nebak kalau palingan mereka pacaran itu cuma bertahan 6 bulan. Eh, ini ternyata lebih cepat.) Sebagai teman, saya relakan waktu makan siang itu tidak hanya menerima asupan makanan, tapi juga masukan curhatan patah hati. 

Ia bercerita kalau selama pacaran merasa dimanfaatkan saja. Hampir setiap hari jadi supir, bahkan kalau nyokap pacarnya itu mau ke mana-mana, dia juga diminta untuk mengantarkan. Kalau makan atau nonton, dia terus yang ngebayarin. Ngedengerin curhatan dia, saya jadi bingung sendiri. Setau saya dari pas pendekatan, itu wanita memang dimanjakan dengan hal-hal tersebut. Jadi, menurut saya wajar donk kalau pas pacaran wanita itu tetap memperlakukan dia sama seperti. 

Cerita teman saya itu menjadi refleksi kehidupan pendekatan saya terhadap seorang wanita. Saya yang sudah sah dan pasti memilki tampang yang biasa-biasa saja, memang memerlukan usaha lebih dalam mendekati seorang wanita.

Belum lama ini ada seorang wanita yang sedang saya dekati. Wanita yang satu ini cantik, diajak ngobrol juga seru, dandanannya juga kece. Pokoknya oke punya deh!

Sama seperti teman saya itu, saya juga melakukan antar jemput. Cuma bedanya saya tidak antar jemput dari rumah ke kampus, karena wanita yang satu ini tuh sudah anak kantoran bukan kuliahan. Biasanya saya jemput ke kantornya dia. Tidak sering juga sih, palingan seminggu dua kali. Kalau antar palingan nganterin ke tempat dia mau belanja atau mau ketemu temannya. Wanita yang satu ini memang tidak merepotkan dan neko-neko. 

Ribetnya, wanita yang satu ini adalah dia itu jinak-jinak merpati: kadang memberi respon terhadap saya, kadang bersikap acuh. Kalau ditelpon kadang angkat kadang nggak. Kalau di BBM, walau sudah bertanda “R” kadang pesan itu tidak dibalas sama dia. Walau begitu, dia beberapa kali malah menanyakan kabar saya terlebih dahulu, bangunin untuk Sholat Subuh. Sikap dia ini memang bikin bingung, atau memang sayanya aja yang bodoh dalam masalah pendekatan ya…

Setelah sekitar dua bulan melakukan pendekatan dengan dia, saya akhirnya menyerah. Saya tidak bisa bertindak seperti teman saya itu, yang pantang mundur mengejar pujaan hatinya. Ya, teman sayanya aja yang lagi sial mendekati orang yang salah. Kalau saja dia bertemu dengan orang yang tepat, maka perjuangannya itu pastilah berbuah emas.

Dan sesungguhnya, apa yang dilakukan oleh teman saya untuk mantan pacarnya itu bukanlah pengorbanan tanpa arti. Mantannya saja yang bodoh dan  menyia-nyiakan orang yang mau mencintainya sebegitu besar. Semoga kamu, saya, dan gebetan kamu tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang bodoh itu.

Kegagalan Bukan Sukses yang Tertunda

Katanya kegagalan itu adalah sukses yang tertunda. Tapi tertunda sampai kapan? Sampai raga bersatu dengan tanahkah?

Saya sering merasakan kegagalan dalam bidang pekerjaan. Berpuluh-puluh sampai ratusan kali malahan. Hal itu tidak membuat saya kebas sama kegagalan, tetap saja setiap kegagalan itu bikin sakit yang membekas.

Ada beberapa proyek yang sepertinya sudah pasti akan tanda tangan kontrak, tapi ternyata batal. Ada yang sudah oke, tapi ternyata ada kendala sehingga tidak jadi dikerjakan. Proyek sedang dikerjakan bermasalah di tengah jalan dan bikin rugi. Ada aja masalahnya.

Kenapa susah banget saya mendapatkan sesuatu dengan mulus kayak muka para selebritis yang dirawat sampai ratusan juta itu. Harus banget ya kalau lagi jatuh itu kemudian ditimpa tangga lagi?

Saya sampai berpikir kenapa saya bisa sial banget ya jadi orang. Apa iya memang begitu? Apa saya sendiri kurang persiapan? Soalnya saya pernah membaca keberuntungan itu adalah pertemuan antara persiapan dan kesempatan.

Jika merunut pada tulisan itu, saya sudah punya kesempatannya, terus persiapan apa yang harus saya miliki? Entahlah, saya juga belum menemukan jawabannya. Tapi pasti nanti saya akan menemukannya.

Hidup ini memang lucu dan selalu penuh hiburan. Saat saya merasa lagi kesal-kesalnya sama hidup, saya bertemu teman yang nasibnya lebih menyedihkan dari saya.

Kalau dilihat dari luar sih, teman saya ini udah sukses: kerja di tempat bergengsi dengan jabatan oke. Gajinya sudah dua digit. Punya mobil dan sudah memiliki apartement yang dibeli dengan hasil jerih payahnya sendiri. Tapi di balik itu semua, dia mempunyai masalah keluarga yang naudzubillah ribetnya. Bukan cuma keluarga, kerjaan dia juga lagi kusut-kusutnya.

Saat dia bercerita tentang masalah keluarganya, saya sampai nggak bisa kasih komentar kecuali, “yang sabar ya, Sob.” Udah cuma itu aja. Saya biasanya paling jarang kasih komentar sesederhana itu. Saya biasanya suka kasih masukan tentang apa yang akan saya lakukan kalau mendapat masalah seperti itu.

Masalahnya, persoalan dia ini begitu pelik sampai saya buntu pikiran untuk kasih masukan.

Selama ini saya merasa hidup teman saya sudah sangat beruntung, tapi ternyata tak seperti itu. Setiap orang mempunyai masalah sendiri-sendiri dalam hidupnya. Ada yang ringan ada yang berat.

Menilik dari masalah teman saya itu, hidup saya lebih beruntung. Cuma kondisi kerjaan dan keuangan saya saja yang kacau balau, keluarga saya baik-baik saja. Kalaupun ada masalah, cuma seperti nila setitik yang tak bisa merusak susu sebelanga.

Setiap masalah ada penyelesaiannya, dan ada juga yang tidak. Kadang tidak ada penyelesain adalah cara menyelesaikan masalah juga. Ini serius! Saya beberapa kali pernah mengalaminya. Satu hal yang pasti juga, kita juga bisa lari dari masalah. Saya sering tuh ketemu orang yang kayak gitu. Contoh gampangnya aja tabrak lari. Atau orang yang kerjaan menipu. Orang itu memang lari dari masalah, tapi orang lain yang akhirnya harus menanggung deritanya.

Sama orang-orang yang bisa kabur dari masalah gini saya suka iri, kok bisa ya mereka begitu. Soalnya saya pernah juga lari dari masalah. Tapi, sampai sekarang saya terus dihantui sama hal tersebut. Bisa jadi malah sampai seumur hidup saya.

Menghadapi masalah yang tengah saya hadapi sekarang, saya juga ingin lari lagi. Tapi mau lari ke mana? Masak harus lari ke hutan lalu belok ke pantai? Yang bisa begitu kan cuma Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta.

Hidup mungkin tidak seperti tayangan film-film drama yang berisikan masalah sedikit, diselesaikan, dan kemudian berakhir bahagia. Hidup itu bisa jadi seperti sinetron yang bisa berepisode-episode berisikan masalah dan baru berakhir bahagia di episode terakhir. Nggak adil banget kan?!

MASIH ADA WAKTU

Bernahkah kita masih memiliki waktu? Atau waktu sudah jauh pergi dari kita.

            Dulu kita punya kesempatan, punya pilihan. Tapi sekarang kita merasa bahwa hidup sudah tak ada lagi kesempatan, dan jalan yang kita lalui sudah di pilihkan. 

            Berapa banyak kesempatan yang sudah kita lewatkan. Berapa hal yang kita pilih dalam hidup, ternyata hal itu bukan hal yang kita suka.  Masih adakah waktu?

            Banyak tahun di lewati entah apakah itu baik atau buruk. Di isi oleh romansa, caci-maki, penyesalan, bahkan kematian. Jika saja hidup itu karena “sebab-akibat” apakah yang akan terjadi jika kita bisa memilih hal lain dalam hidup kita, hal yang mungkin akan memberikan “akibat” yang lain “sebab” kita memilih hal yang berbeda.

            Masih ada waktu. Jika tidak ada, biarlah kita menciptakan waktu kita sendiri. Waktu yang sama, yang berdetak ke kiri.

Jomblo yang Merdeka, Adil, dan Sejahtera

Manusia itu emang nggak pernah ada puasnya. Kalau masih jomblo maunya punya pacar, giliran udah punya pacar maunya punya selingkuhan. Ketahuan selingkuh, diputusin akhirnya jomblo lagi, ujung-ujungnya galau.

Kalau saja manusia itu gampang puas tentunya hidup manusia itu tidak seru. Contohnya dia sudah puas kalau dia itu jomblo, sampai daging jadi tulang dalam tanah dia akan seterusnya jomblo, nggak berusaha cari pasangan hidup semati, atau minimal pacar.

Hidup memang banyak aturan. Begini salah begitu salah. Sama kayak pacaran yang terkadang penuh aturan ini dan itu. Tapi tanpa aturan, hidup juga nggak seru, karena melanggar aturan itu memberi pengalaman tersendiri.

Duh, ribet banget ya? Sama, pacaran juga kadang ribet. Sebentar-bentar harus ngasih kabar lagi ngapain, di mana, dan sama siapa. Tiap Minggu ada jadwal bertemu, kalau nggak ketemu dituduhnya udah nggak kangen dan sayang lagi. Padahal waktu memang sedang tidak memungkinkan untuk bertemu.

Kalau memang pacaran bikin rempong,kenapa orang-orang masih galau karena nggak punya pacar ya? Padahal kalau udah punya pacar sama aja, malah kadang lebih galau lagi.

Bukannya hidup jomblo yang merdeka, adil, dan sejahtera itu lebih enak… Nah, untuk yang satu ini ada benarnya ada juga nggaknya.

Lihatlah kedua orang tua kamu. Bukankah sebelum menikah mereka juga dulunya berpacaran dahulu. Mungkin mereka juga pernah melewati apa yang kamu, ehh maksudnya kita rasakan sekarang ini: ribet, banyak aturan, galau, putus nyambung, selingkuh, diselingkuhin.

Nah, cuma masalahnya kita belum aja ketemu yang cocok nih: yang walaupun orang ribet kita mau diribetin sama dia. Walaupun dia banyak aturan, kita mau aja ikutin aturannya. Walaupun dia pernah selingkuh kita nggak ngebalas dengan selingkuh balik, tapi memaafkan dia yang memang berjanji nggak ngulangin lagi kesalahannya itu.

Coba aja udah ketemu orang yang bernama “cinta” mau gimanapun orangnya, kehidupan jomblo yang merdeka, adil, dan sejahtera pasti bukan lagi menjadi pilihan hidup kita.

Tulisan ini sebenarnya saya buat sebagai #selfnote untuk saya sendiri yang kadang suka malas sama pacar atau gebetan yang bikin ribet dan banyak aturannya.

Ya, mungkin saya belum ketemu sama yang cocok aja sih, yang akhirnya bisa bikin saya memiliki toleransi tinggi terhadap kerewelan pasangan saya. Dan yang paling penting itu kenyamanan untuk saya dan dia.

Memilih Dipilih, Mencintai Dicintai

Saya kadang suka bertanya mana yang lebih enak, hidup dicintai atau mencintai?

Pertanyaan yang untuk setiap orang kadang berbeda-beda jawabannya. Bahkan ada kawan yang pernah saya ajukan pertanyaan itu menjawabnya dengan lebay. “Ya, kalau gw sih mending mencintai donk. Kalau emang gw gak dicintai balik sama pasangan gw, ya udah nggak apa-apa. Kan gw mencintai pacar gw dengan ikhlas.” Kata kawan saya itu. Menurut saya itu sih lebay ya, karena bagi saya apa enaknya hanya mencintai tanpa dicintai balik.

Saya sendiri jika ditanyakan apakah saya maunya mencintai atau dicintai, saya akan memilih untuk dicintai. Ini bukannya karena saya merasa kegantengan atau apapun itu. Tapi karena saya merasa saya bisa mencintai balik apa yang mencintai saya. 

Tapi banyak juga lho hubungan yang hanya salah satu pasangannya saja yang mencintai, sedangkan pasangan satunya lagi membiarkan perasaan mencintainya akan tumbuh seiring waktu. Apa iya waktu menciptakan cinta? Atau malah sebaliknya.

Cinta memang perlu proses. Karena itu saya tidak pernah percaya dengan cinta kilat. Menurut saya cinta kilat itu akan berakhir secepat kilat juga. Tapi jika telah menunggu dalam waktu yang lama si pasangan tidak kunjung juga mencintai, mungkin dia bukanlah pasangan yang tepat untuk dicintai -Mendadak galau, gonta-ganti status BBM, update status dengan hastag galau, retweet tweet-tweet yang galau.

Persoalan mencintai dan dicintai ini memang kadang agak rumit, atau dibuat rumit. Cinta tanpa adanya drama itu mustahil.

Saya pernah membahas hal mencintai dan dicintai ini sama mantan saya. Tapi saya lupa, entah kenapa topik pembicaraan kami kala itu malah berubah menjadi memilih dan dipilih. Mantan saya itu bilang kalau cewek itu sebenarnya yang memilih cowok untuk pasangannya. Saya sendiri ngotot kalau cowoklah yang memilih seorang cewek untuk dijadikan pasangannya. Alasan saya kan cowok yang “maju” duluan untuk melakukan pendekatan, bahkan sampai saat ini masih lebih banyaknya cowoklah yang menembak cewek yang ingin dijadikan pacarnya. Berarti pihak cowoklah yang memilih ceweknya. Mantan saya pun menjawab dengan mudahnya, “Tapi kan pihak cewek yang memutuskan apakah dia menerima "tembakan” cowok itu iya atau tidaknya.“ "Nah jadi yang memilih berarti kan ceweknya, dia mau atau nggaknya.”

Kenapa jadi ribet bangat persoalan Memilih Dipilih dan Mencintai Dicintai ini ya. Padahal cinta itu masalah yang sederhana lho! Persoalan dari mata turun ke hati, dari hati turun ke selangkangan.