iniyona

CERAI

            Kamu jengah di jerat cinta

            Mulai terpikir untuk lepas

            Tapi ada dia disini

            Kamu ingin pulang

            Mulai ingin tertawa

            Tapi dia masih disini

            Kamu benci bau alcohol

            Mulai bosan pipimu bertemu telapak

            Tapi dia disini, yang kau sebut buah cinta.

Halaman Rumah

              Selamat kamu sudah menemukan Rumah mu. Rumah yang dulu pernah kita rencanakan akan kita bangun bersama, yang di isi senyum manis wajah2 penerus kita.

            Bersama pernah kita, dari dunia maya kita bertemu, yang akhirnya menjadi nyata. Hanya dia setelah aku, dia yang kau pilih menjadi Rumah mu. Semoga dia benar2 menjadi yang terakhir untukmu.

            Begitu banyak pintu rumah yang harus kita masuki, beberapa tak meninggalkan kesan berarti. Hanya sebagai pengganti kenangan cerita yang pernah datang sebelumnya. Beberapa Rumah lainnya hanya memberikan gambaran buruk, betapa bodohnya kita dalam memilih Rumah.

            Jika nanti Rumah mu itu buruk, buatlah Halaman Rumah mu dengan Indah, karena kebanyakan orang hanya melihat Rumah dari halaman depannya saja. Jangan biarkan mereka masuk ke dalam Rumah mu, tinggal kan mereka di luar.

            Entah berapa banyak senja lagi yang harus ku tunggu untuk dapat mengejarmu menemukan Rumah ku sendiri, Rumah yang bagus, yang bisa menjadi tempat ku bersandar, melepas letih dari penat hidup, sebelum aku perlahan mati 
Dalam Bioskop

Setelah sekian lama tidak menikmati tayangan bioskop karena tak ada lagi film impor yang bermutu, akhirnya pada suatu hari saya pergi juga ke bioskop. Target menonton kali ini adalah film “Source Code” tontonan yang mungkin akan membosankan bagi orang yang bekerja sebagai programmer—orang yang setiap hari berkutat dengan source code.

Saya tidak akan membahas tentang film “Source Code” karena kalau saya membahas suatu film, di ujung bahasannya saya pasti akan memberitahu akhir cerita dari film itu.

Setelah membeli tiket untuk menonton film(saya ingin sekali menulis, bahwa menonton film lagi gratis hari ini, di karenakan yang punya bioskop atau minimal yang jaga parkiran bioskop lagi ulang tahun… tapi ya sudahlah). Akhirnya saya menuju kafetaria bioskop.

Pesanan di kafetaria bioskop bisa di jadikan tolak ukur kasta seseorang penonton.

Kasta penonton standart

            Pesanan orang-orang di kasta biasanya paket-paket hemat yang disediakan oleh pihak kafetaria, seperti paket popcorn dan coca-cola. Atau lebih standartnya lagi adalah popcorn dan air mineral.

Kasta penonton gaul aja

            Pesanan makanan orang di kasta ini biasanya mulai ke tingkat popcorn yang ukuran besar tapi untuk di nikmati sendiri, pesan minuman coca-cola nya pun yang ukuran besar untuk sendiri. Sampai sekarang saya masih berpikir apakah sebenarnya dia itu termasuk kasta “gaul aja” atau “rakus” ya…

Kasta penonton sejati

            Setelah beli tiket menonton, langsung duduk menunggu panggilan bahwa pemutaran film akan segera di mulai, di dalam bioskop akan benar menonton film saja. Saya suka tipe penonton seperti ini, terutama kalau dia wanita cocok di jadikan pacara, irit soalnya nih…

Kasta penonton restoran

            Tipe yang paling saya tidak suka, sebenarnya kasta yang terakhir ini tidak perlu di tulis jika saja kafetaria bioskop tidak mulai berjualan makanan “besar” di dalam bioskop !!! Entah sejak kapan kafetaria mulai berjualan nasi goreng, sop buntut, omelete, bahkan ada nasi goreng kambing. Penonton di kasta ini amat sangat mengganggu penonton lainnya, terutama kalau mereka memesan nasi goreng kambing, ohh tidak! Aromanya bisa memenuhi ruangan bioskop.

            Saya selalu berpikir, sebenarnya kalau di urut berdasarkan “kasta penonton” di atas saya termasuk di bagian mana ya? Yang biasa saya lakukan ketika ke kafetaria bioskop adalah bertanya ke penjualnya “maaf hari ini lagi boleh ngutang nggak??“ 
MASIH ADA WAKTU

Bernahkah kita masih memiliki waktu? Atau waktu sudah jauh pergi dari kita.

            Dulu kita punya kesempatan, punya pilihan. Tapi sekarang kita merasa bahwa hidup sudah tak ada lagi kesempatan, dan jalan yang kita lalui sudah di pilihkan. 

            Berapa banyak kesempatan yang sudah kita lewatkan. Berapa hal yang kita pilih dalam hidup, ternyata hal itu bukan hal yang kita suka.  Masih adakah waktu?

            Banyak tahun di lewati entah apakah itu baik atau buruk. Di isi oleh romansa, caci-maki, penyesalan, bahkan kematian. Jika saja hidup itu karena “sebab-akibat” apakah yang akan terjadi jika kita bisa memilih hal lain dalam hidup kita, hal yang mungkin akan memberikan “akibat” yang lain “sebab” kita memilih hal yang berbeda.

            Masih ada waktu. Jika tidak ada, biarlah kita menciptakan waktu kita sendiri. Waktu yang sama, yang berdetak ke kiri.