indonesiawantsbtr

Logan's Dilemma (Jo and Logan inside)

so! this is my fiction for Big Time Rush! and I ship Jo and Logan for this! hope you enjoy this and follow me on twitter @rzschmidt or http://ifyumaruledtheworld.tumblr.com :)

Logan hanya bisa merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya yang tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil. Malam ini, dia hanya bisa membaca buku-buku kedokterannya yang sudah berkali-kali khatam tapi tetap saja tidak bosan dibacanya. Dia melirik ke arah jam dinding yang terletak di sudut kamar. Pukul 3 dinihari dan dia belum juga bisa menutup matanya dengan total.

Dia melihat ketiga temannya sudah tertidur pulas. Carlos sambil memeluk boneka zebra-nya yang senada dengan piyamanya. James sudah ngorok keras tidak peduli dengan Logan yang terganggu dengan suaranya. Kendall tertidur dengan sangat ’pecicilan’ bagaikan pemain hockey yang meliuk-liuk di arena ice skating.

Logan hanya bisa menghela nafasnya dan menutup bukunya. Mencoba untuk masuk ke alam mimpinya yang semakin sulit dijangkaunya. Padahal, besok pagi dia harus sudah berada di Rocque Records untuk sesi rekaman lagu terbarunya untuk album kedua. Tapi, organnya menolak untuk beristirahat.

Dengan segala perhitungan, dia memutuskan untuk berjalan-jalan keliling Palmwoods. Bisa saja dia besok pagi ditemukan di lobi atau kolam renang Palmwoods sedang tertidur pulas. Dia menyerah dan memutuskan untuk membuat dirinya lelah sehingga dia bisa mengantuk.

Dia menuruni swirly slide dengan sangat berhati-hati, takut ketiga temannya dan Mama Knight bangun mendengar berisik di swirly slide kesayangan Carlos. Dengan hanya berpiyama hitam polkadot dan topi tidur yang senada dengan bajunya.

***

Kini Logan sudah berada di lorong Palmwoods yang gelap dan sepi. Untung otaknya tetap bekerja sehingga dia membawa senter agar dia tidak menabrak tembok atau sesuatu di lorong nanti.

Pasti lift tidak bekerja sehingga, dia memutuskan untuk melewati tangga darurat. Terasa sangat jauh dan besar, tidak seperti biasanya yang serba praktis. Dia khawatir, Mr. Bitters sedang mengigau dan menemukan Logan sedang berjalan-jalan di Palmwoods di pagi buta seperti ini.

Dia sampai di lobi Palmwoods yang ternyata tetap terang. Pastilah tetap terang karena beberapa penghuni Palmwoods adalah seorang public figure yang sering pulang pagi karena selesai syuting. Sama halnya dengan…

Seorang gadis yang sangat cantik dengan rambut blonde, memakai sebuah jaket yang terlihat sedikit kebesaran dan tebal. Tingginya hampir menyamai Logan dan matanya yang cokelat terlihat mengantuk dan lelah. Logan hanya bisa berhenti di depan meja receptionist dan melihat gadis itu memasuki lobi Palmwoods.

Jo Taylor. Kekasih Kendall yang merupakan sahabatnya. Dia teringat saat Jo pertama kali datang ke Palmwoods. Dia dan ketiga sahabatnya berebut untuk mendapatkan posisi yang tepat di hatinya. Dia ingat perjuangannya bernyanyi dari bawah balkonnya berusaha menarik simpatinya. Dia ingat saat ingin berkenalan dengannya, dia malah terkena ciuman mautnya Camille. Dia ingat itu semua dan kini dia merasakan sesuatu yang berbeda di dirinya.

Sudah seminggu memang setiap Logan melihat Jo jantungnya berdegup dengan sangat kencang dan mendadak dia tidak bisa berbicara lancar seperti biasanya. Ditambah lagi jika Jo berbicara dengannya dan melihat Jo tersenyum walaupun bukan tersenyum untuknya. Dia tahu, dia sangat jarang mengobrol dengan Jo, apalagi harus ngobrol berdua. Rasa itu masih mengganjal dan masih menyisakan bekas yang cukup dalam di hatinya.

”Jo?” mulutnya tidak mau diajak kompromi. Dia mengeluarkan kata tersebut dan sontak gadis yang baru saja masuk lobi itu berhenti di hadapannya persis. Tersenyum walaupun matanya sayu karena mengantuk.

”Logan? Kau belum tidur?” tanya Jo. Logan menggeleng dan tersenyum sekaligus nyengir.

”Erm-yeah. Aku-er-insomnia. Er-aku tidak bisa tidur. Er-kau baru pulang?” tanya Logan dengan sangat gugup. Jo hanya menaikkan alisnya.

”Ya. Aku baru selesai syuting. Kau tahu, New Town High sedang kejar tayang untuk menyelesaikan Season 1 dan bersiap-siap di Season 2. Kau kenapa belum tidur? Hanya insomnia?” tanya Jo. Semburat merah di kedua pipi Logan terlukis sempurna. Hanya saja lampu lobi yang tidak semua dinyalakan membuat wajahnya tidak terlalu jelas sehingga Jo tidak melihat semburat merah di pipinya.

”Er-yeah. Tugas dari Mrs. Collins membuatku gila. Er-mungkin terlalu sering berpikir.” Jawab Logan sekenanya. Jo tertawa. Deg. Logan serasa mati berdiri mendengar tawa khas Jo yang membuat wajahnya kini bagaikan kepiting rebus.

“Jangan terlalu banyak berpikir. Kau jadi orang selalu ingin perfect. Ingat, karier mu juga penting.” Kata Jo sambil menggandeng tangan Logan.

DEG!

Tangannya yang dingin itu kini dirasakan pula oleh Jo. Dia tidak bisa mengontrol kegugupannya. Gadis ini. Gadis yang mampu membuat Logan gugup walaupun Logan orangnya gugupan. Tapi belum pernah dia merasa segugup ini.

”Er-ngomong-ngomong, aku ke kamar dulu. Aku lelah. Bye, Logan. Piyama, topi, dan sandal yang lucu.” kata Jo sambil tersenyum. Mata Logan melebar. Dia lupa! Dia masih memakai piyama! Mukanya langsung semerah darah segar.

***

Jo sudah berjalan menuju kamarnya. Dia masih mengingat penampilan Logan barusan. Dia tersenyum geli walaupun dia sangat nervous harus berhadapan dengan seorang laki-laki yang paling pintar yang pernah ditemuinya. Laki-laki yang berhasil membuat hatinya jungkir balik. Berhasil membuat pipinya berwarna merah.

Keep reading