indonesia's sketchers

Supaya Gambar Tidak Mati Gaya

Pernah berpikir, ‘Kok gambar saya begitu-begitu aja sih, nggak ada kemajuan?’

Hal itu mungkin bisa terjadi ketika kita hanya mengandalkan otak kiri untuk menggambar.  Artinya, ketika menggambar sebagian besar mengandalkan imajinasi. Sehingga walaupun menggambar objek nyata, kita lebih banyak menuangkan imajinasi dibanding menggambar apa yang dihadapan kita. Dengan kata lain, menggambar dengan ‘semau gue’. Semau gue sebenarnya sah-sah saja, tetapi terlalu menuruti kemauan imajinasi akan membuat pola gambar menjadi stagnan.  

Contoh menggambar dengan menggunakan banyak imajinasi dipaparkan Hendro Purwoko, pengajar di Jurusan Desain Interior, Institut Seni Yogyakarta pada acara Sketching dan Sharing IS Jogja 22 Mei yang lalu di Kebun Binatang dan Kebun Raya Gembira loka, Yogyakarta.

“Misalnya, ada mahasiswa yang menggambar objek nyata. Hanya sekilas ia mengamati objek, kemudian ia lebih banyak berkutat mencorat-coret kertas menggambar objek,” jelas Hendro. Pada contoh itu terlihat bahwa mahasiswa tersebut lebih banyak menggunakan waktunya untuk mencorat-coret gambar dengan imajinasinya.

Otak Kanan

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana yang ideal? “Idealnya seimbang,” jelas pria lulusan STSRI ASRI Yogyakarta itu. Namun, agar seimbang, bukan lalu kita membagi waktu yang sama antara mengamati dan menggambar, tetapi bagaimana kita mengamati objek.

Ketika kita bekerja dengan otak kiri, kita cenderung melihat sesuatu dengan memberi label. Misal ketika kita melihat sebuah kantong yang ada talinya, kita mengidentifikasi bahwa itu tas. Begitu juga benda kotak yang berkaki empat dan bersandaran kita lihat sebagai kursi.

Sebaliknya, ketika otak kanan bekerja, ia melihat benda secara keseluruhan, sebagai garis dan bidang. Otak kanan tidak berusaha melabeli dan melihat apa adanya. Sebuah objek terdiri dari bidang positif, dan bidang negatif. Bidang positif merupakan benda/objek, sedangkan bidang negatif adalah bidang kosong yang mengelilinginya.

Leonardo da Vinci

Agar mengurangi kebiasaan ‘semau gue’, kita bisa menggambar dengan mengamati bidang negatif di sekeliling objek. “Kalau kita bisa menggambar dengan benar bidang kosong di sekeliling objek, pasti objeknya pun akan tergambar dengan benar,” jelas Hendro.

Kemampuan untuk menggambar dengan otak kanan tersebut dapat diraih dengan berlatih tiap hari. “Seperti berolahraga, tanpa sering pemanasan, tubuh kita butuh penyesuaian beberapa lama,” jelas Hendro. Ia juga bercerita, sebagai contoh mahasiswa seni mengumpulkan minimal 500 sketsa/semester (Wadew… untung saya bukan mahasiswa seni).

Untuk melatih otak kanan, ada beberapa cara. Misal, menggunakan kaca atau plastik transparan yang ditempatkan di pigura. Selanjutnya, gambar yang ada di depan kita trace menggunakan spidol transparan.  Bisa juga menggunakan cara Leonardo da Vinci. Ketika melihat sebuah objek, jari kita kita gerakkan untuk membentuk garis dan bentuk objek yang ada di hadapan kita. Dengan begitu, tangan kita terlatih meniru objek, bukan berimajinasi di kertas bagaimana bentuk objek tersebut.

Posisi Aneh

Cara lainnya, kita bisa menaruh objek yang di depan kita dengan posisi aneh. Misal model orang dengan tubuh orang itu terbalik, atau botol yang dibalik. Intinya, menggambar sesuatu yang tidak lazim angle-nya. Soal hal ini, Hendro memberi contoh sekelompok seniman yang meniru lukisan Picasso dengan angle normal dan dibalik. Ternyata tiruan lukisan yang dibalik atas bawah, garis-garisnya lebih detail dan mendekati objek aslinya. Itu karena dengan dibalik, orang cenderung melihat garis-garisnya, bukan objek di lukisan itu. Hasilnya lukisan yang dibuat lebih rinci dan hati-hati.

Latihan lainnya: menggambar tanpa melihat kertas gambarnya! Ini juga termasuk latihan mengamati tanpa memasukkan imajinasi. “Hasilnya pertama perat-perot tidak masalah,” jelas Hendro. Intinya, semua latihan itu melatih mengamati objek yang ada di depan, bukan imajinasi.

Penggunaan metode penggunaan otak kanan itu dijelaskan dalam buku karya Betty Edwards, Drawing on the Right Side of the Brain. Ia mengadakan pelatihan menggambar bagi para direktur perusahaan dan eksekutif. Mulanya, gambar mereka setaraf anak TK. Namun, ketika dilatih sebulan menggunakan teknik tersebut, gambarnya berubah drastis menjadi sangat bagus.

Objek yang digambar pada pelatihan yang diadakan Betty Edwards adalah objek manusia. Mengapa manusia? Umumnya orang mengira menggambar manusia itu sulit dibanding menggambar bangunan. “Padahal, sebenarnya sama saja antara menggambar objek hidup atau bukan, intinya cara mengamatinya yang harus benar,” jelas Hendro.

Nah, sudah mulai tertarik menggambar dengan otak kanan?

-Niken-