ingat kau

Tujuan

Semua orang pernah meragukan dirinya sendiri, semua orang pernah membenci dirinya sendiri, semua orang pernah takut bahwa dirinya akan mengecewakan.

Tapi kita bisa memilih, akan terpuruk pada keadaan dan menerima kelemahan; ataukah memilih melawan ketakutan dengan terus berjalan. Tentu saja rasa luka, takut, benci, penyesalan akan selalu menghantui. Lalu kenapa? Mereka hanya hadir sebagai tamu, yang pelan - pelan akan undur diri ketika kita dengan berani mau maju. Ketika kita memilih untuk TIDAK hanya berangan jika semua tidak terjadi maka kita blablabla.

Kita manusia yang dewasa, dididik oleh kerasnya dunia dan lembutnya tangan Tuhan. Saya, dan banyak orang besar, yakin bahwa ketika kita menetapkan misi dan tujuan di sebuah titik, maka dunia akan membantu kita untuk menuju kesana. Syaratnya cuma 1, sepenuh hati berniat. Sebab saya yakin, jika keinginan kita bulat, kita pasti hanya memilih tindakan - tindakan yang mendekatkan pada tujuan, seberat apapun hati membawa beban.

Jika tujuanmu tak juga tercapai, barangkali perlu kau ingat lagi, apa benar kau sudah sepenuh hati? Jika sudah sepenuh hati dan tak juga sampai, barangkali ada X dan Y yang belum kau jalani; atau kuasa Tuhan berlaku di sana.

Jangan menjadi manusia lemah yang menyerah pada diri sendiri; yang mempertahankan kenyamanan dan mengorbankan tujuan yang ingin kita dapatkan. Jangan menjadi manusia lembek yang menyerah pada kekurangan diri, ada matahari yang selalu menemani.

Jangan takut, jangan ragu, jangan pasrah pada keadaan. Kita punya Tuhan. 


“Masa depan bukan untuk ditunggu, tapi untuk kita ciptakan.” - Pak Anggoro-

Kamu tahu kenapa Islam menjaga hubungan lelaki dan wanita demikian detail?

Sebab satu dua pertemuan selalu menjadi momentum bagi setan untuk melakukan bujuk rayunya. Cukup sekali dua kali, maka kau akan ingat wajahnya, lama-lama sambangi profil media sosialnya, lalu, dan lalu, hingga tidak terasa pertahananmu mulai runtuh. Setan begitu ‘sabar’ membujukmu sampai kamu hilang kendali.

Berinterksi dengan lawan jenis itu mutlak, dan kamu memang akan merasakannya. Namun ingat, jangan sampai keadaan serba bebas membuat kamu berimprovisasi dalam prinsipmu. Sederhananya; jika kau lihat ada masalah, bantulah. Jika tidak ada, jangan mencari-cari. Pun jika ditawari bantuan, terimalah seadanya, ucapkan terimakasih. Sudah, tak usah berlebih mengapresiasi.

—  @edgarhamas
Freeday: Perlukah Masa Lalu Datang Kembali?

Ketika malam minggu kamu cuma tidur-tiduran, tapi di sana mantanmu sedang bobo bersama pacar barunya be like..

                                                       ===

.

Berbeda dengan hari-hari biasanya, kali ini sepulang kelas pemrograman di kampus, gue nggak langsung pulang ke rumah. Gue malah nyempatin mampir dulu ke kostan temen gue, sebut saja Ciko. Belakangan ini kostan Ciko selalu gue sambangi lantaran di antara seluruh kostan kepunyaan temen yang lain, Ciko adalah salah satu orang yang paling beduit untuk nyewa kostan dengan ruangan cukup gede. Segede tempat sholat akhwat di Masjid Istiqlal.

Ketika teman-teman gue yang lain ngekost hanya sekitar 500-800 ribu sebulan, Ciko beda sendiri, mentang-mentang bapaknya punya toko bumi dan bangunan, dia berani ngambil kostan yang harganya 1,3 sebulan. Kamar mandi di dalem, tapi tidurnya di luar.

Maka dari itu gue paling demen mampir di kostan temen gue yang satu itu. Selain karena kamernya paling besar, alasan lain yang buat gue sering mampir adalah karena kostan ciko ini kostan campur. Mantep banget kalau lagi nongkrong depan pintu terus ada cewek-cewek sliweran dari kamar sebelah dengan celana gemes dan tangtop pergi ke gerbang sambil nenteng mangkok buat nyegat mamang bubur.

Kalau gini caranya, gue abis lulus kuliah jadi tukang bubur daerah kampus aja deh. Tiap hari bisa liat paha. Paha ayam maksudnya.

Ayam kampus :((((

Siang ini gue memilih untuk tidur-tiduran di kasurnya Ciko sementara dia asik nongkrong di depan tv buat mantengin FTV dengan judul Pacarku Mantan Copet Cantik. Untuk membunuh waktu, tak lupa gue sesekali memainkan gitar klasik kepunyaan Ciko dan menyanyikan lagu-lagu gereja kepunyaannya. Ciko tidak keberatan ketika gue melakukan itu.

Namun tiba-tiba, gitar-gitaran gue ini terhenti.
Ciko pun langsung menengok ke belakang.

“Napa lu berhenti dah? Gue lagi menghayati nih.”

Gue menatap pelan ke arah Ciko dengan tatapan ketakutkan.

“Wuih kenapa lu? Dapet hidayah buat pindah agama?” Tanya Ciko lagi.

Gue geleng-geleng, “Mantan gue ngajak ketemu, Cik.”

JLEGAR!
Seketika itu juga langit mendung. Petir menyambar-nyambar. Temen-temen kostan Ciko yang pahanya kemana-mana itu langsung meluk gue.

Terkadang, masa lalu itu brengseknya kebangetan. Setelah dia melukai dengan cara pergi dan membiarkan kita sendirian kesakitan untuk mengingat hal-hal bahagia yang terasa seperti luka, ia juga sering kembali di saat-saat kita sudah bahagia atau di saat kita sudah mampu untuk hidup tanpanya.

Lalu dengan sapaannya yang sedikit itu, ia meruntuhkan semua tembok-tembok tinggi yang telah kita bangun sebelumnya. Benih harapan yang sudah dikubur begitu dalam tiba-tiba menunjukkan tunas baru, tunas yang sering kita namakan dengan,

“Harapan bahwa ternyata dia masih cinta sama gue.”

Bahaya banget.

Kenapa gue sebut bahaya? Karena selain dia akan menarikmu kembali ke tempat-tempat yang seharusnya sudah kau tinggalkan itu, dia juga akan membuatmu kembali mengingat hal-hal yang sebenarnya selama ini sudah tidak begitu nyeri jika kau ingat.

Maka inilah beberapa teknik-teknik ala @mbeeer dalam menghadapi serangan mantan yang ngajak balikan lagi.

.

                                                          ===

.

QUESTION AND ANSWER

Sebut saja dia Sebastian, atau kerap dipanggil Sebats oleh teman-temannya. Seorang pria yang cukup tampan dengan brewok nempel di sekujur tubuh termasuk di selangkangan. Sebastian ini selain pandai mengaji dan membaca arab gundul, doi juga piawai sekali dalam bermain alat musik, terutama piano dan juga ketipung. Kemampuan Sebastian dalam bermain alat musik seperti ini tidak ia dapatkan begitu saja. Percaya atau tidak, kemampuan Sebastian dalam bermain alat musik ini ia dapatkan dari seorang wanita yang pernah mengisi hidupnya.

Bagaimana bisa?

Sebut saja dia Mia. Gadis yang bercita-cita menjadi aktris pemeran Srimulat ini digadai-gadai menjadi latar belakang kenapa Sebastian jadi menyukai Musik. Entah semesta sedang merencanakan apa, namun di suatu ketika, Mia dipertemukan dengan Sebastian. Mia yang saat itu sedang gundah karena tak kunjung menemukan lelaki yang tepat dan Sebastian yang sedang menjalin hubungan tanpa status dengan sabun kecrotan di kamar mandi itu, pada akhirnya menjadi alasan kenapa mereka berdua bisa jatuh cinta di saat yang bersamaan.

Hidup mereka bahagia. Mia yang berprofesi sebagai aktris ini menasihati Sebastian bahwa musik adalah esensi dari sebuah kehidupan. Maka dari itu Mia mengajarkan Sebastian untuk bermain musik. Dengan kemampuan membimbing Mia dan juga rasa cinta Sebastian yang begitu besar, pada akhirnya Sebastian dengan mudahnya terjun ke dunia yang baru baginya; Musik.

Namun seumpama lirik yang tak rampung, musik yang fals, dan nada yang salah komposisi. Bahtera rumah tangga Sebastian dan Mia tidak berjalan baik. Mereka harus dipisahkan oleh keadaan. Mia tiba-tiba pergi begitu saja dengan meninggalkan banyak tanda tanya di kepala Sebastian.

Selain mabuk-mabukan dengan cara naik angkot tapi madep ke belakang, Sebastian juga melarikan diri dari galaunya dengan bermain musik lebih giat. Menurut Sebastian, hanya dengan cara inilah dia mampu mengingat Mia dalam bentuk Nada.

Beberapa tahun telah berlalu. Hingga tiba-tiba datang suatu saat ketika Sebastian sedang bermain musik di sebuah orchestra Dangdut Dorong di depan RW 03, Sebastian tak sengaja melihat Mia ada di sana. Di antara para ibu-ibu berdaster, bapak-bapak singletan doang, anak-anak bau matahari, dan tukang sayur, Mia sedang berdiri menatap Sebastian yang saat itu sedang bermain Rebana dan Ketipung bersama teman-teman Akapelanya yang membawakan lagu Alif-Bata-Sajimha karya Wali Band.

Ketika Sebastian sudah mulai bisa melupakan Mia, tiba-tiba Mia hadir kembali dalam hidupnya. Membuat segala pertanyaan yang sebenarnya sudah diikhlaskan oleh Sebastian tiba-tiba menyeruak lagi ke permukaan. Membuat kakinya goyah lagi di hadapan cinta yang membuat dirinya terjun ke dunia yang ia sukai.

Kisah Sebastian di atas itu kerap terjadi di kehidupan ABG di Negara Berkembang. Ketika kita sudah mampu melangkah, sudah lupa, sudah tidak terlalu sakit lagi dalam mengingat, tiba-tiba sang masa lalu datang untuk menawarkan sebuah jawaban.

Kita yang tadinya sudah tidak berharap lagi tiba-tiba menjadi was-was, kita yang bahkan sudah tidak butuh jawaban atas kepergiannya dulu itu menjadi penasaran lagi hanya karena merasa bahwa ada kesempatan untuk mendapatkan jawaban.

Q&A atau Question and Answer; Adalah suatu keadaan di mana kita dipisahkan oleh keadaan, oleh suatu ketidak-adilan sehingga ada begitu banyak tanda tanya di kepala. Kepergiannya membuat tanda tanya itu tidak terjawab, terbengkalai. Mau bertanya tapi takut disangka masih ngarep, mau bertanya tapi ternyata dia sudah punya pasangan yang baru, atau juga mau bertanya tapi tidak ada akses yang memungkinkan untuk berbicara dengannya.

Kemudian kau menyerah, berusaha menelan mentah-mentah semua tanda tanya. Menguburkannya jauh-jauh di dalam dada. Mencoba Ikhlas bahwa pertanyaan atas kepergiannya itu tidak akan terjawab untuk selamanya. Lalu kau mulai belajar menerima keadaan itu. Namun ketika kau sudah mampu menerima, tiba-tiba masa lalumu dengan brengseknya datang lagi. Memberikan sebuah harap bahwa jawaban yang selama ini kau cari itu mampu ia berikan.

Pertanyaan-pertanyaan yang kau kubur dalam-dalam dulu itu tiba-tiba menumbuhkan tunas.

Pertemuan seperti gue anggap sebagai sebuah keadaan paradox.
Boleh dilakukan, tapi lebih baik tidak.

Boleh dilakukan jika kau sudah yakin tidak akan baper lagi ketika berbicara dengannya. Tidak akan baper lagi atas semua jawabannya. Atau lebih baik tidak; Karena buktinya tanpa jawabannya itu pun kau sudah pernah bisa bertahan dan melanjutkan hidup dengan bahagia, kan?

Gue sarankan hati-hati dengan pertemuan yang seperti ini.
Sangat menggoda dan penuh tipu daya.

Kaya tengtop awkarin waktu naik kuda.

.

                                                           ===

.

PENASARAN

Ekspresi gue pas doi ngajak balikan.

 .

Bukan, gue bukan mau ngomongin setan. Penasaran di sini dalam arti kamu masih ingin meluruskan apa yang dulu sempat terbengkalai.

Sebut saja, Harambe. Seorang cowok nggak ganteng-ganteng amat yang sudah khatam Iqro 6 tapi ada aja cewek cakep yang nyantol sama dirinya. Sikapnya yang baik dan menyamankan ini membuat seorang wanita, Sebut saja Sanbe, jadi jatuh cinta.

Padahal kala itu Sanbe tengah patah hati berat. Ia baru saja putus dari hubungannya kemarin dengan seorang cowok brengsek. Sanbe hanya dimanfaatkan, tubuhnya dieskploitasi kaya saham Freepot. Sanbe disuruh jadi Manusia Silver untuk membuktikan cintanya, padahal mantan Sanbe hanya menginginkan uang hasil mengemisnya itu saja.

Patah hati yang begitu berat lantaran kulitnya menjadi warna abu-abu membuat Sanbe enggan masuk ke dalam suatu hubungan terlebih dahulu. Namun meski begitu, Harambe tetap mencintai Sanbe. Ia menyamankan Sanbe, menyembuhkan Sanbe dari segala luka yang padahal bukan disebabkan oleh Harambe.

Namun ketika Sanbe sudah mampu untuk jatuh cinta lagi, Harambe ditinggalkan begitu saja. Harambe tidak dipilih padahal selalu ada. Tidak dijadikan pilihan padahal selalu menomer-satukan Sanbe. Harambe dipaksa pergi dengan cara digantikan oleh orang lain.

Brengsek sekali.

Lalu beberapa tahun kemudian ketika Harambe sudah mengikhlaskan Sanbe dan memilih Fitnes sebagai pelampiasan patah hatinya, Sanbe datang lagi. Sanbe tertarik dengan otot-otot perut Harambe yang seperti tahu berjumlah 6 biji itu.

Dan bodohnya, Harambe tanpa pikir panjang langsung menerima Sanbe kembali tanpa mengingat bahwa dulu Sanbe pernah meninggalkan Harambe lebih dari satu kali. Ketika teman-teman Fitnes Harambe bertanya apa alasan Harambe kembali kepada masa lalunya, sambil menggoyang-goyangkan otot dadanya, Harambe menjawab dengan nada berat bak barbel,

“Aku masih penasaran sama dia.”

Yak!

Menurut gue, masih penasaran ini juga termasuk salah satu cara menengok masa lalu yang cukup berbahaya. Hubungan yang sudah usai sebelum dimulai, atau juga hubungan yang hampir berhasil tapi keburu selesai itu, kerap menjadi rasa penasaran di dalam dada. Hingga kemudian ketika masa lalu datang menawarkan proposal untuk kembali lagi, itu terasa seperti sebuah angin segar yang menghilangkan dahaga rasa penasarannya selama ini.

Karena rasa penasaran itu mampu membunuh syaraf logika.

Baiknya pertemuan ini dihindarkan dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah tetaplah Fitness dan putuskan menjadi Gay. Aman.

Paling banter juga resikonya pantat lu bolong.

.

                                                          ===

.


MASIH CINTA

Aelah kagak usah gue jelasin lagi yang begini mah. Bikin kesel aja.


.

                                                              ===

.


WALKIE TALKIE

Wa cape mz..

.

Walkie Talkie adalah pertemuan yang dilaksanakan hanya untuk bercengkrama. Ingat, bercengkrama, bukan bersenggama. Tolong dibedakan ya Ukhti Ikhwan. Jangan sampai salah ucap, nanti kamu dimarahin ustad Hainan.

Baiknya teknik Walkie Talkie ini dilakukan hanya ketika kamu sudah cukup dewasa untuk menerima sebuah pendapat dan penjelasan dari sisi masa lalumu. Karena bisa dibilang teknik Walkie Talkie ini adalah gabungan dari ketiga teknik di atas. Ada pertanyaan yang belum di jawab, rasa penasaran untuk menuntaskan, juga ada sedikit rasa masih cinta. Maka apabila kamu belum cukup dewasa untuk sebuah pertemuan yang seperti ini, baiknya jangan dilakukan. Karena jika tidak, kamu akan jatuh dua kali di lubang yang sama.

Sebuah hubungan antara dua hati manusia kerap berakhir tanpa disangka-sangka dan tanpa direncakan sebelumnya. Tentu kedua belah pihak akan terluka juga, namun yang saat itu sedang sayang-sayangnya lah yang akan paling terluka. Selain meninggalkan banyak tanya, rasa penasaran karena masih cinta pun kerap melekat kuat-kuat di dalam dada.

Berbulan-bulan berlalu, bertahun-tahun berlalu, tetap rasa itu masih ada. Mungkin tidak membesar, tapi akan tetap ada. Membuatmu jadi merasa benci pada yang meninggalkan karena membuatmu tersiksa sendirian. Karena bagimu, ada beberapa luka yang tidak mungkin sembuh bahkan dalam hitungan tahun.

Lantas tanpa kau sangka-sangka sebelumnya, masa lalumu itu kembali. Menawarkan sebuah penjelasan. Sontak rasa yang melekat di dalam dadamu itu tiba-tiba membesar kembali. Membuatmu dengan mantap untuk bertemu dengannya.

Walkie Talkie adalah pertemuan untuk mendengarkan pendapat dari pihak yang meninggalkan. Karena terkadang orang-orang yang meninggalkan juga merasa bahwa merekalah yang disuruh pergi. Bahkan mungkin orang yang meninggalkan ini akan bilang bahwa sejatinya dialah yang tersakiti di perpisahan kalian yang kemarin itu.

Oleh sebab itu, seperti yang gue bicarakan di awal, jika lo belum dewasa untuk menerima pendapat dari sisi pandang masa lalu lo, baiknya pertemuan ini jangan dilakukan. Setelah bertahun-tahun rasa penasaran itu melekat lalu kemudian kau mendapatkan jawaban, namun jawabannya malah menuduh bahwa kamulah pihak yang salah, sontak pasti kau akan merasa begitu emosi atau bahkan hingga menjadi benci.

Kau yang selama ini tersiksa. Kau yang selama ini terluka sendirian. Ternyata di matanya, adalah kau yang bersalah. Tak ayal pertemuan ini malah mengubah apa rasa cinta menjadi rasa benci. Tiba-tiba seluruh perasaanmu, kekagumanmu, cintamu itu luluh lantah dan digantikan dengan rasa jijik serta benci.

Atau bahasa lainnya adalah Ilfeel.

Namun, bisa juga kebalikannya. Bisa jadi pertemuan ini malah menyembuhkan dan betul-betul menjawab seluruh pertanyaan yang mengganjal di hatimu selama ini. Mungkin apa yang akan ia jelaskan benar-benar membawa kalian ke sebuah jalan tengah. Ke penyelesaian yang begitu damai tanpa banyak helaan napas.

Bahkan, itu bisa membawamu kembali menjalin hubungan dengannya.

Baik buruknya, itu tergantung kedewasaan setiap orang yang hendak melakukan teknik Walkie Talkie ini. Tapi menurut gue, yang telah lalu itu biarlah berlalu. New is always better.

Mengutip salah satu lirik dari lagu mas Kodaline,

‘cause we don’t, we don’t need to talk about this now
Yeah, we’ve been down that road before
That was then and this is now

The crowds in my heart they’ve been calling out your name
Now it just don’t feel the same
Guess it’s over, yeah, we’re done

.

                                                             ===

.

Nah gaes,

Itulah ketiga teknik penting yang perlu diketahui ketika masa lalu datang kembali untuk menawarkan sebuah kerja sama ulang. Dia datang seperti ulangan Remedial, menawarkan dirimu kesempatan yang baru untuk memulai semuanya dari awal lagi.

Tapi untuk siapapun yang sudah membiarkan waktu berharganya hilang begitu saja karena membaca tulisan nggak penting ini, baiknya ingatlah kata-kata gue ini,


Setelah kau gagal dan terus gagal, masa depan memang akan terlihat begitu menakutkan dan asing. Tapi kau tidak bisa berlari kembali ke masa lalu hanya karena merasa masa lalu itu terasa lebih familiar untukmu. Ya, masa lalu memang terlihat lebih menggoda, tapi itu tetaplah sebuah kesalahan.

Because new Is always better.

Selalu ada luka yang tak pernah kau tahu darimana datangnya.
— 

Mungkin ia adalah hasil dari ekspektasi yang tak sadar telah kau tanamkan, atau karena kepercayaan yang kau berikan kepada seseorang tapi berakhir dikecewakan.

Atau mungkin juga karena hal lain yang tak kau ketahui meski telah kau coba ingat berkali-kali.

Yang jelas, ketika kau tersadar, luka itu sudah berada di sana—terasa begitu perih di dada.

— Catatan Sederhana

Jalan terjal, curam dan medan berat yang kau lewati. Semua patah-patah yang kau alami. Perjuangan-perjuangan yang membutuhkan banyak pengorbanan tapi tak dihargai. Kecewa-kecewa yang kau telan dari setiap manusia yang singgah. Hanya satu yang perlu kau ingat baik-baik; bahwa semua hanyalah sementara.
—  Mau sabar sedikit lagi, kan? :)
Cinta itu rumit, tak pernah tampak sederhana. Seberapun kuat kau bilang cinta tak harus selalu memiliki, pasti ada secuil perasaan ingin dimiliki juga. Tapi kau harus ingat, cinta yang baik adalah cinta yang secukupnya. Cinta yang sama-sama diperjuangkan.
—  : lewat doa-doa yang gaungnya menembus langit.
Berhenti Mencari Popularitas

Syahdan, Umar bin Khattab dalam sirah kita ketahui pernah melakukan sesuatu yang dipertanyakan, yaitu memecat Khalid bin Walid dari panglima perang. Ketika karir Khalid dan reputasi Khalid sedang gemilangnya, semua orang menyanjungnya bahkan sampai mulai orang - orang percaya bahwa Khalid lah yang menyebabkan kemanangan kemenangan tiap pertempuran. Akhirnya keadaan ini menggusarkan Khalifah Umar pada saat itu hingga beliau mengirimkan utusannya kepada Khalid dengan surat pemecatan.

Sebagai orang yang taat kepada khalifah, maka walaupun bukan main kagetnya, setelah menerima surat pemecatan tersebut Khalid langsung menghadap khalifah Umar.

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam.

“Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?” Khalid bertanya dengan mantap.

“Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!” Jawab Khalifah.

“Kalau masalah memecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?” Khalid kembali bertanya kepada khalifah.

“Kamu tidak punya kesalahan.” jawab Khalifah dengan tenang.

“Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?” Khalid kembali bertanya dengan segala kebingungan ini.

“Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik.” Khalifah kembali menjawab dengan mantap dan tenang

“Lalu kenapa saya dipecat?” tanya Khalid yang sudah tak kuasa menahan kebingungannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, “Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong”.

“Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!”

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, “Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!”

setelah dipecat, sesegera mungkin Khalid kembali lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, “Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat.”

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, “Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.”

PS : dikutip dari pesan di WA Group dengan perubahan dan tambahan

rasa ke-empat

Mari dimulai kembali dari rasa pertama…
Aku tak lagi ingat seperti apa suara paraumu di malam hari. Aku tak ingat seperti apa keluhanmu pada setiap gelisah. Aku tak lagi ingat racauanmu di tengah kalut.
Aku sepertinya berhasil tak lagi ingat denganmu, mungkin.

Lalu kita berpindah pada rasa kedua…
Aku tak ingat bagaimana caramu memakan makanan yang begitu kau idamkan. Aku tak lagi ingat seperti apa kau menyuruhku menghabiskan sisa makananmu. Aku tak ingat seperti apa inginmu memakan makanan yang sebetulnya tak sehat untukmu.
Aku masih tak ingat dan sudah lupa, kan?

Sebentar, bagaimana dengan rasa ketiga…
Aku juga tak lagi ingat seperti apa senyum jahilmu. Aku tak ingat seperti apa tatapan selidikmu. Aku tak ingat seperti apa wajah tengilmu. Aku telak sudah lupa!

Dan aku sampai pada rasa keempat…
Rasa yang menjadi kesimpulan dan titik akhir. Bahwa, mungkin aku sudah lupa. Aku lupa bahwa aku sudah sepenuhnya melupakanmu–yang nyatanya hanya ada dalam angan.

Hujan Mimpi

PERCAYA PADA SEGALANYA

Aku tetap percaya. Hari itu akan tiba. Hari di mana kita akan saling bertatap muka, setelah sekian lama menjaga pandang dan menundukkan kepala.

Aku tetap percaya, kau masih berusaha menjadi manusia baik dan melakukan tujuan utama sebagai seorang ketua keluarga yang membahagiakan seluruh keluarga.

Aku tetap percaya, di mana kau berada, kau masih meminta yang terbaik kepadaNya.

Maka, tunggulah.
Aku masih memantaskan diri untuk menjadi alasan dibalik terkabulnya doa doa.

Maka, bersabarlah.
Jika kau lelah, ingat satu hal bahawa ada seorang wanita yang setia dan ikhlas mengirimkan peluk buatmu dalam bentuk doa.

Maka, tetaplah percaya.
Kerana aku sentiasa melakukan hal yang sama. Kita masih jauh, aku cuma mampu memelukmu di dalam setiap bait bait doaku.

Dan percayalah, aku sentiasa ingin memelukmu.

Dapatkah kau rasa bahawa tulisan ini benar benar dari hati.

24 Feb 2017
Friday
11:36 am

Aku masih ingat apa yang dulu kau katakan bahwa kau paham dan tahu betul bagaimana rasanya patah hati. Kemudian kau berjanji tak akan melakukan hal sama seperti yang pernah kau rasakan, tapi nyatanya? Ah manusia, seringkali ucapan sekedar ucapan, janji hanya tinggal janji.
Kelukurku Tak Lagi Terukur

Kala itu ada yang berbeda dari senyummu. Sulit mengungkapkan dimana beda terletak, tapi bisikan hati ini hampir menemukannya. Sekilas memang tetap sama. Senyummu menawan dan aku selalu tertawan. Senyummu juga tetap indah memancing bunga-bunga dalam hatiku bermekaran. Alhasil, aku terlena dengan bahagia oleh senyum yang kau beri.

Tak jadi hatiku menelusuri dimana beda. Sekarang curigaku berganti dengan sukacita. Bukan sekali kau buat aku berubah pikiran. Kau yang paling pandai menggonta-ganti isi pikiranku. Mengubah prasangka dan rasaku. Tidakkah kau ingat? Kau juga yang dahulu mengganti amarahku karena cemburuku dengan gelak tawa penuh riang ketika akhirnya kita saling berbisik. Kau jugalah yang menghentikan air mata kesedihanku dengan cukup satu kalimatmu “Sudah yaa, cukup malam ini saja sedihnya!”. Kau yang memantik dan kau jugalah yang memadamkannya.

Kau adalah pengendali diriku yang sebenarnya. Buktinya diri ini lebih manut padamu ketimbang diriku sendiri. Meski belum ada apapun yang tersemat antara kau dan aku, tapi aku telah merasa diriku adalah hakmu. Kau berhak atasku; aku tak berhak atasmu.

Hatiku masih terkena ilusi atas senyummu saat mataku sedang mencari-cari wujud dirimu yang telah menebar ilusi. Sepertinya hal yang beda itu semakin dekat untukku ketahui. Tapi apa? Aku masih belum bisa memecahkan teka-teki itu.

Sibuk aku mencari wujud si pemberi senyum ketika ia tak nampak dihadapan. Namun, setelah aku mencari, tubuhku tiba-tiba kaku disertai keringat dingin. Apa yang dilihat mataku kala itu, membuncahkan pikiran dan hatiku. Terlihat dari jarak sepelemparan batu, senyum merekah dari kedua bibirmu terlontar untuk seseorang. Senyum yang lebih hangat dibanding senyum yang kau berikan padaku. Lalu, tangan kananmu juga menenteng, turut menjaga barang bawaan milik seseorang itu. Apa maksud semua ini?

Aku memutar, memilih kembali ke tempat kau berikan senyum berefek ilusi tadi. Aku terduduk menyender dinding tanda frustasi. Terguncang hatiku bukan main melihat apa yang ku lihat.

“Apakah kau telah menentukan hatimu?”, aku bertanya-tanya seraya menahan sesak. Terkulai hatiku tak bernyawa. Berkelukur hatiku untuk sekian kalinya. Kau jualah penyebab yang sebelum-sebelumnya. Tapi sejauh ini aku masih ingin bertahan padamu. Biarlah luka ini memamah biak dalam diriku. Ketika terasa lukanya olehku, kutelan seketika rasa itu agar lenyap, walau pada akhirnya luka itu kembali hadir menyeruak ke keseluruhanku.

Tak peduli jika sikapku itu tergolong sebagai tindakan bodoh. Karena cinta seringkali mengiyakan tindakan bodoh tak bernorma. Semoga rasa ini bukan nafsu yang membuat Adam dan Hawa terlempar ke dunia dari surga. Semoga rasa ini adalah cinta yang mempertemukan Adam dan Hawa kembali setelah sekian lama terpisah didunia.

Untuk Diriku di Tahun 2027

Saat kau membaca pesan ini, jangan kaget! Kamu bukan orang yang bisa mengembalikkan waktu atau bisa melakukan perjalanan ke masa lalu. Kamu hanya orang dengan sikap pelupa. Lupa kalau sepuluh tahun lalu kau pernah menuliskan ini.

Pertama-tama jika benar kau membaca pesan ini dalam keadaan sehat walafiat, maka jangan luput untuk selalu bersyukur terhadap apa yang saat ini kau punya. 

Pernah sekali waktu saat kau masih menjadi perantau baru di kota orang; kuliah dengan bantuan beasiswa dan lindungan doa keluarga, kau malah selalu merasa iri pada teman yang kosnya lebih megah, kendaraannya lebih mewah, dan jalan hidupnya yang kau rasa lebih mudah. Pada akhirnya kau tertampar saat mengetahui kenyataan bahwa teman-temanmu itu tak mendapat restu yang sama seperti dukungan keluargamu, tak mendapat kasih yang sama seperti kepedulian sahabat-sahabatmu, bahkan hidupnya jauh lebih berat saat mereka mulai menceritakan permasalahannya padamu. Banyak moment yang tak bisa kuceritakan padamu soal perasaan-perasaan tanpa syukur, pikiran-pikiran sulit ikhlas, dan kelakuan-kelakuan yang memunculkan penyakit hati. 

Maka tetaplah berbaik sangka pada semua kehendak Tuhan untuk hidupmu. Belajarlah berterima kasih atas setiap karunia yang dilimpahkan padamu. Sip, yah? Ok lanjut.

Saat ini kau pasti telah punya wanita halal cantik nan indah yang aku yakin ia bersusah payah dan butuh waktu lama untuk ikhlas menerimamu dengan lapang dada. Muliakanlah ia, jagalah ia, serta tuntunlah selalu ia di jalan yang paling diridhoi Sang Maha Kuasa. 

Sebab waktu kau masih dalam pencarian di masa muda; kau pernah mematahkan hati dari seorang wanita, mengecewakan harapnya, melukai kepercayaannya, dan membuatnya bersedih untuk waktu yang sangat lama. Ingatlah baik-baik, kau menyesali kelakuanmu itu selama bertahun-tahun. Kau berusaha menjadi sosok humoris di depan teman-temanmu, tapi tak lebih dari sosok meringis di balik bantal-bantal kasurmu. Kau berusaha tertawa sekeras-kerasanya, tapi kau tak bisa menepis duka yang semakin lama semakin dalam menghantuimu. Kau bahkan selalu berpura-pura menjadi dokter cinta, hanya untuk menutupi luka dan fakta bahwa kau sendiri adalah pasien asmara. 

Jika akhir-akhir ini kau merasa ada perilaku yang menyakiti sang Istri, bergegaslah meminta maaf, lakukan apa pun untuk tetap mengharmoniskan rumah tangga. Sebelum sekali lagi kau mengatakan, “Seharusnya wanita tak boleh dikecewakan.”

Selanjutnya, apakah saat ini kau telah punya anak? Dilihat dari senyummu, sepertinya kau sedang bahagia-bahagianya membesarkan dan memanjakan sang Junior. Akan kuceritakan masa remajamu saat orangtua memutuskan sesuatu untuk hidupmu. Barangkali kau tak ingin memberikan perasaan yang sama pada anakmu seperti yang kau rasakan di jaman dulu. 

Setelah tamat SD, kau melanjutkan studi di pesantren terkenal di Sulawesi Selatan. Kau masuk kelas unggulan saat itu. Kelas yang menuntutmu untuk belajar ekstra keras dari pagi buta hingga sore. Kau tak terbiasa dengan aktivitas sepadat itu, karena kau hanya anak bungsu yang selalu dimanjakan orangtua. Tiap jumat sore dan minggu pagi, kau menyendiri di belakang pos penjagaan gerbang. Duduk menunduk dan berlinang air mata. Tiap hari kau membayangkan kembali ke kampung halaman, tiap ada waktu pula kau selalu menelpon dan mengeluh pada ibu di kampung halaman. Alhasil, kau sering sakit-sakitan di asrama. Bahkan saat lomba gerak jalan, posisimu di barisan terpaksa kosong karena kau jatuh sakit tepat di hari H perlombaan. 

Setelah tiga bulan sejak kau masuk di pesantren itu, akhirnya hari libur puasa pun tiba. Kau kembali ke rumah dan menceritakan semua kesusahanmu pada keluarga. Ibumu menangis, apalagi saat kau menceritakan keadaan hilangnya dompetmu, tak berani mengatakannya ke siapa-siapa, dan harus menahan diri untuk tidak jajan beberapa minggu. Hingga akhirnya, ayah memutuskan untuk memindahkanmu di sekolah dekat rumah saja. Lalu kau mulai mengikuti kelas demi kelas di sekolah baru itu. Tapi kau merasa kapasitas dan sistem belajar di sekolah biasa itu sangat jauh berbeda dari pesantren yang banyak mengajarkan ilmu praktis. Bagaimana tidak, berkat ilmu dari pesantren yang kau dapati, kau bahkan dapat berceramah di lima masjid berbeda pada bulan puasa saat itu. Kali pertama kau merasakan pendapatan beramplop dari hanya sekedar berbicara di depan jamaah. Saat itulah, kali pertama kau menulis sebuah diary, dengan judul besar; Penyesalan. 

Iya, kau merasa kecewa dan sangat menyesal telah menurunkan kualitas hidupmu, hanya karena waktu itu kau selalu berpikir bahwa kau tidak cukup tangguh untuk terus bertahan sebagai perantau. Seringkali kau menggunakan seragam pesantrenmu lagi dan mengutuk lemahnya dirimu, “Kenapa aku tak bisa bertahan lebih lama agar nantinya dapat membanggakan orangtua?” Kau benci karena harus melupakan salah satu cita-citamu untuk menjadi pendakwah besar. Tapi apa daya, kau hanya mampu mengungkapkan semuanya lewat sekumpulan tulisan dalam diary. 

Maka jika kau tak ingin mewarisi perasaan itu pada sang Anak, maka mungkin selain kau memanjakannya, kau juga perlu mengimbanginya dengan menanamkan mental kemandirian. Karena selain kasih sayang, kau juga perlu memberinya kekuatan.

Aku ingin bertanya lagi, kapan terakhir kali kau mengunjungi orangtuamu? Kapan terakhir kali kau membuatnya tertawa dengan cerita-cerita konyol dari kampung rantaumu? Kapan terakhir kali kau mencium tangan ayah, memeluk dan mencium pipi ibu? Kapan terakhir kali mereka bermain dengan gembira bersama anak-anak lucumu? Semoga sampai saat kau membaca tulisan ini, mereka masih dalam keadaan sehat sejahtera. Jika pertanyaan di atas masih kau anggap sebagai formalitas pulang kampung semata, maka camkan cerita ini baik-baik. 

Setelah kau tamat SMA, hasil voting keluarga menunjukkan bahwa kau harus melanjutkan pendidikan di tanah Jawa. Empat tahun kau kuliah. Dan kau hanya sempat pulang kampung menemui mereka sekali dalam setahun. Kau pasti masih ingat tradisi keluarga saat kau kembali ke rumah, kedua kakakmu membela-belakan diri untuk datang dan berkumpul, hanya agar kau dapat melihat kondisi keluarga komplit dan agar kau dapat merasa betul-betul sedang kembali ke rumah. Lalu setelah kumpul, ibu akan memasak masakan dengan penuh antusias. Sedang ayah akan mengambil kartu remi beserta buku catatan. Dan mengajak kita semua untuk berkumpuk dan bermain. Ayah selalu berdalih; ini adalah permainan yang mengukur tingkat intelektualitas kita semua. Padahal ayah hanya merindukan suasana berkumpul dan berusaha untuk memberi hiburan pada anak-anaknya. 

Setelah waktu bermain selesai, saatnya mengisi perut yang kosong dengan sajian makanan ibu. Kadang-kadang pada saat makan inilah sering ada pertanyaan terlontar padamu, tentang bagaimana makanmu saat menjadi anak kost di kampung orang, bagaimana kau menaklukkan dosen-dosen dari tugas kuliah, dan bagaimana kau menjaga godaan-godaan dari indahnya gadis-gadis kota. 

Bahkan dalam kondisi lain pun ibu dan ayah selalu ingin mengajakmu berbincang-bincang. Saat ayah sedang duduk santai minum kopi, ia akan mengajakmu duduk bersama dan memintamu curhat akan masa-masa sulitmu menghadapi perkuliahan, hingga mendiskusikan pekerjaan apa yang kau dambakan setelah menyandang gelar sarjana. Saat ibu sedang membelai-belai rambutmu sambil tiduran dan menonton tv, ia selalu menanyakan pergaulanmu sebagai mahasiswa, ia menasehatimu untuk selalu menjaga diri dari rokok, obat-obatan terlarang, minuman-minuman haram, dan tentunya dari gadis-gadis yang akan merusak iman. 

Setiap ada waktu mereka selalu ingin mengobrol denganmu. Ternyata alasannya bukan cuma karena mereka ingin tahu kehidupanmu saat mereka tak bersamamu, atau karena mereka ingin menasehatimu dari kemungkinan terburuk hidupmu, atau cuma karena ingin mendiskusikan kehidupanmu setelah berkeluarga seperti apa. Tapi lebih dari semua itu, sebenarnya hanya dengan cara itulah mereka ingin mengapresiasi diri dari panjangnya perjuangan untuk mendewasakanmu. Mereka tak seperti dulu lagi yang bisa menemanimu bermain sambil menggendongmu. Menamimu olahraga dengan mengandalkan kekuatan ototnya. Menemanimu rekreasi dengan pergi ke tempat-tempat wahana yang kau suka. Mereka tak lagi sekuat dahulu, maka cara terakhir bagi mereka untuk menemanimu, yaitu hanya dengan otak dan mulut saja. Bagi mereka, mendengar pengalaman yang membanggakan dari anaknya yang meraih sesuatu itu adalah penghargaan besar bagi mereka. 

Maka, berkunjunglah ke rumah orangtua. Ajak mereka mengobrol seasik-asiknya. Ceritakan semua pencapaian-pencapaianmu di bidang-bidang yang kau tempuh atau telah kau lewati. Banggakan anak dan istrimu di hadapannya. Katakan bahwa kebahagiaanmu adalah hasil dari karya terbesar mereka.

Aku menceritakan semua hal penting ini agar kau tidak lupa untuk tetap belajar dari rasa-rasa yang menyesakkan. Sungguh, kegagalan bukan saat kau tak berhasil melakukan sesuatu, tapi saat kau tak bisa mengambil pelajaran dari kejadian itu untuk menjadi bekal penting di masa akan datang.

Seperti itu saja yang bisa kusampaikan untuk saat ini. Aku harus melanjutkan laporan skripsiku. Dan mungkin juga kau harus melanjutkan tugas-tugas kerjamu. Satu hal terakhir. Pastikan hingga saat kau membaca tulisan ini, kau masih selalu menulis tentang apa pun yang kau pikirkan dan tentang apa pun yang kau rasakan. Aku ingin kau membalas tulisan ini dengan keadaanmu sekarang yang sepertinya sudah terlihat sok kedewasaan. Teruslah berbagi pengetahuan dan kebaikan. Aku tunggu pesan balasan darimu di tahun 2027, untuk aku yang ada di tahun 2017.

Sekian, salam hangatku untuk orang-orang tercintamu.😊

Ingat saat kau merengek agar aku tetap tinggal?
Saat itu, para malaikat menodongku dengan semua kebaikanmu.

Kini, saat aku memohon untuk kau tidak menyerah,
Kau menodongku dengan semua kekuranganku.

#49

“Jarak adalah rindu yang menyamar.”

Sudah berapa bulan kau mengarungi mimpi, kasihku? Melewati segala yang tidak nyata, tapi selalu membuat perubahan-perubahan di hidupmu. Kau menjadi berbeda dibanding kau yang dulu.

Aku masih belum memahami mengapa detik-detik selalu bertanya: mengapa tak ada kata kembali? Mengapa cahaya bulan tak seterang mentari? Mengapa suara itu masih menggaung saat tak ada yang mengingat bentuknya?

Kau mesti ingat, pada bulan-bulan yang banyak ketidakpastian, aku banyak menulis kata-kata di lembar-lembar kertas. Mengganti namamu dengan harum bunga, dan membeli malam-malamku dengan sepasang jaket untuk kita. Yang menawarkan hangat beserta keinginan untuk bersama-sama.

Cinta, yang sulit terucap dari pita suaraku yang lenguh. Bagiku, cinta belum pernah utuh. Ia hanya menyerupai pelangi-pelangi, tapi selalu kehilangan satu warna. Itulah yang aku resapi di bulan-bulan saat kau begitu mendung, sayang.

Begitu mendung dan ragu.

Masihkah kau ingat ?
Jujur aku katakan hampir semua yang tinggal kini di dalam hati dan fikiran hanya kesakitan . Bukan lagi kebahagiaan yang suatu masa kita pernah raih bersama .
—  Tidak lagi .
Cerpen : Laki-Laki Baik
  • Suatu hari abang sedang duduk dengan ponsel di tangannya, seperti sedang berfikir keras. Aku mendekat hendak bertanya atau sekedar bercanda saja. Sambil memainkan ponsel juga ku ajak abang ngobrol denganku.
  • .
  • Dinda : "Bang... menurut abang laki-laki yang baik itu seperti apa?"
  • Abang : "Yang menyukaimu hingga tua bahkan saat dia tahu kekuranganmu yang terburuk."
  • Dinda : "Menurut abang nih ya, jika, ini hanya jika. Suatu ketika ibu dan ayah menjodohkan Dinda lantas dalam masa berumah tangga ada lelaki yang menyukai Dinda yang lebih baik dibanding suami Dinda, apa dia termasuk laki-laki yang baik?"
  • .
  • Abang menutup ponselnya, menatapku dengan tatap yang cukup kesal. Aku kikuk, pertama kali ku lihat abang kesal padaku.
  • .
  • Abang : "Laki-laki yang baik itu tidak akan mengganggu perempuan yang memiliki suami. Pun sebaliknya. Dan kau, ingat baik-baik, ketika menikah kelak jangan pernah meninggalkan suamimu hanya karena alasan sepele. Abang tidak membesarkanmu untuk menjadi perempuan yang tak tahu malu."
  • Dinda : "Iya abangku sayang. Dinda cuma berandai-andai saja."
  • Abang : "Jangan berandai-andai yang tak bagus lagi. Abang gak suka."
  • Dinda : "Hehehehe. Maaf bang, Dinda janji suatu ketika Dinda menikah Insya Allah, Dinda akan selalu membersamai suami Dinda dalam keadaan makmur pun miskin, dalam keadaan sehat pun sakit. Sehidup-sesurga deh."
  • Abang : "Emang udah ada calon?"
  • Dinda : "Ups. Dinda lupa, piring dibelakang belum di cuci."
  • .
  • Aku tahu, menikah bukan perkara suka sama suka saja. Entah kapan rasa suka itu akan kian menghilang. Ayah dan ibu pun demikian, saat ayah tak lagi menyukai ibu, ayah memilih pergi saja. Aku tak ingin belajar dari pengalaman ayah.
  • .
  • Pernah sekali aku bertanya ke ibu kenapa ibu melepas ayah dengan begitu mudahnya, ibu hanya menjawab dengan senyum terhebatnya bahwa ibu menginginkan ayah bahagia. Aku kadang mengatai ibu adalah perempuan bodoh, sebab kala ayah pergi ibu tak benar-benar bercerai. Dia masih berstatus istri ayah, alasan ibu hanya satu, dia ingin bisa membersamai ayah di surga kelak.
  • .
  • Aku pun demikian. Aku ingin menjadi seperti ibu. Perempuan yang mungkin saja sudah memiliki rumah mewah di surga karena kelapangan hatinya. Namun, aku tak ingin memilih laki-laki yang tak mencintai Allah sebanyak aku mencintai-Nya. Sebab, aku tahu, laki-laki yang tak mencintai Allah pasti akan dengan mudah pergi. Ayahku pun demikian.
  • .
  • Menikahlah dengan seseorang yang bersamanya kecintaanmu pada Allah kian besar. Pesan nenek ku tulis rapi dan ku tempelkan di depan meja belajarku. Suatu hari nanti ku harap Allah mempertemukan aku dengan seorang pria yang bersamanya Surga terasa sangat dekat.
  • .
  • Abang : "Jangan kaget ya. Ada ayah di bawah. Kau jangan menunjukkan wajah marahmu, ibu terlihat senang sekali soalnya."
  • Dinda : "Iya bang. Iya."

Tulisan saja bisa kehilangan nyawa. Apalagi raga, yang hanya berpegang pada seutas nadi saja.

Kapan kau ingat aku?

Jika jawabannya adalah ‘setiap waktu’, setelah ini tolong minta ampun pada Tuhanmu.

Tadarus di Kafe

aku ingat karena kau mengingatku. ke dalam cangkir mungil kelembutanmu abadi.

musik itu tidak kudengar lagi. diriku berbunyi namamu.

kau selalu menyapa dari orang-orang yang berkunjung. “temui aku,” katamu.

ramai. sepi. kau di situ.